24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

#IndonesiaGelap: Siapa yang Gelap?

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
March 9, 2025
in Esai
Refleksi Semangat Juang Bung Tomo dan Kepemimpinan Masa Kini

Petrus Imam Prawoto Jati

BEBERAPA waktu lalu saya dalam perjalanan pulang dari tempat saya nyangkul, alias pulang kerja, dan terpelan oleh jalanan macet. Ternyata gabungan beberapa BEM dari universitas negeri dan swasta bergabung sedang demo.

Diam-diam saya bangga betul kepada rekan-rekan mahasiswa ini. Memang waktu itu, tagar #IndonesiaGelap bergaung di media sosial dan menyeret opini publik ke dalam suatu pusaran pertanyaan besar: apakah Indonesia benar-benar sedang berada dalam kegelapan?

Tagar ini saya kira bukan sekadar keluhan emosional tanpa dasar, melainkan sebuah sinyal dari masyarakat yang jenuh dengan serangkaian kasus yang meruntuhkan kepercayaan mereka terhadap pemerintah. Dari skandal BBM oplosan, kasus korupsi di BUMN, pemerasan oleh oknum aparat kepolisian, hingga kontroversi aturan pemilu. Semua ini tentu saja membentuk satu narasi besar krisis kredibilitas negara. Wajar to, jika mahasiswa Indonesia sebagai elemen kritis masyarakat, bergerak?

Minuman Oplosan ke BBM Oplosan: Mentalitas yang Sama?

Kira-kira adakah di antara pembaca yang budiman, yang mungkin melihat adanya sebuah ironi dalam kasus Pertamax, yang diduga dioplos dengan BBM berkualitas lebih rendah. Jika kita melihat situasi di tengah masyarakat, praktik pengoplosan sering dimuat media dan dikaitkan dengan kelompok ekonomi bawah yang mencari cara murah untuk tetap mendapatkan efek tertentu.

Kasus yang paling sering kita dengar adalah soal minuman keras hingga ngoplos bahan bakar. Namun, ketika praktik ini terjadi di level perusahaan minyak negara, tentu itu bukan lagi sekadar akal-akalan bertahan hidup karena kondisi yang mepet, melainkan bentuk kejahatan sistemik. Di mana bedanya? Satu dilakukan di gang sempit, yang lain di gedung mewah dengan dasi dan jas. Waduh, menyebut-nyebut dasi kok jadi teringat tikus berdasi yang berkerudung burung keemasan itu, ya?

Kembali lagi, skandal Pertamina ini lebih dari sekadar isu teknis soal formulasi blending kimia bahan bakar minyak, melainkan lebih ke menyoal bagaimana sebuah institusi negara, yang seharusnya menjadi tulang punggung energi nasional, malah justru terlibat dalam dugaan manipulasi produk demi keuntungan segelintir orang.

Kepercayaan publik terhadap Pertamina, yang sudah tidak terlalu tinggi karena harga BBM yang suka naik turun tanpa transparansi memadai, kini makin terpuruk. Dan jika masyarakat tidak lagi percaya pada pengelolaan energi yang mereka gunakan sehari-hari, semestinya ini jadi lampu merah bagi stabilitas negara kita.

Skandal yang Tak Kunjung Usai

Kasus-kasus besar yang mengguncang pemerintahan dalam setahun terakhir semakin memperparah krisis kepercayaan. Korupsi di Pertamina dengan dugaan kerugian negara mencapai Rp193,7 triliun, penahanan eks Menteri Perdagangan terkait impor gula, serta skandal pemerasan oleh oknum aparat kepolisian terhadap warga asing di sebuah festival musik, semuanya mau tak mau membentuk citra bahwa keadilan dan integritas, hanyalah jargon kosong dalam birokrasi Indonesia.

Ketika skandal sana-sini terus terungkap, wajar juga jika publik mulai bertanya-tanya: apakah tak ada satu pun lembaga negara yang masih bisa dipercaya? Jika institusi yang mengelola kebutuhan dasar masyarakat seperti BBM, perdagangan, dan keamanan saja sarat dengan masalah, bagaimana dengan sektor lain? Apakah pendidikan, kesehatan, dan layanan publik lainnya juga mengalami degradasi yang sama? Di titik ini, pesimisme kolektif menjadi sesuatu yang tak terhindarkan lagi.

Kepercayaan rakyat terhadap sistem politik kita juga mengalami guncangan besar. Kemarin ramai-ramai khalayak gaduh, katanya ada upaya perubahan aturan pemilu yang didorong oleh orang-orang dekat di lingkungan pemimpin untuk menguntungkan putranya, entah sulung, entah tengah, atau yang bungsu. Hal itu sesungguhnya menjadi tamparan keras bagi demokrasi Indonesia. Meski akhirnya dibatalkan, publik sudah terlanjur melihat adanya upaya pribadi untuk memperkokoh dinasti kekuasaan.

Akibatnya, ketika publik merasa bahwa pemilu yang seharusnya menjadi mekanisme demokratis, kemudian dimanipulasi untuk kepentingan segelintir orang, maka keyakinan terhadap sistem politik, perlahan tapi pasti, niscaya runtuh. Di titik ini, mahasiswa dan kelompok-kelompok kritis lainnya melihat satu hal yang jelas; jika tidak ada intervensi dari publik, demokrasi bisa meredup dan mati perlahan.

