12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Buku, Gaya Hidup, dan Keterasingan…

Hidayat by Hidayat
February 2, 2018
in Esai

Adegan film Ada Apa dengan Cinta/net

HARI ini sama seperti hari-hari lalu. Seperti biasa aku membaca buku sebelum berangkat kuliah. Di kos yang sempit, panas, dan berdebu. Kos yang selalu kotor dengan puntung kretek berserakan di mana-mana yang selalu diagungkan sebagai pemicu inspirasi, bungkus kretek yang tidak tertata rapi, pakaian yang menempel di semua sisi dinding, dan bahkan tumpahan arak saat mabuk semalam.

Bagaimana tidak kotor, kamar kami diisi 3 orang. Banyak pula yang masuk. Sekedar minta air, ngopi, merokok, dan diskusi berat. Tapi itu tak masalah, selagi ada tempat untuk menaruh beberapa baju dan buku-buku. Tidur tak terlalu penting, sebab aku bisa tidur di mana saja.

”Jam berapa sekarang, Cok?” tanyaku pada Surya yang sedang main game.

”Jam 13.00 wita, Bos,” jawabnya pelan tanpa menoleh kepadaku.

Tanpa menghiraukan Surya, aku langsung bangkit dari kasur butut yang tidak bersprei, memakai baju, memakai sepatuku, dan meminta Surya mengambilkan sebungkus kretek yang entah tinggal berapa. Lantas aku berjalan menuju kampus dengan kretek di tangan dan menenteng tas berisi buku yang belum selesai kubaca.

Aku memang lebih suka jalan kaki. Jarak kos lumayan dekat dengan kampus, bisa ditempuh 15 menit dengan jalan kaki atau bisa diukur dengan menghisap sebatang kretek.

Setelah memasuki kampus aku masih harus berjalan melewati beberapa fakultas untuk sampai di fakutasku. Sepanjang jalan, mahasiswa-mahasiswi yang juga berangkat kuliah dengan mengendarai motor memandangiku dengan penuh keheranan. Barangkali yang terbesit dalam pikirannya aku ini seolah anak yang datang dari peradaban masa lalu.

Aku tidak peduli dengan mereka yang memandangiku, entah itu mengiba atau menghina. Di kota ini tidak ada angkutan, jarang sekali kulihat mahasiswa-mahasiswi menggunakan jasa angkutan umum untuk berangkat kuliah. Jarang pula kutemui mereka jalan kaki. Sebanyak 99,3% mereka menggunakan motor untuk berangkat kuliah.

Sebagai pejalan kaki, aku merasa terasing di tengah-tengah manjanya mahasiswa-mahasiswi. Bukan merasa malu lantaran tak punya motor atau mobil. Hidup sungguh nikmat sebagai pejalan kaki, selain tidak ada tambahan biaya untuk beli bahan bakar atau service kendaraan kurasa aku semakin sehat dan tidak manja pada keadaan.

Kretek yang kuhisap sedari tadi nampaknya hampir habis. Aku membungkukkan badan dengan tujuan mematikan kretek, lalu kumasukkan puntung kretek itu ke dalam tas. Sebagai perokok yang baik, aku berusaha membiasakan agar tidak membuang puntung kretek sembarangan. Setelah menemui tempat sampah, barulah kubuang puntung kretek itu.

Aku kemudian duduk di bawah pohon dekat parkiran yang kurasa cukup rindang untuk berteduh dari sengatan sinar matahari. Sebenarnya perkuliahan masuk pukul 13.30 wita, tapi aku sengaja berangkat lebih awal agar  bisa bersantai dengan membaca buku sembari mengeringkan keringat.

Kubuka tas dan kuambil buku ”AKU” karya Sjuman Djaya, lalu membuka dan membaca sambil menyulut sebatang kretek. Aku tidak peduli dengan lalu lalang kendaraan yang melintas. Membaca buku ‘AKU”, seolah aku adalah Chairil Anwar si binatang jalang dengan gaya slenge’annya.

Satu persatu teman sekelas berdatangan. Ada yang menyapa, ada yang tidak. Tapi mereka tidak pernah peduli dengan apa yang kubaca. Barangkali mereka juga tidak peduli dengan buku. Mereka hanya peduli soal penampilan dan makan. Tidur dan berak. Dan entah apa saja yang tidak memiliki hubungan dengan buku.

Mereka duduk tak jauh denganku, mereka nampaknya sedang membicarakan apa saja terkait masalah gaya hidup. Terlebih belanja dan drama korea. Sungguh angkatan muda yang tidak lagi peduli dengan nasib bangsanya sendiri. Pemuda-pemudi harapan bangsa yang buta pengetahuan.  Perbincangan mereka sungguh mengganguku. Suara mereka yang keras seolah kampus memang disediakan untuk membicarakan masalah-masalah tersebut. Tak ada perbincangan tentang analisis buku, film, atau persolan sosial, politik, ekonomi, dan budaya.

”Adam, mai masuk kelas, sube jam setengah dua ne,” ajak Artawan.

”Oke,” jawabku singkat.

Di kelas, sembari menunggu dosen, aku melanjutkan membaca buku yang masih kuingat pada halaman berapa. Tak ada yang membuka buku, mereka sibuk dengan smartphone masing-masing. Entah apa yang dilakukan. Ada yang menonton video, ada yang mengabadikan wajah dan tubuhnya, ada yang melihat-lihat fakutas sebelah lewat jendela.

”Semoga saja di antara mereka ada yang membaca artikel tentang persoalan bangsa atau sebuah karya sastra berupa puisi, cerpen, dan sebagainya,”, gumamku dalam hati.

