3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Seharusnya Mati | Cerpen Hilmi Baskoro

Hilmi Baskoro by Hilmi Baskoro
March 8, 2025
in Cerpen
Seharusnya Mati | Cerpen Hilmi Baskoro

Ilustrasi tatkala.co | Rusdy

GALIH baik-baik saja sampai akhirnya polisi menangkapnya. 19 November 2023, pukul 5 sore. Dia termenung di teras rumahnya sambil meneguk sedikit demi sedikit kopi susu yang baru dibuatnya selepas kerja. Di kantor, kerjaannya lumayan, walau rasa lelah menghantuinya dan dia berusaha menghilangkan itu.

Dia ditahan dan tetap menganggap dirinya benar. Atau pengakuan bahwa dirinya menyobek perut polisi dan membuat isinya tercecer di sekitar kakinya, adalah semata-mata tindakan heroik, tak lebih dan tak kurang dari itu.

Jadi, dia cuma duduk dan menghilangkan frustasi akibat kerjaannya. Lalu dua polisi itu sekonyong-konyong menangkapnya.

“Ikut kami ke kantor. Jelaskan apa yang kamu lakukan kepada rekan kami,” ungkap polisi yang paling tinggi.

Galih tak melawan. Dia menyerahkan tangannya begitu saja. Dia telah membayangkan peristiwa ini selayaknya terjadi.

Semuanya selesai dan dia merasa telah menang. Dia merasa sudah sangat berperan, sekarang. Dia telah membunuh polisi itu, dan artinya dia telah hidup. Institusi ini menemukan jalan pertama untuk reformasi!

2 November, media sosial dihebohkan tuntutan warganet agar hukuman kasus penembakan polisi oleh polisi segera diputuskan. Galih yang baru saja lulus kuliah, memulai karirnya sebagai copy writer di salah satu firma pendidikan daring. Semuanya berjalan baik. Yang membuatnya mengambil dua batang pisau dan pergi ke tempat di mana polisi itu diamankan, semua orang tak menyangkanya. Dialah anak paling berisik di kantor. Dia hanya butuh dua pekan untuk mengunjungi seluruh rumah karyawan.

Bersama si bos, dia sudah renang bareng. Dialah yang paling akrab dengan OB. Dialah yang paling sering memberi OB itu uang. Pekerja baru gajinya tak seberapa. Tapi dia tetap memberi OB itu uang. Bahkan deretan warung di gang samping kantor sudah pernah dia hutangi. Dan dia selalu bayar tepat waktu.

HRD memanggilnya si kecil malaikat. Tingginya memang hanya 157 sentimeter. Jika kalian menemukan pemuda seumurannya yang menjelek-jelekkan teman kerjanya di second account Instagram, dia memilih untuk mengajaknya makan. Tak mahal. Hanya makanan pinggir jalan. Tapi selalu ke tempat yang tak pernah kawan kerjanya coba.

Suatu kali, dia pernah mengajak admin Instagram kantor ke sebuah pusat kuliner Madura.

“Kamu pasti bakal suka ini,” katanya.

Setelah semua makanan tandas, dia mulai berkata bahwa sebenarnya dia ingin jujur tentang sesuatu. Sangat penting!

“Aku tidak suka caramu bekerja,” ucapnya dengan nada selembut mungkin, berusaha untuk tidak menyinggung.

Tapi semuanya selalu berakhir dengan baik. Begitu lah dia. Jujur dan apa adanya. Dan dia juga sangat pemberani.

Gajinya memang tak seberapa, namun ternyata dia mesti membelikan ini-itu untuk adiknya. Di hari saat dia ditangkap, misalnya. Dia menyempatkan diri mampir ke lapak pedagang mainan dua blok dari kantor (stasiun ada di setelah blok keempat).

Dia membeli mainan yang mirip dengan labubu yang asli. Anak kecil sekarang memang fomo.

Setiap awal bulan, saat dia sudah menghitung dan mengelompokkan uangnya dalam beberapa pos pengeluaran, dia tak pernah melewatkan ibunya.

“Ini buat ibu. Enggak banyak. Tapi cukup buat makan sebulan,” katanya, selalu.

Ibunya kini tak terlalu susah-susah memungut guguran sayur di pasar. Tinggal beli saja. Tapi itu juga tak lepas dari keinginannya untuk menyantap masakan mamanya yang sedap.

