2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menunggu Istri | Cerpen IBW Widiasa Keniten

IBW Widiasa Keniten by IBW Widiasa Keniten
May 25, 2025
in Cerpen
Menunggu Istri | Cerpen IBW Widiasa Keniten

Ilustrasi tatkala.co | Rusdy

LAKI-LAKI paruh baya itu duduk mematung di bangku depan rumahnya. Tubuhnya ringkih. Kaos oblong yang dipakainya mulai tampak lusuh. Ia nikmati kepulan asap rokoknya. Entah sudah berapa kali isapan memasuki rongga dadanya. Ia sepertinya menahan beban teramat berat.

“Istriku kenapa kau belum datang juga,” bisik laki-laki itu.

Istrinya berjanji akan datang jika ia duduk di bangku depan rumahnya. Bangku kayu yang ia buat sendiri. Kayu-kayu bekas sisa bangunan dirangkainya menjadi sebuah bangku. Dua bangku, satu bangku untuk istrinya, satu bangku untuk dirinya.

Suami istri itu memiliki kegemaran duduk di bangku setiap malam. Mereka tatap luasnya langit. Mereka tatap bintang-bintang yang menghiasi langit malam. Mereka tatap awan-awan yang berganti warna setiap detik. Terkadang mereka tertawa sendiri. Menertawakan kekonyolan mereka.

“Kenapa kita harus seperti ini?” tanya si istri.

Suaminya tak menjawab. Ia isap cerutunya semakin mendalam seakan kenikmatan tak mau dilepaskan dari bibirnya. Ia tahu kebiasaannya itu menjadi gunjingan tetangganya. Suami istri itu menyadari sampai detik ini belum diberikan momongan.

Beragam cerita tentang diri mereka, katanya saat upacara pernikahan ada yang berhasil mengganggunya. Ada lagi mengatakan suaminya kena karmanya. Saat muda suka mempermainkan anak gadis orang. Ada lagi cerita bahwa rahim istrinya sudah diangkat yang tak pernah disampaikan kepada suaminya.

Didekati istrinya. Ia pegang kedua tangannya. “Kita bersyukur masih bisa melihat semesta ini, Istriku. Tak semua orang diberi waktu oleh Tuhan untuk  melihat keindahannya!” Ia rapatkan lagi duduknya. “Beli tahu banyak gunjingan mengenai diri kita. Itu hal biasa. Setiap yang hidup, tak ada yang lepas dari masalah. Kita hadapi setiap masalah. Dengan masalah, kita akan merasakan nikmatnya hidup. Buatlah hidup semakin indah. Keindahan itu ada di hati kita, Istriku!”

Istrinya terdiam. Ia tahu tak memiliki kekuatan untuk membantahnya. Diusapnya kening suaminya. “Maafkan Putri, Beli. Pernikahan kita tak ada tangisan bayi. Tiang tak mampu memberikan keindahan di hati Beli. Sudah sepuluh tahun kita hidup bersama, rumah kita masih sepi. Akankah ini akan selamanya Beli?”

Laki-laki itu memegang jemari istrinya. Matanya beradu. “Beli tak akan berpaling hati, Istriku.” Rupanya di balik kata-kata istrinya ada kekhawatiran terhadap kesetiannya. “Tak ada yang perlu dikhawatirkan terhadap Beli. Cinta Tuhan kepada kita itulah yang lebih utama. Kita dilahirkan dan bisa menyatu dalam menjalani roda kehidupan. Tak usah larut dalam omongan orang terhadap kita. Biarlah Tuhan yang mengatur kita. Jika Tuhan memberi jalan seperti ini, kita jalani saja, Istriku.”

Kenangan-kenangan itu hadir di hati laki-laki itu. Ia tak bisa lepas dari kenangan manis bersama istrinya. Sudah hampir satu tahun istrinya pergi menuju keabadian. Laki-laki itu tak bisa menerima kenyataan yang dihadapinya. Ia ingin istrinya kembali bersamanya. Kesepian yang menyelimuti hatinya semakin hari semakin menebal. Canda tawa tak terdengar lagi. Kerinduan bertemu dengan istrinya membara sepanjang hari. Hanya satu di hatinya bertemu dengan istri tercintanya. Kursi kayu itu tempat bertemunya dua hati.

“Istriku, kembalilah. Beli menunggu di sini sebagai bukti kesetian Beli pada Putri.”

