2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Hidup Dimulai di 40”, Cerita Kecil Tentang Monolog yang Saya Mainkan

Nova Aryani by Nova Aryani
March 19, 2025
in Ulas Pentas
“Hidup Dimulai di 40”, Cerita Kecil Tentang Monolog yang Saya Mainkan

Nova Aryani saat memainkan monolog pada acara Mahima March March March 2025 di Rumah Belajar Komunitas Mahima, Singaraja-Bali, Jumat, 14 Maret 2025 | Foto: Dok. Komunitas Mahima

APA yang ada di pikiran Anda tentang angka 40? Sebuah angka menuju pertengahan 100, sebuah kadar persentase di bawah separuh, atau umur menjelang paruh baya? Pada tulisan ini saya akan membahas hal yang ketiga, umur atau usia. 

Usia 40 tentunya sudah sangat dewasa bagi seorang manusia. Sebagian besar sudah menemukan pasangan hidup, memiliki anak, bahkan cucu.

Saya pun begitu, di usia 40 ini, saya sudah menjadi seorang ibu dari dua anak. Tampaknya sudah sangat ideal ya. Tetapi sebelumnya, saat masih usia awal tiga puluhan, saya selalu merasa ada pertentangan dalam diri saya sendiri. Ada sesuatu yang belum saya dapatkan, bahkan sepertinya beberapa hal yang saya pernah punya, malah menghilang.

Penyebabnya, tentu saja, status dan kehidupan sudah berbeda dari umur dua puluhan yang masih bisa bebas dan aktif untuk melakukan apa saja. Cuma saat muda, saya dihadapkan pada rutinitas kerja kantoran yang membuat beberapa hobi dan keinginan saat itu belum bisa terpenuhi. Dan hal itu bertambah pelik saat berumah tangga.

Perihal beradaptasi dengan keluarga baru menjadi ujian yang tak kunjung selesai, membuat mimpi-mimpi makin menjauh. Hidup saya terasa monoton dan berjalan lurus tanpa kelokan seru yang membuat hidup.

“Bukannya aku kurang bersyukur, aku hanya merasa terkungkung pada adat dan budaya yang membuatku ingin kembali menjadi diri sendiri.”

Kecemasan dan kegelisahan terus saya sangat rasakan hingga di akhir kepala tiga. Saya berusaha mengalihkannya dengan melakukan kegiatan-kegiatan yang bisa dilakukan dari rumah, agar tetap tak meninggalkan tugas dan kewajiban saya sebagai ibu rumah tangga.

“Maka aku mulai mencari jalan agar aku pulang pada diri. Aku tak pernah lelah mencari. Pada mimpi aku bersandar, aku bersabar.

Kemudian, mendekati usia 40, satu per satu cahaya impian mulai berpendar. Aku berdebar.”

Mimpi-mimpi saya untuk pergi ke beberapa tempat, keinginan untuk bertemu orang-orang yang saya idolakan, dan belajar hal baru yang selama ini hanya ada dalam angan, akhirnya kesampaian.

Karena saya mengikuti Mahima. Disanalah saya menuai dan menyemai mimpi-mimpi yang tadinya terasa mustahil untuk diraih.

Berawal dari acara kunjungan penulis senior dan juga Duta Baca Indonesia, Gol A Gong, ke rumah Mahima, dimana saya dengan rasa rindu yang sangat besar pada dunia kepenulisan akhirnya menjalin hubungan kembali setelah lama tak berjumpa dengan sahabat saya Sonia dan suaminya Bli Ole, pendiri Komunitas Mahima.

Padahal kami masih tinggal dalam satu kota, tapi kondisi saya yang saat itu tidak memungkinkan untuk dengan bebas mengikuti kegiatan di luar ranah rumah tangga dan usaha saya.

Di sana saya begitu antusias bertemu Kang Gol A Gong, kami berfoto bersama, saya meminta tandatangannya di buku cerpen pertama saya, sampai sempat pula saya mengikuti kelas menulis onlinenya. Dari situ saya merasa ada sesuatu yang membuat saya merasa bersemangat lagi untuk memulai setiap harinya. 

Dan kemudian Sonia memberitahukan bahwa Mahima akan mengadakan lagi Singaraja Literary Festival yang akan mengundang penulis-penulis ternama. Saya seperti terpanggil untuk bergabung. Inilah yang sepertinya saya cari. 