Semenjak papanya meninggal dunia dua tahun lalu—saat dia masih berjuang menyelesaikan skripsinya—dia jarang sekali makan enak. Ayahnya wafat saat dia baru saja menyelesaikan ujian proposal. Seperti biasa, sebagaimana masyarakat miskin pada umumnya, tak mampu membayar dokter, dan ayahnya tak tertangani.

Kepergian ayahnya begitu memukulnya, membuatnya baru lulus setelah menambah dua semester. Dia tahu bahwa dia terlalu bergantung kepada sosok ayahnya. Dia bukan anak laki-laki seperti yang secara terbuka memvonis dirinya sendiri sebagai pemuda fatherless. Kondisi beruntung ini pernah dia pikirkan dalam-dalam. Setelah tahu dari ibunya, bahwa ternyata sang ayah ditinggal pergi kakek sejak di bangku kelas empat SD, dia tahu bahwa ayahnya hanya balas dendam.

Ayahnya tak ingin anak-anaknya seperti dirinya, meskipun nasibnya tak jauh beda sejak kepergian itu.

Jadi, saat semua orang kantor mendengar kabar penangkapan si pemuda itu yang sangat sekonyong-konyong, mereka syok. Ternyata selama ini mereka bekerja bersama orang gila! Bayangkan! Bagaimana tidak gila?

Melalui reka adegan yang mereka tonton di akun-akun portal berita di TikTok, pemuda itu menggunakan dua pisau. Satu pisau untuk menguliti tubuh si polisi. Sementara pisau kedua, yang ukurannya empat kali lebih besar, dia gunakan untuk memutus leher dan bagian tubuh lainnya. Dia benar-benar orang gila, pikir orang-orang kantor.

Tapi apalah arti sang polisi itu bagi si pemuda? Dia hanyalah seonggok daging berotak dongkol yang tak tahu apa-apa tentang kesedihan, pikir pemuda itu. Apalagi tentang betapa kejamnya penembakan itu, yang sebenarnya, berusaha ditutup-tutupi institusi bobrok ini. Dan yang paling parah dari itu, pikir si pemuda, adalah usaha untuk memanipulasi keseluruhan peristiwa.

Bagaimana mungkin sebuah pembunuhan berencana dilaporkan sebagai sekadar peristiwa cek-cok antaranggota polisi? Dan media nasional memercayai itu. Kasus ini akan terkonstruksi jika tidak ada sejumlah pihak yang menaruh kecurigaan. Beruntung orang-orang masih mau curiga.

Dan kini, si pemuda ada di rumah tahanan. Dia tak pernah merasa bersedih dengan apa yang dia perbuat sejauh ini. Semua ini adalah buah keberaniannya. Dia merasa telah melakukan sesuatu yang sangat berarti. Tak seperti apa yang dia rasakan selama ini: menjadi orang yang tak berguna, yang hidup semata-mata hanya untuk hidup: mencari uang, menjilat atasan, dan menuruti tuntutan lingkungannya untuk menjadi orang sukses.

Omong kosong, pikirnya. Tapi dengan menghabisi si polisi, sekali lagi, dia merasa telah berbuat sesuatu. Tak ada yang lebih berarti dalam hidupnya selain ini. Bahkan mantan pacarnya dahulu itu.

Dia mungkin pernah melakoni malam paling indah selama dia hidup, yakni ketika dia masih bersama pacarnya. Tiga tahun sudah dia berusaha melupakan wanita itu dan selalu tampak gagal baginya. Amat gagal. Tapi setelah dia melihat aliran darah dari perut si polisi, dia merasa telah melupakan mantan pacarnya. Dia merasa sangat melupakan. Hidup melupakan yang sekadar melupakan. Tapi melupakan untuk tak merasakan apa-apa lagi jika menyangkut mantan kekasihnya.

Sekalipun nantinya dia dihukum mati, dia sangat siap untuk melaksanakannya. Sudah cukup hidup di dunia ini baginya, dan dia sudah cukup berperan untuk keberlangsungan hidup manusia lainnya. Dia tak perlu punya keturunan, lantaran masih ada miliaran orang yang mau punya anak.

Dia merasa amat berhasil. Lantai dingin rumah tahanan ini sebenarnya membuat kulitnya agak tersiksa. Tapi siksaan ini, pikirnya, sangat jauh lebih ringan dibanding rasa getir ketika dia ditangkap oleh sekelompok polisi karena membunuh polisi. Itu yang di pikirannya sekarang.

Namun yang membuatnya kesal, butuh waktu berapa lama lagi untuknya menunggu vonis. Dia ingin mendengar hakim menyatakan tuntutan mati. Dia merasa hidupnya selama ini hanya untuk berada di momen itu. Tak ada hal lain yang berarti selain itu.

