24 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menyaksikan Wujud Neoliberalisme Ekonomi melalui Perkembangan Arsitektur di Bali: Sebuah Autokritik

I Nyoman Gede Maha Putra by I Nyoman Gede Maha Putra
October 30, 2024
in Esai
Menyaksikan Wujud Neoliberalisme Ekonomi melalui Perkembangan Arsitektur di Bali: Sebuah Autokritik

Menyaksikan Wujud Neoliberalisme Ekonomi melalui Perkembangan Arsitektur di Bali: Sebuah Autokritik | Foto-foto: Gede Maha Putra

KARYA-KARYA arsitektur di Bali belakangan ini, terutama pasca pemerintah menyatakan wabah Covid-19 berakhir, menarik untuk ditelisik atas beberapa alasan.

Pertama adalah jumlah dan sebaran proyek yang bermunculan dalam dua tahun terakhir ini menunjukkan tanda-tanda kebangkitan ekonomi yang luar biasa. Bangunan-bangunan baru berbagai jenis dan ukuran bermunculan benar-benar seperti jamur di musim hujan.

Kedua, wujud arsitekturnya semakin beragam nyaris tanpa satupun benang merah yang membantu kita memahaminya dalam sebuah framework teoritik yang utuh.

Ketiga, kita tidak perlu berkunjung ke tempat dimana proyek tersebut dibangun untuk bisa turut menikmatinya. Hal ini dimungkinkan karena semuanya kini terpampang vulgar di media sosial. Postingan-postingan tentang karya-karya arsitektur tersebut tidak hanya diunggah oleh pemilik atau pengelolanya saja, melainkan juga oleh pengunjung selaku penikmat karya tersebut.

Keempat adalah aroma international yang muncul dari berbagai elemennya; aktivitasnya, program ruangnya, sajiannya (ini khusus yang kuliner), penataan ruang dan arsitekturnya, hingga investor di baliknya.

Sebuah tower di dalam kawasan enclave di Tabanan | Foto: Gede Maha Putra

Saya beberapa kali melakukan unggahan di media sosial tentang fenomena ini. Yang muncul adalah komentar-komentar tentang perlunya Bali memiliki peraturan yang mengatur tata ruang dan arsitektur. Ada juga yang berkomentar tentang penegakan hukum atas pelanggaran-pelanggaran yang terjadi di lapangan.

Di lain kesempatan, banyak juga kawan yang mengapresiasi munculnya karya-karya arsitektur yang memiliki wujud beragam ini karena mereka memberikan nuansa baru dan dianggap memperkaya khasanah arsitektur lokal.

Menimang perbedaan-perbedaan tersebut, saya mencoba melihatnya dari kaca mata yang fokusnya lebih lebar, tidak membahasnya dari sisi bentuk semata. Dengan memperlebar sudut pandang, kita bisa membahas fenomena ini dengan memasukkan sistem ekonomi yang saat ini bekerja di seluruh dunia yaitu neoliberalisme.

Sistem ekonomi neoliberal adalah paradigma yang memberi peluang luas bagi terciptanya pasar bebas.  Geografer Marxis, David Harvey berargumen bahwa kebangkitan paradigma ini terjadi pasca “kegagalan” sistem ekonomi Keynesianisme yang berfokus pada intervensi negara. Paradigma terakhir ini dianggap gagal pasca krisis ekonomi awal decade 1970-an.

Mall dengan fasilitas ruang makan dan nongkrong | Foto: Gede Maha Putra

Dalam sistem ekonomi baru ini, negara mengurangi pengawasan dan pengaturan yang membatasi sektor keuangan, tenaga kerja, dan industri agar pasar bisa bergerak dan beroperasi dengan lebih leluasa. Tugas negara lebih dititikberatkan pada upaya untuk menjaga stabilitas pasar dan memastikan aturan hukum yang memberi keuntungan bagi kaum pelaku pasar dalam hal ini kapitalis dan investor. 

Upaya untuk membangun pasar yang menarik bagi investor adalah dengan membuka negara bagi masuknya modal asing. Hal ini membuat modal dan produksi dapat berpindah lintas batas nyaris tanpa adanya halangan. Akibatnya, tercipta pasar global yang saling terkait.

