14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

#IndonesiaGelap: Siapa yang Gelap?

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
March 9, 2025
in Esai
Refleksi Semangat Juang Bung Tomo dan Kepemimpinan Masa Kini

Petrus Imam Prawoto Jati

BEBERAPA waktu lalu saya dalam perjalanan pulang dari tempat saya nyangkul, alias pulang kerja, dan terpelan oleh jalanan macet. Ternyata gabungan beberapa BEM dari universitas negeri dan swasta bergabung sedang demo.

Diam-diam saya bangga betul kepada rekan-rekan mahasiswa ini. Memang waktu itu, tagar #IndonesiaGelap bergaung di media sosial dan menyeret opini publik ke dalam suatu pusaran pertanyaan besar: apakah Indonesia benar-benar sedang berada dalam kegelapan?

Tagar ini saya kira bukan sekadar keluhan emosional tanpa dasar, melainkan sebuah sinyal dari masyarakat yang jenuh dengan serangkaian kasus yang meruntuhkan kepercayaan mereka terhadap pemerintah. Dari skandal BBM oplosan, kasus korupsi di BUMN, pemerasan oleh oknum aparat kepolisian, hingga kontroversi aturan pemilu. Semua ini tentu saja membentuk satu narasi besar krisis kredibilitas negara. Wajar to, jika mahasiswa Indonesia sebagai elemen kritis masyarakat, bergerak?

Minuman Oplosan ke BBM Oplosan: Mentalitas yang Sama?

Kira-kira adakah di antara pembaca yang budiman, yang mungkin melihat adanya sebuah ironi dalam kasus Pertamax, yang diduga dioplos dengan BBM berkualitas lebih rendah. Jika kita melihat situasi di tengah masyarakat, praktik pengoplosan sering dimuat media dan dikaitkan dengan kelompok ekonomi bawah yang mencari cara murah untuk tetap mendapatkan efek tertentu.

Kasus yang paling sering kita dengar adalah soal minuman keras hingga ngoplos bahan bakar. Namun, ketika praktik ini terjadi di level perusahaan minyak negara, tentu itu bukan lagi sekadar akal-akalan bertahan hidup karena kondisi yang mepet, melainkan bentuk kejahatan sistemik. Di mana bedanya? Satu dilakukan di gang sempit, yang lain di gedung mewah dengan dasi dan jas. Waduh, menyebut-nyebut dasi kok jadi teringat tikus berdasi yang berkerudung burung keemasan itu, ya?

Kembali lagi, skandal Pertamina ini lebih dari sekadar isu teknis soal formulasi blending kimia bahan bakar minyak, melainkan lebih ke menyoal bagaimana sebuah institusi negara, yang seharusnya menjadi tulang punggung energi nasional, malah justru terlibat dalam dugaan manipulasi produk demi keuntungan segelintir orang.

Kepercayaan publik terhadap Pertamina, yang sudah tidak terlalu tinggi karena harga BBM yang suka naik turun tanpa transparansi memadai, kini makin terpuruk. Dan jika masyarakat tidak lagi percaya pada pengelolaan energi yang mereka gunakan sehari-hari, semestinya ini jadi lampu merah bagi stabilitas negara kita.

Skandal yang Tak Kunjung Usai

Kasus-kasus besar yang mengguncang pemerintahan dalam setahun terakhir semakin memperparah krisis kepercayaan. Korupsi di Pertamina dengan dugaan kerugian negara mencapai Rp193,7 triliun, penahanan eks Menteri Perdagangan terkait impor gula, serta skandal pemerasan oleh oknum aparat kepolisian terhadap warga asing di sebuah festival musik, semuanya mau tak mau membentuk citra bahwa keadilan dan integritas, hanyalah jargon kosong dalam birokrasi Indonesia.

Ketika skandal sana-sini terus terungkap, wajar juga jika publik mulai bertanya-tanya: apakah tak ada satu pun lembaga negara yang masih bisa dipercaya? Jika institusi yang mengelola kebutuhan dasar masyarakat seperti BBM, perdagangan, dan keamanan saja sarat dengan masalah, bagaimana dengan sektor lain? Apakah pendidikan, kesehatan, dan layanan publik lainnya juga mengalami degradasi yang sama? Di titik ini, pesimisme kolektif menjadi sesuatu yang tak terhindarkan lagi.

Kepercayaan rakyat terhadap sistem politik kita juga mengalami guncangan besar. Kemarin ramai-ramai khalayak gaduh, katanya ada upaya perubahan aturan pemilu yang didorong oleh orang-orang dekat di lingkungan pemimpin untuk menguntungkan putranya, entah sulung, entah tengah, atau yang bungsu. Hal itu sesungguhnya menjadi tamparan keras bagi demokrasi Indonesia. Meski akhirnya dibatalkan, publik sudah terlanjur melihat adanya upaya pribadi untuk memperkokoh dinasti kekuasaan.

Akibatnya, ketika publik merasa bahwa pemilu yang seharusnya menjadi mekanisme demokratis, kemudian dimanipulasi untuk kepentingan segelintir orang, maka keyakinan terhadap sistem politik, perlahan tapi pasti, niscaya runtuh. Di titik ini, mahasiswa dan kelompok-kelompok kritis lainnya melihat satu hal yang jelas; jika tidak ada intervensi dari publik, demokrasi bisa meredup dan mati perlahan.

Mengapa Mahasiswa Bergerak?

