14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Warung Friend”,  Warung Legend bagi Mahasiswa di Kampus Bawah Undiksha Singaraja

I Kadek Susila Priangga by I Kadek Susila Priangga
September 11, 2024
in Khas
“Warung Friend”,  Warung Legend bagi Mahasiswa di Kampus Bawah Undiksha Singaraja

Warung Friend

MAHASISWA di Undiksha Singaraja, terutama ang perantauan, rata-rata punya warung kesayangan, atau warung favorit. Biasanya warung itu berlokasi di sekitar kampus, atau di sekitar tempat kost.

Saya, beberapa tahun lalu, sebagai mahasiswa seni rupa di kampus bawah, atau kampus di jalan Ahmad Yani Singaraja, juga punya waru8ng favorit. Bukan hanya saya, tapi juga favorit bagi mahasiswa seni rupa yang lain seangkatan saya.

Nama warung itu, “Warung Friend”. Ada yang juga mengenalnya, atau bahkan juga menjadikannya warung favorit?

“Warung Friend” bukan sekadar merk, bukan juga sekadar brand. Itu nama yang sangat sesuai dengan riwayat dan sejarah kami mengenal warung itu.

Warung itu berada di sebelah timur kampus bawah Undiksha, tepatnya di Jalan Tasbih. Lokasi tepatnya di pintu gerbang kampus sisi timur. Dulu pintu itu kadang-kadang masih buka, tapi lebih sering ditutup. Kini sepertinya pintu itu sudah ditutup permanen. Entah apa sebabnya.  

Kini, jika mencari warung itu, patokannya bisa menggunakan Food Court Tasbih. Di depan food court itulah warung itu berada.

Dulu, malam-malam, mahasiswa sering membeli makanan dari dari dalam kampus. Pedagang akan memasukkan makanan lewat sela-sela pintu gerbang. Kemudian para mahasiswa menyantap makanan itu di bawah lampu merkuri di gerbang tersebut, duduk bersama hingga larut malam ditemani aroma melati dari pohon bunga melati yang tumbuh di dekat tiang lampu tersebut. Bukan berbau mistis ya, itu hal biasa bagi mahasiswa kampus bawah—mahasiswa seni rupa khususnya.

Pak Friend dan istrinya | Foto: Susila

Kini setelah tamat, sudah menikah, dan sudah menjadi guru di sebuah SMP di Buleleng, saya masih tetap mengunjungi Warung Friend. Hampir setiap minggu saya menyempatkan diri untuk mampir dan membeli makanan di sana, walaupun perjalanan dari rumah sebenarnya melewati banyak warung yang menjual menu yang sama. Ada hal yang berbeda di Warung Friend.

Atmosfer kampus bawah yang penuh kenangan masih terasa kuat walau dibatasi tembok kokoh tanpa ventilasi lagi. Atmosfer itu yang menarik saya memilih tempat itu untuk berlabuh, terus-menerus, dari dulu, hingga kini.

Masa Mahasiswa yang Indah

Mengenang Warung Friend adalah mengenang masa lalu yang indah. Bahkan, bukan hanya mengenang masa-masa kuliah, melainkan juga bisa terkenang juga masa-masa sekolah.

Masa-masa sekolah, dari dasar sampai perguruan tinggi memang tidak ada habisnya. Banyak sekali hal-hal yang bisa menjadi topik perbincangan, apalagi ada moment yang memang sangat membekas, lucu dan selalu asyik ketika menjadi bahan utama dalam perbincangan. Mulai dari perubahan dalam proses pembelajaran di sekolah, kurikulum, permainan yang dulu dan sekarang, hingga proses sampai saat ini dalam pekerjaan dan rumah tangga.

Semua hal bisa menjadi topik yang hangat untuk mengisi waktu berkumpul dengan kawan. Dalam tongkrongan, satu topik bisa di bahas hingga berjam-jam. Bahkan tidak cukup hanya satu topik, melebar ke topik lain, dari permainan tradisonal, politik, anime, hingga konspirasi di bahas serius. Walau sebenarnya tidak memahami sepenuhnya topik-topik tersebut. Seakan kita sudah sangat kompeten di semua bidang, tapi itulah yang menghidupkan suasana.

Hal-hal semacam itulah yang kami rasakan ketika mengingat Warung Friend di kampus bawah Undiksha. Bicara kenangan masa lalu, berkumpul dengan teman masa kuliah terasa masih segar untuk menambah topik perbincangan.

“Si Dewi yang belahan dadanya isi tahi lalat di mana sekarang ya?”

“Tukang kebun yang ramah masih gak tugas di kampus kita?”

“Tempat kita mabuk dulu sudah jadi gudang sekarang!”

