14 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Perempuan Bercahaya Rembulan | Cerpen IBW Widiasa Keniten

IBW Widiasa Keniten by IBW Widiasa Keniten
April 27, 2025
in Cerpen
Perempuan Bercahaya Rembulan | Cerpen IBW Widiasa Keniten

Ilustrasi tatkala.co: Arix

PUTU Sunari duduk mematung. Ia memandang sekitar lapangan Ida Dewa Gung Jambe. Satu per satu seakan-akan bercerita padanya bahwa tanah ini berkubang darah. Darah memerah yang bersuara, ”Puputaaaaaaaaaaaaaaaaaaaan!”

Ia mengucek-ngucek mata. Darahnya mendidih sepertinya ia membaui amis di sekitar itu. Ia cari-cari bau itu di sudut-sudut lapangan. Tak ada yang ia lihat. Putu Sunari menenangkan jiwanya. Ia ingat tanggal itu, 28 April. Tanggal keramat sebagai pertaruhan jiwa kesatria yang tak akan pernah pupus.

Ia padangi orang-orang sekitar yang menyibukkan dirinya. Pedagang-pedagang minuman mulai menjajakan makanan dan minumannya. Satu dua orang anak membeli lumpia yang menjadi kesukaan mereka. Mereka menepi menikmati lumpia sore itu.

Putu Sunari bangun mengitari lapangan Puputan Klungkung. Jiwanya seperti ada yang ingin dicarinya pada hari itu. Darahnya sedikit mendesir dan bulu kuduknya berdiri.

“Kenapa tumben seperti ini?” bisiknya. “Bukankah aku sering ke lapangan ini?”

Hari itu pa merasakan ada bau darah di lapangan itu.

“Apa orang-orang itu juga merasakan seperti yang kurasakan?” Ia menanyai dirinya sendiri.

Sudah puluhan tahun Putu Sunari hidup di tanah puputan. Ia menikah dengan pria yang menjadi impiannya. Penyatuan jiwanya dijalankan di Semarapura. Doa-doa Ida Padandha terngiang di hatinya. Suara gentanya seakan menyiratkan ketenangan dalam hidupnya. Tapi, jalan hidup menjadi berbeda, setelah melahirkan anak pertamanya laki-laki penjaga jiwa raganya mendahului dirinya.

Hati siapa yang tak sedih ditinggal suami. Ia menjanda. Menjadi janda muda. Beberapa laki-laki sempat mendekatinya. Ia urungkan kata hatinya.

”Di hatiku hanya ada Beli Satia. Ia belahan jiwaku. Tak ada laki-laki yang melebihi dirinya. Cukup satu laki-laki di hatiku. Anakku sebagai pengganti Beli Satia.”

Setelah suaminya meninggal, ia tak lagi mau membagi cinta. Cintanya ia curahkan pada anak satu-satunya. Anak adalah leluhur yang menjalani proses karma. Ia tahu itu. Beberapa  laki-laki yang mengaku setia tak mampu mengubah ketetapan hatinya. Ia setia pada satu laki-laki.

“Istriku, apa yang kau cari?”

Putu Sunari seperti mendengar suara suaminya yang telah mendahului  menuju karang wayah. Kematiannya juga pada tanggal 28 April. Tanggal yang selalu mengingat perjalanan hidupnya.

“Bukankah bau itu yang kau cari, Istriku?”

Kembali ia tersentak. Suara suaminya membuntuti jalan kesendiriannya.

“Benar Beli. Kok Beli tahu?”

Suaminya seperti nyengir. “Beli, juga mencari bau itu. Sedari tadi beli mencari tak juga ketemu. Mungkin sudah menyatu dengan tanah di sini.”

Putu Sunari tak menyahut. Ia menyadari bahwa itu hanya percakapan ilusi. Hanya hatinya saja yang bicara. Semuanya itu adalah maya, semu belaka.

Perlahan-lahan ia tak lagi mendengar suara suaminya. Ia suntuk menatap setiap tempat yang dirasakannya memunculkan bau amis itu. Ia tatap gapura puri yang menceritakan perjalanan Klungkung.

Ia dengar sayup-sayup anak-anak memainkan gamelan. Gamelan itu mengingatkan dirinya saat berlatih menari di puri itu. Tubuhnya meliuk-liuk. Putu Sunari menari. Ia tak peduli orang-orang sekitarnya memandanginya. Orang-orang di sekitarnya kaget. Putu Sunari linglung dan rubuh. Tubuhnya membentur bumi.

Orang-orang berteriak, ”Ada perempuan pingsan. Tolong segera dibantu!” Beberapa orang menggotongnya dan memijiti kakinya.

Perlahan kesadaran Putu Sunari mulai tumbuh. “Ada apa denganku?” tanyanya.

“Kami lihat Ibu menari sedari tadi, tiba-tiba tubuh ibu rubuh dan membentur tanah. Syukurlah Ibu mulai sadar.”

“Terima kasih,” kata Putu Sunari. Ia melangkah menjauhi kerumunan orang tadi. Ia tak mau bercerita lagi. Ia berusaha menjaga keseimbangan jiwanya. Malu jika nanti kembali pingsan. Ia tak mau merepotkan orang lain.

