23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Harimau Bali di Bali Utara Sekitar Tahun 1919: Dokumen Langka dari “Kidung Yadnyeng Ukir” Karya Ida Pedanda Ngurah

Putu Eka Guna Yasa by Putu Eka Guna Yasa
April 10, 2024
in Esai
Harimau Bali di Bali Utara Sekitar Tahun 1919: Dokumen Langka dari “Kidung Yadnyeng Ukir” Karya Ida Pedanda Ngurah

Ida Pedanda Ngurah dan foto harimau bali

Harimau Bali di Bali Utara Sekitar Tahun 1919: Dokumen Langka dari Kidung Yadnyeng Ukir[i] Karya Ida Padanda Ngurah


BARANGKALI sulit bagi kita untuk membayangkan bahwa sekitar 100 tahun silam pernah hidup binatang yang diberi gelar raja hutan alias harimau di Bali (panthera tigris Balica). Maklum, kita hidup di tengah era yang sudah sesak dengan bangunan dan kemacetan. Tentu keadaan ini bukan habitat yang baik untuk binatang sejenis harimau Bali. 

Harimau Bali juga dikenal dengan sebutan Sang Mong. Penamaan ini berkaitan dengan tiruan bunyi (onomathopea) harimau yang meraung. Sama seperti nama cekcek, miong, guak, dan yang lainnya dalam bahasa Bali yang dinamai karena suara yang dihasilkannya. Nama lainnya yang sering disebut masyarakat adalah macan mincid. Kata macan jelas mengacu pada harimau, sedangkan mincid bermakna ukuran bentuknya yang kecil, hanya lebih besar sedikit dari kucing.

Harimau Bali memiliki bulu yang pendek dengan warna oranye gelap. Lorengnya lebih sedikit dari harimau Jawa dan Sumatra. Akan tetapi, di antara loreng-lorengnya terkadang ada tutul-tutul kecil. Kekhasan ini menyebabkan harimau Bali memiliki loreng-loreng yang lebih rapat[ii].

Harimau Bali dijadikan Pertunjukan Sirkus | Foto diambil dari Wikipedia

Warna kulit yang loreng, ditambah taring yang muncul ketika menyeringai, dan langkah yang hati-hati ketika menyergap mangsa, pasti membuat binatang lain termasuk manusia takut. Apalagi raungannya yang keras dan panjang, seisi hutan dipastikan lari untuk menyelamatkan diri. Dari bekal lahir yang dimiliki harimau itu, pantaslah mereka yang hidup di hutan-hutan Bali sekaligus menjaga hutan dari tangan-tangan manusia yang ingin mengalihfungsikan lahan.

Namun sayang, walaupun memiliki peran yang sangat vital dalam melindungi hutan, sang penjaga wana sudah dinyatakan sirna. Mereka senasib dengan harimau Jawa yang juga telah lenyap, tak tersisa. Kolonialisme ditengarai sebagai salah satu faktor yang menyebabkan keberadaan mereka semakin berkurang dan perlahan hilang. Para tentara Belanda konon memburu harimau Bali dengan menggunakan perangkap kaki bergerigi dari besi dengan umpan kambing dan manjangan[iii]. Sementara di Pulau Jawa, ada tradisi Rampog Macan[iv] yang menjadikan macan sebagai unjuk ketangkasan para kesatria dalam mempertontonkan ketangkasannya, termasuk mengadu macan dengan binatang lain.

Kidung Yandnyeng Ukir

Kita tidak akan memperpanjang cerita perih di balik punahnya harimau Bali dan Jawa. Akan tetapi, membaca sedikit tentang pertemuan seorang pendeta bernama Ida Padanda Ngurah dengan tiga ekor harimau Bali di Bali Utara. Kisah pertemuan itu beliau catat dalam sebuah karya sastra yang berjudul Kidung Yajnyeng Ukir ‘senandung upacara di gunung’.