Itu pertanyaan dan pernyataan klasik, dan masih banyak pertanyaan pemantik yang terlontar.

Berbicara masa kuliah, memang tidak ada habisnya, melaratnya mahasiswa rantau dengan bekal pas-pasan menjadi topik yang selalu hadir menghiasi waktu berkumpul.

Ya, menceritakan pengalaman pahit memang sering memberikan suasana yang hangat, saling berbagi pengalaman dan sedikit didramatisir akan memberikan suasana yang hangat dan saling peduli. Bukan playing victim ya, eh bisa jadi juga sih.

Satu topik yang memang menjadi andalan, yaitu ketika dompet menipis di rantauan. Nah, saat mengingat itulah saya—barangkali juga  mahasiswa lain di kampus bawah—akan tersenyum simpul ketika mengingat “Warung Friend”.

Warung ini menjual aneka makanan paket hemat untuk kita yang sedang dilanda “kemiskinan”. Paket hemat, nasi putih dan telur mata sapi dengan sedikit toping bawang goreng dan kecap menjadi menu favorit. Selain itu, ada nasi goreng pink juga dengan sambalnya, wah, saya tak sengaja menelan ludah membayangkan menu itu.

Kenapa namanya Warung Friend?

Penjual di warung itu, yang laki-laki, menganggap semua orang adalah teman. Ia memanggil pembeli tak pernah dengan sebutan nama, entah pikun atau gimana. Ia memanggilnya dengan kata “friend”.

Hanya friend, friend dan friend yang digunakan untuk memanggil pelanggan. Barangkali karena itulah warung tersebut diberi nama “Warung Friend”.

Warung Friend dan suasana di sekitar ang berubah | Foto: Susila

Bahkan mahasiswa yang menjadi pelanggan setia warung itu tidak tahu nama bapak penjualnya. Kami biasa menyebutnya dengan nama Pak Friend. Semua friend, penjualnya friend, yang beli friend, yang banyak bon juga masih friend.

Awal-awal berkunjung dan membeli makanan di sana tentu akan merasa aneh.

“Apa sih bapaknya ini, sok akrab sekali!” Itu yang saya rasakan dulu. Karena memang bukan keramahan seorang pedagang yang ia perlihatkan, tapi keramahan seorang teman atau saudara, seakan sudah akrab dan seakan memang ada hubungan keluarga. Tidak sekalipun memperlihatkan keramahan seorang penjual pada umumnya, yang tutur katanya lemah lembut, nada bicara yang sopan. Semua itu tidak kita temukan pada pelayanan yang diberikan. Bahkan tutur kasar ala-ala Buleleng biasa terlontar dari mulutnya, tidak memandang mahasiswa dari mana asalnya, hal itu berlaku untuk semua pelanggan mahasiswa.

Ya, mungkin satu-satunya alasan karena semua adalah friend, jadi bebas saja layaknya teman.

Warung tempat berlabuhnya mahasiswa dengan dompet tipis ini selalu ramai, ramai oleh mahasiswa yang mencari tempat makan dengan prinsip asal kenyang. Bahkan ada “buku neraka”. Kami, mahasiswa seni rupa menyebutnya “buku neraska”, sebuah buku hampir penuh terisi nama-nama mahasiswa dengan jumlah bon tertulis di “buku neraka” itu.

Tapi itu dulu, ketika suasana kampus masih dipenuhi mahasiswa hingga larut malam dan pintu gerbang timur kampus bawah masih ada. Kini banyak perubahan, gerbang timur sudah di tutup, jam mahasiswa di kampus sudah tak seperti dulu lagi. Kini, ada jam malam di kampus. Tahulah saya, apakah itub berkaitang dengan kurikulum atau slogan Merdeka Belajar.  

Selain itu, Warung Friend kini telah terhimpit dengan beragai lapak modern. Teh Jumbo di sampingnya, Food Court dengan gaya modern dan penuh kelap-kelip lampu berwarna-warni di depannya. Membuat keberadaan “Warung Friend” semakin tersudutkan di tengah kemewahan yang muncul di tengah kota.

Hingga kini, warung tersebut bukan hanya menjual makanan dan minuman saja, sembako dan alat upacara agama Hindu juga mulai dijual. Itu menandakan “Warung Friend” sudah tak mampu bertahan jika hanya menjual makanan saja.

Pak Friend | Foto: Susila

Ditambah lagi dengan kondisi Pak Friend yang sempat sakit dan lama tidak ikut berdagang, hanya istrinya yang berjuang berjualan hingga malam. Itu mungkin menjadi salah faktor pelanggan mulai berkurang, karena memang peran Pak Friend dan kata-katanya memang dapat menarik pelanggan. Keramahan dan cara bercandanya memberikan magnet dan membuahkan hasil yang baik untuk warung tersebut.