“Aku menjadi sukarelawan di usia 40, menjadi relawan untuk bertemu para penulis yang karyanya sudah kubaca sejak usia 20”

Singaraja Literary Festival tahun ke-3 berlangsung di bulan Agustus 2024, beberapa bulan sebelum ulang tahun saya ke 40. Benar-benar cahaya impian itu berpendar memasuki usia yg menurut saya keramat ini.

Dengan dukungan suami dan kerjasama yang baik dari anak-anak saya, acara Festival itu bisa saya nikmati dengan bahagia. Bukan hanya bertemu para penulis terkenal, bahkan para sineas, artis dan aktivis yang sebelumnya hanya saya lihat di media sosialnya, akhirnya bisa saya temui secara langsung. Marlowe Bandem, Saras Dewi, Ayu Laksmi, dan yang senator kesayangan Bali, Niluh Djelantik.

Di momen itu, untuk pertama kalinya Mbok Niluh memeluk dan bicara langsung pada saya. Banyak air mata haru yang tumpah karena akhirnya saya menemukan ruang tempat saya kembali pulang pada diri saya. 

  • BACA JUGA:
Yang Tak Biasa Menjadi Seorang Ibu | Catatan Monolog Nova Aryani, “Hidup Dimulai di 40”

Tidak cuma sampai di situ. Setelah acara festival berakhir, saya membantu Sonia merampungkan laporan pertanggungjawaban yang membuat saya kembali belajar tentang aturan administrasi dan perpajakan. Ilmu baru lagi untuk otak kepala 4 saya. Dan masih ada kabar gembira lagi.

Pasca festival yang membuat saya menjadi akrab dengan penulis idola saya, Dee Lestari, beberapa hari menjelang hari ulang tahun saya di bulan November, masuklah sebuah chat dari  Dee yang benar-benar membuat saya berteriak histeris.

Dee menawarkan saya untuk ikut Kelas Kaizen, kelas menulis onlinenya yang sangat terkenal itu dengan cuma-cuma alias gratis. Dan hal itu menjadi kado ulang tahun yang terindah buat saya. 

Mahima masih memberi kejutan lagi bagi saya. Memasuki tahun yang baru, di Januari 2025, komunitas kami ini mendapat undangan dari Tsinghua South East Asia University untuk mengikuti seminar dan kuliah umum mengenai Music and Brain, dari Prof. Stella Christie, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi saat ini.

Sonia mengajak saya untuk mengikuti seminar bersamanya dan ternyata hadir juga Giring Ganesha ang Wakil Menteri Kebudayaan, serta Yovie Widianto yang menjadi Staf Khusus Kepresidenan Bidang Ekonomi Kreatif. 

“Betapa duniaku kini menjadi begitu luas, dan aku merasa bebas. Aku menuai dan menyemai mimpi demi mimpi, yang sebelumnya terasa mustahil untuk ‘ku raih”

Di ulang tahun ke 17 Mahima, Sonia mendapuk saya untuk bermonolog dengan naskah yang beliau buat setelah mengenal saya sebagai kawannya, dan tahu betul apa yang ingin saya sampaikan. Saya sangat terharu, bangga dan bahagia menjadi perempuan ke-12 dari program Monolog 100 perempuan yang sedang dikerjakan oleh Mahima.  Dan tentu saja hal yang dijadikan inti dari naskah monolog saya adalah yang sudah saya tuliskan di atas tadi. Bagaimana hidup saya baru dimulai di umur 40.

“Aku mulai sadar, hidupku baru dimulai saat ini, di angka 40 ini. Yes, my life really begin at 40”

Terima kasih Mahima. Saya sangat bahagia bisa menjadi bagian dari Komunitas Sastra luar biasa ini. Dan bahagia juga, karena akhirnya saya telah menemukan jati diri saya di rumah ini. Teruslah berkarya serta mencipta euforia-euforia sastra di Singaraja tercinta kita.

“Mahima kini menjadi rumahku, menjadi diriku, dan menjadi berarti.”

  • Catatan : Tulisan yang dicetak miring dan bertanda kutip adalah bagian dari naskah monolog karya Kadek Sonia Piscayanti yang ditampilkan oleh Ni Luh Nova Aryani pada tanggal 14 Maret 2025 di Rumah Komunitas Mahima pada acara Mahima March March March.

