3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Daging Sapi Pesanan Ibu | Cerpen Eyok El-Abrorii

Eyok El-Abrorii by Eyok El-Abrorii
March 29, 2025
in Cerpen
Daging Sapi Pesanan Ibu  |  Cerpen Eyok El-Abrorii

Ilustrasi tatkala.co | Rusdy

ABDUL tergesa-gesa ke pasar Singa Mandawa. Sehabis salat subuh, ia disuruh ibu untuk membeli sembako untuk keperluan puasa yang akan dilaksanakan besok. Harus pagi-pagi sekali, agar mendapat harga lebih murah. Ibu biasa berhemat dalam berbelanja. Sebagai seorang perantauan dari Lombok, ia tak ingin memboros di Bali. Lagi pula, pekerjaannya yang hanya berjualan canang mana cukup untuk bermegah-megahan.

Uang di saku Abdul hanya berisi tiga lembar pecahan seratus ribu. Kata ibu, uang itu hanya boleh untuk belanja yang perlu-perlu saja. Jika ingin membeli makanan, jatahnya hanya lima ribu perak. Alamak, uang segitu untuk beli nasi jinggo saja tak cukup.

Ia telah membeli bahan-bahan pokok yang dituliskan ibu dalam daftar belanjaan. Tinggal daging sapi yang belum ia beli. Makan daging sapi untuk berbuka puasa sangat baik, kata ibu. Tetapi ia harus hati-hati. Pesan ibu, Abdul harus membeli daging itu dari pedagang yang menggunakan jilbab atau berpeci. Tahu sendirilah, di tempat itu kaum mereka adalah minoritas. Danging sapi bisa saja tak disembelih atas nama Allah, dan kemungkinan paling parahnya dipotong di tempat yang sama dengan daging babi.

Ibu memang taat beragama. Abdul diajarkan sejak kecil untuk berhati-hati melakukan segala sesuatu dalam hidupnya. Seperti misalkan jika ia memungut buah mangga di depan rumah Miq Tuan Ahmad, ia harus meminta izin terlebih dulu sebelum boleh memakannya. “Subhat, berpotensi haram jika pemiliknya tidak rido.” Pesan ibu.

Ketika bapak meninggal, mereka hijrah ke Bali. Ahmad baru masuk SMA waktu itu. Pekerjaan bapak yang buruh pasar, tak mungkin dilakoni ibu untuk menyambung kehidupan keluarga. Ibu membulatkan tekad ke Bali, memulai usaha berjualan canang. Daun kelapa dan kembang sebagai bahan utama ia dapatkan dari seorang teman bapak, Pak Nyoman yang tinggal di Kintamani. Sebenarnya Pak Nyoman belum bisa disebut sebagai teman bapak. Hubungan mereka hanya karena bapak pernah membantu Pak Nyoman mengangkat barang di bandara. Bapak yang waktu itu mengantar koleganya ke Malaysia, menemukan Pak Nyoman terlihat kesulitan membawa barang-barang bawaannya menuju embarkasi. Jiwa kuli bapak meronta-ronta. Seusai membantu Pak Nyoman, bapak tak mau menerima upah. Karena itulah ia diberikan secarik kartu nama yang ditemukan oleh ibu di dompet bapak dua hari setelah meninggal.

Mengubungi Pak Nyoman sebenarnya adalah pilihan terakhir ibu. Ia telah jungkir-balik mencari uang dari kerja serabutan selama tiga bulan. Pernah ibu meminta agar ia diperbolehkan bekerja di pabrik penggilingan gabah milik Pak Ahmad, tetapi ibu malah diajak menikah olehnya. Tentu saja ibu tak akan sudi, sebab Pak Ahmad dikenal sebagai rentenir dan walaupun kaya, pelitnya nauzubillah.

