13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Manusia Toksin: Menelan Fitnah Menolak Fakta

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
June 18, 2025
in Esai
Syair Pilu Berbalut Nada, Dari Ernest Hemingway Hingga Bob Dylan

Ahmad Sihabudin

Memuliakan manusia berarti memuliakan penciptanya. Merendahkan manusia berarti merendahkan dan menistakan penciptanya.

.- Gus Dur.,

Drama ijazah palsu yang terus disuarakan oleh sekelompok orang, lama kelamaan dapat menjadi toksin sosial, yaitu terganggunya psikis masyarakat oleh suara-suara sumbang yang ditiupkan hampir setiap hari lewat media massa dan media sosial, lewat berbagai rupa, kemasan acara.  

Istilah  toxic people atau ada juga yang menyebutnya toksin sosial mungkin sudah tidak asing lagi. Istilah ini diungkapkan untuk orang  yang beracun atau memberikan dampak buruk terhadap psikis orang lain, membuat tidak nyaman lingkungan secara psikis.

Masyarakat mungkin sudah banyak dan cenderung terpapar oleh virus yang disebarkan oleh “manusia toksis”, baik sebagai pengikutnya maupun yang anti pernyataan “ijazah palsu” tersebut.

Buktinya ruang diskusi publik, media kita sangat ramai oleh pro-kontra, yang harusnya sudah selesai ketika Bareskrim Polri menyatakan ijazah tersebut identik, setelah diuji di laboratorium forensik, bahkan sebelumnya pihak Universitas Gajah Mada juga sudah menyatakan asli, juga lembaga negara KPU, KPUD juga menyatakan clear asli.

Inilah masalahnya kelompok ini terus menarasikan “ijazah palsu” cenderung memaksakan kehendak, mencari-cari dalih, alasan ini-itu, menolak semua pernyataan resmi institusi negara, pengadilan harus segera digelar agar perkara ini cepat selesai, sehingga dapat mengurangi manusia toksin berkembang biak.

Toxic sering digunakan untuk menggambarkan sesuatu yang “beracun” secara emosional atau psikologis.  Dalam koteks sosial sifat toxic ini perilaku yang sangat tidak menyenangkan, cenderung mengundang permusuhan, selalu mencari-cari kesalahan orang lain, menghasut sana-sini, mengadu domba dan kerap memutarbalikan fakta. Kalau dalam dunia pewayangan sering disebut “sengkuni”.

Sifat ini tentu harus dibasmi, kalau bisa kita terhindar dari  toxic sosial ini, karena dapat mengganggu kenyamanan orang lain, membuat dijauhi banyak orang, hingga membuat kita sulit untuk memiliki hubungan sosial yang baik.

Salah satu cara untuk menghindari sifat toksin ini adalah, sebelum menilai orang lain, ada baiknya kita instrospeksi diri terlebih dahulu,  mungkin saja kitalah yang justru membawa racun atau memberi dampak buruk terhadap orang lain, dan lingkungan masyarakat.

Sifat-sifat negatif yang dibawa oleh manusia toxic, seperti iri hati, kebencian, manipulasi, dan kebiasaan menyebarkan keburukan, tidak hanya merusak hubungan interpersonal, tetapi juga mengancam keharmonisan masyarakat (https://uin-alauddin.ac.id/tulisan/detail/manusia-toxic–bahaya-dampak-dan-solusi-islami-untuk-kehidupan-bermakna–1224# )

                                                          ***

Kelompok orang yang terus nyinyir pada soal ijazah Jokowi, keluarga Jokowi, dan segala kebijakan masa pemerintahan sebagai Presiden ke-7, dapat juga kita kelompokan sebagai manusia toxic, bila kita perhatikan sifat, sikapnya mau menang sendiri, dengan menyebarkan informasi yang sangat sulit dipertanggungjawabkan. Menghina dan mengingkari institusi resmi negara, pokoknya hanya keterangan mereka yang paling benar. Mereka menelan fitnah yang mereka sebarkan, menolak semua fakta yang disampaikan semua lembaga.

