3 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Harimau Bali di Bali Utara Sekitar Tahun 1919: Dokumen Langka dari “Kidung Yadnyeng Ukir” Karya Ida Pedanda Ngurah

Putu Eka Guna Yasa by Putu Eka Guna Yasa
April 10, 2024
in Esai
Harimau Bali di Bali Utara Sekitar Tahun 1919: Dokumen Langka dari “Kidung Yadnyeng Ukir” Karya Ida Pedanda Ngurah

Ida Pedanda Ngurah dan foto harimau bali

Harimau Bali di Bali Utara Sekitar Tahun 1919: Dokumen Langka dari Kidung Yadnyeng Ukir[i] Karya Ida Padanda Ngurah


BARANGKALI sulit bagi kita untuk membayangkan bahwa sekitar 100 tahun silam pernah hidup binatang yang diberi gelar raja hutan alias harimau di Bali (panthera tigris Balica). Maklum, kita hidup di tengah era yang sudah sesak dengan bangunan dan kemacetan. Tentu keadaan ini bukan habitat yang baik untuk binatang sejenis harimau Bali. 

Harimau Bali juga dikenal dengan sebutan Sang Mong. Penamaan ini berkaitan dengan tiruan bunyi (onomathopea) harimau yang meraung. Sama seperti nama cekcek, miong, guak, dan yang lainnya dalam bahasa Bali yang dinamai karena suara yang dihasilkannya. Nama lainnya yang sering disebut masyarakat adalah macan mincid. Kata macan jelas mengacu pada harimau, sedangkan mincid bermakna ukuran bentuknya yang kecil, hanya lebih besar sedikit dari kucing.

Harimau Bali memiliki bulu yang pendek dengan warna oranye gelap. Lorengnya lebih sedikit dari harimau Jawa dan Sumatra. Akan tetapi, di antara loreng-lorengnya terkadang ada tutul-tutul kecil. Kekhasan ini menyebabkan harimau Bali memiliki loreng-loreng yang lebih rapat[ii].

Harimau Bali dijadikan Pertunjukan Sirkus | Foto diambil dari Wikipedia

Warna kulit yang loreng, ditambah taring yang muncul ketika menyeringai, dan langkah yang hati-hati ketika menyergap mangsa, pasti membuat binatang lain termasuk manusia takut. Apalagi raungannya yang keras dan panjang, seisi hutan dipastikan lari untuk menyelamatkan diri. Dari bekal lahir yang dimiliki harimau itu, pantaslah mereka yang hidup di hutan-hutan Bali sekaligus menjaga hutan dari tangan-tangan manusia yang ingin mengalihfungsikan lahan.

Namun sayang, walaupun memiliki peran yang sangat vital dalam melindungi hutan, sang penjaga wana sudah dinyatakan sirna. Mereka senasib dengan harimau Jawa yang juga telah lenyap, tak tersisa. Kolonialisme ditengarai sebagai salah satu faktor yang menyebabkan keberadaan mereka semakin berkurang dan perlahan hilang. Para tentara Belanda konon memburu harimau Bali dengan menggunakan perangkap kaki bergerigi dari besi dengan umpan kambing dan manjangan[iii]. Sementara di Pulau Jawa, ada tradisi Rampog Macan[iv] yang menjadikan macan sebagai unjuk ketangkasan para kesatria dalam mempertontonkan ketangkasannya, termasuk mengadu macan dengan binatang lain.

Kidung Yandnyeng Ukir

Kita tidak akan memperpanjang cerita perih di balik punahnya harimau Bali dan Jawa. Akan tetapi, membaca sedikit tentang pertemuan seorang pendeta bernama Ida Padanda Ngurah dengan tiga ekor harimau Bali di Bali Utara. Kisah pertemuan itu beliau catat dalam sebuah karya sastra yang berjudul Kidung Yajnyeng Ukir ‘senandung upacara di gunung’.

