22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mahima Menumbuhkan Saya, Saya Menumbuhkan Mahima – Orasi Budaya Mahima March March March 2025

Kadek Sonia Piscayanti by Kadek Sonia Piscayanti
March 18, 2025
in Esai
Mahima Menumbuhkan Saya, Saya Menumbuhkan Mahima – Orasi Budaya Mahima March March March 2025

Kadek Sonia Piscayanti saat menyampaikan orasi budaya pada acara Mahima March March March yang digelar Komunitas Mahima di Rumah Belajar Komunitas Mahima, Jalan Pantai Indah Singaraja-Bali, Jumat, 14 Maret 2025 | Foto: Dok. Komunitas Mahima

When I was young, I did not know poetry will take me this far.

Poetry has been a part of my life, since 8 or 9. Since I was too naive to understand what poetry is.

Saya mengenal puisi sejak SD, sejak saya mengenal kata-kata. Dalam benak saya, kata-kata adalah sebuah dunia dengan berbagai misteri di dalamnya. Saya terpesona pada kata-kata. Namun saya tidak tahu, bahwa kata-kata akan membawa saya sejauh masa, sepanjang usia. Saya belum tahu makna apa-apa.

Namun semakin saya tenggelam semakin saya memendam keinginan mengetahui apa makna di balik puisi-puisi yang saya baca. Saya terbawa dunia Chairil Anwar, Soebagio Sastrowardoyo, Taufik Ismail, Rendra, hingga Putu Wijaya. Lalu sepanjang ingatan saya semasa SMP hingga SMA, saya menemui dunia jurnalistik dan teater, dua-duanya memakai kata-kata. Ketika masuk perguruan tinggi, puisi masih melekat pada saya, seolah tak mau pergi. Semakin saya menggeluti puisi, teater, dan dunia ulang alik di antaranya. Tapi sesungguhnya mengapa harus puisi. Mengapa harus puisi.

Ketika usia dua puluh tiga, saya merasa hidup saya benar-benar telah dimulai. Puisi hadir dalam konteks nyata. Kehadiran puisi telah menjadi nafas dalam diri saya, karena keyakinan pada kata-kata. Pada tahun 2008, ketika pernikahan masih belia, baru berusia satu saja, saya terpesona pada satu kata, Mahima. Mahima adalah sebuah makna, besar, dan menjadi jiwa semesta.

Mahima menjadi sebuah kata yang menjelma menjadi sebuah gerakan, sebuah keyakinan melakukan perubahan melalui kata-kata. Manusia demi manusia hadir di Mahima, menjadikan kata sebagai penerang dalam hidupnya. Tujuh belas tahun berlalu kini, Mahima masih menjadi sebuah cahaya bagi kami, bagi saya, bagi mereka, atau kita yang menjadikannya ada. Benarlah bahwa kata-kata menjadi tumpuan, menjadi harapan, sekaligus impian. Mahima bertumbuh, menumbuhkan, menyalakan cahaya-cahaya lain yang menjadi penerang bagi semesta-semesta baru. Komunitas Mahima lahir sebagai penumbuh manusia pencari makna kata. Sejak 2008 hingga kini dan nanti.

Kadek Sonia Piscayanti saat menyampaikan orasi budaya pada acara Mahima March March March yang digelar Komunitas Mahima di Rumah Belajar Komunitas Mahima, Jalan Pantai Indah Singaraja-Bali, Jumat, 14 Maret 2025 | Foto: Dok. Komunitas Mahima

Saya pun mengalir. Tiada terasa tahun ini saya berusia 41, Mahima 17 tahun. Entah siapa yang melahirkan siapa. Saya hanya menemukan sebuah identitas pada kata Mahima, yang selanjutnya menjadi rumah bagi para pencari kata-kata, pencari tanda-tanya, penerka-nerka, pemburu makna. Saya menjadikan Mahima sebagai sebuah panduan saat saya kehilangan arah, memberi makna baru pada tujuan yang sama, tujuan yang berakhir pada kata-kata.

Saya menyandarkan diri pada puisi, pada kata-kata sebagai dasar kebenaran. Seperti yang disampaikan oleh Heidegger, dalam karyanya “The Origin of The Work of Art” :

poetry is the preeminent or most original form of the kind of establishment of truth. ‘The nature of art is poetry. The nature of poetry, then, is the founding of truth.’

