3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menunggu Istri | Cerpen IBW Widiasa Keniten

IBW Widiasa Keniten by IBW Widiasa Keniten
May 25, 2025
in Cerpen
Menunggu Istri | Cerpen IBW Widiasa Keniten

Ilustrasi tatkala.co | Rusdy

LAKI-LAKI paruh baya itu duduk mematung di bangku depan rumahnya. Tubuhnya ringkih. Kaos oblong yang dipakainya mulai tampak lusuh. Ia nikmati kepulan asap rokoknya. Entah sudah berapa kali isapan memasuki rongga dadanya. Ia sepertinya menahan beban teramat berat.

“Istriku kenapa kau belum datang juga,” bisik laki-laki itu.

Istrinya berjanji akan datang jika ia duduk di bangku depan rumahnya. Bangku kayu yang ia buat sendiri. Kayu-kayu bekas sisa bangunan dirangkainya menjadi sebuah bangku. Dua bangku, satu bangku untuk istrinya, satu bangku untuk dirinya.

Suami istri itu memiliki kegemaran duduk di bangku setiap malam. Mereka tatap luasnya langit. Mereka tatap bintang-bintang yang menghiasi langit malam. Mereka tatap awan-awan yang berganti warna setiap detik. Terkadang mereka tertawa sendiri. Menertawakan kekonyolan mereka.

“Kenapa kita harus seperti ini?” tanya si istri.

Suaminya tak menjawab. Ia isap cerutunya semakin mendalam seakan kenikmatan tak mau dilepaskan dari bibirnya. Ia tahu kebiasaannya itu menjadi gunjingan tetangganya. Suami istri itu menyadari sampai detik ini belum diberikan momongan.

Beragam cerita tentang diri mereka, katanya saat upacara pernikahan ada yang berhasil mengganggunya. Ada lagi mengatakan suaminya kena karmanya. Saat muda suka mempermainkan anak gadis orang. Ada lagi cerita bahwa rahim istrinya sudah diangkat yang tak pernah disampaikan kepada suaminya.

Didekati istrinya. Ia pegang kedua tangannya. “Kita bersyukur masih bisa melihat semesta ini, Istriku. Tak semua orang diberi waktu oleh Tuhan untuk  melihat keindahannya!” Ia rapatkan lagi duduknya. “Beli tahu banyak gunjingan mengenai diri kita. Itu hal biasa. Setiap yang hidup, tak ada yang lepas dari masalah. Kita hadapi setiap masalah. Dengan masalah, kita akan merasakan nikmatnya hidup. Buatlah hidup semakin indah. Keindahan itu ada di hati kita, Istriku!”

Istrinya terdiam. Ia tahu tak memiliki kekuatan untuk membantahnya. Diusapnya kening suaminya. “Maafkan Putri, Beli. Pernikahan kita tak ada tangisan bayi. Tiang tak mampu memberikan keindahan di hati Beli. Sudah sepuluh tahun kita hidup bersama, rumah kita masih sepi. Akankah ini akan selamanya Beli?”

Laki-laki itu memegang jemari istrinya. Matanya beradu. “Beli tak akan berpaling hati, Istriku.” Rupanya di balik kata-kata istrinya ada kekhawatiran terhadap kesetiannya. “Tak ada yang perlu dikhawatirkan terhadap Beli. Cinta Tuhan kepada kita itulah yang lebih utama. Kita dilahirkan dan bisa menyatu dalam menjalani roda kehidupan. Tak usah larut dalam omongan orang terhadap kita. Biarlah Tuhan yang mengatur kita. Jika Tuhan memberi jalan seperti ini, kita jalani saja, Istriku.”

