2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

#IndonesiaGelap: Siapa yang Gelap?

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
March 9, 2025
in Esai
Refleksi Semangat Juang Bung Tomo dan Kepemimpinan Masa Kini

Petrus Imam Prawoto Jati

BEBERAPA waktu lalu saya dalam perjalanan pulang dari tempat saya nyangkul, alias pulang kerja, dan terpelan oleh jalanan macet. Ternyata gabungan beberapa BEM dari universitas negeri dan swasta bergabung sedang demo.

Diam-diam saya bangga betul kepada rekan-rekan mahasiswa ini. Memang waktu itu, tagar #IndonesiaGelap bergaung di media sosial dan menyeret opini publik ke dalam suatu pusaran pertanyaan besar: apakah Indonesia benar-benar sedang berada dalam kegelapan?

Tagar ini saya kira bukan sekadar keluhan emosional tanpa dasar, melainkan sebuah sinyal dari masyarakat yang jenuh dengan serangkaian kasus yang meruntuhkan kepercayaan mereka terhadap pemerintah. Dari skandal BBM oplosan, kasus korupsi di BUMN, pemerasan oleh oknum aparat kepolisian, hingga kontroversi aturan pemilu. Semua ini tentu saja membentuk satu narasi besar krisis kredibilitas negara. Wajar to, jika mahasiswa Indonesia sebagai elemen kritis masyarakat, bergerak?

Minuman Oplosan ke BBM Oplosan: Mentalitas yang Sama?

Kira-kira adakah di antara pembaca yang budiman, yang mungkin melihat adanya sebuah ironi dalam kasus Pertamax, yang diduga dioplos dengan BBM berkualitas lebih rendah. Jika kita melihat situasi di tengah masyarakat, praktik pengoplosan sering dimuat media dan dikaitkan dengan kelompok ekonomi bawah yang mencari cara murah untuk tetap mendapatkan efek tertentu.

Kasus yang paling sering kita dengar adalah soal minuman keras hingga ngoplos bahan bakar. Namun, ketika praktik ini terjadi di level perusahaan minyak negara, tentu itu bukan lagi sekadar akal-akalan bertahan hidup karena kondisi yang mepet, melainkan bentuk kejahatan sistemik. Di mana bedanya? Satu dilakukan di gang sempit, yang lain di gedung mewah dengan dasi dan jas. Waduh, menyebut-nyebut dasi kok jadi teringat tikus berdasi yang berkerudung burung keemasan itu, ya?

Kembali lagi, skandal Pertamina ini lebih dari sekadar isu teknis soal formulasi blending kimia bahan bakar minyak, melainkan lebih ke menyoal bagaimana sebuah institusi negara, yang seharusnya menjadi tulang punggung energi nasional, malah justru terlibat dalam dugaan manipulasi produk demi keuntungan segelintir orang.

Kepercayaan publik terhadap Pertamina, yang sudah tidak terlalu tinggi karena harga BBM yang suka naik turun tanpa transparansi memadai, kini makin terpuruk. Dan jika masyarakat tidak lagi percaya pada pengelolaan energi yang mereka gunakan sehari-hari, semestinya ini jadi lampu merah bagi stabilitas negara kita.

Skandal yang Tak Kunjung Usai

Kasus-kasus besar yang mengguncang pemerintahan dalam setahun terakhir semakin memperparah krisis kepercayaan. Korupsi di Pertamina dengan dugaan kerugian negara mencapai Rp193,7 triliun, penahanan eks Menteri Perdagangan terkait impor gula, serta skandal pemerasan oleh oknum aparat kepolisian terhadap warga asing di sebuah festival musik, semuanya mau tak mau membentuk citra bahwa keadilan dan integritas, hanyalah jargon kosong dalam birokrasi Indonesia.

Ketika skandal sana-sini terus terungkap, wajar juga jika publik mulai bertanya-tanya: apakah tak ada satu pun lembaga negara yang masih bisa dipercaya? Jika institusi yang mengelola kebutuhan dasar masyarakat seperti BBM, perdagangan, dan keamanan saja sarat dengan masalah, bagaimana dengan sektor lain? Apakah pendidikan, kesehatan, dan layanan publik lainnya juga mengalami degradasi yang sama? Di titik ini, pesimisme kolektif menjadi sesuatu yang tak terhindarkan lagi.

Kepercayaan rakyat terhadap sistem politik kita juga mengalami guncangan besar. Kemarin ramai-ramai khalayak gaduh, katanya ada upaya perubahan aturan pemilu yang didorong oleh orang-orang dekat di lingkungan pemimpin untuk menguntungkan putranya, entah sulung, entah tengah, atau yang bungsu. Hal itu sesungguhnya menjadi tamparan keras bagi demokrasi Indonesia. Meski akhirnya dibatalkan, publik sudah terlanjur melihat adanya upaya pribadi untuk memperkokoh dinasti kekuasaan.

Akibatnya, ketika publik merasa bahwa pemilu yang seharusnya menjadi mekanisme demokratis, kemudian dimanipulasi untuk kepentingan segelintir orang, maka keyakinan terhadap sistem politik, perlahan tapi pasti, niscaya runtuh. Di titik ini, mahasiswa dan kelompok-kelompok kritis lainnya melihat satu hal yang jelas; jika tidak ada intervensi dari publik, demokrasi bisa meredup dan mati perlahan.

