2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Syahdan, Kantin di FBS Undiksha “Hilang”, Mahasiswa Seperti Kehilangan Kasih Sayang

Son Lomri by Son Lomri
October 30, 2024
in Khas
Syahdan, Kantin di FBS Undiksha “Hilang”, Mahasiswa Seperti Kehilangan Kasih Sayang

Pamplet di kantin FBS Undiksha yang sudah tutup | Foto: tatkala.co/Son

Di Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Undiksha–atau biasa disebut Kampus Bawah–di Jalan A Yani Singaraja, pada jam-jam rawan perut lapar, seperti siang atau di jam setelah kuliah selesai itu, banyak mahasiswa menyerbu dan nongkrong di kantin.

Mereka itu adalah mahasiswa dari prodi seni dan prodi desain, prodi Bahasa Indonesia, terus Bahasa Jepang, Inggris hingga Bahasa Bali. Mereka sudah biasa nongkrong di kantin, selain mengisi perut, juga mengobrol tentang materi kuliah, atau sekadar ngobrol kangin-kauh. Kadang ada dosen juga ikut nimbrung.

Mereka, atau mahasiswa di luar kampus bawah, biasa menyebut kantin itu dengan nama Kantin FBS. Ya, karena lokasinya memang di areal kampus FBS.

Pengelola kantin itu, oleh mahasiswa dipanggil Mek Yan. Artinya, Bu Yan. Seakan-akan Mek Yan itu, ibu atau bibi dari mahasiswa yang sedang kelaparan.

Barangkali karena mahasiswa kebanyakan dari program seni, kantin itu kadang-kadang mirip art space. Di situ mahasiswa sekadar ngobrol biasa—untuk ngopi, ngerokok, musikan dan makan. Apalagi, di kantin FBS—yang dijaga oleh Mek Yan itu, mahasiswa bisa belanja dengan senang, karena dekat, juga karena jauh lebih murah daripada harus pergi ke luar kampus.

Selain itu, juga mereka merasa bebas nongkrong di sana. Kantin bagi mereka seolah menjadi pusat pertemuan, bahkan pusat diskusi yang sebenarnya. Gosip-gosip juga bertebaran di sana, seliweran seperti angin tanpa kekhawatiran apapun.

Syahdan. Sejak sekitar dua minggu terakhir ini, aktivitas itu tidak ada lagi. Kantin itu telah “hilang”. Bangunan masih ada, tapi aktivitas jual-beli dan nongkrong tak ada lagi.

Mek Yan dan Rapunsel (nama gaul dari seorang penjaga kantin yang enggan disebut nama aslinya itu), entah karena apa, pindah ke Fakultas Kedokteran yang lokasinya di kampus tengah. Kantin itu berada di sebuah basement.

Banyak mahasiswa merasa kehilangan. Kehilangan makanan murah ang dekat dari kelas, kehilangan tempat nongkrong, kehilangan titik kumpul ketika jam-jam sudah menunjukkan tanda lapar.

Padahal sudah tujuh tahun Mek Yan berjualan di sana. Sudah banyak langgananannya di sana, dan bahkan sangat setia. Humanis dan manis-manis, mungkin juga Marxis-Marxis.

“Habis kontrak!” kata Mek Yan ketika saya, dari tatkala.co, menemuinya di tempatnya kini di Fakultas Kedokteran, Selasa (29/10/2024).

Kantin di FBS Undiksha Singaraja tutup | Foto: tatkala.co/Son

Ruangan bekas kantin di kampus FBS itu sendiri sudah ditutup rapat. Tak ada celah masuk ke ruangan itu, dikunci, dikosongkan barang-barangnya. Tak ada apa-apa. Tampak tiga mahasiswa melewati kantin itu, barangkali maunya belanja, tapi urung karena kantin tak ada lagi.

“Mau dijadikan galeri katanya. Jadi (kontrakna) gak bisa diperpanjang. Harus pindah,” kata Mek Yan didampingi Rapunsel.

Mek Yan sudah pindah sedari hari Jumat dua minggu yang lalu, tepatnya 18 Oktober 2024. Sejumlah mahasiswa FBS mengaku kelimpungan setelah itu. Mereka mesti berjalan—atau membawa motor untuk pergi membeli makan, kopi, atau sekadar beli rokok eceran ke luar kampus.