Orang-orang di sekitar laki-laki itu tak ada peduli lagi. Mereka pandang bahwa laki-laki itu sudah berubah ingatan. Berbulan-berbulan kebiasaannya itu dilakukannya. Ia tak bisa menerima kenyataan. Ia pergi pada tukang tenung. Orang menyebutnya matenung. Katanya istrinya telah menikah dengan roh halus di alam gaib bahkan katanya lagi sudah punya anak dari hasil pernikahannya itu. Istrinya tak mau kembali lagi sama suaminya karena tak mampu memberinya keturunan.

“Untuk apa menjaga pernikahan, kalau tak ada tangisan bayi!” Itu kata istrinya, menurut tukang tenung.

Hati laki-laki itu memanas. Ia merasa dipermalukan oleh perantara itu yang katanya bisa menerawang keberadaan istrinya. Ia pulang dengan tangan hampa. Di hatinya merasa menyesal setelah mencari tukang tenung. Bukannya jalan keluar yang diperolehnya justru masalah baru yang membuat bara di hatinya seperti diperciki minyak.

“Sudahlah, kalau itu pilihannya. Silakan saja. Tapi, tiang tak yakin dengan pilihan istri tiang. Ia perempuan yang punya harga diri. Ia perempuan yang menempatkan pernikahan sebagai jalan mulia. Pernikahan bukan tempat bermain-main.”

“Ini hanya terawangan saja. Semoga istri Beli bisa kembali lagi. Cobalah sering-sering memohon di Kemulan. Siapa tahu leluhur Beli memberikan jalan keluar dan bisa bersatu kembali dengan istri Beli.”

Laki-laki itu tak lagi mendengarkan kata-kata tukang tenung itu. Ia berjalan mengikuti kata hatinya. Ia merapikan kembali jalan hidupnya. Sudah beberapa purnama tak sempat lagi memuja kebesaran Hyang Widhi. Ia duduk tepekur di depan kemulan. Ia memohon kepada kawitan-nya. Asap dupa, harumnya bunga-bunga memberi ketenangan pada laki-laki itu. Ia atur jalan pernapasannya. Ketenangan mulai merambati relung hatinya.

Gema suara hatinya dirasakannya muncul kembali. ”Anakku. Tak ada yang abadi di semesta ini. Istrimu telah bersama kami. Lapangkan hatimu, Nak. Pengabenan yang sudah kau lakukan itu jalan menuju penyatuan. Ia telah bersama kawitan-mu di sini.”

Laki-laki itu tersentak. Selama ini, hatinya belum bisa menerima kepergian istrinya. Ia pandangi kursi kayu yang dirasakannya bergoyang-goyang.

“Itu istriku masih duduk di sana,” teriaknya.

Laki-laki itu mendekati kursi kayu yang biasa digunakannnya saat masih bersama. Napasnya terasa berat setiap melihat kursi kayu itu. [T]

Keterangan:

Beli: kakak, panggilan untuk suami
Tiang: saya
Tukang tenung: semacam peramal, orang yang bisa melihat peristiwa tak kasat mata
Kemulan: pemujaan untuk lelulur
Kawitan: leluhur

Penulis: IBW Widiasa Keniten
Editor: Made Adnyana Ole

  • KLIK untuk BACA cerpen lain
Perempuan Bercahaya Rembulan | Cerpen IBW Widiasa Keniten
Lebih Gelap dari Palung Mariana | Cerpen Anggit Rizkianto
Ketut Asti | Cerpen Yuditeha
Lelaki yang Menghilang di Tengah Laut | Cerpen Pry S.
Perbincangan Rindu | Cerpen Lanang Taji
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Catatan Ringkas dari Seminar Lontar Asta Kosala Kosali Koleksi Museum Bali

Next Post

AI dan Seni, Karya Dialogis yang Sarat Ancaman?

IBW Widiasa Keniten

IBW Widiasa Keniten

Ida Bagus Wayan Widiasa Keniten lahir di Geria Gelumpang, Karangasem. 20 Januari 1967. Buku-buku yang sudah ditulisnya berupa karya sastra maupun kajian sastra. Pemenang Pertama Guru Berprestasi Tingkat Nasional Tahun 2013 dan Penerima Tanda Kehormatan Satyalancana Pendidikan Tahun 2013 dari Presiden, Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono, Rabu, 27 November 2013 di Istora Senayan Jakarta. Tahun 2014 ikut Program Kunjungan (Benchmarking) ke Jerman, selanjutnya ke Paris (Prancis), Belgia, dan Amsterdam (Belanda). 2014 menerima penghargaan Widya Kusuma dari Gubernur Bali. Tahun 2015 memeroleh Widya Pataka atas bukunya Jro Lalung Ngutah.

Related Posts

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails
Next Post
Refleksi Semangat Juang Bung Tomo dan Kepemimpinan Masa Kini

AI dan Seni, Karya Dialogis yang Sarat Ancaman?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co