16 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Lebih Gelap dari Palung Mariana | Cerpen Anggit Rizkianto

Anggit Rizkianto by Anggit Rizkianto
March 9, 2025
in Cerpen
Lebih Gelap dari Palung Mariana | Cerpen Anggit Rizkianto

Ilustrasi tatkala.co | Rusdy

SESAAT setelah menerima undangan pernikahan dari pacarnya, ia langsung teringat Dumbo Octopus. Lalu ia tertawa terbahak-bahak.

“Apa yang lucu?” tanya Rani, pacarnya.

Ia tak lekas menjawab. Diangkatnya espreso di hadapannya dan disesapnya perlahan. Itu adalah usahanya untuk menghentikan tawa di waktu yang tidak tepat. Meskipun ia tahu, itu adalah tawa getir, bukan tawa yang muncul dari sesuatu yang sungguh-sungguh lucu.

Dengan kedua tangan ia membuka undangan itu. Bentuknya sederhana saja, terbuat dari kertas ivory dan berwarna krem. Di dalamnya nama lengkap Rani terukir dengan huruf-huruf cantik yang menyerupai pohon oak sebagai mempelai perempuan. Namun, nama yang terukir sebagai mempelai laki-laki bukanlah namanya.

Oh… tidak. Ia tidak akan terjebak oleh rasa sentimentil berlebih sebagaimana dalam kisah roman picisan. Ia sudah sangat memperhitungkan dan mengira-ngira kalau saat seperti ini pasti akan tiba. Ia adalah kreator hidupnya sendiri. Nasib yang menimpanya adalah buah dari tindakan dan pilihan-pilihan yang ia ambil secara sadar. Kalaupun harus bersedih, itu adalah kesedihan yang masih dalam taraf wajar dan manusiawi.

“Kamu masih ingat apa yang paling sering kamu katakan setiap kali lelah sama hubungan kita?” Tiba-tiba ia balik bertanya.

Rani menggeleng sembari menyesap latte yang masih hangat.

“Kamu selalu mengatakan kalau isi kepalaku gelap karena tak pernah bisa kamu pahami,” ujarnya lagi.

“Oh, iya, isi kepalamu memang gelap, bahkan lebih gelap dari Palung Mariana.”

Itu bukanlah kali pertama ia mendengar Rani berkata seperti itu. Dalam setiap kerenggangan hubungan dan pertengkaran mereka, perempuan itu memang selalu membawa-bawa perihal isi kepala.

“Bagaimana hubungan kita bisa berhasil kalau kamu tak pernah jujur, tak pernah terbuka,” keluh Rani suatu ketika.

Namun, ia terus berkelit. Yang keluar dari mulutnya hanya retorika-retorika kosong nirmakna; atau kedustaan-kedustaan yang tak perlu, tapi tetap ia katakan demi menutupi kebenaran yang tersimpan rapi di benaknya. Rani, dengan ketajaman instingnya, tahu belaka kalau kekasihnya senantiasa menutupi sesuatu, tapi ia tetap tak bisa menembus kegelapan isi kepalanya. Sepintar dan secerdik apa pun dirinya, sedikit pun tak ada cahaya yang dapat menguak kejujuran dan keaslian pikiran.

Ketika suatu waktu Rani mengatakan kalau isi kepalanya lebih gelap dari Palung Mariana, ia langsung berselancar di internet. Tempat paling dalam di bumi itu memang selalu dingin dan gelap karena cahaya matahari tak dapat menembusnya sedikit pun. Dan karena saking gelapnya, pengetahuan manusia tentang tempat itu pun masih terbatas, terutama terkait makhluk-makhluk yang ada di situ. Namun, berdasarkan satu artikel yang ditemukannya, ada satu spesies gurita yang menarik perhatiannya, yang konon merupakan penghuni palung terdalam itu. Para ilmuwan menyebutnya Dumbo Octopus. Dinamakan demikian karena gurita itu mirip Dumbo, karakter fiksi berbentuk gajah terbang ciptaan Walt Disney.

