23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Yang Tak Biasa Menjadi Seorang Ibu | Catatan Monolog Nova Aryani, “Hidup Dimulai di 40”

Son Lomri by Son Lomri
March 19, 2025
in Ulas Pentas
Yang Tak Biasa Menjadi Seorang Ibu | Catatan Monolog Nova Aryani, “Hidup Dimulai di 40”

Nova Aryani saat memainkan monolog pada acara Mahima March March March 2025 di Rumah Belajar Komunitas Mahima, Singaraja-Bali, Jumat, 14 Maret 2025 | Foto: Dok. Komunitas Mahima

MONOLOG yang dipentaskan oleh Nova Aryani berjudul “Hidup Dimulai di 40”, tidak sekadar mempertunjukkan sebuah gosip dari autografi dirinya sendiri, yang isinya hanya tentang isu rumah tangga, dan tentang masa kecilnya tumbuh di kota yang sunyi dengan segala macam permasalahan. Ia mempertunjukkan sesuatu yang tak biasa bagi dirinya, barangkali tak biasa juga bagi ibu-ibu lain.

Naskah monolog itu ditulis dan sekaligus disutradarai Kadek Sonia Piscayanti, sastrawan sekaligus founder Komunitas Mahima. Naskah itu dimainkan oleh Nova dalam acara Mahima March March March di Rumah Belajar Komunitas Mahima, Singaraja, Jumat malam, 14 Maret 2025.

Monolog ini adalah bagian dari projek Monolog 100 Perempuan yang digarap Kadek Sonia Piscayanti. Nova membawakan “Hidup Dimulai di 40” sebagai monolog yang ke-12.

Nova memainkan monolog dengan santai, nyaris tanpa hentakan, namun tetap terasa gregetnya. Sepertinya penonton menebak ia akan terjebak pada kisah romantisme perempuan ibu rumah tangga, apalagi ia seorang ibu yang belum pernah melakukan pementasan di atas panggung. Ia bukan orang teater.

Penonton barangkali mengira kisahnya akan jatuh pada curahan hati pada orang-orang mendengarkan—bahwa begitu pedih menjadi seorang perempuan sekaligus menjadi seorang ibu, yang banyak merenggut banyak waktu atau mendamparkanya pada ranah kerja yang eksploitatif terutama di ruang keluarga.

Misalnya, harus ngurus ini, ngurus itu. Di dapur atau di kamar, atau di sekolah anak-anak saat mengantarkannya pergi pagi-pagi. Atau lagi yang paling serem, mengurusi seabrek urusan adat dan ritual agama yang ketat.

Tapi tidak. Monolog itu tidak seperti itu. Memang, naskah monolog itu ditulis berdasarkan cerita personal pemainnya, namun justru cerita personal itu disulap oleh Kadek Sonia Piscayanti menjadi lebih atraktif. Lebih hidup.

Monolog itu akan terasa biasa-biasa saja jika  kisahnya hanya tentang seseorang menjadi ibu dengan dua anak satu suami. Yang pandai memasak, pandai berjualan. Hidup harmonis dengan keluarga, dan sejenisnya. Kisahnya tidak sesederhana itu.  

Monolog itu menceritakan tentang bagaimana seorang Nova yang hidup harmonis dengan keluarga itu memilih kegiatan lain di luar kehidupan rumah tangga. Yakni berkomunitas. Dan, ia mendapati hidupnya penuh gairah saat masuk komunitas penulis, dan itu terjadi pada usianya masuk 40 tahun.

Nova Aryani saat memainkan monolog pada acara Mahima March March March 2025 di Rumah Belajar Komunitas Mahima, Singaraja-Bali, Jumat, 14 Maret 2025 | Foto: Dok. Komunitas Mahima

Ia memulai monolognya dengan kisah pengalamannya menjadi seorang ibu, memasak di dapur untuk keluarga, untuk suami di kamar, dan mengantar anak sekolah. Pengalaman itu diperankan secara lebih liat, sehingga ia tak sekadar bercerita.

Kehidupan nyatanya berhasil diawa ke atas panggung yang luas—merupa teater.

Pengalaman-pengalaman biasa, sehari-hari, dirasakan lagi oleh Nova. Dihidupkan kembali untuk sebuah pementasan, agar semua bisa merasakan secara adil, melalui satu peran dirinya sendiri, yang seakan-akan menjadi cerita orang lain. Maksudnya, ia menyuguhi penonton seuah pementasan, bukan sebuah curhat colongan yang kering.

