23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Di Meja Perjamuan Kekuasaan, Siapakah Sebenarnya yang Pegang Tali Kendali?

I Nengah Juliawan by I Nengah Juliawan
February 26, 2025
in Esai
Di Meja Perjamuan Kekuasaan, Siapakah Sebenarnya yang Pegang Tali Kendali?

Ilustrasi tatkala.co | Nengah Juliawan

“Tan hana wruh ri sang nata sangkeng sira nahan ya tan hana wruh ri sang nata sangkaning sira”

Tiada yang tahu kepada siapa raja harus setia, dan tiada yang tahu dari mana kesetiaan seorang raja berasal. (Kakawin Bharatayuda)

Di balik tirai kegelapan, ada tangan-tangan yang tak terlihat, menyusun hidangan bagi mereka yang lapar akan kuasa. Di meja panjang yang berpendar cahaya lilin, janji dan kesetiaan bukanlah sekadar kata-kata, melainkan hidangan utama yang tersaji di atas piring emas. Siapa yang berani menolak jamuan itu, niscaya akan kehilangan tempat duduknya. Namun, siapa yang menyantapnya, tak akan pernah bebas dari utang yang tak kasat mata.

Raja Salya, Perjamuan dan Kehormatan

DI sebuah senja yang redup, ketika langit mulai menyulam jingga dan angin berbisik lirih di antara tenda-tenda perkemahan, Raja Salya tiba dengan langkah penuh wibawa. Niat hatinya hendak bergabung dengan keponakannya, Yudhishthira, dalam perang besar yang akan mengguncang daratan Bharata.

Namun, di tengah perjalanan, Duryodana telah merajut renda siasat licik, dengan jamuan yang megah dan hidangan yang menggoda, ia menyambut Salya bak tamu agung. Piala emas berisi anggur tertuang tanpa henti, sementara kerawang saling ngumbang ngisep mengiringi perjamuan yang penuh kehormatan.

Salya duduk di singgasana kehormatan, dan tanpa perlawanan setiap hidangan menyentuh lidahnya dengan kelembutan yang menipu. Jamuan itu bukan sekadar persembahan, melainkan jaring halus yang merayap di sekelilingnya, membelit, mengikat tanpa terasa.

Hidangan istimewa silih berganti menghampiri Salya dengan aroma rempah menelisik tepat ke relung hatinya, membisikkan kemewahan dan prestige yang sulit ditolak.

Duryodana, dengan senyum penuh makna, akhirnya bangkit. Udara seolah menegang, dan kata-kata yang meluncur dari bibirnya bagaikan rantai tak kasat mata.

“Wahai Raja Salya, betapa bahagianya aku menjamumu. Kini, jika engkau berkenan, berikrarlah untuk memberikan segala kecerdasan dan kekuatanmu kepadaku dalam perang besar yang akan datang!”

Saat itu, kehormatan Salya menggeliat dalam dirinya, bukan lagi sebuah kebanggaan, melainkan belenggu yang mencengkeram. Ia merasakan utang budi mengendap dalam darahnya, berdenyut di setiap nadi, menuntut balas.

“Sira tan hana sukaning dharma, nihan janma samyag asudha” (Tiada kebahagiaan dalam dharma jika manusia masih terikat oleh utang budi) — ‘Kakawin Arjunawiwaha’.

Seorang ksatria tak mungkin mengingkari penghormatan yang telah ia terima. Maka, dengan suara yang bergetar antara kewajiban dan nurani, ia mengucapkan sumpah setia kepada Duryodana. Namun, di kedalaman jiwanya, kesetiaan sejatinya tetap berbisik pelan pada Pandawa, lirih seperti angin yang enggan meninggalkan senja.

Begitulah sepenggal umum kisah Raja Madra (Salya), hingga saat ini kerap dijadikan sesenggakan “Politik Salya”.

Budaya Balas Budi

Konsep balas budi muncul sebagai pisau bermata dua, hal ini disebabkan karena nilai hutang budi akan mengakar dalam relasi sosial dan politik. Jika seseorang telah menerima kebaikan atau bantuan dari pihak lain, ada kewajiban moral untuk membalasnya, bahkan jika itu bertentangan dengan kepentingan pribadi.

