23 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mahima Menumbuhkan Saya, Saya Menumbuhkan Mahima – Orasi Budaya Mahima March March March 2025

Kadek Sonia Piscayanti by Kadek Sonia Piscayanti
March 18, 2025
in Esai
Mahima Menumbuhkan Saya, Saya Menumbuhkan Mahima – Orasi Budaya Mahima March March March 2025

Kadek Sonia Piscayanti saat menyampaikan orasi budaya pada acara Mahima March March March yang digelar Komunitas Mahima di Rumah Belajar Komunitas Mahima, Jalan Pantai Indah Singaraja-Bali, Jumat, 14 Maret 2025 | Foto: Dok. Komunitas Mahima

When I was young, I did not know poetry will take me this far.

Poetry has been a part of my life, since 8 or 9. Since I was too naive to understand what poetry is.

Saya mengenal puisi sejak SD, sejak saya mengenal kata-kata. Dalam benak saya, kata-kata adalah sebuah dunia dengan berbagai misteri di dalamnya. Saya terpesona pada kata-kata. Namun saya tidak tahu, bahwa kata-kata akan membawa saya sejauh masa, sepanjang usia. Saya belum tahu makna apa-apa.

Namun semakin saya tenggelam semakin saya memendam keinginan mengetahui apa makna di balik puisi-puisi yang saya baca. Saya terbawa dunia Chairil Anwar, Soebagio Sastrowardoyo, Taufik Ismail, Rendra, hingga Putu Wijaya. Lalu sepanjang ingatan saya semasa SMP hingga SMA, saya menemui dunia jurnalistik dan teater, dua-duanya memakai kata-kata. Ketika masuk perguruan tinggi, puisi masih melekat pada saya, seolah tak mau pergi. Semakin saya menggeluti puisi, teater, dan dunia ulang alik di antaranya. Tapi sesungguhnya mengapa harus puisi. Mengapa harus puisi.

Ketika usia dua puluh tiga, saya merasa hidup saya benar-benar telah dimulai. Puisi hadir dalam konteks nyata. Kehadiran puisi telah menjadi nafas dalam diri saya, karena keyakinan pada kata-kata. Pada tahun 2008, ketika pernikahan masih belia, baru berusia satu saja, saya terpesona pada satu kata, Mahima. Mahima adalah sebuah makna, besar, dan menjadi jiwa semesta.

Mahima menjadi sebuah kata yang menjelma menjadi sebuah gerakan, sebuah keyakinan melakukan perubahan melalui kata-kata. Manusia demi manusia hadir di Mahima, menjadikan kata sebagai penerang dalam hidupnya. Tujuh belas tahun berlalu kini, Mahima masih menjadi sebuah cahaya bagi kami, bagi saya, bagi mereka, atau kita yang menjadikannya ada. Benarlah bahwa kata-kata menjadi tumpuan, menjadi harapan, sekaligus impian. Mahima bertumbuh, menumbuhkan, menyalakan cahaya-cahaya lain yang menjadi penerang bagi semesta-semesta baru. Komunitas Mahima lahir sebagai penumbuh manusia pencari makna kata. Sejak 2008 hingga kini dan nanti.

Kadek Sonia Piscayanti saat menyampaikan orasi budaya pada acara Mahima March March March yang digelar Komunitas Mahima di Rumah Belajar Komunitas Mahima, Jalan Pantai Indah Singaraja-Bali, Jumat, 14 Maret 2025 | Foto: Dok. Komunitas Mahima

Saya pun mengalir. Tiada terasa tahun ini saya berusia 41, Mahima 17 tahun. Entah siapa yang melahirkan siapa. Saya hanya menemukan sebuah identitas pada kata Mahima, yang selanjutnya menjadi rumah bagi para pencari kata-kata, pencari tanda-tanya, penerka-nerka, pemburu makna. Saya menjadikan Mahima sebagai sebuah panduan saat saya kehilangan arah, memberi makna baru pada tujuan yang sama, tujuan yang berakhir pada kata-kata.

Saya menyandarkan diri pada puisi, pada kata-kata sebagai dasar kebenaran. Seperti yang disampaikan oleh Heidegger, dalam karyanya “The Origin of The Work of Art” :

poetry is the preeminent or most original form of the kind of establishment of truth. ‘The nature of art is poetry. The nature of poetry, then, is the founding of truth.’

