25 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Perempuan Bercahaya Rembulan | Cerpen IBW Widiasa Keniten

IBW Widiasa Keniten by IBW Widiasa Keniten
April 27, 2025
in Cerpen
Perempuan Bercahaya Rembulan | Cerpen IBW Widiasa Keniten

Ilustrasi tatkala.co: Arix

PUTU Sunari duduk mematung. Ia memandang sekitar lapangan Ida Dewa Gung Jambe. Satu per satu seakan-akan bercerita padanya bahwa tanah ini berkubang darah. Darah memerah yang bersuara, ”Puputaaaaaaaaaaaaaaaaaaaan!”

Ia mengucek-ngucek mata. Darahnya mendidih sepertinya ia membaui amis di sekitar itu. Ia cari-cari bau itu di sudut-sudut lapangan. Tak ada yang ia lihat. Putu Sunari menenangkan jiwanya. Ia ingat tanggal itu, 28 April. Tanggal keramat sebagai pertaruhan jiwa kesatria yang tak akan pernah pupus.

Ia padangi orang-orang sekitar yang menyibukkan dirinya. Pedagang-pedagang minuman mulai menjajakan makanan dan minumannya. Satu dua orang anak membeli lumpia yang menjadi kesukaan mereka. Mereka menepi menikmati lumpia sore itu.

Putu Sunari bangun mengitari lapangan Puputan Klungkung. Jiwanya seperti ada yang ingin dicarinya pada hari itu. Darahnya sedikit mendesir dan bulu kuduknya berdiri.

“Kenapa tumben seperti ini?” bisiknya. “Bukankah aku sering ke lapangan ini?”

Hari itu pa merasakan ada bau darah di lapangan itu.

“Apa orang-orang itu juga merasakan seperti yang kurasakan?” Ia menanyai dirinya sendiri.

Sudah puluhan tahun Putu Sunari hidup di tanah puputan. Ia menikah dengan pria yang menjadi impiannya. Penyatuan jiwanya dijalankan di Semarapura. Doa-doa Ida Padandha terngiang di hatinya. Suara gentanya seakan menyiratkan ketenangan dalam hidupnya. Tapi, jalan hidup menjadi berbeda, setelah melahirkan anak pertamanya laki-laki penjaga jiwa raganya mendahului dirinya.

Hati siapa yang tak sedih ditinggal suami. Ia menjanda. Menjadi janda muda. Beberapa laki-laki sempat mendekatinya. Ia urungkan kata hatinya.

”Di hatiku hanya ada Beli Satia. Ia belahan jiwaku. Tak ada laki-laki yang melebihi dirinya. Cukup satu laki-laki di hatiku. Anakku sebagai pengganti Beli Satia.”

Setelah suaminya meninggal, ia tak lagi mau membagi cinta. Cintanya ia curahkan pada anak satu-satunya. Anak adalah leluhur yang menjalani proses karma. Ia tahu itu. Beberapa  laki-laki yang mengaku setia tak mampu mengubah ketetapan hatinya. Ia setia pada satu laki-laki.

“Istriku, apa yang kau cari?”

Putu Sunari seperti mendengar suara suaminya yang telah mendahului  menuju karang wayah. Kematiannya juga pada tanggal 28 April. Tanggal yang selalu mengingat perjalanan hidupnya.

“Bukankah bau itu yang kau cari, Istriku?”

Kembali ia tersentak. Suara suaminya membuntuti jalan kesendiriannya.

“Benar Beli. Kok Beli tahu?”

Suaminya seperti nyengir. “Beli, juga mencari bau itu. Sedari tadi beli mencari tak juga ketemu. Mungkin sudah menyatu dengan tanah di sini.”

Putu Sunari tak menyahut. Ia menyadari bahwa itu hanya percakapan ilusi. Hanya hatinya saja yang bicara. Semuanya itu adalah maya, semu belaka.

Perlahan-lahan ia tak lagi mendengar suara suaminya. Ia suntuk menatap setiap tempat yang dirasakannya memunculkan bau amis itu. Ia tatap gapura puri yang menceritakan perjalanan Klungkung.