Foto Ida Padanda Ngurah | Koleksi Gria Gede Belayu

 Ida Padanda Ngurah adalah seorang pendeta yang berasal dari Gria Gede Belayu, Marga, Tabanan. Beliau merupakan seorang pendeta sekaligus sastrawan (kawi-wiku) yang produktif. Dari ketekunan beliau bertani kata di ladang sastra, ada banyak karya sastra yang telah dilahirkan, seperti Kidung Bhuwana Winasa, Kakawin Surantaka, Kakawin Gunung Kawi, Kakawin Gwara Gong, Parikan Singhala, dan yang lainnya. Kita dapat pastikan bahwa Ida Padanda Ngurah adalah pencatat peristiwa zaman peralihan yang ulet, khususnya pada fase keruntuhan era kerajaan ke kolonial pada abad XIX. Pada zaman itu pula, beliau mendokumentasikan pertemuannya dengan tiga ekor harimau Bali.

Adakah pertemuan beliau di sekitar tahun 1919 itu adalah pertemuan dengan harimau Bali terakhir? Kita tidak tahu pasti.

Perjumpaan dengan harimau Bali yang dicatat oleh Ida Padanda Ngurah adalah dokumen langka yang secara eksplisit menyatakan ada harimau yang pernah hidup di Bali. Informasi dalam karya sastra ini dapat kita percayai karena karya sastra yang ditulis oleh Ida Padanda Ngurah adalah kisah nyata tentang perjalanan beliau ketika melakukan tirta yatra atau tirta gamana ke wilayah Bali Utara, Buleleng. Sama seperti perjalanan Mpu Prapanca ketika mengabadikan perjalanan Raja Hayam Wuruk dalam pustaka Nêgara Krêtagama. Hingga kini wilayah-wilayah yang dilalui oleh Ida Padanda Ngurah masih bisa ditelusuri dan ditemukan.

Perjalanan Ida Padanda Ngurah ke Bali Utara dilakukan sekitar tahun 1919 Masehi. Kala itu, beliau baru saja menyelesaikan upacara besar di tiga gunung yang ada di Bali, yaitu Pucak Padang Dawa, Batukaru, dan Beratan. Ida Padanda Ngurah bertujuan untuk melakukan persembahyangan ke Pura Pulaki, sekaligus menyucikan diri di berbagai patirtan, dan menjelajahi keindahan sepanjang perjalanan (anglanglang kalangwan).

Pura Pulaki

Pura Pulaki diketahui sebagai salah satu tempat distanakannya putri Dang Hyang Nirartha yang bernama Ida Ayu Swabhawa dengan gelar Bhatari Melanting, Hyangning Salaga, dan Bhatari Puhlaki[v]. Pura itulah yang dituju oleh Ida Padanda Ngurah. Rute yang beliau tempuh dari Belayu melewati daerah-daerah seperti Candi Kuning, Kembang Merta, dan Pancasari.

Sebelum melewati wilayah hutan lebat di sekitar Wanagiri, beliau mampir di rumah seseorang yang bernama Raden Ketut untuk meminta brahmasara (bedil)dan lima pedang. Peminjaman senjata itu dimaklumi karena di tahun-tahun tersebut suasana hutan yang tanpa penerangan pasti berbahaya, baik karena binatang seperti ular, kera, bahkan harimau itu sendiri.

Sampai di puncak bukit, Ida Padanda Ngurah menuju ke arah Gobleg lalu turun hingga sampai di Munduk. Perjalanan dilanjutkan hingga beliau tiba di wilayah Banjar. Dari wilayah Banjar, Ida Padanda bertolak langsung menuju ke Pura Pulaki. Dari Banjar, perjalanan tidak lagi ditempuh dengan berjalan kaki, tetapi menaiki perahu melintasi Pangastulan, Air Mandaom, Tukad Pungku, Air Brombong, Patas, Gerokgak, Batu Agung, Air Pule, Tukad Getas, dan Tegal Lenga.

