4 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Memilih Menjadi Aku” – Catatan Kecil Tentang Monolog yang Aku Mainkan

Dwi Ermayanthi by Dwi Ermayanthi
March 18, 2025
in Ulas Pentas
“Memilih Menjadi Aku” – Catatan Kecil Tentang Monolog yang Aku Mainkan

Dwi Ermayanthi saat memainkan monolog pada acara Mahima March March March 2025 di Rumah Belajar Komunitas Mahima, Singaraja-Bali, Sabtu, 15 Maret 2025 | Foto: Dok. Komunitas Mahima

“Monolog? Apa itu?”

Begitulah reaksiku saat pertama kali Sonia Piscayanti mengajakku untuk ikut serta dalam MONOLOG 100 Perempuan Komunitas Mahima.

Semua ini dimulai tanggal 14 Januari, saat pentolan Komunitas Mahima, sekaligus penulis naskah dan sutradara, Sonia Piscayanti menghubungiku melalui sebuah pesan WA, “tentang monolog bulan maret aku mau garap kao soal perspektif 35 single and productive by choice nah” dan dengan polosnya aku menjawab, “monolog itu apa mbok?”.

Pernah sebelumnya aku menyaksikan beberapa pementasan monolog seperti Cok Sawitri, atau Sha Ine Febriyanti, tapi tak pernah membayangkan diriku akan menampilkan atau menjadi aktor monolog kalau bukan karena Sonia Piscayanti.

Aku tidak pernah bersentuhan sama sekali dengan dunia keaktoran atau teater, selain sebagai penonton. Ketika ajakan itu datang, aku jadi bingung sendiri, ini nanti monolog harus ngapain? Memang bisa akting?

Namun apa yang membuatku akhirnya meng-iya-kan tawaran ini adalah topik yang ingin diangkat tidak jauh dari diriku sendiri. Mengutip Sonia dari WA chatnya “care nak pidato, stoy telling biasa”.

Dalam hati aku berkata “OK, harusnya bisa ya, ga susah ya menjadi diri sendiri di depan panggung”.

Bulan berselang, di awal Maret akhirnya naskah monolog telah rampung dengan judul “Memilih Menjadi Aku”. Naskah ini terdiri dari 3 bagian yang dibuka dengan sebuah narasi tentang pencarian jati diri, kemudian gejolak dilema antara menemukan diri dalam pekerjaan dan kehidupan sosial, kemudian ditutup dengan sebuah refleksi bahwa dengan semua label dan definisi yang disematkan, tidak akan pernah lebih dari metafora sebagai wanita Bali.

Ketika naskah ini kubaca untuk pertama kalinya, terasa agak janggal, dan penuh tanya apakah ini tentang aku – sepertinya tidak tetapi sepertinya iya? Sonia hanya mengirimkan naskah tanpa memberi briefing apapun tentang monolognya nanti akan seperti apa. Jadi pada tahap ini, sejujurnya aku pun masih buta dan tidak tahu harus melakukan apa.

Jadi setelah naskah ini kuterima, belum aku apa-apakan sama sekali. Sesekali kubaca dan coba untuk meresapi, tapi dalam hati masih ada yang mengganjal.

Hingga akhirnya hari Rabu, tiga hari sebelum pentas, aku mengobrol dengan Sonia lewat telepon karena dia tak hentinya mengingatkanku untuk menghapal naskah namun belum kulakukan sama sekali. Dalam obrolan singkat kami di telepon, akhirnya aku memahami hal yang membuat mengganjal di hati dan pertanyaan-pertanyaan yang ada di kepalaku ketika membaca naskah monolog ini.

Aku akhirnya sampai pada pemahaman bahwa ini adalah karakter yang diciptakan oleh Sonia sebagai penulis naskah. Hal yang mengganjal selama ini adalah aku merasa ada jarak antara naskah ini dengan diriku sendiri, meskipun Sonia menuliskan naskah berdasarkan cerita tentang diriku, namun ternyata ini adalah sebuah karakter yang berbeda.

