16 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Puisi-puisi Gimien Artekjursi | Dalam Nyepi, Berburu Lailatul Qadar

Gimien Artekjursi by Gimien Artekjursi
April 5, 2025
in Puisi
Puisi-puisi Gimien Artekjursi | Dalam Nyepi, Berburu Lailatul Qadar

DALAM NYEPI

kita padamkan seluruh cahaya hari ini
agar tahu guna kegelapan setelah mata tak henti terpapar sinar
sampai serasa berpijar

kita hentikan semua kerja hari ini
agar bisa menikmati diam istirahat
setelah tak henti diburu tenggat
tak mengindahkan badan dan pikiran yang penat

kita hentikan seluruh keberangkatan hari ini
agar tahu nilai perjalanan setelah sekian jauh jarak ditempuh
tanpa mengindahkan keluh
tanpa peduli seluruh yang ada luluh dan lusuh

kita tutup seluruh kegembiraan hari ini
agar tahu ada ketenangan dan keheningan
selain keriuhan hingar-bingar
tak mengenal jeda
membuat hari-hari menjadi onar dan nanar

Kumendung, 28 Maret 2025

TENTANG LAILATUL QADAR

dari malam ke malam berkelana
mencari penerima
lailatul qadar kehabisan tenaga
lama melayang-layang diangkasa
akhirnya tersangkut jaring internet
tak jadi jatuh di dunia

Kumendung, 21 Maret 2025

BERBURU LAILATUL QADAR*)

malam-malam terakhir ramadhan
aku melesat mengitari semesta dengan seluruh tenaga
berwaktu-waktu sepanjang malam-malam akhir ramadhan

dalam keheningan senyap berburu
tiba-tiba kulihat lailatul qadar di kejauhan
terjerat jaring internet
kehabisan tenaga tak mampu membebaskan diri

kukerahkan seluruh kekuatan menuju ke sana

naas, tinggal sejangkauan menggapai
mendadak baterai habis, sinyal terputus

lailatul qadar hilang dari hadapanku
sebelum tanganku menyentuhnya
sedangkan aku terlempar kembali ke bumi
tanpa lailatul qadar
sampai ramadhan tak tersisa

(aku berharap
tuhan masih memberiku usia
sampai akhir ramadhan tahun depan
aku berharap
jaring-jaring internet itu lapuk terkikis waktu
dan lailatul qadar terbebas sendiri
turun ke bumi
menemuiku di malam-malam terakhir ramadhan
tanpa harus kuburu)

Kumendung, 28 Maret 2025

*)Ketika saya menulis puisi “Lailatul Qadar”, salah satu “murid” Umbu di “Grudag-grudug”, mengatakan: “Menurut Umbu :Berburu Lailatul Qadar”. Konon Umbu beberapa kali berseloroh menggunakan kata ini.

NYANYIAN KECIL DARI DESA KUMENDUNG

sekali waktu memang ada pelangi
melintang di langit atas desaku
tapi tak ada bidadari akan turun mandi
desaku tak punya telaga
adanya hanya parit yang sering tak ada airnya

sungai menggaris batas desa bagian utara
hanya bisa mengalir ke laut
dan di laut
para bidadari pasti tak mau
berebut tempat dengan putri duyung

tapi sawah-sawah masih menghampar
bunga-bunga jagung menyembul
di atas daun-daun hijau
layaknya permadani tergelar di luas dataran

di hamparan sawah lainnya
pucuk-pucuk daun semangka, merah hijau jari-jari cabai
berselang-seling dengan aneka sayur dan rerumputan
saling berebut hidup dan hari esok

bau daun bawang kadang menyeruak di udara pagi
bercampur bau pestisida, dedaunan membusuk
atau kotoran ternak
lenguh sapi dan kambing dan kokok ayam
siang hari
beradu keras dengan suara sound system dari rumah penduduk

di sini orang-orang saling berlomba
di petak-petak persawahan, di jalan-jalan desa, di dalam rumah
di mana saja
berkejaran dengan mimpi dunia
juga harapan
menabung surga
berusaha mengubur neraka

Kumendung, Februari 2025

TENTANG NGENGAT DAN API

kita adalah ngengat
yang melihat api hanya terangnya
tanpa mengenal gunanya panas

ketika sayap-sayap itu hangus
baru kita tahu:
api bisa untuk membakar
bukan hanya menerangi kegelapan

tapi tatkala kita sadar akan manfaat api
nyala itu sudah padam
meninggalkan sisa asap
yang juga segera lenyap terbawa angin

