3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Buku, Gaya Hidup, dan Keterasingan…

Hidayat by Hidayat
February 2, 2018
in Esai

Adegan film Ada Apa dengan Cinta/net

HARI ini sama seperti hari-hari lalu. Seperti biasa aku membaca buku sebelum berangkat kuliah. Di kos yang sempit, panas, dan berdebu. Kos yang selalu kotor dengan puntung kretek berserakan di mana-mana yang selalu diagungkan sebagai pemicu inspirasi, bungkus kretek yang tidak tertata rapi, pakaian yang menempel di semua sisi dinding, dan bahkan tumpahan arak saat mabuk semalam.

Bagaimana tidak kotor, kamar kami diisi 3 orang. Banyak pula yang masuk. Sekedar minta air, ngopi, merokok, dan diskusi berat. Tapi itu tak masalah, selagi ada tempat untuk menaruh beberapa baju dan buku-buku. Tidur tak terlalu penting, sebab aku bisa tidur di mana saja.

”Jam berapa sekarang, Cok?” tanyaku pada Surya yang sedang main game.

”Jam 13.00 wita, Bos,” jawabnya pelan tanpa menoleh kepadaku.

Tanpa menghiraukan Surya, aku langsung bangkit dari kasur butut yang tidak bersprei, memakai baju, memakai sepatuku, dan meminta Surya mengambilkan sebungkus kretek yang entah tinggal berapa. Lantas aku berjalan menuju kampus dengan kretek di tangan dan menenteng tas berisi buku yang belum selesai kubaca.

Aku memang lebih suka jalan kaki. Jarak kos lumayan dekat dengan kampus, bisa ditempuh 15 menit dengan jalan kaki atau bisa diukur dengan menghisap sebatang kretek.

Setelah memasuki kampus aku masih harus berjalan melewati beberapa fakultas untuk sampai di fakutasku. Sepanjang jalan, mahasiswa-mahasiswi yang juga berangkat kuliah dengan mengendarai motor memandangiku dengan penuh keheranan. Barangkali yang terbesit dalam pikirannya aku ini seolah anak yang datang dari peradaban masa lalu.

Aku tidak peduli dengan mereka yang memandangiku, entah itu mengiba atau menghina. Di kota ini tidak ada angkutan, jarang sekali kulihat mahasiswa-mahasiswi menggunakan jasa angkutan umum untuk berangkat kuliah. Jarang pula kutemui mereka jalan kaki. Sebanyak 99,3% mereka menggunakan motor untuk berangkat kuliah.

Sebagai pejalan kaki, aku merasa terasing di tengah-tengah manjanya mahasiswa-mahasiswi. Bukan merasa malu lantaran tak punya motor atau mobil. Hidup sungguh nikmat sebagai pejalan kaki, selain tidak ada tambahan biaya untuk beli bahan bakar atau service kendaraan kurasa aku semakin sehat dan tidak manja pada keadaan.

Kretek yang kuhisap sedari tadi nampaknya hampir habis. Aku membungkukkan badan dengan tujuan mematikan kretek, lalu kumasukkan puntung kretek itu ke dalam tas. Sebagai perokok yang baik, aku berusaha membiasakan agar tidak membuang puntung kretek sembarangan. Setelah menemui tempat sampah, barulah kubuang puntung kretek itu.

Aku kemudian duduk di bawah pohon dekat parkiran yang kurasa cukup rindang untuk berteduh dari sengatan sinar matahari. Sebenarnya perkuliahan masuk pukul 13.30 wita, tapi aku sengaja berangkat lebih awal agar  bisa bersantai dengan membaca buku sembari mengeringkan keringat.

Kubuka tas dan kuambil buku ”AKU” karya Sjuman Djaya, lalu membuka dan membaca sambil menyulut sebatang kretek. Aku tidak peduli dengan lalu lalang kendaraan yang melintas. Membaca buku ‘AKU”, seolah aku adalah Chairil Anwar si binatang jalang dengan gaya slenge’annya.

Satu persatu teman sekelas berdatangan. Ada yang menyapa, ada yang tidak. Tapi mereka tidak pernah peduli dengan apa yang kubaca. Barangkali mereka juga tidak peduli dengan buku. Mereka hanya peduli soal penampilan dan makan. Tidur dan berak. Dan entah apa saja yang tidak memiliki hubungan dengan buku.

Mereka duduk tak jauh denganku, mereka nampaknya sedang membicarakan apa saja terkait masalah gaya hidup. Terlebih belanja dan drama korea. Sungguh angkatan muda yang tidak lagi peduli dengan nasib bangsanya sendiri. Pemuda-pemudi harapan bangsa yang buta pengetahuan.  Perbincangan mereka sungguh mengganguku. Suara mereka yang keras seolah kampus memang disediakan untuk membicarakan masalah-masalah tersebut. Tak ada perbincangan tentang analisis buku, film, atau persolan sosial, politik, ekonomi, dan budaya.

”Adam, mai masuk kelas, sube jam setengah dua ne,” ajak Artawan.

”Oke,” jawabku singkat.

Di kelas, sembari menunggu dosen, aku melanjutkan membaca buku yang masih kuingat pada halaman berapa. Tak ada yang membuka buku, mereka sibuk dengan smartphone masing-masing. Entah apa yang dilakukan. Ada yang menonton video, ada yang mengabadikan wajah dan tubuhnya, ada yang melihat-lihat fakutas sebelah lewat jendela.

”Semoga saja di antara mereka ada yang membaca artikel tentang persoalan bangsa atau sebuah karya sastra berupa puisi, cerpen, dan sebagainya,”, gumamku dalam hati.