Dari segara “laut”, Ida Padanda Ngurah melihat keindahan giri “gunung‟ (katon kalangwaning ukir). Berbagai gunung yang dilihat di sepanjang perjalanan disebutkan oleh Ida Padanda Ngurah seperti Gunung Gondhol, Gunung Patas, Gunung Malang, Gunung Candi Bunga, Gunung Rebuk, hingga akhirnya tiba di Gunung Pulaki.

Di Pulaki, Ida Padanda Ngurah menguraikan keindahan pegunungan dengan sangat mempesona. Gunung itu seperti bersinar ketika diterangi oleh matahari. Di puncaknya ada dua batu besar yang bercahaya bagaikan candi bentar. Batu di pinggir jurang yang tinggi bagaikan pendeta suci yang kata-katanya utama dan nirmala. Pendeta tersebut tengah berkonsentrasi pada tujuh gunung yang ada di dalam diri (sapta parwwatĕ minusti haneng garbbha), termasuk pula tujuh sungai (sapta gangga), tujuh danau (sapta ranu), hingga tujuh tingkat kasunyatan (sapta sunya). Dengan kekuatan jnyana, amerta diturunkan dengan gagelaran wisarga dan nungswara. Maka, penyucian dilakukan di dalam sarira.

Proses persembahyangan di Pura Pulaki justru tak banyak dijelaskan oleh Ida Padanda Ngurah, padahal itu tujuan utama beliau. Barangkali, analogi batu di pinggir jurang serupa pendeta yang mapuja dengan penjelasan panjang lebar itu adalah aktivitas beliau sendiri. Begitulah cara seorang Kawi yang jnyananya tinggi merendahkan hati.

Harimau Bali di Banyu Wedang

Setelah bersembahyang di Pura Pulaki, Ida Padanda Ngurah bersama rombongan melanjutkan perjalanan. Di wilayah Pemuteran, terlihat tiga buah telaga dan satu air panas yang bisa melenyapkan duka lara serta menyucikan diri. Selanjutnya, di wilayah Pagametan juga ada satu telaga suci yang bagaikan taladwaja. Rombongan sedikit tersentak ketika tengah malam sampai di Banyu Wedang. Saat itu, air laut tiba-tiba surut.

Harimau Bali | Gambar diolah dengan AI

Di dalam hutan terlihat tirta yang berkilau karena disinari oleh Hyang Sitangsu (Bulan). Ada empat jumlahnya. Ketika air suci tersebut hendak diambil, beberapa pengawal yang ikut dalam rombongan Ida Padanda Ngurah melihat tiga ekor harimau yang sedang berada di tengah telaga. Selengkapnya mari kita simak kutipan di bawah ini.

Hana rakwa tinon dhening wadwanning ngwang, mrĕggha natta ya katriṇi, ring saṇdhinging sĕndhang, sigra yā umintar (Kidung Yajnyeng Ukir, bait 315).

Terjemahan.

Ada yang dilihat oleh pengawalku, yaitu tiga ekor harimau, di tengah telaga, dengan segera mereka pergi.

Kata mrêggha natta dalam kutipan di atas mengacu pada harimau. Kata mrêggha berarti ‘binatang hutan’, sedangkan kata natta berarti ‘raja’. Oleh sebab itu, mrĕggha natta berarti raja binatang hutan yang bermakna sama dengan harimau atau singa[vi]. Dalam konteks ini yang dimaksud  mrĕggha natta adalah harimau, khususnya harimau Bali (panthera tigris Balica).

Karena melihat harimau Bali itu, para pengawal melarang Ida Padanda Ngurah untuk menyucikan diri di sana. Namun demikian, Sang Pendeta tetap teguh untuk menyucikan diri di tempat itu. Ketika menyentuhkan kaki untuk pertama kalinya di air, beliau terperangah karena airnya ternyata panas. Sesuai dengan nama wilayahnya, tirta itu memang Banyu Wedang ‘air panas’. Ida Padanda Ngurah sangat meyakini air panas tersebut dapat mengobati berbagai penyakit.

