15 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Memilih Menjadi Aku” – Catatan Kecil Tentang Monolog yang Aku Mainkan

Dwi Ermayanthi by Dwi Ermayanthi
March 18, 2025
in Ulas Pentas
“Memilih Menjadi Aku” – Catatan Kecil Tentang Monolog yang Aku Mainkan

Dwi Ermayanthi saat memainkan monolog pada acara Mahima March March March 2025 di Rumah Belajar Komunitas Mahima, Singaraja-Bali, Sabtu, 15 Maret 2025 | Foto: Dok. Komunitas Mahima

“Monolog? Apa itu?”

Begitulah reaksiku saat pertama kali Sonia Piscayanti mengajakku untuk ikut serta dalam MONOLOG 100 Perempuan Komunitas Mahima.

Semua ini dimulai tanggal 14 Januari, saat pentolan Komunitas Mahima, sekaligus penulis naskah dan sutradara, Sonia Piscayanti menghubungiku melalui sebuah pesan WA, “tentang monolog bulan maret aku mau garap kao soal perspektif 35 single and productive by choice nah” dan dengan polosnya aku menjawab, “monolog itu apa mbok?”.

Pernah sebelumnya aku menyaksikan beberapa pementasan monolog seperti Cok Sawitri, atau Sha Ine Febriyanti, tapi tak pernah membayangkan diriku akan menampilkan atau menjadi aktor monolog kalau bukan karena Sonia Piscayanti.

Aku tidak pernah bersentuhan sama sekali dengan dunia keaktoran atau teater, selain sebagai penonton. Ketika ajakan itu datang, aku jadi bingung sendiri, ini nanti monolog harus ngapain? Memang bisa akting?

Namun apa yang membuatku akhirnya meng-iya-kan tawaran ini adalah topik yang ingin diangkat tidak jauh dari diriku sendiri. Mengutip Sonia dari WA chatnya “care nak pidato, stoy telling biasa”.

Dalam hati aku berkata “OK, harusnya bisa ya, ga susah ya menjadi diri sendiri di depan panggung”.

Bulan berselang, di awal Maret akhirnya naskah monolog telah rampung dengan judul “Memilih Menjadi Aku”. Naskah ini terdiri dari 3 bagian yang dibuka dengan sebuah narasi tentang pencarian jati diri, kemudian gejolak dilema antara menemukan diri dalam pekerjaan dan kehidupan sosial, kemudian ditutup dengan sebuah refleksi bahwa dengan semua label dan definisi yang disematkan, tidak akan pernah lebih dari metafora sebagai wanita Bali.

Ketika naskah ini kubaca untuk pertama kalinya, terasa agak janggal, dan penuh tanya apakah ini tentang aku – sepertinya tidak tetapi sepertinya iya? Sonia hanya mengirimkan naskah tanpa memberi briefing apapun tentang monolognya nanti akan seperti apa. Jadi pada tahap ini, sejujurnya aku pun masih buta dan tidak tahu harus melakukan apa.

Jadi setelah naskah ini kuterima, belum aku apa-apakan sama sekali. Sesekali kubaca dan coba untuk meresapi, tapi dalam hati masih ada yang mengganjal.

Hingga akhirnya hari Rabu, tiga hari sebelum pentas, aku mengobrol dengan Sonia lewat telepon karena dia tak hentinya mengingatkanku untuk menghapal naskah namun belum kulakukan sama sekali. Dalam obrolan singkat kami di telepon, akhirnya aku memahami hal yang membuat mengganjal di hati dan pertanyaan-pertanyaan yang ada di kepalaku ketika membaca naskah monolog ini.

Aku akhirnya sampai pada pemahaman bahwa ini adalah karakter yang diciptakan oleh Sonia sebagai penulis naskah. Hal yang mengganjal selama ini adalah aku merasa ada jarak antara naskah ini dengan diriku sendiri, meskipun Sonia menuliskan naskah berdasarkan cerita tentang diriku, namun ternyata ini adalah sebuah karakter yang berbeda.

Naskah ini adalah perspektif Sonia terhadapku, cara Sonia memandangku, dalam ruang sebagai seorang perempuan lajang yang digambarkan produktif, berani, global tapi juga menangkap kegelisahan, kelelahan dan keraguan sebagai perempuan Bali. Ini adalah karakter yang harus aku perankan di atas panggung nanti, ini bisa jadi adalah diriku sendiri atau bisa jadi juga orang lain.