Salah satu landasan pokok paradigm ini, seperti diungkap Harvey, adalah bahwa pasar akan mengelola sumber daya lebih efisien melalui kompetisi tanpa adanya campur tangan negara. Di Indonesia, Undang-Undang Cipta Kerja yang disahkan tahun 2020, meski tidak menyebut secara eksplisit, menunjukkan arah dukungan kepada pandangan neoliberalisme ini.  Aturan-aturan yang dianggap rumit untuk investasi dipangkas dan disederhanakan sehingga pemodal memiliki keleluasaan lebih untuk membuka dan menjalankan usahanya.

Restaurant bambu untuk menarik konsumsi | Foto: Gede Maha Putra

Pada saat wabah sedang melanda, perekonomian Bali ada di titik terendah akibat ditutupnya penerbangan. Saat itu, bisnis pariwisata mati suri yang berimplikasi pada kelumpuhan keuangan pemerintah. Akibatnya, pemerintah merasa tidak mampu berbuat banyak tanpa adanya peran swasta. Setelah penerbangan dibuka dan wisatawan kembali datang, pemerintah juga membuka peluang luas bagi sector swasta untuk berperanserta lebih aktif dalam perekonomian di wilayahnya.

Peran serta swasta ini tentu didukung oleh Undang-undang yang disahkan tersebut. Kondisi ini sejalan dengan lonjakan kunjungan ke Bali. Selain pengunjung internasional, minat wisatawan nasional dan orang lokal Bali untuk berwisata juga meningkat. Mereka ini turut membuat pasar pariwisata menjadi berlipat. Pascawabah, Bali menjadi ladang yang sangat menarik bagi sektor swasta karena dua hal: pemerintahan yang semakin terbuka dan pasar yang menggelembung sangat besar.

Salah satu situs jual-beli-sewa properti bahkan menyebut bahwa saat ini Bali merupakan tempat dengan Return on Investment (ROI) paling tinggi di dunia mengalahkan Dubai.

Secara tata ruang, tingginya pengembalian modal atau ROI ini menyebabkan alih fungsi lahan yang deras. Alih fungsi ini didorong oleh masuknya arus modal yang dibawa serta ditawarkan oleh aktor-aktor global.

Dari situ akan muncul apa yang disebut dengan enclave atau kawasan ekslusif yang tertutup dan hanya bisa diakses oleh para pemilik. Wujudnya bisa berupa resorts dan villa vila yang all-inclusive, gated villa communities, pantai-pantai yang diprivatisasi, atau permukiman yang berbentuk semacam kota kecil mandiri. Kawasan ini secara aktif memisahkan dirinya dari lingkungan sekitar, menciptakan pemisahan fisik dan simbolik.

Dalam kondisi semacam inilah pradigma neoliberalisme masuk melalui arsitektur. Karya-karya arsitektur yang lahir dalam dua tahun belakangan ini merupakan alat untuk menarik perhatian dan sekaligus merebut pasar. Pasar di sini bisa berarti propertinya atau pengunjungnya. Karena pasar yang besar ini tidak hanya diisi oleh konsumen nasional atau internasional tetapi juga lokal, maka tidak pula mengherankan jika wujud arsitekturnya menyesuaikan dengan selera penduduk Bali.

Karya arsitektur masuk jauh hingga tepian jurang | Foto: Gede Maha Putra

Di awal pengembangan pariwisata massal tahun 1970-1980-an, saat pasar masih didominasi oleh wisatawan internasional, arsitektur tradisional mengalami kebangkitan. Fasilitas-faslitas yang melayani turis dirancang dengan cara mengadopsi bangunan-bangunan tradisional. Ini adalah pasar yang masih membawa imaji Bali tahun 1930-an. Kini, saat pasar adalah juga orang lokal maka yang muncul adalah kebalikanya, yaitu arsitektur internasional. Ini adalah bentuk-bentuk yang sedang menjadi trend secara global dan menarik perhatian masyarakat lokal.

Wujud-wujud yang tidak pernah kita jumpai dalam kosakata bentuk tradisi kini mudah dijumpai. Arsitektur tower dengan bentuk seperti lidah api, bangunan villa dengan dinding sepenuhnya kaca, coffee shop dengan vibes ala bangunan di Italia, restaurant mie ramen dengan gaya Jepang, dan lain-lain adalah sebagian dari wujud yang lahir untuk menggaet pasar lokal dan nasional.

