26 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Senandung “Gas Blues” untukMu Tuhanku

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
February 16, 2025
in Esai
Syair Pilu Berbalut Nada, Dari Ernest Hemingway Hingga Bob Dylan

Ahmad Sihabudin

SECARA lahiriah, doa terlihat seperti komunikasi satu arah, di mana manusia berbicara dengan zat besar yang tak terlihat dan tak berwujud. Namun, dalam ajaran Islam, setiap doa diyakini pasti dijawab oleh Allah.

Hakikatnya manusia berkomunikasi dua arah dengan Tuhan, manusia meminta, Allah selalu membalas pintanya. Hal ini tertuang dalam Alquran surah ke-2, Al baqarah ayat 186, “apabila hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.

Sudah dua minggu masyarakat banyak yang bersenandung: ”wahai penguasa tolong kami dengan 3 kg gas elpiji; ”gas melon” warna hijau, agar kami dapat terus melanjutkan kehidupan ini dengan sedikit lebih tenang”. Drama ”Gas Blues” ini kembali hadir di tengah kita.

Apa penyebabnya, saya tidak tahu, semua masih menduga-duga. Ada yang berpendapat pengalihan isu dari ”pagar laut” yang sedang ramai dan hangat dibincangkan  oleh semua kalangan. Ada juga yang berpendapat akan ada kebijakan baru ”gas melon” diganti ”gas pink”, tabungnya ganti warna, dan kemungkinan akan ditarik subsidinya. Demikian kabar burungnya.

Buat masyarakat saat ini yang penting dalam senandung ”Gas Blues”-nya, segera hadir LPG 3 kg-nya. Masyarakat kita  rasanya patuh, dan akan patuh berapa pun harganya mereka harus membeli. Masyarakat akan mengikuti yang penting kehidupan dapat terus berlangsung.

Berdoa terus kami panjatkan, sebaris, sederet doa-doa harapan, keluh kesah kepiluan, rintihan, kepersembahkan senandung ”Gas Blues” doa kami kepadaMu. Dalam kegalauan, kami mengingat-Mu. Dalam duka lara kami berjuang menyebut nama-Mu tak henti, semoga ”badai gas ini segera berlalu”.

Ada rindu terpendam laksana malam merindukan pagi. Laksana anak burung menantikan induknya kembali, atau padang pasir merindukan turunnya hujan. Itulah hasrat jiwa kami pada-Mu, ya Allah ya Robbi, lindungilah kami dari dari segala hal buruk yang ada, itulah ratapan blues kami kepadaMU  zat yang Mahasempurna. Agar tidak lagi ”orang-orang pintar”, pengamat sosial saling hujat lagi di media membahas nasib ”Senandung Gas Blues” kami.

Kami masyarakat tidak butuh pod cast–pod cast, acara dialog a, dialog b, yang membuat kami semakin bingung dalam meratapi ”Gas Blues” ini. Kami hanya butuh kepastian ketersediaan pasokan LPG hadir di tengah-tengah kami setiap kami membutuhkan, dan membelinya. Bukan dialog-dialog tingkat dewa yang kami butuhkan.

***

Diksi senandung blues dalam tulisan ini merujuk pada sejarah masyarakat Negro di Amerika masa perbudakan. Senandung blues dengan penuh ratapan dan doa, menurut para sejarawan, berasal dari tradisi masyarakat kulit hitam (Negro) Afrika Barat,  sekitar 30 persen yang dipekerjakan secara paksa masa perbudakan di Amerika itu adalah Muslim. Penderitaan yang sangat dahsyat yang merampas hak azasi manusia.

Namun banyak budak dari Afrika itu tetap menjalankan agama Islam serta kebudayaan asalnya.  Mereka tetap melantunkan ayat-ayat Alquran, doa-doa setiap hari. Ratapan dan rintihan para budak Negro ini sesungguh adalah doa-doa yang sekarang kita kenal sebagai musik Blues. Secara khusus, Prof Kubik menulis sebuah buku tentang relasi musik Blues dengan peradaban Islam di Afrika Barat berjudul, Africa and the Blues, yang diterbitkan University Press of Mississippi pada 1999 (https://republika.co.id/berita/38904/blues-musik-yang-berakar-dari-tradisi-islam)

Saya tidak bermaksud menggambarkan kesulitan yang terjadi saat ini perihal LPG sama dengan kesulitan orang Negro pada masa lalu di Amerika. Yang ingin saya sampaikan hanyalah masyarakat kiita orang-orang yang sabar menghadapi berbagai ujian, apalagi hanya sesaat ini. Mereka tetap istiqomah, bersama pemerintah, dan terus berdoa.

