3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Cerita Dewa Siwa dan Anaknya: Sains tentang Terapung dan Tenggelam

Wayan Purne by Wayan Purne
February 2, 2018
in Esai

Ilustrasi: Angga

 

PADA satu malam purnama di pengujung musim panas, zaman dahulu, Dewa Siwa sedang bermeditasi di bawah pohon beringin. Tiba-tiba, putranya Kumara menghampirinya.

“Ayah, Kumara ingin main peta umpet,” kata Kumara.

Siwa tetap bergeming dan masih kusuk dengan meditasinya. Kumara menggoyang-goyang tubuh ayahnya, “Ayah, ayo temani Kumara main peta umpet!”

Siwa tetap saja kusuk dalam miditasinya tanpa menghiraukan putranya.

Kumara tidak kehabisan akal membangunkan ayahnya dari kekhusukan meditasi. Ia mengambil bulu burung merak kesayangannya. Bulu merak itu dimain-mainkan di telinga dan hidung ayahnya.

Tiba-tiba, angin malam purnama semakin berhembus kencang. Dinginnya malam semakin menyelimuti mimpi-mimpi binatang yang tertidur lelap. Siwa terbangun dari meditasinya yang belum sempurna. “Kumara sayang, apa yang kamu lakukan? Kamu sudah janji kalau setiap malam purnama tidak akan mengajak Ayah bermain. Sebab, Ayah harus bermeditasi,” tegur lembut Siwa kepada putranya.

“Maaf, Ayah, Kumara lupa kalau malam ini adalah malam purnama,” sesal Kumara yang duduk di pangkuan ayahnya. “Tetap saja Kumara sudah melanggar kesepakatan yang sudah disepakati,” Dewa Siwa menghela nafas sedih.

“Ya, Ayah, Kumara sudah tiga kali melanggar kesepakatan. Kumara siap mejalani kehidupan di bumi,” jawab Kumara penuh tanggungjawab.

“Baiklah, anakku sayang. Kumara akan terlahir sebagai Darma dan bisa kembali jika bertemu seorang kakek yang memiliki telur burung merak.” ucap Siwa.

Di bumi, bertahun-tahun kemudian. Suatu siang, di pinggir hutan, angin sepoi-sepoi menyejukkan rumah seorang kakek. Ia tinggal sendirian dan ditemani sebutir telur burung merak kesayangannya. Ia suka mendongeng kepada anak-anak yang mengunjunginya.

“Darma, bisa tolong Ibu sebentar? Bawa makanan ini pada kakek di gubuk pinggir hutan itu!” pinta ibunya.

“Ibu, benar kakek itu suka mendongeng?” tanya Darma. Ia memang selalu mendengar kisah kakek itu dari teman-temannya.

“Ya Darma, kakek itu suka mendongeng, tetapi kakek itu punya permintaan. Jika permintaannya tidak bisa diselesaikan, kakek itu tidak akan mau mendongeng.” jawab ibunya yang merahasiakan permintaan-permintaan aneh kakek itu.

“Ya Bu, Darma pergi mengantarkan makanan ini pada kakek itu,” ucap Darma. Ia pun pergi penuh rasa penasaran. Penasaran akan dongeng yang akan diceritakan oleh kakek.

Sampailah Darma di depan pintu rumah kakek itu. Ia mengetuk pintu rumah kakek itu. Tok-tok-tok.

“Kek, Darma bawa makanan dari ibu.” katanya.

Tiba-tiba, pintu terbuka sendiri. Ia tidak melihat ada kakek di dalam rumah itu. Namun, ia terpana melihat sebutir telur bercahaya di cawan emas.

“Darma mau memiliki telur itu?” suara kakek mengagetkan Darma dari keterpanaannya.

“Kek, telur apa itu? Telur itu kok bisa bercahaya?” tanya Darma keheranan.

“Ini adalah telur burung merak. Jika ingin memilikinya, Darma harus memandikannya di air yang bisa menenggelamkan dan mengapungkan telur burung merak ini.” jawab kakek.

Darma pun mencari air yang dimaksudkan oleh kakek itu. Ia membawa air sumur, tetapi hanya bisa menenggelamkan telur itu. Ia juga membawa air kembang tujuh rupa, air susu, air sungai, dan air danau, tetapi hasilnya tetap sama. Ia mulai putus asa menyelesaikan tantangan kakek itu.