Dalam kompetisi, wujud-wujud arsitektur tersebut saling bersaing satu sama lain untuk menarik perhatian secara bebas, dengan intervensi yang minim dari pemerintah. Mekanisme pasar akan menentukan bentuk arsitektur seperti apa yang paling laku dan mampu bertahan dalam waktu yang cukup lama untuk terus melipatgandakan kapital.

Sebaliknya, bentuk-bentuk yang tidak sesuai dengan keinginan konsumen akan ditinggalkan atau hilang dari lansekap. Dalam kondisi ini, aturan-aturan tentang wujud bangunan bersifat sekunder dikalahkan oleh seleksi alami yang merupakan cara kerja pasar.

Sejalan dengan pasar yang dinamis, bentuk-bentuk arsitektur yang dilandasi paradigma tersebut, dalam upayanya untuk merebut pasar serta melipatgandakan modal, akan terus menyesuaikan diri dengan selera dan tuntutan konsumennya. Konsumen yang mudah jenuh, akibat bombardir media sosial, terus menerus membutuhkan inovasi. Dari sini lahir wujud-wujud arsitektural baru silih berganti. Sebuah farmhouse adalah sesuatu yang tidak terbayangkan beberapa tahun lampau dan kini hadir di dekat Bedugul.

Clubhouse yang dulu hanya ada di pantai kini bisa kita jumpai di kawasan dataran tinggi, Ubud, bahkan di tengah permukiman seperti di Celuk. Ada pula yang berbentuk mobil berkeliling kota. Dalam wujud yang seperti ini, arsitektur tidak hanya menjadi akibat dari neoliberalisme ekonomi, tetapi ia secara aktif menjadi subyek yang terus menduplikasi diri dan turut menciptakan pasar yang saling berkompetisi.

Banyak kawasan yang tidak bisa hidup tanpa turis | Foto: Gede Maha Putra

Arsitektur modern memang tidak bisa dilepaskan dari tiga komponen utamanya yaitu regulasi, kapital dan kreativitas arsitek atau designer-nya. Dalam kondisi saat regulasi dikurangi dan mekanisme diserahkan kepada pasar, maka kreativitas dan kapital berperan dominan dalam membentuk ruang-ruang hidup kita di masa yang akan datang.

Selain berkompetisi menghasilkan bentuk yang unik dan menciptakan pasar, kapital juga dapat ‘memaksa’ arsitek untuk menciptakan bangunan yang murah. Artinya, bangunan-bangunan yang memiliki cost pembangunan tidak terlampau tinggi namun dapat dipaksa untuk menghasilkan profit yang gigantic.

Selain cost produksi, bisa saja biaya perencanaan juga akan terimbas semakin murah. Ini terjadi terutama jika fee untuk arsitek dihitung berdasarkan atas kalkulasi dari prosentase harga bangunan per meter persegi. Semakin murah harga bangunan bisa ditekan, maka fee untuk arsitek yang harus dibayarkan juga semakin tidak mahal.

Arsitek mungkin berargumen bahwa mereka terlepas dari berbagai tekanan saat melahirkan karyanya yang dinilai sebagai karya yang inovatif, progresif dengan mengedepankan kebebasan individu dan kreativitas personalnya.

Tetapi, Douglas Spencer, seorang kritikus arsitektur asal Inggris, mengkritik bahwa arsitek sebenarnya juga sedang melayani keinginan kapital untuk memaksimalkan profit dengan cara menciptakan ruang-ruang yang mampu membuat konsumsi masyarakat meningkat. Peningkatan belanja ini ditujukan untuk mendukung investor global yang menjadi kliennya.

Dalam situasi saat ini, dan jika kita memegang apa yang disampaikan oleh Spencer, sepertinya tidak ada lagi teori arsitektur dan estetika yang berperan selain untuk melayani cara kerja ekonomi kapitalistik. Bentuk-bentuk arsitektur menjadi tidak netral tetapi dibentuk oleh dan berguna untuk kepentingan pelipatgandaan modal.

Tidak bisa dipungkiri bahwa meningkatnya konsumsi yang terjadi telah memberi kesejahteraan. Tetapi, kita perlu berhati-hati dalam menanggapi hal ini karena selalu ada bahaya tersembunyi di balik euforia.

