23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Cerita Dewa Siwa dan Anaknya: Sains tentang Terapung dan Tenggelam

Wayan Purne by Wayan Purne
February 2, 2018
in Esai

Ilustrasi: Angga

 

PADA satu malam purnama di pengujung musim panas, zaman dahulu, Dewa Siwa sedang bermeditasi di bawah pohon beringin. Tiba-tiba, putranya Kumara menghampirinya.

“Ayah, Kumara ingin main peta umpet,” kata Kumara.

Siwa tetap bergeming dan masih kusuk dengan meditasinya. Kumara menggoyang-goyang tubuh ayahnya, “Ayah, ayo temani Kumara main peta umpet!”

Siwa tetap saja kusuk dalam miditasinya tanpa menghiraukan putranya.

Kumara tidak kehabisan akal membangunkan ayahnya dari kekhusukan meditasi. Ia mengambil bulu burung merak kesayangannya. Bulu merak itu dimain-mainkan di telinga dan hidung ayahnya.

Tiba-tiba, angin malam purnama semakin berhembus kencang. Dinginnya malam semakin menyelimuti mimpi-mimpi binatang yang tertidur lelap. Siwa terbangun dari meditasinya yang belum sempurna. “Kumara sayang, apa yang kamu lakukan? Kamu sudah janji kalau setiap malam purnama tidak akan mengajak Ayah bermain. Sebab, Ayah harus bermeditasi,” tegur lembut Siwa kepada putranya.

“Maaf, Ayah, Kumara lupa kalau malam ini adalah malam purnama,” sesal Kumara yang duduk di pangkuan ayahnya. “Tetap saja Kumara sudah melanggar kesepakatan yang sudah disepakati,” Dewa Siwa menghela nafas sedih.

“Ya, Ayah, Kumara sudah tiga kali melanggar kesepakatan. Kumara siap mejalani kehidupan di bumi,” jawab Kumara penuh tanggungjawab.

“Baiklah, anakku sayang. Kumara akan terlahir sebagai Darma dan bisa kembali jika bertemu seorang kakek yang memiliki telur burung merak.” ucap Siwa.

Di bumi, bertahun-tahun kemudian. Suatu siang, di pinggir hutan, angin sepoi-sepoi menyejukkan rumah seorang kakek. Ia tinggal sendirian dan ditemani sebutir telur burung merak kesayangannya. Ia suka mendongeng kepada anak-anak yang mengunjunginya.

“Darma, bisa tolong Ibu sebentar? Bawa makanan ini pada kakek di gubuk pinggir hutan itu!” pinta ibunya.

“Ibu, benar kakek itu suka mendongeng?” tanya Darma. Ia memang selalu mendengar kisah kakek itu dari teman-temannya.

“Ya Darma, kakek itu suka mendongeng, tetapi kakek itu punya permintaan. Jika permintaannya tidak bisa diselesaikan, kakek itu tidak akan mau mendongeng.” jawab ibunya yang merahasiakan permintaan-permintaan aneh kakek itu.

“Ya Bu, Darma pergi mengantarkan makanan ini pada kakek itu,” ucap Darma. Ia pun pergi penuh rasa penasaran. Penasaran akan dongeng yang akan diceritakan oleh kakek.

Sampailah Darma di depan pintu rumah kakek itu. Ia mengetuk pintu rumah kakek itu. Tok-tok-tok.

“Kek, Darma bawa makanan dari ibu.” katanya.

Tiba-tiba, pintu terbuka sendiri. Ia tidak melihat ada kakek di dalam rumah itu. Namun, ia terpana melihat sebutir telur bercahaya di cawan emas.

“Darma mau memiliki telur itu?” suara kakek mengagetkan Darma dari keterpanaannya.

“Kek, telur apa itu? Telur itu kok bisa bercahaya?” tanya Darma keheranan.

“Ini adalah telur burung merak. Jika ingin memilikinya, Darma harus memandikannya di air yang bisa menenggelamkan dan mengapungkan telur burung merak ini.” jawab kakek.

Darma pun mencari air yang dimaksudkan oleh kakek itu. Ia membawa air sumur, tetapi hanya bisa menenggelamkan telur itu. Ia juga membawa air kembang tujuh rupa, air susu, air sungai, dan air danau, tetapi hasilnya tetap sama. Ia mulai putus asa menyelesaikan tantangan kakek itu.

Dalam lamunan keputusasaan, Darma tersontak oleh suara: “Darma, mengapa kau cepat putus asa? Bukankah airku belum kau coba?”

Darma kebingungan mencari suber suara itu. “Siapa kau sebenarnya?” tanya Darma yang masih kebingungan mencari sumber suara misterius itu.

