23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Di Meja Perjamuan Kekuasaan, Siapakah Sebenarnya yang Pegang Tali Kendali?

I Nengah Juliawan by I Nengah Juliawan
February 26, 2025
in Esai
Di Meja Perjamuan Kekuasaan, Siapakah Sebenarnya yang Pegang Tali Kendali?

Ilustrasi tatkala.co | Nengah Juliawan

“Tan hana wruh ri sang nata sangkeng sira nahan ya tan hana wruh ri sang nata sangkaning sira”

Tiada yang tahu kepada siapa raja harus setia, dan tiada yang tahu dari mana kesetiaan seorang raja berasal. (Kakawin Bharatayuda)

Di balik tirai kegelapan, ada tangan-tangan yang tak terlihat, menyusun hidangan bagi mereka yang lapar akan kuasa. Di meja panjang yang berpendar cahaya lilin, janji dan kesetiaan bukanlah sekadar kata-kata, melainkan hidangan utama yang tersaji di atas piring emas. Siapa yang berani menolak jamuan itu, niscaya akan kehilangan tempat duduknya. Namun, siapa yang menyantapnya, tak akan pernah bebas dari utang yang tak kasat mata.

Raja Salya, Perjamuan dan Kehormatan

DI sebuah senja yang redup, ketika langit mulai menyulam jingga dan angin berbisik lirih di antara tenda-tenda perkemahan, Raja Salya tiba dengan langkah penuh wibawa. Niat hatinya hendak bergabung dengan keponakannya, Yudhishthira, dalam perang besar yang akan mengguncang daratan Bharata.

Namun, di tengah perjalanan, Duryodana telah merajut renda siasat licik, dengan jamuan yang megah dan hidangan yang menggoda, ia menyambut Salya bak tamu agung. Piala emas berisi anggur tertuang tanpa henti, sementara kerawang saling ngumbang ngisep mengiringi perjamuan yang penuh kehormatan.

Salya duduk di singgasana kehormatan, dan tanpa perlawanan setiap hidangan menyentuh lidahnya dengan kelembutan yang menipu. Jamuan itu bukan sekadar persembahan, melainkan jaring halus yang merayap di sekelilingnya, membelit, mengikat tanpa terasa.

Hidangan istimewa silih berganti menghampiri Salya dengan aroma rempah menelisik tepat ke relung hatinya, membisikkan kemewahan dan prestige yang sulit ditolak.

Duryodana, dengan senyum penuh makna, akhirnya bangkit. Udara seolah menegang, dan kata-kata yang meluncur dari bibirnya bagaikan rantai tak kasat mata.

“Wahai Raja Salya, betapa bahagianya aku menjamumu. Kini, jika engkau berkenan, berikrarlah untuk memberikan segala kecerdasan dan kekuatanmu kepadaku dalam perang besar yang akan datang!”

Saat itu, kehormatan Salya menggeliat dalam dirinya, bukan lagi sebuah kebanggaan, melainkan belenggu yang mencengkeram. Ia merasakan utang budi mengendap dalam darahnya, berdenyut di setiap nadi, menuntut balas.

“Sira tan hana sukaning dharma, nihan janma samyag asudha” (Tiada kebahagiaan dalam dharma jika manusia masih terikat oleh utang budi) — ‘Kakawin Arjunawiwaha’.

Seorang ksatria tak mungkin mengingkari penghormatan yang telah ia terima. Maka, dengan suara yang bergetar antara kewajiban dan nurani, ia mengucapkan sumpah setia kepada Duryodana. Namun, di kedalaman jiwanya, kesetiaan sejatinya tetap berbisik pelan pada Pandawa, lirih seperti angin yang enggan meninggalkan senja.

Begitulah sepenggal umum kisah Raja Madra (Salya), hingga saat ini kerap dijadikan sesenggakan “Politik Salya”.

Budaya Balas Budi

Konsep balas budi muncul sebagai pisau bermata dua, hal ini disebabkan karena nilai hutang budi akan mengakar dalam relasi sosial dan politik. Jika seseorang telah menerima kebaikan atau bantuan dari pihak lain, ada kewajiban moral untuk membalasnya, bahkan jika itu bertentangan dengan kepentingan pribadi.

