24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bagaimana Rasanya Menjadi Seorang yang “Ga Enakan” atawa “People Pleasure”? — Perspektif Teori Reflektif

Ketut Citra Kurniawan by Ketut Citra Kurniawan
February 16, 2025
in Esai
Bagaimana Rasanya Menjadi Seorang yang “Ga Enakan” atawa “People Pleasure”? — Perspektif Teori Reflektif

Foto ilustrasi: Citra Kurniawan

KETIKA kamu hidup dalam bayang-bayang kewajiban yang mengharuskan untuk menjaga perasaan orang lain, agar orang lain tidak kecewa dengan keputusan dan tindakanmu, bagaimana perasaanmu?

Dalam kehidupan yang penuh dengan lolongan, ada satu suara yang nyaris selalu terabaikan, yaitu “suara hati” yang selalu berbisik:

“Aku harus setuju, atau mereka bakalan kecewa!”

“Bagaimana kalau mereka menganggap aku egois?”

“Lebih baik aku saja yang mengalah!”

“Aku harus menjaga perasaan mereka!”

Dan masih banyak suara hati yang harus terabaikan demi kenyamanan orang lain. Dimana setiap senyum dipaksakan dan setiap kata “ya” adalah beban internal, rasanya seperti terperangkap dalam labirin tanpa pintu keluar.

 Ibarat berada di tengah konser, tapi lagu yang dimainkan bukanlah favoritmu, dan sayangnya kamu tak bisa keluar.  Setiap senyuman yang dipaksakan, setiap kata yang ditahan, seolah menjadi beban yang semakin berat, bak membawa ransel penuh batu di punggungmu.

Hidup menjadi serangkaian kompromi tak berujung. Seakan dunia ini panggung besar dan kamu adalah aktor yang selalu memainkan peran yang bukan milikmu. Bagaimana rasanya menjadi orang yang “ga enakan”?

Apakah itu seperti menjadi pahlawan yang melindungi perasaan orang lain, atau justru terjebak dalam lingkaran rasa bersalah yang tak pernah berujung? Apakah kamu salah satu orang yang ga enakan?

Kepribadian ga enakan atau “people pelasure” dalam bahasa Inggris merupakan suatu kondisi dimana seseorang merasa bahwa kebahagiaan orang lain adalah tanggung jawabnya; orang yang selalu berusaha menyenangkan orang lain; rela mengorbankan perasaan, kenyamanan, dan kebahagiaan mereka hanya demi menjaga perasaan orang lain.

Berdasarkan literatur yang ada, salah satu penyebab yang mendominasi orang menjadi ga enakan adalah karena pengalaman masa kecil yang mana sebuah pujian dan penghargaan hanya datang ketika mereka memenuhi harapan orang lain (ekspektasi) sampai di sini coba kamu ingat kembali dan pikirkan bagaimana pengalaman masa kecilmu yang membuatmu menjadi orang yang ga enakan?

Penyebab berikutnya adalah rasa takut dan cenderung tidak ingin mendatangkan konflik akibat dari tindakannya dan ketakutan adanya penolakan dari orang lain, sebagian besar dari mereka juga disebabkan oleh pengalaman bullying atau perundungan serta penolakan di lingkungan sosial (berusaha keras menghindari konflik untuk mendapatkan penerimaan dan merasa bahwa dengan menyenangkan orang lain akan mengurangi risiko dibully sehingga sebisa mungkin akan mengatakan “ya” meskipun bathinnya sebenarnya tidak setuju akan lisan yang sudah dilontarkan.

Ibaratkan sebuah pohon yang terus menerus ditiup angin kencang, tumbuh dengan akar yang lemah yang akan terombang ambing. Begitu pula seorang yang ga enakan memiliki kelemahan dalam mental dan cenderung tidak punya pendirian yang tegas.

Mereka terbiasa mengorbankan diri ibarat lilin yang meleleh untuk menerangi ruangan yang pada akhirnya akan perlahan-lahan mengikis keberadaan mereka sendiri.

Dampak jangka panjang menjadi seorang yang gak enakan atau people pleasure:ibarat sungai yang terus-terusan mengalir ke hulu, mereka yang mengutamakan orang lain akan berujung pada rasa lelah melawan arus keinginan dan kebutuhan mereka sendiri.

Mereka akan terjebak dalam lingkaran kebiasaan yang sama sekali tidak memberikan keuntungan baginya, kesehatan mental akan terkikis bak batu yang selalu dihantam oleh ombak. Senantiasa merasa depresi dan cemas bahkan frustasi yang berpotensi meledak kapan saja.

Analoginya seperti sebuah balon yang terus menerus diisi udara yang sisa menunggu untuk meledak. Perasaan rendah diri, merasa tidak berharga daripada orang lain dan selalu membandingkan serta bertolok ukur pada penilaian orang lain. Bak lilin yang meleleh, menerangi namun perlahan menghilang dan meninggalkan bayangan dari siapa mereka sebenarnya.

Tentunya, kamu ingin keluar dari zona ini lalu bisa berdiri di atas kaki mu sendiri kan? Mau sampai kapan seperti ini? 

Terkadang kita dihadapkan oleh keadaan antara ga enakan dan profesionalitas yang menjadi sebuah keharusan. Sifat tidak enakan ini harus kita singkirkan ketika kadarnya berdampak negatif bagi kita (nyusahin diri sendiri). Coba ingat lagi apa tujuan kamu berlari sampai detik ini? Ada cita-cita dan tujuan hidup yang harus kamu kejar. Sehingga kamu harus fokus terhadap apa yang menjadi tugasmu.

Tugas kita bukanlah mengkhawatirkan penilaian orang lain terhadap kita, berhentilah memikirkan validasi orang lain untuk kita, ingat sekali lagi jalankan apa yang menjadi tugas kita.

