16 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Manusia Toksin: Menelan Fitnah Menolak Fakta

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
June 18, 2025
in Esai
Syair Pilu Berbalut Nada, Dari Ernest Hemingway Hingga Bob Dylan

Ahmad Sihabudin

Memuliakan manusia berarti memuliakan penciptanya. Merendahkan manusia berarti merendahkan dan menistakan penciptanya.

.- Gus Dur.,

Drama ijazah palsu yang terus disuarakan oleh sekelompok orang, lama kelamaan dapat menjadi toksin sosial, yaitu terganggunya psikis masyarakat oleh suara-suara sumbang yang ditiupkan hampir setiap hari lewat media massa dan media sosial, lewat berbagai rupa, kemasan acara.  

Istilah  toxic people atau ada juga yang menyebutnya toksin sosial mungkin sudah tidak asing lagi. Istilah ini diungkapkan untuk orang  yang beracun atau memberikan dampak buruk terhadap psikis orang lain, membuat tidak nyaman lingkungan secara psikis.

Masyarakat mungkin sudah banyak dan cenderung terpapar oleh virus yang disebarkan oleh “manusia toksis”, baik sebagai pengikutnya maupun yang anti pernyataan “ijazah palsu” tersebut.

Buktinya ruang diskusi publik, media kita sangat ramai oleh pro-kontra, yang harusnya sudah selesai ketika Bareskrim Polri menyatakan ijazah tersebut identik, setelah diuji di laboratorium forensik, bahkan sebelumnya pihak Universitas Gajah Mada juga sudah menyatakan asli, juga lembaga negara KPU, KPUD juga menyatakan clear asli.

Inilah masalahnya kelompok ini terus menarasikan “ijazah palsu” cenderung memaksakan kehendak, mencari-cari dalih, alasan ini-itu, menolak semua pernyataan resmi institusi negara, pengadilan harus segera digelar agar perkara ini cepat selesai, sehingga dapat mengurangi manusia toksin berkembang biak.

Toxic sering digunakan untuk menggambarkan sesuatu yang “beracun” secara emosional atau psikologis.  Dalam koteks sosial sifat toxic ini perilaku yang sangat tidak menyenangkan, cenderung mengundang permusuhan, selalu mencari-cari kesalahan orang lain, menghasut sana-sini, mengadu domba dan kerap memutarbalikan fakta. Kalau dalam dunia pewayangan sering disebut “sengkuni”.

Sifat ini tentu harus dibasmi, kalau bisa kita terhindar dari  toxic sosial ini, karena dapat mengganggu kenyamanan orang lain, membuat dijauhi banyak orang, hingga membuat kita sulit untuk memiliki hubungan sosial yang baik.

Salah satu cara untuk menghindari sifat toksin ini adalah, sebelum menilai orang lain, ada baiknya kita instrospeksi diri terlebih dahulu,  mungkin saja kitalah yang justru membawa racun atau memberi dampak buruk terhadap orang lain, dan lingkungan masyarakat.

Sifat-sifat negatif yang dibawa oleh manusia toxic, seperti iri hati, kebencian, manipulasi, dan kebiasaan menyebarkan keburukan, tidak hanya merusak hubungan interpersonal, tetapi juga mengancam keharmonisan masyarakat (https://uin-alauddin.ac.id/tulisan/detail/manusia-toxic–bahaya-dampak-dan-solusi-islami-untuk-kehidupan-bermakna–1224# )

                                                          ***

Kelompok orang yang terus nyinyir pada soal ijazah Jokowi, keluarga Jokowi, dan segala kebijakan masa pemerintahan sebagai Presiden ke-7, dapat juga kita kelompokan sebagai manusia toxic, bila kita perhatikan sifat, sikapnya mau menang sendiri, dengan menyebarkan informasi yang sangat sulit dipertanggungjawabkan. Menghina dan mengingkari institusi resmi negara, pokoknya hanya keterangan mereka yang paling benar. Mereka menelan fitnah yang mereka sebarkan, menolak semua fakta yang disampaikan semua lembaga.

Sifat toxic secara umum memiliki ciri yang membuat seseorang sulit untuk berinteraksi dengan orang lain karena sikapnya yang negatif, merusak, dan tidak sehat. Orang dengan sifat toxic sering kali suka mengkritik, tidak bisa menerima kritik, dan sulit untuk meminta maaf. Mereka juga cenderung egois, manipulatif, dan tidak memiliki empati (https://uin-alauddin.ac.id/tulisan/detail/manusia-toxic–bahaya-dampak-dan-solusi-islami-untuk-kehidupan-bermakna–1224# )

 Ciri-ciri sifat toxic tersebut, berikut ini.  Suka mengkritik orang lain tetapi tidak suka mendapat kritikan, dengan kritikan yang terlalu kasar dan cenderung fitnah, sangat berlebihan, ini dapat melukai perasaan orang yang dikritik. Terlalu mencampuri urusan orang lain, bahkan yang sifatnya pribadi, dengan menggunakan bahasa yang tidak sopan dan halus (https://www.djkn.kemenkeu.go.id/kpknl-jakarta2/baca-artikel/14375/Basmi-Sifat-Toxic-Dalam-Diri.html)

Sifat yang menonjol dari manusia toksin, sulit meminta maaf dan tidak mau disalahkan. Manusia toksin selalu merasa dirinya benar dan sangat sulit mengucapkan kata maaf. Bahkan, mereka menyalahkan orang lain atas kesalahannya sendiri. Hal ini juga biasa disebut playing victim—bereaksi seolah ia korban, padahal ialah pelakunya.

