3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bagaimana Rasanya Menjadi Seorang yang “Ga Enakan” atawa “People Pleasure”? — Perspektif Teori Reflektif

Ketut Citra Kurniawan by Ketut Citra Kurniawan
February 16, 2025
in Esai
Bagaimana Rasanya Menjadi Seorang yang “Ga Enakan” atawa “People Pleasure”? — Perspektif Teori Reflektif

Foto ilustrasi: Citra Kurniawan

KETIKA kamu hidup dalam bayang-bayang kewajiban yang mengharuskan untuk menjaga perasaan orang lain, agar orang lain tidak kecewa dengan keputusan dan tindakanmu, bagaimana perasaanmu?

Dalam kehidupan yang penuh dengan lolongan, ada satu suara yang nyaris selalu terabaikan, yaitu “suara hati” yang selalu berbisik:

“Aku harus setuju, atau mereka bakalan kecewa!”

“Bagaimana kalau mereka menganggap aku egois?”

“Lebih baik aku saja yang mengalah!”

“Aku harus menjaga perasaan mereka!”

Dan masih banyak suara hati yang harus terabaikan demi kenyamanan orang lain. Dimana setiap senyum dipaksakan dan setiap kata “ya” adalah beban internal, rasanya seperti terperangkap dalam labirin tanpa pintu keluar.

 Ibarat berada di tengah konser, tapi lagu yang dimainkan bukanlah favoritmu, dan sayangnya kamu tak bisa keluar.  Setiap senyuman yang dipaksakan, setiap kata yang ditahan, seolah menjadi beban yang semakin berat, bak membawa ransel penuh batu di punggungmu.

Hidup menjadi serangkaian kompromi tak berujung. Seakan dunia ini panggung besar dan kamu adalah aktor yang selalu memainkan peran yang bukan milikmu. Bagaimana rasanya menjadi orang yang “ga enakan”?

Apakah itu seperti menjadi pahlawan yang melindungi perasaan orang lain, atau justru terjebak dalam lingkaran rasa bersalah yang tak pernah berujung? Apakah kamu salah satu orang yang ga enakan?

Kepribadian ga enakan atau “people pelasure” dalam bahasa Inggris merupakan suatu kondisi dimana seseorang merasa bahwa kebahagiaan orang lain adalah tanggung jawabnya; orang yang selalu berusaha menyenangkan orang lain; rela mengorbankan perasaan, kenyamanan, dan kebahagiaan mereka hanya demi menjaga perasaan orang lain.

Berdasarkan literatur yang ada, salah satu penyebab yang mendominasi orang menjadi ga enakan adalah karena pengalaman masa kecil yang mana sebuah pujian dan penghargaan hanya datang ketika mereka memenuhi harapan orang lain (ekspektasi) sampai di sini coba kamu ingat kembali dan pikirkan bagaimana pengalaman masa kecilmu yang membuatmu menjadi orang yang ga enakan?

Penyebab berikutnya adalah rasa takut dan cenderung tidak ingin mendatangkan konflik akibat dari tindakannya dan ketakutan adanya penolakan dari orang lain, sebagian besar dari mereka juga disebabkan oleh pengalaman bullying atau perundungan serta penolakan di lingkungan sosial (berusaha keras menghindari konflik untuk mendapatkan penerimaan dan merasa bahwa dengan menyenangkan orang lain akan mengurangi risiko dibully sehingga sebisa mungkin akan mengatakan “ya” meskipun bathinnya sebenarnya tidak setuju akan lisan yang sudah dilontarkan.

Ibaratkan sebuah pohon yang terus menerus ditiup angin kencang, tumbuh dengan akar yang lemah yang akan terombang ambing. Begitu pula seorang yang ga enakan memiliki kelemahan dalam mental dan cenderung tidak punya pendirian yang tegas.

Mereka terbiasa mengorbankan diri ibarat lilin yang meleleh untuk menerangi ruangan yang pada akhirnya akan perlahan-lahan mengikis keberadaan mereka sendiri.

Dampak jangka panjang menjadi seorang yang gak enakan atau people pleasure:ibarat sungai yang terus-terusan mengalir ke hulu, mereka yang mengutamakan orang lain akan berujung pada rasa lelah melawan arus keinginan dan kebutuhan mereka sendiri.

Mereka akan terjebak dalam lingkaran kebiasaan yang sama sekali tidak memberikan keuntungan baginya, kesehatan mental akan terkikis bak batu yang selalu dihantam oleh ombak. Senantiasa merasa depresi dan cemas bahkan frustasi yang berpotensi meledak kapan saja.

Analoginya seperti sebuah balon yang terus menerus diisi udara yang sisa menunggu untuk meledak. Perasaan rendah diri, merasa tidak berharga daripada orang lain dan selalu membandingkan serta bertolok ukur pada penilaian orang lain. Bak lilin yang meleleh, menerangi namun perlahan menghilang dan meninggalkan bayangan dari siapa mereka sebenarnya.

