25 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menguatnya Kontrol Global dan Melemahnya Kontrol Lokal atas Lahan-lahan di Bali

I Nyoman Gede Maha Putra by I Nyoman Gede Maha Putra
November 30, 2024
in Esai
Menguatnya Kontrol Global dan Melemahnya Kontrol Lokal atas Lahan-lahan di Bali

Pemandangan di Bali. Kendali petani atas lahan sawahnya dalam intaian investasi global. | Foto: Maha Putra

DI tengah meningkatnya laju kunjungan wisatawan, model pembangunan kawasan di Bali saat ini mengarah kepada enclave. Enclave adalah sebuah kawasan yang dibangun secara khusus dengan perimeter yang tegas memiliki luasan yang relatif besar dan di dalamnya terdapat berbagai fasilitas untuk melayani penghuninya.

Meski tidak menyebutkan secara khusus, enclave ini tidak hanya berfungsi untuk melayani kepentingan wisatawan secara ekslusif tetapi juga berfungsi sebagai instrument investasi. Itulah sebabnya  lokasi-lokasi tempat enclave ini berada di dekat kawasan wisata yang sedang berkembang dimana nilai lahan terus mengalami peningkatan. Reputasi tempat menjadi penting untuk menarik minat investor global.

Data kunjungan wisatawan sejak 1965-2023 menunjukkan jika jumlah kunjungan belum mencapai angka seperti sebelum covid tetapi lajunya jauh lebih cepat sehingga dalam waktu singkat angka tersebut akan segera terlampaui. | Sumber: diolah dari BPS Provinsi Bali

Wujud dari enclave ini berupa kawasan wisata yang direncanakan secara eksklusif, seperti resor all-inclusive, komunitas villa yang terjaga keamanannya dalam bentuk gerbang satu pintu (one gate system), beach club atau day club dengan fasilitas lengkap, dan pantai yang diprivatisasi.

Dalam satu dekade terakhir, jumlah fasilitas semacam ini meningkat dengan pesat. Termasuk juga di dalamnya adalah kompleks villa-villa yang bisa dimiliki secara pribadi yang dilengkapi fasilitas publik dengan sistem bagi hasil yang menggiurkan para pemilik modal.

Menilik dari jenis fasilitas yang disediakan, skala luas yang dicakup hingga lokasi yang ada di kawasan premium maka dapat dipastikan bahwa ada investasi sangat besar yang ditanamkan. Dana-dana besar tersebut sangat kecil kemungkinan dimiliki oleh orang lokal sehingga pemiliknya merujuk aktor-aktor global yang memiliki dana besar, serta melibatkan kuasa politik yang kuat untuk meloloskan perijinannya.

Secara wujud, ciri-ciri pokoknya adalah adanya pemisahan secara fisik dan simbolik dengan kawasan sekitar yang membuatnya tidak memiliki koneksi langsung dengan masyarakat serta struktur ekonomi lokal. Enclave-enclave ini seperti ‘pulau-pulau’ ekslusif di tengah lautan lansekap vernacular sekitarnya. Seringkali secara kasat mata menunjukkan adanya kesenjangan kuasa, ketidakadilan social akibat konsentrasi infrastruktur di kawasan tersebut, dan bisa mengarah pada praktik-praktik pembangunan yang tidak berkelanjutan. Meski banyak menggunakan jargon-jargon lokal seperti Tri Hita Karana, Nawa Sanga, dan sebagainya, dalam praktiknya justru tujuan untuk mengumpulkan kapital sangat kentara.

Saat ini, kondisi kawasan mungkin terlihat baik-baik saja, tetapi ada potensi dampak negatif yang akan terjadi di masa yang akan datang.

Realita kawasan enclavic ini memisahkan wisatawan atau pemilik yang beraktivitas di dalamnya dengan realitas sosial di sekitarnya karena akses penduduk lokal yang dikontrol bahkan dicegah. Akses hanya berlaku untuk tujuan kerja. Pekerja lokal pun seringkali menempati hirarki bawah: tukang kebun, satpam, sopir, room service.