Ketika terhubung melalui telepon bututnya dengan Pak Nyoman, ibu mengenalkan diri dan menyebut nama bapak. Pak Nyoman tak mengingat bapak sama sekali. Pak Nyoman hanya tahu bahwa setiap orang yang meminta pertolongan kepadanya melalui telepon pastilah pernah menolongnya. Pasalnya, Pak Nyoman bukanlah seorang pegawai atau manager sebuah perusahaan sehingga membutuhkan kartu nama. Ia hanyalah seorang pemasok kelapa ke berbagai wilayah di luar Bali. Ia membuat kartu nama dengan tujuan agar bisa diberikan kepada orang-orang asing yang berbuat baik kepadanya.

Berjualan canang, paling tidak bisa membuat keluarga ibu dan Abdul berjalan seperti ketika bapak masih hidup. Mereka tinggal di sebuah kontrakan, berdekatan dengan kebun kelapa Pak Nyoman. Abdul sendiri menjual makanan ringan yang ia titipkan di kantin sekolahnya dari modal tabungan uang saku. Namun, jualannya yang sedikit dan murahan itu tak laku keras. Sewaktu-waktu, ia tetap harus meminta uang saku kepada ibu.

Pasar semakin ramai. Abdul masih mencari-cari penjual daging sapi yang sesuai dengan kriteria dari ibu. Terkadang ketika mengalami kesulitan seperti itu, Abdul menggerutu. Pernah ketika Wayan, teman kelasnya yang tengil berulang tahun, ia mengalami dilema serupa. Wayan mengajak Abdul dan dua teman lain untuk makan di rumahnya. Abdul sempat menolak, karena tak mau nanti hanya berdecak menyaksikan mereka makan daging babi. Sungguh, Abdul juga ingin makan daging babi. Terlihat nikmat dan sepertinya akan sangat empuk jika dikunyah. Namun, Wayan mengatakan bahwa ia telah membeli daging sapi dari rumah jagal Jawa, tempat Abdul sering membayangkan akan bisa membelikan ibu daging sapi segar. Seperti dijebak, rupanya Wayan justru menghidangkan daging babi dan Abdul hanya bisa makan mi goreng sambil ditertawai oleh teman-temannya itu.

Ah, Abdul mengingat rumah jagal Jawa. Ia ingin sekali ke sana, tetapi rumah jagal itu menjual daging sapi berlabel halal dengan harga yang tak wajar. Uangnya itu sudah jelas tak akan cukup bahkan untuk membeli setengah kilo saja. Ia mengedarkan pandangannya lagi, biasanya di sudut lapak para pedagang daging ada seorang ibu berjilbab menjual daging sapi. Benar, ia menemukan ibu itu menjajakan daging di sana. Akhirnya, ia akan bisa membelikan sekilo daging untuk keperluan sahur nanti.

Abdul menanyakan harga daging sapi itu, dan uangnya sangat pas. Ia tak menawar dan begitu saja menyodorkan uangnya. Ibu itu menimbang sekilo daging dan membungkusnya dengan kantong plastik merah. Ketika hendak kembali, dilihatnya seorang kuli menaruh tumpukan daging di lapak ibu itu. Terlihat setangkai kaki babi dan sepasang kaki sapi menjulur dari tumpukan itu. Abdul dilema lagi. Jika ia membawanya pulang, pastilah daging itu telah bercampur dengan daging babi, atau paling tidak telah terkena tetesan darah babi. Namun, jika ia memilih untuk mengembalikannya, tak ada jaminan bahwa penjual yang lain tak melakukan hal serupa. Lagi pula, bisa-bisa ibu tak dapat memenuhi nutrisinya selama seminggu. Sementara, daging itu sangat diperlukan oleh ibu yang divonis hipoksemia empat bulan yang lalu oleh dokter. Jika begitu, pastilah ibu akan sesak di malam hari, linglung dan sakit kepala saat berjualan canang. Paling parah kejang, kemudian koma di rumah sakit.