Puisi adalah dasar sebuah kebenaran. Sementara kebenaran masih belum pernah ada finalnya. Kita mengupas makna senantiasa, bertanya-tanya, apakah arti kebenaran, dan kita mencoba sebisa-bisanya menginterpretasikan kebenaran dengan jiwa yang kita pahami.

Pada akhirnya, dalam kehidupan yang chaotic ini, saya tak hanya bersandar pada kata-kata namun pada pertanyaan mengapa. Hal inilah yang kemudian memperkenalkan saya kepada mindfulness, sebuah pendekatan pembelajaran mendalam dengan melampaui kesadaran sensorial. Pada tahun 2018, sekira 7 tahun lalu, saya menemukan diri saya adalah pembaharuan yang berulang dan bermakna baru. Saya mendalami bahwa saya tidaklah berubah namun juga tidaklah sama. Kata-kata saya bertambah, dan berlapis-lapis baru maknanya, dengan pendekatan pandangan personal saya yang makin matang di beberapa bagian dan makin chaos di beberapa bagian. Saya ingin memperbaharui versi diri dan menyandarkan diri pada pertanyaan-pertanyaan. Mengapa.

Mindfulness adalah sebuah cara pandang tentang kedalaman makna, menemukan kebaruan dalam setiap hal, mencari peluang perspektif yang segar, menautkan konteks yang relevan, sekaligus menciptakan sebuah kategori baru. Seperti puisi, mindfulness mengajarkan saya menyelami diri saya lebih mendalam, pada siapa diri saya, siapa saya sepuluh tahun lalu, siapa saya sekarang dan siapa saya sepuluh tahun mendatang. Saya pun menyusuri jejak identitas saya sebagai manusia, yang membedakan saya dengan manusia lainnya. Rasa perih dan duka, rasa bahagia, rasa cemas, rasa tanpa nama, apapun jenisnya.

Saya belajar memeluk diri saya dalam rangka menemukan siapa diri sebenarnya. Mahima menyertai saya dalam ppembelajaran ini sebab Mahima selalu menjadi rumah saya berbenah. Manusia-manusia baru selalu hadir di Mahima, bahkan kini hingga 17 tahun usianya, manusia-manusia baru makin bertambah. Yang lama masih tinggal, sebagian, masih mencari, sudah bertemu tujuan, baru belajar mendefinisikan tujuan dan beberapa sudah membangun tujuan yang kompleks. Saya belajar bahwa sayapun harus merumuskan kebaruan saya. Akhirnya pada tahun 2020, saya memutuskan makin mendalami mindfulness, poetry, narrative inquiry, self-study, dan self-inventory. Secara akademik, saya belajar tentang pertautan semua unsur ini, dan apa kelak kontribusi saya pada dunia yang saya cintai ini.

Di penghujung 2024, saya menemukan bahwa yang saya rindukan dalam setiap pertanyaan adalah identitas saya. Yang saya ingat, yang saya pelajari, yang saya selalu cari, dan saya temukan, lagi-lagi pada puisi, pada keriangan-keriangan menemukan kata-kata. Elevated meaning, enhanced awareness, self-invented. Saya merekam diri, mengapa saya tiba hingga di sini.

Pada temuan akademik saya, saya menemukan bahwa mindfulness adalah tentang penerimaan diri. Once you accept yourself, you are home.

Saya mengingat bahwa saya tidak dilahirkan tiba-tiba di ruang hampa. Saya dibentuk dengan struktur yang keras. Dan saya bersyukur seorang ibu yang kuat telah melahirkan saya. Mendidik saya dengan tangan baja.