Sifat toxic secara umum memiliki ciri yang membuat seseorang sulit untuk berinteraksi dengan orang lain karena sikapnya yang negatif, merusak, dan tidak sehat. Orang dengan sifat toxic sering kali suka mengkritik, tidak bisa menerima kritik, dan sulit untuk meminta maaf. Mereka juga cenderung egois, manipulatif, dan tidak memiliki empati (https://uin-alauddin.ac.id/tulisan/detail/manusia-toxic–bahaya-dampak-dan-solusi-islami-untuk-kehidupan-bermakna–1224# )

 Ciri-ciri sifat toxic tersebut, berikut ini.  Suka mengkritik orang lain tetapi tidak suka mendapat kritikan, dengan kritikan yang terlalu kasar dan cenderung fitnah, sangat berlebihan, ini dapat melukai perasaan orang yang dikritik. Terlalu mencampuri urusan orang lain, bahkan yang sifatnya pribadi, dengan menggunakan bahasa yang tidak sopan dan halus (https://www.djkn.kemenkeu.go.id/kpknl-jakarta2/baca-artikel/14375/Basmi-Sifat-Toxic-Dalam-Diri.html)

Sifat yang menonjol dari manusia toksin, sulit meminta maaf dan tidak mau disalahkan. Manusia toksin selalu merasa dirinya benar dan sangat sulit mengucapkan kata maaf. Bahkan, mereka menyalahkan orang lain atas kesalahannya sendiri. Hal ini juga biasa disebut playing victim—bereaksi seolah ia korban, padahal ialah pelakunya.

Terlalu terobsesi dengan diri sendiri, secara berlebihan ini ditandai dengan suka menyombongkan diri, senang merendahkan orang lain, tidak suka disaingi orang lain, iri hati atas kesenangan orang lain, dan masih ada beberapa lagi prilaku toxic. Dari beberapa sifat toxic, adakah pada diri kita sifat tersebut? Semoga tidak terjangkit.

Untuk menghindari sifat ini, caranya adalah memperkuat landasan keimanan kita, menjalankan ibadah agama kita dengan keikhlasan, keimanan sejati pada kitab suci keyakinan kita, untuk menjauhi perilaku buruk dan menanamkan akhlak mulia dalam setiap aspek kehidupan.

Menutup tulisan ini, menurut keyakinan saya dalam Al-Quran surat Al-Isra ayat 37, “Dan janganlah engkau berjalan di muka bumi ini dengan sombong; sesungguhnya engkau tidak akan mampu menembus bumi dan tidak akan sampai setinggi gunung”.

Ayat ini menekankan pentingnya kerendahan hati dan keadaban dalam bersikap, sebagai lawan dari perilaku toxic yang merugikan orang lain. Rasulullah SAW juga bersabda dalam Hadist Riwayat Bukhari: “Seorang Muslim adalah seseorang yang orang lain selamat dari lisan dan tangannya”.

Manusia toxic, bukan hanya fenomena perilaku yang merugikan, tetapi juga masalah spiritual yang membutuhkan terapi mendalam. Penyembuhan sifat toxic dimulai dari introspeksi diri, penerapan akhlak mulia, dan keberanian untuk menjauh dari lingkungan yang membawa pengaruh buruk. Dalam konteks sosial, diperlukan upaya bersama untuk menciptakan komunitas yang mendukung, saling mengingatkan, dan mengedepankan nilai-nilai keimanan kita. [T]

Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole

  • BACA artikel lain dari penulis AHMAD SIHABUDIN
Paradoks Kebebasan Berpendapat dan Kebebasan Menghina
Pulau dan Kepulauan di Nusantara: Nama, Identitas, dan Pengakuan
Kita Hanyalah Setetes Air dan Butiran Debu | Refleksi dari Lagu “Dust in the Wind”
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Manusia Tikus”, Gen Z yang Terjebak di Kolong Kasur

Next Post

Yang Kecil, Yang Tak Selesai Dirasakan

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
0
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

Read moreDetails

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails
Next Post
Yang Kecil, Yang Tak Selesai Dirasakan

Yang Kecil, Yang Tak Selesai Dirasakan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co