Bentuk-bentuk arsitektural yang lahir dalam dua tahun belakangan ini memang ‘sukses’ mencuri perhatian kita. Ini terlihat dari jumlah postingan yang ramai di media sosial. Tetapi, wujud-wujud tersebut, jika kita lihat lebih seksama, mengalami pen-dangkal-an makna.

Secara sadar atau tidak, terjadi banalitas atau pengutamaan tampilan atau kemasan, alih-alih isi atau substansi. Ini terjadi karena karya dibuat untuk kepentingan bisnis. Manusia dilihat hanya sebagai konsumen dan karya arsitektur sebagai komoditas. Kebosanan yang mudah terjadi memicu produksi dan reproduksi atas banalitas ini.

Kondisi berikutnya yang bisa diamati dari munculnya fenomena bangunan-bangunan ini adalah krisis historisitas. Meskipun banyak karya yang berupaya untuk memenuhi unsur-unsur kedaerahan, yang kemungkinan diimbuhkan untuk kepentingan perijinan, tetapi elemen-elemen budaya yang ditampilkan tidak memiliki keber-akar-an sejarah. Kata-kata atau jargon lokal seperti tri hita karana seturut menjadi alat pemasaran. Ia tampak hanya sebagai citra-citra yang justru menjadi penanda terputusnya transmisi tradisi. Alih-alih membentuk ikatan yang kuat dengan tempat, kondisi ini justru mempertontonkan ketidaktahuan atau ketidakpedulian kita pada sejarah.

Bangunan berdesain unik bisa memancing popularitas di media sosial | Foto: Gede Maha Putra

Bangunan-bangunan baru, permanen dan non-permanen, karya arsitektur lama, ruang-ruang ekonomi, sakral, berbudaya, hari ini memenuhi lansekap kita. Kembang api megah bersanding dengan upacara adat. Atraksi pertunjukan tradisional berpadu dengan tarian api modern atau gerakan disco menjadi kenormalan. Orang-orang berbikini yang bersanding dengan pemangku berpakaian putih bersih adalah keseharian kita saat ini.

Masalahnya adalah kita belum mampu menyejajarkan diri dengan kondisi tersebut. Ruang-ruang yang terjadi hari ini membentuk liminalitas atau kegamangan. Kondisi terkatung-katung yang membuat kita terombang-ambing dan gugup dalam situasi paradoks. Konflik-konflik atas ruang muncul. Hiperspace adalah istilah yang umum dipakai. Ini adalah kondisi saat kita tidak mampu membentuk pengalaman ruang perseptual yang utuh akibat banyaknya benturan-benturan yang ditimbukan oleh praktek-praktek produksi ruang neoliberalistik.

Pertanyaannya, mampukah kita menyikapi hal ini? Atau setidaknya kita bisa menanyakan kepada diri kita sendiri, adakah kita menyadari hal ini? [T]

  • BACA artikel tentang ARSITEKTUR atau artikel lain dari penulis GEDE MAHA PUTRA
Limit Arsitektur dalam Menyongsong Abad Urban
Arsitektur Regeneratif dan Pembangunan Kapitalistik : Menuliskan Bali dan Arsitektur Desa Potato Seminyak
Proyek-proyek Besar (di Bali) Dimana Arsitektur Merupakan Alat untuk Mengakumulasi Kapital
Eksperimen Arsitektur di Tengah Pasar Wisata Bali yang Makin Besar
Siasat Singapura Membangun Gedung Megah Tanpa Boros Energi

Tags: arsitekturarsitektur baliarsitektur internasionalarsitektur kotaekonomiNeoliberalisme EkonomiPariwisatapariwisata balipendidikan arsitektur
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menaklukkan Bali: Memoar Perjalanan Tanpa Peta

Next Post

Syahdan, Kantin di FBS Undiksha “Hilang”, Mahasiswa Seperti Kehilangan Kasih Sayang

I Nyoman Gede Maha Putra

I Nyoman Gede Maha Putra

Dosen arsitektur di Universitas Warmadewa

Related Posts

Kebaya Hari Ini, Masihkah Menutup Sesuai Adabnya?

by Pande Susan
July 24, 2026
0
Kebaya Hari Ini, Masihkah Menutup Sesuai Adabnya?

KEMERIAHAN saya sebagai generasi milenial dalam berpakaian pada masa kanak kanak sangat jauh berbeda dengan gen alpha dan gen beta...