Suasana saat menyampaikan orasi budaya pada acara Mahima March March March yang digelar Komunitas Mahima di Rumah Belajar Komunitas Mahima, Jalan Pantai Indah Singaraja-Bali, Jumat, 14 Maret 2025 | Foto: Dok. Komunitas Mahima

Hampir tiga puluh dua tahun lalu, ketika saya berusia 9, saya adalah anak kecil yang ditugaskan ke pasar, hampir tiap pagi oleh Ibu saya. Ke pasar, bukan untuk hiburan tapi untuk membeli kebutuhan. Saya harus belajar menerka makna pertukaran uang, pertukaran barang, pertukaran nilai. Dalam usia belia, saya tahu, semua hal bernilai, semua hal bermakna. Saya dididik dengan keras oleh ibu saya, dan saya paham mengapa. Saya pernah membeli daging setengah ons, ya benar setengah ons, karena uang terbatas. Saya pernah membeli beras setengah kilogram, minyak tanah seperempat liter, dan membeli sayur dengan menawar.  

Mengapa Ibu sekeras itu mendidik saya? Karena dia mencintai saya dan ingin saya belajar dari pasar, dunia yang keras bagi manusia belia seperti saya. Ibu saya akan marah kalau saya tidak membedakan kencur dan jahe, atau lengkuas dan kunyit, dan tak segan akan menyuruh saya menukarkan barang yang salah. Dan membawa yang benar ke rumah. Saya juga belajar menawar dengan benar, karena serupiah atau dua rupiah sangat berarti. Sedari belia juga saya tahu, tidak ada hak istimewa apapun dalam hidup saya. Semua harus diperjuangkan dengan gigih. Termasuk menakar semua dengan tepat.

Kesalahan tak dapat ditolerir, karena akan merugikan. Kerugian tak bisa dibayar karena akan berujung kerugian lain. Sebab itu, hidup saya ketat sejak kecil, saya tidak memperbolehkan diri saya berbuat salah, karena satu kesalahan akan sangat mahal belum lagi jika diikuti kesalahan lain. Saya tidak berani berbuat kesalahan apapun karena saya akan membayangkan sebuah kerugian besar yang saya tak dapat tanggung. Disiplin kuat itu yang selalu saya bawa di Mahima. Ketika saya menjadi ibu, ibu dari anak-anak saya di Mahima, saya tunjukkan bahwa tujuan berkesenian bukanlah agar terlihat gagah atau keren, tapi memperbaiki diri sebagai manusia.

Berkali-kali saya katakan kepada siapapun yang datang ke Mahima, bahwa Mahima bukan sekadar pertemuan manusia-manusia, dia adalah pertautan manusia-manusia. Pertautan sebab-akibat peristiwa, pertautan pikiran yang terus menerus ada.

 Saya tidak membayangkan bahwa kemudian saat ini tujuh belas tahun setelah Mahima ada, saya masih juga menemukan diri-diri yang baru, dalam diri yang lama, masih bertumbuh dan saling memberi jeda untuk memberi makna.

Kepada anak saya Putu Putik Padi dan Kadek Kayu Hujan saya selalu berkata, nama mereka adalah sekumpulan makna-makna, yang senantiasa akan mereka upayakan ada dan terus ada. Bahwa penerimaan diri adalah yang pertama, lalu mengisi diri adalah yang kedua, dan memperbaiki diri adalah yang ketiga dan seterusnya.

Mahima menjadi rumah jiwa saya, di dalamnya, selama 17 generasi dan ratusan generasi setelah ini, akan tetap menjadi sebuah rumah tumbuh bagi jiwa-jiwa yang ingin tumbuh. Putik, kini berusia sebaya dengan Mahima, telah menjadi penyair. Kayu, meskipun baru 10 tahun, juga telah melahirkan puisi. Siapa yang mengajarkan, tak ada. Ia telah tertanam dalam dalam. Hanya perlu dilahirkan.

Rumah ini senantiasa harus ada. Bagi semua, yang terpilih, atau terkutuk. Karena betapapun, kutuk ini akan kita nikmati sebagai sebuah pilihan yang sadar.

Maka, saya merayakan kita, merayakan Mahima dengan sebuah puisi yang saya tulis dengan kesadaran memelihara kata, memelihara kita.

A Cursed Poet
Kadek Sonia Piscayanti

The curse goes like this
“words will forever haunt you, wherever you are, words will be your graveyard, for this entire reincarnation”
These words follow me wherever I go, Wherever. Whenever.
They go through my blood, my breath, my pores. My belief.
I will go through many births, many deaths, many lives in between
But the words are there, forever there
You will owe your generations the curse that will pass down through your words

In the awareness of this curse, she sat by herself again and again, breathe again and again, being a mother again and again, through many reincarnations, again and again

Now you are a mother of a family of words
Husband, a poet
Yourself, a poet
Your son, a poet
Your daughter, a poet

Your friends, your friends are all poets
Drawn by universe, you all sitting under trees, figuring out why on earth we meet again, through many reincarnations
Again and again
I met you. You are my friend, from other lives.
We have met over and over again
Do I owe you words?