“Aku Dewa Laut. Dewa yang menguasai luasnya laut samudra yang ada di bumi ini,” ucap Dewa Laut.

Darma berputar mengarahkan pandangannya pada sumber suara. Ia terkesima. Ternyata, ia baru menyadari sedang berhadapan dengan pemandangan laut yang indah. “Mengapa aku lupa? Aku belum menggunakan air laut ini. Apa lagi ibu membuat garam dari air laut ini?” pikir Darma.

Darma bergegas pulang membawa air laut itu. “Ibu, di mana garamnya? Darma mau pakai menyelesaikan tantangan kakek itu.” ucap Darma pada ibunya.

“Mengapa Darma menginginkan garam? Untuk apa garam ini?” tanya ibunya sambil menyerahkan garam.

“Nanti Darma ceritakan kepada ibu. Darma sedang buru-buru.” Darma pun pergi membawa air laut itu dan garam ke rumah kakek.

“Darma, tunggu Ibu! Ibu juga mau ikut ke rumah kakek itu,” pinta ibunya. Mereka pun pergi ke rumah kakek itu.

“Masih mau coba lagi atau sudah menyerah? Kakek sudah tidak sabar ingin melihat hasil perjuanganmu,” ucap kakek yang sedang duduk bersila memangku cawan emas berisi telur burung merak.

“Tidak kakek, Darma belum menyerah. Darma sudah membawa air laut dan garam untuk  memandikan telur itu,” jawab Darma penuh keyakinan.

“Silahkan lakukan proses pemandiannya sekarang!” pinta kakek itu. Dengan pelan-pelan, Darma memasukkan air laut itu ke dalam kendi pemandian telur burung merak itu. Lalu, perlahan-lahan Darma memasukkan telur itu ke dalam kendi pemandian. Ternyata, telur itu masih tenggelam. Darma mulai bingung. Ia percaya telur itu tetap saja tidak mau mengapung.

“Pasti ada yang kurang? Oh, aku belum memasukkan garam dalam kendi itu,” gumam Darma. Ia memasukkan garam dan mengaduknya dengan pelan. Dengan perlahan-lahan, telur itu naik ke permukaan air laut dalam kendi itu. Telur burung merak kesayangan kakek itu mengapung. Tiba-tiba, sekelebat cahaya keluar dari telur mengapung itu. Cahaya itu masuk ke dalam tubuh Darma. Seketika itu, Darma berubah menjadi Kumara putra Sang Dewa Siwa.

“Apa yang terjadi pada diriku? Apakah aku sedang bermimpi?” keluh Kumara yang seolah-olah baru tersadar dari mimpinya.

“Tidak, putraku. Kumara baru saja menyelesaikan tugasmu di bumi,” jawab kakek itu.

“Mengapa Kumara berada di gubuk ini? Kakek ini siapa? Ibu ini juga siapa?” tanya Kumara yang masih kebingungan.

Tiba-tiba, kakek itu berubah menjadi Dewa Siwa dan ibu itu berubah menjadi Dewi Uma. Seketika itulah, Kumara sadar sudah menyelesaikan tugas dari ayahnya. Kumara pun pergi bersama ibu dan ayahnya ke Khayangan.

Jadi, begitulah Dewa Siwa memperlihatkan kekuatan air. Jika daya angkat air lebih besar dari daya tekan benda, beda itu pun akan mengapung. Jika daya angkat air lebih kecil dari daya tekan benda, benda itu pun akan tenggelam. Ternyata daya angkat air garam lebih besar dari telur, telur pun mengapung. (T)

Tags: ceritadongengPendidikanPengetahuan
Share9TweetSendShareSend
Previous Post

Buku, Gaya Hidup, dan Keterasingan…

Next Post

Achmad Hidayat Alsair# Lelaki Penantang, Rencana Malam Kencan

Wayan Purne

Wayan Purne

Lulusan Undiksha Singaraja. Suka membaca. Kini tinggal di sebuah desa di kawasan Buleleng timur menjadi pendidik di sebuah sekolah yang tak konvensional.

Related Posts

Wajah Indonesia Bopeng

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

Read moreDetails

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails
Next Post

Achmad Hidayat Alsair# Lelaki Penantang, Rencana Malam Kencan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Wajah Indonesia Bopeng

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas
Kritik Sastra

Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas

ADA satu kesalahpahaman yang terlalu lama mengiringi cara kita memandang Tuli: seolah-olah Tuli hanya dapat dibicarakan dari apa yang tidak...

by Bagja Wiranandhika Prawira
August 23, 2026
Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud
Panggung

Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

KETIKA musik itu dimainkan, nadanya terasa enak, liriknya menyentuh hati, dan langsung terbayang cerita drama seri yang sangat populer. Melodinya...

by Nyoman Budarsana
August 23, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co