14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Buku, Gaya Hidup, dan Keterasingan…

Hidayat by Hidayat
February 2, 2018
in Esai

Adegan film Ada Apa dengan Cinta/net

HARI ini sama seperti hari-hari lalu. Seperti biasa aku membaca buku sebelum berangkat kuliah. Di kos yang sempit, panas, dan berdebu. Kos yang selalu kotor dengan puntung kretek berserakan di mana-mana yang selalu diagungkan sebagai pemicu inspirasi, bungkus kretek yang tidak tertata rapi, pakaian yang menempel di semua sisi dinding, dan bahkan tumpahan arak saat mabuk semalam.

Bagaimana tidak kotor, kamar kami diisi 3 orang. Banyak pula yang masuk. Sekedar minta air, ngopi, merokok, dan diskusi berat. Tapi itu tak masalah, selagi ada tempat untuk menaruh beberapa baju dan buku-buku. Tidur tak terlalu penting, sebab aku bisa tidur di mana saja.

”Jam berapa sekarang, Cok?” tanyaku pada Surya yang sedang main game.

”Jam 13.00 wita, Bos,” jawabnya pelan tanpa menoleh kepadaku.

Tanpa menghiraukan Surya, aku langsung bangkit dari kasur butut yang tidak bersprei, memakai baju, memakai sepatuku, dan meminta Surya mengambilkan sebungkus kretek yang entah tinggal berapa. Lantas aku berjalan menuju kampus dengan kretek di tangan dan menenteng tas berisi buku yang belum selesai kubaca.

Aku memang lebih suka jalan kaki. Jarak kos lumayan dekat dengan kampus, bisa ditempuh 15 menit dengan jalan kaki atau bisa diukur dengan menghisap sebatang kretek.

Setelah memasuki kampus aku masih harus berjalan melewati beberapa fakultas untuk sampai di fakutasku. Sepanjang jalan, mahasiswa-mahasiswi yang juga berangkat kuliah dengan mengendarai motor memandangiku dengan penuh keheranan. Barangkali yang terbesit dalam pikirannya aku ini seolah anak yang datang dari peradaban masa lalu.

Aku tidak peduli dengan mereka yang memandangiku, entah itu mengiba atau menghina. Di kota ini tidak ada angkutan, jarang sekali kulihat mahasiswa-mahasiswi menggunakan jasa angkutan umum untuk berangkat kuliah. Jarang pula kutemui mereka jalan kaki. Sebanyak 99,3% mereka menggunakan motor untuk berangkat kuliah.

Sebagai pejalan kaki, aku merasa terasing di tengah-tengah manjanya mahasiswa-mahasiswi. Bukan merasa malu lantaran tak punya motor atau mobil. Hidup sungguh nikmat sebagai pejalan kaki, selain tidak ada tambahan biaya untuk beli bahan bakar atau service kendaraan kurasa aku semakin sehat dan tidak manja pada keadaan.

Kretek yang kuhisap sedari tadi nampaknya hampir habis. Aku membungkukkan badan dengan tujuan mematikan kretek, lalu kumasukkan puntung kretek itu ke dalam tas. Sebagai perokok yang baik, aku berusaha membiasakan agar tidak membuang puntung kretek sembarangan. Setelah menemui tempat sampah, barulah kubuang puntung kretek itu.

Aku kemudian duduk di bawah pohon dekat parkiran yang kurasa cukup rindang untuk berteduh dari sengatan sinar matahari. Sebenarnya perkuliahan masuk pukul 13.30 wita, tapi aku sengaja berangkat lebih awal agar  bisa bersantai dengan membaca buku sembari mengeringkan keringat.

Kubuka tas dan kuambil buku ”AKU” karya Sjuman Djaya, lalu membuka dan membaca sambil menyulut sebatang kretek. Aku tidak peduli dengan lalu lalang kendaraan yang melintas. Membaca buku ‘AKU”, seolah aku adalah Chairil Anwar si binatang jalang dengan gaya slenge’annya.

