2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menaklukkan Bali: Memoar Perjalanan Tanpa Peta

Didin Tulus by Didin Tulus
October 30, 2024
in Tualang
Menaklukkan Bali: Memoar Perjalanan Tanpa Peta

Didin Tulus

JAM menunjukkan pukul 05.45 Waktu Indonesia bagian Tengah ketika saya tiba di terminal Ubung, Denpasarm Bali. Rasanya seperti mimpi, akhirnya saya menginjakkan kaki di pulau ini.

Ini untuk pertama kali saya ke Bali. Saya senang bukan main. Saya merasa sudah sampai pada tujuan.  

Namun ternyata perjalanan baru saja dimulai. Dengan jantung berdebar, saya segera mengirim pesan singkat ke Kang Sigit, kenalan sekaligus mentor yang tahu seluk-beluk Bali.

“Kang, saya sudah sampai Denpasar!” tulis saya dengan antusiasme yang nyaris tak tertahan.

Tak butuh waktu lama, telepon dari Kang Sigit berdering, suaranya terdengar penuh tanya, “Kamu di mana? Mau ke mana? Sama siapa?”

Pertanyaan bertubi-tubi itu hanya bisa saya jawab singkat, “Sendirian, Kang.” Lalu telepon terputus.

Kang Sigit adalah panggilan saya untuk Sigit Susanto. Ia penulis buku yang memang sudah terbiasa berada di Bali. Ia tinggal di wilayah Batubulan, Gianyar.

Beberapa detik kemudian telepon berdering lagi. “Kamu beneran di Denpasar? Mau ke mana?” lanjutnya, masih terkesan ragu.

Saya memberanikan diri menjawab, “Ke Buleleng, Kang. Ada acara bedah buku di sana!” Namun jawaban Kang Sigit seketika membuat saya bingung, “Din, Buleleng itu jauh, Din!”

Saya terhenyak sekilas. Saya pikir jarak Buleleng tidak begitu jauh dari Denpasar.

Saya menghela napas dalam-dalam, berpikir, “Wah, ini sudah terlanjur nekat!”

Kang Sigit pun cepat-cepat memberi instruksi, “Kamu turun saja dulu. Nanti saya jemput. Jangan ke mana-mana!”

Sebetulnya saat itu saya sudah berada di dalam mobil Elf yang baru saja berjalan sekitar 20 menit. Saya sudah bayar ongkos Rp 20.000, tetapi demi memastikan ada yang menjemput, akhirnya saya turun dan merelakan ongkos yang tak kembali.

Dengan langkah pasrah, saya duduk di atas rumput di pinggir jalan, menyaksikan hiruk-pikuk Denpasar yang tak jauh beda dengan keramaian Bandung, tempat saya tinggal.

Bali memang jauh dari rumah, tapi kedatangan saya ke sini bukan sekadar mimpi atau dongeng. Rasanya, saya benar-benar ingin hadir di acara bedah buku di Buleleng itu dan membuktikan bahwa saya bisa menaklukkan Bali, meski tanpa arah yang pasti.

***

Setelah menunggu beberapa lama, akhirnya jemputan tiba. Bukan Kang Sigit langsung yang datang, tetapi seorang teman yang diutusnya, membawa motor. Saya akhirnya dibawa ke rumah Kang Sigit di Batubulan.

Begitu bertemu, ia hanya tertawa terbahak-bahak mendengar cerita perjalanan saya. “Saya kira kamu bercanda, Din, ternyata beneran datang ke Bali,” katanya sambil tertawa puas.

Berfoto di depan Pura Tanah Lot di Bali | Foto: Dok. Didin

Beberapa minggu kemudian, setelah saya kembali ke Bandung, pesan dari Kang Sigit mampir lagi di ponsel saya. “Hai Didin, Sang Penakluk Bali, apa kabar?”

Hah, disebut “penakluk Bali” memang terdengar lucu, namun dalam hati saya merasa sedikit bangga. Perjalanan penuh nekat itu ternyata punya kisah yang bakal selalu saya kenang.