Penulis: Nova Aryani
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Mahima Menumbuhkan Saya, Saya Menumbuhkan Mahima – Orasi Budaya Mahima March March March 2025
“Memilih Menjadi Aku” – Catatan Kecil Tentang Monolog yang Aku Mainkan

Tags: Komunitas MahimaMahima March March March 2025MonologTeater
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pembacaan Heuristik dan Hermeneutik Lagu “Guru Oemar Bakrie” Karya Iwan Fals

Next Post

Yang Tak Biasa Menjadi Seorang Ibu | Catatan Monolog Nova Aryani, “Hidup Dimulai di 40”

Nova Aryani

Nova Aryani

Seorang mompreneur yang hobi membaca. Memiliki 2 orang anak dan usaha jualan online serta draft-draft naskah di laptop yang ia anggap anak-anaknya juga. Mengunjungi perpustakaan dan toko buku adalah kegemarannya. Dapat bertemu dengan penulis-penulis besar adalah impiannya. Selain membaca, Nova juga menulis cerpen untuk menyalurkan isi kepalanya. Saat ini baru satu buku kumpulan cerpen yang berhasil ditulisnya di sela-sela menjalankan usahanya. Untuk lebih mengenalnya, silakan follow medsos FB dan IG nova.aryani

Related Posts

Sinaps Ingatan dari Pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot

by Asmaran Dani
September 4, 2026
0
Sinaps Ingatan dari Pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot

Catatan pendek, sebagai pengantar diskusi menonton ulang dokumentasi pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot melalui Youtube, Sabtu 05 Septemper 2026 di...

Read moreDetails

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

by Yanik Parta
August 24, 2026
0
Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

SEBAGAI penari, aku bergerak dari kode satu ke kode gerak lainnya, sementara ayahku yang merupakan seorang pematung, bergerak dalam duduknya....

Read moreDetails

Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

by Dewa Made Ari Kurniawan
August 4, 2026
0
Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

Di Ambang Dualitas Eksistensial Dalam ruang pertunjukan yang temaram, pendar cahaya proyektor perlahan menghidupkan bidang panggung. Karya pertunjukan bertajuk DWI...

Read moreDetails

Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

by Dewa Purwita Sukahet
July 31, 2026
0
Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

MALAM itu, 20 Juli 2026, jam di ponsel menunjukan pukul 18:52 Wita, di depan gedung Ni Ketut Reneng, kampus Institut...

Read moreDetails

Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

by Anselmus Dore Woho Atasoge
July 31, 2026
0
Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

MALAM pembukaan Festival Bale Nagi 2026 di Taman Kota Felix Fernandez, Larantuka, Flores Timur, NTT, menyuguhkan sebuah pertunjukan yang memicu...

Read moreDetails

Fragmentari “Jro Luh” dan Sinkronisitas: Sebuah Pembacaan Estetika atas Pertemuan Dramaturgi dan Fenomena Alam

by I Gusti Made Darma Putra
July 28, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

PANGGUNG seni pertunjukan pada dasarnya merupakan ruang rekayasa artistik. Di dalamnya, setiap unsur dirancang dengan cermat, struktur dramatik disusun melalui...

Read moreDetails

Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

by I Wayan Sujana Suklu
July 25, 2026
0
Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

  Tubuh berjalan pelandi antara bukit, rumah, dan laut yang tidak selesai. Angin membawa nama-namayang pernah singgah di pelabuhan,lalu hilang...

Read moreDetails

Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

by Chandra Manikan
July 22, 2026
0
Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

Asap mengepul perlahan hingga menutupi sebagian panggung, sementara cahaya merah merambat dan menerangi Ocha Diartini yang saat itu berperan sebagai...

Read moreDetails

Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

by Satria Aditya
July 20, 2026
0
Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

PARADE Monolog dalam Festival Seni Bali Jani 2016 yang digelar pada 14 Juli  di Gedung Ksirarnawa, dibuka pukul 17.00 Wita,...

Read moreDetails

Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

by Putu Intan Juliantika
July 19, 2026
0
Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

 “Teng! Tong! Teng! Tong! Teng! Tung! Pagi tiba alarm berbunyi...” Itu adalah suara dering alarm saya pukul tiga pagi yang...

Read moreDetails
Next Post
Yang Tak Biasa Menjadi Seorang Ibu | Catatan Monolog Nova Aryani, “Hidup Dimulai di 40”

Yang Tak Biasa Menjadi Seorang Ibu | Catatan Monolog Nova Aryani, “Hidup Dimulai di 40”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co