Dalam proses pembangunannya, seringkali masyarakat lokal selaku ‘tuan rumah’ tidak memiliki akses memadai sejak tahap penetapan lokasi, pemberian ijin, perencanaan kawasan, perancangan arsitektur hingga operasional dari kawasan-kawasan terbatas tersebut. Hal ini menunjukkan dengan jelas adanya kekuatan-kekuatan aktor eksternal baik itu pemodal, developer, perencana hingga arsitek non-lokal yang bekerja di balik terwujudnya kawasan enclave.

Dengan demikian, wujudnyapun lebih memenuhi tuntutan dan selera global atau setidaknya hanya memenuhi pandangan para aktornya terhadap Bali.

Enclave pertama yang hadir di Bali, bolehdibilang, adalah kompleks Batujimbar yang diinisiasi oleh Donald Friend bersama rekan bisnisnya Wija Waworuntu. Beruntung bagi Bali karena yang mereka undang ke Bali adalah arsitek regionalis Geoffrey Bawa. Meskipun merupakan aktor global, kelompok ini merupakan pecinta budaya lokal yang kental.

Sebelum mulai merancang, Bawa melakukan studi mendalam tentang arsitektur di Bali. Hasil rancangannya dengan wujud tidak kontras dengan bangunan dan lansekap lokal Bali menjadi awal mula kelahiran gaya arsitektur resort Bali Style.

Meski demikian, ruang-ruang yang dia rancang sebetulnya sangat modern. Interior rumah-museum Donald Friend, yang ada di dalam kawasan tersebut, dirancangnya lebih mendekati loft ala kota besar dunia seperti di London atau New York. Untunglah secara tektonika, Bawa mengambil referensi bangunan Bale Kambang di Kertagosa.

Enclave yang lebih gigantic adalah kawasan BTDC Nusa Dua. Tujuan pembangunannya memang mau memisahkan fasilitas turis dengan permukiman masyarakat. Ini lahir dari kekhawatiran konsultan SCETO yang memprediksi jika keduanya digabung akan berdampak buruk bagi kebudayaan Bali yang menjadi modal dasar pengembangan kepariwisataan.

Selain enclave, konsultan asal Perancis ini juga merekomendasikan stop-over. Tujuannya sama, agar turis tidak menganggu aktivitas budaya Masyarakat. Ini adalah keterlibatan konsorsium besar pertama di dunia dimana perencanaan dan pembangunannya dibiayai oleh Lembaga keuangan global, World Bank, melibatkan actor-aktor global dan nasional, konsultan SCETO, dengan amat sangat sedikit keterlibatan orang Bali.

Enclave Nusa Dua yang mulai dikenalkan tahun 1971, melalui Bali Tourism Masterplan, tidak menarik minat investor yang masih skeptis dengan potensi pariwisata Bali. Pemerintah akhirnya membuka hotel pertama, Nusa Dua Beach Hotel, sebagai pancingan. Arsiteknya adalah Dharmawan Prawirohardjo yang sempat magang di WATG, konsultan resort terkemuka. Seperti juga Bawa, Dharmawan mengambil referensi lokal dalam mewujudkan rancanganya.

Setelah itu, barulah dimulai pembangunan oleh swasta dengan banyak kemudahan dan insentif yang diberikan oleh pemerintah. Karena SCETO khawatir jika Pembangunan oleh investor global bisa merusak modal kebudayaan, maka mereka juga merekomendasikan agar pembangunan diawasi dengan ketat  sehingga muncul badan Design Committee yang bertanggung jawab atas wujud fisik kawasan.

Enclave ini berjalan mulus. Tetapi kawasan serupa yang muncul tahun 1990-an mendapat banyak penolakan. Bali Pecatu Graha, BTID di Serangan, Bali Nirwana Resort, hingga pengembangan Kawasan Padang Galak ramai penolakan dengan demo berjilid-jilid. Penolakan ini muncul akibat minimnya kontribusi langsung dari pengembangan enclave-enclave ini bagi mata pencaharian penduduk yang sebagian besar adalah petani. Kehadirannya juga dianggap menganggu indentitas simbolik hingga dapat mempengaruhi kesejahteraan spiritual masyarakat.

