4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Puisi-puisi Gimien Artekjursi | Dalam Nyepi, Berburu Lailatul Qadar

Gimien Artekjursi by Gimien Artekjursi
April 5, 2025
in Puisi
Puisi-puisi Gimien Artekjursi | Dalam Nyepi, Berburu Lailatul Qadar

DALAM NYEPI

kita padamkan seluruh cahaya hari ini
agar tahu guna kegelapan setelah mata tak henti terpapar sinar
sampai serasa berpijar

kita hentikan semua kerja hari ini
agar bisa menikmati diam istirahat
setelah tak henti diburu tenggat
tak mengindahkan badan dan pikiran yang penat

kita hentikan seluruh keberangkatan hari ini
agar tahu nilai perjalanan setelah sekian jauh jarak ditempuh
tanpa mengindahkan keluh
tanpa peduli seluruh yang ada luluh dan lusuh

kita tutup seluruh kegembiraan hari ini
agar tahu ada ketenangan dan keheningan
selain keriuhan hingar-bingar
tak mengenal jeda
membuat hari-hari menjadi onar dan nanar

Kumendung, 28 Maret 2025

TENTANG LAILATUL QADAR

dari malam ke malam berkelana
mencari penerima
lailatul qadar kehabisan tenaga
lama melayang-layang diangkasa
akhirnya tersangkut jaring internet
tak jadi jatuh di dunia

Kumendung, 21 Maret 2025

BERBURU LAILATUL QADAR*)

malam-malam terakhir ramadhan
aku melesat mengitari semesta dengan seluruh tenaga
berwaktu-waktu sepanjang malam-malam akhir ramadhan

dalam keheningan senyap berburu
tiba-tiba kulihat lailatul qadar di kejauhan
terjerat jaring internet
kehabisan tenaga tak mampu membebaskan diri

kukerahkan seluruh kekuatan menuju ke sana

naas, tinggal sejangkauan menggapai
mendadak baterai habis, sinyal terputus

lailatul qadar hilang dari hadapanku
sebelum tanganku menyentuhnya
sedangkan aku terlempar kembali ke bumi
tanpa lailatul qadar
sampai ramadhan tak tersisa

(aku berharap
tuhan masih memberiku usia
sampai akhir ramadhan tahun depan
aku berharap
jaring-jaring internet itu lapuk terkikis waktu
dan lailatul qadar terbebas sendiri
turun ke bumi
menemuiku di malam-malam terakhir ramadhan
tanpa harus kuburu)

Kumendung, 28 Maret 2025

*)Ketika saya menulis puisi “Lailatul Qadar”, salah satu “murid” Umbu di “Grudag-grudug”, mengatakan: “Menurut Umbu :Berburu Lailatul Qadar”. Konon Umbu beberapa kali berseloroh menggunakan kata ini.

NYANYIAN KECIL DARI DESA KUMENDUNG

sekali waktu memang ada pelangi
melintang di langit atas desaku
tapi tak ada bidadari akan turun mandi
desaku tak punya telaga
adanya hanya parit yang sering tak ada airnya

sungai menggaris batas desa bagian utara
hanya bisa mengalir ke laut
dan di laut
para bidadari pasti tak mau
berebut tempat dengan putri duyung

tapi sawah-sawah masih menghampar
bunga-bunga jagung menyembul
di atas daun-daun hijau
layaknya permadani tergelar di luas dataran

di hamparan sawah lainnya
pucuk-pucuk daun semangka, merah hijau jari-jari cabai
berselang-seling dengan aneka sayur dan rerumputan
saling berebut hidup dan hari esok

bau daun bawang kadang menyeruak di udara pagi
bercampur bau pestisida, dedaunan membusuk
atau kotoran ternak
lenguh sapi dan kambing dan kokok ayam
siang hari
beradu keras dengan suara sound system dari rumah penduduk

di sini orang-orang saling berlomba
di petak-petak persawahan, di jalan-jalan desa, di dalam rumah
di mana saja
berkejaran dengan mimpi dunia
juga harapan
menabung surga
berusaha mengubur neraka

Kumendung, Februari 2025

TENTANG NGENGAT DAN API

kita adalah ngengat
yang melihat api hanya terangnya
tanpa mengenal gunanya panas

ketika sayap-sayap itu hangus
baru kita tahu:
api bisa untuk membakar
bukan hanya menerangi kegelapan

tapi tatkala kita sadar akan manfaat api
nyala itu sudah padam
meninggalkan sisa asap
yang juga segera lenyap terbawa angin