Malam membuka lembaran baru, Putu Sunari masih tetap di lapangan Dewa Agung  Jambe. Ia ingin tahu di mana pusat bau amis itu berada. Rembulan mulai menampakkan wajah cantiknya, naik perlahan. Awan putih tipis menyapu wajahnya, ada bayangan seorang dewi memintal benang. Ia tatap rembulan itu.

Matanya tertuju pada sosok yang dipercayainya sebagai Dewi Rembulan. Mulutnya berbisik, “Dewi tunjukkan di mana bau amis itu berada?”

Ia rasakan wajahnya disapu oleh bayangan rembulan. Kesunyian dan kesejukan merambati hatinya.

Ia rasakan tubuhnya melayang menuju rembulan. Wajahnya menyatu dengan wajah Dewi Malam. Ia tanyakan yang dicarinya. Senyum manis sang dewi meluluhkan keinginannya. Ia tertidur di pangkuan rembulan.

“Kau terlalu lelah menjalani hidup. Tak usah terlalu berharap pada sesuatu yang tiada pasti. Jalani hidupmu dan ingatlah akan kata hatimu.”

Putu Sunari terbangun. Ia usap-usap matanya. “Maaf, hamba telah menganggu yoga sang Dewi.”

“Tidak usah gundah seperti itu. Hatimu cobalah dirawat. Berikan ia ketenangan walau sebentar saja. Bau amis yang kau baui itu telah menyatu dengan hatimu. Ia tak tampak, bau itu telah menyatu dengan tanah Klungkung. Rawatlah tanah itu agar rasa puputan terus membara di hatimu.”

Putu Sunari terdiam.

“Sekarang pulanglah. Anakmu telah menunggumu sedari tadi. Itu lihat di angkul-angkul rumahmu. Ia telah menanti kehadiranmu.”

Putu Sunari memanggil anaknya yang menunggunya.

“Nak, Naaaaaaaaaaaaak! Sekarang Puputan!”

Tak ada balasan. Mulut Putu Sunari terasa kelu, hanya lambaian anaknya yang diterimanya. [T]

Penulis: IBW Widiasa Keniten
Editor: Adnyana Ole

  • KLIK untuk BACA cerpen lain
Lebih Gelap dari Palung Mariana | Cerpen Anggit Rizkianto
Ketut Asti | Cerpen Yuditeha
Lelaki yang Menghilang di Tengah Laut | Cerpen Pry S.
Perbincangan Rindu | Cerpen Lanang Taji
Daging Sapi Pesanan Ibu | Cerpen Eyok El-Abrorii
Doa Kembang Turi |  Cerpen Heri Haliling
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Cerita Seorang Penjual Endek

Next Post

Bimo Seno dan Dolog Gelar Pertandingan Tenis Lapangan di Denpasar

IBW Widiasa Keniten

IBW Widiasa Keniten

Ida Bagus Wayan Widiasa Keniten lahir di Geria Gelumpang, Karangasem. 20 Januari 1967. Buku-buku yang sudah ditulisnya berupa karya sastra maupun kajian sastra. Pemenang Pertama Guru Berprestasi Tingkat Nasional Tahun 2013 dan Penerima Tanda Kehormatan Satyalancana Pendidikan Tahun 2013 dari Presiden, Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono, Rabu, 27 November 2013 di Istora Senayan Jakarta. Tahun 2014 ikut Program Kunjungan (Benchmarking) ke Jerman, selanjutnya ke Paris (Prancis), Belgia, dan Amsterdam (Belanda). 2014 menerima penghargaan Widya Kusuma dari Gubernur Bali. Tahun 2015 memeroleh Widya Pataka atas bukunya Jro Lalung Ngutah.

Related Posts

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails
Next Post
Bimo Seno dan Dolog Gelar Pertandingan Tenis Lapangan di Denpasar

Bimo Seno dan Dolog Gelar Pertandingan Tenis Lapangan di Denpasar

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI
Esai

Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

SUDAH lama saya ingin membicarakan persoalan bahasa daerah, khususnya bahasa Bali, di tengah ingar-bingar berbagai lomba seni dan sastra berbahasa...

by Nanoq da Kansas
September 14, 2026
“Anjirlah!” Gue Dicibir Gara-Gara Bilang “Anjir!”
Esai

“In This Economy”: Ketika Ketakutan Finansial Mengalahkan Insting Biologis

SECARA biologis dan naluriah, dorongan untuk memelihara keberlanjutan spesies melalui reproduksi adalah fitrah paling mendasar bagi makhluk hidup. Namun, dalam...

by Faikar Ramadhan
September 14, 2026
Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik
Khas

Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

“Perdagangan bebas di Indo-Pasifik tidak berlangsung dalam arena yang setara. Dalam sektor pertanian, integrasi pasar tanpa perlindungan yang memadai justru...

by Afgan Fadilla
September 14, 2026
SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12
Ulas Film

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi
Cerpen

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar
Puisi

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang
Esai

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali
Panggung

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali
Khas

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co