26 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bujuk   |  Cerpen Khairul A. El Maliky

Khairul A. El Maliky by Khairul A. El Maliky
February 22, 2025
in Cerpen
Bujuk   |  Cerpen Khairul A. El Maliky

Ilustrasi tatkala.co | Rusdy

POHON ASAM JAWA itu dikenal sebagai pohon yang angker oleh penduduk sekitar. Tak seorang pun manusia yang nekad lewat di bawahnya pada tengah malam. Apalagi ketika malam purnama kedua belas sampai kelima belas. Konon ada yang pernah bilang kalau ada penjual bakso keliling, Pak Paijo namanya. Malam itu, Pak Paijo baru mau pulang habis dari menjajakan dagangan baksonya. Tapi, pas lewat di bawah pohon itu, ia mendengar ada seseorang yang memanggilnya.

“Pak Jo, baksonya, Pak Jo!” suara seorang perempuan.

Pak Paijo yang malam itu dagangan baksonya masih tinggal separo pun berhenti karena ada orang yang mau membeli. Hati laki-laki paro baya itu girang tak kepalang. Paling tidak malam ini harus balik modal. Sebab akan banyak tagihan yang harus ia lunasi bulan ini. Lalu laki-laki itu menghentikan gerobak dorongnya tepat di bawah pohon tersebut. Tak lama setelah itu, ada seorang gadis yang sangat cuantik berbaju putih panjang sampai mata kaki dan rambutnya juga panjang. Gadis itu menghampiri Pak Paijo sambil membawa mangkuk beling. Tanpa merasa curiga, pedagang bakso itu melayani gadis itu. Padahal kondisi jalan kampung malam itu sepi sekali. Tak ada seorang pun penarik becak yang standby di dekat simpang jalan tersebut.

“Wangi banget, Mbak,” ramah Pak Paijo mengajak gadis itu ngobrol untuk menikam sepi.

“Iya, Pak, baru pulang dari pesta pernikahan,” jawab itu gadis ramah pula.

Pak Paijo yang habis meletakkan cilok daging, siomay goreng, mi bulat, saus, kecap asin dan sayur seledri di mangkuk, lantas menuangkan kuah kaldu yang diambil dari dandang besar yang menguapkan asap.

“Dari tadi saya sudah menunggu Pak Jo lewat. Saya mencoba menunggu tukang bakso yang lain, tapi nggak ada yang lewat sini.”

“Mereka lewatnya muter, Mbak.”

“Oh ya? Kenapa, Pak?”

“Katanya mereka habis diganggu sama Kuntilanak yang nungguin pohon ini,” jawab Pak Jo.

“Benarkah? Mana ada kuntilanak di sini, Pak. Buktinya saya sama sekali nggak takut keluar rumah sendirian ke sini.”

“Oh iya, kayaknya saya baru pertama kali melihat mbak. Mbak warga baru ya? Tapi kok kenal sama saya?”

“Saya sudah lama tahu kalau Pak Jo jualan bakso keliling,” ujar gadis itu.

“Oh ya? Memangnya mbaknya tinggal di mana?” Pak Jo menyerahkan mangkuk pada gadis itu.

“Di sini.”

“Di mana?”

“Di atas pohon asam ini.”

“Berarti mbak kun… kuntil… kuntilanak!”

“Iya. Hihihihihihihi… Hihihihihihi.” Kuntilanak itu terkikik-kikik. Dan Pak Paijo yang melihat kuntilanak itu terbang ke atas pohon, langsung kabur terbirit-birit meninggalkan gerobak baksonya.

Sejak itulah kuntilanak penunggu pohon asam jawa itu terkenal sehingga membuat ‘rumah’nya menjadi angker dan tak ada seorang pun yang berani lewat.

Selain dihuni oleh sosok kuntilanak cantik, pohon tersebut juga dihuni oleh sosok pocong yang sering berdiri di tengah jalan. Kadang ia keluar pada jam-jam sekitar pukul dua dini hari. Adalah Mbah Supik manusia yang sering melihatnya. Pocong tersebut tidak loncat-loncat macam di film bioskop, atau ngesot melainkan terbang. Setelah terbang ia akan berdiri di tengah jalan untuk menakut-nakuti orang yang menuju pasar. Tapi sejak seringnya pocong meneror warga, jadi tukang becak yang mengantar penjual sayur atau buah ke pasar memilih jalan memutar.

