13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Di Meja Perjamuan Kekuasaan, Siapakah Sebenarnya yang Pegang Tali Kendali?

I Nengah Juliawan by I Nengah Juliawan
February 26, 2025
in Esai
Di Meja Perjamuan Kekuasaan, Siapakah Sebenarnya yang Pegang Tali Kendali?

Ilustrasi tatkala.co | Nengah Juliawan

“Tan hana wruh ri sang nata sangkeng sira nahan ya tan hana wruh ri sang nata sangkaning sira”

Tiada yang tahu kepada siapa raja harus setia, dan tiada yang tahu dari mana kesetiaan seorang raja berasal. (Kakawin Bharatayuda)

Di balik tirai kegelapan, ada tangan-tangan yang tak terlihat, menyusun hidangan bagi mereka yang lapar akan kuasa. Di meja panjang yang berpendar cahaya lilin, janji dan kesetiaan bukanlah sekadar kata-kata, melainkan hidangan utama yang tersaji di atas piring emas. Siapa yang berani menolak jamuan itu, niscaya akan kehilangan tempat duduknya. Namun, siapa yang menyantapnya, tak akan pernah bebas dari utang yang tak kasat mata.

Raja Salya, Perjamuan dan Kehormatan

DI sebuah senja yang redup, ketika langit mulai menyulam jingga dan angin berbisik lirih di antara tenda-tenda perkemahan, Raja Salya tiba dengan langkah penuh wibawa. Niat hatinya hendak bergabung dengan keponakannya, Yudhishthira, dalam perang besar yang akan mengguncang daratan Bharata.

Namun, di tengah perjalanan, Duryodana telah merajut renda siasat licik, dengan jamuan yang megah dan hidangan yang menggoda, ia menyambut Salya bak tamu agung. Piala emas berisi anggur tertuang tanpa henti, sementara kerawang saling ngumbang ngisep mengiringi perjamuan yang penuh kehormatan.

Salya duduk di singgasana kehormatan, dan tanpa perlawanan setiap hidangan menyentuh lidahnya dengan kelembutan yang menipu. Jamuan itu bukan sekadar persembahan, melainkan jaring halus yang merayap di sekelilingnya, membelit, mengikat tanpa terasa.

Hidangan istimewa silih berganti menghampiri Salya dengan aroma rempah menelisik tepat ke relung hatinya, membisikkan kemewahan dan prestige yang sulit ditolak.

Duryodana, dengan senyum penuh makna, akhirnya bangkit. Udara seolah menegang, dan kata-kata yang meluncur dari bibirnya bagaikan rantai tak kasat mata.

“Wahai Raja Salya, betapa bahagianya aku menjamumu. Kini, jika engkau berkenan, berikrarlah untuk memberikan segala kecerdasan dan kekuatanmu kepadaku dalam perang besar yang akan datang!”

Saat itu, kehormatan Salya menggeliat dalam dirinya, bukan lagi sebuah kebanggaan, melainkan belenggu yang mencengkeram. Ia merasakan utang budi mengendap dalam darahnya, berdenyut di setiap nadi, menuntut balas.

“Sira tan hana sukaning dharma, nihan janma samyag asudha” (Tiada kebahagiaan dalam dharma jika manusia masih terikat oleh utang budi) — ‘Kakawin Arjunawiwaha’.

Seorang ksatria tak mungkin mengingkari penghormatan yang telah ia terima. Maka, dengan suara yang bergetar antara kewajiban dan nurani, ia mengucapkan sumpah setia kepada Duryodana. Namun, di kedalaman jiwanya, kesetiaan sejatinya tetap berbisik pelan pada Pandawa, lirih seperti angin yang enggan meninggalkan senja.

Begitulah sepenggal umum kisah Raja Madra (Salya), hingga saat ini kerap dijadikan sesenggakan “Politik Salya”.

Budaya Balas Budi

Konsep balas budi muncul sebagai pisau bermata dua, hal ini disebabkan karena nilai hutang budi akan mengakar dalam relasi sosial dan politik. Jika seseorang telah menerima kebaikan atau bantuan dari pihak lain, ada kewajiban moral untuk membalasnya, bahkan jika itu bertentangan dengan kepentingan pribadi.

Dalam konteks politik, budaya balas budi ini sering kali dimanfaatkan untuk membangun loyalitas dan koalisi kekuasaan. Seorang pemimpin yang telah menerima dukungan finansial atau politik dari pihak tertentu akan merasa berkewajiban untuk memberikan imbalan dalam bentuk kebijakan, proyek, atau posisi strategis.

