26 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Merenungkan Musik; Sukatani, Perlawanan, dan Penguasa

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
February 26, 2025
in Esai
Merenungkan Musik; Sukatani, Perlawanan, dan Penguasa

Sumber foto: tangkapan layar IG Sukatani (dengan modifikasi)

KITA semua suka musik. Musik identik dengan hiburan. Namun demikian pada praktiknya, musik selalu lebih dari sekadar hiburan. Ia bisa berubah menjadi senjata, manifesto, dan sarana bersuara bagi mereka yang tak diberi ruang bicara.

Dari nyanyian perlawanan buruh, himne gerakan hak sipil, hingga lagu-lagu punk yang mencemooh sistem, musik telah lama menjadi medium yang efektif untuk menggugat ketidakadilan. Tetapi, seberapa jauh musik bisa menjadi saluran yang aman untuk menyuarakan pendapat? Kasus band Sukatani dari Purbalingga, Jawa Tengah beberapa waku lalu menjadi bukti, bahwa musik tetap bisa menjadi ancaman bagi mereka yang berkuasa.

Ciri Peradaban atau Instrumen Perlawanan?

Sejak manusia pertama kali dengan sengaja memukul batu atau meniup tulang untuk menciptakan bunyi, maka  musik telah menjadi bagian dari identitas dan peradaban kita sebagai manusia. Karena hewan tidak demikian tentunya.

Musik bukan sekadar kumpulan nada, tetapi ekspresi jiwa manusia yang paling dalam. Karenanya musik kemudian berevolusi dan berkembang sebagai suatu bahasa universal yang melampaui batas negara, bahasa dan generasi.

Namun, apakah musik hanya menjadi simbol peradaban yang indah dan damai? Sejarah membuktikan sebaliknya, bahwa musik juga berfungsi sebagai alat kritik sosial yang mengakar dan radikal. Dari We Shall Overcome yang mengiringi gerakan hak sipil di Amerika, hingga F** the Police dari N.W.A dan dirilis ulang oleh J Dilla, yang mengekspos brutalitas polisi, musik adalah bentuk perlawanan yang tak bisa diabaikan.

Di Indonesia, pelarangan terhadap lagu Genjer-Genjer karena dianggap identik dengan PKI menjadi bukti bagaimana musik harus disikapi dengan serius karena ancaman ideologi nasional. Koes Plus pun pernah dipenjara karena mempopulerkan lagu-lagu Barat yang dianggap merusak budaya nasional. Bahkan di era Orde Baru, Menteri Penerangan Harmoko, di akhir tahun 80 an, melarang lagu-lagu cengeng karena dinilai melemahkan mental bangsa. Mungkin di antara para pembaca masih ingat lagu Gelas-Gelas Kaca dan Hati yang Luka, nah itu.

Di sisi lain, muncul gelombang baru musik yang mencerminkan berbagai aspek sosial dan politik. Rhoma Irama membawa musik dakwah dengan lagu-lagu religi yang sarat dengan kritik moral. Dangdut pun berkembang, dari goyang ngebor Inul Daratista yang menuai kontroversi hingga dangdut pantura dan dangdut koplo yang merakyat. Musik terus berubah mengikuti dinamika sosial, tetapi tetap saja selalu memiliki peran dalam menyuarakan opini masyarakat.

Kasus Sukatani: Ketika Musik Dianggap Berbahaya

Lalu, bagaimana dengan band Sukatani dari Purbalingga? Nama mereka mungkin tidak sebesar Iwan Fals, tetapi aksi mereka mencerminkan kegelisahan kolektif masyarakat yang muak dengan ketimpangan. Lagu mereka Bayar Bayar Bayar secara eksplisit mengkritik beban ekonomi dan administrasi yang semakin berat bagi rakyat kecil.

Lirik-lirik yang mereka ciptakan tidak dibuat untuk menyenangkan telinga, tetapi untuk membangunkan kesadaran. Tengok saja pada album musik mereka yang bertajuk Gelap Gempita.  Mereka berbicara tentang eksploitasi tenaga kerja, kerusakan lingkungan, dan ketimpangan sosial, hal-hal yang seharusnya menjadi diskusi publik, tetapi justru dianggap subversif oleh segelintir orang yang berkepentingan.

Sukatani membuktikan bahwa bahkan dalam skala kecil, musik bisa menjadi ancaman bagi mereka yang ingin mempertahankan status quo. Lagu-lagu mereka tidak hanya memprovokasi pemikiran, tetapi juga menginspirasi aksi. Dan seperti yang sudah sering terjadi dalam sejarah, ketika musik menjadi terlalu berpotensi bahaya, kekuasaan mulai merasa tidak nyaman. Dalam banyak kasus, band seperti ini menghadapi tekanan, baik dalam bentuk sensor, intimidasi, atau bahkan pembungkaman paksa.

Musik Saluran yang Aman untuk Protes?

Di satu sisi, musik memang lebih “halus” dibandingkan demonstrasi jalanan atau tulisan atau orasi politik yang langsung menohok. Lirik bisa disamarkan dalam metafora, nada bisa menyentuh emosi tanpa memicu konfrontasi fisik. Namun, apakah ini membuat musik benar-benar aman? Faktanya, tidak selalu demikian, saudara.

