25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menunggu Istri | Cerpen IBW Widiasa Keniten

IBW Widiasa Keniten by IBW Widiasa Keniten
May 25, 2025
in Cerpen
Menunggu Istri | Cerpen IBW Widiasa Keniten

Ilustrasi tatkala.co | Rusdy

LAKI-LAKI paruh baya itu duduk mematung di bangku depan rumahnya. Tubuhnya ringkih. Kaos oblong yang dipakainya mulai tampak lusuh. Ia nikmati kepulan asap rokoknya. Entah sudah berapa kali isapan memasuki rongga dadanya. Ia sepertinya menahan beban teramat berat.

“Istriku kenapa kau belum datang juga,” bisik laki-laki itu.

Istrinya berjanji akan datang jika ia duduk di bangku depan rumahnya. Bangku kayu yang ia buat sendiri. Kayu-kayu bekas sisa bangunan dirangkainya menjadi sebuah bangku. Dua bangku, satu bangku untuk istrinya, satu bangku untuk dirinya.

Suami istri itu memiliki kegemaran duduk di bangku setiap malam. Mereka tatap luasnya langit. Mereka tatap bintang-bintang yang menghiasi langit malam. Mereka tatap awan-awan yang berganti warna setiap detik. Terkadang mereka tertawa sendiri. Menertawakan kekonyolan mereka.

“Kenapa kita harus seperti ini?” tanya si istri.

Suaminya tak menjawab. Ia isap cerutunya semakin mendalam seakan kenikmatan tak mau dilepaskan dari bibirnya. Ia tahu kebiasaannya itu menjadi gunjingan tetangganya. Suami istri itu menyadari sampai detik ini belum diberikan momongan.

Beragam cerita tentang diri mereka, katanya saat upacara pernikahan ada yang berhasil mengganggunya. Ada lagi mengatakan suaminya kena karmanya. Saat muda suka mempermainkan anak gadis orang. Ada lagi cerita bahwa rahim istrinya sudah diangkat yang tak pernah disampaikan kepada suaminya.

Didekati istrinya. Ia pegang kedua tangannya. “Kita bersyukur masih bisa melihat semesta ini, Istriku. Tak semua orang diberi waktu oleh Tuhan untuk  melihat keindahannya!” Ia rapatkan lagi duduknya. “Beli tahu banyak gunjingan mengenai diri kita. Itu hal biasa. Setiap yang hidup, tak ada yang lepas dari masalah. Kita hadapi setiap masalah. Dengan masalah, kita akan merasakan nikmatnya hidup. Buatlah hidup semakin indah. Keindahan itu ada di hati kita, Istriku!”

Istrinya terdiam. Ia tahu tak memiliki kekuatan untuk membantahnya. Diusapnya kening suaminya. “Maafkan Putri, Beli. Pernikahan kita tak ada tangisan bayi. Tiang tak mampu memberikan keindahan di hati Beli. Sudah sepuluh tahun kita hidup bersama, rumah kita masih sepi. Akankah ini akan selamanya Beli?”

Laki-laki itu memegang jemari istrinya. Matanya beradu. “Beli tak akan berpaling hati, Istriku.” Rupanya di balik kata-kata istrinya ada kekhawatiran terhadap kesetiannya. “Tak ada yang perlu dikhawatirkan terhadap Beli. Cinta Tuhan kepada kita itulah yang lebih utama. Kita dilahirkan dan bisa menyatu dalam menjalani roda kehidupan. Tak usah larut dalam omongan orang terhadap kita. Biarlah Tuhan yang mengatur kita. Jika Tuhan memberi jalan seperti ini, kita jalani saja, Istriku.”

Kenangan-kenangan itu hadir di hati laki-laki itu. Ia tak bisa lepas dari kenangan manis bersama istrinya. Sudah hampir satu tahun istrinya pergi menuju keabadian. Laki-laki itu tak bisa menerima kenyataan yang dihadapinya. Ia ingin istrinya kembali bersamanya. Kesepian yang menyelimuti hatinya semakin hari semakin menebal. Canda tawa tak terdengar lagi. Kerinduan bertemu dengan istrinya membara sepanjang hari. Hanya satu di hatinya bertemu dengan istri tercintanya. Kursi kayu itu tempat bertemunya dua hati.

“Istriku, kembalilah. Beli menunggu di sini sebagai bukti kesetian Beli pada Putri.”

Orang-orang di sekitar laki-laki itu tak ada peduli lagi. Mereka pandang bahwa laki-laki itu sudah berubah ingatan. Berbulan-berbulan kebiasaannya itu dilakukannya. Ia tak bisa menerima kenyataan. Ia pergi pada tukang tenung. Orang menyebutnya matenung. Katanya istrinya telah menikah dengan roh halus di alam gaib bahkan katanya lagi sudah punya anak dari hasil pernikahannya itu. Istrinya tak mau kembali lagi sama suaminya karena tak mampu memberinya keturunan.

