13 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bagaimana Rasanya Menjadi Seorang yang “Ga Enakan” atawa “People Pleasure”? — Perspektif Teori Reflektif

Ketut Citra Kurniawan by Ketut Citra Kurniawan
February 16, 2025
in Esai
Bagaimana Rasanya Menjadi Seorang yang “Ga Enakan” atawa “People Pleasure”? — Perspektif Teori Reflektif

Foto ilustrasi: Citra Kurniawan

KETIKA kamu hidup dalam bayang-bayang kewajiban yang mengharuskan untuk menjaga perasaan orang lain, agar orang lain tidak kecewa dengan keputusan dan tindakanmu, bagaimana perasaanmu?

Dalam kehidupan yang penuh dengan lolongan, ada satu suara yang nyaris selalu terabaikan, yaitu “suara hati” yang selalu berbisik:

“Aku harus setuju, atau mereka bakalan kecewa!”

“Bagaimana kalau mereka menganggap aku egois?”

“Lebih baik aku saja yang mengalah!”

“Aku harus menjaga perasaan mereka!”

Dan masih banyak suara hati yang harus terabaikan demi kenyamanan orang lain. Dimana setiap senyum dipaksakan dan setiap kata “ya” adalah beban internal, rasanya seperti terperangkap dalam labirin tanpa pintu keluar.

 Ibarat berada di tengah konser, tapi lagu yang dimainkan bukanlah favoritmu, dan sayangnya kamu tak bisa keluar.  Setiap senyuman yang dipaksakan, setiap kata yang ditahan, seolah menjadi beban yang semakin berat, bak membawa ransel penuh batu di punggungmu.

Hidup menjadi serangkaian kompromi tak berujung. Seakan dunia ini panggung besar dan kamu adalah aktor yang selalu memainkan peran yang bukan milikmu. Bagaimana rasanya menjadi orang yang “ga enakan”?

Apakah itu seperti menjadi pahlawan yang melindungi perasaan orang lain, atau justru terjebak dalam lingkaran rasa bersalah yang tak pernah berujung? Apakah kamu salah satu orang yang ga enakan?

Kepribadian ga enakan atau “people pelasure” dalam bahasa Inggris merupakan suatu kondisi dimana seseorang merasa bahwa kebahagiaan orang lain adalah tanggung jawabnya; orang yang selalu berusaha menyenangkan orang lain; rela mengorbankan perasaan, kenyamanan, dan kebahagiaan mereka hanya demi menjaga perasaan orang lain.

Berdasarkan literatur yang ada, salah satu penyebab yang mendominasi orang menjadi ga enakan adalah karena pengalaman masa kecil yang mana sebuah pujian dan penghargaan hanya datang ketika mereka memenuhi harapan orang lain (ekspektasi) sampai di sini coba kamu ingat kembali dan pikirkan bagaimana pengalaman masa kecilmu yang membuatmu menjadi orang yang ga enakan?

Penyebab berikutnya adalah rasa takut dan cenderung tidak ingin mendatangkan konflik akibat dari tindakannya dan ketakutan adanya penolakan dari orang lain, sebagian besar dari mereka juga disebabkan oleh pengalaman bullying atau perundungan serta penolakan di lingkungan sosial (berusaha keras menghindari konflik untuk mendapatkan penerimaan dan merasa bahwa dengan menyenangkan orang lain akan mengurangi risiko dibully sehingga sebisa mungkin akan mengatakan “ya” meskipun bathinnya sebenarnya tidak setuju akan lisan yang sudah dilontarkan.

Ibaratkan sebuah pohon yang terus menerus ditiup angin kencang, tumbuh dengan akar yang lemah yang akan terombang ambing. Begitu pula seorang yang ga enakan memiliki kelemahan dalam mental dan cenderung tidak punya pendirian yang tegas.

Mereka terbiasa mengorbankan diri ibarat lilin yang meleleh untuk menerangi ruangan yang pada akhirnya akan perlahan-lahan mengikis keberadaan mereka sendiri.

Dampak jangka panjang menjadi seorang yang gak enakan atau people pleasure:ibarat sungai yang terus-terusan mengalir ke hulu, mereka yang mengutamakan orang lain akan berujung pada rasa lelah melawan arus keinginan dan kebutuhan mereka sendiri.

Mereka akan terjebak dalam lingkaran kebiasaan yang sama sekali tidak memberikan keuntungan baginya, kesehatan mental akan terkikis bak batu yang selalu dihantam oleh ombak. Senantiasa merasa depresi dan cemas bahkan frustasi yang berpotensi meledak kapan saja.

Analoginya seperti sebuah balon yang terus menerus diisi udara yang sisa menunggu untuk meledak. Perasaan rendah diri, merasa tidak berharga daripada orang lain dan selalu membandingkan serta bertolok ukur pada penilaian orang lain. Bak lilin yang meleleh, menerangi namun perlahan menghilang dan meninggalkan bayangan dari siapa mereka sebenarnya.