Ia dengar sayup-sayup anak-anak memainkan gamelan. Gamelan itu mengingatkan dirinya saat berlatih menari di puri itu. Tubuhnya meliuk-liuk. Putu Sunari menari. Ia tak peduli orang-orang sekitarnya memandanginya. Orang-orang di sekitarnya kaget. Putu Sunari linglung dan rubuh. Tubuhnya membentur bumi.

Orang-orang berteriak, ”Ada perempuan pingsan. Tolong segera dibantu!” Beberapa orang menggotongnya dan memijiti kakinya.

Perlahan kesadaran Putu Sunari mulai tumbuh. “Ada apa denganku?” tanyanya.

“Kami lihat Ibu menari sedari tadi, tiba-tiba tubuh ibu rubuh dan membentur tanah. Syukurlah Ibu mulai sadar.”

“Terima kasih,” kata Putu Sunari. Ia melangkah menjauhi kerumunan orang tadi. Ia tak mau bercerita lagi. Ia berusaha menjaga keseimbangan jiwanya. Malu jika nanti kembali pingsan. Ia tak mau merepotkan orang lain.

Malam membuka lembaran baru, Putu Sunari masih tetap di lapangan Dewa Agung  Jambe. Ia ingin tahu di mana pusat bau amis itu berada. Rembulan mulai menampakkan wajah cantiknya, naik perlahan. Awan putih tipis menyapu wajahnya, ada bayangan seorang dewi memintal benang. Ia tatap rembulan itu.

Matanya tertuju pada sosok yang dipercayainya sebagai Dewi Rembulan. Mulutnya berbisik, “Dewi tunjukkan di mana bau amis itu berada?”

Ia rasakan wajahnya disapu oleh bayangan rembulan. Kesunyian dan kesejukan merambati hatinya.

Ia rasakan tubuhnya melayang menuju rembulan. Wajahnya menyatu dengan wajah Dewi Malam. Ia tanyakan yang dicarinya. Senyum manis sang dewi meluluhkan keinginannya. Ia tertidur di pangkuan rembulan.

“Kau terlalu lelah menjalani hidup. Tak usah terlalu berharap pada sesuatu yang tiada pasti. Jalani hidupmu dan ingatlah akan kata hatimu.”

Putu Sunari terbangun. Ia usap-usap matanya. “Maaf, hamba telah menganggu yoga sang Dewi.”

“Tidak usah gundah seperti itu. Hatimu cobalah dirawat. Berikan ia ketenangan walau sebentar saja. Bau amis yang kau baui itu telah menyatu dengan hatimu. Ia tak tampak, bau itu telah menyatu dengan tanah Klungkung. Rawatlah tanah itu agar rasa puputan terus membara di hatimu.”

Putu Sunari terdiam.

“Sekarang pulanglah. Anakmu telah menunggumu sedari tadi. Itu lihat di angkul-angkul rumahmu. Ia telah menanti kehadiranmu.”

Putu Sunari memanggil anaknya yang menunggunya.

“Nak, Naaaaaaaaaaaaak! Sekarang Puputan!”

Tak ada balasan. Mulut Putu Sunari terasa kelu, hanya lambaian anaknya yang diterimanya. [T]

Penulis: IBW Widiasa Keniten
Editor: Adnyana Ole

  • KLIK untuk BACA cerpen lain
Lebih Gelap dari Palung Mariana | Cerpen Anggit Rizkianto
Ketut Asti | Cerpen Yuditeha
Lelaki yang Menghilang di Tengah Laut | Cerpen Pry S.
Perbincangan Rindu | Cerpen Lanang Taji
Daging Sapi Pesanan Ibu | Cerpen Eyok El-Abrorii
Doa Kembang Turi |  Cerpen Heri Haliling
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Cerita Seorang Penjual Endek

Next Post

Bimo Seno dan Dolog Gelar Pertandingan Tenis Lapangan di Denpasar

IBW Widiasa Keniten

IBW Widiasa Keniten

Ida Bagus Wayan Widiasa Keniten lahir di Geria Gelumpang, Karangasem. 20 Januari 1967. Buku-buku yang sudah ditulisnya berupa karya sastra maupun kajian sastra. Pemenang Pertama Guru Berprestasi Tingkat Nasional Tahun 2013 dan Penerima Tanda Kehormatan Satyalancana Pendidikan Tahun 2013 dari Presiden, Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono, Rabu, 27 November 2013 di Istora Senayan Jakarta. Tahun 2014 ikut Program Kunjungan (Benchmarking) ke Jerman, selanjutnya ke Paris (Prancis), Belgia, dan Amsterdam (Belanda). 2014 menerima penghargaan Widya Kusuma dari Gubernur Bali. Tahun 2015 memeroleh Widya Pataka atas bukunya Jro Lalung Ngutah.