Sejak pamornya naik daun sebagai pohon paling angker di kampung, pohon asam tersebut pun mengalahkan tempat-tempat paling keramat lainnya. Konon lagi, pohon tersebut memang angker dari dulu pada masa penjajahan Belanda. Penghuninya lagi, selain kedua penghuni di depan tadi juga ada Bujuk Parseh. Bujuk Parseh adalah sosok jin yang memiliki tubuh setinggi 20 meter dan bisa menyusut sampai sekecil batang korek api. Ia memiliki mata merah, berbulu lebat, sepasang tanduk, dan taring yang runcing. Ia sering muncul pas malam Jumat Legi. Dan untuk membujuk Bujuk Parseh tak mengamuk, kadang ada warga kampung yang meletakkan sesaji di bawah pohon tersebut.

“Apa ini?” kata Rido, anak Pak Paijo saat melihat aneka tujuh macam jenis jajanan pasar, nasi putih dan telur rebus serta kemenyan.

***

Malam harinya, Rido menjerit-jerit sambil kejang-kejang. Ayahnya, Pak Paijo dan istrinya tampak ketakutan disertai kepanikan melihat anaknya macam kerasukan setan. Oleh Pak RT, sebaiknya Rido dibawa ke rumahnya Mbah Sudadi.

“Saya yakin kalau Rido itu ketempelan Bujuk Parseh, Pak Jo,” ujar Pak RT berpendapat.

“Benarkah, Pak RT?” Pak Paijo agak ragu.

“Coba saja sampeyan bawa berobat ke rumahnya Mbah Sudadi. Siapa tahu benar ketempelan,” kata Pak RT lagi berspekulasi.

Mbah Sudadi atau orang-orang kampung sering memanggilnya Ki Sudadi adalah seorang dukun terkenal. Konon, dulu, ia pernah mendapat hadiah dari Bujuk Parseh berupa keris keramat seukuran jari telunjuk. Ia juga pernah mendapat batu akik kecubung hijau saat sedang tirakat dekat pohon asam itu. Pernah juga ia telah berhasil mengambil tali pocong dari pocong penghuni pohon, dan bulu milik kuntilanak (entah bulu bagian mana). Kepada orang-orang ia mengatakan bahwa pohon asam jawa peninggalan Belanda itu sangat angker karena dihuni oleh berbagai macam makhluk halus yang diketuai oleh Bujuk Parseh. Karena Ki Sudadi telah dianggap memiliki penerawangan yang bisa menembus alam setan dan jin, maka mereka pun mengimaninya bahkan sering minta tolong pada laki-laki tua tersebut.

“Assalamualaikum.” Ki Sudadi mengucap salam pada makhluk yang merasuki tubuh Rido.

Tak ada jawaban. Rido malah mengamuk dan meronta-ronta mau melepaskan diri.

“Kenapa dengan anak saya, Ki?”

“Anak Pak Jo kerasukan rohnya Bujuk Parseh.”

Istri Pak Jo menangis.

“Apakah anak saya bisa disembuhkan, Ki?”

“Bisa. Tapi, kata Bujuk, beliau akan meninggalkan tubuh Rido asal sampeyan mau memberinya sesajen.”

Pak Jo pun menyetujui permintaan Bujuk Parseh. Sajennya antara lain, ayam panggang utuh, sayurannya urap-urap, telur rebus tujuh butir, nasi putih satu tampah, kopi, dua pak rokok cap Koboy atau tembakau dua tampang, dan dupa cap Dewa-Dewi. Lantas sajen tersebut diserahkan ke Ki Sudadi.

Entah percaya apa tidak, setelah dupanya dibakar oleh dukun berkedok ustadz itu, Rido pun sembuh. Dan sejak itu, orang-orang semakin mengeramatkan pohon asam jawa tersebut, dan juga kepada Ki Sudadi sebagai perantaranya.

Setelah sembuh, Rido mengajak temannya ke rumah Ki Sudadi untuk meminta tolong agar menemukan dompetnya yang hilang.

“Dompetnya warna apa, Nak?” tanya dukun yang katanya bisa menembus alam Nasut itu, tapi tidak tahu warna dompet yang hilang. Dunia ini memang aneh.

“Hitam, Mbah,” jawab Rido.

“Oh, dompetmu sudah ditemukan oleh orang lain, tapi diambilnya.”

Setelah minta tolong, kedua remaja itu pulang. Dan ketika sudah agak jauh dari rumah dukun kampung itu, Rido mengajak temannya duduk di pos ronda.

“Lha wong dompetku tidak hilang dibilang diambil orang.” Ia mengeluarkan dompet warna cokelat dari saku celananya.

“Jadi…”

“Iya. Jadi, dukun tadi bohong. Dia telah menipu banyak orang. Kenapa? Karena rata-rata orang Islam kampung ini pengetahuan agamanya dangkal. Dan rata-rata mereka banyak yang tidak sekolah.”

Terjadi keributan yang luar biasa saat ada orang dari kota hendak menumbangkan pohon asam jawa itu, karena rencananya mau menjadikan halaman rumah tua tersebut sebagai taman. Adalah Ki Sudadi yang memberinya peringatan agar jangan memotongnya sembarangan.