Dalam konteks politik, budaya balas budi ini sering kali dimanfaatkan untuk membangun loyalitas dan koalisi kekuasaan. Seorang pemimpin yang telah menerima dukungan finansial atau politik dari pihak tertentu akan merasa berkewajiban untuk memberikan imbalan dalam bentuk kebijakan, proyek, atau posisi strategis.

Seperti Salya yang terikat oleh kehormatan dan etika ksatria, banyak pemimpin modern yang juga terikat oleh norma sosial dan tradisi yang mewajibkan mereka membalas kebaikan yang telah diterima.

Fenomena ini dapat kita lihat dalam berbagai aspek kehidupan politik kontemporer. Apabila para pemimpin yang telah menerima dukungan politik atau finansial dari suatu kelompok cenderung merasa berkewajiban untuk mengakomodasi kepentingan pemberi dukungan tersebut, sering kali dengan mengorbankan independensi dan prinsip idealisme yang seharusnya dijunjung tinggi.

Di tingkat lokal, politik balas budi juga terlihat dalam hubungan antara pemilih dan kandidat. Dalam tradisi politik patronase, banyak kandidat yang memberikan bantuan atau sumbangan kepada masyarakat sebagai bentuk “investasi politik”.

Setelah mereka terpilih, masyarakat yang merasa berhutang budi cenderung mendukung kebijakan atau keputusan pemimpin tersebut, meskipun tidak selalu menguntungkan kepentingan umum.

Dalam masyarakat tradisional, balas budi bisa menjadi alat untuk memperkuat hubungan sosial, tetapi dalam politik, hal ini bisa berubah menjadi instrumen kendali yang membatasi independensi seseorang dalam mengambil keputusan yang terbaik bagi kepentingan umum.

Oleh karena itu, penting bagi kita untuk memahami bahwa meskipun balas budi adalah nilai budaya yang luhur, dalam politik, nilai ini harus diterapkan secara bijak agar tidak menjadi beban yang menghambat kemajuan dan kesejahteraan bersama.

Apakah Kita Semua adalah Salya?

Kisah ini mengajak kita untuk berpikir lebih dalam: dalam kehidupan sehari-hari, sejauh mana kita bisa tetap berpegang pada prinsip tanpa terjebak dalam skema politik transaksional?

Apakah kita bisa menolak “jamuan” yang diberikan oleh pihak yang memiliki agenda terselubung? Ataukah, seperti Salya, kita harus memainkan peran diplomatis dengan tetap menjaga prinsip meskipun berada di kubu yang tidak kita pilih?

Epos Mahabharata mengajarkan bahwa dunia politik tidak hitam dan putih. Dalam konteks hari ini, memahami strategi politik seperti yang dialami Salya dapat membantu kita lebih kritis dalam melihat dinamika kekuasaan dan diplomasi yang terjadi di sekitar kita.

Pada akhirnya, pertanyaan yang tersisa adalah: jika kita di posisi Salya, keputusan apa yang akan kita ambil? [T]

Penulis: I Nengah Juliawan
Editor: Adnyana Ole

  • BACA artikel lain dari penulis I NENGAH JULIAWAN
Memimpin Atas Dasar Tri Ulahing Budhi
“Bayanganku Lebih Baik” – Jadilah Bayangan Diri, Bukan Orang Lain
Petaka Fussy Diri, “Lali Ring Awak” – Mengenang Karya I Gusti Ngurah Made Agung
SDM Unggul [Melalui Bahasa, Sastra dan Aksara] Indonesia Maju
“Mecik Manggis”, Kunci Prestasi Fiksi
Tags: BharatayudaBudayakekuasaankisah mahabharataMahabharataPolitik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Acara Baku dan Acara Buku dalam Bulan Bahasa Bali SMPN 14 Denpasar

Next Post

Merenungkan Musik; Sukatani, Perlawanan, dan Penguasa

I Nengah Juliawan

I Nengah Juliawan

Lahir di Denpasar. Kini dosen di STAHN Mpu Kuturan Singaraja

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Merenungkan Musik; Sukatani, Perlawanan, dan Penguasa

Merenungkan Musik; Sukatani, Perlawanan, dan Penguasa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co