Di dunia ini, kita tidak bisa mengontrol semua orang untuk menyukai kita, sehingga dengan “berani tidak disukai” merupakan sebuah keputusan yang baik untuk keluar dari zona ini. Teori lain menyatakan, universe (dunia) ini terdiri dari berbagai tingkatan frekuensi, ketika frekuensinya sama, maka posisinya akan sejajar dan cenderung akan berkumpul.

Lalu apa hubungannya? Jangan paksakan orang yang tidak sefrekuensi dengamu untuk tetap berada denganmu, biarkan frekuensimu menemukan orang-orang yang sefrekuensi denganmu yang memiliki motto hidup yang sekiranya sejalan dan mendukung kamu untuk bertumbuh.

Dimisalkan ada teman yang memintamu untuk menemani ke suatu tempat sedangkan kamu punya kerjaan yang lebih penting yang tidak bisa ditinggalkan, di sini lah kebijaksanaan kamu diuji, sehingga perlu mempertimbangkan skala prioritas mana yang harus kamu utamakan. Pikirkan dampak dan kemungkinan jika kamu meninggalkan pekerjaanmu demi menyetujui ajakan temanmu tadi.

Di posisi ini kamu wajib tegas dan kesampingkan dahulu prasangka buruk terhadap respon temanmu ketika kita menolaknya. Jelaskan penolakanmu dengan kalimat yang baik, menyejukkan yang sekiranya mereka dapat mengerti akan keadaan mu.

Kesimpulannya adalah, kesampingkan rasa tidak percaya dirimu, kamu berharga dan setara, berhenti mengharapkan validasi positif semua orang, berhenti berharap untuk bisa diterima oleh semua orang, mungkin hal ini kesannya egois tapi inilah nyatanya dunia, karena orang-orang yang tepat dan sefrekuensi denganmu akan menerima kamu apa adanya tanpa harus mengorbankan perasaanmu.

Sayangi dirimu, keluarlah dari circle jika kamu merasa circle itu sudah tidak worth it dan toxic bagi dirimu.

Ingatlah, kamu berharga, kamu punya tujuan hidup yang harus dicapai. Meski tidak mudah, kamu harus bisa berdiri di kakimu sendiri, sekalipun akan banyak hal-hal yang tidak kamu harapkan dari respon mereka. Selagi tidak merugikan orang lain maka bersikaplah “bodo amat”.

Jadikan pengalaman sebagai guru berharga dalam hidup. Jadilah versi terbaik dari dirimu, apapun masalah yang terjadi ingatlah bahwa “sebuah pelaut hebat tidak lahir dari laut yang tenang” Tetap menjadi baik sesuai dengan porsi yang seimbang karena sesuatu yang berlebihan itu tidaklah selalu bagus. The last but not least: kesempurnaan hanya milik Tuhan. [T]

Penulis: Ketut Citra Kurniawan
Editor: Adnyana Ole

Buku, Gaya Hidup, dan Keterasingan…
Meninggalkan “Ngayah”, Melupakan Identitas
Berlari, Sebuah Filsafat Hidup
Tags: gaya hidupmilenial
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Senandung “Gas Blues” untukMu Tuhanku

Next Post

Atletnya Berprestasi, Sarana Panjat Tebing Buleleng Diperbaiki dengan Hibah 1 M

Ketut Citra Kurniawan

Ketut Citra Kurniawan

Lahir di Luwu Timur, Sulawesi Selatan. Tinggal di Denpasar. Hobinya membaca, menulis dan mendengarkan musik.

Related Posts

‘Janji-janji Jepang’

by Angga Wijaya
April 23, 2026
0
‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

Read moreDetails

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

by Chusmeru
April 23, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

Read moreDetails

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
0
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

Read moreDetails

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
0
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

Read moreDetails

Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

by Petrus Imam Prawoto Jati
April 21, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang...

Read moreDetails

NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

by Dede Putra Wiguna
April 20, 2026
0
NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

PERNAHKAH Anda menjumpai situasi di mana sebuah persoalan dibicarakan berulang-ulang, diperdebatkan panjang lebar, bahkan diposting di berbagai platform, namun tidak...

Read moreDetails

Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

by Agung Sudarsa
April 20, 2026
0
Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

SETIAP peringatan Raden Ajeng Kartini sering kali berhenti pada simbol: kebaya, kutipan surat, dan narasi emansipasi yang diulang. Namun jika...

Read moreDetails

Mungkinkah Budaya Adiluhung Baduy Rusak karena Pengaruh Digitalisasi dan Destinasi Wisata?

by Asep Kurnia
April 20, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

KITA dan siapa pun, akan begitu tercengang dengan berbagai perubahan fisik (lingkungan geografis) yang begitu cepat serta sporadis termasuk perubahan...

Read moreDetails

Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

by Jro Gde Sudibya
April 20, 2026
0
Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

Paradigma Baru Industri Pariwisata Pasca Pandemi Covid-19 yang meluluhlantakkan perekonomian Bali, Industri Pariwisata Bali "mati suri", tumbuh negatif 9,3 persen...

Read moreDetails

Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

by Cindy May Siagian
April 19, 2026
0
Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

MENURUT Suarta dan Dwipaya (2022:10), karya sastra adalah wadah untuk menuangkan gagasan dan kreativitas dari seseorang untuk mengajak pembaca mendiskusikan...

Read moreDetails
Next Post
Atletnya Berprestasi, Sarana Panjat Tebing Buleleng Diperbaiki dengan Hibah 1 M

Atletnya Berprestasi, Sarana Panjat Tebing Buleleng Diperbaiki dengan Hibah 1 M

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co