Kenangan-kenangan itu hadir di hati laki-laki itu. Ia tak bisa lepas dari kenangan manis bersama istrinya. Sudah hampir satu tahun istrinya pergi menuju keabadian. Laki-laki itu tak bisa menerima kenyataan yang dihadapinya. Ia ingin istrinya kembali bersamanya. Kesepian yang menyelimuti hatinya semakin hari semakin menebal. Canda tawa tak terdengar lagi. Kerinduan bertemu dengan istrinya membara sepanjang hari. Hanya satu di hatinya bertemu dengan istri tercintanya. Kursi kayu itu tempat bertemunya dua hati.

“Istriku, kembalilah. Beli menunggu di sini sebagai bukti kesetian Beli pada Putri.”

Orang-orang di sekitar laki-laki itu tak ada peduli lagi. Mereka pandang bahwa laki-laki itu sudah berubah ingatan. Berbulan-berbulan kebiasaannya itu dilakukannya. Ia tak bisa menerima kenyataan. Ia pergi pada tukang tenung. Orang menyebutnya matenung. Katanya istrinya telah menikah dengan roh halus di alam gaib bahkan katanya lagi sudah punya anak dari hasil pernikahannya itu. Istrinya tak mau kembali lagi sama suaminya karena tak mampu memberinya keturunan.

“Untuk apa menjaga pernikahan, kalau tak ada tangisan bayi!” Itu kata istrinya, menurut tukang tenung.

Hati laki-laki itu memanas. Ia merasa dipermalukan oleh perantara itu yang katanya bisa menerawang keberadaan istrinya. Ia pulang dengan tangan hampa. Di hatinya merasa menyesal setelah mencari tukang tenung. Bukannya jalan keluar yang diperolehnya justru masalah baru yang membuat bara di hatinya seperti diperciki minyak.

“Sudahlah, kalau itu pilihannya. Silakan saja. Tapi, tiang tak yakin dengan pilihan istri tiang. Ia perempuan yang punya harga diri. Ia perempuan yang menempatkan pernikahan sebagai jalan mulia. Pernikahan bukan tempat bermain-main.”

“Ini hanya terawangan saja. Semoga istri Beli bisa kembali lagi. Cobalah sering-sering memohon di Kemulan. Siapa tahu leluhur Beli memberikan jalan keluar dan bisa bersatu kembali dengan istri Beli.”

Laki-laki itu tak lagi mendengarkan kata-kata tukang tenung itu. Ia berjalan mengikuti kata hatinya. Ia merapikan kembali jalan hidupnya. Sudah beberapa purnama tak sempat lagi memuja kebesaran Hyang Widhi. Ia duduk tepekur di depan kemulan. Ia memohon kepada kawitan-nya. Asap dupa, harumnya bunga-bunga memberi ketenangan pada laki-laki itu. Ia atur jalan pernapasannya. Ketenangan mulai merambati relung hatinya.

Gema suara hatinya dirasakannya muncul kembali. ”Anakku. Tak ada yang abadi di semesta ini. Istrimu telah bersama kami. Lapangkan hatimu, Nak. Pengabenan yang sudah kau lakukan itu jalan menuju penyatuan. Ia telah bersama kawitan-mu di sini.”

Laki-laki itu tersentak. Selama ini, hatinya belum bisa menerima kepergian istrinya. Ia pandangi kursi kayu yang dirasakannya bergoyang-goyang.

“Itu istriku masih duduk di sana,” teriaknya.

Laki-laki itu mendekati kursi kayu yang biasa digunakannnya saat masih bersama. Napasnya terasa berat setiap melihat kursi kayu itu. [T]

Keterangan:

Beli: kakak, panggilan untuk suami
Tiang: saya
Tukang tenung: semacam peramal, orang yang bisa melihat peristiwa tak kasat mata
Kemulan: pemujaan untuk lelulur
Kawitan: leluhur

Penulis: IBW Widiasa Keniten
Editor: Made Adnyana Ole

  • KLIK untuk BACA cerpen lain
Perempuan Bercahaya Rembulan | Cerpen IBW Widiasa Keniten
Lebih Gelap dari Palung Mariana | Cerpen Anggit Rizkianto
Ketut Asti | Cerpen Yuditeha
Lelaki yang Menghilang di Tengah Laut | Cerpen Pry S.
Perbincangan Rindu | Cerpen Lanang Taji
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Catatan Ringkas dari Seminar Lontar Asta Kosala Kosali Koleksi Museum Bali

Next Post

AI dan Seni, Karya Dialogis yang Sarat Ancaman?