Foto Ida Padanda Ngurah | Koleksi Gria Gede Belayu

 Ida Padanda Ngurah adalah seorang pendeta yang berasal dari Gria Gede Belayu, Marga, Tabanan. Beliau merupakan seorang pendeta sekaligus sastrawan (kawi-wiku) yang produktif. Dari ketekunan beliau bertani kata di ladang sastra, ada banyak karya sastra yang telah dilahirkan, seperti Kidung Bhuwana Winasa, Kakawin Surantaka, Kakawin Gunung Kawi, Kakawin Gwara Gong, Parikan Singhala, dan yang lainnya. Kita dapat pastikan bahwa Ida Padanda Ngurah adalah pencatat peristiwa zaman peralihan yang ulet, khususnya pada fase keruntuhan era kerajaan ke kolonial pada abad XIX. Pada zaman itu pula, beliau mendokumentasikan pertemuannya dengan tiga ekor harimau Bali.

Adakah pertemuan beliau di sekitar tahun 1919 itu adalah pertemuan dengan harimau Bali terakhir? Kita tidak tahu pasti.

Perjumpaan dengan harimau Bali yang dicatat oleh Ida Padanda Ngurah adalah dokumen langka yang secara eksplisit menyatakan ada harimau yang pernah hidup di Bali. Informasi dalam karya sastra ini dapat kita percayai karena karya sastra yang ditulis oleh Ida Padanda Ngurah adalah kisah nyata tentang perjalanan beliau ketika melakukan tirta yatra atau tirta gamana ke wilayah Bali Utara, Buleleng. Sama seperti perjalanan Mpu Prapanca ketika mengabadikan perjalanan Raja Hayam Wuruk dalam pustaka Nêgara Krêtagama. Hingga kini wilayah-wilayah yang dilalui oleh Ida Padanda Ngurah masih bisa ditelusuri dan ditemukan.

Perjalanan Ida Padanda Ngurah ke Bali Utara dilakukan sekitar tahun 1919 Masehi. Kala itu, beliau baru saja menyelesaikan upacara besar di tiga gunung yang ada di Bali, yaitu Pucak Padang Dawa, Batukaru, dan Beratan. Ida Padanda Ngurah bertujuan untuk melakukan persembahyangan ke Pura Pulaki, sekaligus menyucikan diri di berbagai patirtan, dan menjelajahi keindahan sepanjang perjalanan (anglanglang kalangwan).

Pura Pulaki

Pura Pulaki diketahui sebagai salah satu tempat distanakannya putri Dang Hyang Nirartha yang bernama Ida Ayu Swabhawa dengan gelar Bhatari Melanting, Hyangning Salaga, dan Bhatari Puhlaki[v]. Pura itulah yang dituju oleh Ida Padanda Ngurah. Rute yang beliau tempuh dari Belayu melewati daerah-daerah seperti Candi Kuning, Kembang Merta, dan Pancasari.

Sebelum melewati wilayah hutan lebat di sekitar Wanagiri, beliau mampir di rumah seseorang yang bernama Raden Ketut untuk meminta brahmasara (bedil)dan lima pedang. Peminjaman senjata itu dimaklumi karena di tahun-tahun tersebut suasana hutan yang tanpa penerangan pasti berbahaya, baik karena binatang seperti ular, kera, bahkan harimau itu sendiri.

Sampai di puncak bukit, Ida Padanda Ngurah menuju ke arah Gobleg lalu turun hingga sampai di Munduk. Perjalanan dilanjutkan hingga beliau tiba di wilayah Banjar. Dari wilayah Banjar, Ida Padanda bertolak langsung menuju ke Pura Pulaki. Dari Banjar, perjalanan tidak lagi ditempuh dengan berjalan kaki, tetapi menaiki perahu melintasi Pangastulan, Air Mandaom, Tukad Pungku, Air Brombong, Patas, Gerokgak, Batu Agung, Air Pule, Tukad Getas, dan Tegal Lenga.

Dari segara “laut”, Ida Padanda Ngurah melihat keindahan giri “gunung‟ (katon kalangwaning ukir). Berbagai gunung yang dilihat di sepanjang perjalanan disebutkan oleh Ida Padanda Ngurah seperti Gunung Gondhol, Gunung Patas, Gunung Malang, Gunung Candi Bunga, Gunung Rebuk, hingga akhirnya tiba di Gunung Pulaki.

