25 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Memilih Menjadi Aku” – Catatan Kecil Tentang Monolog yang Aku Mainkan

Dwi Ermayanthi by Dwi Ermayanthi
March 18, 2025
in Ulas Pentas
“Memilih Menjadi Aku” – Catatan Kecil Tentang Monolog yang Aku Mainkan

Dwi Ermayanthi saat memainkan monolog pada acara Mahima March March March 2025 di Rumah Belajar Komunitas Mahima, Singaraja-Bali, Sabtu, 15 Maret 2025 | Foto: Dok. Komunitas Mahima

“Monolog? Apa itu?”

Begitulah reaksiku saat pertama kali Sonia Piscayanti mengajakku untuk ikut serta dalam MONOLOG 100 Perempuan Komunitas Mahima.

Semua ini dimulai tanggal 14 Januari, saat pentolan Komunitas Mahima, sekaligus penulis naskah dan sutradara, Sonia Piscayanti menghubungiku melalui sebuah pesan WA, “tentang monolog bulan maret aku mau garap kao soal perspektif 35 single and productive by choice nah” dan dengan polosnya aku menjawab, “monolog itu apa mbok?”.

Pernah sebelumnya aku menyaksikan beberapa pementasan monolog seperti Cok Sawitri, atau Sha Ine Febriyanti, tapi tak pernah membayangkan diriku akan menampilkan atau menjadi aktor monolog kalau bukan karena Sonia Piscayanti.

Aku tidak pernah bersentuhan sama sekali dengan dunia keaktoran atau teater, selain sebagai penonton. Ketika ajakan itu datang, aku jadi bingung sendiri, ini nanti monolog harus ngapain? Memang bisa akting?

Namun apa yang membuatku akhirnya meng-iya-kan tawaran ini adalah topik yang ingin diangkat tidak jauh dari diriku sendiri. Mengutip Sonia dari WA chatnya “care nak pidato, stoy telling biasa”.

Dalam hati aku berkata “OK, harusnya bisa ya, ga susah ya menjadi diri sendiri di depan panggung”.

Bulan berselang, di awal Maret akhirnya naskah monolog telah rampung dengan judul “Memilih Menjadi Aku”. Naskah ini terdiri dari 3 bagian yang dibuka dengan sebuah narasi tentang pencarian jati diri, kemudian gejolak dilema antara menemukan diri dalam pekerjaan dan kehidupan sosial, kemudian ditutup dengan sebuah refleksi bahwa dengan semua label dan definisi yang disematkan, tidak akan pernah lebih dari metafora sebagai wanita Bali.

Ketika naskah ini kubaca untuk pertama kalinya, terasa agak janggal, dan penuh tanya apakah ini tentang aku – sepertinya tidak tetapi sepertinya iya? Sonia hanya mengirimkan naskah tanpa memberi briefing apapun tentang monolognya nanti akan seperti apa. Jadi pada tahap ini, sejujurnya aku pun masih buta dan tidak tahu harus melakukan apa.

Jadi setelah naskah ini kuterima, belum aku apa-apakan sama sekali. Sesekali kubaca dan coba untuk meresapi, tapi dalam hati masih ada yang mengganjal.

Hingga akhirnya hari Rabu, tiga hari sebelum pentas, aku mengobrol dengan Sonia lewat telepon karena dia tak hentinya mengingatkanku untuk menghapal naskah namun belum kulakukan sama sekali. Dalam obrolan singkat kami di telepon, akhirnya aku memahami hal yang membuat mengganjal di hati dan pertanyaan-pertanyaan yang ada di kepalaku ketika membaca naskah monolog ini.

Aku akhirnya sampai pada pemahaman bahwa ini adalah karakter yang diciptakan oleh Sonia sebagai penulis naskah. Hal yang mengganjal selama ini adalah aku merasa ada jarak antara naskah ini dengan diriku sendiri, meskipun Sonia menuliskan naskah berdasarkan cerita tentang diriku, namun ternyata ini adalah sebuah karakter yang berbeda.

