2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Daging Sapi Pesanan Ibu | Cerpen Eyok El-Abrorii

Eyok El-Abrorii by Eyok El-Abrorii
March 29, 2025
in Cerpen
Daging Sapi Pesanan Ibu  |  Cerpen Eyok El-Abrorii

Ilustrasi tatkala.co | Rusdy

ABDUL tergesa-gesa ke pasar Singa Mandawa. Sehabis salat subuh, ia disuruh ibu untuk membeli sembako untuk keperluan puasa yang akan dilaksanakan besok. Harus pagi-pagi sekali, agar mendapat harga lebih murah. Ibu biasa berhemat dalam berbelanja. Sebagai seorang perantauan dari Lombok, ia tak ingin memboros di Bali. Lagi pula, pekerjaannya yang hanya berjualan canang mana cukup untuk bermegah-megahan.

Uang di saku Abdul hanya berisi tiga lembar pecahan seratus ribu. Kata ibu, uang itu hanya boleh untuk belanja yang perlu-perlu saja. Jika ingin membeli makanan, jatahnya hanya lima ribu perak. Alamak, uang segitu untuk beli nasi jinggo saja tak cukup.

Ia telah membeli bahan-bahan pokok yang dituliskan ibu dalam daftar belanjaan. Tinggal daging sapi yang belum ia beli. Makan daging sapi untuk berbuka puasa sangat baik, kata ibu. Tetapi ia harus hati-hati. Pesan ibu, Abdul harus membeli daging itu dari pedagang yang menggunakan jilbab atau berpeci. Tahu sendirilah, di tempat itu kaum mereka adalah minoritas. Danging sapi bisa saja tak disembelih atas nama Allah, dan kemungkinan paling parahnya dipotong di tempat yang sama dengan daging babi.

Ibu memang taat beragama. Abdul diajarkan sejak kecil untuk berhati-hati melakukan segala sesuatu dalam hidupnya. Seperti misalkan jika ia memungut buah mangga di depan rumah Miq Tuan Ahmad, ia harus meminta izin terlebih dulu sebelum boleh memakannya. “Subhat, berpotensi haram jika pemiliknya tidak rido.” Pesan ibu.

Ketika bapak meninggal, mereka hijrah ke Bali. Ahmad baru masuk SMA waktu itu. Pekerjaan bapak yang buruh pasar, tak mungkin dilakoni ibu untuk menyambung kehidupan keluarga. Ibu membulatkan tekad ke Bali, memulai usaha berjualan canang. Daun kelapa dan kembang sebagai bahan utama ia dapatkan dari seorang teman bapak, Pak Nyoman yang tinggal di Kintamani. Sebenarnya Pak Nyoman belum bisa disebut sebagai teman bapak. Hubungan mereka hanya karena bapak pernah membantu Pak Nyoman mengangkat barang di bandara. Bapak yang waktu itu mengantar koleganya ke Malaysia, menemukan Pak Nyoman terlihat kesulitan membawa barang-barang bawaannya menuju embarkasi. Jiwa kuli bapak meronta-ronta. Seusai membantu Pak Nyoman, bapak tak mau menerima upah. Karena itulah ia diberikan secarik kartu nama yang ditemukan oleh ibu di dompet bapak dua hari setelah meninggal.

Mengubungi Pak Nyoman sebenarnya adalah pilihan terakhir ibu. Ia telah jungkir-balik mencari uang dari kerja serabutan selama tiga bulan. Pernah ibu meminta agar ia diperbolehkan bekerja di pabrik penggilingan gabah milik Pak Ahmad, tetapi ibu malah diajak menikah olehnya. Tentu saja ibu tak akan sudi, sebab Pak Ahmad dikenal sebagai rentenir dan walaupun kaya, pelitnya nauzubillah.

Ketika terhubung melalui telepon bututnya dengan Pak Nyoman, ibu mengenalkan diri dan menyebut nama bapak. Pak Nyoman tak mengingat bapak sama sekali. Pak Nyoman hanya tahu bahwa setiap orang yang meminta pertolongan kepadanya melalui telepon pastilah pernah menolongnya. Pasalnya, Pak Nyoman bukanlah seorang pegawai atau manager sebuah perusahaan sehingga membutuhkan kartu nama. Ia hanyalah seorang pemasok kelapa ke berbagai wilayah di luar Bali. Ia membuat kartu nama dengan tujuan agar bisa diberikan kepada orang-orang asing yang berbuat baik kepadanya.

Berjualan canang, paling tidak bisa membuat keluarga ibu dan Abdul berjalan seperti ketika bapak masih hidup. Mereka tinggal di sebuah kontrakan, berdekatan dengan kebun kelapa Pak Nyoman. Abdul sendiri menjual makanan ringan yang ia titipkan di kantin sekolahnya dari modal tabungan uang saku. Namun, jualannya yang sedikit dan murahan itu tak laku keras. Sewaktu-waktu, ia tetap harus meminta uang saku kepada ibu.

