13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Hidup Dimulai di 40”, Cerita Kecil Tentang Monolog yang Saya Mainkan

Nova Aryani by Nova Aryani
March 19, 2025
in Ulas Pentas
“Hidup Dimulai di 40”, Cerita Kecil Tentang Monolog yang Saya Mainkan

Nova Aryani saat memainkan monolog pada acara Mahima March March March 2025 di Rumah Belajar Komunitas Mahima, Singaraja-Bali, Jumat, 14 Maret 2025 | Foto: Dok. Komunitas Mahima

APA yang ada di pikiran Anda tentang angka 40? Sebuah angka menuju pertengahan 100, sebuah kadar persentase di bawah separuh, atau umur menjelang paruh baya? Pada tulisan ini saya akan membahas hal yang ketiga, umur atau usia. 

Usia 40 tentunya sudah sangat dewasa bagi seorang manusia. Sebagian besar sudah menemukan pasangan hidup, memiliki anak, bahkan cucu.

Saya pun begitu, di usia 40 ini, saya sudah menjadi seorang ibu dari dua anak. Tampaknya sudah sangat ideal ya. Tetapi sebelumnya, saat masih usia awal tiga puluhan, saya selalu merasa ada pertentangan dalam diri saya sendiri. Ada sesuatu yang belum saya dapatkan, bahkan sepertinya beberapa hal yang saya pernah punya, malah menghilang.

Penyebabnya, tentu saja, status dan kehidupan sudah berbeda dari umur dua puluhan yang masih bisa bebas dan aktif untuk melakukan apa saja. Cuma saat muda, saya dihadapkan pada rutinitas kerja kantoran yang membuat beberapa hobi dan keinginan saat itu belum bisa terpenuhi. Dan hal itu bertambah pelik saat berumah tangga.

Perihal beradaptasi dengan keluarga baru menjadi ujian yang tak kunjung selesai, membuat mimpi-mimpi makin menjauh. Hidup saya terasa monoton dan berjalan lurus tanpa kelokan seru yang membuat hidup.

“Bukannya aku kurang bersyukur, aku hanya merasa terkungkung pada adat dan budaya yang membuatku ingin kembali menjadi diri sendiri.”

Kecemasan dan kegelisahan terus saya sangat rasakan hingga di akhir kepala tiga. Saya berusaha mengalihkannya dengan melakukan kegiatan-kegiatan yang bisa dilakukan dari rumah, agar tetap tak meninggalkan tugas dan kewajiban saya sebagai ibu rumah tangga.

“Maka aku mulai mencari jalan agar aku pulang pada diri. Aku tak pernah lelah mencari. Pada mimpi aku bersandar, aku bersabar.

Kemudian, mendekati usia 40, satu per satu cahaya impian mulai berpendar. Aku berdebar.”

Mimpi-mimpi saya untuk pergi ke beberapa tempat, keinginan untuk bertemu orang-orang yang saya idolakan, dan belajar hal baru yang selama ini hanya ada dalam angan, akhirnya kesampaian.

Karena saya mengikuti Mahima. Disanalah saya menuai dan menyemai mimpi-mimpi yang tadinya terasa mustahil untuk diraih.

Berawal dari acara kunjungan penulis senior dan juga Duta Baca Indonesia, Gol A Gong, ke rumah Mahima, dimana saya dengan rasa rindu yang sangat besar pada dunia kepenulisan akhirnya menjalin hubungan kembali setelah lama tak berjumpa dengan sahabat saya Sonia dan suaminya Bli Ole, pendiri Komunitas Mahima.

Padahal kami masih tinggal dalam satu kota, tapi kondisi saya yang saat itu tidak memungkinkan untuk dengan bebas mengikuti kegiatan di luar ranah rumah tangga dan usaha saya.

Di sana saya begitu antusias bertemu Kang Gol A Gong, kami berfoto bersama, saya meminta tandatangannya di buku cerpen pertama saya, sampai sempat pula saya mengikuti kelas menulis onlinenya. Dari situ saya merasa ada sesuatu yang membuat saya merasa bersemangat lagi untuk memulai setiap harinya. 

Dan kemudian Sonia memberitahukan bahwa Mahima akan mengadakan lagi Singaraja Literary Festival yang akan mengundang penulis-penulis ternama. Saya seperti terpanggil untuk bergabung. Inilah yang sepertinya saya cari. 

“Aku menjadi sukarelawan di usia 40, menjadi relawan untuk bertemu para penulis yang karyanya sudah kubaca sejak usia 20”

Singaraja Literary Festival tahun ke-3 berlangsung di bulan Agustus 2024, beberapa bulan sebelum ulang tahun saya ke 40. Benar-benar cahaya impian itu berpendar memasuki usia yg menurut saya keramat ini.

