3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Petaka Fussy Diri, “Lali Ring Awak” – Mengenang Karya I Gusti Ngurah Made Agung

I Nengah Juliawan by I Nengah Juliawan
September 20, 2019
in Esai
Petaka Fussy Diri, “Lali Ring Awak” – Mengenang Karya I Gusti Ngurah Made Agung

Cokorda Mantuk Ring Rana

Cokorda Mantuk Ring Rana: “Mati Tan Tumut Pejah”

20 September 1906, tepat 103 tahun yang lalu kita telah kehilangan sosok pemimpin (Raja) bahkan sastrawan hebat di masanya, dimana setiap karyanya memiliki arti dan makna yang mendalam, tentunya menuntun para pembaca melihat jauh kedalam diri, akan arti kehidupan, kepemimpinan, budaya, sosial dan etika.

Beliau adalah I Gusti Ngurah Made Agung atau dikenal dengan nama Cokorda Denpasar dan Cokorda Mantuk Ring Rana

Salah satu karya terbesar beliau terkait tentang kehancuran zaman dengan menyusun dan menceritakan kembali cerita-cerita yang mengandung uraian tentang ciri-ciri kehancuran zaman atau bangsa itu sendiri. Karya tersebut tertulis indah nan megah dalam balutan bentuk geguritan yang berjudul Purwa Sanghara.

Melirik pada zaman ini, menurut pandangan sisi Agama Hindu, umat manusia telah memasuki fase zaman Kali Yuga dimana jika dipersentasekan tingkat kebenaran berbanding keburukan yakni 30% (Dharma) 70% (Adharma),yang mana nilai-nilai kebenaran telah terdegradasi, wiweka tak lagi ada fungsi dengan maraknya manusia-manusia pembawa wabah benih-benih kebencian yang mengatasnamakan agama serta menistakan peradaban rohani kepercayaan lain dengan mencela serta menghina penganut agama minoritas beserta orang-orang sucinya. 

Hal itu dilakukan hanya sebatas ingin ada pengakuan bentuk dari eksistensi diri yang saat ini dikenal dengan istilah Fussy, dimana kondisi seseorang yang ingin meminta perhatian besar padahal mereka hanya melakukan hal sepele, bahkan cenderung menjatuhkan keberadaan seseorang , teriak-teriak butuh pengakuan bahwa dialah adalah yang pantas, mahabenar serta segala bentuk egoisitas lainya yang menunjukkan individualitas.

 Zaman kehancuran atau yang disebut Kali Sanghara dalam geguritan Purwa Sanghara menyatakan sebagai ciri-ciri kehancuran zaman yang telah terpampang jelas, bukan karena pihak luar ataupun sekitar, namun kehancuran itu datang dari sumber yang sangat dekat tiada lain adalah manusia itu sendiri, dari dalam dirinya sendiri. Segala bentuk ativitas yang dipenuhi tipu muslihat dengan pikiran-pikiran kotor, namun berpakaian layaknya orang suci, berbicara tentang agama dengan pemaknaannya sendiri, tanpa merujuk tutur-tutur dharma, seolah-olah manyangsikan kebenaran itu sendiri.

Sebagai contoh yang merebak dimasyarakat saat ini, tentang fussy perubahan status dalam penamaan yang menjadi sebuah prestige dalam kebanggan diri, yakni terkait penamaan “Jro”, dapat dikatakan pikirannya sudah pecah dan bingung tentang bagaimana makna sesungguhnya jika menyandang nama “jro” tersebut.

Jika ditelaah dengan saksama kata “jro” secara harfiah kata berasal dari jero > jeroan yang berarti di dalam, yang dalam tatanan suci umat Hindu yakni utamaning mandala, jadi orang-orang yang memang benar-benar pantas dan berprilaku dharma serta telah menyucikan dirinya dalam proses inisiasi atau Pawintenan, tapi untuk saat ini kebutuhan akan pengakuan diri, agar kasengguh jro (dikenal sebagai jro) maka akan berpenampilan berlebihan untuk menunjang fussy atau eksistensi dirinya, salah satunya jika sudah mengenakan amed lan masaput poleng (hitam-putih) kasengguh jro.

