25 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Lebaran: Sarana Komunikasi Sosial, Ekspresi, Ritual, dan Instrumental

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
March 22, 2025
in Esai
Syair Pilu Berbalut Nada, Dari Ernest Hemingway Hingga Bob Dylan

Ahmad Sihabudin

Hari raya Lebaran Idul Fitri Tahun ini, Insya Allah akan jatuh pada 31 Maret, juga berdekatan dengan hari raya Nyepi yang akan jatuh 29 Maret 2025. Hanya selisih satu dua hari hari raya keagamaan ini akan dirayakan oleh umat Hindu dan Islam.

Kata lebaran sendiri menurut para ahli bahasa dan sejarah itu ada kaitannya dengan istilah  Upawasha dalam tradisi Hindu, karena dalam ajaran Islam istilah puasa itu adalah shaum yang artinya berpuasa, yang kemudian setelah berpuasa sebulan penuh, dilanjutkan dengan merayakan lebaran Idul Fitri.

Seperti dilansir Antara, menurut MA Salamun dalam artikelnya yang dimuat majalah “Sunda” tahun 1954, istilah Lebaran ternyata berasal dari tradisi Hindu. MA Salamun menyebut, kata Lebaran berasal dari tradisi Hindu yang artinya “Selesai, Usai, atau Habis”, yakni menandakan habisnya masa puasa.

Pendapat tersebut selaras dengan yang disampaikan Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbudristek, Prof. Endang Aminudin Aziz, M.A., Ph.D. Menurut pendapatnya, menyebut penggunaan istilah Lebaran sebenarnya tak terbatas di kalangan umat Muslim  (https://news.detik.com/berita/d-7284562/makna-dan-asal-usul-kata-lebaran-apakah-berbeda-dengan-idulfitri).

Prof Endang menerangkan, ada berbagai versi tentang asal-usul kata Lebaran. Makna kata Lebaran juga mempunyai kaitan dengan kebiasaan orang Hindu setelah melakukan Upawasa. Tradisi ini adalah akar dari kata puasa dalam bahasa Indonesia yang mengalami perubahan morfologis.

Upawasa dikaitkan dengan kegiatan menahan lapar-haus sesuai tradisi Hindu. Sementara dalam ajaran Islam juga ada kebiasaan serupa yang disebut shaum atau puasa. Pada tradisi Hindu, Upawasa diakhiri dengan perayaan yang melambangkan selesainya tugas atau niat dalam melaksanakan tradisi tersebut. Inilah yang selanjutnya disebut sebagai Lebaran.

MA Salamun menyebut, kata Lebaran berasal dari tradisi Hindu yang artinya “Selesai, Usai, atau Habis”, yakni menandakan habisnya masa puasa. Istilah ini kemungkinan diperkenalkan para Wali agar umat Hindu yang baru masuk Islam kala itu tidak merasa asing dengan agama yang baru dianutnya (https://news.detik.com/berita/d-7284562/makna-dan-asal-usul-kata-lebaran-apakah-berbeda-dengan-idulfitri).

Lebaran dalam interpretasi saya, berati melebar jadi leluasa, sesuatu yang tadinya aktivitas itu terbatas setelah melakukan puasa “Upawasa”. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Lebaran artinya hari raya umat Islam yang jatuh pada tanggal 1 Syawal setelah selesai menjalankan ibadah puasa selama bulan Ramadan. Lebaran disebut juga Idulfitri. Ada juga istilah Lebaran Haji dan Lebaran Ketupat (Iduladha).

                                                          ***

Peristiwa sosial yang namanya lebaran idulfitri, bila kita deskripsikan sesungguhnya adalah kegiatan komunikasi sosial dengan beragam pesan yang disampaikan, baik verbal maupun non-verbal, dan pesan itu mengacu pada satu titik yaitu permohonan maaf, memaafkan, dimaafkan secara lahir batin.

Saat Lebaran adalah bagaimana satu motif komunikasi kita ”permohonan maaf”terwujud diterima oleh orang tua, saudara-saudara kandung kita,  handai taulan, tetangga sekampung, satu dusun atau satu banjar. Pesan itu akan berwujud salaman, pelukan, tangisan haru, saling memberi oleh-oleh atau buah tangan baik berupa makanan atau pakaian, saling menjamu menghaturkan singgah untuk makan atau mencicipi berbagai kudapan khas Lebaran.