Kumendung, 13 Februari 2025

DI TENGAH LABIRIN KOTA

di tengah labirin kota
setiap orang tersesat dan linglung
menjajakan mimpi dari jalan ke jalan
sampai habis ujung
tak bertemu sudah

tanyamu pada semua yang lewat
tak pernah bisa terjawab
tak ada yang mengerti apa pertanyaan
pun tak tahu apa masalah
tak ada lagi yang tahu
apalagi rasa

di sudut taman seseorang sendiri memetik rindu
dengan senar-senar hatinya
tapi tak ada getar yang terdengar
tidak irama
suara nyanyinya tenggelam di kejauhan cakrawala

di sudut lain
sebungkus nasi basi disuap tangan yang tak tercuci
masihkah harus dicari di tiap butirnya
arti dan makna suci?
hanya mimpi

di tengah simpang siur ketersesatan
kemanapun arah
linglung membentur dinding-dinding
mata terpicing
buta gulita semua di depan mata

bangunlah
cari arahmu kembali
sebelum batu-batu menjadikanmu pondasi
bagi peradaban yang sia-sia dan basi

Kumendung, 31 Januari 2025

TENTANG CAHAYA

gelap walau gulita
tak akan mampu membendung cahaya

berkas cahaya lebih tajam dari apapun
tanpa penghalang
akan terkuak seberapapun pekatnya kegelapan

meski hanya setitik
cahaya tak bisa dimatikan oleh gelap
apalagi menguburnya

Kumendung, 29 Januari 2025

RUANG TUNGGU

di ruang itu yang ada hanya waktu
menjelma tanda baca gagu
titik koma dan sekian rambu-rambu
tanpa ragu menunjuk untuk menunggu

tak ada beda malam atau siang
siapapun yang datang
tak bisa lancang menerjang
semua harus antri walau tak senang

sampai waktunya tiba
giliran namamu dipanggilnya
kau siap atau tak siap
harus segera datang menghadap

Kumendung, 17 Januari 2025

SEPERTI DAUN

seperti daun
gugur
tak ada yang tahu dukanya
tak ada yang mengerti mimpinya
tiba-tiba gugur terkapar di tanah

masihkah mimpi-mimpinya tersangkut
di ruas-ruasnya
di bibir lembarnya?

ketika tiba-tiba gugur
walau tak ada angin melintas
mimpinya tengah riuh bertumbuh
sendiri tiba-tiba melayang

seperti daun
semua yang ada
juga kita

Kumendung, 24 Juli 2024

TENTANG BUNGA

bunga tak pernah meminta warna
ketika mekar
tinggal memamerkan warna yang melekat pada kelopaknya
pada lembar-lembar bibirnya
merah, putih, kuning atau ungu
bunga-bunga mekar tanpa ragu

kumbang, lebah, atau kupu-kupu
datang tanpa pernah diundang
mereka mencari bunga tanpa berpikir membantu penyerbukan
tapi karena mereka
bunga bisa berubah menjadi putik dan berbuah

bunga-bunga musiman akan setia menunggu musim yang datang untuk mekar
tak akan muncul apalagi berkembang sebelum waktunya
bunga-bunga tak kenal musim
akan mekar bila kuncup sudah muncul
tanpa harus menunggu komando atau perintah

tak ada yang mencegah bunga-bunga tumbuh atau berkembang
tak pernah meributkan kapan harus mekar atau kembali kuncup
pun tak ada yang mempermasalahkan kapan layu dan gugur

bunga-bunga selalu setia muncul di ujung-ujung ranting
atau di bagian batang di mana biasanya tumbuh
mewarnai daun-daun dan pokok pohon
sesuai kodrat
menyegarkan keindahan alam
tanpa harus tawar menawar apalagi membuat perjanjian

Kumendung, 16 Januari 2025

Penulis: Gimien Artekjursi
Editor: Adnyana Ole


[][] Klik untuk BACA puisi-puisi lain

Puisi-puisi Komang Berata  |  Cara Menghukum Pengkhianat
Puisi-puisi Gimien Artekjursi | Tanamlah Musim dalam Jiwamu
Puisi-puisi Muhammad Hadriansyah | Hutan Kabut, Kumbang Koksi
Puisi-puisi Novita Dina | Stasiun Kata-kata
Tags: Puisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Nyepi, Lailatul Qadar, Idulfitri, Meleburlebarkan Fitrah Umat Manusia.