Orang yang berdoa artinya orang yang memanjatkan pinta kepada Tuhan, baik untuk meminta, bersyukur, maupun untuk memuji Sang Khalik.  Kalangan antropolog menyebut konsep doa memiliki kaitan yang sangat erat dengan konsep menyerahkan diri kepada zat yang lebih besar daripada dirinya.

Doa juga memiliki makna umum, yakni bahwa doa yang ditujukan kepada Allah sering dimaknai sebagai kalimat permintaan manusia kepada Sang Pencipta. Muslim menganggap doa sebagai bagian dari tindakan ibadah, Rasulullah saw. menyebutkan bahwa doa adalah inti dari ibadah. Itu artinya, doa bukan sekedar komunikasi biasa (https://www.uin-antasari.ac.id/bukan-pseudo-komunikasi/).

Perihal permohonan, Paulo Coelho berpendapat, ”saat kami membuka mulut, semoga kami bukan hanya berkata-kata dalam bahasa manusia, melainkan juga bahasa malaikat, yang menyatakan mukjizat tidak bertentangan dengan hukum-hukum alam; kita menganggapnya demikian, sebab kita tidak memahami hukum-hukum alam.”

Dalam kehidupan muslim, doa menjadi bagian hidup. Dari bangun tidur, ke kamar kecil, mengganti pakaian, makan, bepergian, hingga doa untuk tidur kembali selalu dipanjatkan setiap hari. Doa selamat, doa memohon berkat atau keselamatan baik dari musibah, bahaya, penyakit, kepada Allah SWT merupakan doa yang paling populer di kalangan Muslim. Dalam hal ini doa dan jawaban doa sangat tergantung dengan keyakinan seseorang kepada Allah dan keyakinannya akan kebesaran pengetahuan Allah.

Ada anekdot lucu percakapan Gus Dur dan Cak Nun mengenai diterima atau tidaknya doa yang dipanjatkan untuk orang yang telah meninggal dunia. Suatu hari Cak Nun bertanya kepada Gus Dur: “Gus, doa untuk mayit itu sebenarnya sampai, tidak?”, Gus Dur menjawab dengan sangat penuh keyakinan: “Sampai lah, Cak”.

Karena tidak yakin dan masih penasaran Cak Nun bertanya kembali, “Apa buktinya, Gus, kalau doa itu sampai?”, Gus Dur menjawab dengan enteng, “Coba saja diperhatikan, Cak, ketika sampean mendoakan orang yang sudah mati, apa doanya kembali ke sampean?, kalau tidak balik, berarti nyampe, Cak.”

Humor tersebut menyiratkan bahwa setiap doa yang dipanjatkan tentu akan diterima Tuhan, dan ini sekali lagi bermakna doa tidak hanya sekadar meminta dan ucapan yang bersifat pseudo (https://www.uin-antasari.ac.id/bukan-pseudo-komunikasi/).

Jadi jangan letih berdoa, dan mendoakan para pemimpin kita, agar dapat membawa kita pada kebahagiaan dan kesejahteraan. [T]

  • BACA artikel lain dari penulis AHMAD SIHABUDIN
Mungkinkah Bumi Tanpa Konflik? Jawabnya Bersama Angin | Dari ”Blowing in The Wind” Bob Dylan
Syair Pilu Berbalut Nada, Dari Ernest Hemingway Hingga Bob Dylan
Tags: gasgas blues
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ketika Wisatawan Menikmati Masakan Bali dengan Konsep “Bali Medulang” di Griya Santrian Hotel Sanur

Next Post

Bagaimana Rasanya Menjadi Seorang yang “Ga Enakan” atawa “People Pleasure”? — Perspektif Teori Reflektif

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Bagaimana Rasanya Menjadi Seorang yang “Ga Enakan” atawa “People Pleasure”? — Perspektif Teori Reflektif

Bagaimana Rasanya Menjadi Seorang yang “Ga Enakan” atawa “People Pleasure”? --- Perspektif Teori Reflektif

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co