Dengan dukungan suami dan kerjasama yang baik dari anak-anak saya, acara Festival itu bisa saya nikmati dengan bahagia. Bukan hanya bertemu para penulis terkenal, bahkan para sineas, artis dan aktivis yang sebelumnya hanya saya lihat di media sosialnya, akhirnya bisa saya temui secara langsung. Marlowe Bandem, Saras Dewi, Ayu Laksmi, dan yang senator kesayangan Bali, Niluh Djelantik.

Di momen itu, untuk pertama kalinya Mbok Niluh memeluk dan bicara langsung pada saya. Banyak air mata haru yang tumpah karena akhirnya saya menemukan ruang tempat saya kembali pulang pada diri saya. 

  • BACA JUGA:
Yang Tak Biasa Menjadi Seorang Ibu | Catatan Monolog Nova Aryani, “Hidup Dimulai di 40”

Tidak cuma sampai di situ. Setelah acara festival berakhir, saya membantu Sonia merampungkan laporan pertanggungjawaban yang membuat saya kembali belajar tentang aturan administrasi dan perpajakan. Ilmu baru lagi untuk otak kepala 4 saya. Dan masih ada kabar gembira lagi.

Pasca festival yang membuat saya menjadi akrab dengan penulis idola saya, Dee Lestari, beberapa hari menjelang hari ulang tahun saya di bulan November, masuklah sebuah chat dari  Dee yang benar-benar membuat saya berteriak histeris.

Dee menawarkan saya untuk ikut Kelas Kaizen, kelas menulis onlinenya yang sangat terkenal itu dengan cuma-cuma alias gratis. Dan hal itu menjadi kado ulang tahun yang terindah buat saya. 

Mahima masih memberi kejutan lagi bagi saya. Memasuki tahun yang baru, di Januari 2025, komunitas kami ini mendapat undangan dari Tsinghua South East Asia University untuk mengikuti seminar dan kuliah umum mengenai Music and Brain, dari Prof. Stella Christie, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi saat ini.

Sonia mengajak saya untuk mengikuti seminar bersamanya dan ternyata hadir juga Giring Ganesha ang Wakil Menteri Kebudayaan, serta Yovie Widianto yang menjadi Staf Khusus Kepresidenan Bidang Ekonomi Kreatif. 

“Betapa duniaku kini menjadi begitu luas, dan aku merasa bebas. Aku menuai dan menyemai mimpi demi mimpi, yang sebelumnya terasa mustahil untuk ‘ku raih”

Di ulang tahun ke 17 Mahima, Sonia mendapuk saya untuk bermonolog dengan naskah yang beliau buat setelah mengenal saya sebagai kawannya, dan tahu betul apa yang ingin saya sampaikan. Saya sangat terharu, bangga dan bahagia menjadi perempuan ke-12 dari program Monolog 100 perempuan yang sedang dikerjakan oleh Mahima.  Dan tentu saja hal yang dijadikan inti dari naskah monolog saya adalah yang sudah saya tuliskan di atas tadi. Bagaimana hidup saya baru dimulai di umur 40.

“Aku mulai sadar, hidupku baru dimulai saat ini, di angka 40 ini. Yes, my life really begin at 40”

Terima kasih Mahima. Saya sangat bahagia bisa menjadi bagian dari Komunitas Sastra luar biasa ini. Dan bahagia juga, karena akhirnya saya telah menemukan jati diri saya di rumah ini. Teruslah berkarya serta mencipta euforia-euforia sastra di Singaraja tercinta kita.

“Mahima kini menjadi rumahku, menjadi diriku, dan menjadi berarti.”

  • Catatan : Tulisan yang dicetak miring dan bertanda kutip adalah bagian dari naskah monolog karya Kadek Sonia Piscayanti yang ditampilkan oleh Ni Luh Nova Aryani pada tanggal 14 Maret 2025 di Rumah Komunitas Mahima pada acara Mahima March March March.

Penulis: Nova Aryani
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Mahima Menumbuhkan Saya, Saya Menumbuhkan Mahima – Orasi Budaya Mahima March March March 2025
“Memilih Menjadi Aku” – Catatan Kecil Tentang Monolog yang Aku Mainkan

Tags: Komunitas MahimaMahima March March March 2025MonologTeater
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pembacaan Heuristik dan Hermeneutik Lagu “Guru Oemar Bakrie” Karya Iwan Fals

Next Post

Yang Tak Biasa Menjadi Seorang Ibu | Catatan Monolog Nova Aryani, “Hidup Dimulai di 40”

Nova Aryani

Nova Aryani

Seorang mompreneur yang hobi membaca. Memiliki 2 orang anak dan usaha jualan online serta draft-draft naskah di laptop yang ia anggap anak-anaknya juga. Mengunjungi perpustakaan dan toko buku adalah kegemarannya. Dapat bertemu dengan penulis-penulis besar adalah impiannya. Selain membaca, Nova juga menulis cerpen untuk menyalurkan isi kepalanya. Saat ini baru satu buku kumpulan cerpen yang berhasil ditulisnya di sela-sela menjalankan usahanya. Untuk lebih mengenalnya, silakan follow medsos FB dan IG nova.aryani

Related Posts

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
0
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

Read moreDetails

‘The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark’ di TMII —Cahaya Menghidupkan Hanoman Duta

by Azzahra Naya R
July 1, 2026
0
‘The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark’ di TMII —Cahaya Menghidupkan Hanoman Duta

SAAT menyaksikan The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark: Hanoman Duta, Amfiteater Panggung Budaya, Taman Mini Indonesia Indah (TMII),...

