3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Meramal  Wujud Arsitektur di Bali pada Masa yang Akan Datang

I Nyoman Gede Maha Putra by I Nyoman Gede Maha Putra
December 23, 2024
in Esai
Meramal  Wujud Arsitektur di Bali pada Masa yang Akan Datang

Desain fasilitas turisme kontemporer menyasar pasar masyarakat lokal dan wisatawan domestik

SEBENTAR lagi tahun akan berganti dan kita akan memasuki tahun 2025. Dalam rentang dua belas bulan ini, arsitektur di Bali bergerak menuju ke arah heterogenitas. Meskipun arsitektur tradisional ataupun bangunan-bangunan dengan tema-tema lokalitas masih bertahan, tetapi ruang-ruang hidup kita telah mulai dimasuki oleh bentuk-bentuk baru yang tidak berasal dari masa lalu.

Secara visual, Bali saat ini menjadi gambaran atas keberagaman penduduk yang menghuninya. Kira-kira, seperti apa wujud ruang fisik kita di masa yang akan datang?

Akankah heterogenitas akan semakin meluas ataukah akan ada gerakan untuk mengarahkan bentuk-bentuk bangunan agar mengikuti norma tertentu?

Untuk mengetahui apa yang akan terjadi di masa datang, ada baiknya kita melihat apa yang terjadi di masa lampau. Memperhatikan lagi pengalaman-pengalaman yang sudah dilalui dalam hal pembangunan akan memberikan kita kerangka berpikir tentang apa yang akan terjadi di masa depan. Satu hal yang pasti, arsitektur tidak berjalan di ruang hampa. Banyak hal-hal di luar bidang ini yang memberi pengaruh terhadap perkembangannya.

Desain arsitektur bambu sedang disukai oleh pasar | Foto: Gede Maha Putra

Setengah abad lampau, tepatnya di tahun 1974, pemerintah sempat mengeluarkan peraturan yang bertujuan untuk mengelola bentuk-bentuk fisik yang akan dibangun agar sejalan dengan tradisi yang sudah diwarisi sejak ribuan tahun. Peraturan tersebut melarang bangunan didirikan melebihi ketinggian pohon kelapa. Secara visual, bangunan-bangunan baru dianjurkan untuk menerapkan arsitektur tradisional Bali. Selain itu, semua aktivitas fisik disarankan untuk menghormati kelestarian lingkungan. Ini menyebabkan bangunan-bangunan untuk tampil dalam tema yang sama yaitu yang bersumber dari tradisi membangun lokal. Peraturan ini sepertinya bukan hanya keinginan dari pemerintah semata tetapi ada dukungan bahkan dorongan yang sangat kuat dari kalangan investor.

Mungkin kita bertanya kenapa investor justru mendoronga agar Bali mempertahankan budayanya?

Kita tarik lagi garis ke belakang, ke satu abad lampau. Saat itu, Bali mulai dikenalkan kepada dunia internasional sebagai daerah yang eksotik, mistik, dihuni oleh penduduk yang mengembangkan kebudayaan klasik saat jaman sudah bergerak sangat modern. Imaji tersebut tersebar luas melalui berbagai publikasi termasuk brosur-brosur Bali Hotel milik pemerintah kolonial.

Puncaknya, tahun 1931, saat pemerintah kolonial membawa misi kesenian Bali ke pentas dunia pada pameran kolonial internasional. Pada pameran tersebut, pavilion Hindia Belanda dibangun dengan imaji arsitektur Bali yang kuat. Dua buah meru tumpang sebelas mengapit sebuah kori agung yang menjadi gerbang utama. Di halaman pavilion, para penari asal Desa Peliatan mementaskan aneka tarian tradisional yang dianggap unik sekaligus aneh namun mengundang penasaran pengamat kulit putih.

Sejak saat itu, pemerintah ingin mempertahankan Bali sebagai Bali dengan berbagai upaya. Terbukti, kebertahanan tersebut mengundang banyak turis untuk datang.

Saat pemerintah memutuskan untuk menjadikan Bali sebagai pusat pengembangan pariwisata bagian tengah, sebuah studi besar dilakukan melibatkan konsultan internasional.

Dalam laporannya yang diterbitkan tahun 1971, konsultan tersebut meramalkan bahwa budaya Bali akan pudar seiring dengan kemajuan jaman dan pembangunan kepariwisataan. Ini bukan hal baik bagi investasi sehingga upaya untuk mempertahankan kebudayaan untuk mendatangkan keuntungan ekonomi harus dilakukan. Para investor lalu menganjurkan agar ada kebijakan yang dapat menjamin Bali tidak akan berubah agar investasi mereka aman. Dari sinilah muncul peraturan daerah nomer 2,3, dan 4 ahun 1974.