Puisi adalah dasar sebuah kebenaran. Sementara kebenaran masih belum pernah ada finalnya. Kita mengupas makna senantiasa, bertanya-tanya, apakah arti kebenaran, dan kita mencoba sebisa-bisanya menginterpretasikan kebenaran dengan jiwa yang kita pahami.

Pada akhirnya, dalam kehidupan yang chaotic ini, saya tak hanya bersandar pada kata-kata namun pada pertanyaan mengapa. Hal inilah yang kemudian memperkenalkan saya kepada mindfulness, sebuah pendekatan pembelajaran mendalam dengan melampaui kesadaran sensorial. Pada tahun 2018, sekira 7 tahun lalu, saya menemukan diri saya adalah pembaharuan yang berulang dan bermakna baru. Saya mendalami bahwa saya tidaklah berubah namun juga tidaklah sama. Kata-kata saya bertambah, dan berlapis-lapis baru maknanya, dengan pendekatan pandangan personal saya yang makin matang di beberapa bagian dan makin chaos di beberapa bagian. Saya ingin memperbaharui versi diri dan menyandarkan diri pada pertanyaan-pertanyaan. Mengapa.

Mindfulness adalah sebuah cara pandang tentang kedalaman makna, menemukan kebaruan dalam setiap hal, mencari peluang perspektif yang segar, menautkan konteks yang relevan, sekaligus menciptakan sebuah kategori baru. Seperti puisi, mindfulness mengajarkan saya menyelami diri saya lebih mendalam, pada siapa diri saya, siapa saya sepuluh tahun lalu, siapa saya sekarang dan siapa saya sepuluh tahun mendatang. Saya pun menyusuri jejak identitas saya sebagai manusia, yang membedakan saya dengan manusia lainnya. Rasa perih dan duka, rasa bahagia, rasa cemas, rasa tanpa nama, apapun jenisnya.

Saya belajar memeluk diri saya dalam rangka menemukan siapa diri sebenarnya. Mahima menyertai saya dalam ppembelajaran ini sebab Mahima selalu menjadi rumah saya berbenah. Manusia-manusia baru selalu hadir di Mahima, bahkan kini hingga 17 tahun usianya, manusia-manusia baru makin bertambah. Yang lama masih tinggal, sebagian, masih mencari, sudah bertemu tujuan, baru belajar mendefinisikan tujuan dan beberapa sudah membangun tujuan yang kompleks. Saya belajar bahwa sayapun harus merumuskan kebaruan saya. Akhirnya pada tahun 2020, saya memutuskan makin mendalami mindfulness, poetry, narrative inquiry, self-study, dan self-inventory. Secara akademik, saya belajar tentang pertautan semua unsur ini, dan apa kelak kontribusi saya pada dunia yang saya cintai ini.

Di penghujung 2024, saya menemukan bahwa yang saya rindukan dalam setiap pertanyaan adalah identitas saya. Yang saya ingat, yang saya pelajari, yang saya selalu cari, dan saya temukan, lagi-lagi pada puisi, pada keriangan-keriangan menemukan kata-kata. Elevated meaning, enhanced awareness, self-invented. Saya merekam diri, mengapa saya tiba hingga di sini.

Pada temuan akademik saya, saya menemukan bahwa mindfulness adalah tentang penerimaan diri. Once you accept yourself, you are home.

Saya mengingat bahwa saya tidak dilahirkan tiba-tiba di ruang hampa. Saya dibentuk dengan struktur yang keras. Dan saya bersyukur seorang ibu yang kuat telah melahirkan saya. Mendidik saya dengan tangan baja.

Suasana saat menyampaikan orasi budaya pada acara Mahima March March March yang digelar Komunitas Mahima di Rumah Belajar Komunitas Mahima, Jalan Pantai Indah Singaraja-Bali, Jumat, 14 Maret 2025 | Foto: Dok. Komunitas Mahima

Hampir tiga puluh dua tahun lalu, ketika saya berusia 9, saya adalah anak kecil yang ditugaskan ke pasar, hampir tiap pagi oleh Ibu saya. Ke pasar, bukan untuk hiburan tapi untuk membeli kebutuhan. Saya harus belajar menerka makna pertukaran uang, pertukaran barang, pertukaran nilai. Dalam usia belia, saya tahu, semua hal bernilai, semua hal bermakna. Saya dididik dengan keras oleh ibu saya, dan saya paham mengapa. Saya pernah membeli daging setengah ons, ya benar setengah ons, karena uang terbatas. Saya pernah membeli beras setengah kilogram, minyak tanah seperempat liter, dan membeli sayur dengan menawar.  