Dari lubuk hatinya yang paling dalam, ia membenarkan perkataan pacarnya. Ia memang terbiasa membangun tembok tebal untuk menutupi sisi rentannya, agar ia selalu terlihat kuat. Hidup mengajarkannya untuk tak boleh lemah. Hari demi hari dihabiskannya untuk mengumpulkan rupiah, dan merencanakan hidup untuk masa-masa yang akan datang—termasuk rencana menikahi Rani, kekasihnya. Namun, rencana tidak pernah berjalan mulus. Ia boleh berencana, tapi dunia ini tidak digerakkan berdasarkan rencananya. Ia hanyalah satu dari sekian banyak rakyat blangsak di negeri ini yang harus berdarah-darah demi hidup yang lebih baik; ia tak punya kuasa atas dunia di sekitarnya. Maka, ketika gempuran cobaan terhadap rencananya itu datang dan ia masih menolak kalah, hubungan bersama pacarnya itu terasa begitu membebaninya.

Kemudian ia teringat hari-hari ketika Faisal, sahabat lamanya, menaruh beban itu pertama kali di pundaknya.

***

Waktu itu usianya dua puluh empat tahun. Ia sudah dua tahun lulus kuliah dan bekerja sebagai penulis lepas. Faisal mengenalkannya pada Rani di acara pernikahannya. Dengan sedikit menggodanya, sahabatnya itu memintanya agar menemani Rani mengobrol, karena perempuan itu datang sendirian. Ia menurut saja, demi menghormati mempelai yang sedang berbahagia.

Faisal baginya bukan cuma sahabat, tetapi malaikat penyelamatnya semasa kuliah. Faisal-lah yang siap sedia membantunya di kala kantongnya kembang kempis di akhir bulan; juga yang menyelamatkannya dari rasa lapar tatkala ia hanya bisa mendekam pasrah di kamar kos sendirian.

Persahabatan itu adalah sesuatu yang ia syukuri. Namun, ia tetap tahu diri, karena bagaimana pun ia dan Faisal tidaklah setara jika dilihat pakai tolok ukur kebanyakan orang. Dan karena itulah ia tidak pernah punya pacar semasa kuliah, meskipun itu sama sekali tidak ada kaitannya dengan kepercayaan dirinya sebagai laki-laki. Ia hanya merasa belum saatnya untuk menjalin hubungan serius dengan perempuan. Alhasil, ia pun hanya menjadi saksi hubungan romansa sahabatnya. Faisal memacari Sofia—teman sekelas mereka—di semester enam, hingga akhirnya hubungan keduanya berakhir di pelaminan.

Setelah acara pernikahan itu, Faisal berulang kali mendorongnya agar terus mendekati Rani.

“Dilihat dari segi apa pun, kau itu cocok dengan Rani, Han,” katanya.

Rani sendiri sebenarnya adalah adik tingkat mereka. Namun, selama kuliah perempuan itu luput dari perhatiannya. Sementara itu, Faisal mengenal Rani karena ia adalah juniornya di salah satu ormek yang mereka ikuti.

Ia memutuskan untuk mengikuti Rani di media sosial, tanpa berharap terlalu banyak. Namun, ajaibnya, itu adalah langkah kecil yang menggiringnya pada hal besar di kemudian hari, pada hubungan dua insan yang tak pernah ia bayangkan. Rani balik mengikutinya, dan obrolan keduanya berlanjut. Mereka bertukar nomor telepon, dan percakapan menjadi lebih hangat. Mereka bertemu di kala senggang, hingga akhirnya memutuskan menjalin hubungan serius.

