13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Seharusnya Mati | Cerpen Hilmi Baskoro

Hilmi Baskoro by Hilmi Baskoro
March 8, 2025
in Cerpen
Seharusnya Mati | Cerpen Hilmi Baskoro

Ilustrasi tatkala.co | Rusdy

GALIH baik-baik saja sampai akhirnya polisi menangkapnya. 19 November 2023, pukul 5 sore. Dia termenung di teras rumahnya sambil meneguk sedikit demi sedikit kopi susu yang baru dibuatnya selepas kerja. Di kantor, kerjaannya lumayan, walau rasa lelah menghantuinya dan dia berusaha menghilangkan itu.

Dia ditahan dan tetap menganggap dirinya benar. Atau pengakuan bahwa dirinya menyobek perut polisi dan membuat isinya tercecer di sekitar kakinya, adalah semata-mata tindakan heroik, tak lebih dan tak kurang dari itu.

Jadi, dia cuma duduk dan menghilangkan frustasi akibat kerjaannya. Lalu dua polisi itu sekonyong-konyong menangkapnya.

“Ikut kami ke kantor. Jelaskan apa yang kamu lakukan kepada rekan kami,” ungkap polisi yang paling tinggi.

Galih tak melawan. Dia menyerahkan tangannya begitu saja. Dia telah membayangkan peristiwa ini selayaknya terjadi.

Semuanya selesai dan dia merasa telah menang. Dia merasa sudah sangat berperan, sekarang. Dia telah membunuh polisi itu, dan artinya dia telah hidup. Institusi ini menemukan jalan pertama untuk reformasi!

2 November, media sosial dihebohkan tuntutan warganet agar hukuman kasus penembakan polisi oleh polisi segera diputuskan. Galih yang baru saja lulus kuliah, memulai karirnya sebagai copy writer di salah satu firma pendidikan daring. Semuanya berjalan baik. Yang membuatnya mengambil dua batang pisau dan pergi ke tempat di mana polisi itu diamankan, semua orang tak menyangkanya. Dialah anak paling berisik di kantor. Dia hanya butuh dua pekan untuk mengunjungi seluruh rumah karyawan.

Bersama si bos, dia sudah renang bareng. Dialah yang paling akrab dengan OB. Dialah yang paling sering memberi OB itu uang. Pekerja baru gajinya tak seberapa. Tapi dia tetap memberi OB itu uang. Bahkan deretan warung di gang samping kantor sudah pernah dia hutangi. Dan dia selalu bayar tepat waktu.

HRD memanggilnya si kecil malaikat. Tingginya memang hanya 157 sentimeter. Jika kalian menemukan pemuda seumurannya yang menjelek-jelekkan teman kerjanya di second account Instagram, dia memilih untuk mengajaknya makan. Tak mahal. Hanya makanan pinggir jalan. Tapi selalu ke tempat yang tak pernah kawan kerjanya coba.

Suatu kali, dia pernah mengajak admin Instagram kantor ke sebuah pusat kuliner Madura.

“Kamu pasti bakal suka ini,” katanya.

Setelah semua makanan tandas, dia mulai berkata bahwa sebenarnya dia ingin jujur tentang sesuatu. Sangat penting!

“Aku tidak suka caramu bekerja,” ucapnya dengan nada selembut mungkin, berusaha untuk tidak menyinggung.

Tapi semuanya selalu berakhir dengan baik. Begitu lah dia. Jujur dan apa adanya. Dan dia juga sangat pemberani.

Gajinya memang tak seberapa, namun ternyata dia mesti membelikan ini-itu untuk adiknya. Di hari saat dia ditangkap, misalnya. Dia menyempatkan diri mampir ke lapak pedagang mainan dua blok dari kantor (stasiun ada di setelah blok keempat).

Dia membeli mainan yang mirip dengan labubu yang asli. Anak kecil sekarang memang fomo.

Setiap awal bulan, saat dia sudah menghitung dan mengelompokkan uangnya dalam beberapa pos pengeluaran, dia tak pernah melewatkan ibunya.

“Ini buat ibu. Enggak banyak. Tapi cukup buat makan sebulan,” katanya, selalu.

Ibunya kini tak terlalu susah-susah memungut guguran sayur di pasar. Tinggal beli saja. Tapi itu juga tak lepas dari keinginannya untuk menyantap masakan mamanya yang sedap.

Semenjak papanya meninggal dunia dua tahun lalu—saat dia masih berjuang menyelesaikan skripsinya—dia jarang sekali makan enak. Ayahnya wafat saat dia baru saja menyelesaikan ujian proposal. Seperti biasa, sebagaimana masyarakat miskin pada umumnya, tak mampu membayar dokter, dan ayahnya tak tertangani.

Kepergian ayahnya begitu memukulnya, membuatnya baru lulus setelah menambah dua semester. Dia tahu bahwa dia terlalu bergantung kepada sosok ayahnya. Dia bukan anak laki-laki seperti yang secara terbuka memvonis dirinya sendiri sebagai pemuda fatherless. Kondisi beruntung ini pernah dia pikirkan dalam-dalam. Setelah tahu dari ibunya, bahwa ternyata sang ayah ditinggal pergi kakek sejak di bangku kelas empat SD, dia tahu bahwa ayahnya hanya balas dendam.

Ayahnya tak ingin anak-anaknya seperti dirinya, meskipun nasibnya tak jauh beda sejak kepergian itu.

Jadi, saat semua orang kantor mendengar kabar penangkapan si pemuda itu yang sangat sekonyong-konyong, mereka syok. Ternyata selama ini mereka bekerja bersama orang gila! Bayangkan! Bagaimana tidak gila?