“Pohon ini adalah rumahnya Bujuk Parseh.”

“Siapa Bujuk Parseh, Pak?”

“Sosok yang diutus untuk menjaga kampung ini. Dia bilang kalau sampeyan nekad mau menebangnya, maka dia akan memberikan bala.”

“Allah saja tidak memberikan bala kepada manusia apalagi Bujuk, Pak.”

“Dasar sampeyan Salafi! Wahabi sampeyan kalau tidak percaya pada Bujuk Parseh!”

“Otoritasnya Bujuk Parseh itu setingkat apa, Pak? Nabi Muhammad?”

Mendidih kepala Ki Sudadi.

“Di atasnya Nabi Muhammad ada seorang utusan yang lebih tinggi lagi. Namanya Khalifatul fil ardhi.”

“Bukankah Khalifatul fil ardhi itu Nabi Muhammad, Pak? Jangan ngarang-ngarang, Pak.”

Muntab Ki Sudadi dengan orang itu.

Lalu, orang tersebut memanggil alat-alat berat untuk menggusur para makhluk antah-berantah yang menghuni pohon asam jawa itu tanpa izin.

***

Tapi apa yang terjadi?

Kampung kami tidak apa-apa. Tidak ada bala dari Bujuk Parseh yang katanya sangat marah karena ‘rumah’nya mau digusur. Tidak ada protes baik dari kuntilanak maupun pocong yang juga tidak memiliki surat izin tinggal di bumi. Setelah selesai ditebang hingga ke akar-akarnya, di tanah bekas pohon tua macam pohon gotik itu dibangun sebuah taman yang indah. Bahkan rumah gedong bekas peninggalan Belanda tersebut juga direnovasi hingga tak ada kesan seram lagi.

Bahkan setelah itu, jalan kampung kembali mulai dilewati oleh warga. Tidak hanya siang hari, juga ketika larut malam. Kenapa begitu? Sebab soal kuntilanak itu hanyalah karangan Pak Paijo. Begitu juga dengan pocong. Tak ketinggalan pula dengan Bujuk Parseh yang hanya tokoh fiktif karangan Ki Sudadi yang sejak dulu memang sering bujuk’i (mengibuli/ menipu dengan cara licik, Jawa) para warga yang tak berpendidikan, juga menghilang begitu saja.

Sementara Mbah Sudadi sendiri, sejak itu sudah mulai sepi tamu. Siang-malam ia membebat kepalanya dengan seutas kain. Karena makin sepi job, lelaki tua itu pun ditemukan di pinggir rel kereta api dalam keadaan tak bernyawa.

Lalu, apakah benar Rido telah kesurupan Bujuk Parseh? Ternyata tidak. Ia memang memiliki penyakit aneh macam orang ayan, dan ia akan kejang-kejang dalam waktu lima menit apabila penyakitnya kumat. [T]

2024

Penulis: Khairul A. El Maliky
Editor: Adnyana Ole

  • KLIK untuk BACA cerpen lain
Buket Mawar Merah |  Cerpen Yuditeha
Go-Sex | Cerpen Sonhaji Abdullah
Masak Apa Hari Ini?   |   Cerpen Lanang Taji
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-Puisi Abed Ilyas | Rencana Bermain

Next Post

Tumpek Landep dan Ketajaman Pikiran

Khairul A. El Maliky

Khairul A. El Maliky

Pengarang novel yang lahir di Kota Probolinggo. Buku terbarunya yang sudah terbit antara lain, Akad, Pintu Tauhid, Kalam, Kalam Cinta (Penerbit MNC, 2024) dan Pernikahan & Prasangka Cinta (Segera). Di sela-sela mengajar Sastra Indonesia, pengarang juga menulis dan mengirimkan cerpennya ke berbagai media massa.

Related Posts

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

by Depri Ajopan
April 25, 2026
0
Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

CAKEH yang baru dilarikan ke rumah Pak Ik merintih kesakitan. Anak perempuan berumur 14 tahun itu baru digigit ular kobra...

Read moreDetails

Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
April 12, 2026
0
Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

PAGI baru menjelang, cahaya lembutnya merayap di balik pepohonan. Kadek Arya siap-siap berangkat mengajar ke sekolah. Tamat di Fakultas Sastra...

Read moreDetails

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

by Polanco S. Achri
April 11, 2026
0
Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

buat A.Hayya, Pak Saeful, dan Teater AwalGarut, juga seorang perempuan I. Ibu memandang jauh; sepasang matanya menggambarkan suatu yang tak...

Read moreDetails

Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
April 10, 2026
0
Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

- Katakan dia akan hidup lagi! - Dia sudah mati! - Dia akan hidup! Bangunkan dia. - Jangan, jangan, dia...

