23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menaklukkan Bali: Memoar Perjalanan Tanpa Peta

Didin Tulus by Didin Tulus
October 30, 2024
in Tualang
Menaklukkan Bali: Memoar Perjalanan Tanpa Peta

Didin Tulus

JAM menunjukkan pukul 05.45 Waktu Indonesia bagian Tengah ketika saya tiba di terminal Ubung, Denpasarm Bali. Rasanya seperti mimpi, akhirnya saya menginjakkan kaki di pulau ini.

Ini untuk pertama kali saya ke Bali. Saya senang bukan main. Saya merasa sudah sampai pada tujuan.  

Namun ternyata perjalanan baru saja dimulai. Dengan jantung berdebar, saya segera mengirim pesan singkat ke Kang Sigit, kenalan sekaligus mentor yang tahu seluk-beluk Bali.

“Kang, saya sudah sampai Denpasar!” tulis saya dengan antusiasme yang nyaris tak tertahan.

Tak butuh waktu lama, telepon dari Kang Sigit berdering, suaranya terdengar penuh tanya, “Kamu di mana? Mau ke mana? Sama siapa?”

Pertanyaan bertubi-tubi itu hanya bisa saya jawab singkat, “Sendirian, Kang.” Lalu telepon terputus.

Kang Sigit adalah panggilan saya untuk Sigit Susanto. Ia penulis buku yang memang sudah terbiasa berada di Bali. Ia tinggal di wilayah Batubulan, Gianyar.

Beberapa detik kemudian telepon berdering lagi. “Kamu beneran di Denpasar? Mau ke mana?” lanjutnya, masih terkesan ragu.

Saya memberanikan diri menjawab, “Ke Buleleng, Kang. Ada acara bedah buku di sana!” Namun jawaban Kang Sigit seketika membuat saya bingung, “Din, Buleleng itu jauh, Din!”

Saya terhenyak sekilas. Saya pikir jarak Buleleng tidak begitu jauh dari Denpasar.

Saya menghela napas dalam-dalam, berpikir, “Wah, ini sudah terlanjur nekat!”

Kang Sigit pun cepat-cepat memberi instruksi, “Kamu turun saja dulu. Nanti saya jemput. Jangan ke mana-mana!”

Sebetulnya saat itu saya sudah berada di dalam mobil Elf yang baru saja berjalan sekitar 20 menit. Saya sudah bayar ongkos Rp 20.000, tetapi demi memastikan ada yang menjemput, akhirnya saya turun dan merelakan ongkos yang tak kembali.

Dengan langkah pasrah, saya duduk di atas rumput di pinggir jalan, menyaksikan hiruk-pikuk Denpasar yang tak jauh beda dengan keramaian Bandung, tempat saya tinggal.

Bali memang jauh dari rumah, tapi kedatangan saya ke sini bukan sekadar mimpi atau dongeng. Rasanya, saya benar-benar ingin hadir di acara bedah buku di Buleleng itu dan membuktikan bahwa saya bisa menaklukkan Bali, meski tanpa arah yang pasti.

***

Setelah menunggu beberapa lama, akhirnya jemputan tiba. Bukan Kang Sigit langsung yang datang, tetapi seorang teman yang diutusnya, membawa motor. Saya akhirnya dibawa ke rumah Kang Sigit di Batubulan.

Begitu bertemu, ia hanya tertawa terbahak-bahak mendengar cerita perjalanan saya. “Saya kira kamu bercanda, Din, ternyata beneran datang ke Bali,” katanya sambil tertawa puas.

Berfoto di depan Pura Tanah Lot di Bali | Foto: Dok. Didin

Beberapa minggu kemudian, setelah saya kembali ke Bandung, pesan dari Kang Sigit mampir lagi di ponsel saya. “Hai Didin, Sang Penakluk Bali, apa kabar?”

Hah, disebut “penakluk Bali” memang terdengar lucu, namun dalam hati saya merasa sedikit bangga. Perjalanan penuh nekat itu ternyata punya kisah yang bakal selalu saya kenang.

***

Sore itu, dari rumah Kang Sigit saya diajak jalan-jalan ke wilayah Batubulan dan sekitarnya. Kami sempat mampir ke warung sirup yang menyegarkan di tengah cuaca panas. Rasa manis sirup itu memang mengobati haus, namun perjalanan tak berhenti sampai di situ.