Mengapa Ibu sekeras itu mendidik saya? Karena dia mencintai saya dan ingin saya belajar dari pasar, dunia yang keras bagi manusia belia seperti saya. Ibu saya akan marah kalau saya tidak membedakan kencur dan jahe, atau lengkuas dan kunyit, dan tak segan akan menyuruh saya menukarkan barang yang salah. Dan membawa yang benar ke rumah. Saya juga belajar menawar dengan benar, karena serupiah atau dua rupiah sangat berarti. Sedari belia juga saya tahu, tidak ada hak istimewa apapun dalam hidup saya. Semua harus diperjuangkan dengan gigih. Termasuk menakar semua dengan tepat.

Kesalahan tak dapat ditolerir, karena akan merugikan. Kerugian tak bisa dibayar karena akan berujung kerugian lain. Sebab itu, hidup saya ketat sejak kecil, saya tidak memperbolehkan diri saya berbuat salah, karena satu kesalahan akan sangat mahal belum lagi jika diikuti kesalahan lain. Saya tidak berani berbuat kesalahan apapun karena saya akan membayangkan sebuah kerugian besar yang saya tak dapat tanggung. Disiplin kuat itu yang selalu saya bawa di Mahima. Ketika saya menjadi ibu, ibu dari anak-anak saya di Mahima, saya tunjukkan bahwa tujuan berkesenian bukanlah agar terlihat gagah atau keren, tapi memperbaiki diri sebagai manusia.

Berkali-kali saya katakan kepada siapapun yang datang ke Mahima, bahwa Mahima bukan sekadar pertemuan manusia-manusia, dia adalah pertautan manusia-manusia. Pertautan sebab-akibat peristiwa, pertautan pikiran yang terus menerus ada.

 Saya tidak membayangkan bahwa kemudian saat ini tujuh belas tahun setelah Mahima ada, saya masih juga menemukan diri-diri yang baru, dalam diri yang lama, masih bertumbuh dan saling memberi jeda untuk memberi makna.

Kepada anak saya Putu Putik Padi dan Kadek Kayu Hujan saya selalu berkata, nama mereka adalah sekumpulan makna-makna, yang senantiasa akan mereka upayakan ada dan terus ada. Bahwa penerimaan diri adalah yang pertama, lalu mengisi diri adalah yang kedua, dan memperbaiki diri adalah yang ketiga dan seterusnya.

Mahima menjadi rumah jiwa saya, di dalamnya, selama 17 generasi dan ratusan generasi setelah ini, akan tetap menjadi sebuah rumah tumbuh bagi jiwa-jiwa yang ingin tumbuh. Putik, kini berusia sebaya dengan Mahima, telah menjadi penyair. Kayu, meskipun baru 10 tahun, juga telah melahirkan puisi. Siapa yang mengajarkan, tak ada. Ia telah tertanam dalam dalam. Hanya perlu dilahirkan.

Rumah ini senantiasa harus ada. Bagi semua, yang terpilih, atau terkutuk. Karena betapapun, kutuk ini akan kita nikmati sebagai sebuah pilihan yang sadar.

Maka, saya merayakan kita, merayakan Mahima dengan sebuah puisi yang saya tulis dengan kesadaran memelihara kata, memelihara kita.

A Cursed Poet
Kadek Sonia Piscayanti

The curse goes like this
“words will forever haunt you, wherever you are, words will be your graveyard, for this entire reincarnation”
These words follow me wherever I go, Wherever. Whenever.
They go through my blood, my breath, my pores. My belief.
I will go through many births, many deaths, many lives in between
But the words are there, forever there
You will owe your generations the curse that will pass down through your words

In the awareness of this curse, she sat by herself again and again, breathe again and again, being a mother again and again, through many reincarnations, again and again

Now you are a mother of a family of words
Husband, a poet
Yourself, a poet
Your son, a poet
Your daughter, a poet

Your friends, your friends are all poets
Drawn by universe, you all sitting under trees, figuring out why on earth we meet again, through many reincarnations
Again and again
I met you. You are my friend, from other lives.
We have met over and over again
Do I owe you words?