Satu persatu teman sekelas berdatangan. Ada yang menyapa, ada yang tidak. Tapi mereka tidak pernah peduli dengan apa yang kubaca. Barangkali mereka juga tidak peduli dengan buku. Mereka hanya peduli soal penampilan dan makan. Tidur dan berak. Dan entah apa saja yang tidak memiliki hubungan dengan buku.

Mereka duduk tak jauh denganku, mereka nampaknya sedang membicarakan apa saja terkait masalah gaya hidup. Terlebih belanja dan drama korea. Sungguh angkatan muda yang tidak lagi peduli dengan nasib bangsanya sendiri. Pemuda-pemudi harapan bangsa yang buta pengetahuan.  Perbincangan mereka sungguh mengganguku. Suara mereka yang keras seolah kampus memang disediakan untuk membicarakan masalah-masalah tersebut. Tak ada perbincangan tentang analisis buku, film, atau persolan sosial, politik, ekonomi, dan budaya.

”Adam, mai masuk kelas, sube jam setengah dua ne,” ajak Artawan.

”Oke,” jawabku singkat.

Di kelas, sembari menunggu dosen, aku melanjutkan membaca buku yang masih kuingat pada halaman berapa. Tak ada yang membuka buku, mereka sibuk dengan smartphone masing-masing. Entah apa yang dilakukan. Ada yang menonton video, ada yang mengabadikan wajah dan tubuhnya, ada yang melihat-lihat fakutas sebelah lewat jendela.

”Semoga saja di antara mereka ada yang membaca artikel tentang persoalan bangsa atau sebuah karya sastra berupa puisi, cerpen, dan sebagainya,”, gumamku dalam hati.

Lagi-lagi aku terasing, sebab smartphone-ku sudah kujual untuk beli buku baru. Aku senang memiliki banyak buku. Sebab buku adalah warisan budaya yang harus dijaga. Kelak aku akan membangun kedai kopi lengkap dengan perpustakaan pribadi, tempat diskusi, dan tempat nonton film.

Kadang aku menyesal membeli buku, karena hidup terasa semakin melarat. Makan hanya satu kali, baju hanya 2, celana hanya 2. Untuk kuliah aku pun seringkali mengambil baju temanku jika bajuku kotor. Aku tidak seperti mereka yang tiap bulan bisa beli baju, beli kuota, atau jalan-jalan di akhir pekan. Bagiku buku adalah harta karun terbesar umat-uamt terdahulu. Dengan buku, aku mengetahui apa yang terjadi di masalalu, dengan buku pula aku temukan keindahan kata-kata juga kota-kota di berbagai negara.

Sebagaimana kata Bung Hatta, ”Kalian boleh memenjarakanku di mana saja, sebab dengan buku aku bebas”. Di negeri di mana pemerintah dan rakyatnya membenci buku dan tidak punya kebiasaan membaca, aku seperti dalam penjara, terasingkan. Terlebih di perguruan tinggi ini, mahasiswa-mahasiswi yang tidak sepemikiran membuatku ingin gantung diri dengan buku-buku menempel di tubuhku.

Tapi aku merasa bebas dengan buku, aku bisa ke mana saja, melalui pintu-pintu kata yang mempersilahkanku masuk dengan bebas di berbagai negara, senja, tempat yang tidak ada dalam peta, atau bahkan surga. Dengan membaca pula aku bisa berkwana dekat dengan penulis dan tokoh dalam ceritanya.

Seperti biasa, jika naluriku mengatakan bahwa dosen tidak datang, aku lebih memilih mengunjungi perpustakaan daripada terasing di tengah kumpulan mahasiswa-mahasiswi yang mengagungkan gaya hidup hedonis. Aku meninggalkan kelas tanpa menghiraukan mahasiswa yang sibuk dengan teknologi masing-masing.