Tentunya, kamu ingin keluar dari zona ini lalu bisa berdiri di atas kaki mu sendiri kan? Mau sampai kapan seperti ini? 

Terkadang kita dihadapkan oleh keadaan antara ga enakan dan profesionalitas yang menjadi sebuah keharusan. Sifat tidak enakan ini harus kita singkirkan ketika kadarnya berdampak negatif bagi kita (nyusahin diri sendiri). Coba ingat lagi apa tujuan kamu berlari sampai detik ini? Ada cita-cita dan tujuan hidup yang harus kamu kejar. Sehingga kamu harus fokus terhadap apa yang menjadi tugasmu.

Tugas kita bukanlah mengkhawatirkan penilaian orang lain terhadap kita, berhentilah memikirkan validasi orang lain untuk kita, ingat sekali lagi jalankan apa yang menjadi tugas kita.

Di dunia ini, kita tidak bisa mengontrol semua orang untuk menyukai kita, sehingga dengan “berani tidak disukai” merupakan sebuah keputusan yang baik untuk keluar dari zona ini. Teori lain menyatakan, universe (dunia) ini terdiri dari berbagai tingkatan frekuensi, ketika frekuensinya sama, maka posisinya akan sejajar dan cenderung akan berkumpul.

Lalu apa hubungannya? Jangan paksakan orang yang tidak sefrekuensi dengamu untuk tetap berada denganmu, biarkan frekuensimu menemukan orang-orang yang sefrekuensi denganmu yang memiliki motto hidup yang sekiranya sejalan dan mendukung kamu untuk bertumbuh.

Dimisalkan ada teman yang memintamu untuk menemani ke suatu tempat sedangkan kamu punya kerjaan yang lebih penting yang tidak bisa ditinggalkan, di sini lah kebijaksanaan kamu diuji, sehingga perlu mempertimbangkan skala prioritas mana yang harus kamu utamakan. Pikirkan dampak dan kemungkinan jika kamu meninggalkan pekerjaanmu demi menyetujui ajakan temanmu tadi.

Di posisi ini kamu wajib tegas dan kesampingkan dahulu prasangka buruk terhadap respon temanmu ketika kita menolaknya. Jelaskan penolakanmu dengan kalimat yang baik, menyejukkan yang sekiranya mereka dapat mengerti akan keadaan mu.

Kesimpulannya adalah, kesampingkan rasa tidak percaya dirimu, kamu berharga dan setara, berhenti mengharapkan validasi positif semua orang, berhenti berharap untuk bisa diterima oleh semua orang, mungkin hal ini kesannya egois tapi inilah nyatanya dunia, karena orang-orang yang tepat dan sefrekuensi denganmu akan menerima kamu apa adanya tanpa harus mengorbankan perasaanmu.

Sayangi dirimu, keluarlah dari circle jika kamu merasa circle itu sudah tidak worth it dan toxic bagi dirimu.

Ingatlah, kamu berharga, kamu punya tujuan hidup yang harus dicapai. Meski tidak mudah, kamu harus bisa berdiri di kakimu sendiri, sekalipun akan banyak hal-hal yang tidak kamu harapkan dari respon mereka. Selagi tidak merugikan orang lain maka bersikaplah “bodo amat”.

Jadikan pengalaman sebagai guru berharga dalam hidup. Jadilah versi terbaik dari dirimu, apapun masalah yang terjadi ingatlah bahwa “sebuah pelaut hebat tidak lahir dari laut yang tenang” Tetap menjadi baik sesuai dengan porsi yang seimbang karena sesuatu yang berlebihan itu tidaklah selalu bagus. The last but not least: kesempurnaan hanya milik Tuhan. [T]

Penulis: Ketut Citra Kurniawan
Editor: Adnyana Ole

Buku, Gaya Hidup, dan Keterasingan…
Meninggalkan “Ngayah”, Melupakan Identitas
Berlari, Sebuah Filsafat Hidup
Tags: gaya hidupmilenial
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Senandung “Gas Blues” untukMu Tuhanku

Next Post

Atletnya Berprestasi, Sarana Panjat Tebing Buleleng Diperbaiki dengan Hibah 1 M

Ketut Citra Kurniawan

Ketut Citra Kurniawan

Lahir di Luwu Timur, Sulawesi Selatan. Tinggal di Denpasar. Hobinya membaca, menulis dan mendengarkan musik.

Related Posts

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails
Next Post
Atletnya Berprestasi, Sarana Panjat Tebing Buleleng Diperbaiki dengan Hibah 1 M

Atletnya Berprestasi, Sarana Panjat Tebing Buleleng Diperbaiki dengan Hibah 1 M

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co