***

Sore itu, dari rumah Kang Sigit saya diajak jalan-jalan ke wilayah Batubulan dan sekitarnya. Kami sempat mampir ke warung sirup yang menyegarkan di tengah cuaca panas. Rasa manis sirup itu memang mengobati haus, namun perjalanan tak berhenti sampai di situ.

Kami melanjutkan perjalanan melewati sawah-sawah yang hijau, namun suasana mendadak mencekam saat gerombolan anjing liar mulai menggonggong keras di sekitar kami.

Saya merasa jantung ini hampir saja loncat keluar saking takutnya, apalagi ketika beberapa anjing semakin mendekat. “Tenang saja, nggak apa-apa,” kata Kang Sigit berusaha menenangkan.

Namun hati saya tetap berdebar kencang, walaupun akhirnya gerombolan anjing itu hanya menggonggong dan tak menyerang.

Di rumah Kang Sigit, ketakutan belum juga reda. Di halaman, dua anjing besar menyambut dengan gonggongan keras. Saya refleks berlari ke dalam rumah, nyaris menabrak seseorang yang kebetulan sedang lewat di lorong. Sesampainya di lantai atas, akhirnya anjing-anjing itu berhenti menggonggong, dan saya duduk berusaha menenangkan diri sambil mengusap keringat dingin.

Pengalaman itu sungguh menegangkan, namun kini terasa lucu saat diingat kembali.

Saya akhirnya bisa beristirahat dengan nyaman di rumah Kang Sigit, mengobrol santai sambil menyeruput kopi hangat. Kami berbincang tentang berbagai hal, termasuk kejadian-kejadian kocak dalam perjalanan.

Saya menceritakan kisah tentang tas yang tertinggal di bis Damri ketika pertama kali sampai di Bali. Kang Sigit tertawa lepas mendengar cerita itu.

Keesokan paginya, seorang tokoh yang cukup saya kagumi, Puthut Ea, datang. Kang Puthut dikenal sebagai Kepala Suku Mojok di Yogyakarta. Ia seorang penulis dan editor yang telah menghasilkan banyak buku.

Ia mengajak kami melakukan yoga pagi di halaman. Melihat Kang Puthut, saya merasakan semangat baru dalam diri untuk terus menulis dan menyelami dunia literasi.

***

Perjalanan ini, meski penuh tantangan dan rasa takut, membentuk cerita tak terlupakan. Dari tersasar di terminal hingga ketakutan dikejar anjing, semuanya terbungkus dalam pengalaman manis yang kini saya kenang sebagai bagian dari perjalanan hidup.

“Sang Penakluk Bali” memang julukan yang lucu, tetapi dalam hati saya merasa puas—bukan karena berhasil sampai di tujuan, melainkan karena berani mengambil langkah pertama untuk menaklukkan diri sendiri.

Foto kenangan di Bali bersama Kang Sigit | Foto: Dok. Didin

Bali tak lagi sekadar dongeng atau mimpi bagi saya. Bali telah menjadi nyata, bersama semua cerita yang saya bawa kembali ke Bandung.

***

Oh, ya. Perjalanan itu saa lakukan tahun 2008. Saat itu saya menghadiri acara bedah buku tentang sastrawan besar AA Pandji Tisna di tempat kelahiran sang sastrawan di Puri Buleleng.

Saya ke Buleleng bersama Puthut EA dan sungguh terkesan dengan Buleleng, sebuah wilayah di sisi utara pulau Bali.