Naskah ini adalah perspektif Sonia terhadapku, cara Sonia memandangku, dalam ruang sebagai seorang perempuan lajang yang digambarkan produktif, berani, global tapi juga menangkap kegelisahan, kelelahan dan keraguan sebagai perempuan Bali. Ini adalah karakter yang harus aku perankan di atas panggung nanti, ini bisa jadi adalah diriku sendiri atau bisa jadi juga orang lain.

Menyiapkan diri menuju tanggal pementasan 15 Maret 2025, di sela-sela tumpukan pekerjaan sehari-hari, aku mencoba untuk menyelami naskah ini. Aku mencoba memahami bagaimana alur pemikiran penulis dalam menuliskan karakter ini.

Aku memecah naskah menjadi bagian kecil agar lebih mudah memahami ide besar di tiap segmen. Memilahnya menjadi bagian-bagian kecil yang bersesuaian memudahkanku untuk memahami alih-alih menghapalkan naskahnya.

Dwi Ermayanthi saat memainkan monolog pada acara Mahima March March March 2025 di Rumah Belajar Komunitas Mahima, Singaraja-Bali, Sabtu, 15 Maret 2025 | Foto: Dok. Komunitas Mahima

Aku biarkan diriku mengalir mengikuti ide yang coba digambarkan oleh penulis dalam tiap kata dan kalimat.

Masalah lainya adalah, AKU BUKAN AKTOR.

Meskipun naskah ini sangat dekat dengan diriku, namun aku bukan orang yang bisa ekspresif apalagi berakting. Dalam lingkungan sosial, aku dikenal sebagai orang yang sangat datar dan tanpa emosi. Aku tidak terbiasa meluapkan atau mengekspresikan emosi dan pikiran ke luar.

Dalam prosesnya, aku mengalami tantangan untuk memerankan dan menampilkan naskah ini dengan emosi dan gerak yang ingin disampaikan oleh penulis sekaligus sutradara. Aku itu orangnya datar – flat, pembawaan tanpa ekspresi ini telah menjadi bagian diriku karena selama ini begitu caraku menyelesaikan setiap krisis dalam hidup.

Kali ini aku ditantang untuk keluar dari zona nyaman dengan mengekspor dan mengekspos seluruh emosi yang kurasakan melalui naskah ini. Emosi yang mungkin sebetulnya ada di dalam diriku hanya saja tidak pernah terungkapkan.

Satu hal yang kupegang teguh adalah “apapun itu hadapi saja, apapun hasilnya dengan aku berani naik ke panggung dan pentas aku sudah menang melawan keraguan aku sendiri”.

Ketika hari pementasan tiba, pagi harinya aku mencoba membayangkan bagaimana nanti akan bergerak dan bercerita di atas panggung. Apa simbol dan gesture yang akan dimainkan. Aku coba menuangkan setiap segmen dalam naskah ini menjadi visual gerak, atau properti apa saja yang dapat membantuku menjembatani naskah ini ke dalam diriku kemudian ke penonton.

Dwi Ermayanthi saat memainkan monolog pada acara Mahima March March March 2025 di Rumah Belajar Komunitas Mahima, Singaraja-Bali, Sabtu, 15 Maret 2025 | Foto: Dok. Komunitas Mahima

Dengan arahan dari Sonia sesaat sebelum naik panggung, aku memantapkan diri untuk melakukan gerak dengan berbagai properti yang sudah aku gambarkan dalam imajinasi. 

Kemudian tiba giliran untuk pentas, tepat setelah pementasan monolog Pranita Dewi. Sejujurnya ini memberikan tekanan yang lebih besar lagi karena Pranita tampil dengan sangat memukau, penuh kejujuran emosi, dan vulnerability. Penonton turut terhanyut dibuatnya.