Desain arsitektur Amandari Hotel di Ubud yang dibangun akhir tahun 1980-an | Foto: Gede Maha Putra

Meskipun sukses menata pembangunan dalam beberapa hal, Perda ini menimbulkan multitafsir. Bahkan intelektual Bali pun menunjukkan jika masih ada banyak persoalan dalam penerapannya sehingga sepuluh tahun setelah dikeluarkan, Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Bali menyelenggarakan apa yang disebut sebagai Sabha Arsitektur Bali. Pertemuan kaum terpelajar ini mengeluarkan sebuah rekomendasi yang disebut sebagai Rumusan Arsitektur Bali.

Ruang fisik dengan karakter Bali tetap muncul di tengah multitafsir tersebut karena aktor yang mendukung pembangunan masih menginginkan Bali tetap Bali. Para pengusaha perhotelan dan restaurant pada masa itu masih memiliki obsesi untuk ‘menjual’ Bali seperti apa yang pernah dilakukan oleh pemerintah kolonial di tahun 1930-an yaitu Bali yang autentik.

Untuk menciptakan autentisitas ini, Bali cukup beruntung karena didatangi oleh arsitek-arsitek yang memiliki visi yang sama yaitu menghadirkan eksotika Bali jaman dahulu. Jadilah kita melihat bangunan rumah tinggal di Batujimbar yang mirip dengan Bale Agung di desa Bali Timur. Kita juga melihat hotel-hotel yang menggunakan tektonika lokal di mana tukang-tukang terbaik yang ada di pulau terlibat penuh dalam pengerjaannya seperti Oberoi di Seminyak, Amandari di Ubud, Four Seasons di Jimbaran dan hotel lainnya.

Selain proyek milik swasta, pembangunan di Bali sejak masa awal Orde Baru juga dipenuhi oleh BUMN dan perwakilan pemerintah pusat yang membuka cabang di Bali. Perlu juga disebut pemerintah daerah turut membangun kantor-kantor. Arsitek yang mengerjakan proyek-proyek pemerintah dan badan usaha milik negara ini umumnya datang dari Jakarta dan Bandung. Mereka memiliki latar belakang pendidikan modern.

Desain Gedung Kantor Bank Indonesia (sekarang kantor OJK) dengan desain modern tetapi dibungkus ornamen tradisional | Foto: Gede Maha Putra

Sebagain besar tahap desain dari proyek-proyek tersebut sudah dikerjakan di Jakarta atau Bandung. Desainnya tentu saja sangat modern pada masa itu. Sebut saja gedung Bank Indonesia (kini Gedung OJK) di Jl. WR. Supratman, Gedung Bank Mandiri di dekat Lapangan Puputan Badung, Gedung Kantor PLN di Jl. PB. Sudirman, Gedung Keuangan Negara (GKN) dan Gedung TVRI yang keduanya ada di Renon.

Secara fungsi, mereka tidak memiliki kewajiban untuk tampil tradisional atau menciptakan imaji eksotik. Akan tetapi, karena peraturan sudah ditetapkan, maka ada upaya untuk membuat gedung-gedung tersebut tampil lokal. Dari sini mulai muncul bata merah yang berfungsi sebagai penghias wajah bangunan. Ornamen-ornamen paras ditempatkan dalam skala dan proporsi yang berbeda dengan yang tradisional. Singkatnya, arsitektur tradisional menjadi ‘baju‘ bagi desain yang sosoknya sangat modernis.

Dari dua kelompok contoh tersebut kita melihat bagaimana lokalitas dalam arsitektur dilihat dan dihadirkan pada bangunan kontemporer. Di bidang pariwisata, yang ditampilkan bukan hanya wujud fisik tetapi juga ambience atau atmosfernya sementara pada bangunan-bangunan pemerintah, unsur lokal hadir sebagai wujud fisik terutama wajah atau fasad.

Desain fasilitas turisme kontemporer menyasar pasar masyarakat lokal dan wisatawan domestik | Foto: Gede Maha Putra

Bagaimana dengan masa yang akan datang? Kita perlu lihat tipe aktivitas ekonomi yang berlangsung di Bali. Dari sini kita bisa mempertanyakan siapa yang mau membelanjakan uangnya di Bali? Dan, siapa yang bisa membaca situasi pasar wisata yang berkembang lalu mensponsori pembangunan di Bali? Suka atau tidak, aktivitas pelesiran masih akan menjadi primadona di masa depan.

Tipe aktivitas ekonomi pariwisata di masa datang nampaknya bukan yang mengutamakan eksotika Bali atau imaji Bali masa lampau. Hal itu disebabkan oleh banyak hal. Misalnya, wisatawan yang menginginkan Bali yang autentik semakin tergerus. Jumlahnya memang masih ada tetapi proporsinya bisa jadi tidak lagi banyak. Kini wisatawan yang datang lebih beragam mulai dari yang ingin mengunjungi beach club dengan musik hingar bingarnya sampai mereka yang datang untuk menyepi melakukan yoga di kedalaman hutan-hutan di Ubud yang semakin terbatas.

