24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Buku, Gaya Hidup, dan Keterasingan…

Hidayat by Hidayat
February 2, 2018
in Esai

Adegan film Ada Apa dengan Cinta/net

HARI ini sama seperti hari-hari lalu. Seperti biasa aku membaca buku sebelum berangkat kuliah. Di kos yang sempit, panas, dan berdebu. Kos yang selalu kotor dengan puntung kretek berserakan di mana-mana yang selalu diagungkan sebagai pemicu inspirasi, bungkus kretek yang tidak tertata rapi, pakaian yang menempel di semua sisi dinding, dan bahkan tumpahan arak saat mabuk semalam.

Bagaimana tidak kotor, kamar kami diisi 3 orang. Banyak pula yang masuk. Sekedar minta air, ngopi, merokok, dan diskusi berat. Tapi itu tak masalah, selagi ada tempat untuk menaruh beberapa baju dan buku-buku. Tidur tak terlalu penting, sebab aku bisa tidur di mana saja.

”Jam berapa sekarang, Cok?” tanyaku pada Surya yang sedang main game.

”Jam 13.00 wita, Bos,” jawabnya pelan tanpa menoleh kepadaku.

Tanpa menghiraukan Surya, aku langsung bangkit dari kasur butut yang tidak bersprei, memakai baju, memakai sepatuku, dan meminta Surya mengambilkan sebungkus kretek yang entah tinggal berapa. Lantas aku berjalan menuju kampus dengan kretek di tangan dan menenteng tas berisi buku yang belum selesai kubaca.

Aku memang lebih suka jalan kaki. Jarak kos lumayan dekat dengan kampus, bisa ditempuh 15 menit dengan jalan kaki atau bisa diukur dengan menghisap sebatang kretek.

Setelah memasuki kampus aku masih harus berjalan melewati beberapa fakultas untuk sampai di fakutasku. Sepanjang jalan, mahasiswa-mahasiswi yang juga berangkat kuliah dengan mengendarai motor memandangiku dengan penuh keheranan. Barangkali yang terbesit dalam pikirannya aku ini seolah anak yang datang dari peradaban masa lalu.

Aku tidak peduli dengan mereka yang memandangiku, entah itu mengiba atau menghina. Di kota ini tidak ada angkutan, jarang sekali kulihat mahasiswa-mahasiswi menggunakan jasa angkutan umum untuk berangkat kuliah. Jarang pula kutemui mereka jalan kaki. Sebanyak 99,3% mereka menggunakan motor untuk berangkat kuliah.

Sebagai pejalan kaki, aku merasa terasing di tengah-tengah manjanya mahasiswa-mahasiswi. Bukan merasa malu lantaran tak punya motor atau mobil. Hidup sungguh nikmat sebagai pejalan kaki, selain tidak ada tambahan biaya untuk beli bahan bakar atau service kendaraan kurasa aku semakin sehat dan tidak manja pada keadaan.

Kretek yang kuhisap sedari tadi nampaknya hampir habis. Aku membungkukkan badan dengan tujuan mematikan kretek, lalu kumasukkan puntung kretek itu ke dalam tas. Sebagai perokok yang baik, aku berusaha membiasakan agar tidak membuang puntung kretek sembarangan. Setelah menemui tempat sampah, barulah kubuang puntung kretek itu.

Aku kemudian duduk di bawah pohon dekat parkiran yang kurasa cukup rindang untuk berteduh dari sengatan sinar matahari. Sebenarnya perkuliahan masuk pukul 13.30 wita, tapi aku sengaja berangkat lebih awal agar  bisa bersantai dengan membaca buku sembari mengeringkan keringat.

Kubuka tas dan kuambil buku ”AKU” karya Sjuman Djaya, lalu membuka dan membaca sambil menyulut sebatang kretek. Aku tidak peduli dengan lalu lalang kendaraan yang melintas. Membaca buku ‘AKU”, seolah aku adalah Chairil Anwar si binatang jalang dengan gaya slenge’annya.

Satu persatu teman sekelas berdatangan. Ada yang menyapa, ada yang tidak. Tapi mereka tidak pernah peduli dengan apa yang kubaca. Barangkali mereka juga tidak peduli dengan buku. Mereka hanya peduli soal penampilan dan makan. Tidur dan berak. Dan entah apa saja yang tidak memiliki hubungan dengan buku.

Mereka duduk tak jauh denganku, mereka nampaknya sedang membicarakan apa saja terkait masalah gaya hidup. Terlebih belanja dan drama korea. Sungguh angkatan muda yang tidak lagi peduli dengan nasib bangsanya sendiri. Pemuda-pemudi harapan bangsa yang buta pengetahuan.  Perbincangan mereka sungguh mengganguku. Suara mereka yang keras seolah kampus memang disediakan untuk membicarakan masalah-masalah tersebut. Tak ada perbincangan tentang analisis buku, film, atau persolan sosial, politik, ekonomi, dan budaya.

”Adam, mai masuk kelas, sube jam setengah dua ne,” ajak Artawan.

”Oke,” jawabku singkat.

Di kelas, sembari menunggu dosen, aku melanjutkan membaca buku yang masih kuingat pada halaman berapa. Tak ada yang membuka buku, mereka sibuk dengan smartphone masing-masing. Entah apa yang dilakukan. Ada yang menonton video, ada yang mengabadikan wajah dan tubuhnya, ada yang melihat-lihat fakutas sebelah lewat jendela.

”Semoga saja di antara mereka ada yang membaca artikel tentang persoalan bangsa atau sebuah karya sastra berupa puisi, cerpen, dan sebagainya,”, gumamku dalam hati.