Yes, bring me back stories that you borrow from me thousand years behind
You said, you are a mother of two, one is burning her own tongue to death, one is hanging herself naked. I left, I could not remember my own story from the past.
You owe me that story, please
The burdens I hold, for deaths after deaths of my loved ones. I could not bear to tell.
And I left. I met another friend. You are familiar. Do you owe me words.
Yes, I am the one whose husband is a narcissistic and always needs sex every second
The man who sniffed at every inch of my skin, and sucked my entire pores that left me dry and drained.
Can I give you my entire story?
I listened and cried, and left.

I went home, met my husband,
He is as always, sitting at the same spot, forever
I asked him, what if we are not married at all, or what if I am not your wife at all
It is not possible, he said, we will meet somehow
We will surely meet
Because we are cursed?

Because we are cursed.
And many words haunt me. There is this burning hair woman who chased me everywhere as if I owe her my hair to be burnt
There is this burning tongue man whose words burn me every time I see him
There is this water sinking mother, who drowned me over and over again
There is this too much to handle woman who thinks her life is the most miserable of all
There is too much competition of being the saddest saddest human being
As if we are not cursed at all!
Damn human, we are here because of the words!
What else do we think we are here for

Hell and heaven are slices of breath
We should have been in heaven
But hell are we here together now
Cursed poet you are, you take words personally
Too much
For too many mirrors make no better person
For this curse still has long way to endless lives and endless reincarnations

Sang Hyang Candra
Taranggana
Rikala dipa, mamadangi
Rikalaning wengi

Moon, give me light through this reincarnations
All the cursed soul will find better and better, lighter burden to bear

A cursed poet, sat by herself, in total silence, breaking her own words, again and again
She heard the curse passed down from generation to generation, that she will not be free forever

  • Catatan: Orasi Budaya ini dibacakan pada acara Mahima March March March yang digelar Komunitas Mahima di Rumah Belajar Komunitas Mahima, Jalan Pantai Indah Singaraja-Bali, Jumat, 14 Maret 2025

Tags: Kadek Sonia PiscayantikebudayaanKomunitas MahimaMahima March March March 2025orasi budayaPendidikansastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Inisiatif 6 Negara, 1 Tujuan: Tantangan Baru bagi Kepemimpinan Indonesia di ASEAN?

Next Post

“Memilih Menjadi Aku” – Catatan Kecil Tentang Monolog yang Aku Mainkan

Kadek Sonia Piscayanti

Kadek Sonia Piscayanti

Penulis adalah dosen di Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja

Related Posts

‘Janji-janji Jepang’

by Angga Wijaya
April 23, 2026
0
‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

Read moreDetails

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

by Chusmeru
April 23, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

Read moreDetails

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
0
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

Read moreDetails

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
0
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

Read moreDetails

Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

by Petrus Imam Prawoto Jati
April 21, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang...

Read moreDetails

NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

by Dede Putra Wiguna
April 20, 2026
0
NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

PERNAHKAH Anda menjumpai situasi di mana sebuah persoalan dibicarakan berulang-ulang, diperdebatkan panjang lebar, bahkan diposting di berbagai platform, namun tidak...

Read moreDetails

Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

by Agung Sudarsa
April 20, 2026
0
Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

SETIAP peringatan Raden Ajeng Kartini sering kali berhenti pada simbol: kebaya, kutipan surat, dan narasi emansipasi yang diulang. Namun jika...

Read moreDetails

Mungkinkah Budaya Adiluhung Baduy Rusak karena Pengaruh Digitalisasi dan Destinasi Wisata?

by Asep Kurnia
April 20, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

KITA dan siapa pun, akan begitu tercengang dengan berbagai perubahan fisik (lingkungan geografis) yang begitu cepat serta sporadis termasuk perubahan...

Read moreDetails

Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

by Jro Gde Sudibya
April 20, 2026
0
Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

Paradigma Baru Industri Pariwisata Pasca Pandemi Covid-19 yang meluluhlantakkan perekonomian Bali, Industri Pariwisata Bali "mati suri", tumbuh negatif 9,3 persen...

Read moreDetails

Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

by Cindy May Siagian
April 19, 2026
0
Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

MENURUT Suarta dan Dwipaya (2022:10), karya sastra adalah wadah untuk menuangkan gagasan dan kreativitas dari seseorang untuk mengajak pembaca mendiskusikan...

Read moreDetails
Next Post
“Memilih Menjadi Aku” – Catatan Kecil Tentang Monolog yang Aku Mainkan

“Memilih Menjadi Aku” – Catatan Kecil Tentang Monolog yang Aku Mainkan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co