Peristiwa Lebaran adalah peristiwa komunikasi antarmanusia yang dalam pandangan saya memiliki empat fungsi komunikasi sekaligus, baik fungsi sosial sudah pasti, fungsi ekpresi, fungsi ritual, dan fungsi instrumental.

Fungsi sosial setidaknya mengisyaratkan bahwa komunikasi dalam Lebaran penting untuk membangun konsep diri, aktualisasi diri, kelangsungan hidup, memperoleh kebahagiaan, terhindar dari tekanan dan ketegangan melalui komunikasi yang menghibur dan memupuk hubungan dengan orang lain. Dengan berlebaran antarsaudara, sewarga kita akan merasakan terbebas, ada rasa plong ketika pesan kita diterima.

Momentum Lebaran terlihat jelas fungsi ekspresif ini muncul memeberikan pelukan hangat, dengan derai air mata haru, intonansi suara yang beragam diekspresikan, dan lain sebagainya. Mekipun ekspresi tidak otomatis dapat mempengaruhi orang lain, namun dapat dilakukan sejauh komunikasi dapat dijadikan instrumen di dalam menyampaikan perasaan sayang, peduli, rindu, simpati, gembira, sedih, dan benci dapat dilakukan melalui pesan verbal maupun non-verbal.  Emosi juga dapat disalurkan melalui bentuk-bentuk bingkisan Lebaran, atau hadiah, berbagai rizki, dan juga mungkin dengan kata-kata puitis.

Dapat dikatakan momentum Lebaran juga merupakan satu wujud komunikasi ritual. Sebagai negara yang sangat beragam suku bangsa ini, Lebaran akan disambut dengan beragam cara ritual setiap daerah. Meskipun hakikat Lebaran itu sama, yaitu kembali suci, fitri tanpa dosa diawali dengan shaum puasa ramadan sebulan penuh. Ritual Lebaran ini semua diawali dengan mengagungkan nama Allah SWT, dengan melantunkan takbir Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, di setiap masjid, mushola, dan rumah-rumah penduduk.

Ritual lain yang membedakan antara budaya dan etniknya pada simbol-simbol berupa makanan sajian yang disiapkan masing-masing daerah pastinya beragam, pakaian juga beragam. Tapi tetap satu kuncinya saat Lebaran, biasanya akan cenderung pada yang istimewa baik sajian makanan maupun pakaian menurut kadar kemampuan masing-masing warga. Suatu komunitas melakukan kegiatan Lebaran atau dalam konteks ini ritual upacara sepanjang tahun dan sepanjang hidup dalam istilah antropolog sebagai rites of passage.

Momentum Lebaran sebagai peristiwa  komunikasi yang dilakukan secara kolektif oleh suatu komunitas melalui upacara-upacara berlainan sepanjang hidup, mulai dari upacara kelahiran, sunatan, ulang tahun (happy birthday song dan pemotongan kue), pertunangan (melamar/tukar cincin), siraman, pernikahan (ijab kabul, sungkem kepada orang tua, sawer, dan sebagainya), ulang tahun perkawinan hingga upacara kematian.

Lebaran juga sebagai sarana perubahan perubahan sikap lahir batin seseorang, atau kelompok untuk berhijrah saling berdamai dengan situasi dan keadaan yang tadinya saling berprasangka, tidak saling tegur-sapa, bermusuhan, atau konflik.

Momentum Lebaran dapat menjadikan komunikasi sebagai  sarana instrumental rekonsiliasi, perdamaian menuju harmoni. Dalam komunikasi instrumental mempunyai beberapa tujuan umum, yaitu menginformasikan, mengajar, mendorong, mengubah sikap dan keyakinan serta perilaku atau menggerakkan tindakan, dan menghibur.  Namun semua kegiatan komunikasi tersebut pada dasarnya adalah lebih bersifat persuasif. Semoga hari raya Lebaran Idul Fitri dan Nyepi membawa kesejukan dan kedamaian di hati.  [T]     

Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis AHMAD SIHABUDIN

Rakyat Perlu Pemimpin yang Prihatin dan Tidak Mencuri
Masalah Manusia Tidak Jauh dari Uang
Senandung “Gas Blues” untukMu Tuhanku
Mungkinkah Bumi Tanpa Konflik? Jawabnya Bersama Angin | Dari ”Blowing in The Wind” Bob Dylan