Naskah ini adalah perspektif Sonia terhadapku, cara Sonia memandangku, dalam ruang sebagai seorang perempuan lajang yang digambarkan produktif, berani, global tapi juga menangkap kegelisahan, kelelahan dan keraguan sebagai perempuan Bali. Ini adalah karakter yang harus aku perankan di atas panggung nanti, ini bisa jadi adalah diriku sendiri atau bisa jadi juga orang lain.

Menyiapkan diri menuju tanggal pementasan 15 Maret 2025, di sela-sela tumpukan pekerjaan sehari-hari, aku mencoba untuk menyelami naskah ini. Aku mencoba memahami bagaimana alur pemikiran penulis dalam menuliskan karakter ini.

Aku memecah naskah menjadi bagian kecil agar lebih mudah memahami ide besar di tiap segmen. Memilahnya menjadi bagian-bagian kecil yang bersesuaian memudahkanku untuk memahami alih-alih menghapalkan naskahnya.

Dwi Ermayanthi saat memainkan monolog pada acara Mahima March March March 2025 di Rumah Belajar Komunitas Mahima, Singaraja-Bali, Sabtu, 15 Maret 2025 | Foto: Dok. Komunitas Mahima

Aku biarkan diriku mengalir mengikuti ide yang coba digambarkan oleh penulis dalam tiap kata dan kalimat.

Masalah lainya adalah, AKU BUKAN AKTOR.

Meskipun naskah ini sangat dekat dengan diriku, namun aku bukan orang yang bisa ekspresif apalagi berakting. Dalam lingkungan sosial, aku dikenal sebagai orang yang sangat datar dan tanpa emosi. Aku tidak terbiasa meluapkan atau mengekspresikan emosi dan pikiran ke luar.

Dalam prosesnya, aku mengalami tantangan untuk memerankan dan menampilkan naskah ini dengan emosi dan gerak yang ingin disampaikan oleh penulis sekaligus sutradara. Aku itu orangnya datar – flat, pembawaan tanpa ekspresi ini telah menjadi bagian diriku karena selama ini begitu caraku menyelesaikan setiap krisis dalam hidup.

Kali ini aku ditantang untuk keluar dari zona nyaman dengan mengekspor dan mengekspos seluruh emosi yang kurasakan melalui naskah ini. Emosi yang mungkin sebetulnya ada di dalam diriku hanya saja tidak pernah terungkapkan.

Satu hal yang kupegang teguh adalah “apapun itu hadapi saja, apapun hasilnya dengan aku berani naik ke panggung dan pentas aku sudah menang melawan keraguan aku sendiri”.

Ketika hari pementasan tiba, pagi harinya aku mencoba membayangkan bagaimana nanti akan bergerak dan bercerita di atas panggung. Apa simbol dan gesture yang akan dimainkan. Aku coba menuangkan setiap segmen dalam naskah ini menjadi visual gerak, atau properti apa saja yang dapat membantuku menjembatani naskah ini ke dalam diriku kemudian ke penonton.

Dwi Ermayanthi saat memainkan monolog pada acara Mahima March March March 2025 di Rumah Belajar Komunitas Mahima, Singaraja-Bali, Sabtu, 15 Maret 2025 | Foto: Dok. Komunitas Mahima

Dengan arahan dari Sonia sesaat sebelum naik panggung, aku memantapkan diri untuk melakukan gerak dengan berbagai properti yang sudah aku gambarkan dalam imajinasi. 

Kemudian tiba giliran untuk pentas, tepat setelah pementasan monolog Pranita Dewi. Sejujurnya ini memberikan tekanan yang lebih besar lagi karena Pranita tampil dengan sangat memukau, penuh kejujuran emosi, dan vulnerability. Penonton turut terhanyut dibuatnya.