Menyiapkan diri menuju tanggal pementasan 15 Maret 2025, di sela-sela tumpukan pekerjaan sehari-hari, aku mencoba untuk menyelami naskah ini. Aku mencoba memahami bagaimana alur pemikiran penulis dalam menuliskan karakter ini.

Aku memecah naskah menjadi bagian kecil agar lebih mudah memahami ide besar di tiap segmen. Memilahnya menjadi bagian-bagian kecil yang bersesuaian memudahkanku untuk memahami alih-alih menghapalkan naskahnya.

Dwi Ermayanthi saat memainkan monolog pada acara Mahima March March March 2025 di Rumah Belajar Komunitas Mahima, Singaraja-Bali, Sabtu, 15 Maret 2025 | Foto: Dok. Komunitas Mahima

Aku biarkan diriku mengalir mengikuti ide yang coba digambarkan oleh penulis dalam tiap kata dan kalimat.

Masalah lainya adalah, AKU BUKAN AKTOR.

Meskipun naskah ini sangat dekat dengan diriku, namun aku bukan orang yang bisa ekspresif apalagi berakting. Dalam lingkungan sosial, aku dikenal sebagai orang yang sangat datar dan tanpa emosi. Aku tidak terbiasa meluapkan atau mengekspresikan emosi dan pikiran ke luar.

Dalam prosesnya, aku mengalami tantangan untuk memerankan dan menampilkan naskah ini dengan emosi dan gerak yang ingin disampaikan oleh penulis sekaligus sutradara. Aku itu orangnya datar – flat, pembawaan tanpa ekspresi ini telah menjadi bagian diriku karena selama ini begitu caraku menyelesaikan setiap krisis dalam hidup.

Kali ini aku ditantang untuk keluar dari zona nyaman dengan mengekspor dan mengekspos seluruh emosi yang kurasakan melalui naskah ini. Emosi yang mungkin sebetulnya ada di dalam diriku hanya saja tidak pernah terungkapkan.

Satu hal yang kupegang teguh adalah “apapun itu hadapi saja, apapun hasilnya dengan aku berani naik ke panggung dan pentas aku sudah menang melawan keraguan aku sendiri”.

Ketika hari pementasan tiba, pagi harinya aku mencoba membayangkan bagaimana nanti akan bergerak dan bercerita di atas panggung. Apa simbol dan gesture yang akan dimainkan. Aku coba menuangkan setiap segmen dalam naskah ini menjadi visual gerak, atau properti apa saja yang dapat membantuku menjembatani naskah ini ke dalam diriku kemudian ke penonton.

Dwi Ermayanthi saat memainkan monolog pada acara Mahima March March March 2025 di Rumah Belajar Komunitas Mahima, Singaraja-Bali, Sabtu, 15 Maret 2025 | Foto: Dok. Komunitas Mahima

Dengan arahan dari Sonia sesaat sebelum naik panggung, aku memantapkan diri untuk melakukan gerak dengan berbagai properti yang sudah aku gambarkan dalam imajinasi. 

Kemudian tiba giliran untuk pentas, tepat setelah pementasan monolog Pranita Dewi. Sejujurnya ini memberikan tekanan yang lebih besar lagi karena Pranita tampil dengan sangat memukau, penuh kejujuran emosi, dan vulnerability. Penonton turut terhanyut dibuatnya.

Malam itu, Rumah Komunitas Mahima cukup intim dan hangat, di tengah rintik hujan yang tidak berhenti sejak jam 10 pagi, beberapa rekan dan kawan masih berkenan datang untuk menonton. Bagiku seorang aktor dadakan ini, jumlah ini sudah cukup mengintimidasi dan membuat grogi, ditambah dengan pementasan Pranita yang amat luar biasa sebelumnya.

Di belakang panggung aku biarkan tubuhku merasakan semua ketegangan-ketegangan, aku biarkan rasa itu mengalir dan tidak kutahan sama sekali.  Hingga akhirnya MC mengundangku ke atas panggung dan kendali ada di tanganku.

Lampu penonton mulai redup dan hanya tersisa lampu panggung yang menerangiku. Aku menarik napas dalam. Kursi di tengah panggung menjadi satu-satunya pijakan sebelum aku melepaskan segala ketegangan yang menyelimuti.

Entah kenapa, sejak awal aku memiliki keyakinan bahwa panggung dan penonton akan membantu memberikan energi kepadaku untuk mementaskan naskah ini. Ketika kalimat pertama terucapkan, luapan energi seperti mengalir ke seluruh tubuhku.