Victor Jara, musisi revolusioner dari Chile, dibunuh oleh rezim Pinochet karena lagu-lagunya yang menantang kekuasaan. Fela Kuti di Nigeria terus-menerus ditindas karena musiknya yang menyuarakan penderitaan rakyat. Bahkan di Indonesia, pada masa Orde Baru, banyak lagu yang dicekal karena dianggap mengganggu ketertiban, entah ketertiban milik siapa yang dimaksud. Band-band indie yang mengkritik pemerintah kerap juga mendapat tekanan halus, dari pembatalan konser hingga intimidasi terhadap personelnya.

Sebut saja S.I.D, Efek Rumah Kaca, Navicula, dan tentu banyak yang lain. Sukatani, meski hanya diklarifikasi dan tidak mengalami represi ekstrem seperti itu, tetap menghadapi tantangan yang sama. Musik mereka dianggap terlalu vokal, terlalu berbahaya, terlalu jujur. Ini menegaskan bahwa dalam banyak kasus, musik bukanlah ruang aman. Sebaliknya, ia adalah ruang idealisme di mana palu godam kreatifitas bisa mengguncang fondasi kekuasaan.

Kewaspadaan Penguasa terhadap Musik

Jika musik hanya sekadar hiburan, mengapa banyak penguasa merasa perlu membungkamnya? Jawabannya sederhana saja pembaca yang budiman, karena musik mampu membentuk suatu kesadaran kolektif. Sebuah lagu bisa mengubah cara berpikir seseorang, menciptakan jenis solidaritas tertentu, dan membakar api semangat perjuangan. Musik tidak hanya menghibur, tetapi juga mengedukasi dan memobilisasi massa. Potensinya sunguh besar dan luar biasa.

Ketakutan terhadap musik bukanlah hal baru. Dari sang “Fuhrer” Hitler yang melarang jazz karena dianggap “musik rendahan” hingga pemerintah Indonesia di masa lalu yang mencurigai lirik-lirik lagu tertentu sebagai pemicu keresahan. Semua ini menunjukkan bahwa mereka yang berkuasa memahami betul kekuatan musik.

Musik bisa mengubah opini publik lebih cepat daripada pidato politik atau artikel ilmiah populer seperti yang anda baca ini. Musik masuk ke alam bawah sadar manusia, meresap ke dalam emosi, dan tanpa disadari, membentuk pola pikir seseorang. Menurut saya ini hal ini benar-benar keren.

Musik dan Masa Depan Perlawanan

Mari kita kembali ke Sukatani sejenak. Lalu, apa yang bisa kita pelajari dari kasus Sukatani? Sederhana saja, musik tetap relevan sebagai alat perlawanan. Saat  ini teknologi memang telah mengubah cara kita mendistribusikan dan mengonsumsi musik, tetapi esensinya tetap saja sama. Musik tidak lagi harus melalui label besar atau radio untuk mencapai pendengar. Berbagai media sosial, platform streaming, dan komunitas independen telah membuka jalan lebar bagi suara-suara baru yang menantang dominasi narasi mainstream.

Namun, perlawanan melalui musik juga menuntut kecerdasan. Para musisi yang ingin menyuarakan kritik sosial harus menyadari betul risiko yang akan mereka hadapi dan menemukan cara agar bisa tetap bersuara tanpa mudah dibungkam. Musik harus menjadi lebih dari sekadar lagu protes, ia harus menjadi ruh pergerakan, sebuah alat yang dapat menyatukan, dan mendorong ke arah perubahan yang nyata.

Kasus Sukatani mengingatkan kita bahwa musik bukan sekadar seni, musik adalah pernyataan politik, senjata sosial, dan penggerak sejarah. Jika penguasa masih takut pada musik, itu artinya musik masih memiliki kekuatan. Dan selama masih ada ketidakadilan, musik akan selalu hadir, menjelma menjadi suara, bagi mereka yang tidak didengar.

Get up, stand up, Stand up for your right. Demikian tutur Bob Marley. Tabik.[T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis PETRUS IMAM PRAWOTO JATI

Misteri Layar Lebar: Mengapa Film Horor Merajai Bioskop Indonesia?
Pembatasan Media Sosial Kebijakan Tepat, tetapi Bukan Satu-Satunya Solusi
“Brain Rot” pada Anak: Virus Era Digital
Dunia Maya atau Dunia Nyata? Tren Media Sosial 2025
Tags: kekuasaanmusik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Di Meja Perjamuan Kekuasaan, Siapakah Sebenarnya yang Pegang Tali Kendali?

Next Post

Pemuda dan Pemerintah Kini Bisa Berinteraksi di Ruang RIPTA BASAbali Wiki

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

Read moreDetails

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
0
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

Read moreDetails

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails
Next Post
Pemuda dan Pemerintah Kini Bisa Berinteraksi di Ruang RIPTA BASAbali Wiki

Pemuda dan Pemerintah Kini Bisa Berinteraksi di Ruang RIPTA BASAbali Wiki

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Belajar dari Senat, Menyapa Semeru
Tualang

Belajar dari Senat, Menyapa Semeru

ADA perjalanan yang kita tempuh karena tugas. Ada perjalanan yang kita jalani karena kewajiban. Namun, sering kali justru di balik...

by Ahmad Sihabudin
October 26, 2026
Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026
Olahraga

Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026

SUASANA siang di kawasan dekat Pantai Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali, mendadak bergemuruh pada Minggu 25 Oktober 2026....

by Nyoman Budarsana
October 26, 2026
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan
Esai

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026
Khas

Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

SEPERTI apa kekuatan penuturan kisah lokal dalam karya sastra? Bagaimana seorang penulis memanfaatkan lanskap, identitas, dan pengalaman lokal untuk menciptakan...

by Rusdy Ulu
October 26, 2026
Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co