Kami melanjutkan perjalanan melewati sawah-sawah yang hijau, namun suasana mendadak mencekam saat gerombolan anjing liar mulai menggonggong keras di sekitar kami.

Saya merasa jantung ini hampir saja loncat keluar saking takutnya, apalagi ketika beberapa anjing semakin mendekat. “Tenang saja, nggak apa-apa,” kata Kang Sigit berusaha menenangkan.

Namun hati saya tetap berdebar kencang, walaupun akhirnya gerombolan anjing itu hanya menggonggong dan tak menyerang.

Di rumah Kang Sigit, ketakutan belum juga reda. Di halaman, dua anjing besar menyambut dengan gonggongan keras. Saya refleks berlari ke dalam rumah, nyaris menabrak seseorang yang kebetulan sedang lewat di lorong. Sesampainya di lantai atas, akhirnya anjing-anjing itu berhenti menggonggong, dan saya duduk berusaha menenangkan diri sambil mengusap keringat dingin.

Pengalaman itu sungguh menegangkan, namun kini terasa lucu saat diingat kembali.

Saya akhirnya bisa beristirahat dengan nyaman di rumah Kang Sigit, mengobrol santai sambil menyeruput kopi hangat. Kami berbincang tentang berbagai hal, termasuk kejadian-kejadian kocak dalam perjalanan.

Saya menceritakan kisah tentang tas yang tertinggal di bis Damri ketika pertama kali sampai di Bali. Kang Sigit tertawa lepas mendengar cerita itu.

Keesokan paginya, seorang tokoh yang cukup saya kagumi, Puthut Ea, datang. Kang Puthut dikenal sebagai Kepala Suku Mojok di Yogyakarta. Ia seorang penulis dan editor yang telah menghasilkan banyak buku.

Ia mengajak kami melakukan yoga pagi di halaman. Melihat Kang Puthut, saya merasakan semangat baru dalam diri untuk terus menulis dan menyelami dunia literasi.

***

Perjalanan ini, meski penuh tantangan dan rasa takut, membentuk cerita tak terlupakan. Dari tersasar di terminal hingga ketakutan dikejar anjing, semuanya terbungkus dalam pengalaman manis yang kini saya kenang sebagai bagian dari perjalanan hidup.

“Sang Penakluk Bali” memang julukan yang lucu, tetapi dalam hati saya merasa puas—bukan karena berhasil sampai di tujuan, melainkan karena berani mengambil langkah pertama untuk menaklukkan diri sendiri.

Foto kenangan di Bali bersama Kang Sigit | Foto: Dok. Didin

Bali tak lagi sekadar dongeng atau mimpi bagi saya. Bali telah menjadi nyata, bersama semua cerita yang saya bawa kembali ke Bandung.

***

Oh, ya. Perjalanan itu saa lakukan tahun 2008. Saat itu saya menghadiri acara bedah buku tentang sastrawan besar AA Pandji Tisna di tempat kelahiran sang sastrawan di Puri Buleleng.

Saya ke Buleleng bersama Puthut EA dan sungguh terkesan dengan Buleleng, sebuah wilayah di sisi utara pulau Bali.

Kali kedua saya ke Buleleng naik bus, saya sudah tahu bahwa tak harus turun di Denpasar untuk menuju Buleleng. Setelah menyeberang di Pelabuhan Gilimanuk, saya turun di sebuah pertigaan. Dari situ saya dibawa mobil travel, belok kiri, langsung menuju kota Singaraja di Buleleng, tanpa harus melihat Denpasar terlebih dahulu. [T]

Surga Tersembunyi Bagi Pemancing Itu Bernama Pulau Tempurung
Desa Tajun Buka Destinasi Wisata Buah | Ayo, Berpesta Durian di Bawah Pohonnya…
5 Destinasi Asyik untuk Nongkrong dan Pacaran Anak Muda Singaraja Bali
Merasakan Sensasi Berbeda di Hanoi Train Street Vietnam
Trekking di Cat Cat Village, Vietnam, Sambil Merenungkan Bali
Menonton Thang Long Water Puppet Theatre di Kota Hanoi
Di Hanoi, Vietnam, yang Tradisional yang Menjadi Andalan
Harapan Pariwisata Indonesia di Tangan Prabowo-Gibran
Tags: balibulelengpariwisata bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Wisata Halal, untuk Siapa?