                                                 

Tags: IdulfitriIslamLebaranMuslim
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Renggama, Kelompok Musik Anyar yang Tak Biasa-biasa Saja dari Bali Utara

Next Post

Puisi-puisi Wahyu Mahaputra | Singaraja yang Hujan

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Mencegah Kekerasan Seksual di Indonesia dengan Perspektif Feminis Hindu

by Putu Ayu Sunia Dewi
April 25, 2026
0
Mencegah Kekerasan Seksual di Indonesia dengan Perspektif Feminis Hindu

KEKERASAN seksual di Indonesia telah menjadi luka yang tak kunjung usai, bahkan kini merebak di kampus - kampus ternama selain...

Read moreDetails

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

by Agung Sudarsa
April 24, 2026
0
Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

Ingatan yang Menjadi Wacana Batin Gagasan tentang Krishna dan Siddharta yang muncul dari ingatan terhadap wacana maupun tulisan Guruji Anand...

Read moreDetails

‘Janji-janji Jepang’

by Angga Wijaya
April 23, 2026
0
‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

Read moreDetails

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

by Chusmeru
April 23, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

Read moreDetails

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
0
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

Read moreDetails

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
0
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

Read moreDetails

Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

by Petrus Imam Prawoto Jati
April 21, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang...

Read moreDetails

NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

by Dede Putra Wiguna
April 20, 2026
0
NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

PERNAHKAH Anda menjumpai situasi di mana sebuah persoalan dibicarakan berulang-ulang, diperdebatkan panjang lebar, bahkan diposting di berbagai platform, namun tidak...

Read moreDetails

Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

by Agung Sudarsa
April 20, 2026
0
Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

SETIAP peringatan Raden Ajeng Kartini sering kali berhenti pada simbol: kebaya, kutipan surat, dan narasi emansipasi yang diulang. Namun jika...

Read moreDetails

Mungkinkah Budaya Adiluhung Baduy Rusak karena Pengaruh Digitalisasi dan Destinasi Wisata?

by Asep Kurnia
April 20, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

KITA dan siapa pun, akan begitu tercengang dengan berbagai perubahan fisik (lingkungan geografis) yang begitu cepat serta sporadis termasuk perubahan...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Wahyu Mahaputra | Singaraja yang Hujan

Puisi-puisi Wahyu Mahaputra | Singaraja yang Hujan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan
Cerpen

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

CAKEH yang baru dilarikan ke rumah Pak Ik merintih kesakitan. Anak perempuan berumur 14 tahun itu baru digigit ular kobra...

by Depri Ajopan
April 25, 2026
Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Tak Perlu Menunggu Aku di Gatsemani
Puisi

Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Tak Perlu Menunggu Aku di Gatsemani

TAK PERLU MENUNGGU AKU DI GATSEMANI Aku datang dari Galilea dengan bau seluk Tasik Tiberias yang melekat di jubahkuDemi janji-janji...

by Silvia Maharani Ikhsan
April 25, 2026
Mencegah Kekerasan Seksual di Indonesia dengan Perspektif Feminis Hindu
Esai

Mencegah Kekerasan Seksual di Indonesia dengan Perspektif Feminis Hindu

KEKERASAN seksual di Indonesia telah menjadi luka yang tak kunjung usai, bahkan kini merebak di kampus - kampus ternama selain...

by Putu Ayu Sunia Dewi
April 25, 2026
Ketika Lirik Menjadi Cermin: Tafsir Hermeneutika Lagu ‘Erika’
Ulas Musik

Ketika Lirik Menjadi Cermin: Tafsir Hermeneutika Lagu ‘Erika’

DALAM tradisi hermeneutika, teks tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu lahir dari horison sejarah, budaya, dan kesadaran penuturnya. Apa yang...

by Ahmad Sihabudin
April 25, 2026
Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins
Esai

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

Ingatan yang Menjadi Wacana Batin Gagasan tentang Krishna dan Siddharta yang muncul dari ingatan terhadap wacana maupun tulisan Guruji Anand...

by Agung Sudarsa
April 24, 2026
Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”
Pop

Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

“Untuk saat ini, single-single saja dulu, sama seperti status saya,” ujar Tika Pagraky sambil tertawa, memecah suasana sore itu. Kalimat...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah
Khas

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co