25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Musik Baru – Musik Masa Depan, Hari Ini!

Wayan Gde Yudane by Wayan Gde Yudane
February 2, 2018
in Esai

Musik baru adalah kesinambungan tradisi musik klasik, yang mewakili perintisan dan kreativitas dari musik klasik tersebut. Lagi pula, musik baru dapat merangkum elemen dari banyak jenis musik, termasuk musik klasik, musik dunia (World Music), musik klasik yang berakar pada tradisi musik barat (Classical music) dan lain sebagainya. Kesimpulannya, musik baru itu adalah: musik yang baru saja digubah oleh komponis yang masih hidup.

Meskipun di sini ada banyak ide atau pemahaman yang bisa berlaku, tapi tulisan ini adalah tentang pemahaman subjektif saya terhadap seni musik baru, yang  setidaknya memiliki perspektif epistemologis yang sama dengan penciptaan musik baru di dunia musik barat.

Musik baru adalah istilah umum yang digunakan untuk mengacu pada tradisi musik yang menyiratkan pertimbangan struktural dan teoritis tingkat lanjut

Pada ungkapan “baru” kita tidak perlu melihat ke penemuan estetika baru yang bersifat revolusioner. Karena revolusi mendadak yang menghentikan semua diskusi dengan menghasilkan sebuah cara baru yang mutlak dalam komposisi musik dan menolak semua gaya yang telah berkembang selama ini, tidak berarti dalam konteks ini.

Saya tahu ini terlalu menyederhanakan.

Apa yang saya ingin tetap “hidup” adalah kualitas perhatian, jenis interaksi manusia, dan cara mengetahui dan mengalami yang ditemukan dalam praktek seni musik.

Jadi untuk saat ini, mari kita mencoba mengatakan bahwa seni musik baru membutuhkan perhatian yang secara sadar dan beberapa pengalaman untuk dapat memahaminya.

Musik baru ini memberi penghargaan pada ketaatan dengan berbagai lapisan makna dan perasaan yang kompleks.

Musik baru juga berarti ekplorasi: permainan musik yang mendobrak batasan menuju wilayah suara baru, pengaruh baru, tehnik baru, bentuk struktural baru, media baru, dan cara baru untuk menjabarkan dan memahami dunia  tempat kita hidup sekarang ini.

Dalam karya seni musik baru segala sesuatu mendapatkan arti yang nyata dari usaha tersebut, dan arti ini didapatkan dari bentuk keterhubungan detail, yang melawan, melanjutkan dan melewati satu sama lainnya sehingga menampakkan  bahwa musik bisa merupakan bagian dari kontruksi- sesuai dengan cara komposer mencipta karya.

Hubungan ini adalah “hidup” yang berarti, dimungkinkan berlanjut berkembang ke level dan detail yang lebih dalam.

Berbeda dengan musik populer  bentuknya  tidak berubah. Tidak berkembang tetapi ditutupi oleh jubah-jubah ornament yang menutupi “kesamaan”nya. Ini disengaja karena si pencita (dan pendengarnya) tidak menginginkan analisis atau interpretasi, tidak juga memerlukan reaksi yang standar.

Tujuan musik baru tidak semata-mata sekedar indah, tetapi melibatkan sesuatu yang lebih luas dalam tahapan emosi, intelektual, spiritual dan isu sosial.

Musik baru tidak juga merangkul sesuatu yang hanya “menarik” tanpa ada misteri, kompleksitas dan penemuan baru. Sikap ini sangat skeptikal dalam era komersial, atau dalam musik “pesanan”.

musik baru mengharap setiap komposer bisa mencurahkan sesuatu yang bernuansa, sesuatu yang mencerminkan kebenaran tentang dirinya, apapun bentuk dan bahasa komposisinya.

Sesuatu yang bertolak belakang dengan musik komersil, dibuat untuk konsumsi masal dan sangat biasa dan berlebihan ( dan tanpa nilai! ), kebalikan dari musik yang ditakdirkan untuk beberapa orang pilihan yang langka, lingkungan yang bernafas bebas, Musik baru bisa dijadikan pendekatan yang terbuka yang berselera – apapun bentuk dan gayanya.