Malam itu, Rumah Komunitas Mahima cukup intim dan hangat, di tengah rintik hujan yang tidak berhenti sejak jam 10 pagi, beberapa rekan dan kawan masih berkenan datang untuk menonton. Bagiku seorang aktor dadakan ini, jumlah ini sudah cukup mengintimidasi dan membuat grogi, ditambah dengan pementasan Pranita yang amat luar biasa sebelumnya.

Di belakang panggung aku biarkan tubuhku merasakan semua ketegangan-ketegangan, aku biarkan rasa itu mengalir dan tidak kutahan sama sekali.  Hingga akhirnya MC mengundangku ke atas panggung dan kendali ada di tanganku.

Lampu penonton mulai redup dan hanya tersisa lampu panggung yang menerangiku. Aku menarik napas dalam. Kursi di tengah panggung menjadi satu-satunya pijakan sebelum aku melepaskan segala ketegangan yang menyelimuti.

Entah kenapa, sejak awal aku memiliki keyakinan bahwa panggung dan penonton akan membantu memberikan energi kepadaku untuk mementaskan naskah ini. Ketika kalimat pertama terucapkan, luapan energi seperti mengalir ke seluruh tubuhku.

Aku membiarkan seluruh tubuhku bergerak ke arah yang diinginkan, aku biarkan setiap kata mengalir dari mulut dan rongga suara. Tanpa judgement dan tanpa dihalangi pikiran-pikiran. Aku biarkan semua mengalir, termasuk segala emosi yang ingin meluap.

Dwi Ermayanthi saat memainkan monolog pada acara Mahima March March March 2025 di Rumah Belajar Komunitas Mahima, Singaraja-Bali, Sabtu, 15 Maret 2025 | Foto: Dok. Komunitas Mahima

Naskah yang awalnya sulit sekali aku ekspresikan dan temukan emosinya, seketika muncul dan mencuat begitu saja. Emosi itu menemukan katalisnya melalui naskah dan panggung ini.

Aku biarkan tubuhku menentukan waktunya sendiri, aku tidak berusaha memburu tidak juga berusaha menahan, tubuh seperti tahu kapan saat yang tepat.

Tanpa aku sadari, aku sudah sampai pada ujungnya. Ketika monolog ini kututup ada sebuah kelegaan dalam diri atas rasa yang terungkap.

Pranita, Sonia, dan Erma saat sesi diskusi seusai pementasan monolog pada acara Mahima March March March 2025 di Rumah Belajar Komunitas Mahima, Singaraja-Bali, Sabtu, 15 Maret 2025 | Foto: Dok Komunitas Mahima

Saat sesi diskusi dengan penonton setelah diskusi selesai, membantu aku untuk merefleksikan kembali apa yang telah kami tampilkan di panggung malam itu. 

Ketika seorang penonton merasa resonate dengan monolog yang aku bawakan, malam itu aku sadar, “Memilih Menjadi Aku” bukan hanya tentangku. Ini adalah suara perempuan di luar sana yang mungkin juga berjuang dalam sunyi.

Terima kasih Sonia,

Terima kasih Mahima,

Terima kasih telah menjadi ruang berkontemplasi dan bertumbuh bagi banyak orang.

  • BACA JUGA:
Mahima Menumbuhkan Saya, Saya Menumbuhkan Mahima – Orasi Budaya Mahima March March March 2025
Tags: Komunitas MahimaMahima March March March 2025Monolog
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mahima Menumbuhkan Saya, Saya Menumbuhkan Mahima – Orasi Budaya Mahima March March March 2025

Next Post

Ramadhan Sepanjang Masa

Dwi Ermayanthi

Dwi Ermayanthi

Biasa dipanggil Erma. Lahir dan besar di keluarga tradisional Bali, didorong oleh ayahnya untuk belajar di Surabaya sebelum kembali ke Bali untuk bekerja di Ubud Writers & Readers Festival. Pengalamannya selama empat tahun di Surabaya dan bekerja bersama tim yang beragam di festival tersebut mengubah perspektifnya tentang Bali, melihatnya melampaui pandangan tradisional keluarganya. Erma juga merupakan salah satu co-founder dari Littletalks Ubud, sebuah cafe & library yang berlokasi di Jl Bisma Ubud.

