3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Musik Baru – Musik Masa Depan, Hari Ini!

Wayan Gde Yudane by Wayan Gde Yudane
February 2, 2018
in Esai

Musik baru adalah kesinambungan tradisi musik klasik, yang mewakili perintisan dan kreativitas dari musik klasik tersebut. Lagi pula, musik baru dapat merangkum elemen dari banyak jenis musik, termasuk musik klasik, musik dunia (World Music), musik klasik yang berakar pada tradisi musik barat (Classical music) dan lain sebagainya. Kesimpulannya, musik baru itu adalah: musik yang baru saja digubah oleh komponis yang masih hidup.

Meskipun di sini ada banyak ide atau pemahaman yang bisa berlaku, tapi tulisan ini adalah tentang pemahaman subjektif saya terhadap seni musik baru, yang  setidaknya memiliki perspektif epistemologis yang sama dengan penciptaan musik baru di dunia musik barat.

Musik baru adalah istilah umum yang digunakan untuk mengacu pada tradisi musik yang menyiratkan pertimbangan struktural dan teoritis tingkat lanjut

Pada ungkapan “baru” kita tidak perlu melihat ke penemuan estetika baru yang bersifat revolusioner. Karena revolusi mendadak yang menghentikan semua diskusi dengan menghasilkan sebuah cara baru yang mutlak dalam komposisi musik dan menolak semua gaya yang telah berkembang selama ini, tidak berarti dalam konteks ini.

Saya tahu ini terlalu menyederhanakan.

Apa yang saya ingin tetap “hidup” adalah kualitas perhatian, jenis interaksi manusia, dan cara mengetahui dan mengalami yang ditemukan dalam praktek seni musik.

Jadi untuk saat ini, mari kita mencoba mengatakan bahwa seni musik baru membutuhkan perhatian yang secara sadar dan beberapa pengalaman untuk dapat memahaminya.

Musik baru ini memberi penghargaan pada ketaatan dengan berbagai lapisan makna dan perasaan yang kompleks.

Musik baru juga berarti ekplorasi: permainan musik yang mendobrak batasan menuju wilayah suara baru, pengaruh baru, tehnik baru, bentuk struktural baru, media baru, dan cara baru untuk menjabarkan dan memahami dunia  tempat kita hidup sekarang ini.

Dalam karya seni musik baru segala sesuatu mendapatkan arti yang nyata dari usaha tersebut, dan arti ini didapatkan dari bentuk keterhubungan detail, yang melawan, melanjutkan dan melewati satu sama lainnya sehingga menampakkan  bahwa musik bisa merupakan bagian dari kontruksi- sesuai dengan cara komposer mencipta karya.

Hubungan ini adalah “hidup” yang berarti, dimungkinkan berlanjut berkembang ke level dan detail yang lebih dalam.

Berbeda dengan musik populer  bentuknya  tidak berubah. Tidak berkembang tetapi ditutupi oleh jubah-jubah ornament yang menutupi “kesamaan”nya. Ini disengaja karena si pencita (dan pendengarnya) tidak menginginkan analisis atau interpretasi, tidak juga memerlukan reaksi yang standar.

Tujuan musik baru tidak semata-mata sekedar indah, tetapi melibatkan sesuatu yang lebih luas dalam tahapan emosi, intelektual, spiritual dan isu sosial.

Musik baru tidak juga merangkul sesuatu yang hanya “menarik” tanpa ada misteri, kompleksitas dan penemuan baru. Sikap ini sangat skeptikal dalam era komersial, atau dalam musik “pesanan”.

musik baru mengharap setiap komposer bisa mencurahkan sesuatu yang bernuansa, sesuatu yang mencerminkan kebenaran tentang dirinya, apapun bentuk dan bahasa komposisinya.

Sesuatu yang bertolak belakang dengan musik komersil, dibuat untuk konsumsi masal dan sangat biasa dan berlebihan ( dan tanpa nilai! ), kebalikan dari musik yang ditakdirkan untuk beberapa orang pilihan yang langka, lingkungan yang bernafas bebas, Musik baru bisa dijadikan pendekatan yang terbuka yang berselera – apapun bentuk dan gayanya.