Ketika suasana semacam itu telah hilang serta ditambah lagi beberapa himpitan dari kiri dan kanan, membuat “Warung Friend” kini perlu dukungan mahasiswa yang dulu sempat tercatat di “buku neraka”. Ya, setidaknya berkunjung dan beli paket hematnya, atau nasi goreng pink dengan sambel pedasnya.

Namun senyum dan keramahannya masih tetap terjaga, ucapan tanpa rem dengan sedikit bahasa Inggris masih lancar terlontar dari mulutnya. Masih banyak mahasiswa yang telah kembali ke kampung dan ketika berkunjung ke Buleleng menyempatkan diri bernostalgia diwarung itu. Walau suasana sudah jauh bereda, yang tetap sama hanya pelayanan ala-ala friend, dan tentunya menu paket hemat masih tersedia di sana. Cobalah datang ke warung itu. [T]

BACA artikel lain dari penulis SUSILA PRIANGGA

Kemeriahan Lomba  Agustusan dan Pergeseran dalam Inovasi | Opini Kecil dari Komentator Online
Adi Sewaka Nugraha Kepada I Ketut Santosa Untuk Kesetiaannya Mengembangkan Seni Lukis Kaca Nagasepaha
Purnami dan Diva, Siswi SMPN 3 Sukasada, Juara Olimpiade Tingkat Nasional – Berawal dari Medsos
Tags: kulinermahasiswanostalgianostalgia mahasiswaUndiksha
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pondok Literasi Sabih Pedawa dan Kolaborasi Lintas Negara

Next Post

Membedah Problematika Pariwisata Daerah

I Kadek Susila Priangga

I Kadek Susila Priangga

Lahir di Karangasem. Guru seni budaya di SMPN 3 Sukasada, Buleleng, Bali

Related Posts

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

by Emi Suy
May 11, 2026
0
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

Read moreDetails

Mawar dan Air Mata Haru di Pelepasan Angkatan Ke-15 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Mawar dan Air Mata Haru di Pelepasan Angkatan Ke-15 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

LAMPU-lampu ruangan mendadak padam. Suasana di ballroom yang sedari awal riuh perlahan berubah sunyi. Ratusan pasang mata menoleh ke belakang...

Read moreDetails

Tanpa Protokol dan Jarak, Diskusi Pendidikan dan Titik Nol di Bawah Gerimis Kota Singaraja

by Gading Ganesha
May 2, 2026
0
Tanpa Protokol dan Jarak, Diskusi Pendidikan dan Titik Nol di Bawah Gerimis Kota Singaraja

JUMAT sore, bertepatan dengan Hari Buruh, 1 Mei, saya mampir ke Bichito sebuah kafe baru di Jalan Gajah Mada, Singaraja,...

Read moreDetails

Peringatan Seabad I Made Sanggra Penjaga Ruh Sastra Bali Modern dengan Peluncuran ‘Geguritan Katemu ring Tampaksiring’

by I Nyoman Darma Putra
May 1, 2026
0
Peringatan Seabad I Made Sanggra Penjaga Ruh Sastra Bali Modern dengan Peluncuran ‘Geguritan Katemu ring Tampaksiring’

PERINGATAN 100 tahun kelahiran sastrawan Bali modern I Made Sanggra diselenggarakan secara khidmat di kediamannya di Sukawati, bertepatan dengan hari...

Read moreDetails

Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026

by Dede Putra Wiguna
April 28, 2026
0
Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026

SUASANA di Main Atrium, Living World Denpasar tak seperti biasanya. Kala itu, nuansa nostalgia terasa begitu kuat saat Record Store...

Read moreDetails

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
0
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

Read moreDetails

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
0
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

Read moreDetails

Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

by Angga Wijaya
April 17, 2026
0
Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

DI sebuah sudut Denpasar yang tak terlalu riuh oleh hiruk- pikuk pariwisata, suara biola pelan-pelan menemukan nadanya sendiri. Bukan dari...

Read moreDetails

Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

by Radha Dwi Pradnyani
April 13, 2026
0
Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

RIUH suara para pelajar SMP memenuhi ruangan Museum Soenda Ketjil di kawasan Pelabuhan Tua Buleleng pada Kamis siang, 9 April...

Read moreDetails

Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

by Dian Suryantini
April 9, 2026
0
Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

SORE itu, suasana Pasar Intaran terasa sedikit berbeda dari biasanya. Angin pantai yang biasanya berembus pelan, saat itu sedikit mengamuk....

Read moreDetails
Next Post
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Membedah Problematika Pariwisata Daerah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co