Next Post

Menyaksikan Wujud Neoliberalisme Ekonomi melalui Perkembangan Arsitektur di Bali: Sebuah Autokritik

Didin Tulus

Didin Tulus

Pembaca karya Ajip Rosidi. Koleksi karya Ajip sudah 150 judul belum termasuk tulisan pengantar buku yang ditulis oleh Ajip. Penulis juga aktif mengelola perpustakaan Rumah Baca Ajip Rosidi.

Related Posts

Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

by Made Wirya
June 21, 2026
0
Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

Saya sangat jarang bergaul dengan alumni apa pun. Dari sekian puluh undangan reuni sekolah, kedatangan saya bisa dihitung dengan jari....

Read moreDetails

Dua Malam di Banyuwangi dan Ingatan Sepintas Lalu —Catatan Perjalanan Studi Komparasi Dinas Kominfosanti Buleleng

by Wahyu Mahaputra
June 11, 2026
0
Dua Malam di Banyuwangi dan Ingatan Sepintas Lalu —Catatan Perjalanan Studi Komparasi Dinas Kominfosanti Buleleng

DARI balik kaca bus berkapasitas empat puluh lima kursi saya melihat malam hari di Banyuwangi, Jawa Timur, cukup gemerlap. Lampu-lampu...

Read moreDetails

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
0
Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

Read moreDetails

Ke Pacet Mereka Kembali

by Jaswanto
June 2, 2026
0
Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

Read moreDetails

Mereka Menunggu di Setia Darma 

by Dede Putra Wiguna
May 29, 2026
0
Mereka Menunggu di Setia Darma 

LANGIT mendung siang itu terasa menenangkan. Sepasang turis asing berjalan pelan menyusuri jalan kecil yang dikelilingi semak dan rimbun pohon....

Read moreDetails

Refleksi Study Tiru ke Baduy Luar 

by I Nyoman Tingkat
May 27, 2026
0
Refleksi Study Tiru ke Baduy Luar 

PROGRAM Study Tiru selama tiga hari bersama Panglingsir/Bandesa Adat se-Badung dengan tujuan utama ke Baduy Luar pada Kamis Umanis Gumbreg,...

Read moreDetails

Menilik Petilasan Gajah Mada di Kebumen: Upaya Literasi Sejarah

by Chusmeru
May 25, 2026
0
Menilik Petilasan Gajah Mada di Kebumen: Upaya Literasi Sejarah

MENYIMPAN jejak sejarah panjang, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah mungkin tak setenar kota-kota besar di Indonesia. Namun keberadaan Kebumen tak bisa...

Read moreDetails

Kota Tua Tak Pernah Mati

by I Nyoman Tingkat
May 24, 2026
0
Kota Tua Tak Pernah Mati

PROGRAM Study Tiru selama tiga hari bersama Panglingsir/Bandesa Adat se- Badung dengan tujuan utama ke Baduy Luar pada Jumat Paing...

Read moreDetails

Oleh-Oleh dari Baduy Luar

by I Nyoman Tingkat
May 23, 2026
0
Oleh-Oleh dari Baduy Luar

MENGIKUTI rombongan Desa Adat se-Kabupaten Badung melakukan Study Tiru ke Baduy Luar, Provinsi Banten, Jumat Paing Gumbreg 15 Mei 2026,...

Read moreDetails

Berguru ke Baduy Luar

by I Nyoman Tingkat
May 21, 2026
0
Berguru ke Baduy Luar

SETELAH rombongan Desa Adat se-Kabupaten Badung melakukan persembahyangan di Pura Aditya Jaya Rawangun Jakarta Timur pada Kamis Umanis Gumbreg, 14...

Read moreDetails
Next Post
Menyaksikan Wujud Neoliberalisme Ekonomi melalui Perkembangan Arsitektur di Bali: Sebuah Autokritik

Menyaksikan Wujud Neoliberalisme Ekonomi melalui Perkembangan Arsitektur di Bali: Sebuah Autokritik

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar
Tualang

Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

Saya sangat jarang bergaul dengan alumni apa pun. Dari sekian puluh undangan reuni sekolah, kedatangan saya bisa dihitung dengan jari....

by Made Wirya
June 21, 2026
Lubang | Cerpen Asmaran Dani
Cerpen

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

by Asmaran Dani
June 21, 2026
Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi
Puisi

Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

Pelancong Gersang Aku berhenti memikirkanmu.Jam-jam yang meruntuhkan angka-angka;berlarian masuk rumah. Aku berhenti memikirkanmu.Sejak kamu menggulir layar begitu pagi,memanen percakapan tentang...

by Mahesa Putra
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co