Next Post

Daging Sapi Pesanan Ibu | Cerpen Eyok El-Abrorii

Gimien Artekjursi

Gimien Artekjursi

Lahir 3 Agustus 1963. Tinggal di Banyuwangi. Tulisannya berupa puisi, cerpen dan esei sastra dimuat di media cetak di Bali. Juga menulis geguritan (puisi bahasa Jawa) dimuat di majalah Panyebar Semangat dan Jaya Baya (Surabaya).

Related Posts

Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

by Sholihul Mubarok
June 28, 2026
0
Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

MENJELMA KATA DI KURUSETRA BERANDA mata-mata telingasulih gaduh suaralahir ribuan kekata jemari adalah ujung belatirobek halus di layar tanduskebajikan serta...

Read moreDetails

Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

by Andi Wirambara
June 27, 2026
0
Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

KUCING aku seekor kucing yang memanjat jendelamukau penghuni yang selalu menutupnya,bersantai menenteng cangkir teh yang pekat. aku mengeong dan mengamuk,...

Read moreDetails

Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

by IBW Widiasa Keniten
June 26, 2026
0
Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

Tuhan Beri Aku Waktu Tuhan, di sisa napas ini beri aku mengadudalam gelombang hidup yang tak pernah pastiTuhan, beri aku...

Read moreDetails

Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

by Mahesa Putra
June 21, 2026
0
Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

Pelancong Gersang Aku berhenti memikirkanmu.Jam-jam yang meruntuhkan angka-angka;berlarian masuk rumah. Aku berhenti memikirkanmu.Sejak kamu menggulir layar begitu pagi,memanen percakapan tentang...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Chusmeru | Sajak Purnatugas

by Chusmeru
June 20, 2026
0
Puisi-Puisi Chusmeru | Sajak Purnatugas

Yang Tua yang Tak Mau Purna Segara punya pantai sebagai batas gelombangSungai punya sempadan untuk batas aliranTetapi tidak bagi yang...

Read moreDetails

Puisi-puisi Putu Intan Juliantika | Lintang Perahu Pegat

by Putu Intan Juliantika
June 14, 2026
0
Puisi-puisi Putu Intan Juliantika | Lintang Perahu Pegat

LINTANG PERAHU PEGAT Dari perut bundaPertama kalinya aku hidupDari perut bundaPertama kali aku dipeluknya Tak ingat apa yang terjadi sebelumnyaTak...

Read moreDetails

Puisi-puisi IRZI | Jazz Buat Para Puan

by IRZI
June 13, 2026
0
Puisi-puisi IRZI | Jazz Buat Para Puan

JESS BUAT PRANITA DEWI Meong-meong alih je bikule—suara itu melintas dari pelataran purake satelit, kabel bawah laut, ruang transit;atma mengikutinya...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | sore di gerbang tim.

by Selendang Sulaiman
June 7, 2026
0
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | sore di gerbang tim.

sore di gerbang tim. jam tiga sore, matahari pucat di belakang mendung,angin kencang menyapu sisa pohonan di cikini.aku duduk di...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Angga Wijaya | Doa untuk Tetangga

by Angga Wijaya
June 6, 2026
0
Puisi-Puisi Angga Wijaya | Doa untuk Tetangga

DOA UNTUK TETANGGA Di beranda kos, aku kerap duduk sendiri. Dalam hatimengucap doa. Aku berdoa, semoga semua tetanggadiberi rezeki yang...

Read moreDetails

Puisi-puisi Ama Gaspar

by Ama Gaspar
June 5, 2026
0
Puisi-puisi Ama Gaspar

Sajak Tentang Air IDari perut bumi, riwayat meambat di selasar masa;menjelma buih, pecik, riak, arus, dan air. Dari kulit tanah,...