Bukan kebetulan jika semua enclave yang ditolak tersebut berlokasi di dekat kawasan pantai yang disucikan oleh penduduk lokal.

Gerakan kapital global yang dinamis belakangan ini, setelah dibukanya sekat-sekat investasi antar negara, membuat pembangunan enclavic kembali menjadi trend. Tidak perlu insentif karena nama Bali terlanjur menjadi merk dagang dengan banyaknya predikat dan penghargaan yang disandangnya. Tidak banyak penolakan yang terjadi karena masyarakat Bali sudah memiliki ketergantungan yang akut terhadap pariwisata. Angka-angka kunjungan yang melonjak drastis setelah dibukanya bandara pasca pandemi menarik minat wisatawan yang selanjutnya juga mengundang investor global.

Pemerintah daerah yang ekonominya tiarap selama dua tahun masa pandemi menyambut kehadiran tamu-tamu ini dengan antusias. Antusiasme yang ditunjukkan ini juga menjalar kepada berbagai kemudahan ijin masuk, ijin tinggal, serta peluang membuka usaha di Bali. Ini menjadi kondisi ideal bagi masuknya modal global yang digerakkan sistem neoliberalistik untuk mendorong pembangunan enclavic.

Kendali petani atas lahan sawahnya dalam intaian investasi global | Foto: Maha Putra

Karakter enclave baru ini terbagi dua. Yang pertama adalah yang disponsori oleh pemerintah. Enclave kategori kedua merupakan kawasan yang dikembangkan oleh swasta. Enclave yang dikembangkan oleh pemerintah bersifat tematik, memfasilitasi kapital-kapital besar dan strategis bagi perekonomian negara. Lokasi yang dipilih tentu saja bukan tempat sembarangan tetapi yang memiliki akses sangat memadai ke bandar udara karena penggunanya diproyeksikan berasal dari luar pulau bahkan luar negeri. Wujudnya adalah Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) dimana pemerintah dan pengembang swasta bekerjasama dalam perwujudannya. Pemerintah menyediakan aturan-aturan terkait dengan perijinan sementara swasta berinvestasi dalam wujud fisik dan operasional kawasan ekslusif ini.

Enclave jenis kedua adalah yang diinisiasi dan dikembangkan oleh swasta. Meski tidak secara terbuka didukung oleh pemerintah, pembangunannya juga difasilitasi oleh elit-elit birokrasi lokal. Tanpa pihak ini, dipastikan hal-ihwal perijinan akan rumit. Bentuk yang kedua ini juga masih bisa dibagi ke dalam kategori lagi dari segi pembiayaan. Ada yang dibiayai oleh pemodal satu perusahaan dan ada juga yang dibangun dengan modal yang diakumulasi dari banyak pemodal kecil atau diistilahkan dengan co-funding.

Dalam penyediaannya, pengembang bertugas memilih lokasi yang memiliki nilai lahan yang terus meningkat sehingga bagus sebagai instrumen investasi, menyeleksi arsitek ternama yang memiliki nilai jual di mata calon investor, memberi pekerjaan kepada kontraktor yang mampu memberi harga terbaik dengan kualitas yang bagus, menyediakan supplier material kualitas bagus dan harga terjangkau.

Selain itu, peran para penjual, marketer, juga tidak bisa diabaikan. Mereka memiliki kemampuan memprediksi pasar, menghitung pengembalian modal serta keuntungan, memitigasi kemungkinan kegagalan investasi serta memberi jaminan keamanan investasi. Ini adalah kelompok yang memberi rasa nyaman bagi para calon investor. Bayarannya bisa sangt tinggi atas jasa yang diberikan.