Lagi pula, mereka juga tidak menghiraukanku. Semua mahasiswa-mahasiswi di sini tidak memiliki chemistry, tak lebih dari seseorang yang duduk di angkutan umum. Setelah bincang beberapa kata, lalu diam seperti tidak terjadi apa-apa.

Aku pun berjalan menuju perpustakaan dengan perasaan tenang, sebab kalau di kelas terus, aku bisa mati keheranan. Aku menyodorkan kartu perpusku untuk di-scan lewat teknologi yang memancarkan cahaya merah. Di dalam, aku menacari-cari buku yang sekiranya menarik untuk dibaca. Tapi aku tidak bisa tenang. Mungkin karena lapar. Ya, memang aku belum makan sejak kemarin. Akhirnya aku keluar dari perpustakaan dan berjalan pulang.

Aku ingin sekali merokok, tapi sial, kretek sudah habis. Aku layaknya pecandu narkotika yang sakau karena kehabisan barang. Sambil berjalan pulang dengan pandangan menunduk aku mencari puntung kretek yang masih bisa dibakar dan dihisap. Beruntung, 50 meter sebelum lampu merah dekat Rektorat, aku menemukan puntung kretek yang baru saja dibuang.

Ah, betapa bahagianya hidup ini. Tanpa malu, kupungut dan menghisapnya. Setelah berjalan beberapa langkah. Seorang mahasiswi dengan kemeja kotak-kotak berwarna merah muda menghentikan motornya lalu menoleh ke belakang dan mengajak dengan suara merdu. ”Hei, mari saya antar, Bli?”

Aku memandang sekilas kepada mahasiswi itu, lalu menoleh ke sekitar, ternyata tidak ada siapa-siapa. Tanpa pikir panjang, aku mengiyakan. Seketika aku menjadi si bisu. Tak berani bertanya walaupun hanya nama.

”Oh, jadi kosmu di sini. Namaku Widya, kulihat kau kelelahan sekali,” ucapnya, sesampainya di kosku.

”Terimakasih atas tumpangannya, namaku Adam,” jawabku tidak lengkap.

Mahasiswi itu langsung pergi. Ia tak peduli aku membaca buku atau tidak. Ia hanya peduli ketika aku tampak miskin, jalan kaki, dan kelelahan.

Ah, dalam kamar, perut yang belum terisi selama dua hari terus meronta-ronta. Aku merenung tanpa memedulikan perutku yang lapar. Bagaimana nasib bangsa ini jika pemimpin dan rakyat, terlebih mahasiswa-mahasiswi tidak mempunyai minat baca. Dan tak peduli dengan orang yang membaca buku.

Bagaimana diriku seorang mahasiswa, dengan banyak membaca buku, di tengah gaya hidup hedonis mahasiswa-mahasiswi, justru aku merasa semakin terasingkan. (T)

Tags: Bukugaya hidupkampuskemiskinan
Share27TweetSendShareSend
Previous Post

Musik Baru – Musik Masa Depan, Hari Ini!

Next Post

Cerita Dewa Siwa dan Anaknya: Sains tentang Terapung dan Tenggelam

Hidayat

Hidayat

Berasal dari ujung timur pulau Jawa alias Banyuwangi. Sedang terdampar di sisi utara Pulau Dewata. Bercita-cita memiliki kedai kopi lengkap dengan perpus, tempat nonton film serta tempat diskusi. Bisa dijumpai di akun inatagram : cethe21

Related Posts

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
0
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

Read moreDetails

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails
Next Post

Cerita Dewa Siwa dan Anaknya: Sains tentang Terapung dan Tenggelam

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital
Ulas Musik

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

DALAM lanskap rock progresif 1970-an, “Castle Walls” tampil sebagai balada megah yang sarat ketegangan emosional. Ditulis dan dinyanyikan oleh vokalis...

by Ahmad Sihabudin
May 14, 2026
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co