Kali kedua saya ke Buleleng naik bus, saya sudah tahu bahwa tak harus turun di Denpasar untuk menuju Buleleng. Setelah menyeberang di Pelabuhan Gilimanuk, saya turun di sebuah pertigaan. Dari situ saya dibawa mobil travel, belok kiri, langsung menuju kota Singaraja di Buleleng, tanpa harus melihat Denpasar terlebih dahulu. [T]

Surga Tersembunyi Bagi Pemancing Itu Bernama Pulau Tempurung
Desa Tajun Buka Destinasi Wisata Buah | Ayo, Berpesta Durian di Bawah Pohonnya…
5 Destinasi Asyik untuk Nongkrong dan Pacaran Anak Muda Singaraja Bali
Merasakan Sensasi Berbeda di Hanoi Train Street Vietnam
Trekking di Cat Cat Village, Vietnam, Sambil Merenungkan Bali
Menonton Thang Long Water Puppet Theatre di Kota Hanoi
Di Hanoi, Vietnam, yang Tradisional yang Menjadi Andalan
Harapan Pariwisata Indonesia di Tangan Prabowo-Gibran
Tags: balibulelengpariwisata bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Wisata Halal, untuk Siapa?

Next Post

Menyaksikan Wujud Neoliberalisme Ekonomi melalui Perkembangan Arsitektur di Bali: Sebuah Autokritik

Didin Tulus

Didin Tulus

Pembaca karya Ajip Rosidi. Koleksi karya Ajip sudah 150 judul belum termasuk tulisan pengantar buku yang ditulis oleh Ajip. Penulis juga aktif mengelola perpustakaan Rumah Baca Ajip Rosidi.

Related Posts

Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

by I Putu Ardiyasa
September 30, 2026
0
Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

SAYA datang ke Toyooka dengan niat yang sederhana: mengikuti Intersecting Peripheries dan melihat bagaimana sebuah festival teater bekerja di sebuah...

Read moreDetails

Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

by Ahmad Sihabudin
September 28, 2026
0
Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

SUDAH cukup lama sebenarnya kami ingin berjalan-jalan di kawasan Royal Baroe, Kota Serang, Provinsi Banten. Bukan untuk mencari sesuatu yang...

Read moreDetails

Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

by Ahmad Sihabudin
September 7, 2026
0
Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

ADA tempat yang awalnya kita kenal hanya sebagai pusat pemerintahan, tetapi ternyata memiliki wajah lain yang lebih dekat dengan kehidupan...

Read moreDetails

Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

by Dewa Ayu Windu
August 31, 2026
0
Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

GEMERICIK air Sungai Pakerisan terdengar bak nada alam yang konstan, membelah kesunyian lembah di Desa Adat Penaka, Tampaksiring, Gianyar, Bali....

Read moreDetails

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
0
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

Read moreDetails

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
0
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

Read moreDetails

“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

by Luh Putu Sendratari
August 18, 2026
0
“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

SABTU, 15 Agustus 2026 tanpa direncanakan sebelumnya saya ada di Desa Bengkala. Bersama teman2 dari Universitas Pancasila (Dr Kunthi Tridewiyanti,...

Read moreDetails

Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

by I Nyoman Tingkat
August 16, 2026
0
Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

PEMILIHAN Duta SMA Tingkat Nasional Tahun 2026 dipusatkan di Kota Yogyakarta tepatnya di Indoluxe Hotel sebagai tempat belajar di kelas....

Read moreDetails

Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

by Laurensia Junita Della
August 15, 2026
0
Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

Ada kalanya rutinitas yang padat membuat kita ingin sejenak menjauh dari hiruk-pikuk kehidupan. Di tengah kesibukan yang seolah tidak ada...

Read moreDetails

Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

by Ahmad Sihabudin
August 10, 2026
0
Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

"Tempat-tempat tertentu tidak pernah benar-benar kita tinggalkan. Yang pergi sesungguhnya hanyalah usia kita." KEMARIN saya kembali mengunjungi Situ Cipondoh. Niatnya...

Read moreDetails
Next Post
Menyaksikan Wujud Neoliberalisme Ekonomi melalui Perkembangan Arsitektur di Bali: Sebuah Autokritik

Menyaksikan Wujud Neoliberalisme Ekonomi melalui Perkembangan Arsitektur di Bali: Sebuah Autokritik

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co