Dua tahun berhubungan, segalanya terasa begitu indah baginya. Hidupnya terasa lebih bermakna; ia merasa tumbuh sebagai laki-laki yang dapat diandalkan, memberi arti pada sosok yang ia sayangi. Namun, hal sebaliknya justru terjadi pada hubungan Faisal dan istrinya. Rumah tangga sahabatnya itu bak kapal karam yang hanya bisa pasrah diterjang gelombang raksasa.

Suatu malam, Faisal menghubunginya dan mengajak bertemu. Mereka bertemu di angkringan jogja yang tak jauh dari indekosnya. Tak ada tanda-tanda kesedihan di wajah sahabatnya. Sebaliknya, laki-laki itu justru tampak bersemangat. Dengan menggebu-gebu ia bercerita tentang kelakuan istrinya di rumah, sembari mengisap rokok elektrik tiada henti.

“Coba dengar ini, Han,” kata Faisal, sembari menyodorkan ponsel ke arahnya.

Dari ponsel itu terdengar suara Sofia yang sedang berteriak dan memaki-maki. Jika tidak salah hitung, ada empat atau lima nama binatang yang digunakan sebagai umpatan. Faisal rupanya baru saja merekam istrinya yang sedang marah besar. Dan sahabatnya itu mengatakan kalau ia baru saja diusir dari rumah. Tak banyak yang bisa dikatakannya, karena ia sendiri belum punya pengalaman berumah tangga. Ia hanya memintanya bersabar, dan meyakinkannya kalau ia pasti bisa menyelesaikan masalahnya itu; sebuah retorika kosong yang ia lontarkan hanya untuk membesarkan hati sahabatnya.

Namun, satu minggu kemudian, ia dikagetkan oleh postingan video dari akun media sosial Sofia. Video itu cukup viral dan mengundang ribuan komentar. Tampak Sofia yang sedang menangis tersedu-sedu di video itu. Namun, yang paling mengagetkannya adalah luka lebam di sekitar wajahnya. Perempuan itu juga menunjukkan lebam yang ada di lengan, paha, dan sekitar tulang selangka. Dengan tersengal-sengal, Sofia mengatakan kalau Faisal sering memukul, menendang, menjambak rambut, dan membenturkan kepalanya ke tembok. Tak begitu jelas sebab musabab dari kekerasan itu, karena selanjutnya perempuan itu hanya  mengatakan kalau ia sudah tidak tahan dan ingin pergi dari rumah.

Ia mencoba menghubungi Faisal, tapi tak ada jawaban. Namun, tiga bulan setelahnya, ia mendengar kabar kalau Faisal dan Sofia sudah resmi bercerai. Ia mencoba kembali menghubungi sahabatnya, yang kali ini mengangkat teleponnya.

“Tak usah ikut campur, Han! Urus urusanmu sendiri!” jawab Faisal ketika ia menanyakan perihal perceraiannya. Tak seperti biasa, jawaban laki-laki itu begitu sengak, ia seperti tidak mengenalinya lagi. Dan setelah itu, keduanya nyaris tak pernah bertemu.

Di sisi lain, ia sendiri merasa hubungannya dengan Rani mulai ada gejolak. Rani mulai menyindir-nyindir perihal kapan ia akan melamar dirinya. Ketika ia berkelit atau tidak memberi jawaban pasti, maka kekasihnya itu akan uring-uringan berhari-hari bahkan berminggu-minggu. Dari sini, pertengkaran mulai sering terjadi. Tapi, ia bukannya tak ingin memberi jawaban pasti. Ia sedang menghitung kapan waktu yang tepat untuk melamar atau melangsungkan pernikahan. Ia memang sedang memikirkan dan mempersiapkan segalanya: biaya resepsi, tempat tinggal, tabungan setelah menikah, dan segala tetek bengek yang ada di kepalanya.

“Tunggu setidaknya dua tahun lagi,” jawabnya ketika sudah terdesak.