Related Posts

Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
April 12, 2026
0
Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

PAGI baru menjelang, cahaya lembutnya merayap di balik pepohonan. Kadek Arya siap-siap berangkat mengajar ke sekolah. Tamat di Fakultas Sastra...

Read moreDetails

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

by Polanco S. Achri
April 11, 2026
0
Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

buat A.Hayya, Pak Saeful, dan Teater AwalGarut, juga seorang perempuan I. Ibu memandang jauh; sepasang matanya menggambarkan suatu yang tak...

Read moreDetails

Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
April 10, 2026
0
Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

- Katakan dia akan hidup lagi! - Dia sudah mati! - Dia akan hidup! Bangunkan dia. - Jangan, jangan, dia...

Read moreDetails

Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

by I Nyoman Sutarjana
April 5, 2026
0
Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

ASTRA menarik tangan ibunya, yang sedang jongkok. Sampah plastik yang dikumpulkan ibunya ia sisihkan. Ibu melepas cengkraman tangan Astra berusaha...

Read moreDetails

Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
April 4, 2026
0
Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

SETIAP tahun, orang-orang kota mendadak berubah menjadi makhluk spiritual. Mereka yang biasanya mengeluh soal panas, debu, tetangga berisik, dan harga...

Read moreDetails

Tari Sunari | Cerpen Gede Aries Pidrawan

by Gede Aries Pidrawan
March 28, 2026
0
Tari Sunari | Cerpen Gede Aries Pidrawan

LUH Sunari merasa tubuhnya berat. Semua yang tampak di sekelilingnya hitam. Pekat. Saat itulah sebuah bayang mendekat. Bayangan itu begitu...

Read moreDetails

Aku Tak Bisa Menulis Cerpen  |  Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
March 27, 2026
0
Aku Tak Bisa Menulis Cerpen  |  Cerpen Dede Putra Wiguna

AKU menatap layar laptop yang kosong. Luas, sunyi, dan membuat kepala terasa berdenyut. Kursor berkedip di pojok kiri atas dokumen,...

Read moreDetails

Umpan | Cerpen Putri Harya

by Putri Harya
March 22, 2026
0
Umpan | Cerpen Putri Harya

Aku tidak merasa melanggar norma. Aku juga tidak sedang melakukan dosa. Aku hanya mengusahakan takdirku dengan meniru apa yang sering...

Read moreDetails

Lebaran Tahun Ini | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
March 21, 2026
0
Lebaran Tahun Ini | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

DI kepalaku masih terngiang-ngiang oleh frasa nomina sayur bening dan lele goreng yang keluar dari mulut Darmuji. Sepertinya, itu merupakan...

Read moreDetails

Setahun Cinta di Kota Tua Karengan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
March 15, 2026
0
Setahun Cinta di Kota Tua Karengan | Cerpen Ahmad Sihabudin

Di ujung timur Jawa, ada sebuah kota kecil bernama Karengan, tempat yang seperti berhenti pada usia tuanya. Jalanan sempit berlapis...

Read moreDetails
Next Post
Bimo Seno dan Dolog Gelar Pertandingan Tenis Lapangan di Denpasar

Bimo Seno dan Dolog Gelar Pertandingan Tenis Lapangan di Denpasar

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins
Esai

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

Ingatan yang Menjadi Wacana Batin Gagasan tentang Krishna dan Siddharta yang muncul dari ingatan terhadap wacana maupun tulisan Guruji Anand...

by Agung Sudarsa
April 24, 2026
Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”
Pop

Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

“Untuk saat ini, single-single saja dulu, sama seperti status saya,” ujar Tika Pagraky sambil tertawa, memecah suasana sore itu. Kalimat...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah
Khas

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co