4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

AI dan Seni, Karya Dialogis yang Sarat Ancaman?

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
May 25, 2025
in Esai
Refleksi Semangat Juang Bung Tomo dan Kepemimpinan Masa Kini

Petrus Imam Prawoto Jati

“Seni bukanlah cermin bagi kenyataan, tapi palu untuk membentuknya.” — Bertolt Brecht

PARA pembaca yang budiman, kemarin anak saya, yang SMP, mencoba main-main membikin puisi dan naskah drama memakai bantuan AI. Sebagai bukan pelaku seni, saya pikir sungguh menyenangkan ketika anak saya jadi mendadak nyeni dalam hitungan menit tanpa saya repot ngajarin. Di luar sana, bahkan anak-anak muda pun piawai membuat ilustrasi grafis, bikin musik, sampai bikin poster  dengan AI.

Tak pelak, dunia seni sekarang seolah berubah wajah. Bayangkan ada sebuah lukisan surealis, penuh warna, emosi, dan bahkan mungkin mengandung kedalaman simbolik. Tapi ketika kita menengok ke balik kanvas, ke prosesnya,  tidak ada pelukis yang menggenggam kuas. Tidak ada studio, tidak ada clepretan tinta di lantai, tidak ada malam panjang yang penuh kegelisahan artistik. Hanya baris-baris perintah, alur algoritma, dan pemrosesan citra oleh entitas tak bernyawa yang disebut  Artificial Intelligence.

Kini kita hidup di masa di mana karya-karya visual, puisi, musik, bahkan naskah drama bisa diciptakan oleh mesin. Tidak melalui inspirasi ilahi atau pengalaman hidup yang manis getir, tetapi melalui prompt yang diketik cepat: “lukisan bergaya Van Gogh tentang kerinduan.” Enter, klik. Jadi.

Karena saya memang bukan ahli di bidang seni dan filsafat, maka terlintas di benak saya suatu pertanyaan naif. Apakah seni yang dibuat oleh AI masih bisa disebut seni? Dan jika ya, siapa yang menjadi senimannya? Jika bukan, mengapa terlihat indah dan menggugah? Sebenarnya apa yang ingin saya sampaikan di sini lebih berupa sharing uneg-uneg, jadi bukan sebuah telaah akademis apalagi filosofis.

Kreativitas Masihkah Monopoli Manusia?

Selama berabad-abad, kreativitas dianggap sebagai anugerah ilahiah, hadiah bagi manusia untuk mampu menyelami keindahan, menggugat realitas, atau sekadar menumpahkan kecamuk gejolak batin. Namun kini, kecerdasan buatan telah memasuki ranah yang paling intim dalam eksistensi kemanusiaan, yaitu daya cipta. AI, seperti Midjourney, DALL·E, atau ChatGPT, dapat men-generate, menciptakan karya visual dan tekstual yang menggugah, memukau, dan kadang mengejutkan. Dan semuanya dilakukan dalam hitungan detik, tergantung pesanannya, tanpa “merasakan” apa pun.

Filsuf Immanuel Kant dalam Critique of Judgment menyebut bahwa seni sejati  lahir dari niat bebas dan tujuan tanpa tujuan, sebuah aktivitas yang tidak berorientasi pada fungsi, tapi pada ekspresi. Apakah AI memiliki kehendak bebas? Tidak. Apakah ia memiliki niat bebas? Tidak juga. Tapi apakah hasilnya menyentuh kita, manusia, seperti karya seni sejati yang konvensional? Kadang, iya.

Ini membuat kita masuk ke wilayah abu-abu. Mungkin selama ini kita terlalu terobsesi pada proses penciptaan, dan lupa bahwa seni juga adalah tentang apa yang dihadirkan, bukan hanya bagaimana ia hadir. Hal ini tentu menggugat konsep yang kuat yang selama ini kita pegang teguh,  untuk selalu percaya pada proses. Tapi bukankah melatih AI men-generate sesuai keinginan juga juga butuh suatu proses yang spesifik?

Antara Instrumen dan Kolaborator

Sepertinya, hal ini hanya mendaur masa di mana sebagian kalangan melihat AI seperti melihat kemunculan kamera pada awal abad ke-20. Kala itu, para pelukis klasik mencibir fotografi sebagai bukan seni, karena tak melibatkan tangan dan sapuan kuas. Tapi sejarah membalikkan anggapan itu. Justru fotografilah yang kemudian membuka cakrawala baru dalam estetika visual. 

Mungkin AI hanyalah “kamera” baru bagi zaman kita sekarang ini. Jadi AI dianggap sebagai alat. Namun, ada pula yang berpendapat bahwa AI bukan sekadar alat, tapi kolaborator yang aktif. AI mampu menyintesis ide, memadukan gaya, bereksperimen bebas melampaui batas imajinasi manusia, bukan karena ia jenius, tapi karena ia dibanjiri data dan kemungkinan.

