23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Desa Adat Mesti Jadi Tuan Tanah

Raka Prama Putra by Raka Prama Putra
December 22, 2024
in Esai
Desa Adat Mesti Jadi Tuan Tanah

Ilustrasi tatkala.co

BELAKANGAN ini, penguasaan tanah di Bali oleh investor (baik dari luar Bali maupun luar negeri) menjadi persoalan yang banyak mengemuka. Banyaknya tanah di Bali yang beralih kepemilikan kepada investor memang cukup signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Fenomena ini disebabkan oleh beberapa faktor. Bali merupakan salah satu destinasi wisata terpopuler di dunia, menarik investor untuk membangun infrastruktur pariwisata seperti hotel, vila, dan fasilitas rekreasi. Harga tanah di Bali terus meningkat, membuatnya menjadi investasi yang menjanjikan.

Semenjak bersentuhan dengan industri pariwisata, harga tanah di Bali kian melambung tinggi. Tak hanya dimanfaatkan untuk pembangunan akomodasi wisata dan destinasi baru, tanah-tanah tersebut juga dijadikan komplek perumahan. Dengan kemajuan dunia pariwisata Bali juga mengundang banyaknya urbanisasi dari luar Bali. Tentu perumahan-perumahan yang dibangun kemudian lebih banyak dibeli oleh penduduk pendatang yang dalam istilah adat Bali disebut dengan tamiu. Di tengah kondisi ini muncul kekhawatiran komponen adat Bali bahwa Bali akan menjadi seperti Jakarta yang kian meminggirkan orang Betawi.

Perlukah kekhawatiran-kekhawatiran seperti itu dimiliki? Menurut hemat saya khawatir akan berbagai ancaman sungguhlah sangat perlu. Dalam situasi ini, desa adat mestinya berpikir secara lebih luas dan lebih mendasar. Bahwa sesungguhnya yang paling penting dalam pelestarian budaya Bali justru adalah pelestarian tanah Bali. Sebab di atas tanah Bali-lah peradaban dan budaya Bali yang konon adiluhung itu dibangun. Tanpa penguasaan tanah Bali tak mungkin kita mampu melestarikan budaya Bali. Untuk itulah, desa adat-desa adat di Bali harus berpikir untuk menjadi tuan tanah.

Desa adat beserta seluruh krama desa harus bisa menguasai tanah-tanah yang ada di wilayah yang diklaim sebagai wilayah desa adatnya. Tentu penguasaan di sini maksudnya adalah penguasaan tanah dengan baik dan benar. Bukan dengan perebutan atau pemaksaan. Akan tetapi, sayangnya kini justru kondisi semakin miris dan memprihatinkan. Tanah-tanah di desa adat sedikit demi sedikit beralih kepemilikan dari krama desa ke warga pendatang yang non krama Bali. Lebih-lebih pendatang yang non-Hindu Bali, jelas tidak ada kewajiban madesa adat (menjadi anggota desa adat).

Dengan harga tanah di Bali yang begitu fantastis membuat krama desa begitu mudah melepas tanah mereka, baik berupa sawah, tegalan, maupun lainnya. Banyak tanah yang dijual itu dijadikan fasilitas pariwisata dan perumahan. Ketika tanah ini beralih kepemilikan kepada sesama krama Bali tentu saja tidak menjadi persoalan sulit bagi desa adat. Sebab mereka juga menyadari akan kewajiban menjadi anggota krama desa. Sehingga mereka tetap merupakan krama, atau setidak-tidaknya menjadi krama tamiu di desa adat yang dimana ia membeli tanah yang baru, baik untuk tempat usaha maupun tempat tinggal.

Sebuah keyakinan orang Bali ada diistilahkan aluh maan aluh telah, yang artinya gampang didapat gampang habisnya. Tanah warisan yang dijual dengan gampangnya tak akan menjadikan kaya. Sebaliknya banyak terbukti orang Bali yang telah menjual tanah, hidupnya semakin sulit. Meskipun sudah ada nasihat seperti itu dari para tetua Bali, sayangnya praktik menjual tanah juga tak gampang direm. Pada akhirnya tanah-tanah di Bali semakin banyak yang beralih kepemilikan, baik kepada nak jawa (istilah orang Bali menyebut orang dari luar Bali) maupun beralih kepemilikan kepada warga asing (dengan akal-akalan perjanjian nominee).

Lalu, ketika tanah Bali semakin menyempit dan ketika manusia Bali semakin terhimpit dan terjepit oleh persoalan ekonomi, masih tangguhkah manusia Bali melestarikan tradisi budaya Balinya?