Lagi-lagi aku terasing, sebab smartphone-ku sudah kujual untuk beli buku baru. Aku senang memiliki banyak buku. Sebab buku adalah warisan budaya yang harus dijaga. Kelak aku akan membangun kedai kopi lengkap dengan perpustakaan pribadi, tempat diskusi, dan tempat nonton film.

Kadang aku menyesal membeli buku, karena hidup terasa semakin melarat. Makan hanya satu kali, baju hanya 2, celana hanya 2. Untuk kuliah aku pun seringkali mengambil baju temanku jika bajuku kotor. Aku tidak seperti mereka yang tiap bulan bisa beli baju, beli kuota, atau jalan-jalan di akhir pekan. Bagiku buku adalah harta karun terbesar umat-uamt terdahulu. Dengan buku, aku mengetahui apa yang terjadi di masalalu, dengan buku pula aku temukan keindahan kata-kata juga kota-kota di berbagai negara.

Sebagaimana kata Bung Hatta, ”Kalian boleh memenjarakanku di mana saja, sebab dengan buku aku bebas”. Di negeri di mana pemerintah dan rakyatnya membenci buku dan tidak punya kebiasaan membaca, aku seperti dalam penjara, terasingkan. Terlebih di perguruan tinggi ini, mahasiswa-mahasiswi yang tidak sepemikiran membuatku ingin gantung diri dengan buku-buku menempel di tubuhku.

Tapi aku merasa bebas dengan buku, aku bisa ke mana saja, melalui pintu-pintu kata yang mempersilahkanku masuk dengan bebas di berbagai negara, senja, tempat yang tidak ada dalam peta, atau bahkan surga. Dengan membaca pula aku bisa berkwana dekat dengan penulis dan tokoh dalam ceritanya.

Seperti biasa, jika naluriku mengatakan bahwa dosen tidak datang, aku lebih memilih mengunjungi perpustakaan daripada terasing di tengah kumpulan mahasiswa-mahasiswi yang mengagungkan gaya hidup hedonis. Aku meninggalkan kelas tanpa menghiraukan mahasiswa yang sibuk dengan teknologi masing-masing.

Lagi pula, mereka juga tidak menghiraukanku. Semua mahasiswa-mahasiswi di sini tidak memiliki chemistry, tak lebih dari seseorang yang duduk di angkutan umum. Setelah bincang beberapa kata, lalu diam seperti tidak terjadi apa-apa.

Aku pun berjalan menuju perpustakaan dengan perasaan tenang, sebab kalau di kelas terus, aku bisa mati keheranan. Aku menyodorkan kartu perpusku untuk di-scan lewat teknologi yang memancarkan cahaya merah. Di dalam, aku menacari-cari buku yang sekiranya menarik untuk dibaca. Tapi aku tidak bisa tenang. Mungkin karena lapar. Ya, memang aku belum makan sejak kemarin. Akhirnya aku keluar dari perpustakaan dan berjalan pulang.

Aku ingin sekali merokok, tapi sial, kretek sudah habis. Aku layaknya pecandu narkotika yang sakau karena kehabisan barang. Sambil berjalan pulang dengan pandangan menunduk aku mencari puntung kretek yang masih bisa dibakar dan dihisap. Beruntung, 50 meter sebelum lampu merah dekat Rektorat, aku menemukan puntung kretek yang baru saja dibuang.

Ah, betapa bahagianya hidup ini. Tanpa malu, kupungut dan menghisapnya. Setelah berjalan beberapa langkah. Seorang mahasiswi dengan kemeja kotak-kotak berwarna merah muda menghentikan motornya lalu menoleh ke belakang dan mengajak dengan suara merdu. ”Hei, mari saya antar, Bli?”

Aku memandang sekilas kepada mahasiswi itu, lalu menoleh ke sekitar, ternyata tidak ada siapa-siapa. Tanpa pikir panjang, aku mengiyakan. Seketika aku menjadi si bisu. Tak berani bertanya walaupun hanya nama.

”Oh, jadi kosmu di sini. Namaku Widya, kulihat kau kelelahan sekali,” ucapnya, sesampainya di kosku.

”Terimakasih atas tumpangannya, namaku Adam,” jawabku tidak lengkap.

Mahasiswi itu langsung pergi. Ia tak peduli aku membaca buku atau tidak. Ia hanya peduli ketika aku tampak miskin, jalan kaki, dan kelelahan.

Ah, dalam kamar, perut yang belum terisi selama dua hari terus meronta-ronta. Aku merenung tanpa memedulikan perutku yang lapar. Bagaimana nasib bangsa ini jika pemimpin dan rakyat, terlebih mahasiswa-mahasiswi tidak mempunyai minat baca. Dan tak peduli dengan orang yang membaca buku.

Bagaimana diriku seorang mahasiswa, dengan banyak membaca buku, di tengah gaya hidup hedonis mahasiswa-mahasiswi, justru aku merasa semakin terasingkan. (T)

Tags: Bukugaya hidupkampuskemiskinan
Share27TweetSendShareSend
Previous Post

Musik Baru – Musik Masa Depan, Hari Ini!

Next Post

Cerita Dewa Siwa dan Anaknya: Sains tentang Terapung dan Tenggelam

Hidayat

Hidayat

Berasal dari ujung timur pulau Jawa alias Banyuwangi. Sedang terdampar di sisi utara Pulau Dewata. Bercita-cita memiliki kedai kopi lengkap dengan perpus, tempat nonton film serta tempat diskusi. Bisa dijumpai di akun inatagram : cethe21

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post

Cerita Dewa Siwa dan Anaknya: Sains tentang Terapung dan Tenggelam

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co