12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Catatan Ringkas dari Seminar Lontar Asta Kosala Kosali Koleksi Museum Bali

I Nyoman Gede Maha Putra by I Nyoman Gede Maha Putra
May 24, 2025
in Esai
Catatan Ringkas dari Seminar Lontar Asta Kosala Kosali Koleksi Museum Bali

MUSEUM Bali menyimpan lebih dari 200 lontar yang merupakan bagian dari koleksinya. Tanggal 22 Mei 2025, diadakan seminar membahas konten, kajian dan relevansi pengetahuan yang dikandung oleh lontar Asta Kosala Kosali dalam koleksi tersebut di masa kini dengan tiga orang narasumber.

Saya menemani sebagai moderator sekaligus ikut belajar banyak tentang isi dari teks-teks lama yang, mungkin, mulai ditulis sejak dikenalkannya daun palem sebagai alat penyampai pesan. Berikut ini adalah catatan ringkas yang saya buat selama memoderasi diskusi.

Lontar dalam masyarakat pramodern yang melek tulis

Masyarakat pramodern menganggap dunia semesta alam sudah ada dalam keadaan seimbang dan harmonis karena digerakkan dan dijaga oleh kekuatan besar yang ada di dalam dirinya. Sedikit saja gangguan terhadapnya akan membuat kondisi yang sudah sempurna tersebut terganggu. Karenanya, mereka sangat takut terhadap kekuatan-kekuatan besar tersebut, yang jika diganggu, dapat mempengaruhi kehidupan mereka. Dari rasa takut itu, muncul apresiasi dan penghormatan besar terhadapnya. Pengetahuan untuk mengapresiasi alam namun tetap berusaha untuk memenuhi kebutuhan ini menjadi kekayaan masyarakat tradisional. Kekayaan ini ditulis dan disebarkan melalui media lisan dan, yang kitab aha sekarang, tulisan di atas daun atau lontar.

Seminar asta kosala kosali di Muesum Bali

Lontar merupakan media komunikasi dalam bentuk teks yang diproduksi oleh ilmuwan di Bali pada masa klasik sebelum dikenalnya huruf latin dan setelah masa prateks. Sebagai media, lontar membawa banyak pesan untuk diteruskan melintasi wilayah dan waktu. Di banyak tempat, isi lontar diintepretasikan dan ditulis ulang sehingga muncul banyak variasi. Variasi ini lontar juga mungkin muncul sebagai akibat dari pengalaman baru yang selanjutnya dicatat dan dipakai untuk melakukan revisi atau penyempurnaan terhadap aktivitas sebelumnya.

Di masa pra-modern, lontar-lontar asta kosala kosali dimanfaatkan sebagai salah satu instrumen penatakelolaan desain arsitektural dan perabotan manusia secara umum. Di dalamnya terdapat kajian tentang semesta, ilmu filsafat untuk memahami kehidupan, panduan untuk menata tempat, membagi lahan, peraturan tentang pembagian ruang, petunjuk-petunjuk konstruksi termasuk tata cara mencari material, dan juga berbagai upakara atau ritual yang yang menyertai setiap tahapan proses pembangunan.

Pengetahuan di dalam lontar

Membuat alat dan bangunan adalah potensi gangguan terhadap keharmonisan semesta. Ini karena untuk membuat bangunan akan mensyaratkan ‘gangguan’ terhadap lahan, menyakiti dan membunuh pohon, melubangi kayu, merakit kayu menjadi sesuatu yang bukan dirinya, dan seterusnya. Tindakan-tindakan tersebut adalah kehendak manusia dan bukan kehendak alam. Sehingga, manusia merasa itu bisa membuat ‘murka’ sang kekuatan maha besar. Untuk mengatasinya, maka hanya manusia tertentu yang diperbolehkan melakukkanya yang disebut undagi.

Seorang undagipun tidak bisa sembarangan melakukan modifikasi terhadap semesta. Dalam setiap langkahnya, ia harus meminta ijin kepada sang pemilik jagat. Itulah ritual-ritual yang mengawali serta mengakhiri setiap tahapan proses pembangunan.