Dalam lamunan keputusasaan, Darma tersontak oleh suara: “Darma, mengapa kau cepat putus asa? Bukankah airku belum kau coba?”

Darma kebingungan mencari suber suara itu. “Siapa kau sebenarnya?” tanya Darma yang masih kebingungan mencari sumber suara misterius itu.

“Aku Dewa Laut. Dewa yang menguasai luasnya laut samudra yang ada di bumi ini,” ucap Dewa Laut.

Darma berputar mengarahkan pandangannya pada sumber suara. Ia terkesima. Ternyata, ia baru menyadari sedang berhadapan dengan pemandangan laut yang indah. “Mengapa aku lupa? Aku belum menggunakan air laut ini. Apa lagi ibu membuat garam dari air laut ini?” pikir Darma.

Darma bergegas pulang membawa air laut itu. “Ibu, di mana garamnya? Darma mau pakai menyelesaikan tantangan kakek itu.” ucap Darma pada ibunya.

“Mengapa Darma menginginkan garam? Untuk apa garam ini?” tanya ibunya sambil menyerahkan garam.

“Nanti Darma ceritakan kepada ibu. Darma sedang buru-buru.” Darma pun pergi membawa air laut itu dan garam ke rumah kakek.

“Darma, tunggu Ibu! Ibu juga mau ikut ke rumah kakek itu,” pinta ibunya. Mereka pun pergi ke rumah kakek itu.

“Masih mau coba lagi atau sudah menyerah? Kakek sudah tidak sabar ingin melihat hasil perjuanganmu,” ucap kakek yang sedang duduk bersila memangku cawan emas berisi telur burung merak.

“Tidak kakek, Darma belum menyerah. Darma sudah membawa air laut dan garam untuk  memandikan telur itu,” jawab Darma penuh keyakinan.

“Silahkan lakukan proses pemandiannya sekarang!” pinta kakek itu. Dengan pelan-pelan, Darma memasukkan air laut itu ke dalam kendi pemandian telur burung merak itu. Lalu, perlahan-lahan Darma memasukkan telur itu ke dalam kendi pemandian. Ternyata, telur itu masih tenggelam. Darma mulai bingung. Ia percaya telur itu tetap saja tidak mau mengapung.

“Pasti ada yang kurang? Oh, aku belum memasukkan garam dalam kendi itu,” gumam Darma. Ia memasukkan garam dan mengaduknya dengan pelan. Dengan perlahan-lahan, telur itu naik ke permukaan air laut dalam kendi itu. Telur burung merak kesayangan kakek itu mengapung. Tiba-tiba, sekelebat cahaya keluar dari telur mengapung itu. Cahaya itu masuk ke dalam tubuh Darma. Seketika itu, Darma berubah menjadi Kumara putra Sang Dewa Siwa.

“Apa yang terjadi pada diriku? Apakah aku sedang bermimpi?” keluh Kumara yang seolah-olah baru tersadar dari mimpinya.

“Tidak, putraku. Kumara baru saja menyelesaikan tugasmu di bumi,” jawab kakek itu.

“Mengapa Kumara berada di gubuk ini? Kakek ini siapa? Ibu ini juga siapa?” tanya Kumara yang masih kebingungan.

Tiba-tiba, kakek itu berubah menjadi Dewa Siwa dan ibu itu berubah menjadi Dewi Uma. Seketika itulah, Kumara sadar sudah menyelesaikan tugas dari ayahnya. Kumara pun pergi bersama ibu dan ayahnya ke Khayangan.

Jadi, begitulah Dewa Siwa memperlihatkan kekuatan air. Jika daya angkat air lebih besar dari daya tekan benda, beda itu pun akan mengapung. Jika daya angkat air lebih kecil dari daya tekan benda, benda itu pun akan tenggelam. Ternyata daya angkat air garam lebih besar dari telur, telur pun mengapung. (T)

Tags: ceritadongengPendidikanPengetahuan
Share9TweetSendShareSend
Previous Post

Buku, Gaya Hidup, dan Keterasingan…

Next Post

Achmad Hidayat Alsair# Lelaki Penantang, Rencana Malam Kencan

Wayan Purne

Wayan Purne

Lulusan Undiksha Singaraja. Suka membaca. Kini tinggal di sebuah desa di kawasan Buleleng timur menjadi pendidik di sebuah sekolah yang tak konvensional.

Related Posts

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails
Next Post

Achmad Hidayat Alsair# Lelaki Penantang, Rencana Malam Kencan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co