Mengapa Mahasiswa Bergerak?

Mahasiswa bukan hanya simbol perlawanan, tetapi juga barometer untuk menilai indeks kesehatan demokrasi. Ketika mereka turun ke jalan, saya yakin itu bukan sekadar karena ingin viral atau mencari sensasi, melainkan nalar kritis mereka melihat ada yang salah dalam sistem kita. Mahasiswa bergerak bukan karena mereka baper, tapi karena pemerintah gagal menjelaskan banyak hal.

Sebenarnya ketidakpuasan ini bukan sekadar soal BBM atau pemilu semata, tetapi tentang akumulasi kekecewaan yang tidak mendapat respons yang memadai dari penguasa. Ketika kritik dijawab dengan serangan balik, dan protes dihadapi dengan represi, maka hanya ada satu konsekuensi logis: semakin banyak orang yang percaya bahwa negara ini sedang menuju kegelapan.

Apakah Indonesia benar-benar gelap? Jawabannya subjektif, bergantung pada perspektif masing-masing. Bagi mereka yang menikmati fasilitas kekuasaan, Indonesia masih cerah terang-benderang dengan peluang ekonomi dan investasi. Namun, bagi masyarakat yang menghadapi harga BBM yang terus naik, dihimpit kebijakan yang hanya menguntungkan elite, digencet aparat yang korup, gelap bukan lagi sekadar metafora, tetapi benar-benar nyata memang terlihat gelap. Suram.

Ada satu pernyataan dari petinggi negara sekaligus Penasihat Presiden: “Bukan Indonesia yang gelap, tapi kau yang gelap.” Pernyataan ini justru memperkuat kenyataan bahwa, betul memang rakyatlah yang gelap, masyarakat memang merasa sedang berada dalam kegelapan. Alih-alih meredam keresahan, pernyataan ini justru semakin menegaskan bahwa memang ada jarak besar antara perspektif elite dan realitas yang dirasakan rakyat.

Yang jelas, tagar #IndonesiaGelap bukan sekadar keluhan di media sosial. Ia adalah alarm peringatan bahwa kepercayaan publik sedang berada di titik kritis. Pemerintah sebaiknya tidak sekadar membantah atau menepis keresahan rakyat ini dengan kata-kata tajam. Justru, yang dibutuhkan adalah ruang berekspresi bagi mahasiswa dan masyarakat, karena ini adalah bentuk kepedulian mereka terhadap negeri ini.

Mahasiswa tidak sekadar turun ke jalan demi kepentingan pribadi, mereka sedang belajar mengurus negara sesuai panggilan nuraninya. Dan tugas pemerintah bukanlah membungkam, melainkan memberi ruang, sembari terus berbenah diri. Di tengah gelombang kritik, tentu ada juga kebijakan yang dapat dilihat sebagai niat baik. Salah satunya adalah keterlibatan pemerintah dalam penyelamatan PT Sritex, perusahaan tekstil besar yang mengalami krisis finansial.

Upaya ini memang menunjukkan perhatian pemerintah terhadap industri nasional dan lapangan kerja ribuan buruh. Jika ditangani dengan transparan dan profesional, langkah ini bisa menjadi sinyal harapan bahwa pemerintah masih memiliki kepedulian terhadap sektor industri dan pekerja. Namun, jika modus penyelamatannya tidak disertai dengan reformasi tata kelola perusahaan, kembali lagi, upaya ini bisa saja hanya menyelamatkan segelintir elite bisnis. Gelap lagi, para pambaca yang budiman.

Menyalakan Harapan

Adanya tagar #IndonesiaGelap menunjukkan bahwa Indonesia  sedang menghadapi lagi ujian kepercayaan yang serius. Namun, di tengah kegelapan, tentu harus ada semangat untuk menyalakan kembali cahaya. Harapan masih ada jika pemerintah mau lebih transparan, lebih akuntabel, dan lebih terbuka terhadap kritik.

Reformasi birokrasi yang serius, penegakan hukum tanpa tebang pilih, disertai keterbukaan terhadap aspirasi masyarakat, itulah kunci mengembalikan kepercayaan publik. Bagi masyarakat, khususnya mahasiswa, peran sebagai pengawas demokrasi tetap harus terus dijaga. Kritik yang tajam, protes yang konstruktif, dan keterlibatan aktif dalam proses demokrasi adalah bagian dari solusi.

Jika Indonesia terlihat gelap, ya emang  tugas kita bersama untuk menemukan cara, apapun itu, untuk menyalakan kembali cahaya bagi Indonesia tercinta. Sembari mendengar lagi alunan lagu Iwan Fals, masih soal tikus:

Kisah usang tikus-tikus kantor
Yang suka berenang di sungai yang kotor
Kisah usang tikus-tikus berdasi
Yang suka ingkar janji, lalu sembunyi

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis PETRUS IMAM PRAWOTO JATI

Merenungkan Musik; Sukatani, Perlawanan, dan Penguasa

Tags: Indonesia
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Lebih Gelap dari Palung Mariana | Cerpen Anggit Rizkianto

Next Post

Legong dan Tabuh Palegongan Gaya Peliatan, Lestari dari Generasi ke Generasi

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Legong dan Tabuh Palegongan Gaya Peliatan, Lestari dari Generasi ke Generasi

Legong dan Tabuh Palegongan Gaya Peliatan, Lestari dari Generasi ke Generasi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co