Aku membiarkan seluruh tubuhku bergerak ke arah yang diinginkan, aku biarkan setiap kata mengalir dari mulut dan rongga suara. Tanpa judgement dan tanpa dihalangi pikiran-pikiran. Aku biarkan semua mengalir, termasuk segala emosi yang ingin meluap.

Dwi Ermayanthi saat memainkan monolog pada acara Mahima March March March 2025 di Rumah Belajar Komunitas Mahima, Singaraja-Bali, Sabtu, 15 Maret 2025 | Foto: Dok. Komunitas Mahima

Naskah yang awalnya sulit sekali aku ekspresikan dan temukan emosinya, seketika muncul dan mencuat begitu saja. Emosi itu menemukan katalisnya melalui naskah dan panggung ini.

Aku biarkan tubuhku menentukan waktunya sendiri, aku tidak berusaha memburu tidak juga berusaha menahan, tubuh seperti tahu kapan saat yang tepat.

Tanpa aku sadari, aku sudah sampai pada ujungnya. Ketika monolog ini kututup ada sebuah kelegaan dalam diri atas rasa yang terungkap.

Pranita, Sonia, dan Erma saat sesi diskusi seusai pementasan monolog pada acara Mahima March March March 2025 di Rumah Belajar Komunitas Mahima, Singaraja-Bali, Sabtu, 15 Maret 2025 | Foto: Dok Komunitas Mahima

Saat sesi diskusi dengan penonton setelah diskusi selesai, membantu aku untuk merefleksikan kembali apa yang telah kami tampilkan di panggung malam itu. 

Ketika seorang penonton merasa resonate dengan monolog yang aku bawakan, malam itu aku sadar, “Memilih Menjadi Aku” bukan hanya tentangku. Ini adalah suara perempuan di luar sana yang mungkin juga berjuang dalam sunyi.

Terima kasih Sonia,

Terima kasih Mahima,

Terima kasih telah menjadi ruang berkontemplasi dan bertumbuh bagi banyak orang.

  • BACA JUGA:
Mahima Menumbuhkan Saya, Saya Menumbuhkan Mahima – Orasi Budaya Mahima March March March 2025
Tags: Komunitas MahimaMahima March March March 2025Monolog
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mahima Menumbuhkan Saya, Saya Menumbuhkan Mahima – Orasi Budaya Mahima March March March 2025

Next Post

Ramadhan Sepanjang Masa

Dwi Ermayanthi

Dwi Ermayanthi

Biasa dipanggil Erma. Lahir dan besar di keluarga tradisional Bali, didorong oleh ayahnya untuk belajar di Surabaya sebelum kembali ke Bali untuk bekerja di Ubud Writers & Readers Festival. Pengalamannya selama empat tahun di Surabaya dan bekerja bersama tim yang beragam di festival tersebut mengubah perspektifnya tentang Bali, melihatnya melampaui pandangan tradisional keluarganya. Erma juga merupakan salah satu co-founder dari Littletalks Ubud, sebuah cafe & library yang berlokasi di Jl Bisma Ubud.

Related Posts

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
0
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

Read moreDetails

‘The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark’ di TMII —Cahaya Menghidupkan Hanoman Duta

by Azzahra Naya R
July 1, 2026
0
‘The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark’ di TMII —Cahaya Menghidupkan Hanoman Duta

SAAT menyaksikan The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark: Hanoman Duta, Amfiteater Panggung Budaya, Taman Mini Indonesia Indah (TMII),...

Read moreDetails

Kembalinya Roh Teo-Estetika —Menguatkan Kembali Konsolidasi Sosial Masyarakat Banjar Bukit Buwung Kesiman Melalui Kesenian Dramatari Arja

by IM Gede Nesa Saputra
June 30, 2026
0
Kembalinya Roh Teo-Estetika —Menguatkan Kembali Konsolidasi Sosial Masyarakat Banjar Bukit Buwung Kesiman Melalui Kesenian Dramatari Arja

KEMBALINYA seni Arja di Banjar Bukit Buwung, Kesiman, tidak dapat dipahami semata sebagai upaya revitalisasi kesenian tradisional, melainkan sebagai proses...

Read moreDetails

‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026

by Yudi Laksana
June 24, 2026
0
‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026

RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di...