Terlalu terobsesi dengan diri sendiri, secara berlebihan ini ditandai dengan suka menyombongkan diri, senang merendahkan orang lain, tidak suka disaingi orang lain, iri hati atas kesenangan orang lain, dan masih ada beberapa lagi prilaku toxic. Dari beberapa sifat toxic, adakah pada diri kita sifat tersebut? Semoga tidak terjangkit.

Untuk menghindari sifat ini, caranya adalah memperkuat landasan keimanan kita, menjalankan ibadah agama kita dengan keikhlasan, keimanan sejati pada kitab suci keyakinan kita, untuk menjauhi perilaku buruk dan menanamkan akhlak mulia dalam setiap aspek kehidupan.

Menutup tulisan ini, menurut keyakinan saya dalam Al-Quran surat Al-Isra ayat 37, “Dan janganlah engkau berjalan di muka bumi ini dengan sombong; sesungguhnya engkau tidak akan mampu menembus bumi dan tidak akan sampai setinggi gunung”.

Ayat ini menekankan pentingnya kerendahan hati dan keadaban dalam bersikap, sebagai lawan dari perilaku toxic yang merugikan orang lain. Rasulullah SAW juga bersabda dalam Hadist Riwayat Bukhari: “Seorang Muslim adalah seseorang yang orang lain selamat dari lisan dan tangannya”.

Manusia toxic, bukan hanya fenomena perilaku yang merugikan, tetapi juga masalah spiritual yang membutuhkan terapi mendalam. Penyembuhan sifat toxic dimulai dari introspeksi diri, penerapan akhlak mulia, dan keberanian untuk menjauh dari lingkungan yang membawa pengaruh buruk. Dalam konteks sosial, diperlukan upaya bersama untuk menciptakan komunitas yang mendukung, saling mengingatkan, dan mengedepankan nilai-nilai keimanan kita. [T]

Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole

  • BACA artikel lain dari penulis AHMAD SIHABUDIN
Paradoks Kebebasan Berpendapat dan Kebebasan Menghina
Pulau dan Kepulauan di Nusantara: Nama, Identitas, dan Pengakuan
Kita Hanyalah Setetes Air dan Butiran Debu | Refleksi dari Lagu “Dust in the Wind”
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Manusia Tikus”, Gen Z yang Terjebak di Kolong Kasur

Next Post

Yang Kecil, Yang Tak Selesai Dirasakan

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo

by Faris Widiyatmoko
May 15, 2026
0
Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo

“The man who wears the shoe knows best that it pinches and where it pinches, even if the expert shoemaker...

Read moreDetails

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
0
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

Read moreDetails

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails
Next Post
Yang Kecil, Yang Tak Selesai Dirasakan

Yang Kecil, Yang Tak Selesai Dirasakan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Perkuat Toleransi dan Semangat Persatuan’ —Begitu Kata Ketua MPR Ahmad Muzani saat Beri Kuliah Umum Kebangsaan di Institut Mpu Kuturan
Pendidikan

‘Perkuat Toleransi dan Semangat Persatuan’ —Begitu Kata Ketua MPR Ahmad Muzani saat Beri Kuliah Umum Kebangsaan di Institut Mpu Kuturan

KETUA MPR RI, Ahmad Muzani memberikan Kuliah Umum Kebangsaan kepada sivitas akademika Institut Mpu Kuturan (IMK) pada Jumat (15/5) sore....

by Son Lomri
May 15, 2026
Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo
Esai

Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo

“The man who wears the shoe knows best that it pinches and where it pinches, even if the expert shoemaker...

by Faris Widiyatmoko
May 15, 2026
Hikayat Rempah dalam Prasasti dan Lontar Bali
Liputan Khusus

Hikayat Rempah dalam Prasasti dan Lontar Bali

LIMA tahun lalu, kawan saya, Dian Suryantini—jurnalis sekaligus akademisi yang tinggal di Singaraja, Bali—bercerita tentang neneknya, Nyoman Landri, warga Banjar...

by Jaswanto
May 15, 2026
Leak Tanah Bali: Kiprah Teranyar Amplitherapy Nan Garang & Swakendali
Hiburan

Leak Tanah Bali: Kiprah Teranyar Amplitherapy Nan Garang & Swakendali

ALBUM penuh terbaru Amplitherapy bertajuk Leak Tanah Bali yang dijadwalkan terbit pada 16 Mei 2026 menandai babak baru perjalanan musikal...

by Nyoman Budarsana
May 15, 2026
Pesona Tulisan Tanpa Saltik di Tengah Budaya Instan
Bahasa

Pesona Tulisan Tanpa Saltik di Tengah Budaya Instan

PERNAHKAH Anda memperhatikan penulisan atau ejaan konten seseorang saat sedang berselancar di media sosial? Kesalahan tik atau saltik yang populer...

by I Made Sudiana
May 15, 2026
Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital
Ulas Musik

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

DALAM lanskap rock progresif 1970-an, “Castle Walls” tampil sebagai balada megah yang sarat ketegangan emosional. Ditulis dan dinyanyikan oleh vokalis...

by Ahmad Sihabudin
May 14, 2026
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co