23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Manusia Toksin: Menelan Fitnah Menolak Fakta

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
June 18, 2025
in Esai
Syair Pilu Berbalut Nada, Dari Ernest Hemingway Hingga Bob Dylan

Ahmad Sihabudin

Memuliakan manusia berarti memuliakan penciptanya. Merendahkan manusia berarti merendahkan dan menistakan penciptanya.

.- Gus Dur.,

Drama ijazah palsu yang terus disuarakan oleh sekelompok orang, lama kelamaan dapat menjadi toksin sosial, yaitu terganggunya psikis masyarakat oleh suara-suara sumbang yang ditiupkan hampir setiap hari lewat media massa dan media sosial, lewat berbagai rupa, kemasan acara.  

Istilah  toxic people atau ada juga yang menyebutnya toksin sosial mungkin sudah tidak asing lagi. Istilah ini diungkapkan untuk orang  yang beracun atau memberikan dampak buruk terhadap psikis orang lain, membuat tidak nyaman lingkungan secara psikis.

Masyarakat mungkin sudah banyak dan cenderung terpapar oleh virus yang disebarkan oleh “manusia toksis”, baik sebagai pengikutnya maupun yang anti pernyataan “ijazah palsu” tersebut.

Buktinya ruang diskusi publik, media kita sangat ramai oleh pro-kontra, yang harusnya sudah selesai ketika Bareskrim Polri menyatakan ijazah tersebut identik, setelah diuji di laboratorium forensik, bahkan sebelumnya pihak Universitas Gajah Mada juga sudah menyatakan asli, juga lembaga negara KPU, KPUD juga menyatakan clear asli.

Inilah masalahnya kelompok ini terus menarasikan “ijazah palsu” cenderung memaksakan kehendak, mencari-cari dalih, alasan ini-itu, menolak semua pernyataan resmi institusi negara, pengadilan harus segera digelar agar perkara ini cepat selesai, sehingga dapat mengurangi manusia toksin berkembang biak.

Toxic sering digunakan untuk menggambarkan sesuatu yang “beracun” secara emosional atau psikologis.  Dalam koteks sosial sifat toxic ini perilaku yang sangat tidak menyenangkan, cenderung mengundang permusuhan, selalu mencari-cari kesalahan orang lain, menghasut sana-sini, mengadu domba dan kerap memutarbalikan fakta. Kalau dalam dunia pewayangan sering disebut “sengkuni”.

Sifat ini tentu harus dibasmi, kalau bisa kita terhindar dari  toxic sosial ini, karena dapat mengganggu kenyamanan orang lain, membuat dijauhi banyak orang, hingga membuat kita sulit untuk memiliki hubungan sosial yang baik.

Salah satu cara untuk menghindari sifat toksin ini adalah, sebelum menilai orang lain, ada baiknya kita instrospeksi diri terlebih dahulu,  mungkin saja kitalah yang justru membawa racun atau memberi dampak buruk terhadap orang lain, dan lingkungan masyarakat.

Sifat-sifat negatif yang dibawa oleh manusia toxic, seperti iri hati, kebencian, manipulasi, dan kebiasaan menyebarkan keburukan, tidak hanya merusak hubungan interpersonal, tetapi juga mengancam keharmonisan masyarakat (https://uin-alauddin.ac.id/tulisan/detail/manusia-toxic–bahaya-dampak-dan-solusi-islami-untuk-kehidupan-bermakna–1224# )

                                                          ***

Kelompok orang yang terus nyinyir pada soal ijazah Jokowi, keluarga Jokowi, dan segala kebijakan masa pemerintahan sebagai Presiden ke-7, dapat juga kita kelompokan sebagai manusia toxic, bila kita perhatikan sifat, sikapnya mau menang sendiri, dengan menyebarkan informasi yang sangat sulit dipertanggungjawabkan. Menghina dan mengingkari institusi resmi negara, pokoknya hanya keterangan mereka yang paling benar. Mereka menelan fitnah yang mereka sebarkan, menolak semua fakta yang disampaikan semua lembaga.