Mahasiswa bukan hanya simbol perlawanan, tetapi juga barometer untuk menilai indeks kesehatan demokrasi. Ketika mereka turun ke jalan, saya yakin itu bukan sekadar karena ingin viral atau mencari sensasi, melainkan nalar kritis mereka melihat ada yang salah dalam sistem kita. Mahasiswa bergerak bukan karena mereka baper, tapi karena pemerintah gagal menjelaskan banyak hal.

Sebenarnya ketidakpuasan ini bukan sekadar soal BBM atau pemilu semata, tetapi tentang akumulasi kekecewaan yang tidak mendapat respons yang memadai dari penguasa. Ketika kritik dijawab dengan serangan balik, dan protes dihadapi dengan represi, maka hanya ada satu konsekuensi logis: semakin banyak orang yang percaya bahwa negara ini sedang menuju kegelapan.

Apakah Indonesia benar-benar gelap? Jawabannya subjektif, bergantung pada perspektif masing-masing. Bagi mereka yang menikmati fasilitas kekuasaan, Indonesia masih cerah terang-benderang dengan peluang ekonomi dan investasi. Namun, bagi masyarakat yang menghadapi harga BBM yang terus naik, dihimpit kebijakan yang hanya menguntungkan elite, digencet aparat yang korup, gelap bukan lagi sekadar metafora, tetapi benar-benar nyata memang terlihat gelap. Suram.

Ada satu pernyataan dari petinggi negara sekaligus Penasihat Presiden: “Bukan Indonesia yang gelap, tapi kau yang gelap.” Pernyataan ini justru memperkuat kenyataan bahwa, betul memang rakyatlah yang gelap, masyarakat memang merasa sedang berada dalam kegelapan. Alih-alih meredam keresahan, pernyataan ini justru semakin menegaskan bahwa memang ada jarak besar antara perspektif elite dan realitas yang dirasakan rakyat.

Yang jelas, tagar #IndonesiaGelap bukan sekadar keluhan di media sosial. Ia adalah alarm peringatan bahwa kepercayaan publik sedang berada di titik kritis. Pemerintah sebaiknya tidak sekadar membantah atau menepis keresahan rakyat ini dengan kata-kata tajam. Justru, yang dibutuhkan adalah ruang berekspresi bagi mahasiswa dan masyarakat, karena ini adalah bentuk kepedulian mereka terhadap negeri ini.

Mahasiswa tidak sekadar turun ke jalan demi kepentingan pribadi, mereka sedang belajar mengurus negara sesuai panggilan nuraninya. Dan tugas pemerintah bukanlah membungkam, melainkan memberi ruang, sembari terus berbenah diri. Di tengah gelombang kritik, tentu ada juga kebijakan yang dapat dilihat sebagai niat baik. Salah satunya adalah keterlibatan pemerintah dalam penyelamatan PT Sritex, perusahaan tekstil besar yang mengalami krisis finansial.

Upaya ini memang menunjukkan perhatian pemerintah terhadap industri nasional dan lapangan kerja ribuan buruh. Jika ditangani dengan transparan dan profesional, langkah ini bisa menjadi sinyal harapan bahwa pemerintah masih memiliki kepedulian terhadap sektor industri dan pekerja. Namun, jika modus penyelamatannya tidak disertai dengan reformasi tata kelola perusahaan, kembali lagi, upaya ini bisa saja hanya menyelamatkan segelintir elite bisnis. Gelap lagi, para pambaca yang budiman.

Menyalakan Harapan

Adanya tagar #IndonesiaGelap menunjukkan bahwa Indonesia  sedang menghadapi lagi ujian kepercayaan yang serius. Namun, di tengah kegelapan, tentu harus ada semangat untuk menyalakan kembali cahaya. Harapan masih ada jika pemerintah mau lebih transparan, lebih akuntabel, dan lebih terbuka terhadap kritik.

Reformasi birokrasi yang serius, penegakan hukum tanpa tebang pilih, disertai keterbukaan terhadap aspirasi masyarakat, itulah kunci mengembalikan kepercayaan publik. Bagi masyarakat, khususnya mahasiswa, peran sebagai pengawas demokrasi tetap harus terus dijaga. Kritik yang tajam, protes yang konstruktif, dan keterlibatan aktif dalam proses demokrasi adalah bagian dari solusi.

Jika Indonesia terlihat gelap, ya emang  tugas kita bersama untuk menemukan cara, apapun itu, untuk menyalakan kembali cahaya bagi Indonesia tercinta. Sembari mendengar lagi alunan lagu Iwan Fals, masih soal tikus:

Kisah usang tikus-tikus kantor
Yang suka berenang di sungai yang kotor
Kisah usang tikus-tikus berdasi
Yang suka ingkar janji, lalu sembunyi

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis PETRUS IMAM PRAWOTO JATI

Merenungkan Musik; Sukatani, Perlawanan, dan Penguasa

Tags: Indonesia
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Lebih Gelap dari Palung Mariana | Cerpen Anggit Rizkianto

Next Post

Legong dan Tabuh Palegongan Gaya Peliatan, Lestari dari Generasi ke Generasi

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails

Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

by Jro Gde Sudibya
May 8, 2026
0
Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

Tanggapan terhadap esai "Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama", tatkala.co, 8 Mei 2026 --- PENDIDIKAN...

Read moreDetails
Next Post
Legong dan Tabuh Palegongan Gaya Peliatan, Lestari dari Generasi ke Generasi

Legong dan Tabuh Palegongan Gaya Peliatan, Lestari dari Generasi ke Generasi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co