Mek Yan dan Rapunsel masih ingin meladeni para mahasiswa di ruangan yang dikunci itu. Tetapi karena ruangan itu rumornya, akan digunakan sebagai galeri seni, ia tak lagi mendapat izin perpanjangan kontrak.

Itu baru katanya-katanya saja, kata Mek Yan. Informasi lebih liar lagi, salah seorang mahasiswa menututurkan, FBS akan membuka kantin yang lebih bersih bernama Coffe Shop.

Yang lucu, banyak mahasiswa FBS, terutama prodi pendidikan seni rupa, mengikuti Mek Yan. Mereka belanja ke kantin Mek Yan di Fakultas Kedokteran yang jaraknya cukup jauh dari kampus FBS—tempat mereka kuliah. Mereka seperti menyayangi Mek Yan, dan setelah Mek Yan pindah mereka seakan kehilangan kasih sayang.

Kantin Mek Yan: Pusat Perkumpulan Selain Kelas

Terasa sekali mahasiswa di FBS kehilangan kantin yang mereka cintai.

Dari pantauan di kampus FBS, terlihat bangunan bekas kantin Mek Yan itu sepui. Di kaca ruangan bekas Mek Yan buka kantin itu, tertempel lukisan pamflet, entah dibuat oleh siapa.

Kalimat dalam pamplet itu cukup menohok “KAMI PERLU KANTIN!”—dan diisi gambar tangan mengepal menambah ketegasan perasaan kalau seluruh warga FBS ingin segera memiliki kantin. Segera!

“Satu atau dua minggu lalu, beberapa teman dari Seni dan Desain—yang biasa nongkrong di sana, ikut bantu-bantu Mek Yan pindahan ke Fakultas Kedokteran,” kata Ketut Sastrawan, Semester 5 prodi Pendidikan Seni Rupa.

Rasa sulit mulai mereka rasakan ketika kantin itu tak ada lagi. Rasa sulit dari hati sampai ke perut.

Pamplet di kaca dengan tulisan DICARI KANTIN BARU | Foto: tatkala.co/Son

Astina Dewi, seorang mahasiswa juga mengakui hal yang sama. “Saya sendiri, juga kesulitan, harus keluar kampus buat cari ganjalan perut,” kata Asitina Dewi.

Setelah Mek Yan dan Rapunsel pindah, Ketut Sastrawan telah kehilangan sesuatu bernama “kedekatan emosional”. Mek Yan sudah seperti ibu kedua bagi mereka. Tak hanya itu, keramahan Mek Yan juga benar-benar telah terpacak di hati para mahasiswa FBS. Sangat dekat.

“Dari pengalaman aku sampai semester 5 sekarang, kantin FBS itu kaya tempat buat kumpul sama teman-teman. Selain itu, ibu kantin juga ramah. Setiap ada anak-anak Seni dan Desain (SDD) wisuda, pasti dirayain kaya makan gratis, apalagi kalau udah kenal deket sama ibu kantin. Jangankan ngebon, minta pun dikasih!” jelas Ketut Sastrawan.

Jadi, cukup beralasan kenapa para mahasiswa itu sampai menyusul Mek Yan hingga ke Fakultas Kedokteran.

Hendra, semester 9, anak seni—mesti menggelandang ke sebuah Basement Fakultas Kedokteran menemui Mek Yan yang membuka lapak di sana. Bersama teman-temannya, ia memboyong gitarnya sendiri, dan memainkannya di sana sebagaimana biasa mereka melakukannya di FBS sambil ngopi dan ngalor kidul ngobrol.

“Kalau misalkan benar jadi coffe shop yang kopinya mahal itu, jebol kantong kami,” kata Hendra membayangkan sebuah kantin lebih mahal.

Kantin Mek Yan di areal Fakultas Kedokteran Undiksha dan mahasiswa FBS yang nongkrong di situ | Foto: tatkala.co/Son

Hendra justru merasa nyaman adanya Mek Yan di FBS. Tapi sayang, Mek Yan sudah pindah bersama rekannya yang lebih muda—bernama Rapunsel tadi. Mereka membuka kantin, bukan sekadar tempat antara pembeli dan penjual. Lebih dari itu.

