2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Desa Adat Mesti Jadi Tuan Tanah

Raka Prama Putra by Raka Prama Putra
December 22, 2024
in Esai
Desa Adat Mesti Jadi Tuan Tanah

Ilustrasi tatkala.co

BELAKANGAN ini, penguasaan tanah di Bali oleh investor (baik dari luar Bali maupun luar negeri) menjadi persoalan yang banyak mengemuka. Banyaknya tanah di Bali yang beralih kepemilikan kepada investor memang cukup signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Fenomena ini disebabkan oleh beberapa faktor. Bali merupakan salah satu destinasi wisata terpopuler di dunia, menarik investor untuk membangun infrastruktur pariwisata seperti hotel, vila, dan fasilitas rekreasi. Harga tanah di Bali terus meningkat, membuatnya menjadi investasi yang menjanjikan.

Semenjak bersentuhan dengan industri pariwisata, harga tanah di Bali kian melambung tinggi. Tak hanya dimanfaatkan untuk pembangunan akomodasi wisata dan destinasi baru, tanah-tanah tersebut juga dijadikan komplek perumahan. Dengan kemajuan dunia pariwisata Bali juga mengundang banyaknya urbanisasi dari luar Bali. Tentu perumahan-perumahan yang dibangun kemudian lebih banyak dibeli oleh penduduk pendatang yang dalam istilah adat Bali disebut dengan tamiu. Di tengah kondisi ini muncul kekhawatiran komponen adat Bali bahwa Bali akan menjadi seperti Jakarta yang kian meminggirkan orang Betawi.

Perlukah kekhawatiran-kekhawatiran seperti itu dimiliki? Menurut hemat saya khawatir akan berbagai ancaman sungguhlah sangat perlu. Dalam situasi ini, desa adat mestinya berpikir secara lebih luas dan lebih mendasar. Bahwa sesungguhnya yang paling penting dalam pelestarian budaya Bali justru adalah pelestarian tanah Bali. Sebab di atas tanah Bali-lah peradaban dan budaya Bali yang konon adiluhung itu dibangun. Tanpa penguasaan tanah Bali tak mungkin kita mampu melestarikan budaya Bali. Untuk itulah, desa adat-desa adat di Bali harus berpikir untuk menjadi tuan tanah.

Desa adat beserta seluruh krama desa harus bisa menguasai tanah-tanah yang ada di wilayah yang diklaim sebagai wilayah desa adatnya. Tentu penguasaan di sini maksudnya adalah penguasaan tanah dengan baik dan benar. Bukan dengan perebutan atau pemaksaan. Akan tetapi, sayangnya kini justru kondisi semakin miris dan memprihatinkan. Tanah-tanah di desa adat sedikit demi sedikit beralih kepemilikan dari krama desa ke warga pendatang yang non krama Bali. Lebih-lebih pendatang yang non-Hindu Bali, jelas tidak ada kewajiban madesa adat (menjadi anggota desa adat).

Dengan harga tanah di Bali yang begitu fantastis membuat krama desa begitu mudah melepas tanah mereka, baik berupa sawah, tegalan, maupun lainnya. Banyak tanah yang dijual itu dijadikan fasilitas pariwisata dan perumahan. Ketika tanah ini beralih kepemilikan kepada sesama krama Bali tentu saja tidak menjadi persoalan sulit bagi desa adat. Sebab mereka juga menyadari akan kewajiban menjadi anggota krama desa. Sehingga mereka tetap merupakan krama, atau setidak-tidaknya menjadi krama tamiu di desa adat yang dimana ia membeli tanah yang baru, baik untuk tempat usaha maupun tempat tinggal.

Sebuah keyakinan orang Bali ada diistilahkan aluh maan aluh telah, yang artinya gampang didapat gampang habisnya. Tanah warisan yang dijual dengan gampangnya tak akan menjadikan kaya. Sebaliknya banyak terbukti orang Bali yang telah menjual tanah, hidupnya semakin sulit. Meskipun sudah ada nasihat seperti itu dari para tetua Bali, sayangnya praktik menjual tanah juga tak gampang direm. Pada akhirnya tanah-tanah di Bali semakin banyak yang beralih kepemilikan, baik kepada nak jawa (istilah orang Bali menyebut orang dari luar Bali) maupun beralih kepemilikan kepada warga asing (dengan akal-akalan perjanjian nominee).

Lalu, ketika tanah Bali semakin menyempit dan ketika manusia Bali semakin terhimpit dan terjepit oleh persoalan ekonomi, masih tangguhkah manusia Bali melestarikan tradisi budaya Balinya?