“Untuk apa menjaga pernikahan, kalau tak ada tangisan bayi!” Itu kata istrinya, menurut tukang tenung.

Hati laki-laki itu memanas. Ia merasa dipermalukan oleh perantara itu yang katanya bisa menerawang keberadaan istrinya. Ia pulang dengan tangan hampa. Di hatinya merasa menyesal setelah mencari tukang tenung. Bukannya jalan keluar yang diperolehnya justru masalah baru yang membuat bara di hatinya seperti diperciki minyak.

“Sudahlah, kalau itu pilihannya. Silakan saja. Tapi, tiang tak yakin dengan pilihan istri tiang. Ia perempuan yang punya harga diri. Ia perempuan yang menempatkan pernikahan sebagai jalan mulia. Pernikahan bukan tempat bermain-main.”

“Ini hanya terawangan saja. Semoga istri Beli bisa kembali lagi. Cobalah sering-sering memohon di Kemulan. Siapa tahu leluhur Beli memberikan jalan keluar dan bisa bersatu kembali dengan istri Beli.”

Laki-laki itu tak lagi mendengarkan kata-kata tukang tenung itu. Ia berjalan mengikuti kata hatinya. Ia merapikan kembali jalan hidupnya. Sudah beberapa purnama tak sempat lagi memuja kebesaran Hyang Widhi. Ia duduk tepekur di depan kemulan. Ia memohon kepada kawitan-nya. Asap dupa, harumnya bunga-bunga memberi ketenangan pada laki-laki itu. Ia atur jalan pernapasannya. Ketenangan mulai merambati relung hatinya.

Gema suara hatinya dirasakannya muncul kembali. ”Anakku. Tak ada yang abadi di semesta ini. Istrimu telah bersama kami. Lapangkan hatimu, Nak. Pengabenan yang sudah kau lakukan itu jalan menuju penyatuan. Ia telah bersama kawitan-mu di sini.”

Laki-laki itu tersentak. Selama ini, hatinya belum bisa menerima kepergian istrinya. Ia pandangi kursi kayu yang dirasakannya bergoyang-goyang.

“Itu istriku masih duduk di sana,” teriaknya.

Laki-laki itu mendekati kursi kayu yang biasa digunakannnya saat masih bersama. Napasnya terasa berat setiap melihat kursi kayu itu. [T]

Keterangan:

Beli: kakak, panggilan untuk suami
Tiang: saya
Tukang tenung: semacam peramal, orang yang bisa melihat peristiwa tak kasat mata
Kemulan: pemujaan untuk lelulur
Kawitan: leluhur

Penulis: IBW Widiasa Keniten
Editor: Made Adnyana Ole

  • KLIK untuk BACA cerpen lain
Perempuan Bercahaya Rembulan | Cerpen IBW Widiasa Keniten
Lebih Gelap dari Palung Mariana | Cerpen Anggit Rizkianto
Ketut Asti | Cerpen Yuditeha
Lelaki yang Menghilang di Tengah Laut | Cerpen Pry S.
Perbincangan Rindu | Cerpen Lanang Taji
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Catatan Ringkas dari Seminar Lontar Asta Kosala Kosali Koleksi Museum Bali

Next Post

AI dan Seni, Karya Dialogis yang Sarat Ancaman?

IBW Widiasa Keniten

IBW Widiasa Keniten

Ida Bagus Wayan Widiasa Keniten lahir di Geria Gelumpang, Karangasem. 20 Januari 1967. Buku-buku yang sudah ditulisnya berupa karya sastra maupun kajian sastra. Pemenang Pertama Guru Berprestasi Tingkat Nasional Tahun 2013 dan Penerima Tanda Kehormatan Satyalancana Pendidikan Tahun 2013 dari Presiden, Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono, Rabu, 27 November 2013 di Istora Senayan Jakarta. Tahun 2014 ikut Program Kunjungan (Benchmarking) ke Jerman, selanjutnya ke Paris (Prancis), Belgia, dan Amsterdam (Belanda). 2014 menerima penghargaan Widya Kusuma dari Gubernur Bali. Tahun 2015 memeroleh Widya Pataka atas bukunya Jro Lalung Ngutah.

Related Posts

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

by Sigit Susanto
October 18, 2026
0
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

Read moreDetails

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails
Next Post
Refleksi Semangat Juang Bung Tomo dan Kepemimpinan Masa Kini

AI dan Seni, Karya Dialogis yang Sarat Ancaman?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co