Lagi-lagi aku terasing, sebab smartphone-ku sudah kujual untuk beli buku baru. Aku senang memiliki banyak buku. Sebab buku adalah warisan budaya yang harus dijaga. Kelak aku akan membangun kedai kopi lengkap dengan perpustakaan pribadi, tempat diskusi, dan tempat nonton film.

Kadang aku menyesal membeli buku, karena hidup terasa semakin melarat. Makan hanya satu kali, baju hanya 2, celana hanya 2. Untuk kuliah aku pun seringkali mengambil baju temanku jika bajuku kotor. Aku tidak seperti mereka yang tiap bulan bisa beli baju, beli kuota, atau jalan-jalan di akhir pekan. Bagiku buku adalah harta karun terbesar umat-uamt terdahulu. Dengan buku, aku mengetahui apa yang terjadi di masalalu, dengan buku pula aku temukan keindahan kata-kata juga kota-kota di berbagai negara.

Sebagaimana kata Bung Hatta, ”Kalian boleh memenjarakanku di mana saja, sebab dengan buku aku bebas”. Di negeri di mana pemerintah dan rakyatnya membenci buku dan tidak punya kebiasaan membaca, aku seperti dalam penjara, terasingkan. Terlebih di perguruan tinggi ini, mahasiswa-mahasiswi yang tidak sepemikiran membuatku ingin gantung diri dengan buku-buku menempel di tubuhku.

Tapi aku merasa bebas dengan buku, aku bisa ke mana saja, melalui pintu-pintu kata yang mempersilahkanku masuk dengan bebas di berbagai negara, senja, tempat yang tidak ada dalam peta, atau bahkan surga. Dengan membaca pula aku bisa berkwana dekat dengan penulis dan tokoh dalam ceritanya.

Seperti biasa, jika naluriku mengatakan bahwa dosen tidak datang, aku lebih memilih mengunjungi perpustakaan daripada terasing di tengah kumpulan mahasiswa-mahasiswi yang mengagungkan gaya hidup hedonis. Aku meninggalkan kelas tanpa menghiraukan mahasiswa yang sibuk dengan teknologi masing-masing.

Lagi pula, mereka juga tidak menghiraukanku. Semua mahasiswa-mahasiswi di sini tidak memiliki chemistry, tak lebih dari seseorang yang duduk di angkutan umum. Setelah bincang beberapa kata, lalu diam seperti tidak terjadi apa-apa.

Aku pun berjalan menuju perpustakaan dengan perasaan tenang, sebab kalau di kelas terus, aku bisa mati keheranan. Aku menyodorkan kartu perpusku untuk di-scan lewat teknologi yang memancarkan cahaya merah. Di dalam, aku menacari-cari buku yang sekiranya menarik untuk dibaca. Tapi aku tidak bisa tenang. Mungkin karena lapar. Ya, memang aku belum makan sejak kemarin. Akhirnya aku keluar dari perpustakaan dan berjalan pulang.

Aku ingin sekali merokok, tapi sial, kretek sudah habis. Aku layaknya pecandu narkotika yang sakau karena kehabisan barang. Sambil berjalan pulang dengan pandangan menunduk aku mencari puntung kretek yang masih bisa dibakar dan dihisap. Beruntung, 50 meter sebelum lampu merah dekat Rektorat, aku menemukan puntung kretek yang baru saja dibuang.

Ah, betapa bahagianya hidup ini. Tanpa malu, kupungut dan menghisapnya. Setelah berjalan beberapa langkah. Seorang mahasiswi dengan kemeja kotak-kotak berwarna merah muda menghentikan motornya lalu menoleh ke belakang dan mengajak dengan suara merdu. ”Hei, mari saya antar, Bli?”

Aku memandang sekilas kepada mahasiswi itu, lalu menoleh ke sekitar, ternyata tidak ada siapa-siapa. Tanpa pikir panjang, aku mengiyakan. Seketika aku menjadi si bisu. Tak berani bertanya walaupun hanya nama.

”Oh, jadi kosmu di sini. Namaku Widya, kulihat kau kelelahan sekali,” ucapnya, sesampainya di kosku.

”Terimakasih atas tumpangannya, namaku Adam,” jawabku tidak lengkap.

Mahasiswi itu langsung pergi. Ia tak peduli aku membaca buku atau tidak. Ia hanya peduli ketika aku tampak miskin, jalan kaki, dan kelelahan.

Ah, dalam kamar, perut yang belum terisi selama dua hari terus meronta-ronta. Aku merenung tanpa memedulikan perutku yang lapar. Bagaimana nasib bangsa ini jika pemimpin dan rakyat, terlebih mahasiswa-mahasiswi tidak mempunyai minat baca. Dan tak peduli dengan orang yang membaca buku.

Bagaimana diriku seorang mahasiswa, dengan banyak membaca buku, di tengah gaya hidup hedonis mahasiswa-mahasiswi, justru aku merasa semakin terasingkan. (T)

Tags: Bukugaya hidupkampuskemiskinan
Share27TweetSendShareSend
Previous Post

Musik Baru – Musik Masa Depan, Hari Ini!

Next Post

Cerita Dewa Siwa dan Anaknya: Sains tentang Terapung dan Tenggelam

Hidayat

Hidayat

Berasal dari ujung timur pulau Jawa alias Banyuwangi. Sedang terdampar di sisi utara Pulau Dewata. Bercita-cita memiliki kedai kopi lengkap dengan perpus, tempat nonton film serta tempat diskusi. Bisa dijumpai di akun inatagram : cethe21

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post

Cerita Dewa Siwa dan Anaknya: Sains tentang Terapung dan Tenggelam

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co