Di antara dua spektrum wisatawan tersebut ada juga wisatawan yang sebenarnya adalah orang Bali sendiri yang menjadi pelancong di pulaunya sendiri. Kelompok terakhir ini ingin berkunjung ke tempat wisata yang menawarkan sensasi yang berbeda, sensasi non tradisional.

Kebutuhan orang Bali yang ingin berwisata di Bali telah memunculkan fasilitas wisata kuliner, ngopi-ngopi di Kintamani dan berbagai tempat, hingga wisata ala Swiss di daerah pegunungan Bedugul atau wisata salju yang sudah mulai hadir. Selain masyarakat Bali, ada juga wisatawan domestik yang menyukai fasilitas serupa. 

Desain kontemporer tempat ngopi di pelosok Ubud | Foto: Gede Maha Putra

Proporsi wisatawan lokal dan domestik yang membelanjakan uangnya pada jenis-jenis usaha yang bersifat kuliner akan semakin banyak di masa depan. Demikian juga wisatawan yang memilih untuk berwisata dengan cara menghabiskan waktu sambil bersantai dengan musik berdentam di tepian pantai. Wisata-wisata ini mempertemukan sesama wisatawan dengan kebutuhan yang sama. Hal ini berbeda dengan masa 50-an tahun yang lampau saat wisatawan memiliki ketertarikan untuk berinteraski dengan masyarakat lokal dengan bedayanya.

Dari kemungkinan-kemungkinan yang diuraikan tersebut, maka dapat diramalkan bahwa arsitektur lokal akan semakin menurun popularitasnya. Penurunan ini tidak memiliki kaitan dengan kualitas arsitektur tradisional atau modern tetapi lebih ditentukan oleh kehendak pasar. Kerja-kerja pasar yang bertugas untuk melipatgandakan modal membelokkan, jika tidak mendikte, arah pembangunan arsitektur kepada failitas yang melayani kebutuhan terkini para wisatawan. Karena kebutuhan wisatawan tidak terletak pada eksotika budaya lokal, maka ini akan berimbas pada wujud arsitekturnya yang juga tidak mengarusutamakan budaya setempat.

Jadi, seperti apa arsitektur di Bali di masa yag akan datang? Sejarah membuktikan bahwa pasar adalah pembentuk utama dari wujud-wujud bangunan sejak tahun 1970-an di pulau yang dianggap sebagai pelabuhan terakhir budaya klasik Jawa ini. Meramal masa depan arsitektur berarti juga membayangkan kondisi pasar di masa yang akan datang. [T]

BACA artikel tentang ARSITEKTUR atau artikel lain dari penulis GEDE MAHA PUTRA

Terra Mater, Renungan Tentang Hutan dan Kepemilikan Bersama dari Dusun Menelima, NTT
Arsitektur Regeneratif dan Pembangunan Kapitalistik : Menuliskan Bali dan Arsitektur Desa Potato Seminyak
Proyek-proyek Besar (di Bali) Dimana Arsitektur Merupakan Alat untuk Mengakumulasi Kapital
Eksperimen Arsitektur di Tengah Pasar Wisata Bali yang Makin Besar

Siasat Singapura Membangun Gedung Megah Tanpa Boros Energi

Tags: arsitekturarsitektur baliPariwisatapariwisata bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Desa Adat Mesti Jadi Tuan Tanah

Next Post

Kepemimpinan “Punyan”

I Nyoman Gede Maha Putra

I Nyoman Gede Maha Putra

Dosen arsitektur di Universitas Warmadewa

Related Posts

Pertemuan William James dan Vivekananda

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
0
Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

Read moreDetails

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

by Eril Paizi
June 2, 2026
0
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

Read moreDetails

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

by Early NHS
June 2, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

Read moreDetails

(Tidak Ada) Literasi Digital

by I Wayan Artika
June 2, 2026
0
(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

Read moreDetails

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
0
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

Read moreDetails

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails

Wisata Bahari di Negeri Maritim

by Chusmeru
May 31, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BERUNTUNG Indonesia memiliki alam yang penuh pesona. Laut menjadi salah satu kekayaan alam yang membanggakan. Luas wilayah laut Indonesia mencapai...

Read moreDetails

FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

by Agung Sudarsa
May 31, 2026
0
FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

Dari Kegelisahan Menuju Gerakan Moral BALI sedang berada pada persimpangan zaman. Di satu sisi, pulau ini menikmati pertumbuhan ekonomi yang...

Read moreDetails
Next Post
Kepemimpinan “Punyan”

Kepemimpinan “Punyan”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa
Bahasa

Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa

DOKTER Gia Pratama (dr. Gia) —seorang dokter dan penulis yang aktif di media sosial untuk mengedukasi masyarakat dalam dunia kesehatan—pernah...

by I Made Sudiana
June 3, 2026
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah
Khas

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral
Panggung

Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral

SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng....

by Komang Sujana
June 3, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan
Panggung

‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif
Panggung

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Pertemuan William James dan Vivekananda
Esai

Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar
Khas

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co