Dalam konteks ini, manusialah yang menjadi sutradara konseptual. Kitalah yang menentukan arah, niat, emosi, dan konteks. Maka karya seni AI sebetulnya adalah hasil dari kehendak manusia, hanya saja diperluas oleh kekuatan mesin. Seperti yang dikatakan Martin Heidegger, teknologi bukan hanya alat, tapi juga cara mengungkap kebenaran. Dalam pandangannya, teknologi modern memiliki sifat yang lebih dari sekadar instrumen, teknologi membentuk cara manusia memahami dan berinteraksi dengan dunia.  Heidegger menggunakan konsep Gestell (Enframing), yang berarti bahwa teknologi membingkai segala sesuatu, sebagai sumber daya yang siap dieksploitasi. Dan apa yang dikatakannya bisa kita pahami dalam hal ini.

Apakah “Menyuruh” Itu Seni?

Kritik paling umum terhadap seni AI adalah, “Ah, itu mah tinggal nyuruh. Tinggal ketik doang.” Jadi, apakah seni hanya soal tangan yang bekerja? Apakah tidak mungkin jika seni lahir dari ide yang kuat dan perintah yang tepat?

Logikanya begini, seorang koreografer tidak menari, seorang arsitek tidak membangun, dan seorang sutradara tidak memegang kamera. Tapi mereka semua adalah seniman, karena mereka mengarahkan dunia dan perwujudan seni yang akan tercipta. Dengan sudut pandang ini, pada hemat saya, menyuruh AI bisa menjadi bagian dari proses kreatif yang sah, selama ada kehendak artistik, refleksi, dan pengolahan makna yang terlibat.

Yang membuat AI menarik dan menggelisahkan, bukan karena ia bisa sekadar meniru manusia, tapi karena ia bisa melampaui batas manusiawi dalam hal jumlah referensi, kombinasi gaya, dan kecepatan eksplorasi. Tapi ada juga juga kelemahannya. AI tidak punya luka. Tidak punya cinta. Tidak punya kesadaran tentang kefanaan.

Oleh karena itu, justru kolaborasi antara manusia dan AI, bisa melahirkan sesuatu yang belum pernah ada, yaitu karya yang lahir dari intuisi manusia, tapi diperkuat oleh kekuatan sintesis superhuman. Kita sepertinya butuh istilah baru di sini. Ini bukan “seni manusia” atau “seni mesin”, tapi barangkali, Seni Sintesis. Suatu seni dari hasil perjumpaan antara niat dan nalar, antara emosi dan kalkulasi algoritma.

Menjadi Bebas atau Kehilangan Keistimewaan?

Pada akhirnya, kegelisahan tentang seni AI bukan hanya soal estetika. Ini kemungkinan kegelisahan yang sudah mengintai semenjak AI lahir, yaitu soal identitas manusia. Entah dalam pekerjaan, pendidikan, industri, AI dikhawatirkan akan mengancam eksistensi manusia.

Apakah kita masih istimewa jika mesin bisa mencipta? Apakah kita siap menerima bahwa proses kreatif bukan milik kita sendiri?  Jean-Paul Sartre menyatakan dalam bukunya, Being and Nothingness, “Manusia dikutuk untuk bebas.” Tapi barangkali kini kita menghadapi paradoks baru. Manusia dibebastugaskan oleh mesin, tapi bukannya menjadi  rileks, justru membuat kita merasa terancam.

Seni AI mungkin tidak menggantikan seni manusia, tapi ada masa di mana ia memaksa kita untuk mengubah cara kita melihat seni itu sendiri. Bukan lagi tentang siapa yang membuat, tapi apa yang diungkap. Bukan lagi soal ekspresi pribadi soal seni semata, tapi juga eksplorasi masyarakat tentang apa artinya menjadi manusia berseni di zaman pasca-manusia. Dan tentunya kegelisahan ini tak bisa mereda hanya dengan satu helaan napas panjang.

Jika para pembaca yang budiman merasa juga gelisah, mungkin lebih bijak jika tidak buru-buru menghakimi. Mari kita coba bukan hanya menilai hasilnya, tapi berani juga untuk mencoba satu langkah ke depan dengan mengajukan pertanyaan. Apa yang bisa kita ciptakan, jika kita bersedia berdialog dengan mesin? Karena mungkin, Bertolt Brecht jauh hari sudah paham, masa depan seni bukan tentang mesin yang menggantikan manusia, melainkan tentang manusia yang berani menciptakan sesuatu, yang bahkan lebih besar dari dirinya sendiri. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis PETRUS IMAM PRAWOTO JATI

Apakah Menulis Masih Relevan di Era Kecerdasan Buatan?
Ogah Baca, Nyalakan Bom Waktu
Teater Ditikam, Akal Sehat yang Mati
Tags: AIkecerdasan buatanSeni
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menunggu Istri | Cerpen IBW Widiasa Keniten

Next Post

Abstrak Ekspresionisme dan Psikologi Seni

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails
Next Post
Abstrak Ekspresionisme dan Psikologi Seni

Abstrak Ekspresionisme dan Psikologi Seni

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Kuliner

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co