Di Pulaki, Ida Padanda Ngurah menguraikan keindahan pegunungan dengan sangat mempesona. Gunung itu seperti bersinar ketika diterangi oleh matahari. Di puncaknya ada dua batu besar yang bercahaya bagaikan candi bentar. Batu di pinggir jurang yang tinggi bagaikan pendeta suci yang kata-katanya utama dan nirmala. Pendeta tersebut tengah berkonsentrasi pada tujuh gunung yang ada di dalam diri (sapta parwwatĕ minusti haneng garbbha), termasuk pula tujuh sungai (sapta gangga), tujuh danau (sapta ranu), hingga tujuh tingkat kasunyatan (sapta sunya). Dengan kekuatan jnyana, amerta diturunkan dengan gagelaran wisarga dan nungswara. Maka, penyucian dilakukan di dalam sarira.

Proses persembahyangan di Pura Pulaki justru tak banyak dijelaskan oleh Ida Padanda Ngurah, padahal itu tujuan utama beliau. Barangkali, analogi batu di pinggir jurang serupa pendeta yang mapuja dengan penjelasan panjang lebar itu adalah aktivitas beliau sendiri. Begitulah cara seorang Kawi yang jnyananya tinggi merendahkan hati.

Harimau Bali di Banyu Wedang

Setelah bersembahyang di Pura Pulaki, Ida Padanda Ngurah bersama rombongan melanjutkan perjalanan. Di wilayah Pemuteran, terlihat tiga buah telaga dan satu air panas yang bisa melenyapkan duka lara serta menyucikan diri. Selanjutnya, di wilayah Pagametan juga ada satu telaga suci yang bagaikan taladwaja. Rombongan sedikit tersentak ketika tengah malam sampai di Banyu Wedang. Saat itu, air laut tiba-tiba surut.

Harimau Bali | Gambar diolah dengan AI

Di dalam hutan terlihat tirta yang berkilau karena disinari oleh Hyang Sitangsu (Bulan). Ada empat jumlahnya. Ketika air suci tersebut hendak diambil, beberapa pengawal yang ikut dalam rombongan Ida Padanda Ngurah melihat tiga ekor harimau yang sedang berada di tengah telaga. Selengkapnya mari kita simak kutipan di bawah ini.

Hana rakwa tinon dhening wadwanning ngwang, mrĕggha natta ya katriṇi, ring saṇdhinging sĕndhang, sigra yā umintar (Kidung Yajnyeng Ukir, bait 315).

Terjemahan.

Ada yang dilihat oleh pengawalku, yaitu tiga ekor harimau, di tengah telaga, dengan segera mereka pergi.

Kata mrêggha natta dalam kutipan di atas mengacu pada harimau. Kata mrêggha berarti ‘binatang hutan’, sedangkan kata natta berarti ‘raja’. Oleh sebab itu, mrĕggha natta berarti raja binatang hutan yang bermakna sama dengan harimau atau singa[vi]. Dalam konteks ini yang dimaksud  mrĕggha natta adalah harimau, khususnya harimau Bali (panthera tigris Balica).

Karena melihat harimau Bali itu, para pengawal melarang Ida Padanda Ngurah untuk menyucikan diri di sana. Namun demikian, Sang Pendeta tetap teguh untuk menyucikan diri di tempat itu. Ketika menyentuhkan kaki untuk pertama kalinya di air, beliau terperangah karena airnya ternyata panas. Sesuai dengan nama wilayahnya, tirta itu memang Banyu Wedang ‘air panas’. Ida Padanda Ngurah sangat meyakini air panas tersebut dapat mengobati berbagai penyakit.

Usai bertemu dengan harimau Bali dan melakukan penyucian diri di Banyuwedang, Ida Padanda Ngurah kembali pulang ke Gria Banjar untuk selanjutnya ke Gria Belayu. Perjalanan pulang dari tirta gamana ini juga menjelaskan Ida Padanda Ngurah sempat bersembahyang di Danau Tamblingan sebelum akhirnya sampai di Gria Gede Belayu dan mendapatkan berita bahwa Raja Belayu tengah sakit keras dan wafat.

Harimau Bali Pasca 1919

Demikianlah penggalan kisah pertemuan antara Ida Padanda Ngurah dengan harimau Bali di wilayah Bali Utara, tepatnya di Banyuwedang. Kala itu, masih ada tiga ekor harimau Bali yang masih hidup. Artinya, di sekitar tahun 1919 Masehi harimau Bali belum punah sepenuhnya.