Read moreDetails

Kembalinya Roh Teo-Estetika —Menguatkan Kembali Konsolidasi Sosial Masyarakat Banjar Bukit Buwung Kesiman Melalui Kesenian Dramatari Arja

by IM Gede Nesa Saputra
June 30, 2026
0
Kembalinya Roh Teo-Estetika —Menguatkan Kembali Konsolidasi Sosial Masyarakat Banjar Bukit Buwung Kesiman Melalui Kesenian Dramatari Arja

KEMBALINYA seni Arja di Banjar Bukit Buwung, Kesiman, tidak dapat dipahami semata sebagai upaya revitalisasi kesenian tradisional, melainkan sebagai proses...

Read moreDetails

‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026

by Yudi Laksana
June 24, 2026
0
‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026

RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di...

Read moreDetails

Tembang Propaganda dan Atraksi Silat yang Memberi Warna pada Liuk Janger Kerobokan di Pesta Kesenian Bali 2026 —Sebuah Catatan

by Kadek Surya Jayadi
June 20, 2026
0
Tembang Propaganda dan Atraksi Silat yang Memberi Warna pada Liuk Janger Kerobokan di Pesta Kesenian Bali 2026 —Sebuah Catatan

 “Mari kawan bersama kita bekerja, bersihkan lingkungan….”  ITU adalah penggalan tembang yang menjadi salah satu hal menarik dari pementasan kesenian...

Read moreDetails

Akurasi Sendratari ‘Lubdhaka Lelana’ Merefleksikan Tema ‘Atma Kerthi’ dalam PKB 2026

by I Nyoman Darma Putra
June 15, 2026
0
Akurasi Sendratari ‘Lubdhaka Lelana’ Merefleksikan Tema ‘Atma Kerthi’ dalam PKB 2026

MENERJEMAHKAN tema Pesta Kesenian Bali (PKB) ke dalam seni pertunjukan kerap menjadi tantangan bagi para seniman. Pertama, tema-tema PKB dirumuskan...

Read moreDetails

Aura dan Ruang Aman : Catatan dari Suara-Suara yang Dikecilkan

by Rezky Chiki
June 9, 2026
0
Aura dan Ruang Aman : Catatan dari Suara-Suara yang Dikecilkan

“Salah satu hal yang membuat pelecehan sulit dikenali adalah karena ia sering hadir dalam bentuk yang tampak biasa: candaan, gurauan,...

Read moreDetails

Catatan Lomba Monolog Peksimida Bali 2026: Ada yang Masih Terjebak Pada Teriakan

by Mas Ruscitadewi
June 7, 2026
0
Catatan Lomba Monolog Peksimida Bali 2026: Ada yang Masih Terjebak Pada Teriakan

Lomba monolog dalam rangka Pekan Seni Mahasiswa Daerah (Peksimida) Bali 2026 yang diadakan di Institut Seni Indonesia (ISI) Bali, Sabtu,...

Read moreDetails

Durhaka Sebagai Bahasa Kuasa: Narasi Tubuh Perempuan Melalui Pertunjukan Malin Kundang Lirih

by Helvi Carnelis
April 14, 2026
0
Durhaka Sebagai Bahasa Kuasa: Narasi Tubuh Perempuan Melalui Pertunjukan Malin Kundang Lirih

SAYA merasakan dengan kuat budaya rantau hari ini, sebuah beban tanggung jawab yang tidak ringan dalam kebudayaan Minangkabau. Pengalaman itu...

Read moreDetails

Bertolak dari Ruang, Proses dan Improvisasi —Catatan Pementasan ‘Aduh” Teater Mahima

by Radha Dwi Pradnyani
March 30, 2026
0
Bertolak dari Ruang, Proses dan Improvisasi —Catatan Pementasan ‘Aduh” Teater Mahima

PEMAIN masuk arena secara bergiliran. Dengan gerakan berbeda-beda mereka berjalan tergesa, dinamis, kadang saling silang, kadang sejajar. Mereka bersuara meniru...

Read moreDetails
Next Post
Yang Tak Biasa Menjadi Seorang Ibu | Catatan Monolog Nova Aryani, “Hidup Dimulai di 40”

Yang Tak Biasa Menjadi Seorang Ibu | Catatan Monolog Nova Aryani, “Hidup Dimulai di 40”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Waktu Berpindah Tangan
Ulas Musik

Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka
Tualang

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

by Chusmeru
July 13, 2026
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co