Malam itu, Rumah Komunitas Mahima cukup intim dan hangat, di tengah rintik hujan yang tidak berhenti sejak jam 10 pagi, beberapa rekan dan kawan masih berkenan datang untuk menonton. Bagiku seorang aktor dadakan ini, jumlah ini sudah cukup mengintimidasi dan membuat grogi, ditambah dengan pementasan Pranita yang amat luar biasa sebelumnya.

Di belakang panggung aku biarkan tubuhku merasakan semua ketegangan-ketegangan, aku biarkan rasa itu mengalir dan tidak kutahan sama sekali.  Hingga akhirnya MC mengundangku ke atas panggung dan kendali ada di tanganku.

Lampu penonton mulai redup dan hanya tersisa lampu panggung yang menerangiku. Aku menarik napas dalam. Kursi di tengah panggung menjadi satu-satunya pijakan sebelum aku melepaskan segala ketegangan yang menyelimuti.

Entah kenapa, sejak awal aku memiliki keyakinan bahwa panggung dan penonton akan membantu memberikan energi kepadaku untuk mementaskan naskah ini. Ketika kalimat pertama terucapkan, luapan energi seperti mengalir ke seluruh tubuhku.

Aku membiarkan seluruh tubuhku bergerak ke arah yang diinginkan, aku biarkan setiap kata mengalir dari mulut dan rongga suara. Tanpa judgement dan tanpa dihalangi pikiran-pikiran. Aku biarkan semua mengalir, termasuk segala emosi yang ingin meluap.

Dwi Ermayanthi saat memainkan monolog pada acara Mahima March March March 2025 di Rumah Belajar Komunitas Mahima, Singaraja-Bali, Sabtu, 15 Maret 2025 | Foto: Dok. Komunitas Mahima

Naskah yang awalnya sulit sekali aku ekspresikan dan temukan emosinya, seketika muncul dan mencuat begitu saja. Emosi itu menemukan katalisnya melalui naskah dan panggung ini.

Aku biarkan tubuhku menentukan waktunya sendiri, aku tidak berusaha memburu tidak juga berusaha menahan, tubuh seperti tahu kapan saat yang tepat.

Tanpa aku sadari, aku sudah sampai pada ujungnya. Ketika monolog ini kututup ada sebuah kelegaan dalam diri atas rasa yang terungkap.

Pranita, Sonia, dan Erma saat sesi diskusi seusai pementasan monolog pada acara Mahima March March March 2025 di Rumah Belajar Komunitas Mahima, Singaraja-Bali, Sabtu, 15 Maret 2025 | Foto: Dok Komunitas Mahima

Saat sesi diskusi dengan penonton setelah diskusi selesai, membantu aku untuk merefleksikan kembali apa yang telah kami tampilkan di panggung malam itu. 

Ketika seorang penonton merasa resonate dengan monolog yang aku bawakan, malam itu aku sadar, “Memilih Menjadi Aku” bukan hanya tentangku. Ini adalah suara perempuan di luar sana yang mungkin juga berjuang dalam sunyi.

Terima kasih Sonia,

Terima kasih Mahima,

Terima kasih telah menjadi ruang berkontemplasi dan bertumbuh bagi banyak orang.

  • BACA JUGA:
Mahima Menumbuhkan Saya, Saya Menumbuhkan Mahima – Orasi Budaya Mahima March March March 2025
Tags: Komunitas MahimaMahima March March March 2025Monolog
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mahima Menumbuhkan Saya, Saya Menumbuhkan Mahima – Orasi Budaya Mahima March March March 2025

Next Post

Ramadhan Sepanjang Masa

Dwi Ermayanthi

Dwi Ermayanthi

Biasa dipanggil Erma. Lahir dan besar di keluarga tradisional Bali, didorong oleh ayahnya untuk belajar di Surabaya sebelum kembali ke Bali untuk bekerja di Ubud Writers & Readers Festival. Pengalamannya selama empat tahun di Surabaya dan bekerja bersama tim yang beragam di festival tersebut mengubah perspektifnya tentang Bali, melihatnya melampaui pandangan tradisional keluarganya. Erma juga merupakan salah satu co-founder dari Littletalks Ubud, sebuah cafe & library yang berlokasi di Jl Bisma Ubud.