Proses pembangunan enclavic oleh swasta juga memiliki tingkat kerawanan hukum. Persoalan agraria, masalah perijinan, urusan perbankan dan hal lainnya bisa menjadi potensi yang bisa menimbulkan persoalan. Pengembang umumnya akan menyewa pengacara yang bertugas mengurus asas-asas legalitas. Lokasi yang strategis, keterlibatan arsitek ternama, jaminan kemanan finansial, serta kenyamanan dari sisi legal adalah pancingan bagi investor dalam menanamkan modalnya di property enclavic.

Kita hari ini menyaksikan beberapa proyek enclavic swasta berukuran besar di Bali mulai dari Nuanu City di Tabanan, ParQ di Ubud dan di beberapa lokasi lainnya, proyek-proyek milik kelompok Magnum, komplek-komplek villa dan apartment sewa dan seterusnya dibangun di Lokasi-lokasi paling premium yang ada di Bali.

Tugas utama dari proyek-proyek ini adalah sebagai mesin uang bagi para investor globalnya. Sebagai mesin uang, maka  harus menarik perhatian dengan desain-desain arsitektur spektakuler. Desain yang biasa saja? Lupakan saja. Impor-impor wujud arsitektur yang laku secara global terjadi tanpa bisa ditahan. Pertahanan perijinan seperti jaring jebol saat berhadapan dengan pemodal raksasa.

Keberhasilannya mencetak keuntungan besar membuat model pembangunan semacam ini menjadi semakin lumrah. Lokasi-lokasi baru terus dicari dan dikembangkan. Tanpa sadar, kita semakin kehilangan kontrol atas lahan-lahan yang ada di Bali karena ada dalam genggaman kuasa aktor global. Sekali berkuasa, mereka dengan leluasa memanfaatkan lahan-lahan tersebut dengan cara disewakan, dikomersialkan, dialihtangankan, atau dijadikan sebagai lokasi festival-festival global mendatangkan DJ, dancers, penghibur pertunjukan kelas dunia.

Modal investasi di dalam enclave berputar cepat dalam jumlah besar. Tetapi Masyarakat lokal, yang sudah kehilangan kontrolnya atas lahan-lahan tersebut dan memiliki akses yang terbatas, tidak mendapat keuntungan langsung dari aktivitas di dalam enclave. Jikapun ada, bentuknya hanya bersifat sekunder atau tertier seperti menjadi sopir taksi online yang mengantar tamu ke bandara atau hotel selepas pesta.

Model pembangunan enclavis saat ini tidak menunjukkan tanda-tanda akan surut. Malah, semakin banyak model-model investasi yang ditawarkan dengan berbagai skema keuangan yang kian canggih. Ini menyebabkan para pengembang menjadi semakin terpacu untuk menambah cabang-cabang enclave nya. Di sinilah letak masalah akan muncul.

Bagaimana jika sebagian besar kawasan di Pantai Nyanyi menjadi enclave? Ke mana penduduk lokal akan pindah? Bagaimana jika sebagian besar lokasi-lokasi tepian pantai dikuasai oleh investor-investor global? Bagaimana sistem kontrol akan diberlakukan? Bagaimana jika ruang-ruang simbolik masyarakat lokal dikuasai dan direncanakan menurut keinginan kapital global?

Masih banyak pertanyaan yang berputar dan membutuhkan pemikiran. Mohon maaf, tidak ada gambar meyakinkan soal ini. [T]

  • BACA artikel tentang ARSITEKTUR atau artikel lain dari penulis GEDE MAHA PUTRA
Menyaksikan Wujud Neoliberalisme Ekonomi melalui Perkembangan Arsitektur di Bali: Sebuah Autokritik
Limit Arsitektur dalam Menyongsong Abad Urban
Arsitektur Regeneratif dan Pembangunan Kapitalistik : Menuliskan Bali dan Arsitektur Desa Potato Seminyak
Proyek-proyek Besar (di Bali) Dimana Arsitektur Merupakan Alat untuk Mengakumulasi Kapital
Eksperimen Arsitektur di Tengah Pasar Wisata Bali yang Makin Besar
Siasat Singapura Membangun Gedung Megah Tanpa Boros Energi
Tags: arsitekturarsitektur internasionalenclavePariwisatapariwisata bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mahasiswa NTT di Denpasar: Dari Masak Bersama di Kos, Doa Bersama di Kampus Hingga Aksi Sosial di Jalanan