IBW Widiasa Keniten

IBW Widiasa Keniten

Ida Bagus Wayan Widiasa Keniten lahir di Geria Gelumpang, Karangasem. 20 Januari 1967. Buku-buku yang sudah ditulisnya berupa karya sastra maupun kajian sastra. Pemenang Pertama Guru Berprestasi Tingkat Nasional Tahun 2013 dan Penerima Tanda Kehormatan Satyalancana Pendidikan Tahun 2013 dari Presiden, Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono, Rabu, 27 November 2013 di Istora Senayan Jakarta. Tahun 2014 ikut Program Kunjungan (Benchmarking) ke Jerman, selanjutnya ke Paris (Prancis), Belgia, dan Amsterdam (Belanda). 2014 menerima penghargaan Widya Kusuma dari Gubernur Bali. Tahun 2015 memeroleh Widya Pataka atas bukunya Jro Lalung Ngutah.

Related Posts

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails

Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

by Hidayatul Ulum
May 30, 2026
0
Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

PRIA-PRIA yang kau semayamkan di awan kita, tak satu pun Mas kenal—awalnya. Setelah Mas membaca jejak hatimu yang kau tinggalkan...

Read moreDetails

Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
May 29, 2026
0
Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

JAM menunjukkan pukul 05.15 pagi ketika kaki renta Pak Syukur mulai menyusuri gang sempit menuju pinggir jalan raya. Embun belum...

Read moreDetails

Mengikat Tali Sepatu | Cerpen Pitrus Puspito

by Pitrus Puspito
May 24, 2026
0
Mengikat Tali Sepatu | Cerpen Pitrus Puspito

Alfie percaya bahwa dunia dapat diringkas menjadi kolom-kolom rapi: pemasukan, pengeluaran, untung, rugi. Di layar ponselnya, angka-angka berpendar seperti doa...

Read moreDetails

Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

by Luh Aninditha Wiralaba
May 23, 2026
0
Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

PAGI di desa Bugbeg selalu dimulai dengan cara yang sama. Bau dupa yang menyeruak, ayam-ayam berkokok ria, dan dentingan gamelan...

Read moreDetails

Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto

by Dody Widianto
May 22, 2026
0
Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto

RASA-RASANYA kau tak akan kuat memendam sendiri masalahmu ini. Kau yang semata wayang, kau yang ditinggal ayahmu saat umurmu angka...

Read moreDetails

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

Read moreDetails

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
May 10, 2026
0
Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

PAGI di Desa Batu Pangeran selalu datang dengan langkah pelan, seolah ia tahu bahwa tempat itu tidak suka tergesa-gesa. Langit...

Read moreDetails

Puting Beliung | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
May 9, 2026
0
Puting Beliung | Cerpen Supartika

Sial! Neraka dilanda puting beliung. Porak-poranda. Api neraka yang berkobar-kobar ikut tersapu puting beliung yang hebat itu. Angin membuat api...

Read moreDetails

Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
May 4, 2026
0
Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

“Risa, aku sudah melihat hasil pengumuman itu,” ucap Bagus lirih, nyaris tenggelam dalam gemuruh angin senja. Aku menoleh, menatap wajahnya...

Read moreDetails
Next Post
Refleksi Semangat Juang Bung Tomo dan Kepemimpinan Masa Kini

AI dan Seni, Karya Dialogis yang Sarat Ancaman?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?
Esai

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

by Rsi Suwardana
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co