3 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Cerita Dewa Siwa dan Anaknya: Sains tentang Terapung dan Tenggelam

Wayan Purne by Wayan Purne
February 2, 2018
in Esai

Ilustrasi: Angga

 

PADA satu malam purnama di pengujung musim panas, zaman dahulu, Dewa Siwa sedang bermeditasi di bawah pohon beringin. Tiba-tiba, putranya Kumara menghampirinya.

“Ayah, Kumara ingin main peta umpet,” kata Kumara.

Siwa tetap bergeming dan masih kusuk dengan meditasinya. Kumara menggoyang-goyang tubuh ayahnya, “Ayah, ayo temani Kumara main peta umpet!”

Siwa tetap saja kusuk dalam miditasinya tanpa menghiraukan putranya.

Kumara tidak kehabisan akal membangunkan ayahnya dari kekhusukan meditasi. Ia mengambil bulu burung merak kesayangannya. Bulu merak itu dimain-mainkan di telinga dan hidung ayahnya.

Tiba-tiba, angin malam purnama semakin berhembus kencang. Dinginnya malam semakin menyelimuti mimpi-mimpi binatang yang tertidur lelap. Siwa terbangun dari meditasinya yang belum sempurna. “Kumara sayang, apa yang kamu lakukan? Kamu sudah janji kalau setiap malam purnama tidak akan mengajak Ayah bermain. Sebab, Ayah harus bermeditasi,” tegur lembut Siwa kepada putranya.

“Maaf, Ayah, Kumara lupa kalau malam ini adalah malam purnama,” sesal Kumara yang duduk di pangkuan ayahnya. “Tetap saja Kumara sudah melanggar kesepakatan yang sudah disepakati,” Dewa Siwa menghela nafas sedih.

“Ya, Ayah, Kumara sudah tiga kali melanggar kesepakatan. Kumara siap mejalani kehidupan di bumi,” jawab Kumara penuh tanggungjawab.

“Baiklah, anakku sayang. Kumara akan terlahir sebagai Darma dan bisa kembali jika bertemu seorang kakek yang memiliki telur burung merak.” ucap Siwa.

Di bumi, bertahun-tahun kemudian. Suatu siang, di pinggir hutan, angin sepoi-sepoi menyejukkan rumah seorang kakek. Ia tinggal sendirian dan ditemani sebutir telur burung merak kesayangannya. Ia suka mendongeng kepada anak-anak yang mengunjunginya.

“Darma, bisa tolong Ibu sebentar? Bawa makanan ini pada kakek di gubuk pinggir hutan itu!” pinta ibunya.

“Ibu, benar kakek itu suka mendongeng?” tanya Darma. Ia memang selalu mendengar kisah kakek itu dari teman-temannya.

“Ya Darma, kakek itu suka mendongeng, tetapi kakek itu punya permintaan. Jika permintaannya tidak bisa diselesaikan, kakek itu tidak akan mau mendongeng.” jawab ibunya yang merahasiakan permintaan-permintaan aneh kakek itu.

“Ya Bu, Darma pergi mengantarkan makanan ini pada kakek itu,” ucap Darma. Ia pun pergi penuh rasa penasaran. Penasaran akan dongeng yang akan diceritakan oleh kakek.

Sampailah Darma di depan pintu rumah kakek itu. Ia mengetuk pintu rumah kakek itu. Tok-tok-tok.

“Kek, Darma bawa makanan dari ibu.” katanya.

Tiba-tiba, pintu terbuka sendiri. Ia tidak melihat ada kakek di dalam rumah itu. Namun, ia terpana melihat sebutir telur bercahaya di cawan emas.

“Darma mau memiliki telur itu?” suara kakek mengagetkan Darma dari keterpanaannya.

“Kek, telur apa itu? Telur itu kok bisa bercahaya?” tanya Darma keheranan.

“Ini adalah telur burung merak. Jika ingin memilikinya, Darma harus memandikannya di air yang bisa menenggelamkan dan mengapungkan telur burung merak ini.” jawab kakek.

Darma pun mencari air yang dimaksudkan oleh kakek itu. Ia membawa air sumur, tetapi hanya bisa menenggelamkan telur itu. Ia juga membawa air kembang tujuh rupa, air susu, air sungai, dan air danau, tetapi hasilnya tetap sama. Ia mulai putus asa menyelesaikan tantangan kakek itu.

