25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Achmad Hidayat Alsair# Lelaki Penantang, Rencana Malam Kencan

Achmad Hidayat Alsair by Achmad Hidayat Alsair
February 2, 2018
in Puisi

Wayan Redika, Aku Tetap Lebih Buruk, 2004. Charcoal on Paper, 50x70cm

SELAMAT SIANG

Sekarang aku ingin belajar cara menjadi jinak
Percuma meliar jika liang kelaparan telah diisi
Untuk apa pistol dan pentungan kalau jadi pernik di punggung?
Lagi pula ini sudah jam istirahat
Mari sejenak menghidu tengik kemacetan
Lekas tinggalkan pos jaga muram itu
Lalu mengukur luas meja makan menggunakan sendok
Lihat, ada yang mencoba tidur
Mengajak jasad dari timbun tumpukan berkas
Tidak ada kasur tersedia di tempat kerja
Beribadah menjadi pembuka lelap
Singgah sekejap, firman Tuhan telah genap
Berkah dan bekal para pencari istirah sejati

Praktik ilmu mengukur suhu tubuh
Menggunakan tangan kosong dan suara ambulans
Minggir, orang sakit juga ingin tepat waktu
Tiba di ruang rawat, negara mengaku tak mengenalnya
Bukan dia yang menusuk potretnya saat pemilihan umum
Tidak, nama mereka semua tidak tercantum di buku tamu

Memasuki ruang kelas, sejuk buatan mesin, duduk berhadapan menantang papan tulis
Dosen bertanya, “Selamat siang, ada yang bisa saya bantu?”

(Makassar, Desember 2016)

SEMIOTIKA HUJAN

Lihat, kelabu yang bergantung itu
padanya seluruh rindu disematkan
beratkan gerak dan tangis palsunya
dan laut tidak memberi kiat mengobat kesedihan
Lihat, cucur yang berkejaran itu
semua dijamin akan mandi hingga bersih
tanaman hingga binatang melata, kecuali kaum amfibi
sebuah proses yang dijelaskan terbata oleh buku biologi

Lihat, kantuk yang bertamu itu
merayu-rayu nyenyak untuk beratkan kelopakmu
jika menyerah, hasil akhir kerja jam kala berkomplot
terlambat datang kerja menjadi kejahatan paling manis
Lihat, penulis puisi ini
terlalu banyak meneguk gerimis kemudian tersedak
mendung bahkan gumpal di jantungnya
kudengar dia tengah menyusun daftar cucu keturunan cuaca buruk

(Makassar, Desember 2016)

LELAKI PENANTANG

Aku berdiri di bibir pantai, lamat-lamat terdengar juga bersenandung kidung kelaparan, padahal saban hari dia masih menuangkan ombaknya pada cangkir dan teko milik pengunjung
pencari keramaian dan kesepian. Ini semua terlalu membingungkan, maka kulempar sejumput rambutku ke atas pasir, berharap malam akan menumbuhkan diriku dan berganda jadi seribu.
Harus diakui diriku telanjang tanpa pakaian, busana paling mutakhir hanya sekumpulan pijar kunang-kunang yang dilekatkan pada tiap senti tubuh dan menegakkan paksa bulu roma.
Kulitku menjadi kitab suci paling terang untuk seorang pemeluk agama peragu ritus gerak-gerik ritmik alam semesta karangan mistikus tua renta.
Kulebur perpisahan batas kota dalam sajak janji perjumpaan. Kutundukkan jantung penempa nafas-nafas dan penghitung jarak percabangan nadi. Kutulis pula surat kaleng untuk dibaca oleh peradaban tanpa wasiat.

(Makassar, Desember 2016)

BELAJAR HOMONIM

Kata seorang dokter, bisa ular bisa menjadi obat untuk orang-orang patah hati. Kuperoleh kopiannya saat meneguk kopi di sebuah kafe di mana aku selalu menjadi pengunjung pertama.
Sayang sekali tak mungkin kucoba resep mutakhir itu karena tubuhku telanjur mengurus, hasil terlalu banyak mengurus puisi dan tenggelam dalam cerita-cerita sedih dari negeri-negeri jauh.
Kubaca di brosur yang berbeda, kaum wanita memperjuangkan hak untuk gratis memperoleh hak sepatu sebagai bagian dari upaya menyebar semangat pemberontakan bersenjata kecantikan. Lelaki pun resmi memasuki
masa-masa genting, debarnya mengalahkan sensasi saat memanjat rumah untuk memperbaiki genting. Kubaca tulisan kampanye itu berkali-kali sebelum disemat dan dipaku pada dinding kali batas kota.