Sifat toxic secara umum memiliki ciri yang membuat seseorang sulit untuk berinteraksi dengan orang lain karena sikapnya yang negatif, merusak, dan tidak sehat. Orang dengan sifat toxic sering kali suka mengkritik, tidak bisa menerima kritik, dan sulit untuk meminta maaf. Mereka juga cenderung egois, manipulatif, dan tidak memiliki empati (https://uin-alauddin.ac.id/tulisan/detail/manusia-toxic–bahaya-dampak-dan-solusi-islami-untuk-kehidupan-bermakna–1224# )

 Ciri-ciri sifat toxic tersebut, berikut ini.  Suka mengkritik orang lain tetapi tidak suka mendapat kritikan, dengan kritikan yang terlalu kasar dan cenderung fitnah, sangat berlebihan, ini dapat melukai perasaan orang yang dikritik. Terlalu mencampuri urusan orang lain, bahkan yang sifatnya pribadi, dengan menggunakan bahasa yang tidak sopan dan halus (https://www.djkn.kemenkeu.go.id/kpknl-jakarta2/baca-artikel/14375/Basmi-Sifat-Toxic-Dalam-Diri.html)

Sifat yang menonjol dari manusia toksin, sulit meminta maaf dan tidak mau disalahkan. Manusia toksin selalu merasa dirinya benar dan sangat sulit mengucapkan kata maaf. Bahkan, mereka menyalahkan orang lain atas kesalahannya sendiri. Hal ini juga biasa disebut playing victim—bereaksi seolah ia korban, padahal ialah pelakunya.

Terlalu terobsesi dengan diri sendiri, secara berlebihan ini ditandai dengan suka menyombongkan diri, senang merendahkan orang lain, tidak suka disaingi orang lain, iri hati atas kesenangan orang lain, dan masih ada beberapa lagi prilaku toxic. Dari beberapa sifat toxic, adakah pada diri kita sifat tersebut? Semoga tidak terjangkit.

Untuk menghindari sifat ini, caranya adalah memperkuat landasan keimanan kita, menjalankan ibadah agama kita dengan keikhlasan, keimanan sejati pada kitab suci keyakinan kita, untuk menjauhi perilaku buruk dan menanamkan akhlak mulia dalam setiap aspek kehidupan.

Menutup tulisan ini, menurut keyakinan saya dalam Al-Quran surat Al-Isra ayat 37, “Dan janganlah engkau berjalan di muka bumi ini dengan sombong; sesungguhnya engkau tidak akan mampu menembus bumi dan tidak akan sampai setinggi gunung”.

Ayat ini menekankan pentingnya kerendahan hati dan keadaban dalam bersikap, sebagai lawan dari perilaku toxic yang merugikan orang lain. Rasulullah SAW juga bersabda dalam Hadist Riwayat Bukhari: “Seorang Muslim adalah seseorang yang orang lain selamat dari lisan dan tangannya”.

Manusia toxic, bukan hanya fenomena perilaku yang merugikan, tetapi juga masalah spiritual yang membutuhkan terapi mendalam. Penyembuhan sifat toxic dimulai dari introspeksi diri, penerapan akhlak mulia, dan keberanian untuk menjauh dari lingkungan yang membawa pengaruh buruk. Dalam konteks sosial, diperlukan upaya bersama untuk menciptakan komunitas yang mendukung, saling mengingatkan, dan mengedepankan nilai-nilai keimanan kita. [T]

Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole

  • BACA artikel lain dari penulis AHMAD SIHABUDIN
Paradoks Kebebasan Berpendapat dan Kebebasan Menghina
Pulau dan Kepulauan di Nusantara: Nama, Identitas, dan Pengakuan
Kita Hanyalah Setetes Air dan Butiran Debu | Refleksi dari Lagu “Dust in the Wind”
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Manusia Tikus”, Gen Z yang Terjebak di Kolong Kasur

Next Post

Yang Kecil, Yang Tak Selesai Dirasakan

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Yang Kecil, Yang Tak Selesai Dirasakan

Yang Kecil, Yang Tak Selesai Dirasakan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co