Dalam lamunan keputusasaan, Darma tersontak oleh suara: “Darma, mengapa kau cepat putus asa? Bukankah airku belum kau coba?”

Darma kebingungan mencari suber suara itu. “Siapa kau sebenarnya?” tanya Darma yang masih kebingungan mencari sumber suara misterius itu.

“Aku Dewa Laut. Dewa yang menguasai luasnya laut samudra yang ada di bumi ini,” ucap Dewa Laut.

Darma berputar mengarahkan pandangannya pada sumber suara. Ia terkesima. Ternyata, ia baru menyadari sedang berhadapan dengan pemandangan laut yang indah. “Mengapa aku lupa? Aku belum menggunakan air laut ini. Apa lagi ibu membuat garam dari air laut ini?” pikir Darma.

Darma bergegas pulang membawa air laut itu. “Ibu, di mana garamnya? Darma mau pakai menyelesaikan tantangan kakek itu.” ucap Darma pada ibunya.

“Mengapa Darma menginginkan garam? Untuk apa garam ini?” tanya ibunya sambil menyerahkan garam.

“Nanti Darma ceritakan kepada ibu. Darma sedang buru-buru.” Darma pun pergi membawa air laut itu dan garam ke rumah kakek.

“Darma, tunggu Ibu! Ibu juga mau ikut ke rumah kakek itu,” pinta ibunya. Mereka pun pergi ke rumah kakek itu.

“Masih mau coba lagi atau sudah menyerah? Kakek sudah tidak sabar ingin melihat hasil perjuanganmu,” ucap kakek yang sedang duduk bersila memangku cawan emas berisi telur burung merak.

“Tidak kakek, Darma belum menyerah. Darma sudah membawa air laut dan garam untuk  memandikan telur itu,” jawab Darma penuh keyakinan.

“Silahkan lakukan proses pemandiannya sekarang!” pinta kakek itu. Dengan pelan-pelan, Darma memasukkan air laut itu ke dalam kendi pemandian telur burung merak itu. Lalu, perlahan-lahan Darma memasukkan telur itu ke dalam kendi pemandian. Ternyata, telur itu masih tenggelam. Darma mulai bingung. Ia percaya telur itu tetap saja tidak mau mengapung.

“Pasti ada yang kurang? Oh, aku belum memasukkan garam dalam kendi itu,” gumam Darma. Ia memasukkan garam dan mengaduknya dengan pelan. Dengan perlahan-lahan, telur itu naik ke permukaan air laut dalam kendi itu. Telur burung merak kesayangan kakek itu mengapung. Tiba-tiba, sekelebat cahaya keluar dari telur mengapung itu. Cahaya itu masuk ke dalam tubuh Darma. Seketika itu, Darma berubah menjadi Kumara putra Sang Dewa Siwa.

“Apa yang terjadi pada diriku? Apakah aku sedang bermimpi?” keluh Kumara yang seolah-olah baru tersadar dari mimpinya.

“Tidak, putraku. Kumara baru saja menyelesaikan tugasmu di bumi,” jawab kakek itu.

“Mengapa Kumara berada di gubuk ini? Kakek ini siapa? Ibu ini juga siapa?” tanya Kumara yang masih kebingungan.

Tiba-tiba, kakek itu berubah menjadi Dewa Siwa dan ibu itu berubah menjadi Dewi Uma. Seketika itulah, Kumara sadar sudah menyelesaikan tugas dari ayahnya. Kumara pun pergi bersama ibu dan ayahnya ke Khayangan.

Jadi, begitulah Dewa Siwa memperlihatkan kekuatan air. Jika daya angkat air lebih besar dari daya tekan benda, beda itu pun akan mengapung. Jika daya angkat air lebih kecil dari daya tekan benda, benda itu pun akan tenggelam. Ternyata daya angkat air garam lebih besar dari telur, telur pun mengapung. (T)

Tags: ceritadongengPendidikanPengetahuan
Share9TweetSendShareSend
Previous Post

Buku, Gaya Hidup, dan Keterasingan…

Next Post

Achmad Hidayat Alsair# Lelaki Penantang, Rencana Malam Kencan

Wayan Purne

Wayan Purne

Lulusan Undiksha Singaraja. Suka membaca. Kini tinggal di sebuah desa di kawasan Buleleng timur menjadi pendidik di sebuah sekolah yang tak konvensional.

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post

Achmad Hidayat Alsair# Lelaki Penantang, Rencana Malam Kencan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co