Dalam konteks politik, budaya balas budi ini sering kali dimanfaatkan untuk membangun loyalitas dan koalisi kekuasaan. Seorang pemimpin yang telah menerima dukungan finansial atau politik dari pihak tertentu akan merasa berkewajiban untuk memberikan imbalan dalam bentuk kebijakan, proyek, atau posisi strategis.

Seperti Salya yang terikat oleh kehormatan dan etika ksatria, banyak pemimpin modern yang juga terikat oleh norma sosial dan tradisi yang mewajibkan mereka membalas kebaikan yang telah diterima.

Fenomena ini dapat kita lihat dalam berbagai aspek kehidupan politik kontemporer. Apabila para pemimpin yang telah menerima dukungan politik atau finansial dari suatu kelompok cenderung merasa berkewajiban untuk mengakomodasi kepentingan pemberi dukungan tersebut, sering kali dengan mengorbankan independensi dan prinsip idealisme yang seharusnya dijunjung tinggi.

Di tingkat lokal, politik balas budi juga terlihat dalam hubungan antara pemilih dan kandidat. Dalam tradisi politik patronase, banyak kandidat yang memberikan bantuan atau sumbangan kepada masyarakat sebagai bentuk “investasi politik”.

Setelah mereka terpilih, masyarakat yang merasa berhutang budi cenderung mendukung kebijakan atau keputusan pemimpin tersebut, meskipun tidak selalu menguntungkan kepentingan umum.

Dalam masyarakat tradisional, balas budi bisa menjadi alat untuk memperkuat hubungan sosial, tetapi dalam politik, hal ini bisa berubah menjadi instrumen kendali yang membatasi independensi seseorang dalam mengambil keputusan yang terbaik bagi kepentingan umum.

Oleh karena itu, penting bagi kita untuk memahami bahwa meskipun balas budi adalah nilai budaya yang luhur, dalam politik, nilai ini harus diterapkan secara bijak agar tidak menjadi beban yang menghambat kemajuan dan kesejahteraan bersama.

Apakah Kita Semua adalah Salya?

Kisah ini mengajak kita untuk berpikir lebih dalam: dalam kehidupan sehari-hari, sejauh mana kita bisa tetap berpegang pada prinsip tanpa terjebak dalam skema politik transaksional?

Apakah kita bisa menolak “jamuan” yang diberikan oleh pihak yang memiliki agenda terselubung? Ataukah, seperti Salya, kita harus memainkan peran diplomatis dengan tetap menjaga prinsip meskipun berada di kubu yang tidak kita pilih?

Epos Mahabharata mengajarkan bahwa dunia politik tidak hitam dan putih. Dalam konteks hari ini, memahami strategi politik seperti yang dialami Salya dapat membantu kita lebih kritis dalam melihat dinamika kekuasaan dan diplomasi yang terjadi di sekitar kita.

Pada akhirnya, pertanyaan yang tersisa adalah: jika kita di posisi Salya, keputusan apa yang akan kita ambil? [T]

Penulis: I Nengah Juliawan
Editor: Adnyana Ole

  • BACA artikel lain dari penulis I NENGAH JULIAWAN
Memimpin Atas Dasar Tri Ulahing Budhi
“Bayanganku Lebih Baik” – Jadilah Bayangan Diri, Bukan Orang Lain
Petaka Fussy Diri, “Lali Ring Awak” – Mengenang Karya I Gusti Ngurah Made Agung
SDM Unggul [Melalui Bahasa, Sastra dan Aksara] Indonesia Maju
“Mecik Manggis”, Kunci Prestasi Fiksi
Tags: BharatayudaBudayakekuasaankisah mahabharataMahabharataPolitik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Acara Baku dan Acara Buku dalam Bulan Bahasa Bali SMPN 14 Denpasar

Next Post

Merenungkan Musik; Sukatani, Perlawanan, dan Penguasa

I Nengah Juliawan

I Nengah Juliawan

Lahir di Denpasar. Kini dosen di STAHN Mpu Kuturan Singaraja

Related Posts

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails

Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

by Dede Putra Wiguna
August 18, 2026
0
Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

SETIAP kali upacara bendera dimulai, ada orang-orang yang berdiri di bawah matahari dan ada pula yang di bawah tenda. Yang...

Read moreDetails
Next Post
Merenungkan Musik; Sukatani, Perlawanan, dan Penguasa

Merenungkan Musik; Sukatani, Perlawanan, dan Penguasa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co