Melalui reka adegan yang mereka tonton di akun-akun portal berita di TikTok, pemuda itu menggunakan dua pisau. Satu pisau untuk menguliti tubuh si polisi. Sementara pisau kedua, yang ukurannya empat kali lebih besar, dia gunakan untuk memutus leher dan bagian tubuh lainnya. Dia benar-benar orang gila, pikir orang-orang kantor.

Tapi apalah arti sang polisi itu bagi si pemuda? Dia hanyalah seonggok daging berotak dongkol yang tak tahu apa-apa tentang kesedihan, pikir pemuda itu. Apalagi tentang betapa kejamnya penembakan itu, yang sebenarnya, berusaha ditutup-tutupi institusi bobrok ini. Dan yang paling parah dari itu, pikir si pemuda, adalah usaha untuk memanipulasi keseluruhan peristiwa.

Bagaimana mungkin sebuah pembunuhan berencana dilaporkan sebagai sekadar peristiwa cek-cok antaranggota polisi? Dan media nasional memercayai itu. Kasus ini akan terkonstruksi jika tidak ada sejumlah pihak yang menaruh kecurigaan. Beruntung orang-orang masih mau curiga.

Dan kini, si pemuda ada di rumah tahanan. Dia tak pernah merasa bersedih dengan apa yang dia perbuat sejauh ini. Semua ini adalah buah keberaniannya. Dia merasa telah melakukan sesuatu yang sangat berarti. Tak seperti apa yang dia rasakan selama ini: menjadi orang yang tak berguna, yang hidup semata-mata hanya untuk hidup: mencari uang, menjilat atasan, dan menuruti tuntutan lingkungannya untuk menjadi orang sukses.

Omong kosong, pikirnya. Tapi dengan menghabisi si polisi, sekali lagi, dia merasa telah berbuat sesuatu. Tak ada yang lebih berarti dalam hidupnya selain ini. Bahkan mantan pacarnya dahulu itu.

Dia mungkin pernah melakoni malam paling indah selama dia hidup, yakni ketika dia masih bersama pacarnya. Tiga tahun sudah dia berusaha melupakan wanita itu dan selalu tampak gagal baginya. Amat gagal. Tapi setelah dia melihat aliran darah dari perut si polisi, dia merasa telah melupakan mantan pacarnya. Dia merasa sangat melupakan. Hidup melupakan yang sekadar melupakan. Tapi melupakan untuk tak merasakan apa-apa lagi jika menyangkut mantan kekasihnya.

Sekalipun nantinya dia dihukum mati, dia sangat siap untuk melaksanakannya. Sudah cukup hidup di dunia ini baginya, dan dia sudah cukup berperan untuk keberlangsungan hidup manusia lainnya. Dia tak perlu punya keturunan, lantaran masih ada miliaran orang yang mau punya anak.

Dia merasa amat berhasil. Lantai dingin rumah tahanan ini sebenarnya membuat kulitnya agak tersiksa. Tapi siksaan ini, pikirnya, sangat jauh lebih ringan dibanding rasa getir ketika dia ditangkap oleh sekelompok polisi karena membunuh polisi. Itu yang di pikirannya sekarang.

Namun yang membuatnya kesal, butuh waktu berapa lama lagi untuknya menunggu vonis. Dia ingin mendengar hakim menyatakan tuntutan mati. Dia merasa hidupnya selama ini hanya untuk berada di momen itu. Tak ada hal lain yang berarti selain itu.

Dia membayangkan, di ruang persidangan yang nantinya dipenuhi para kerabat, orang-orang yang mendukungnya, orang-orang yang tidak mendukungnya, dan juga para reporter, dia akan menampakkan senyumnya yang sarat dengan kebahagiaan. Begitulah hidup, pikirnya. Semua tentang setuju atau tidak.

Dan orang-orang seharusnya tak terlalu pusing-pusing memikirkan ini. Biarkan pikiran kita yang menuntun sebagai apa kita berarti untuk kehidupan ini, untuk dunia ini, pikirnya.

Dia divonis kurungan seumur hidup. Dia berdiri didampingi dua petugas. Wartawan membuntutinya: bagaimana tanggapannya atas vonis ini? Puas atau tidak? Apa ini vonis yang diharapkan? Anda tampak tersenyum saat vonis dibacakan, apa maksudnya? Tanya para wartawan.

“Jujur saya kurang puas. Saya ingin hukuman mati. Buat apa saya hidup jika di dalam kurungan. Tak ada yang bisa dilakukan. Saya ingin mati di saat saya berada di posisi paling tinggi, seperti sekarang,” kata Galih.

“Sudah, sudah, cukup, ya,” ujar salah seorang petugas. Galih dibawa kembali ke sel. [T]

Penulis: Hilmi Baskoro
Editor: Adnyana Ole

  • KLIK untuk BACA cerpen lain
Bujuk   |  Cerpen Khairul A. El Maliky
Buket Mawar Merah |  Cerpen Yuditeha
Go-Sex | Cerpen Sonhaji Abdullah
Masak Apa Hari Ini?   |   Cerpen Lanang Taji
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Vito Prasetyo | Antara Hitam dan Putih

Next Post

Poems by Dian Purnama Dewi | On The Day When I Was Born

Hilmi Baskoro

Hilmi Baskoro

Mantan jurnalis kelahiran Banyuwangi yang suka membaca dan menulis cerpen. Instagram: @hilmibaskoro__

Related Posts

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails
Next Post
Poems by Dian Purnama Dewi | On The Day When I Was Born

Poems by Dian Purnama Dewi | On The Day When I Was Born

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co