Related Posts

‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026

by Yudi Laksana
June 24, 2026
0
‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026

RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di...

Read moreDetails

Tembang Propaganda dan Atraksi Silat yang Memberi Warna pada Liuk Janger Kerobokan di Pesta Kesenian Bali 2026 —Sebuah Catatan

by Kadek Surya Jayadi
June 20, 2026
0
Tembang Propaganda dan Atraksi Silat yang Memberi Warna pada Liuk Janger Kerobokan di Pesta Kesenian Bali 2026 —Sebuah Catatan

 “Mari kawan bersama kita bekerja, bersihkan lingkungan….”  ITU adalah penggalan tembang yang menjadi salah satu hal menarik dari pementasan kesenian...

Read moreDetails

Akurasi Sendratari ‘Lubdhaka Lelana’ Merefleksikan Tema ‘Atma Kerthi’ dalam PKB 2026

by I Nyoman Darma Putra
June 15, 2026
0
Akurasi Sendratari ‘Lubdhaka Lelana’ Merefleksikan Tema ‘Atma Kerthi’ dalam PKB 2026

MENERJEMAHKAN tema Pesta Kesenian Bali (PKB) ke dalam seni pertunjukan kerap menjadi tantangan bagi para seniman. Pertama, tema-tema PKB dirumuskan...

Read moreDetails

Aura dan Ruang Aman : Catatan dari Suara-Suara yang Dikecilkan

by Rezky Chiki
June 9, 2026
0
Aura dan Ruang Aman : Catatan dari Suara-Suara yang Dikecilkan

“Salah satu hal yang membuat pelecehan sulit dikenali adalah karena ia sering hadir dalam bentuk yang tampak biasa: candaan, gurauan,...

Read moreDetails

Catatan Lomba Monolog Peksimida Bali 2026: Ada yang Masih Terjebak Pada Teriakan

by Mas Ruscitadewi
June 7, 2026
0
Catatan Lomba Monolog Peksimida Bali 2026: Ada yang Masih Terjebak Pada Teriakan

Lomba monolog dalam rangka Pekan Seni Mahasiswa Daerah (Peksimida) Bali 2026 yang diadakan di Institut Seni Indonesia (ISI) Bali, Sabtu,...

Read moreDetails

Durhaka Sebagai Bahasa Kuasa: Narasi Tubuh Perempuan Melalui Pertunjukan Malin Kundang Lirih

by Helvi Carnelis
April 14, 2026
0
Durhaka Sebagai Bahasa Kuasa: Narasi Tubuh Perempuan Melalui Pertunjukan Malin Kundang Lirih

SAYA merasakan dengan kuat budaya rantau hari ini, sebuah beban tanggung jawab yang tidak ringan dalam kebudayaan Minangkabau. Pengalaman itu...

Read moreDetails

Bertolak dari Ruang, Proses dan Improvisasi —Catatan Pementasan ‘Aduh” Teater Mahima

by Radha Dwi Pradnyani
March 30, 2026
0
Bertolak dari Ruang, Proses dan Improvisasi —Catatan Pementasan ‘Aduh” Teater Mahima

PEMAIN masuk arena secara bergiliran. Dengan gerakan berbeda-beda mereka berjalan tergesa, dinamis, kadang saling silang, kadang sejajar. Mereka bersuara meniru...

Read moreDetails

Seni sebagai Metode Rekonsiliasi Warga Desa Tembok

by I Putu Ardiyasa
March 22, 2026
0
Seni sebagai Metode Rekonsiliasi Warga Desa Tembok

MENYAKSIKAN perjalanan kultural di Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, selama empat tahun terakhir adalah pelajaran berharga tentang bagaimana estetika mampu...

