13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

#IndonesiaGelap: Siapa yang Gelap?

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
March 9, 2025
in Esai
Refleksi Semangat Juang Bung Tomo dan Kepemimpinan Masa Kini

Petrus Imam Prawoto Jati

BEBERAPA waktu lalu saya dalam perjalanan pulang dari tempat saya nyangkul, alias pulang kerja, dan terpelan oleh jalanan macet. Ternyata gabungan beberapa BEM dari universitas negeri dan swasta bergabung sedang demo.

Diam-diam saya bangga betul kepada rekan-rekan mahasiswa ini. Memang waktu itu, tagar #IndonesiaGelap bergaung di media sosial dan menyeret opini publik ke dalam suatu pusaran pertanyaan besar: apakah Indonesia benar-benar sedang berada dalam kegelapan?

Tagar ini saya kira bukan sekadar keluhan emosional tanpa dasar, melainkan sebuah sinyal dari masyarakat yang jenuh dengan serangkaian kasus yang meruntuhkan kepercayaan mereka terhadap pemerintah. Dari skandal BBM oplosan, kasus korupsi di BUMN, pemerasan oleh oknum aparat kepolisian, hingga kontroversi aturan pemilu. Semua ini tentu saja membentuk satu narasi besar krisis kredibilitas negara. Wajar to, jika mahasiswa Indonesia sebagai elemen kritis masyarakat, bergerak?

Minuman Oplosan ke BBM Oplosan: Mentalitas yang Sama?

Kira-kira adakah di antara pembaca yang budiman, yang mungkin melihat adanya sebuah ironi dalam kasus Pertamax, yang diduga dioplos dengan BBM berkualitas lebih rendah. Jika kita melihat situasi di tengah masyarakat, praktik pengoplosan sering dimuat media dan dikaitkan dengan kelompok ekonomi bawah yang mencari cara murah untuk tetap mendapatkan efek tertentu.

Kasus yang paling sering kita dengar adalah soal minuman keras hingga ngoplos bahan bakar. Namun, ketika praktik ini terjadi di level perusahaan minyak negara, tentu itu bukan lagi sekadar akal-akalan bertahan hidup karena kondisi yang mepet, melainkan bentuk kejahatan sistemik. Di mana bedanya? Satu dilakukan di gang sempit, yang lain di gedung mewah dengan dasi dan jas. Waduh, menyebut-nyebut dasi kok jadi teringat tikus berdasi yang berkerudung burung keemasan itu, ya?

Kembali lagi, skandal Pertamina ini lebih dari sekadar isu teknis soal formulasi blending kimia bahan bakar minyak, melainkan lebih ke menyoal bagaimana sebuah institusi negara, yang seharusnya menjadi tulang punggung energi nasional, malah justru terlibat dalam dugaan manipulasi produk demi keuntungan segelintir orang.

Kepercayaan publik terhadap Pertamina, yang sudah tidak terlalu tinggi karena harga BBM yang suka naik turun tanpa transparansi memadai, kini makin terpuruk. Dan jika masyarakat tidak lagi percaya pada pengelolaan energi yang mereka gunakan sehari-hari, semestinya ini jadi lampu merah bagi stabilitas negara kita.

Skandal yang Tak Kunjung Usai

Kasus-kasus besar yang mengguncang pemerintahan dalam setahun terakhir semakin memperparah krisis kepercayaan. Korupsi di Pertamina dengan dugaan kerugian negara mencapai Rp193,7 triliun, penahanan eks Menteri Perdagangan terkait impor gula, serta skandal pemerasan oleh oknum aparat kepolisian terhadap warga asing di sebuah festival musik, semuanya mau tak mau membentuk citra bahwa keadilan dan integritas, hanyalah jargon kosong dalam birokrasi Indonesia.

Ketika skandal sana-sini terus terungkap, wajar juga jika publik mulai bertanya-tanya: apakah tak ada satu pun lembaga negara yang masih bisa dipercaya? Jika institusi yang mengelola kebutuhan dasar masyarakat seperti BBM, perdagangan, dan keamanan saja sarat dengan masalah, bagaimana dengan sektor lain? Apakah pendidikan, kesehatan, dan layanan publik lainnya juga mengalami degradasi yang sama? Di titik ini, pesimisme kolektif menjadi sesuatu yang tak terhindarkan lagi.

Kepercayaan rakyat terhadap sistem politik kita juga mengalami guncangan besar. Kemarin ramai-ramai khalayak gaduh, katanya ada upaya perubahan aturan pemilu yang didorong oleh orang-orang dekat di lingkungan pemimpin untuk menguntungkan putranya, entah sulung, entah tengah, atau yang bungsu. Hal itu sesungguhnya menjadi tamparan keras bagi demokrasi Indonesia. Meski akhirnya dibatalkan, publik sudah terlanjur melihat adanya upaya pribadi untuk memperkokoh dinasti kekuasaan.

Akibatnya, ketika publik merasa bahwa pemilu yang seharusnya menjadi mekanisme demokratis, kemudian dimanipulasi untuk kepentingan segelintir orang, maka keyakinan terhadap sistem politik, perlahan tapi pasti, niscaya runtuh. Di titik ini, mahasiswa dan kelompok-kelompok kritis lainnya melihat satu hal yang jelas; jika tidak ada intervensi dari publik, demokrasi bisa meredup dan mati perlahan.

Mengapa Mahasiswa Bergerak?