Read moreDetails
Next Post
Daging Sapi Pesanan Ibu  |  Cerpen Eyok El-Abrorii

Daging Sapi Pesanan Ibu | Cerpen Eyok El-Abrorii

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Korupsi, Kekuasaan dan Keserakahan —Ketika Alam Sedang Bersih-Bersih
Esai

Korupsi, Kekuasaan dan Keserakahan —Ketika Alam Sedang Bersih-Bersih

"Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely." Kalimat legendaris dari Lord Acton itu kembali terasa relevan ketika bangsa...

by Agung Sudarsa
July 15, 2026
Sekolah Rakyat Vs Sekolah Reguler   
Esai

Dari Sekolah Sepi Menuju Sekolah Rakyat: Pendidikan Bukan Sekadar Transfer Informasi, tetapi Transformasi Kesadaran

Ironi Pendidikan di Tengah Semangat Membangun Masa Depan Berita tentang SDN 6 Bhuana Giri di Bali yang selama empat tahun...

by Agung Sudarsa
July 15, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Lelang Bank dan Kepastian Hukum: Antara Peluang Investasi dan Risiko Lapangan

BARANG lelang bank sering dipandang sebagai peluang mendapatkan aset murah dengan potensi keuntungan besar. Rumah, tanah, ruko, kendaraan, hingga aset...

by I Made Pria Dharsana
July 15, 2026
Nyoman Suma Argawa, Penjaga Rupa Utara —Menelusuri Jejak Maestro yang Setia pada Karakter Buleleng
Khas

Nyoman Suma Argawa, Penjaga Rupa Utara —Menelusuri Jejak Maestro yang Setia pada Karakter Buleleng

RUMAH itu kembali ramai, tetapi bukan karena bunyi pahat atau aroma cat yang biasa mengisi ruang-ruangnya. Sabtu, 11 Juli 2026...

by Komang Puja Savitri
July 15, 2026
Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital
Esai

Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital

DALAM beberapa tahun terakhir, lanskap media sosial seperti Instagram dan TikTok didominasi oleh proliferasi estetika “baddie”. Secara visual, seorang baddie...

by Surfian Rahmat AP
July 15, 2026
Kajian 100 Tahun Kepariwisataan Budaya Bali (1927–2027)
Khas

Kajian 100 Tahun Kepariwisataan Budaya Bali (1927–2027)

Tema: Menelusuri Jejak Awal Kepariwisataan Budaya Bali dalam Perspektif Sejarah dan Kebudayaan Focus Group Discussion (FGD) Kajian 100 Tahun Pariwisata...

by Nyoman Mariyana
July 15, 2026
Kitab yang Ditulis Alam —Membaca “The Sacred Text of Padma” karya Sumino dan Sarah Kasuhardi
Ulas Rupa

Kitab yang Ditulis Alam —Membaca “The Sacred Text of Padma” karya Sumino dan Sarah Kasuhardi

TIDAK semua pengetahuan lahir dari buku. Jauh sebelum manusia mengenal aksara, alam telah lebih dahulu menjadi ruang belajar. Pohon mengajarkan...

by Angga Wijaya
July 15, 2026
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka
Esai

Membaca Made Budhiana dari Sebuah Puisi

SAYA tidak mengenal Made Budhiana pertama kali melalui sebuah pameran lukisan. Bukan pula dari buku sejarah seni rupa Bali. Saya...

by Angga Wijaya
July 15, 2026
Hari Pertama Sekolah, Awal Membangun Budaya Sekolah yang Aman dan Inklusif
Esai

Hari Pertama Sekolah, Awal Membangun Budaya Sekolah yang Aman dan Inklusif

Pagi itu, gerbang-gerbang sekolah kembali dipenuhi wajah-wajah penuh harap. Ada anak yang dengan antusias mengenakan seragam baru, ada yang menggenggam...

by Lailatus Sholihah
July 15, 2026
Ketika Kisah CEO Menyamar ala Drama Korea Hadir dalam Lawak Bali
Panggung

Ketika Kisah CEO Menyamar ala Drama Korea Hadir dalam Lawak Bali

KISAH CEO yang menyamar lazimnya identik dengan drama Korea yang dipenuhi ketegangan, romansa, dan konflik keluarga. Namun, cerita yang akrab...

by Nyoman Budarsana
July 15, 2026
“Unity in Harmony”Orkestra Brass Band ISI Bali dan Crescendo, Energi Baru di Festival Seni Bali Jani 2026
Panggung

“Unity in Harmony”Orkestra Brass Band ISI Bali dan Crescendo, Energi Baru di Festival Seni Bali Jani 2026

Gemuruh tiupan saksofon, dentuman drum, dan lengking gitar listrik memenuhi Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Senin (13/7/2026) malam. Melalui pertunjukan...

by Nyoman Budarsana
July 15, 2026
Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang
Pameran

Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang

MEMASUKI Gedung Kriya, Taman Budaya Provinsi Bali, pengunjung seolah diajak melintasi beragam dunia. Di satu sudut, akar kayu menjelma simbol...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co