Read moreDetails

Menembus Batas Fisik: Dialektika Atma Kertih dalam Estetika Ruang dan Cahaya dalam Lakon ‘I Sigir Jlema Tuah Asibak’

by I Gede Tilem Pastika
March 1, 2026
0
Menembus Batas Fisik: Dialektika Atma Kertih dalam Estetika Ruang dan Cahaya dalam Lakon ‘I Sigir Jlema Tuah Asibak’

MALAM itu, 28 Februari 2026, udara di Gedung Ksirarnawa Art Centre Denpasar terasa bergetar oleh ekspektasi yang tinggi. Sebagai sutradara...

Read moreDetails

Pertunjukan Mini Esai Performatif ‘Desa Kami’: Sebuah Gugatan dan Refleksi dari Desa

by Wahyu Mahaputra
February 28, 2026
0
Pertunjukan Mini Esai Performatif ‘Desa Kami’: Sebuah Gugatan dan Refleksi dari Desa

DERING telepon membangunkan saya dari tidur siang hari itu. Di seberang sambungan, suara Ariel Valeryan: sahabat dari Kuningan, Jawa Barat...

Read moreDetails
Next Post
Ramadhan Sepanjang Masa

Ramadhan Sepanjang Masa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kolaborasi Osaka Gakugei High School Jepang dengan Toska
Khas

Kolaborasi Osaka Gakugei High School Jepang dengan Toska

SEBANYAK 48 siswa Osaka Gakugei High School Jepang mengunjungi SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska)  pada Selasa, 23 Juni 2026...

by I Nyoman Tingkat
June 24, 2026
Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil
Persona

Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi...

by Jaswanto
June 24, 2026
Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring
Esai

Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut...

by Azhari M. Latief
June 24, 2026
‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Pentas

‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026

RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di...

by Yudi Laksana
June 24, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Topeng Politik dan Ujian Demokrasi Indonesia

SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan...

by I Made Pria Dharsana
June 24, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Membaca Demokrasi Abu-Abu Indonesia

LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis...

by Chusmeru
June 24, 2026
Duri Akar dan “Sungga”
Bahasa

Duri Akar dan “Sungga”

SAYA bukan tukang panen umbi yang cakap. Memanen umbi gembili, dua kali ujung linggis yang saya ayunkan justru menghunjam dan...

by Komang Berata
June 24, 2026
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi
Opini

Penangguhan Tahanan dan Ujian Kesetaraan Hukum

PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam...

by Ruben Cornelius Siagian
June 24, 2026
Kawasan Titik Nol Sudah Menyala —Sentuhan Bupati Percantik Wajah Malam Kota Singaraja
Pemerintahan

Kawasan Titik Nol Sudah Menyala —Sentuhan Bupati Percantik Wajah Malam Kota Singaraja

SINGARAJA – TATKALA.CO | Wajah baru kawasan Titik Nol Kota Singaraja mulai terlihat. Bupati Buleleng, I Nyoman Sutjidra, didampingi Wakil...

by tatkala
June 24, 2026
Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026

DRAMA gong ternyata masih memiliki tempat di hati masyarakat Bali. Hal itu terlihat saat Sanggar Seni Nong Nong Kling dari...

by Nyoman Budarsana
June 23, 2026
Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara
Budaya

Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara

SINGARAJA – TATKALA.CO | Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra mendukung terselenggaranya Singaraja Literary Festival (SLF) ke-4 tahun 2026 yang diadakan...

by tatkala
June 23, 2026
Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng
Khas

Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng

PETANI garam dan musim panas ibarat dua sejoli yang saling merindukan. Setelah berbulan-bulan berpisah oleh hujan, mendung, dan gelombang yang...

by Nyoman Nadiana
June 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co