Read moreDetails

Ketika Negara Kehilangan Hak untuk Dipercaya

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BEBERAPA waktu terakhir, publik menyaksikan pemberitaan mengenai penyitaan barang bukti berupa emas dan uang tunai dalam jumlah yang sangat besar...

Read moreDetails

Sejak Kapan Pemerintah Mengurus Orientasi Seksual Warganya?

by Surfian Rahmat AP
July 24, 2026
0
Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital

Salah satu indikator paling nyata dari kemunduran tata kelola pemerintahan adalah ketika negara lebih disibukkan mengatur moralitas di ruang privat...

Read moreDetails

Menyelami Air, Menyelami Kehidupan —Catatan dari Tepi Kolam tentang Klub Selam Dolphin Singaraja

by Dewa Rhadea
July 23, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

Air memiliki cara mendidik yang tidak dimiliki ruang kelas. Ia tidak pernah meninggikan suara ketika mengajarkan manusia tentang kesabaran. Ia...

Read moreDetails

Demokratisasi Suara, Krisis Pengetahuan: Tribalisme dan Ilusi Kesetaraan di Era Algoritma

by Wayan Gde Yudane
July 23, 2026
0
Demokratisasi Suara, Krisis Pengetahuan: Tribalisme dan Ilusi Kesetaraan di Era Algoritma

KETIKA kebebasan berbicara terbuka tanpa batas, yang terbebaskan bukan hanya kemampuan manusia untuk menyampaikan gagasan, tetapi juga insting purba kesukuan...

Read moreDetails

Ketika Ngopi Menjadi Cara Anak Muda Membaca Dunia

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
July 22, 2026
0
Ketika Ngopi Menjadi Cara Anak Muda Membaca Dunia

Dahulu, kopi identik dengan rutinitas orang dewasa, diseduh pagi hari, diminum di rumah, atau dinikmati di warung sambil berbincang tentang...

Read moreDetails

Siapa yang Berhak Menentukan Kebebasan Tubuh Perempuan? —-[Menanggapi Tulisan Surfian Rahmat AP]

by Early NHS
July 20, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

SEJAK dulu, tubuh perempuan selalu menjadi objek analisis dan justifikasi orang lain. Kita sering mendengar komentar terhadap cara seorang perempuan...

Read moreDetails

Trauma KUD dan Hasrat Politik 2029 Lewat KDMP

by Chusmeru
July 20, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

POLEMIK seputar Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) hingga kini belum juga surut. Namun the show must go on. Program andalan...

Read moreDetails

Nasib Antek-Antek Ronaldo dan Real Madrid di Piala Dunia 2026

by Rusdy Ulu
July 20, 2026
0
Nasib Antek-Antek Ronaldo dan Real Madrid di Piala Dunia 2026

ISTILAH antek-antek Ronaldo bukan saya yang bikin. Saya mencurinya dari unggahan akun virdian_aurellio di media sosial. Waktu Argentina comeback melawan...

Read moreDetails

Krisis Baru Abad 21: Ketika Mesin Berpikir, Manusia Berhenti Merenung?

by Hairunnisa Br. Sagala
July 19, 2026
0
Krisis Baru Abad 21: Ketika Mesin Berpikir, Manusia Berhenti Merenung?

KONON, yang membedakan manusia dari makhluk lain bukan semata kemampuan berbicara, melainkan kemampuan merenung. Dari renungan lahir kebijaksanaan. Dari kebijaksanaan...

Read moreDetails
Next Post
Syahdan, Kantin di FBS Undiksha “Hilang”, Mahasiswa Seperti Kehilangan Kasih Sayang

Syahdan, Kantin di FBS Undiksha “Hilang”, Mahasiswa Seperti Kehilangan Kasih Sayang

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kebaya Hari Ini, Masihkah Menutup Sesuai Adabnya?
Esai

Kebaya Hari Ini, Masihkah Menutup Sesuai Adabnya?