  • BACA JUGA:
“Hidup Dimulai di 40”, Cerita Kecil Tentang Monolog yang Saya Mainkan

Panggung yang sempit dikuasai Nova seperti keluasan laut biru ketika monolog itu dipertunjukkan. Orang-orang tenggelam pada matanya yang berair ketika ia masuk pada cerita yang mengharukan. Malam itu senyap.

Nova seorah melintasi banyak peristiwa, menyampaikannya dengan intuisi. Para penonton berlayar di matanya yang sayu…

“Lalu di 27 tahun umurku, aku menjadi istri. Seorang laki-laki temanku di SMP dan SMA, kini menjadi suamiku. Kami bahagia dengan anak-anak yang pintar dan sehat.”

“Ciee…,” celetuk salah satu penonton, hanyut pada pembawaan Nova. Dan Nova juga hanyut pada dirinya sendiri.

“Sebagai Ibu, aku memilih menjadi ibu yang moderat. Memberi anak-anakku pilihan yang mereka inginkan tapi yang mampu aku beri panduan.

Lalu apa yang kurang? Yang kurang barangkali adalah aku dan diriku sendiri yang merasa belum menemukan makna diri. Bukan aku kurang bersyukur, tapi aku ingin menjadi diriku sendiri.”

Narasi kuat tentang hidup, setelah ruang ke tiga—yang kata Ray Oldenburg, menjadi pengaruh bagi Nova dalam menyesap makna lebih manis. Di umurnya yang masuk ke-40, hidup dijalankannya lebih asik, seperti terwujudnya soal mimpi-mimpi.

Hal itu ia rasakan setelah bergabung dengan Komunitas Mahima. Ini bukan pujian kosong, hati seorang ibu yang berbicara. Berani menggugat?

“Pertunjukan yang bagus. Bahkan saya sampai tak sadar mengucapkan ‘cie’ tadi, saya mohon maaf soal itu, tak bermaksud menagganggu, tapi memang tenggelam. Monolog yang dibawakan oleh Bu Nova ini cukup interaktif,” kata Andy Sri Wahyudi, pantomimer dan penulis buku “Sana dan Sini” di sela diskusi.

Nova Aryani saat memainkan monolog pada acara Mahima March March March 2025 di Rumah Belajar Komunitas Mahima, Singaraja-Bali, Jumat, 14 Maret 2025 | Foto: Dok. Komunitas Mahima

Andy Sri Wahyudi alias Andi Eswe juga menjelaskan pertunjukan monolog sederhana itu bisa lebih bagus ketika dapur misalnya (tempat yang tak jauh dari tempat pementasan) menjadi panggung, dan alat-alat di dapur bisa menjadi bagian dari pementasan itu untuk bisa lebih menguatkan soal peran.

Monolog “Hidup Dimulai di 40” yang diperankan oleh Nova Aryani, adalah sebuah cerita tentang dirinya yang mencoba ranah lain untuk mengusir kebosanan dan rasa suntuk di samping kesibukan-kesibukan rumah tangga.

Melalui monolog itu, melalui naskah itu, Nova melugaskan bahwa di umurnya berkepala empat bukan persoalan untuk ia kembali berurusan dengan buku, dengan menulis.

Nova, atau bernama lengkap Ni Luh Nova Aryani, adalah seorang pengagum Dee Lestari. Nyaris semua buku milik Dee dibacanya tuntas ketika umurnya masih 20. Ketika buku sudah tuntas dibaca, dibacanya kembali dan terus begitu.

Mencintai karya-karya Dee, kemudian menjadi mencintai sosok Dee setelah ia bertemu dengan si penulis melalui komunitas pada sebuah festival di Singaraja. Menurut Nova, sangat kecil kemungkinan untuk bertemu dengan si penulis selain dari karya-karyanya.

Bagian itu dibawakan oleh Nova ketika monolog tentang dirinya, membawa orang-orang yang menonton membayangkan, sekian tahun menenggrlami karya-karya si penulis, tiba-tiba ketemu secara langsung dan berbicara secara langsung. Rasanya seperti bertemu seorang kekasih yang lama tidak bertemu. Jiwa jadi kebun bunga.