Mahasiswa bukan hanya simbol perlawanan, tetapi juga barometer untuk menilai indeks kesehatan demokrasi. Ketika mereka turun ke jalan, saya yakin itu bukan sekadar karena ingin viral atau mencari sensasi, melainkan nalar kritis mereka melihat ada yang salah dalam sistem kita. Mahasiswa bergerak bukan karena mereka baper, tapi karena pemerintah gagal menjelaskan banyak hal.

Sebenarnya ketidakpuasan ini bukan sekadar soal BBM atau pemilu semata, tetapi tentang akumulasi kekecewaan yang tidak mendapat respons yang memadai dari penguasa. Ketika kritik dijawab dengan serangan balik, dan protes dihadapi dengan represi, maka hanya ada satu konsekuensi logis: semakin banyak orang yang percaya bahwa negara ini sedang menuju kegelapan.

Apakah Indonesia benar-benar gelap? Jawabannya subjektif, bergantung pada perspektif masing-masing. Bagi mereka yang menikmati fasilitas kekuasaan, Indonesia masih cerah terang-benderang dengan peluang ekonomi dan investasi. Namun, bagi masyarakat yang menghadapi harga BBM yang terus naik, dihimpit kebijakan yang hanya menguntungkan elite, digencet aparat yang korup, gelap bukan lagi sekadar metafora, tetapi benar-benar nyata memang terlihat gelap. Suram.

Ada satu pernyataan dari petinggi negara sekaligus Penasihat Presiden: “Bukan Indonesia yang gelap, tapi kau yang gelap.” Pernyataan ini justru memperkuat kenyataan bahwa, betul memang rakyatlah yang gelap, masyarakat memang merasa sedang berada dalam kegelapan. Alih-alih meredam keresahan, pernyataan ini justru semakin menegaskan bahwa memang ada jarak besar antara perspektif elite dan realitas yang dirasakan rakyat.

Yang jelas, tagar #IndonesiaGelap bukan sekadar keluhan di media sosial. Ia adalah alarm peringatan bahwa kepercayaan publik sedang berada di titik kritis. Pemerintah sebaiknya tidak sekadar membantah atau menepis keresahan rakyat ini dengan kata-kata tajam. Justru, yang dibutuhkan adalah ruang berekspresi bagi mahasiswa dan masyarakat, karena ini adalah bentuk kepedulian mereka terhadap negeri ini.

Mahasiswa tidak sekadar turun ke jalan demi kepentingan pribadi, mereka sedang belajar mengurus negara sesuai panggilan nuraninya. Dan tugas pemerintah bukanlah membungkam, melainkan memberi ruang, sembari terus berbenah diri. Di tengah gelombang kritik, tentu ada juga kebijakan yang dapat dilihat sebagai niat baik. Salah satunya adalah keterlibatan pemerintah dalam penyelamatan PT Sritex, perusahaan tekstil besar yang mengalami krisis finansial.

Upaya ini memang menunjukkan perhatian pemerintah terhadap industri nasional dan lapangan kerja ribuan buruh. Jika ditangani dengan transparan dan profesional, langkah ini bisa menjadi sinyal harapan bahwa pemerintah masih memiliki kepedulian terhadap sektor industri dan pekerja. Namun, jika modus penyelamatannya tidak disertai dengan reformasi tata kelola perusahaan, kembali lagi, upaya ini bisa saja hanya menyelamatkan segelintir elite bisnis. Gelap lagi, para pambaca yang budiman.

Menyalakan Harapan

Adanya tagar #IndonesiaGelap menunjukkan bahwa Indonesia  sedang menghadapi lagi ujian kepercayaan yang serius. Namun, di tengah kegelapan, tentu harus ada semangat untuk menyalakan kembali cahaya. Harapan masih ada jika pemerintah mau lebih transparan, lebih akuntabel, dan lebih terbuka terhadap kritik.

Reformasi birokrasi yang serius, penegakan hukum tanpa tebang pilih, disertai keterbukaan terhadap aspirasi masyarakat, itulah kunci mengembalikan kepercayaan publik. Bagi masyarakat, khususnya mahasiswa, peran sebagai pengawas demokrasi tetap harus terus dijaga. Kritik yang tajam, protes yang konstruktif, dan keterlibatan aktif dalam proses demokrasi adalah bagian dari solusi.

Jika Indonesia terlihat gelap, ya emang  tugas kita bersama untuk menemukan cara, apapun itu, untuk menyalakan kembali cahaya bagi Indonesia tercinta. Sembari mendengar lagi alunan lagu Iwan Fals, masih soal tikus:

Kisah usang tikus-tikus kantor
Yang suka berenang di sungai yang kotor
Kisah usang tikus-tikus berdasi
Yang suka ingkar janji, lalu sembunyi

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis PETRUS IMAM PRAWOTO JATI

Merenungkan Musik; Sukatani, Perlawanan, dan Penguasa

Tags: Indonesia
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Lebih Gelap dari Palung Mariana | Cerpen Anggit Rizkianto

Next Post

Legong dan Tabuh Palegongan Gaya Peliatan, Lestari dari Generasi ke Generasi

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
0
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

Read moreDetails

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails
Next Post
Legong dan Tabuh Palegongan Gaya Peliatan, Lestari dari Generasi ke Generasi

Legong dan Tabuh Palegongan Gaya Peliatan, Lestari dari Generasi ke Generasi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Waktu Berpindah Tangan
Ulas Musik

Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka
Tualang

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

by Chusmeru
July 13, 2026
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co