Lagi-lagi aku terasing, sebab smartphone-ku sudah kujual untuk beli buku baru. Aku senang memiliki banyak buku. Sebab buku adalah warisan budaya yang harus dijaga. Kelak aku akan membangun kedai kopi lengkap dengan perpustakaan pribadi, tempat diskusi, dan tempat nonton film.

Kadang aku menyesal membeli buku, karena hidup terasa semakin melarat. Makan hanya satu kali, baju hanya 2, celana hanya 2. Untuk kuliah aku pun seringkali mengambil baju temanku jika bajuku kotor. Aku tidak seperti mereka yang tiap bulan bisa beli baju, beli kuota, atau jalan-jalan di akhir pekan. Bagiku buku adalah harta karun terbesar umat-uamt terdahulu. Dengan buku, aku mengetahui apa yang terjadi di masalalu, dengan buku pula aku temukan keindahan kata-kata juga kota-kota di berbagai negara.

Sebagaimana kata Bung Hatta, ”Kalian boleh memenjarakanku di mana saja, sebab dengan buku aku bebas”. Di negeri di mana pemerintah dan rakyatnya membenci buku dan tidak punya kebiasaan membaca, aku seperti dalam penjara, terasingkan. Terlebih di perguruan tinggi ini, mahasiswa-mahasiswi yang tidak sepemikiran membuatku ingin gantung diri dengan buku-buku menempel di tubuhku.

Tapi aku merasa bebas dengan buku, aku bisa ke mana saja, melalui pintu-pintu kata yang mempersilahkanku masuk dengan bebas di berbagai negara, senja, tempat yang tidak ada dalam peta, atau bahkan surga. Dengan membaca pula aku bisa berkwana dekat dengan penulis dan tokoh dalam ceritanya.

Seperti biasa, jika naluriku mengatakan bahwa dosen tidak datang, aku lebih memilih mengunjungi perpustakaan daripada terasing di tengah kumpulan mahasiswa-mahasiswi yang mengagungkan gaya hidup hedonis. Aku meninggalkan kelas tanpa menghiraukan mahasiswa yang sibuk dengan teknologi masing-masing.

Lagi pula, mereka juga tidak menghiraukanku. Semua mahasiswa-mahasiswi di sini tidak memiliki chemistry, tak lebih dari seseorang yang duduk di angkutan umum. Setelah bincang beberapa kata, lalu diam seperti tidak terjadi apa-apa.

Aku pun berjalan menuju perpustakaan dengan perasaan tenang, sebab kalau di kelas terus, aku bisa mati keheranan. Aku menyodorkan kartu perpusku untuk di-scan lewat teknologi yang memancarkan cahaya merah. Di dalam, aku menacari-cari buku yang sekiranya menarik untuk dibaca. Tapi aku tidak bisa tenang. Mungkin karena lapar. Ya, memang aku belum makan sejak kemarin. Akhirnya aku keluar dari perpustakaan dan berjalan pulang.

Aku ingin sekali merokok, tapi sial, kretek sudah habis. Aku layaknya pecandu narkotika yang sakau karena kehabisan barang. Sambil berjalan pulang dengan pandangan menunduk aku mencari puntung kretek yang masih bisa dibakar dan dihisap. Beruntung, 50 meter sebelum lampu merah dekat Rektorat, aku menemukan puntung kretek yang baru saja dibuang.

Ah, betapa bahagianya hidup ini. Tanpa malu, kupungut dan menghisapnya. Setelah berjalan beberapa langkah. Seorang mahasiswi dengan kemeja kotak-kotak berwarna merah muda menghentikan motornya lalu menoleh ke belakang dan mengajak dengan suara merdu. ”Hei, mari saya antar, Bli?”

Aku memandang sekilas kepada mahasiswi itu, lalu menoleh ke sekitar, ternyata tidak ada siapa-siapa. Tanpa pikir panjang, aku mengiyakan. Seketika aku menjadi si bisu. Tak berani bertanya walaupun hanya nama.

”Oh, jadi kosmu di sini. Namaku Widya, kulihat kau kelelahan sekali,” ucapnya, sesampainya di kosku.

”Terimakasih atas tumpangannya, namaku Adam,” jawabku tidak lengkap.

Mahasiswi itu langsung pergi. Ia tak peduli aku membaca buku atau tidak. Ia hanya peduli ketika aku tampak miskin, jalan kaki, dan kelelahan.

Ah, dalam kamar, perut yang belum terisi selama dua hari terus meronta-ronta. Aku merenung tanpa memedulikan perutku yang lapar. Bagaimana nasib bangsa ini jika pemimpin dan rakyat, terlebih mahasiswa-mahasiswi tidak mempunyai minat baca. Dan tak peduli dengan orang yang membaca buku.

Bagaimana diriku seorang mahasiswa, dengan banyak membaca buku, di tengah gaya hidup hedonis mahasiswa-mahasiswi, justru aku merasa semakin terasingkan. (T)

Tags: Bukugaya hidupkampuskemiskinan
Share27TweetSendShareSend
Previous Post

Musik Baru – Musik Masa Depan, Hari Ini!

Next Post

Cerita Dewa Siwa dan Anaknya: Sains tentang Terapung dan Tenggelam

Hidayat

Hidayat

Berasal dari ujung timur pulau Jawa alias Banyuwangi. Sedang terdampar di sisi utara Pulau Dewata. Bercita-cita memiliki kedai kopi lengkap dengan perpus, tempat nonton film serta tempat diskusi. Bisa dijumpai di akun inatagram : cethe21

Related Posts

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails
Next Post

Cerita Dewa Siwa dan Anaknya: Sains tentang Terapung dan Tenggelam

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co