Sebab lebih dari sekadar berswafoto bersama setelah bertemu, Nova mengolah kesempatan itu lebih berarti; yang positif dan panjang. Harinya menjadi ladang produktif untuk ditanami kata-kata.

“Aku menjemput Dee dan dia bicara padaku seperti dalam mimpi. Ia tak hanya ramah, dia memang seorang Dewi, yang baik hati dan peduli.”

Begitu kata Nova dalam monolognya.

Sekarang di sela ia berjualan alat-alat rumah tangga—sebagaimana biasanya, mengurus anak dan suami, atau merawat rumah tinggal beserta isinya, membaca buku tak pernah luput walaupun usia—yang katanya, agak terlambat untuk berjalan di dunia penulisan.

Tapi itu dilakukan dengan suka cita, dan bahkan, Nova menyisipkan waktu untuk mencoba menulis tentang apa saja sebagaimana Dee menulis. Ya, setidaknya untuk diri sendiri… [T]

Reporter/Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Mahima Menumbuhkan Saya, Saya Menumbuhkan Mahima – Orasi Budaya Mahima March March March 2025
“Memilih Menjadi Aku” – Catatan Kecil Tentang Monolog yang Aku Mainkan
Tags: Komunitas MahimaMahima March March March 2025MonologTeater
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Hidup Dimulai di 40”, Cerita Kecil Tentang Monolog yang Saya Mainkan

Next Post

Apa Kabar 5 Destinasi Wisata Super Prioritas?

Son Lomri

Son Lomri

Mahasiswa Undikhsa, tinggal di Singaraja

Related Posts

Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

by Dewa Made Ari Kurniawan
August 4, 2026
0
Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

Di Ambang Dualitas Eksistensial Dalam ruang pertunjukan yang temaram, pendar cahaya proyektor perlahan menghidupkan bidang panggung. Karya pertunjukan bertajuk DWI...

Read moreDetails

Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

by Dewa Purwita Sukahet
July 31, 2026
0
Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

MALAM itu, 20 Juli 2026, jam di ponsel menunjukan pukul 18:52 Wita, di depan gedung Ni Ketut Reneng, kampus Institut...

Read moreDetails

Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

by Anselmus Dore Woho Atasoge
July 31, 2026
0
Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

MALAM pembukaan Festival Bale Nagi 2026 di Taman Kota Felix Fernandez, Larantuka, Flores Timur, NTT, menyuguhkan sebuah pertunjukan yang memicu...

Read moreDetails

Fragmentari “Jro Luh” dan Sinkronisitas: Sebuah Pembacaan Estetika atas Pertemuan Dramaturgi dan Fenomena Alam

by I Gusti Made Darma Putra
July 28, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

PANGGUNG seni pertunjukan pada dasarnya merupakan ruang rekayasa artistik. Di dalamnya, setiap unsur dirancang dengan cermat, struktur dramatik disusun melalui...

Read moreDetails

Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

by I Wayan Sujana Suklu
July 25, 2026
0
Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

  Tubuh berjalan pelandi antara bukit, rumah, dan laut yang tidak selesai. Angin membawa nama-namayang pernah singgah di pelabuhan,lalu hilang...

Read moreDetails

Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

by Chandra Manikan
July 22, 2026
0
Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

Asap mengepul perlahan hingga menutupi sebagian panggung, sementara cahaya merah merambat dan menerangi Ocha Diartini yang saat itu berperan sebagai...

Read moreDetails

Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

by Satria Aditya
July 20, 2026
0
Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

PARADE Monolog dalam Festival Seni Bali Jani 2016 yang digelar pada 14 Juli  di Gedung Ksirarnawa, dibuka pukul 17.00 Wita,...

Read moreDetails

Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

by Putu Intan Juliantika
July 19, 2026
0
Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

 “Teng! Tong! Teng! Tong! Teng! Tung! Pagi tiba alarm berbunyi...” Itu adalah suara dering alarm saya pukul tiga pagi yang...

Read moreDetails

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
0
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

Read moreDetails

‘The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark’ di TMII —Cahaya Menghidupkan Hanoman Duta

by Azzahra Naya R
July 1, 2026
0
‘The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark’ di TMII —Cahaya Menghidupkan Hanoman Duta

SAAT menyaksikan The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark: Hanoman Duta, Amfiteater Panggung Budaya, Taman Mini Indonesia Indah (TMII),...

Read moreDetails
Next Post
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Apa Kabar 5 Destinasi Wisata Super Prioritas?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co