Intepretasi lontar untuk masa kini bisa menghasilkan bangunan yang baik | Foto: Gede Maha Putra

Seorang undagi, selain berkewajiban melayani kebutuhan manusia dengan hati hati, juga dituntut untuk menyebarkan ilmunya kepada Masyarakat yang lebih luas dan kepada generasi yang akan menggantikannya. Ini agar upaya pemenuhan kebutuhan manusia yang semakin banyak tetap menjaga prinsip-prinsip harmoni dengan semesta. Untuk itu, ditulislah petuntuk-petunjuk dalam lembar-lembar daun palem.

Petunjuk, aturan, arahan desain serta pemahaman tentang semesta yang termuat di dalam lontar diikuti dengan berbagai macam sanksi serta konsekuensi atas pelanggaran. Meski demikian, panduan-panduan tersebut tetap mengandung fleksibilitas dalam penerapannya. Fleksibilitas ini tetap memberi peluang serta kreativitas untuk terus tumbuh. Dari sini, muncul banyak inovasi-inovasi desain di wilayah-wilayah tertentu. Inovasi ini tentu saja tetap dalam bingkai etika yang diijinkan. Dengan demikian, pengaturan desain di masa lalu mengandung hal-hal yang bersifat mengatur dengan kuat dan juga mengandung hal-hal yang masih bisa dinegosiasikan sesuai dengan tempat, jaman dan keadaan suatu wilayah.

Isi dari lontar merupakan intepretasi manusia terhadap alam semesta raya dan bagaimana ia dapat hidup secara harmonis di dalamnya. Dengan demikian, pemahaman terhadap alam semesta menjadi pengetahuan yang sangat penting yang harus dikuasai oleh seorang undagi, perancang dan pelaksana Pembangunan tradisional. Seorang undagi wajib mengetahui cara kerja alam sehingga saat menentukan lokasi serta membagi tata ruang suatu fasilitas, ia bisa menyesuaikannya dengan cara kerja ekosistem dalam artian luas, tidak hanya di atas tapak.

Setelah menentukan lokasi, undagi harus memperhatikan hubungan sosial lingkungan di sekitar lahan. Di sini, kedudukan seseorang di masyarakat menjadi penentu tata letak fasilitas yang hendak dibangun. Misalnya, tapak untuk rumah seseorang yang memiliki kedudukan penting di masyarakat diletakkan di tempat yang lebih bernilai utama dibandingkan dengan yang tidak memiliki kedudukan. Rumah tinggal tidak boleh ada di hulu sebuah tempat suci. Demikian diatur untuk menciptakan harmonisasi social. Setelahnya, ditetapkanlah tapak yang pasti.

Selanjutnya, pengetahuan tentang tata cara ukur mengukur menjadi esential bagi seorang perancang. Ini berkenaan dengan dimensi bangunan. Dimensi lahan diukur dengan memperhatikan ukuran tubuh kepala keluarga yang akan menempati lahan. Ini untuk menjamin bahwa bangunan, selain harmonis dengan lingkungan sekitarnya, juga sesuai dengan ergonomi calon penggunanya. Bangunan yang dirancang sesuai dengan antropometri ini mencegah kemungkinan pemilik mengalami sakit akibat ketidak sesuaian ergonomi. Sakit semacam ini, di jaman modern, disebut sick-building syndrome.

Intepretasi lontar untuk masa kini bisa menghasilkan bangunan yang baik | Foto: Gede Maha Putra

Berikutnya adalah soal material dan tata cara merakitnya. Setiap material dipilih dengan prinsip kelestarian sehingga kayu yang tumbuh di tempat tertentu tidak diijinkan untuk ditebang. Misalnya kayu yang dekat dengan mata air harus dijaga. Kayu yang tumbuh di batas desa pantang ditebang. Selain itu, hal material juga berkaitan dengan unsur keselamatan sehingga kayu yang bekas terbar atau disambar petir tidak diijinkan untuk dipakai sebagai material. Demikian juga yang saat ditebang lalu rubuh melintang di atas sungai. Dipercaya kayu semacam ini bisa membahayakan penghuni.

