23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Seharusnya Mati | Cerpen Hilmi Baskoro

Hilmi Baskoro by Hilmi Baskoro
March 8, 2025
in Cerpen
Seharusnya Mati | Cerpen Hilmi Baskoro

Ilustrasi tatkala.co | Rusdy

GALIH baik-baik saja sampai akhirnya polisi menangkapnya. 19 November 2023, pukul 5 sore. Dia termenung di teras rumahnya sambil meneguk sedikit demi sedikit kopi susu yang baru dibuatnya selepas kerja. Di kantor, kerjaannya lumayan, walau rasa lelah menghantuinya dan dia berusaha menghilangkan itu.

Dia ditahan dan tetap menganggap dirinya benar. Atau pengakuan bahwa dirinya menyobek perut polisi dan membuat isinya tercecer di sekitar kakinya, adalah semata-mata tindakan heroik, tak lebih dan tak kurang dari itu.

Jadi, dia cuma duduk dan menghilangkan frustasi akibat kerjaannya. Lalu dua polisi itu sekonyong-konyong menangkapnya.

“Ikut kami ke kantor. Jelaskan apa yang kamu lakukan kepada rekan kami,” ungkap polisi yang paling tinggi.

Galih tak melawan. Dia menyerahkan tangannya begitu saja. Dia telah membayangkan peristiwa ini selayaknya terjadi.

Semuanya selesai dan dia merasa telah menang. Dia merasa sudah sangat berperan, sekarang. Dia telah membunuh polisi itu, dan artinya dia telah hidup. Institusi ini menemukan jalan pertama untuk reformasi!

2 November, media sosial dihebohkan tuntutan warganet agar hukuman kasus penembakan polisi oleh polisi segera diputuskan. Galih yang baru saja lulus kuliah, memulai karirnya sebagai copy writer di salah satu firma pendidikan daring. Semuanya berjalan baik. Yang membuatnya mengambil dua batang pisau dan pergi ke tempat di mana polisi itu diamankan, semua orang tak menyangkanya. Dialah anak paling berisik di kantor. Dia hanya butuh dua pekan untuk mengunjungi seluruh rumah karyawan.

Bersama si bos, dia sudah renang bareng. Dialah yang paling akrab dengan OB. Dialah yang paling sering memberi OB itu uang. Pekerja baru gajinya tak seberapa. Tapi dia tetap memberi OB itu uang. Bahkan deretan warung di gang samping kantor sudah pernah dia hutangi. Dan dia selalu bayar tepat waktu.

HRD memanggilnya si kecil malaikat. Tingginya memang hanya 157 sentimeter. Jika kalian menemukan pemuda seumurannya yang menjelek-jelekkan teman kerjanya di second account Instagram, dia memilih untuk mengajaknya makan. Tak mahal. Hanya makanan pinggir jalan. Tapi selalu ke tempat yang tak pernah kawan kerjanya coba.

Suatu kali, dia pernah mengajak admin Instagram kantor ke sebuah pusat kuliner Madura.

“Kamu pasti bakal suka ini,” katanya.

Setelah semua makanan tandas, dia mulai berkata bahwa sebenarnya dia ingin jujur tentang sesuatu. Sangat penting!

“Aku tidak suka caramu bekerja,” ucapnya dengan nada selembut mungkin, berusaha untuk tidak menyinggung.

Tapi semuanya selalu berakhir dengan baik. Begitu lah dia. Jujur dan apa adanya. Dan dia juga sangat pemberani.

Gajinya memang tak seberapa, namun ternyata dia mesti membelikan ini-itu untuk adiknya. Di hari saat dia ditangkap, misalnya. Dia menyempatkan diri mampir ke lapak pedagang mainan dua blok dari kantor (stasiun ada di setelah blok keempat).

Dia membeli mainan yang mirip dengan labubu yang asli. Anak kecil sekarang memang fomo.

Setiap awal bulan, saat dia sudah menghitung dan mengelompokkan uangnya dalam beberapa pos pengeluaran, dia tak pernah melewatkan ibunya.

“Ini buat ibu. Enggak banyak. Tapi cukup buat makan sebulan,” katanya, selalu.

Ibunya kini tak terlalu susah-susah memungut guguran sayur di pasar. Tinggal beli saja. Tapi itu juga tak lepas dari keinginannya untuk menyantap masakan mamanya yang sedap.

Semenjak papanya meninggal dunia dua tahun lalu—saat dia masih berjuang menyelesaikan skripsinya—dia jarang sekali makan enak. Ayahnya wafat saat dia baru saja menyelesaikan ujian proposal. Seperti biasa, sebagaimana masyarakat miskin pada umumnya, tak mampu membayar dokter, dan ayahnya tak tertangani.

Kepergian ayahnya begitu memukulnya, membuatnya baru lulus setelah menambah dua semester. Dia tahu bahwa dia terlalu bergantung kepada sosok ayahnya. Dia bukan anak laki-laki seperti yang secara terbuka memvonis dirinya sendiri sebagai pemuda fatherless. Kondisi beruntung ini pernah dia pikirkan dalam-dalam. Setelah tahu dari ibunya, bahwa ternyata sang ayah ditinggal pergi kakek sejak di bangku kelas empat SD, dia tahu bahwa ayahnya hanya balas dendam.

Ayahnya tak ingin anak-anaknya seperti dirinya, meskipun nasibnya tak jauh beda sejak kepergian itu.

Jadi, saat semua orang kantor mendengar kabar penangkapan si pemuda itu yang sangat sekonyong-konyong, mereka syok. Ternyata selama ini mereka bekerja bersama orang gila! Bayangkan! Bagaimana tidak gila?