Pasar semakin ramai. Abdul masih mencari-cari penjual daging sapi yang sesuai dengan kriteria dari ibu. Terkadang ketika mengalami kesulitan seperti itu, Abdul menggerutu. Pernah ketika Wayan, teman kelasnya yang tengil berulang tahun, ia mengalami dilema serupa. Wayan mengajak Abdul dan dua teman lain untuk makan di rumahnya. Abdul sempat menolak, karena tak mau nanti hanya berdecak menyaksikan mereka makan daging babi. Sungguh, Abdul juga ingin makan daging babi. Terlihat nikmat dan sepertinya akan sangat empuk jika dikunyah. Namun, Wayan mengatakan bahwa ia telah membeli daging sapi dari rumah jagal Jawa, tempat Abdul sering membayangkan akan bisa membelikan ibu daging sapi segar. Seperti dijebak, rupanya Wayan justru menghidangkan daging babi dan Abdul hanya bisa makan mi goreng sambil ditertawai oleh teman-temannya itu.

Ah, Abdul mengingat rumah jagal Jawa. Ia ingin sekali ke sana, tetapi rumah jagal itu menjual daging sapi berlabel halal dengan harga yang tak wajar. Uangnya itu sudah jelas tak akan cukup bahkan untuk membeli setengah kilo saja. Ia mengedarkan pandangannya lagi, biasanya di sudut lapak para pedagang daging ada seorang ibu berjilbab menjual daging sapi. Benar, ia menemukan ibu itu menjajakan daging di sana. Akhirnya, ia akan bisa membelikan sekilo daging untuk keperluan sahur nanti.

Abdul menanyakan harga daging sapi itu, dan uangnya sangat pas. Ia tak menawar dan begitu saja menyodorkan uangnya. Ibu itu menimbang sekilo daging dan membungkusnya dengan kantong plastik merah. Ketika hendak kembali, dilihatnya seorang kuli menaruh tumpukan daging di lapak ibu itu. Terlihat setangkai kaki babi dan sepasang kaki sapi menjulur dari tumpukan itu. Abdul dilema lagi. Jika ia membawanya pulang, pastilah daging itu telah bercampur dengan daging babi, atau paling tidak telah terkena tetesan darah babi. Namun, jika ia memilih untuk mengembalikannya, tak ada jaminan bahwa penjual yang lain tak melakukan hal serupa. Lagi pula, bisa-bisa ibu tak dapat memenuhi nutrisinya selama seminggu. Sementara, daging itu sangat diperlukan oleh ibu yang divonis hipoksemia empat bulan yang lalu oleh dokter. Jika begitu, pastilah ibu akan sesak di malam hari, linglung dan sakit kepala saat berjualan canang. Paling parah kejang, kemudian koma di rumah sakit.

Abdul tak mau hal-hal buruk terjadi kepada ibu. Hipoksemia di tubuhnya tak menunjukkan tanda-tanda penyembuhan. Bahkan, dua hari lalu ibu terkena gejala anemia; hasil pemeriksaan di Puskesmas menunjukkan, hal itu terjadi karena hipoksemia yang dideritanya. Semakin dilema, Abdul mengucapkan bismillah dalam hati, dan melanjukan apa yang seharusnya ia lakukan. [T]

Denpasar, 2024

Penulis: Eyok El-Abrorii
Editor: Adnyana Ole

  • KLIK untuk BACA cerpen lain
Doa Kembang Turi |  Cerpen Heri Haliling
Seharusnya Mati | Cerpen Hilmi Baskoro
Bujuk   |  Cerpen Khairul A. El Maliky
Buket Mawar Merah |  Cerpen Yuditeha
Go-Sex | Cerpen Sonhaji Abdullah
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Gimien Artekjursi | Dalam Nyepi, Berburu Lailatul Qadar

Next Post

Kemeriahan Total Menyambut Sunyi pada “Pengerupukan Festival” di Singaraja

Eyok El-Abrorii

Eyok El-Abrorii

Lahir tahun 1999. Penulis cerpen dan esai asal Lombok Timur. Tulisannya tersiar di berbagai media cetak maupun elektronik. Menyelesaikan studi Master of Linguistics di Program Pascasarjana Universitas Warmadewa. Bukunya berjudul Hipertimesia (2025). Kini ia mengajar di sebuah perguruan tinggi swasta di Lombok Timur. IG @eyokelabrorii

Related Posts

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails
Next Post
Kemeriahan Total Menyambut Sunyi pada “Pengerupukan Festival” di Singaraja

Kemeriahan Total Menyambut Sunyi pada “Pengerupukan Festival” di Singaraja

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co