KEMERIAHAN saya sebagai generasi milenial dalam berpakaian pada masa kanak kanak sangat jauh berbeda dengan gen alpha dan gen beta...

by Pande Susan
July 24, 2026
Lewat Digitalisasi dan “Green Tourism”, Mahasiswa Politeknik Negeri Bali Menghidupkan Potensi Desa Muncan, Karangasem
Pendidikan

Lewat Digitalisasi dan “Green Tourism”, Mahasiswa Politeknik Negeri Bali Menghidupkan Potensi Desa Muncan, Karangasem

BANYAK program pengabdian masyarakat berakhir sebagai seremoni. Datang, memberi pelatihan, lalu pulang. Namun, program Bina Desa yang digagas Badan Eksekutif...

by Dede Putra Wiguna
July 24, 2026
Kesetiaan Itu Mahal ——Ketika Gotawa Menafsirkan “Satya” Lewat Pameran Tunggal di Toke, Toko Kopi & Seni
Pameran

Kesetiaan Itu Mahal ——Ketika Gotawa Menafsirkan “Satya” Lewat Pameran Tunggal di Toke, Toko Kopi & Seni

DI tengah denting musik elektronik yang berpadu dengan aroma dupa dan canang, Gotawa berdiri di depan kanvas. Tangannya bergerak, menumpahkan...

by Dede Putra Wiguna
July 24, 2026
Siap-siap ke Lovina Festival 2026
Panggung

Siap-siap ke Lovina Festival 2026

"Hari ini kesiapan sudah seratus persen," ucap Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra membuka jumpa pers di Spice Dive Beach Club,...

by Komang Puja Savitri
July 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Ketika Negara Kehilangan Hak untuk Dipercaya

BEBERAPA waktu terakhir, publik menyaksikan pemberitaan mengenai penyitaan barang bukti berupa emas dan uang tunai dalam jumlah yang sangat besar...

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 24, 2026
Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital
Esai

Sejak Kapan Pemerintah Mengurus Orientasi Seksual Warganya?

Salah satu indikator paling nyata dari kemunduran tata kelola pemerintahan adalah ketika negara lebih disibukkan mengatur moralitas di ruang privat...

by Surfian Rahmat AP
July 24, 2026
Instalasi Panel Surya dan Sertifikasi Green Building: Panduan untuk Pemilik Gedung
Gaya

Instalasi Panel Surya dan Sertifikasi Green Building: Panduan untuk Pemilik Gedung

INSTALASI panel surya kini menjadi salah satu strategi yang semakin dipertimbangkan untuk mengendalikan biaya energi, sekaligus memenuhi target keberlanjutan. Saat...

by tatkala
July 24, 2026
7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis
Khas

7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis

KAWASAN Sanur yang tenang, bersih, dan ramah keluarga menjadi latar yang sempurna untuk menikmati secangkir kopi berkualitas. Perpaduan aroma biji...

by Nyoman Budarsana
July 24, 2026
Semesta di Dalam Tanah Liat: Membaca Karya-Karya Keramik Dr. Dra. Ni Made Rai Sunarini, M.Si.
Ulas Rupa

Semesta di Dalam Tanah Liat: Membaca Karya-Karya Keramik Dr. Dra. Ni Made Rai Sunarini, M.Si.

BARANGKALI kita terlalu sering memandang alam sebagai sesuatu yang berada di luar diri. Gunung adalah bentang yang dikunjungi ketika musim...

by Angga Wijaya
July 24, 2026
Selera, Kualitas, dan Masa Depan Musik Pop Bali
Khas

Selera, Kualitas, dan Masa Depan Musik Pop Bali

“SATU yang tidak bisa dilakukan oleh AI adalah sentuhan nurani.” Kalimat itu diucapkan oleh I Made Adnyana di tengah diskusi...

by Dede Putra Wiguna
July 24, 2026
Musikal Visual Karya Wayan Sujana Suklu
Ulas Rupa

Musikal Visual Karya Wayan Sujana Suklu

Pameran Yogya Annual Art ke-11 yang mengambil tema Direction (Arah) digelar di Bale Banjar Sangkring, Nitiprayan No. 88, Ngestiharjo, Kasihan,...

by Hartanto
July 24, 2026
Bunyi Mata Ugra, Harmoni Tradisi dan Spiritualitas di Panggung Festival Seni Bali Jani VIII 2026
Panggung

Bunyi Mata Ugra, Harmoni Tradisi dan Spiritualitas di Panggung Festival Seni Bali Jani VIII 2026

PERTIKAIAN dan peperangan kerap melahirkan penderitaan, kebencian, dendam, serta luka yang membekas dalam jiwa. Namun, di balik kehancuran itu selalu...

by Nyoman Budarsana
July 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co