Dalam dua tahun itu pun waktunya banyak habis untuk mengais rupiah. Ada sedikit keberuntungan yang didapatnya karena sebelum itu ia diterima sebagai guru di salah satu SMA swasta yang cukup bonafide. Penghasilan dari pekerjaan itu setidaknya dapat menambah jumlah nominal di rekeningnya selain dari penghasilan sebagai penulis lepas.

Sedikit demi sedikit uang tabungannya bertambah. Semoga nanti cukup untuk modal menikah rakyat blangsak seperti dirinya, begitu harapnya.

Namun, ibarat maut yang tak tahu kapan datangnya, kesialan pun demikian. Di tengah malam buta tiba-tiba ibunya menelepon sembari terisak. Sebuah kabar buruk langsung membuat kakinya lemas. Ayahnya yang bekerja sebagai buruh tani kopi di Lampung Barat baru saja diterkam harimau sumatra. Tak jelas benar cerita ibunya, ia hanya menangkap kalau ayahnya diserang harimau yang tiba-tiba merangsek ke perkebunan ketika hendak pulang. Beruntung ayahnya masih bisa diselamatkan warga, tapi ia harus kehilangan kaki sebelah kanannya.

Peristiwa itu sangat memukulnya. Kini ayahnya tak lagi bisa bekerja. Orang tuanya tak lagi punya penghasilan, karena kondisi fisik ibunya sendiri sudah sangat lemah lantaran mengidap penyakit jantung koroner. Padahal, ia masih punya seorang adik yang sedang kuliah di Bandung, yang tentu perlu biaya setiap bulannya. Mau tidak mau ia harus menanggung beban ekonomi keluarganya.

Seolah belum cukup, dua bulan kemudian ia mendapat kabar kalau ia diberhentikan dari pekerjaannya sebagai guru. Yayasan yang menaungi SMA tempatnya mengajar ternyata sedang mengalami kesulitan keuangan dan nyaris dinyatakan pailit.

Kini pukulan itu terasa bertubi-tubi. Waktu terus berjalan, tapi tabungannya terus terkikis alih-alih bertambah. Uang yang ia kumpulkan dengan susah payah, lesap begitu saja tanpa aba-aba. Ia boleh berencana, tetapi dunia ini tidak digerakkan berdasarkan rencananya. Rencana menikahi Rani? Terasa semakin jauh dari jangkauannya.

“Aku tidak bisa terus-terusan menunggu,” jawab Rani ketika ia mengatakan kalau butuh waktu lagi untuk melamarnya. “Abah sudah sering tanya, kapan kamu datang ke rumah untuk melamar,” tandasnya lagi.

Ia pun semakin terdesak. Puncaknya adalah ketika Rani memintanya datang ke rumah karena abahnya ingin bertemu. Kala itu ia datang menjelang magrib, dan abahnya Rani sudah menunggu di ruang tamu. Ia mencoba bersikap sewajarnya karena ini bukan kali pertama ia datang bertamu. Setelah mengobrol sekitar 15 menit, mereka pun menuju masjid. Ayah kekasihnya itu menjadi imam di masjid tak jauh dari rumah. Selesai salat, ketika keduanya sedang berjalan kaki kembali ke rumah, lelaki tua yang menurut taksirannya sudah menginjak usia 60 tahun itu tiba-tiba berhenti dan menatapnya serius.

“Mas, tolong segera nikahi Rani, kasihan dia,” katanya. Ia merasa tenggorokannya tercekat. Dadanya bergemuruh dan ia hanya membisu. Laki-laki tua itu masih menatap, mengiba kepadanya. “Dan tak baik kalau kalian terlalu lama pacaran,” pungkasnya.

Ia pun mengamini apa yang dikatakan ayah kekasihnya. Sebagai laki-laki terhormat, ia tidak bisa terus memberi janji yang tak pasti. Di kepalanya, kini ia hanya punya dua pilihan: mengakhiri hubungannya dengan Rani atau melucuti egonya—membuka rahasianya, kelemahannya, kerentanannya, dan mengharap iba demi mempertahankan hubungan. Dan ia lebih memilih yang pertama.