Related Posts

Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

by Dewa Purwita Sukahet
July 31, 2026
0
Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

MALAM itu, 20 Juli 2026, jam di ponsel menunjukan pukul 18:52 Wita, di depan gedung Ni Ketut Reneng, kampus Institut...

Read moreDetails

Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

by Anselmus Dore Woho Atasoge
July 31, 2026
0
Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

MALAM pembukaan Festival Bale Nagi 2026 di Taman Kota Felix Fernandez, Larantuka, Flores Timur, NTT, menyuguhkan sebuah pertunjukan yang memicu...

Read moreDetails

Fragmentari “Jro Luh” dan Sinkronisitas: Sebuah Pembacaan Estetika atas Pertemuan Dramaturgi dan Fenomena Alam

by I Gusti Made Darma Putra
July 28, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

PANGGUNG seni pertunjukan pada dasarnya merupakan ruang rekayasa artistik. Di dalamnya, setiap unsur dirancang dengan cermat, struktur dramatik disusun melalui...

Read moreDetails

Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

by I Wayan Sujana Suklu
July 25, 2026
0
Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

  Tubuh berjalan pelandi antara bukit, rumah, dan laut yang tidak selesai. Angin membawa nama-namayang pernah singgah di pelabuhan,lalu hilang...

Read moreDetails

Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

by Chandra Manikan
July 22, 2026
0
Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

Asap mengepul perlahan hingga menutupi sebagian panggung, sementara cahaya merah merambat dan menerangi Ocha Diartini yang saat itu berperan sebagai...

Read moreDetails

Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

by Satria Aditya
July 20, 2026
0
Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

PARADE Monolog dalam Festival Seni Bali Jani 2016 yang digelar pada 14 Juli  di Gedung Ksirarnawa, dibuka pukul 17.00 Wita,...

Read moreDetails

Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

by Putu Intan Juliantika
July 19, 2026
0
Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

 “Teng! Tong! Teng! Tong! Teng! Tung! Pagi tiba alarm berbunyi...” Itu adalah suara dering alarm saya pukul tiga pagi yang...

Read moreDetails

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
0
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

Read moreDetails

‘The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark’ di TMII —Cahaya Menghidupkan Hanoman Duta

by Azzahra Naya R
July 1, 2026
0
‘The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark’ di TMII —Cahaya Menghidupkan Hanoman Duta

SAAT menyaksikan The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark: Hanoman Duta, Amfiteater Panggung Budaya, Taman Mini Indonesia Indah (TMII),...

Read moreDetails

Kembalinya Roh Teo-Estetika —Menguatkan Kembali Konsolidasi Sosial Masyarakat Banjar Bukit Buwung Kesiman Melalui Kesenian Dramatari Arja

by IM Gede Nesa Saputra
June 30, 2026
0
Kembalinya Roh Teo-Estetika —Menguatkan Kembali Konsolidasi Sosial Masyarakat Banjar Bukit Buwung Kesiman Melalui Kesenian Dramatari Arja

KEMBALINYA seni Arja di Banjar Bukit Buwung, Kesiman, tidak dapat dipahami semata sebagai upaya revitalisasi kesenian tradisional, melainkan sebagai proses...

Read moreDetails
Next Post
Ramadhan Sepanjang Masa

Ramadhan Sepanjang Masa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd
Ulas Buku

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

by IRZI
August 3, 2026
Presiden di Dalam Kepala Saya
Esai

Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

by Angga Wijaya
August 3, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

by Chusmeru
August 3, 2026
Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co