Tentu saja musik ini merupakan ajang komunikasi dengan pendengar, sebagai akibat dimensi formal dan dalam hubungannya dengan pementasan dengan komposer, musisi dan pendengar.

Mungkin saja memerlukan beberapa kali pendengaran ulang atau pengalaman yang beragam untuk membangkitkan pemahaman terhadap musik baru yang terkadang kompleks.

Intinya adalah, bahwa sepanjang abad ini musik telah diperkaya oleh suara yang mengijinkannya untuk mengekspresikan kedalaman dan kepekaan, meskipun tidak dalam konteks universal, paling tidak dalam arti yang relevan dan kekinian. Oleh karena itu kita harus menempatkan diri kita pada posisi yang terhubung dengan masa lalu , dan juga memperhitungkan keberadaan musik dan suara, termasuk kemungkinan teknis akustik, yang sebagian bisa jauh melampaui daya dengar manusia. Pastilah sangat berguna bagi kita sekarang untuk memiliki kemampuan untuk mendengar segalanya.

Pemahaman musik baru setidaknya memiliki perspektif epistemologis yang sama dengan penciptaan musik baru di dunia musik barat. (kalau tidak mau dianggap mengada-ada)

Musik baru juga memiliki kecenderungan untuk memprioritaskan unsur kejutan, mengandung unsur tak terduga, dan mengungkapkan pikiran pada nilai-nilai kekinian.

Elemen tak terduga seperti manifestasi dari pikiran-pikiran tertentu bisa eksis dalam berbagai bentuk: melalui bahan ekspresi, media ekspresi, dan cara berekspresi yang belum pernah terjadi dalam budaya musik. Sifat avant-garde yang ada dalam musik baru ditandai dengan pertunjukan artistik diisi dengan inteligensia yang mengembangkan hal-hal baru.

Membicarakan musik baru bukanlah hal yang baru untuk waktu yang lama. Pada awal abad ke-20, musik serial Schoenberg dianggap baru. Kontras dengan tonalitas itu adalah ide baru dalam banyak hal, meskipun bentuk, instrumentasi dan orkestrasi masih dipinjam dari masa lalu. Musik Schoenberg tidak lagi baru ketika bisa diberi label oleh para ahli sebagai “serialism” dan karena itu kehilangan label “baru”.

Tentu saja ada banyak lagi contoh-contoh perkembangan musik baru dari abad ke-20. Awal musik computer dan musik John Cage mendorong batas-batas dan menyebabkan banyak orang untuk memikirkan kembali konsep mereka sendiri tentang apa yang dan bukan musik. Untuk sementara waktu, jenis musik bisa diberi label seperti baru, tapi sekarang hal tersebut merupakan bagian dari kaidah atau norma dan telah diberi label sebagai sesuatu yang lain dari yang baru. Musik Baru adalah musik yang mendorong batas-batas dan tantangan sistem label. Tanpa label yang jelas, musik disebut “baru” dan ketika ada cukup musik yang sama, label baru dan deskriptif yang lebih baru mesti diciptakan.

Tidak semua musik baru akan menarik bagi semua orang, tetapi pasti ada sesuatu bagi setiap orang: ” mudahnya sebuah lantunan musik untuk dicerna saat pertama kali didengar bukan ukuran yang mutlak atas nilai musik itu.”

Dengan begitu, inovasi dan kesempatan bukanlah merupakan akhir. Tetapi bukankah inovasi itu sungguh mendasar, mengingat kreasi kita memang begitu berbeda, seperti halnya kita semua berbeda? (T)

 

Tags: musikSeni
Share113TweetSendShareSend
Previous Post

Bukan Caka, tapi Saka – Selamat Tahun Baru Saka, Selamat Nyepi…

Next Post

Buku, Gaya Hidup, dan Keterasingan…

Wayan Gde Yudane

Wayan Gde Yudane

Komponis. Mendapat Anugerah Kebudayaan Indonesia 2020 untuk katagori Pencipta Pelopor Pembaru

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post

Buku, Gaya Hidup, dan Keterasingan...

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co