Meskipun ia sudah menata kata-katanya sebaik mungkin, tangis Rani tetap pecah malam itu. Tak ada yang bisa menangkal rasa pilu dari kata putus. Hatinya perih, tapi tak ada yang bisa dilakukannya. Kelak, ia kerap bertanya-tanya, andai ia mau jujur dan terbuka, apakah kesempatan hidup bersama Rani itu masih ada? Apakah mereka bisa berkompromi lalu mencari jalan keluar sehingga hubungan mereka bisa bertahan? Sayangnya, berandai-andai seperti itu percuma belaka karena tak akan mengubah realita,

Bertahun-tahun ia berusaha berdamai dengan rasa sesal. Dan ia pikir ia mampu. Yang ia tidak mampu adalah menggusah rasa sayangnya terhadap Rani. Baginya, perempuan itu tetaplah kekasihnya, meski itu hanya ada di hati dan pikirannya sendiri.

***

Sudah delapan bulan ia bekerja di kafe kecil ini, dan kini mereka kembali duduk berhadap-hadapan. Awalnya Rani sekadar mampir, tapi secangkir latte yang ia sodorkan memaksanya berlama-lama. Setelah latte itu tandas, perempuan itu pun mulai menunjukkan gelagat hendak pergi.

Ia mengiringi Rani berjalan menuju tempat parkir, seraya kembali mengamat-amati undangan pernikahan di tangannya. Sesekali diliriknya perempuan di sebelahnya itu, yang kerudungnya berkibar-kibar terkena angin malam.

“Sampaikan salamku untuk Faisal,” katanya, “Semoga kalian berdua berbahagia.”

“Kenapa tidak kamu sampaikan sendiri?”

“Dia tidak pernah membalas pesanku.”

“Oh..”

Rani pun berlalu. Ia masih tidak dapat melepaskan pandangannya dari perempuan itu. Lalu ia membayangkan, seperti apa kehidupannya kelak bersama suaminya. Sayangnya, dalam bayangannya hanya ada gelap, bahkan lebih gelap dari Palung Mariana. [T]

Penulis: Anggit Rizkianto
Editor: Adnyana Ole

  • KLIK untuk BACA cerpen lain
Seharusnya Mati | Cerpen Hilmi Baskoro
Bujuk   |  Cerpen Khairul A. El Maliky
Buket Mawar Merah |  Cerpen Yuditeha
Go-Sex | Cerpen Sonhaji Abdullah
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Muhammad Asqalani eNeSTe | Lorong Kata

Next Post

#IndonesiaGelap: Siapa yang Gelap?

Anggit Rizkianto

Anggit Rizkianto

Penulis fiksi dan nonfiksi. Lahir di Belitung Timur, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Kini tinggal di Surabaya dan bekerja sebagai dosen. Buku terbarunya berjudul Pelayaran Terakhir: Kolase Kisah dari Bumi Timah hingga Jawa (Mekar Cipta Lestari, 2024).

Related Posts

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

Read moreDetails

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
May 10, 2026
0
Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

PAGI di Desa Batu Pangeran selalu datang dengan langkah pelan, seolah ia tahu bahwa tempat itu tidak suka tergesa-gesa. Langit...

Read moreDetails

Puting Beliung | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
May 9, 2026
0
Puting Beliung | Cerpen Supartika

Sial! Neraka dilanda puting beliung. Porak-poranda. Api neraka yang berkobar-kobar ikut tersapu puting beliung yang hebat itu. Angin membuat api...

Read moreDetails

Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
May 4, 2026
0
Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

“Risa, aku sudah melihat hasil pengumuman itu,” ucap Bagus lirih, nyaris tenggelam dalam gemuruh angin senja. Aku menoleh, menatap wajahnya...

Read moreDetails

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

by Depri Ajopan
April 25, 2026
0
Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

CAKEH yang baru dilarikan ke rumah Pak Ik merintih kesakitan. Anak perempuan berumur 14 tahun itu baru digigit ular kobra...