Yes, bring me back stories that you borrow from me thousand years behind
You said, you are a mother of two, one is burning her own tongue to death, one is hanging herself naked. I left, I could not remember my own story from the past.
You owe me that story, please
The burdens I hold, for deaths after deaths of my loved ones. I could not bear to tell.
And I left. I met another friend. You are familiar. Do you owe me words.
Yes, I am the one whose husband is a narcissistic and always needs sex every second
The man who sniffed at every inch of my skin, and sucked my entire pores that left me dry and drained.
Can I give you my entire story?
I listened and cried, and left.

I went home, met my husband,
He is as always, sitting at the same spot, forever
I asked him, what if we are not married at all, or what if I am not your wife at all
It is not possible, he said, we will meet somehow
We will surely meet
Because we are cursed?

Because we are cursed.
And many words haunt me. There is this burning hair woman who chased me everywhere as if I owe her my hair to be burnt
There is this burning tongue man whose words burn me every time I see him
There is this water sinking mother, who drowned me over and over again
There is this too much to handle woman who thinks her life is the most miserable of all
There is too much competition of being the saddest saddest human being
As if we are not cursed at all!
Damn human, we are here because of the words!
What else do we think we are here for

Hell and heaven are slices of breath
We should have been in heaven
But hell are we here together now
Cursed poet you are, you take words personally
Too much
For too many mirrors make no better person
For this curse still has long way to endless lives and endless reincarnations

Sang Hyang Candra
Taranggana
Rikala dipa, mamadangi
Rikalaning wengi

Moon, give me light through this reincarnations
All the cursed soul will find better and better, lighter burden to bear

A cursed poet, sat by herself, in total silence, breaking her own words, again and again
She heard the curse passed down from generation to generation, that she will not be free forever

  • Catatan: Orasi Budaya ini dibacakan pada acara Mahima March March March yang digelar Komunitas Mahima di Rumah Belajar Komunitas Mahima, Jalan Pantai Indah Singaraja-Bali, Jumat, 14 Maret 2025

Tags: Kadek Sonia PiscayantikebudayaanKomunitas MahimaMahima March March March 2025orasi budayaPendidikansastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Inisiatif 6 Negara, 1 Tujuan: Tantangan Baru bagi Kepemimpinan Indonesia di ASEAN?

Next Post

“Memilih Menjadi Aku” – Catatan Kecil Tentang Monolog yang Aku Mainkan

Kadek Sonia Piscayanti

Kadek Sonia Piscayanti

Penulis adalah dosen di Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja

Related Posts

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails

Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

by I Made Sudiana
October 19, 2026
0
Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

SEBUAH tulisan di ruang publik pada hakikatnya adalah undangan terbuka untuk berdiskusi. Melalui tanggapan kritis yang disampaikan oleh IGA Darma...

Read moreDetails

Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

by Angga Wijaya
October 18, 2026
0
Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

MALAM  itu saya menghubungi Aryantha Soethama melalui WhatsApp. Ia adalah penulis senior asal Bali yang mengawali kegiatan menulis sejak remaja,...

Read moreDetails
Next Post
“Memilih Menjadi Aku” – Catatan Kecil Tentang Monolog yang Aku Mainkan

“Memilih Menjadi Aku” – Catatan Kecil Tentang Monolog yang Aku Mainkan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran
Bahasa

“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran

DUNIA kuliner di Bali saat ini sedang ramai-ramainya dengan berbagai pilihan olahan. Dari tradisi babi guling yang legendaris hingga tren...

by I Made Sudiana
October 19, 2026
Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional
Pendidikan

Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional

SINGARAJA | TATKALA.CO -- Kabar membanggakan datang dari dunia pendidikan teknologi di Kabupaten Buleleng. Langit Biru, siswa Timedoor Academy Singaraja,...

by Rusdy Ulu
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co