Dia membayangkan, di ruang persidangan yang nantinya dipenuhi para kerabat, orang-orang yang mendukungnya, orang-orang yang tidak mendukungnya, dan juga para reporter, dia akan menampakkan senyumnya yang sarat dengan kebahagiaan. Begitulah hidup, pikirnya. Semua tentang setuju atau tidak.

Dan orang-orang seharusnya tak terlalu pusing-pusing memikirkan ini. Biarkan pikiran kita yang menuntun sebagai apa kita berarti untuk kehidupan ini, untuk dunia ini, pikirnya.

Dia divonis kurungan seumur hidup. Dia berdiri didampingi dua petugas. Wartawan membuntutinya: bagaimana tanggapannya atas vonis ini? Puas atau tidak? Apa ini vonis yang diharapkan? Anda tampak tersenyum saat vonis dibacakan, apa maksudnya? Tanya para wartawan.

“Jujur saya kurang puas. Saya ingin hukuman mati. Buat apa saya hidup jika di dalam kurungan. Tak ada yang bisa dilakukan. Saya ingin mati di saat saya berada di posisi paling tinggi, seperti sekarang,” kata Galih.

“Sudah, sudah, cukup, ya,” ujar salah seorang petugas. Galih dibawa kembali ke sel. [T]

Penulis: Hilmi Baskoro
Editor: Adnyana Ole

  • KLIK untuk BACA cerpen lain
Bujuk   |  Cerpen Khairul A. El Maliky
Buket Mawar Merah |  Cerpen Yuditeha
Go-Sex | Cerpen Sonhaji Abdullah
Masak Apa Hari Ini?   |   Cerpen Lanang Taji
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Vito Prasetyo | Antara Hitam dan Putih

Next Post

Poems by Dian Purnama Dewi | On The Day When I Was Born

Hilmi Baskoro

Hilmi Baskoro

Mantan jurnalis kelahiran Banyuwangi yang suka membaca dan menulis cerpen. Instagram: @hilmibaskoro__

Related Posts

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails

Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

by Hidayatul Ulum
May 30, 2026
0
Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

PRIA-PRIA yang kau semayamkan di awan kita, tak satu pun Mas kenal—awalnya. Setelah Mas membaca jejak hatimu yang kau tinggalkan...

Read moreDetails

Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
May 29, 2026
0
Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

JAM menunjukkan pukul 05.15 pagi ketika kaki renta Pak Syukur mulai menyusuri gang sempit menuju pinggir jalan raya. Embun belum...

Read moreDetails

Mengikat Tali Sepatu | Cerpen Pitrus Puspito

by Pitrus Puspito
May 24, 2026
0
Mengikat Tali Sepatu | Cerpen Pitrus Puspito

Alfie percaya bahwa dunia dapat diringkas menjadi kolom-kolom rapi: pemasukan, pengeluaran, untung, rugi. Di layar ponselnya, angka-angka berpendar seperti doa...

Read moreDetails

Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

by Luh Aninditha Wiralaba
May 23, 2026
0
Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

PAGI di desa Bugbeg selalu dimulai dengan cara yang sama. Bau dupa yang menyeruak, ayam-ayam berkokok ria, dan dentingan gamelan...

Read moreDetails

Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto

by Dody Widianto
May 22, 2026
0
Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto

RASA-RASANYA kau tak akan kuat memendam sendiri masalahmu ini. Kau yang semata wayang, kau yang ditinggal ayahmu saat umurmu angka...

Read moreDetails

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

Read moreDetails

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
May 10, 2026
0
Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

PAGI di Desa Batu Pangeran selalu datang dengan langkah pelan, seolah ia tahu bahwa tempat itu tidak suka tergesa-gesa. Langit...

Read moreDetails

Puting Beliung | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
May 9, 2026
0
Puting Beliung | Cerpen Supartika

Sial! Neraka dilanda puting beliung. Porak-poranda. Api neraka yang berkobar-kobar ikut tersapu puting beliung yang hebat itu. Angin membuat api...

Read moreDetails

Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
May 4, 2026
0
Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

“Risa, aku sudah melihat hasil pengumuman itu,” ucap Bagus lirih, nyaris tenggelam dalam gemuruh angin senja. Aku menoleh, menatap wajahnya...

Read moreDetails
Next Post
Poems by Dian Purnama Dewi | On The Day When I Was Born

Poems by Dian Purnama Dewi | On The Day When I Was Born

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?
Esai

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

by Rsi Suwardana
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co