Tidak hanya itu, undagi juga wajib memahami ilmu perbintangan, Gerakan benda di langit yang membentuk system penanggalan. Setiap posisi benda langit menentukan hari-hari dan setiap hari tertentu memiliki nilai-nilai yang bisa dikaitkan dengan upacara ritual dalam proses Pembangunan.

Lontar di masa modern

Teknologi saat ini sudah mampu mengatasi hal-hal yang pada masa tradisional tidak bisa diselesaikan. Masyarakat modern melihat setiap tantangan bisa dicarikan jalan keluarnya melalui teknik-teknik konstruksi terbaru. Semakin banyak tantangan, maka semakin maju teknologi bidang rancang bangun yang lahir. Perlahan, lontar tidak lagi menjadi panduan dalam merancang. Dalam pandangan modern, materi yang termuat di dalam lontar dianggap ketinggalan jaman. Relevansinya hilang di tengah upaya manusia mengejar masa depan melalui eksploitasi atas lahan, atas material alam, atas wujud-wujud arsitektural baru atas nama inovasi. Selain itu, keterbatasan luas lahan saat ini, terutama di daerah urban, tidak memungkinkan teknik-teknik pengukuran lahan tradisional untuk diterapkan secara ketat.

Usaha untuk memaknai arsitektur lokal bisa saja malah mengarah pada dekontekstualisasi | Foto: Gede Maha Putra

Meski demikian, banyak nilai-nilai yang ada di dalam lontar bisa diteladani dan terbukti bisa menghasilkan bangunan yang baik. Sikap hormat terhadap alam dengan memanfaatkan sedikit, bisa menghasilkan karya arsitektur yang baik. Kemudian, pemanfaatan fitur-fitur alamiah seperti material non-industri juga bisa meningkatkan kualitas arsitektur. Untuk melakukan hal ini maka, kita membutuhkan intepretasi baru dan tidak sekedar patuh terhadap kata-kata yang ada di dalam lontar. Memahami esensi yang dikandungnya, lalu mewujudkannya dengan konteks hari ini. Esensi pokok dari pengaturan lontar adalah soal menciptakan lingkungan yang nyaman, aman, mendukung kehidupan manusia yang menghuninya tanpa memberi dampak buruk bagi lingkungan semesta yang lebih luas lalu menjamin keberlanjutan. Tidak berpikir jangka pendek tetapi masa yang lebih panjang.

Esensi isi lontar saat ini berkenaan dengan upaya menciptakan  harmoni dari sisi: fungsi yang berkenaan dengan aktivitas dan ukuran tubuh penghuni bangunan, wujud bangunan yang selaras dengan cara kerja alam termasuk ketahanannya terhadap gempa, tata lingkungan dalam kaitannya dengan kedudukan social penghuni di masyarakat, seni dan estetika yang mewujud pada ornament. Kelima prinsip harmoni ini diyakini akan meningkatkan kesejahteraan fisik dan psikologis manusia baik sebagai makhluk individu maupun sebagai makhluk sosial. Ini adalah tujuan hidup manusia yang berlaku secara universal dan juga lintas masa. Penerjemahannya dan penyusunan intepretasinya agar nilai-nilai yang terkandung di dalamnya tetap bisa dinikmati di masa sekarang membutuhkan usaha-usaha bersama. [T]

Penulis: Gede Maha Putra
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel tentang ARSITEKTUR atau artikel lain dari penulis GEDE MAHA PUTRA

Meramal  Wujud Arsitektur di Bali pada Masa yang Akan Datang
Menyaksikan Wujud Neoliberalisme Ekonomi melalui Perkembangan Arsitektur di Bali: Sebuah Autokritik
Arsitektur Regeneratif dan Pembangunan Kapitalistik : Menuliskan Bali dan Arsitektur Desa Potato Seminyak
Tags: arsitekturarsitektur baliasta kosala kosalilontarmuseum bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Saatnya Pertanian Masuk Medsos

Next Post

Menunggu Istri | Cerpen IBW Widiasa Keniten

I Nyoman Gede Maha Putra

I Nyoman Gede Maha Putra

Dosen arsitektur di Universitas Warmadewa

Related Posts

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails
Next Post
Menunggu Istri | Cerpen IBW Widiasa Keniten

Menunggu Istri | Cerpen IBW Widiasa Keniten

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co