Tentunya, kamu ingin keluar dari zona ini lalu bisa berdiri di atas kaki mu sendiri kan? Mau sampai kapan seperti ini? 

Terkadang kita dihadapkan oleh keadaan antara ga enakan dan profesionalitas yang menjadi sebuah keharusan. Sifat tidak enakan ini harus kita singkirkan ketika kadarnya berdampak negatif bagi kita (nyusahin diri sendiri). Coba ingat lagi apa tujuan kamu berlari sampai detik ini? Ada cita-cita dan tujuan hidup yang harus kamu kejar. Sehingga kamu harus fokus terhadap apa yang menjadi tugasmu.

Tugas kita bukanlah mengkhawatirkan penilaian orang lain terhadap kita, berhentilah memikirkan validasi orang lain untuk kita, ingat sekali lagi jalankan apa yang menjadi tugas kita.

Di dunia ini, kita tidak bisa mengontrol semua orang untuk menyukai kita, sehingga dengan “berani tidak disukai” merupakan sebuah keputusan yang baik untuk keluar dari zona ini. Teori lain menyatakan, universe (dunia) ini terdiri dari berbagai tingkatan frekuensi, ketika frekuensinya sama, maka posisinya akan sejajar dan cenderung akan berkumpul.

Lalu apa hubungannya? Jangan paksakan orang yang tidak sefrekuensi dengamu untuk tetap berada denganmu, biarkan frekuensimu menemukan orang-orang yang sefrekuensi denganmu yang memiliki motto hidup yang sekiranya sejalan dan mendukung kamu untuk bertumbuh.

Dimisalkan ada teman yang memintamu untuk menemani ke suatu tempat sedangkan kamu punya kerjaan yang lebih penting yang tidak bisa ditinggalkan, di sini lah kebijaksanaan kamu diuji, sehingga perlu mempertimbangkan skala prioritas mana yang harus kamu utamakan. Pikirkan dampak dan kemungkinan jika kamu meninggalkan pekerjaanmu demi menyetujui ajakan temanmu tadi.

Di posisi ini kamu wajib tegas dan kesampingkan dahulu prasangka buruk terhadap respon temanmu ketika kita menolaknya. Jelaskan penolakanmu dengan kalimat yang baik, menyejukkan yang sekiranya mereka dapat mengerti akan keadaan mu.

Kesimpulannya adalah, kesampingkan rasa tidak percaya dirimu, kamu berharga dan setara, berhenti mengharapkan validasi positif semua orang, berhenti berharap untuk bisa diterima oleh semua orang, mungkin hal ini kesannya egois tapi inilah nyatanya dunia, karena orang-orang yang tepat dan sefrekuensi denganmu akan menerima kamu apa adanya tanpa harus mengorbankan perasaanmu.

Sayangi dirimu, keluarlah dari circle jika kamu merasa circle itu sudah tidak worth it dan toxic bagi dirimu.

Ingatlah, kamu berharga, kamu punya tujuan hidup yang harus dicapai. Meski tidak mudah, kamu harus bisa berdiri di kakimu sendiri, sekalipun akan banyak hal-hal yang tidak kamu harapkan dari respon mereka. Selagi tidak merugikan orang lain maka bersikaplah “bodo amat”.

Jadikan pengalaman sebagai guru berharga dalam hidup. Jadilah versi terbaik dari dirimu, apapun masalah yang terjadi ingatlah bahwa “sebuah pelaut hebat tidak lahir dari laut yang tenang” Tetap menjadi baik sesuai dengan porsi yang seimbang karena sesuatu yang berlebihan itu tidaklah selalu bagus. The last but not least: kesempurnaan hanya milik Tuhan. [T]

Penulis: Ketut Citra Kurniawan
Editor: Adnyana Ole

Buku, Gaya Hidup, dan Keterasingan…
Meninggalkan “Ngayah”, Melupakan Identitas
Berlari, Sebuah Filsafat Hidup
Tags: gaya hidupmilenial
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Senandung “Gas Blues” untukMu Tuhanku

Next Post

Atletnya Berprestasi, Sarana Panjat Tebing Buleleng Diperbaiki dengan Hibah 1 M

Ketut Citra Kurniawan

Ketut Citra Kurniawan

Lahir di Luwu Timur, Sulawesi Selatan. Tinggal di Denpasar. Hobinya membaca, menulis dan mendengarkan musik.

Related Posts

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails
Next Post
Atletnya Berprestasi, Sarana Panjat Tebing Buleleng Diperbaiki dengan Hibah 1 M

Atletnya Berprestasi, Sarana Panjat Tebing Buleleng Diperbaiki dengan Hibah 1 M

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Kuliner

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co