Melalui reka adegan yang mereka tonton di akun-akun portal berita di TikTok, pemuda itu menggunakan dua pisau. Satu pisau untuk menguliti tubuh si polisi. Sementara pisau kedua, yang ukurannya empat kali lebih besar, dia gunakan untuk memutus leher dan bagian tubuh lainnya. Dia benar-benar orang gila, pikir orang-orang kantor.

Tapi apalah arti sang polisi itu bagi si pemuda? Dia hanyalah seonggok daging berotak dongkol yang tak tahu apa-apa tentang kesedihan, pikir pemuda itu. Apalagi tentang betapa kejamnya penembakan itu, yang sebenarnya, berusaha ditutup-tutupi institusi bobrok ini. Dan yang paling parah dari itu, pikir si pemuda, adalah usaha untuk memanipulasi keseluruhan peristiwa.

Bagaimana mungkin sebuah pembunuhan berencana dilaporkan sebagai sekadar peristiwa cek-cok antaranggota polisi? Dan media nasional memercayai itu. Kasus ini akan terkonstruksi jika tidak ada sejumlah pihak yang menaruh kecurigaan. Beruntung orang-orang masih mau curiga.

Dan kini, si pemuda ada di rumah tahanan. Dia tak pernah merasa bersedih dengan apa yang dia perbuat sejauh ini. Semua ini adalah buah keberaniannya. Dia merasa telah melakukan sesuatu yang sangat berarti. Tak seperti apa yang dia rasakan selama ini: menjadi orang yang tak berguna, yang hidup semata-mata hanya untuk hidup: mencari uang, menjilat atasan, dan menuruti tuntutan lingkungannya untuk menjadi orang sukses.

Omong kosong, pikirnya. Tapi dengan menghabisi si polisi, sekali lagi, dia merasa telah berbuat sesuatu. Tak ada yang lebih berarti dalam hidupnya selain ini. Bahkan mantan pacarnya dahulu itu.

Dia mungkin pernah melakoni malam paling indah selama dia hidup, yakni ketika dia masih bersama pacarnya. Tiga tahun sudah dia berusaha melupakan wanita itu dan selalu tampak gagal baginya. Amat gagal. Tapi setelah dia melihat aliran darah dari perut si polisi, dia merasa telah melupakan mantan pacarnya. Dia merasa sangat melupakan. Hidup melupakan yang sekadar melupakan. Tapi melupakan untuk tak merasakan apa-apa lagi jika menyangkut mantan kekasihnya.

Sekalipun nantinya dia dihukum mati, dia sangat siap untuk melaksanakannya. Sudah cukup hidup di dunia ini baginya, dan dia sudah cukup berperan untuk keberlangsungan hidup manusia lainnya. Dia tak perlu punya keturunan, lantaran masih ada miliaran orang yang mau punya anak.

Dia merasa amat berhasil. Lantai dingin rumah tahanan ini sebenarnya membuat kulitnya agak tersiksa. Tapi siksaan ini, pikirnya, sangat jauh lebih ringan dibanding rasa getir ketika dia ditangkap oleh sekelompok polisi karena membunuh polisi. Itu yang di pikirannya sekarang.

Namun yang membuatnya kesal, butuh waktu berapa lama lagi untuknya menunggu vonis. Dia ingin mendengar hakim menyatakan tuntutan mati. Dia merasa hidupnya selama ini hanya untuk berada di momen itu. Tak ada hal lain yang berarti selain itu.

Dia membayangkan, di ruang persidangan yang nantinya dipenuhi para kerabat, orang-orang yang mendukungnya, orang-orang yang tidak mendukungnya, dan juga para reporter, dia akan menampakkan senyumnya yang sarat dengan kebahagiaan. Begitulah hidup, pikirnya. Semua tentang setuju atau tidak.

Dan orang-orang seharusnya tak terlalu pusing-pusing memikirkan ini. Biarkan pikiran kita yang menuntun sebagai apa kita berarti untuk kehidupan ini, untuk dunia ini, pikirnya.

Dia divonis kurungan seumur hidup. Dia berdiri didampingi dua petugas. Wartawan membuntutinya: bagaimana tanggapannya atas vonis ini? Puas atau tidak? Apa ini vonis yang diharapkan? Anda tampak tersenyum saat vonis dibacakan, apa maksudnya? Tanya para wartawan.

“Jujur saya kurang puas. Saya ingin hukuman mati. Buat apa saya hidup jika di dalam kurungan. Tak ada yang bisa dilakukan. Saya ingin mati di saat saya berada di posisi paling tinggi, seperti sekarang,” kata Galih.

“Sudah, sudah, cukup, ya,” ujar salah seorang petugas. Galih dibawa kembali ke sel. [T]

Penulis: Hilmi Baskoro
Editor: Adnyana Ole

  • KLIK untuk BACA cerpen lain
Bujuk   |  Cerpen Khairul A. El Maliky
Buket Mawar Merah |  Cerpen Yuditeha
Go-Sex | Cerpen Sonhaji Abdullah
Masak Apa Hari Ini?   |   Cerpen Lanang Taji
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Vito Prasetyo | Antara Hitam dan Putih

Next Post

Poems by Dian Purnama Dewi | On The Day When I Was Born

Hilmi Baskoro

Hilmi Baskoro

Mantan jurnalis kelahiran Banyuwangi yang suka membaca dan menulis cerpen. Instagram: @hilmibaskoro__

Related Posts

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

by Sigit Susanto
October 18, 2026
0
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

Read moreDetails

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails
Next Post
Poems by Dian Purnama Dewi | On The Day When I Was Born

Poems by Dian Purnama Dewi | On The Day When I Was Born

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co