Dalam Purwa Sanghara telah dijelaskan dengan sejelas-jelasnya bahwa manusia telah kehilangan jati dirinya bahkan kurang harga diri, kurang awas dan Tuna Panrima (tuna kemampuan kritis) sebab manusia sudah tidak mengenal dirinya lagi (Lali Ring Awak), fussy menjadi kepentingan utama dimana sebuah eksistensi yang tujuan terdepan.

Disebutkan hitam tentunya karena adanya putih, sama halnya dengan polemik yang terjadi saat ini, dimana fussy menjadi tajuk utama yang telah merenggut nilai-nilai etika dan moral manusia hingga Lali Ring Awak, tentu dalam Purwa Sanghara, Cokorda Mantuk Ring Rana telah menuliskan keyakinan beliau tentang  kebenaran dalam mengarungi Kali Sanghara dengan mempersonifikasikannya sebagai lautan dengan solusi perahu yang kokoh, yakni sebagai berikut:

“Reh kocap tan saking sastra, tan mantra tatan mas manik, sida manulak sanghara, kewala sane asiki, kasusilaning budi, punika kangken perau, kukuh kaliwat-liwat, tuara keweh tempuh angin, sida mentas saking sanghara sagara”.

Yang jika diterjemahkan adalah sebab tidak dengan sastra, tidak dengan mantra maupun emas permata yang dapat menolak Sanghara, hanya satu, yaitu kasusilaning budi (tingkah laku budi yang baik), itulah bagaikan perahu yang sangat kokoh, angin pun tidak dapat mengombang ambingkan, sehingga dapat menyebrangi lautan Sanghara.

Dilanjutkan dengan kalimat: “Yan ande-andeyang rasa, rasaning susilaning budi, punika satsat amerta, menyerambah ring sarwa budi nguripang sarwa sandi” yakni : jika diumpamakan sebagai rasa, rasa kesusilaan budi itu bagaikan amerta (keabadian) yang menyusup ke dalam pikiran dan menghidupkan seluruh badan.


BACA JUGA:

  • Cokorda Denpasar, Pemimpin Berorangtuakan Sastra #Renungan Hari Puputan Badung

Cokorda Mantuk Ring Rana mengingatkan bahwa “Reh hyang dharma rikala kali, tan wenten mengaku”, (kebenaran itu ditinggalkan orang, tak ada yang mengakuinya) itulah yang telah terjadi saat ini namun, meskipun dunia ini telah memasuki fase-fase kritis, dimana para penghuninya (manusia) tersebut mengalami degradasi moral, etika dan sosial yang hanya untuk memenuhi kepentingan diri akan keberadaanya.

Kita sebagai salah satu dari 30% manusia-manusia “eling” (sadar) hendaknya tetap kokoh dan berpegangan teguh pada ajaran dharma dengan berbuat sesuai dengan kasusilaning budi mangda tan lali ring awak, sehingga dapat mempaparkan vibrasi-vibrasi positif yang telah dititipkan oleh Sang Raja pemimpin pasukan puputan badung melalui Purwa Sanghara, niscaya 30% kesadaran dharma ini akan berkembang menjadi 100%.  Percayalah. [T]

Tags: baliCokorda Mantuk Ring RanakerajaanPuputan Badungsastra
Share28TweetSendShareSend
Previous Post

Cokorda Denpasar, Pemimpin Berorangtuakan Sastra #Renungan Hari Puputan Badung

Next Post

Kepercayaan Tentang Kepala Desa

I Nengah Juliawan

I Nengah Juliawan

Lahir di Denpasar. Kini dosen di STAHN Mpu Kuturan Singaraja

Related Posts

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails
Next Post
Priayi Kecil

Kepercayaan Tentang Kepala Desa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co