Usai bertemu dengan harimau Bali dan melakukan penyucian diri di Banyuwedang, Ida Padanda Ngurah kembali pulang ke Gria Banjar untuk selanjutnya ke Gria Belayu. Perjalanan pulang dari tirta gamana ini juga menjelaskan Ida Padanda Ngurah sempat bersembahyang di Danau Tamblingan sebelum akhirnya sampai di Gria Gede Belayu dan mendapatkan berita bahwa Raja Belayu tengah sakit keras dan wafat.

Harimau Bali Pasca 1919

Demikianlah penggalan kisah pertemuan antara Ida Padanda Ngurah dengan harimau Bali di wilayah Bali Utara, tepatnya di Banyuwedang. Kala itu, masih ada tiga ekor harimau Bali yang masih hidup. Artinya, di sekitar tahun 1919 Masehi harimau Bali belum punah sepenuhnya.

Sulit dibayangkan, betapa takutnya para pengawal yang mendampingi Ida Padanda Ngurah ketika melihat tiga raja hutan itu sedang berada di telaga (kolam) Banyu Wedang. Sesungguhnya, para pengawal itu meminta Ida Padanda Ngurah untuk menjauh, tetapi beliau tetap ingin menyucikan diri di pemandian itu dengan teguh.  

Bagi para pengawal dan masyarakat awam, melihat harimau di tengah malam pastilah situasi yang mencekam. Akan tetapi, berbeda dengan seorang pendeta pemuja Shiwa seperti Ida Padanda Ngurah. Shiwa dalam berbaga arca sering diwujudkan dengan figur yang mengenakan busana dan duduk di atas kulit harimau sebagai simbol kemenangan atas sifat kebinatangan. Barangkali demikian pula dengan kualitas kesucian yang telah dicapai oleh Ida Padanda Ngurah. Perjumpaan dengan harimau Bali tak lagi membahayakan tetapi membahagiakan.

Harimau Bali, ditembak tahun 1920 | Sumber: Instagram Sejarah Bali

Namun sayang, setelah itu tepatnya tahun 1920 ada berita harimau Bali ditembak oleh M. Zanveld. Adakah itu harimau yang sama dengan yang ditemui oleh Ida Padanda Ngurah? Ketika melihat foto harimau itu, saya tidak sanggup lagi melanjutkan tulisan ini. [T] 


[i] Kidung Yajnyeng Ukir diterjemahkan oleh Guna Yasa, dan diterbitkan Perpusnas tahun 2023.

[ii] Informasi dari akun Instagram Sejarah Bali, tanggal 5 April 2024.

[iii] Ibid.

[iv] Informasi didapatkan dari akun Intsagram Kolonial_Verslag, 7 April 2024.

[v] Baca, Palguna, 2015: 202.

[vi] Zoetmulder, 2004: 674.

BACA artikel lain dari penulis PUTU EKA GUNA YASA

Niksayang Peplajahan: Tujuan Ida Padanda Made Sidemen Menjadi Pendeta
Nurat Asing Gon : Kunci Produktivitas Ida Padanda Made Sidemen dalam Bersastra
Hari Lahir dan Pantangan Makanannya dalam Lontar Pawetuan Jadma Ala Ayu
Tags: Guna Yasaharimau baliIda Pedanda NgurahkidungKidung Yadnyeng Ukirsastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Hal yang Didapat dan Hal yang Ditinggalkan Saat Antrean Pemudik di Gilimanuk

Next Post

Kilas Balik Jegeg Bagus Buleleng 2024: Berbudi Baik Seperti Padma, Berpikir Tajam Seperti Panah Arjuna

Putu Eka Guna Yasa

Putu Eka Guna Yasa

Pembaca lontar, dosen FIB Unud, aktivitis BASAbali Wiki

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
Kilas Balik Jegeg Bagus Buleleng 2024: Berbudi Baik Seperti Padma, Berpikir Tajam Seperti Panah Arjuna

Kilas Balik Jegeg Bagus Buleleng 2024: Berbudi Baik Seperti Padma, Berpikir Tajam Seperti Panah Arjuna

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co