Next Post

Kekalahan dan Kemenangan: Pelajaran Hidup yang Menyeimbangkan

I Nyoman Gede Maha Putra

I Nyoman Gede Maha Putra

Dosen arsitektur di Universitas Warmadewa

Related Posts

Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

by Azhari M. Latief
June 24, 2026
0
Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut...

Read moreDetails

Membaca Demokrasi Abu-Abu Indonesia

by Chusmeru
June 24, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis...

Read moreDetails

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails
Next Post
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran

Kekalahan dan Kemenangan: Pelajaran Hidup yang Menyeimbangkan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pengabdian Internasional Undiksha & Ubon Ratchathani University —Perkuat Kesadaran Antarbudaya Bali-Thailand
Pendidikan

Pengabdian Internasional Undiksha & Ubon Ratchathani University —Perkuat Kesadaran Antarbudaya Bali-Thailand

SINGARAJA – TATKALA.CO | Tim Pengabdi Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Undiksha sukses menggelar International Community Service-Based Workshop bertajuk “PROMOTING...

by tatkala
June 25, 2026
Semantik Logistik Modern: Kargo, Ekspedisi, dan Paket
Bahasa

Semantik Logistik Modern: Kargo, Ekspedisi, dan Paket

BAGI orang awam di bidang kargo seperti saya, kata kargo selalu memantik imajinasi tentang gudang yang pengap, deru mesin, aroma...

by I Made Sudiana
June 25, 2026
Buat Apa Merekonstruksi Kesenian Langka?
Khas

Buat Apa Merekonstruksi Kesenian Langka?

DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang...

by Dede Putra Wiguna
June 25, 2026
‘A Night of Broadway’: Ketika Anak-Anak Janawati Academy of Performing Arts (JAPA) Bawakan Kisah-Kisah Dunia dalam Satu Panggung Musikal
Panggung

‘A Night of Broadway’: Ketika Anak-Anak Janawati Academy of Performing Arts (JAPA) Bawakan Kisah-Kisah Dunia dalam Satu Panggung Musikal

PERNAHKAH Anda menyaksikan kisah Aladdin, Rapunzel, atau The Little Mermaid? Pada Sabtu malam, 20 Juni 2026, kisah-kisah yang selama ini...

by Dede Putra Wiguna
June 25, 2026
Kolaborasi Osaka Gakugei High School Jepang dengan Toska
Khas

Kolaborasi Osaka Gakugei High School Jepang dengan Toska

SEBANYAK 48 siswa Osaka Gakugei High School Jepang mengunjungi SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska)  pada Selasa, 23 Juni 2026...

by I Nyoman Tingkat
June 24, 2026
Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil
Persona

Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi...

by Jaswanto
June 24, 2026
Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring
Esai

Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut...

by Azhari M. Latief
June 24, 2026
‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Pentas

‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026

RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di...

by Yudi Laksana
June 24, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Topeng Politik dan Ujian Demokrasi Indonesia

SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan...

by I Made Pria Dharsana
June 24, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Membaca Demokrasi Abu-Abu Indonesia

LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis...

by Chusmeru
June 24, 2026
Duri Akar dan “Sungga”
Bahasa

Duri Akar dan “Sungga”

SAYA bukan tukang panen umbi yang cakap. Memanen umbi gembili, dua kali ujung linggis yang saya ayunkan justru menghunjam dan...

by Komang Berata
June 24, 2026
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi
Opini

Penangguhan Tahanan dan Ujian Kesetaraan Hukum

PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam...

by Ruben Cornelius Siagian
June 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co