Abdul tak mau hal-hal buruk terjadi kepada ibu. Hipoksemia di tubuhnya tak menunjukkan tanda-tanda penyembuhan. Bahkan, dua hari lalu ibu terkena gejala anemia; hasil pemeriksaan di Puskesmas menunjukkan, hal itu terjadi karena hipoksemia yang dideritanya. Semakin dilema, Abdul mengucapkan bismillah dalam hati, dan melanjukan apa yang seharusnya ia lakukan. [T]

Denpasar, 2024

Penulis: Eyok El-Abrorii
Editor: Adnyana Ole

  • KLIK untuk BACA cerpen lain
Doa Kembang Turi |  Cerpen Heri Haliling
Seharusnya Mati | Cerpen Hilmi Baskoro
Bujuk   |  Cerpen Khairul A. El Maliky
Buket Mawar Merah |  Cerpen Yuditeha
Go-Sex | Cerpen Sonhaji Abdullah
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Gimien Artekjursi | Dalam Nyepi, Berburu Lailatul Qadar

Next Post

Kemeriahan Total Menyambut Sunyi pada “Pengerupukan Festival” di Singaraja

Eyok El-Abrorii

Eyok El-Abrorii

Lahir tahun 1999. Penulis cerpen dan esai asal Lombok Timur. Tulisannya tersiar di berbagai media cetak maupun elektronik. Menyelesaikan studi Master of Linguistics di Program Pascasarjana Universitas Warmadewa. Bukunya berjudul Hipertimesia (2025). Kini ia mengajar di sebuah perguruan tinggi swasta di Lombok Timur. IG @eyokelabrorii

Related Posts

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails

Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

by Hidayatul Ulum
May 30, 2026
0
Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

PRIA-PRIA yang kau semayamkan di awan kita, tak satu pun Mas kenal—awalnya. Setelah Mas membaca jejak hatimu yang kau tinggalkan...

Read moreDetails

Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
May 29, 2026
0
Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

JAM menunjukkan pukul 05.15 pagi ketika kaki renta Pak Syukur mulai menyusuri gang sempit menuju pinggir jalan raya. Embun belum...

Read moreDetails

Mengikat Tali Sepatu | Cerpen Pitrus Puspito

by Pitrus Puspito
May 24, 2026
0
Mengikat Tali Sepatu | Cerpen Pitrus Puspito

Alfie percaya bahwa dunia dapat diringkas menjadi kolom-kolom rapi: pemasukan, pengeluaran, untung, rugi. Di layar ponselnya, angka-angka berpendar seperti doa...

Read moreDetails

Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

by Luh Aninditha Wiralaba
May 23, 2026
0
Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

PAGI di desa Bugbeg selalu dimulai dengan cara yang sama. Bau dupa yang menyeruak, ayam-ayam berkokok ria, dan dentingan gamelan...

Read moreDetails

Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto

by Dody Widianto
May 22, 2026
0
Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto

RASA-RASANYA kau tak akan kuat memendam sendiri masalahmu ini. Kau yang semata wayang, kau yang ditinggal ayahmu saat umurmu angka...

Read moreDetails

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

Read moreDetails

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
May 10, 2026
0
Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

PAGI di Desa Batu Pangeran selalu datang dengan langkah pelan, seolah ia tahu bahwa tempat itu tidak suka tergesa-gesa. Langit...

Read moreDetails

Puting Beliung | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
May 9, 2026
0
Puting Beliung | Cerpen Supartika

Sial! Neraka dilanda puting beliung. Porak-poranda. Api neraka yang berkobar-kobar ikut tersapu puting beliung yang hebat itu. Angin membuat api...

Read moreDetails

Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
May 4, 2026
0
Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

“Risa, aku sudah melihat hasil pengumuman itu,” ucap Bagus lirih, nyaris tenggelam dalam gemuruh angin senja. Aku menoleh, menatap wajahnya...

Read moreDetails
Next Post
Kemeriahan Total Menyambut Sunyi pada “Pengerupukan Festival” di Singaraja

Kemeriahan Total Menyambut Sunyi pada “Pengerupukan Festival” di Singaraja

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?
Esai

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

by Rsi Suwardana
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co