Read moreDetails

Tembang Propaganda dan Atraksi Silat yang Memberi Warna pada Liuk Janger Kerobokan di Pesta Kesenian Bali 2026 —Sebuah Catatan

by Kadek Surya Jayadi
June 20, 2026
0
Tembang Propaganda dan Atraksi Silat yang Memberi Warna pada Liuk Janger Kerobokan di Pesta Kesenian Bali 2026 —Sebuah Catatan

 “Mari kawan bersama kita bekerja, bersihkan lingkungan….”  ITU adalah penggalan tembang yang menjadi salah satu hal menarik dari pementasan kesenian...

Read moreDetails

Akurasi Sendratari ‘Lubdhaka Lelana’ Merefleksikan Tema ‘Atma Kerthi’ dalam PKB 2026

by I Nyoman Darma Putra
June 15, 2026
0
Akurasi Sendratari ‘Lubdhaka Lelana’ Merefleksikan Tema ‘Atma Kerthi’ dalam PKB 2026

MENERJEMAHKAN tema Pesta Kesenian Bali (PKB) ke dalam seni pertunjukan kerap menjadi tantangan bagi para seniman. Pertama, tema-tema PKB dirumuskan...

Read moreDetails

Aura dan Ruang Aman : Catatan dari Suara-Suara yang Dikecilkan

by Rezky Chiki
June 9, 2026
0
Aura dan Ruang Aman : Catatan dari Suara-Suara yang Dikecilkan

“Salah satu hal yang membuat pelecehan sulit dikenali adalah karena ia sering hadir dalam bentuk yang tampak biasa: candaan, gurauan,...

Read moreDetails

Catatan Lomba Monolog Peksimida Bali 2026: Ada yang Masih Terjebak Pada Teriakan

by Mas Ruscitadewi
June 7, 2026
0
Catatan Lomba Monolog Peksimida Bali 2026: Ada yang Masih Terjebak Pada Teriakan

Lomba monolog dalam rangka Pekan Seni Mahasiswa Daerah (Peksimida) Bali 2026 yang diadakan di Institut Seni Indonesia (ISI) Bali, Sabtu,...

Read moreDetails

Durhaka Sebagai Bahasa Kuasa: Narasi Tubuh Perempuan Melalui Pertunjukan Malin Kundang Lirih

by Helvi Carnelis
April 14, 2026
0
Durhaka Sebagai Bahasa Kuasa: Narasi Tubuh Perempuan Melalui Pertunjukan Malin Kundang Lirih

SAYA merasakan dengan kuat budaya rantau hari ini, sebuah beban tanggung jawab yang tidak ringan dalam kebudayaan Minangkabau. Pengalaman itu...

Read moreDetails

Bertolak dari Ruang, Proses dan Improvisasi —Catatan Pementasan ‘Aduh” Teater Mahima

by Radha Dwi Pradnyani
March 30, 2026
0
Bertolak dari Ruang, Proses dan Improvisasi —Catatan Pementasan ‘Aduh” Teater Mahima

PEMAIN masuk arena secara bergiliran. Dengan gerakan berbeda-beda mereka berjalan tergesa, dinamis, kadang saling silang, kadang sejajar. Mereka bersuara meniru...

Read moreDetails
Next Post
Ramadhan Sepanjang Masa

Ramadhan Sepanjang Masa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang
Pameran

Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang

MEMASUKI Gedung Kriya, Taman Budaya Provinsi Bali, pengunjung seolah diajak melintasi beragam dunia. Di satu sudut, akar kayu menjelma simbol...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Kreativitas Tanpa Batas Warnai Lomba Tari Modern Festival Seni Bali Jani 2026
Khas

Kreativitas Tanpa Batas Warnai Lomba Tari Modern Festival Seni Bali Jani 2026

LOMBA Tari Modern dalam rangka Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 menghadirkan beragam karya yang mencerminkan perkembangan seni...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Menjelajah Kosmologi Kreativitas Ketut Suwidiarta di Five Roastery & Art Café
Budaya

Menjelajah Kosmologi Kreativitas Ketut Suwidiarta di Five Roastery & Art Café

Di tengah riuh kafe yang biasanya dipenuhi aroma kopi dan percakapan santai, sebuah ruang diskusi tentang seni akan dibuka di...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif
Khas

Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif

DI tengah semarak pertunjukan seni yang mewarnai Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII, hadir sebuah ruang yang menawarkan pengalaman berbeda....

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”
Panggung

Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”

BAYANGAN adalah jiwa dari wayang kulit. Di tangan seorang dalang, lembar-lembar kulit hidup melalui permainan cahaya. Namun, Wayang Ental memilih...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Ketika Waktu Berpindah Tangan
Ulas Musik

Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka
Tualang

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

by Chusmeru
July 13, 2026
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co