Dengan tanah yang semakin sempit, maka semakin sempit pula keleluasaan untuk menjalankan tradisi budaya dan peradaban manusia Bali. Kekhawatiran Bali menjadi seperti halnya tanah Betawi harus dipikirkan dengan solusi yang lebih cerdas oleh desa adat-desa adat dengan prajuru sebagai ujung tombaknya. Menyadari ancaman itu, perjuangan desa adat saat ini mestinya mempertahankan tanah Bali agar tidak mudah beralih kepemilikan. Bukan dengan melarang krama menjual tanah dan/atau menolak investor, namun bagaimana desa adat berperan menguatkan krama desa betapa pentingnya mempertahankan kepemilikan tanah Bali.

Krama desa dan desa adat mesti menjadi tuan tanah. Ketika krama desa memiliki kesadaran tersebut, maka akan berpikir ulang menjual tanah kepada tamiu meskipun dengan iming-iming nilai jual yang tinggi. Satu lagi, ketika seorang krama dalam kondisi susah dan menjual tanahnya adalah pilihan terakhirnya, maka desa adat tidak boleh berdiam diri.

Desa adat harus mengambil peran untuk mengamankan tanah tersebut. Bisa dengan memberikan pinjaman melalui LPD dengan tanah yang hendak dijual itu sebagai jaminannya. Atau bahkan LPD langsung saja membeli tanah tersebut sebagai aset desa adat. Begitu pula ketika ada krama desa yang memerlukan tanah untuk tempat tinggal (karang umah), LPD dapat melepas kembali tanah yang dimiliki untuk dibeli oleh krama desa setempat, tentu dengan harga sesuai harga yang berlaku.

Tanah-tanah yang dikuasai desa adat maupun LPD tentu bisa diolah sebagai sumber penghasilan desa adat. Bagaimana mengolah tanah tersebut? Jika memang tanah produktif dan irigasi masih mendukung mesti dipertahankan sebagai lahan pertanian. Hal ini sekaligus sebagai bentuk pelestarian subak, yang kondisinya semakin terhimpit.

Jika memang tanah tersebut tidak memungkinkan diolah untuk lahan pertanian, sangat mungkin untuk disewakan, baik kepada orang lokal maupun kepada investor. Yang jelas jangan sampai tanah-tanah ini dijual! Untuk sewa-menyewa, jangan pula terlalu mempersulit investor, yang terpenting adalah investor tetap menerapkan konsepsi Tri Hita Karana dalam usahanya, seperti keberpihakan terhadap krama desa setempat dan kelestarian lingkungan atau pelemahan desa.

Untuk bisa mempertahankan tanah Bali, desa adat harus mampu memiliki dana abadi. Dana abadi yang selalu siap sedia untuk mengatasi permasalahan mendasar seperti jual beli tanah yang tidak terbendung ini. Dana yang dimiliki desa adat jangan hanya habis untuk menggelar upacara yadnya semata, namun meninggalkan persoalan mendasar atas alih fungsi dan alih kepemilikan tanah Bali. Tanpa tanah, tidak bisa desa adat di Bali mengembangkan budaya Bali. Maka upaya mempertahankan tanah Bali harus menjadi prioritas dalam program desa adat. [T]

Gianyar, 2017 – 2024

BACA artikel lain dari penulisa RAKA PRAMA PUTRA

Menguatnya Kontrol Global dan Melemahnya Kontrol Lokal atas Lahan-lahan di Bali
Rustic System dalam Perencanaan Wilayah
Harimau Bali di Bali Utara Sekitar Tahun 1919: Dokumen Langka dari “Kidung Yadnyeng Ukir” Karya Ida Pedanda Ngurah
Jatiluwih, Ritus Padi, dan Hal-Hal di Baliknya
Jika Sawah Sudah Tak Ada, di Mana Manusia akan Menanam?
Melindungi Lahan Pertanian, Menyelamatkan Perekonomian
Di Mana Kertha Gosa, Di Mana Pengadilan Agama dan Adat itu Kini?
Tags: alihfungsi lahandesa adatTanah
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ibuku Adalah Ibu Pertiwi-ku

Next Post

Meramal  Wujud Arsitektur di Bali pada Masa yang Akan Datang

Raka Prama Putra

Raka Prama Putra

Nama lengkapnya I Putu Gede Raka Prama Putra. Penulis, wartawan

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Meramal  Wujud Arsitektur di Bali pada Masa yang Akan Datang

Meramal  Wujud Arsitektur di Bali pada Masa yang Akan Datang

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co