(Makassar, Desember 2016)

FABEL KAVALERI

Dengarlah suara baling-baling pesawat bersiap terjun menukik
menjatuhkan bom paling kobar, hujan buatan dari peluru timah
ini bukan adegan latihan dari kamp-kamp persiapan
tidak ada istal tempat tinggal
tidak ada induk-induk
tidak ada petakan jerami
tidak ada puting susu dan cinta

Kami kena gempur, menerjang letupan dengan ringkikan
antara berani atau bebal, juga batas antara teguh dan takluk
serahkan jawaban kepada penunggang
malam ini kita akan jumawa
semua telah mereka janjikan
nama-nama dijamin akan masuk buku sejarah
dicetak tebal-tebal seperti maklumat

Kukembangkan telingaku
sayup simfoni suara sekumpulan betina

(Makassar, Desember 2016)

BENIH MUSIM PANAS

Sengaja kita mengawal arak-arakan angin
dan meliuk licin di antara pelukan pohon
siasat ampuh selain tersesat membentur rumah
sebab tak ada petunjuk arah di bawah lampu neon

Terbatuk tak mampu meneguk
terlampau haus oleh kekeringan padang rumput
musim panas mengayun jaring laba-laba
langkahku oleng, mabuk terik matahari

Sebatang cemara terserak hilang kuasa
ikhlas memeluk bumi tempat ziarah
kini aku menunggu kabar kehamilan
benihmu sepakat jalani ritual kedewasaan

(Kaluppini, Agustus 2016)

SAJIAN HIBURAN UNTUKMU

Kusunting sajak ini hingga ratusan kali
harapan bertemu para pasien rumah sakit jiwa
yang mendekam dalam jejeran kamar sempit
dirantai kesakitan rutinitas berwujud entah

Maka mulailah kita menutup jendela
mendengar lagu terlarang dalam instruksi negara
perihal peluh dan rasa mual paling alami
sesekali permisi untuk meraba kulit licin terluka

Kuputar haluan menuju kelas tanpa alat tulis
menghasut muda-mudi meragukan masa depan
dan jam dinding itu sengaja kucabut jarumnya
kemudian ditusuk pada bagian paling indah tubuhmu

(Makassar, Agustus 2016)

RENCANA MALAM KENCAN

Di sini, sebagian orang berpapasan dengan diri sendiri
meja makan, benda bisu yang berisyarat melawan malam
karena di sela kepul asap kita berunding menentang diam
hari ini bukan liburan serta tidak pula Minggu esok

Ingatkan aku jika lupa kapan jadwal rutin berseteru
kadang jam dinding tahu tipu muslihat paling licik
perasaan pun pandai bohong sejak dunia masih perawan
ambil seteguk air, biarkan menyumbat lalu lintas peluh

Bacakan berita-berita larut malam sebagai pengantar tidur
sesekali aku harus menangis setelah mendengar bencana
pengingat singkatnya waktu, riwayat rotasiku dalam dirimu
namun catatan hutang bernama selimut selalu bertambah

Lebih baik kenakan busanamu yang paling nyalang
kemudian berlatih cara berteriak dalam udara jelaga
seminggu sekali hingga perjalanan mencapai titik jenuh
lalu kita menuju garis awal lagi, abaikan syarat-syarat lelah

(Makassar, September 2016)

Tags: Puisi
Share13TweetSendShareSend
Previous Post

Cerita Dewa Siwa dan Anaknya: Sains tentang Terapung dan Tenggelam

Next Post

Ruang dan Waktu Sekali Lagi

Achmad Hidayat Alsair

Achmad Hidayat Alsair

Mahasiswa tingkat akhir Universitas Hasanuddin Makassar, FISIP, jurusan Ilmu Hubungan Internasional. Karyanya pernah dimuat sejumlah media seperti Fajar Makassar, Go Cakrawala Gowa, Rakyat Sultra, Analisa Medan, Tanjungpinang Pos, Lombok Post, Radar Surabaya, NusantaraNews, FloresSastra,

Related Posts

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
0
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

by Chusmeru
September 27, 2026
0
Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

Pagi September 1965 di Suatu Desa Suara derit terdengar dari pintu rumah kakek di suatu desa yang sejukAnak-anak mengajak bermain...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
0
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

Read moreDetails

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
0
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

by Salman Alade
September 6, 2026
0
Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

Memelihara Kesepian 1.letakkan kesepiandi tempat yang teduh. jauhkan dari suaraorang-orang yang terlalu bahagia. 2.beri makansetiap malam. sedikit kenangan.sedikit musik. jangan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

by Ni Putu Puspa Trisnawati
September 5, 2026
0
Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

Mother's Bakery Hari-hari terasa menghisap paracetamolPahitnya mengendap hingga ke ujung hatiBumi menyediakan sirup, namun maple pun sulit menyatukan yang retakIbu...

Read moreDetails

Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

by Supali Kasim
August 30, 2026
0
Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

Air di Daun Talas seberapa waktu bertahanair di daun talas dapat menerimakenyataan demi kenyataan tarian anginlantai licin dan tetabuhan riuhtanpa...

Read moreDetails

Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

by Sholihul Mubarok
June 28, 2026
0
Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

MENJELMA KATA DI KURUSETRA BERANDA mata-mata telingasulih gaduh suaralahir ribuan kekata jemari adalah ujung belatirobek halus di layar tanduskebajikan serta...

Read moreDetails

Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

by Andi Wirambara
June 27, 2026
0
Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

KUCING aku seekor kucing yang memanjat jendelamukau penghuni yang selalu menutupnya,bersantai menenteng cangkir teh yang pekat. aku mengeong dan mengamuk,...

Read moreDetails

Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

by IBW Widiasa Keniten
June 26, 2026
0
Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

Tuhan Beri Aku Waktu Tuhan, di sisa napas ini beri aku mengadudalam gelombang hidup yang tak pernah pastiTuhan, beri aku...

Read moreDetails
Next Post

Ruang dan Waktu Sekali Lagi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co