Seperti Salya yang terikat oleh kehormatan dan etika ksatria, banyak pemimpin modern yang juga terikat oleh norma sosial dan tradisi yang mewajibkan mereka membalas kebaikan yang telah diterima.

Fenomena ini dapat kita lihat dalam berbagai aspek kehidupan politik kontemporer. Apabila para pemimpin yang telah menerima dukungan politik atau finansial dari suatu kelompok cenderung merasa berkewajiban untuk mengakomodasi kepentingan pemberi dukungan tersebut, sering kali dengan mengorbankan independensi dan prinsip idealisme yang seharusnya dijunjung tinggi.

Di tingkat lokal, politik balas budi juga terlihat dalam hubungan antara pemilih dan kandidat. Dalam tradisi politik patronase, banyak kandidat yang memberikan bantuan atau sumbangan kepada masyarakat sebagai bentuk “investasi politik”.

Setelah mereka terpilih, masyarakat yang merasa berhutang budi cenderung mendukung kebijakan atau keputusan pemimpin tersebut, meskipun tidak selalu menguntungkan kepentingan umum.

Dalam masyarakat tradisional, balas budi bisa menjadi alat untuk memperkuat hubungan sosial, tetapi dalam politik, hal ini bisa berubah menjadi instrumen kendali yang membatasi independensi seseorang dalam mengambil keputusan yang terbaik bagi kepentingan umum.

Oleh karena itu, penting bagi kita untuk memahami bahwa meskipun balas budi adalah nilai budaya yang luhur, dalam politik, nilai ini harus diterapkan secara bijak agar tidak menjadi beban yang menghambat kemajuan dan kesejahteraan bersama.

Apakah Kita Semua adalah Salya?

Kisah ini mengajak kita untuk berpikir lebih dalam: dalam kehidupan sehari-hari, sejauh mana kita bisa tetap berpegang pada prinsip tanpa terjebak dalam skema politik transaksional?

Apakah kita bisa menolak “jamuan” yang diberikan oleh pihak yang memiliki agenda terselubung? Ataukah, seperti Salya, kita harus memainkan peran diplomatis dengan tetap menjaga prinsip meskipun berada di kubu yang tidak kita pilih?

Epos Mahabharata mengajarkan bahwa dunia politik tidak hitam dan putih. Dalam konteks hari ini, memahami strategi politik seperti yang dialami Salya dapat membantu kita lebih kritis dalam melihat dinamika kekuasaan dan diplomasi yang terjadi di sekitar kita.

Pada akhirnya, pertanyaan yang tersisa adalah: jika kita di posisi Salya, keputusan apa yang akan kita ambil? [T]

Penulis: I Nengah Juliawan
Editor: Adnyana Ole

  • BACA artikel lain dari penulis I NENGAH JULIAWAN
Memimpin Atas Dasar Tri Ulahing Budhi
“Bayanganku Lebih Baik” – Jadilah Bayangan Diri, Bukan Orang Lain
Petaka Fussy Diri, “Lali Ring Awak” – Mengenang Karya I Gusti Ngurah Made Agung
SDM Unggul [Melalui Bahasa, Sastra dan Aksara] Indonesia Maju
“Mecik Manggis”, Kunci Prestasi Fiksi
Tags: BharatayudaBudayakekuasaankisah mahabharataMahabharataPolitik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Acara Baku dan Acara Buku dalam Bulan Bahasa Bali SMPN 14 Denpasar

Next Post

Merenungkan Musik; Sukatani, Perlawanan, dan Penguasa

I Nengah Juliawan

I Nengah Juliawan

Lahir di Denpasar. Kini dosen di STAHN Mpu Kuturan Singaraja

Related Posts

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails

KEPEMIMPINAN ‘BALANG TAMAK’: BELILAH PUJIAN KETIKA RAKYAT MEMBENCIMU

by Sugi Lanus
July 7, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

Catatan Harian Sugi Lanus, 7 Juli 2026 Alkisah Balang Tamak, tokoh cerdik sekaligus satir dalam cerita rakyat Bali, pernah berpesan...

Read moreDetails
Next Post
Merenungkan Musik; Sukatani, Perlawanan, dan Penguasa

Merenungkan Musik; Sukatani, Perlawanan, dan Penguasa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co