Sulit dibayangkan, betapa takutnya para pengawal yang mendampingi Ida Padanda Ngurah ketika melihat tiga raja hutan itu sedang berada di telaga (kolam) Banyu Wedang. Sesungguhnya, para pengawal itu meminta Ida Padanda Ngurah untuk menjauh, tetapi beliau tetap ingin menyucikan diri di pemandian itu dengan teguh.  

Bagi para pengawal dan masyarakat awam, melihat harimau di tengah malam pastilah situasi yang mencekam. Akan tetapi, berbeda dengan seorang pendeta pemuja Shiwa seperti Ida Padanda Ngurah. Shiwa dalam berbaga arca sering diwujudkan dengan figur yang mengenakan busana dan duduk di atas kulit harimau sebagai simbol kemenangan atas sifat kebinatangan. Barangkali demikian pula dengan kualitas kesucian yang telah dicapai oleh Ida Padanda Ngurah. Perjumpaan dengan harimau Bali tak lagi membahayakan tetapi membahagiakan.

Harimau Bali, ditembak tahun 1920 | Sumber: Instagram Sejarah Bali

Namun sayang, setelah itu tepatnya tahun 1920 ada berita harimau Bali ditembak oleh M. Zanveld. Adakah itu harimau yang sama dengan yang ditemui oleh Ida Padanda Ngurah? Ketika melihat foto harimau itu, saya tidak sanggup lagi melanjutkan tulisan ini. [T] 


[i] Kidung Yajnyeng Ukir diterjemahkan oleh Guna Yasa, dan diterbitkan Perpusnas tahun 2023.

[ii] Informasi dari akun Instagram Sejarah Bali, tanggal 5 April 2024.

[iii] Ibid.

[iv] Informasi didapatkan dari akun Intsagram Kolonial_Verslag, 7 April 2024.

[v] Baca, Palguna, 2015: 202.

[vi] Zoetmulder, 2004: 674.

BACA artikel lain dari penulis PUTU EKA GUNA YASA

Niksayang Peplajahan: Tujuan Ida Padanda Made Sidemen Menjadi Pendeta
Nurat Asing Gon : Kunci Produktivitas Ida Padanda Made Sidemen dalam Bersastra
Hari Lahir dan Pantangan Makanannya dalam Lontar Pawetuan Jadma Ala Ayu
Tags: Guna Yasaharimau baliIda Pedanda NgurahkidungKidung Yadnyeng Ukirsastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Hal yang Didapat dan Hal yang Ditinggalkan Saat Antrean Pemudik di Gilimanuk

Next Post

Kilas Balik Jegeg Bagus Buleleng 2024: Berbudi Baik Seperti Padma, Berpikir Tajam Seperti Panah Arjuna

Putu Eka Guna Yasa

Putu Eka Guna Yasa

Pembaca lontar, dosen FIB Unud, aktivitis BASAbali Wiki

Related Posts

Wajah Indonesia Bopeng

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

Read moreDetails

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails
Next Post
Kilas Balik Jegeg Bagus Buleleng 2024: Berbudi Baik Seperti Padma, Berpikir Tajam Seperti Panah Arjuna

Kilas Balik Jegeg Bagus Buleleng 2024: Berbudi Baik Seperti Padma, Berpikir Tajam Seperti Panah Arjuna

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers
Pendidikan

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers

SEBANYAK 102 anggota dan calon anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bali mengikuti Orientasi Kewartawanan dan Keorganisasian (OKK) di Gedung PWI...

by Dede Putra Wiguna
August 23, 2026
Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   
Opini

Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

IRONI yang sulit diterima ketika seseorang yang berdiri di puncak lembaga pendidikan justru berhadapan dengan hukum karena dugaan praktik yang...

by I Ketut Suar Adnyana
August 23, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Wajah Indonesia Bopeng

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas
Kritik Sastra

Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas

ADA satu kesalahpahaman yang terlalu lama mengiringi cara kita memandang Tuli: seolah-olah Tuli hanya dapat dibicarakan dari apa yang tidak...

by Bagja Wiranandhika Prawira
August 23, 2026
Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud
Panggung

Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

KETIKA musik itu dimainkan, nadanya terasa enak, liriknya menyentuh hati, dan langsung terbayang cerita drama seri yang sangat populer. Melodinya...

by Nyoman Budarsana
August 23, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co