Orang-orang benar-benar dibebaskan mengambil camilan, bayar belakangan. Tanpa takut, kalau camilan itu dibawa kabur tanpa dibayar, atau uang mereka dicopet karena selalu simpan uang terbuka di etalase.

Dengan gaya warung semacam ini, Mek Yan seperti hendak memberikan sebuah kepercayaan lebih kepada pelanggannya. Bukan sekadar hubungan penjual atau pembeli.

Selain memberikan harga murah, apakah nanti FBS memiliki kantin seasik Mek Yan lagi? Tunggu saja. [T]  

Reporter/Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Adnyana Ole

Dirah dan Pilkada dalam Mozaik Asik,  Sebuah Pameran Kebebasan Seniman Muda Undiksha
“Warung Friend”,  Warung Legend bagi Mahasiswa di Kampus Bawah Undiksha Singaraja
Dari Flores ke Kampus Impian: Cerita dari PKKMB Undiksha Singaraja 2024
Tags: Fakultas Bahasa dan Seni UndikshaSingarajaUndiksha
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menyaksikan Wujud Neoliberalisme Ekonomi melalui Perkembangan Arsitektur di Bali: Sebuah Autokritik

Next Post

Canang Sari : Budaya Positif Dari Toska     

Son Lomri

Son Lomri

Mahasiswa Undikhsa, tinggal di Singaraja

Related Posts

Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

by Nyoman Budarsana
August 1, 2026
0
Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

DI ruang rapat kantor Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, sebuah dokumen setebal puluhan halaman berpindah tangan pada Kamis, 30 Juli 2026....

Read moreDetails

Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
0
Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi

Revitalisasi Gending Gambang Plugon menjadi upaya menghidupkan kembali repertoar, regenerasi penabuh, dan ingatan budaya masyarakat Desa Adat Kapal SUARA bilah-bilah...

Read moreDetails

Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
0
Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi

Evoria Baleganjur semakin menggeliat, “di sana tumbuh di sini tumbuh”. Baleganjur tidak saja sebagai musik prosesi, namun makin berkembang menjadi...

Read moreDetails

Di Balik Kalangan Ayodya, Ada Beranda Pustaka yang Menghidupkan Pustaka

by Dede Putra Wiguna
July 28, 2026
0
Di Balik Kalangan Ayodya, Ada Beranda Pustaka yang Menghidupkan Pustaka

DI sudut utara Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre) Denpasar, berdiri sebuah bangunan yang acap luput dari perhatian. Letaknya...

Read moreDetails

HUT ke-30 Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata Badung, Momentum Perjuangkan Kesejahteraan Pekerja Pariwisata

by Nyoman Budarsana
July 28, 2026
0
HUT ke-30 Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata Badung, Momentum Perjuangkan Kesejahteraan Pekerja Pariwisata

WAJAH-wajah para pekerja pariwisata yang tergabung dalam Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata di bawah Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (PC...

Read moreDetails

Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

by Angga Wijaya
July 27, 2026
0
Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

---Catatan dari International Craft Discussion "Prakriti–Pustaka–Padma" di Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud ADA masa ketika seni kriya dipandang...

Read moreDetails

Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
0
Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

KALA itu, saya berkesempatan memandu salah satu diskusi di Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre), Denpasar. Selasa sore, 21...

Read moreDetails

Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
0
Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

TAWA dan percakapan dalam bahasa Inggris silih berganti memenuhi Ruang Pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam), Jumat, 24 Juli...

Read moreDetails

Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam “Kéné Kéto”

by Nyoman Budarsana
July 25, 2026
0
Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam “Kéné Kéto”

PERJALANAN panjang musik pop Bali menjadi sorotan dalam bedah buku Kéné Kéto: Musik Pop Bali karya I Made Adnyana pada...

Read moreDetails

7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis

by Nyoman Budarsana
July 24, 2026
0
7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis

KAWASAN Sanur yang tenang, bersih, dan ramah keluarga menjadi latar yang sempurna untuk menikmati secangkir kopi berkualitas. Perpaduan aroma biji...

Read moreDetails
Next Post
Canang Sari : Budaya Positif Dari Toska     

Canang Sari : Budaya Positif Dari Toska     

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co