Read moreDetails

Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
April 12, 2026
0
Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

PAGI baru menjelang, cahaya lembutnya merayap di balik pepohonan. Kadek Arya siap-siap berangkat mengajar ke sekolah. Tamat di Fakultas Sastra...

Read moreDetails

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

by Polanco S. Achri
April 11, 2026
0
Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

buat A.Hayya, Pak Saeful, dan Teater AwalGarut, juga seorang perempuan I. Ibu memandang jauh; sepasang matanya menggambarkan suatu yang tak...

Read moreDetails

Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
April 10, 2026
0
Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

- Katakan dia akan hidup lagi! - Dia sudah mati! - Dia akan hidup! Bangunkan dia. - Jangan, jangan, dia...

Read moreDetails

Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

by I Nyoman Sutarjana
April 5, 2026
0
Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

ASTRA menarik tangan ibunya, yang sedang jongkok. Sampah plastik yang dikumpulkan ibunya ia sisihkan. Ibu melepas cengkraman tangan Astra berusaha...

Read moreDetails

Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
April 4, 2026
0
Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

SETIAP tahun, orang-orang kota mendadak berubah menjadi makhluk spiritual. Mereka yang biasanya mengeluh soal panas, debu, tetangga berisik, dan harga...

Read moreDetails
Next Post
Refleksi Semangat Juang Bung Tomo dan Kepemimpinan Masa Kini

#IndonesiaGelap: Siapa yang Gelap?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Perkuat Toleransi dan Semangat Persatuan’ —Begitu Kata Ketua MPR Ahmad Muzani saat Beri Kuliah Umum Kebangsaan di Institut Mpu Kuturan
Pendidikan

‘Perkuat Toleransi dan Semangat Persatuan’ —Begitu Kata Ketua MPR Ahmad Muzani saat Beri Kuliah Umum Kebangsaan di Institut Mpu Kuturan

KETUA MPR RI, Ahmad Muzani memberikan Kuliah Umum Kebangsaan kepada sivitas akademika Institut Mpu Kuturan (IMK) pada Jumat (15/5) sore....

by Son Lomri
May 15, 2026
Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo
Esai

Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo

“The man who wears the shoe knows best that it pinches and where it pinches, even if the expert shoemaker...

by Faris Widiyatmoko
May 15, 2026
Hikayat Rempah dalam Prasasti dan Lontar Bali
Liputan Khusus

Hikayat Rempah dalam Prasasti dan Lontar Bali

LIMA tahun lalu, kawan saya, Dian Suryantini—jurnalis sekaligus akademisi yang tinggal di Singaraja, Bali—bercerita tentang neneknya, Nyoman Landri, warga Banjar...

by Jaswanto
May 15, 2026
Leak Tanah Bali: Kiprah Teranyar Amplitherapy Nan Garang & Swakendali
Hiburan

Leak Tanah Bali: Kiprah Teranyar Amplitherapy Nan Garang & Swakendali

ALBUM penuh terbaru Amplitherapy bertajuk Leak Tanah Bali yang dijadwalkan terbit pada 16 Mei 2026 menandai babak baru perjalanan musikal...

by Nyoman Budarsana
May 15, 2026
Pesona Tulisan Tanpa Saltik di Tengah Budaya Instan
Bahasa

Pesona Tulisan Tanpa Saltik di Tengah Budaya Instan

PERNAHKAH Anda memperhatikan penulisan atau ejaan konten seseorang saat sedang berselancar di media sosial? Kesalahan tik atau saltik yang populer...

by I Made Sudiana
May 15, 2026
Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital
Ulas Musik

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

DALAM lanskap rock progresif 1970-an, “Castle Walls” tampil sebagai balada megah yang sarat ketegangan emosional. Ditulis dan dinyanyikan oleh vokalis...

by Ahmad Sihabudin
May 14, 2026
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co