Mengapa Mahasiswa Bergerak?

Mahasiswa bukan hanya simbol perlawanan, tetapi juga barometer untuk menilai indeks kesehatan demokrasi. Ketika mereka turun ke jalan, saya yakin itu bukan sekadar karena ingin viral atau mencari sensasi, melainkan nalar kritis mereka melihat ada yang salah dalam sistem kita. Mahasiswa bergerak bukan karena mereka baper, tapi karena pemerintah gagal menjelaskan banyak hal.

Sebenarnya ketidakpuasan ini bukan sekadar soal BBM atau pemilu semata, tetapi tentang akumulasi kekecewaan yang tidak mendapat respons yang memadai dari penguasa. Ketika kritik dijawab dengan serangan balik, dan protes dihadapi dengan represi, maka hanya ada satu konsekuensi logis: semakin banyak orang yang percaya bahwa negara ini sedang menuju kegelapan.

Apakah Indonesia benar-benar gelap? Jawabannya subjektif, bergantung pada perspektif masing-masing. Bagi mereka yang menikmati fasilitas kekuasaan, Indonesia masih cerah terang-benderang dengan peluang ekonomi dan investasi. Namun, bagi masyarakat yang menghadapi harga BBM yang terus naik, dihimpit kebijakan yang hanya menguntungkan elite, digencet aparat yang korup, gelap bukan lagi sekadar metafora, tetapi benar-benar nyata memang terlihat gelap. Suram.

Ada satu pernyataan dari petinggi negara sekaligus Penasihat Presiden: “Bukan Indonesia yang gelap, tapi kau yang gelap.” Pernyataan ini justru memperkuat kenyataan bahwa, betul memang rakyatlah yang gelap, masyarakat memang merasa sedang berada dalam kegelapan. Alih-alih meredam keresahan, pernyataan ini justru semakin menegaskan bahwa memang ada jarak besar antara perspektif elite dan realitas yang dirasakan rakyat.

Yang jelas, tagar #IndonesiaGelap bukan sekadar keluhan di media sosial. Ia adalah alarm peringatan bahwa kepercayaan publik sedang berada di titik kritis. Pemerintah sebaiknya tidak sekadar membantah atau menepis keresahan rakyat ini dengan kata-kata tajam. Justru, yang dibutuhkan adalah ruang berekspresi bagi mahasiswa dan masyarakat, karena ini adalah bentuk kepedulian mereka terhadap negeri ini.

Mahasiswa tidak sekadar turun ke jalan demi kepentingan pribadi, mereka sedang belajar mengurus negara sesuai panggilan nuraninya. Dan tugas pemerintah bukanlah membungkam, melainkan memberi ruang, sembari terus berbenah diri. Di tengah gelombang kritik, tentu ada juga kebijakan yang dapat dilihat sebagai niat baik. Salah satunya adalah keterlibatan pemerintah dalam penyelamatan PT Sritex, perusahaan tekstil besar yang mengalami krisis finansial.

Upaya ini memang menunjukkan perhatian pemerintah terhadap industri nasional dan lapangan kerja ribuan buruh. Jika ditangani dengan transparan dan profesional, langkah ini bisa menjadi sinyal harapan bahwa pemerintah masih memiliki kepedulian terhadap sektor industri dan pekerja. Namun, jika modus penyelamatannya tidak disertai dengan reformasi tata kelola perusahaan, kembali lagi, upaya ini bisa saja hanya menyelamatkan segelintir elite bisnis. Gelap lagi, para pambaca yang budiman.

Menyalakan Harapan

Adanya tagar #IndonesiaGelap menunjukkan bahwa Indonesia  sedang menghadapi lagi ujian kepercayaan yang serius. Namun, di tengah kegelapan, tentu harus ada semangat untuk menyalakan kembali cahaya. Harapan masih ada jika pemerintah mau lebih transparan, lebih akuntabel, dan lebih terbuka terhadap kritik.

Reformasi birokrasi yang serius, penegakan hukum tanpa tebang pilih, disertai keterbukaan terhadap aspirasi masyarakat, itulah kunci mengembalikan kepercayaan publik. Bagi masyarakat, khususnya mahasiswa, peran sebagai pengawas demokrasi tetap harus terus dijaga. Kritik yang tajam, protes yang konstruktif, dan keterlibatan aktif dalam proses demokrasi adalah bagian dari solusi.

Jika Indonesia terlihat gelap, ya emang  tugas kita bersama untuk menemukan cara, apapun itu, untuk menyalakan kembali cahaya bagi Indonesia tercinta. Sembari mendengar lagi alunan lagu Iwan Fals, masih soal tikus:

Kisah usang tikus-tikus kantor
Yang suka berenang di sungai yang kotor
Kisah usang tikus-tikus berdasi
Yang suka ingkar janji, lalu sembunyi

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis PETRUS IMAM PRAWOTO JATI

Merenungkan Musik; Sukatani, Perlawanan, dan Penguasa

Tags: Indonesia
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Lebih Gelap dari Palung Mariana | Cerpen Anggit Rizkianto

Next Post

Legong dan Tabuh Palegongan Gaya Peliatan, Lestari dari Generasi ke Generasi

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Legong dan Tabuh Palegongan Gaya Peliatan, Lestari dari Generasi ke Generasi

Legong dan Tabuh Palegongan Gaya Peliatan, Lestari dari Generasi ke Generasi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co