Tentu saja musik ini merupakan ajang komunikasi dengan pendengar, sebagai akibat dimensi formal dan dalam hubungannya dengan pementasan dengan komposer, musisi dan pendengar.

Mungkin saja memerlukan beberapa kali pendengaran ulang atau pengalaman yang beragam untuk membangkitkan pemahaman terhadap musik baru yang terkadang kompleks.

Intinya adalah, bahwa sepanjang abad ini musik telah diperkaya oleh suara yang mengijinkannya untuk mengekspresikan kedalaman dan kepekaan, meskipun tidak dalam konteks universal, paling tidak dalam arti yang relevan dan kekinian. Oleh karena itu kita harus menempatkan diri kita pada posisi yang terhubung dengan masa lalu , dan juga memperhitungkan keberadaan musik dan suara, termasuk kemungkinan teknis akustik, yang sebagian bisa jauh melampaui daya dengar manusia. Pastilah sangat berguna bagi kita sekarang untuk memiliki kemampuan untuk mendengar segalanya.

Pemahaman musik baru setidaknya memiliki perspektif epistemologis yang sama dengan penciptaan musik baru di dunia musik barat. (kalau tidak mau dianggap mengada-ada)

Musik baru juga memiliki kecenderungan untuk memprioritaskan unsur kejutan, mengandung unsur tak terduga, dan mengungkapkan pikiran pada nilai-nilai kekinian.

Elemen tak terduga seperti manifestasi dari pikiran-pikiran tertentu bisa eksis dalam berbagai bentuk: melalui bahan ekspresi, media ekspresi, dan cara berekspresi yang belum pernah terjadi dalam budaya musik. Sifat avant-garde yang ada dalam musik baru ditandai dengan pertunjukan artistik diisi dengan inteligensia yang mengembangkan hal-hal baru.

Membicarakan musik baru bukanlah hal yang baru untuk waktu yang lama. Pada awal abad ke-20, musik serial Schoenberg dianggap baru. Kontras dengan tonalitas itu adalah ide baru dalam banyak hal, meskipun bentuk, instrumentasi dan orkestrasi masih dipinjam dari masa lalu. Musik Schoenberg tidak lagi baru ketika bisa diberi label oleh para ahli sebagai “serialism” dan karena itu kehilangan label “baru”.

Tentu saja ada banyak lagi contoh-contoh perkembangan musik baru dari abad ke-20. Awal musik computer dan musik John Cage mendorong batas-batas dan menyebabkan banyak orang untuk memikirkan kembali konsep mereka sendiri tentang apa yang dan bukan musik. Untuk sementara waktu, jenis musik bisa diberi label seperti baru, tapi sekarang hal tersebut merupakan bagian dari kaidah atau norma dan telah diberi label sebagai sesuatu yang lain dari yang baru. Musik Baru adalah musik yang mendorong batas-batas dan tantangan sistem label. Tanpa label yang jelas, musik disebut “baru” dan ketika ada cukup musik yang sama, label baru dan deskriptif yang lebih baru mesti diciptakan.

Tidak semua musik baru akan menarik bagi semua orang, tetapi pasti ada sesuatu bagi setiap orang: ” mudahnya sebuah lantunan musik untuk dicerna saat pertama kali didengar bukan ukuran yang mutlak atas nilai musik itu.”

Dengan begitu, inovasi dan kesempatan bukanlah merupakan akhir. Tetapi bukankah inovasi itu sungguh mendasar, mengingat kreasi kita memang begitu berbeda, seperti halnya kita semua berbeda? (T)

 

Tags: musikSeni
Share113TweetSendShareSend
Previous Post

Bukan Caka, tapi Saka – Selamat Tahun Baru Saka, Selamat Nyepi…

Next Post

Buku, Gaya Hidup, dan Keterasingan…

Wayan Gde Yudane

Wayan Gde Yudane

Komponis. Mendapat Anugerah Kebudayaan Indonesia 2020 untuk katagori Pencipta Pelopor Pembaru

Related Posts

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails
Next Post

Buku, Gaya Hidup, dan Keterasingan...

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co