Read moreDetails

Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

by I Nyoman Sutarjana
April 5, 2026
0
Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

ASTRA menarik tangan ibunya, yang sedang jongkok. Sampah plastik yang dikumpulkan ibunya ia sisihkan. Ibu melepas cengkraman tangan Astra berusaha...

Read moreDetails

Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
April 4, 2026
0
Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

SETIAP tahun, orang-orang kota mendadak berubah menjadi makhluk spiritual. Mereka yang biasanya mengeluh soal panas, debu, tetangga berisik, dan harga...

Read moreDetails

Tari Sunari | Cerpen Gede Aries Pidrawan

by Gede Aries Pidrawan
March 28, 2026
0
Tari Sunari | Cerpen Gede Aries Pidrawan

LUH Sunari merasa tubuhnya berat. Semua yang tampak di sekelilingnya hitam. Pekat. Saat itulah sebuah bayang mendekat. Bayangan itu begitu...

Read moreDetails

Aku Tak Bisa Menulis Cerpen  |  Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
March 27, 2026
0
Aku Tak Bisa Menulis Cerpen  |  Cerpen Dede Putra Wiguna

AKU menatap layar laptop yang kosong. Luas, sunyi, dan membuat kepala terasa berdenyut. Kursor berkedip di pojok kiri atas dokumen,...

Read moreDetails

Umpan | Cerpen Putri Harya

by Putri Harya
March 22, 2026
0
Umpan | Cerpen Putri Harya

Aku tidak merasa melanggar norma. Aku juga tidak sedang melakukan dosa. Aku hanya mengusahakan takdirku dengan meniru apa yang sering...

Read moreDetails

Lebaran Tahun Ini | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
March 21, 2026
0
Lebaran Tahun Ini | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

DI kepalaku masih terngiang-ngiang oleh frasa nomina sayur bening dan lele goreng yang keluar dari mulut Darmuji. Sepertinya, itu merupakan...

Read moreDetails
Next Post
Tumpek Landep dan Ketajaman Pikiran

Tumpek Landep dan Ketajaman Pikiran

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Aksi Kemanusiaan pada HUT ke-9 AMSI Bali
Berita

Aksi Kemanusiaan pada HUT ke-9 AMSI Bali

Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Bali merayakan hari ulang tahun (HUT) ke-9 dengan menggelar serangkaian kegiatan sosial yang menyentuh langsung...

by tatkala
April 25, 2026
Serangga dalam Piring Makan Kita
Kuliner

Serangga dalam Piring Makan Kita

JIKA di Gunung Kidul orang-orang desa terbiasa menggoreng belalang, atau masyarakat Jawa Timur—khususnya di kawasan hutan jati—gemar menyantap kepompong ulat...

by Jaswanto
April 25, 2026
Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan
Cerpen

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

CAKEH yang baru dilarikan ke rumah Pak Ik merintih kesakitan. Anak perempuan berumur 14 tahun itu baru digigit ular kobra...

by Depri Ajopan
April 25, 2026
Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Tak Perlu Menunggu Aku di Gatsemani
Puisi

Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Tak Perlu Menunggu Aku di Gatsemani

TAK PERLU MENUNGGU AKU DI GATSEMANI Aku datang dari Galilea dengan bau seluk Tasik Tiberias yang melekat di jubahkuDemi janji-janji...

by Silvia Maharani Ikhsan
April 25, 2026
Mencegah Kekerasan Seksual di Indonesia dengan Perspektif Feminis Hindu
Esai

Mencegah Kekerasan Seksual di Indonesia dengan Perspektif Feminis Hindu

KEKERASAN seksual di Indonesia telah menjadi luka yang tak kunjung usai, bahkan kini merebak di kampus - kampus ternama selain...

by Putu Ayu Sunia Dewi
April 25, 2026
Ketika Lirik Menjadi Cermin: Tafsir Hermeneutika Lagu ‘Erika’
Ulas Musik

Ketika Lirik Menjadi Cermin: Tafsir Hermeneutika Lagu ‘Erika’

DALAM tradisi hermeneutika, teks tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu lahir dari horison sejarah, budaya, dan kesadaran penuturnya. Apa yang...

by Ahmad Sihabudin
April 25, 2026
Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins
Esai

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

Ingatan yang Menjadi Wacana Batin Gagasan tentang Krishna dan Siddharta yang muncul dari ingatan terhadap wacana maupun tulisan Guruji Anand...

by Agung Sudarsa
April 24, 2026
Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”
Pop

Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

“Untuk saat ini, single-single saja dulu, sama seperti status saya,” ujar Tika Pagraky sambil tertawa, memecah suasana sore itu. Kalimat...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah
Khas

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co