Dengan tanah yang semakin sempit, maka semakin sempit pula keleluasaan untuk menjalankan tradisi budaya dan peradaban manusia Bali. Kekhawatiran Bali menjadi seperti halnya tanah Betawi harus dipikirkan dengan solusi yang lebih cerdas oleh desa adat-desa adat dengan prajuru sebagai ujung tombaknya. Menyadari ancaman itu, perjuangan desa adat saat ini mestinya mempertahankan tanah Bali agar tidak mudah beralih kepemilikan. Bukan dengan melarang krama menjual tanah dan/atau menolak investor, namun bagaimana desa adat berperan menguatkan krama desa betapa pentingnya mempertahankan kepemilikan tanah Bali.

Krama desa dan desa adat mesti menjadi tuan tanah. Ketika krama desa memiliki kesadaran tersebut, maka akan berpikir ulang menjual tanah kepada tamiu meskipun dengan iming-iming nilai jual yang tinggi. Satu lagi, ketika seorang krama dalam kondisi susah dan menjual tanahnya adalah pilihan terakhirnya, maka desa adat tidak boleh berdiam diri.

Desa adat harus mengambil peran untuk mengamankan tanah tersebut. Bisa dengan memberikan pinjaman melalui LPD dengan tanah yang hendak dijual itu sebagai jaminannya. Atau bahkan LPD langsung saja membeli tanah tersebut sebagai aset desa adat. Begitu pula ketika ada krama desa yang memerlukan tanah untuk tempat tinggal (karang umah), LPD dapat melepas kembali tanah yang dimiliki untuk dibeli oleh krama desa setempat, tentu dengan harga sesuai harga yang berlaku.

Tanah-tanah yang dikuasai desa adat maupun LPD tentu bisa diolah sebagai sumber penghasilan desa adat. Bagaimana mengolah tanah tersebut? Jika memang tanah produktif dan irigasi masih mendukung mesti dipertahankan sebagai lahan pertanian. Hal ini sekaligus sebagai bentuk pelestarian subak, yang kondisinya semakin terhimpit.

Jika memang tanah tersebut tidak memungkinkan diolah untuk lahan pertanian, sangat mungkin untuk disewakan, baik kepada orang lokal maupun kepada investor. Yang jelas jangan sampai tanah-tanah ini dijual! Untuk sewa-menyewa, jangan pula terlalu mempersulit investor, yang terpenting adalah investor tetap menerapkan konsepsi Tri Hita Karana dalam usahanya, seperti keberpihakan terhadap krama desa setempat dan kelestarian lingkungan atau pelemahan desa.

Untuk bisa mempertahankan tanah Bali, desa adat harus mampu memiliki dana abadi. Dana abadi yang selalu siap sedia untuk mengatasi permasalahan mendasar seperti jual beli tanah yang tidak terbendung ini. Dana yang dimiliki desa adat jangan hanya habis untuk menggelar upacara yadnya semata, namun meninggalkan persoalan mendasar atas alih fungsi dan alih kepemilikan tanah Bali. Tanpa tanah, tidak bisa desa adat di Bali mengembangkan budaya Bali. Maka upaya mempertahankan tanah Bali harus menjadi prioritas dalam program desa adat. [T]

Gianyar, 2017 – 2024

BACA artikel lain dari penulisa RAKA PRAMA PUTRA

Menguatnya Kontrol Global dan Melemahnya Kontrol Lokal atas Lahan-lahan di Bali
Rustic System dalam Perencanaan Wilayah
Harimau Bali di Bali Utara Sekitar Tahun 1919: Dokumen Langka dari “Kidung Yadnyeng Ukir” Karya Ida Pedanda Ngurah
Jatiluwih, Ritus Padi, dan Hal-Hal di Baliknya
Jika Sawah Sudah Tak Ada, di Mana Manusia akan Menanam?
Melindungi Lahan Pertanian, Menyelamatkan Perekonomian
Di Mana Kertha Gosa, Di Mana Pengadilan Agama dan Adat itu Kini?
Tags: alihfungsi lahandesa adatTanah
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ibuku Adalah Ibu Pertiwi-ku

Next Post

Meramal  Wujud Arsitektur di Bali pada Masa yang Akan Datang

Raka Prama Putra

Raka Prama Putra

Nama lengkapnya I Putu Gede Raka Prama Putra. Penulis, wartawan

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Meramal  Wujud Arsitektur di Bali pada Masa yang Akan Datang

Meramal  Wujud Arsitektur di Bali pada Masa yang Akan Datang

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co