Kumendung, 13 Februari 2025

DI TENGAH LABIRIN KOTA

di tengah labirin kota
setiap orang tersesat dan linglung
menjajakan mimpi dari jalan ke jalan
sampai habis ujung
tak bertemu sudah

tanyamu pada semua yang lewat
tak pernah bisa terjawab
tak ada yang mengerti apa pertanyaan
pun tak tahu apa masalah
tak ada lagi yang tahu
apalagi rasa

di sudut taman seseorang sendiri memetik rindu
dengan senar-senar hatinya
tapi tak ada getar yang terdengar
tidak irama
suara nyanyinya tenggelam di kejauhan cakrawala

di sudut lain
sebungkus nasi basi disuap tangan yang tak tercuci
masihkah harus dicari di tiap butirnya
arti dan makna suci?
hanya mimpi

di tengah simpang siur ketersesatan
kemanapun arah
linglung membentur dinding-dinding
mata terpicing
buta gulita semua di depan mata

bangunlah
cari arahmu kembali
sebelum batu-batu menjadikanmu pondasi
bagi peradaban yang sia-sia dan basi

Kumendung, 31 Januari 2025

TENTANG CAHAYA

gelap walau gulita
tak akan mampu membendung cahaya

berkas cahaya lebih tajam dari apapun
tanpa penghalang
akan terkuak seberapapun pekatnya kegelapan

meski hanya setitik
cahaya tak bisa dimatikan oleh gelap
apalagi menguburnya

Kumendung, 29 Januari 2025

RUANG TUNGGU

di ruang itu yang ada hanya waktu
menjelma tanda baca gagu
titik koma dan sekian rambu-rambu
tanpa ragu menunjuk untuk menunggu

tak ada beda malam atau siang
siapapun yang datang
tak bisa lancang menerjang
semua harus antri walau tak senang

sampai waktunya tiba
giliran namamu dipanggilnya
kau siap atau tak siap
harus segera datang menghadap

Kumendung, 17 Januari 2025

SEPERTI DAUN

seperti daun
gugur
tak ada yang tahu dukanya
tak ada yang mengerti mimpinya
tiba-tiba gugur terkapar di tanah

masihkah mimpi-mimpinya tersangkut
di ruas-ruasnya
di bibir lembarnya?

ketika tiba-tiba gugur
walau tak ada angin melintas
mimpinya tengah riuh bertumbuh
sendiri tiba-tiba melayang

seperti daun
semua yang ada
juga kita

Kumendung, 24 Juli 2024

TENTANG BUNGA

bunga tak pernah meminta warna
ketika mekar
tinggal memamerkan warna yang melekat pada kelopaknya
pada lembar-lembar bibirnya
merah, putih, kuning atau ungu
bunga-bunga mekar tanpa ragu

kumbang, lebah, atau kupu-kupu
datang tanpa pernah diundang
mereka mencari bunga tanpa berpikir membantu penyerbukan
tapi karena mereka
bunga bisa berubah menjadi putik dan berbuah

bunga-bunga musiman akan setia menunggu musim yang datang untuk mekar
tak akan muncul apalagi berkembang sebelum waktunya
bunga-bunga tak kenal musim
akan mekar bila kuncup sudah muncul
tanpa harus menunggu komando atau perintah

tak ada yang mencegah bunga-bunga tumbuh atau berkembang
tak pernah meributkan kapan harus mekar atau kembali kuncup
pun tak ada yang mempermasalahkan kapan layu dan gugur

bunga-bunga selalu setia muncul di ujung-ujung ranting
atau di bagian batang di mana biasanya tumbuh
mewarnai daun-daun dan pokok pohon
sesuai kodrat
menyegarkan keindahan alam
tanpa harus tawar menawar apalagi membuat perjanjian

Kumendung, 16 Januari 2025

Penulis: Gimien Artekjursi
Editor: Adnyana Ole


[][] Klik untuk BACA puisi-puisi lain

Puisi-puisi Komang Berata  |  Cara Menghukum Pengkhianat
Puisi-puisi Gimien Artekjursi | Tanamlah Musim dalam Jiwamu
Puisi-puisi Muhammad Hadriansyah | Hutan Kabut, Kumbang Koksi
Puisi-puisi Novita Dina | Stasiun Kata-kata
Tags: Puisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Nyepi, Lailatul Qadar, Idulfitri, Meleburlebarkan Fitrah Umat Manusia.

Next Post

Daging Sapi Pesanan Ibu | Cerpen Eyok El-Abrorii

Gimien Artekjursi

Gimien Artekjursi

Lahir 3 Agustus 1963. Tinggal di Banyuwangi. Tulisannya berupa puisi, cerpen dan esei sastra dimuat di media cetak di Bali. Juga menulis geguritan (puisi bahasa Jawa) dimuat di majalah Panyebar Semangat dan Jaya Baya (Surabaya).

Related Posts

Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

by Chusmeru
September 27, 2026
0
Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

Pagi September 1965 di Suatu Desa Suara derit terdengar dari pintu rumah kakek di suatu desa yang sejukAnak-anak mengajak bermain...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
0
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

Read moreDetails

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
0
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

by Salman Alade
September 6, 2026
0
Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

Memelihara Kesepian 1.letakkan kesepiandi tempat yang teduh. jauhkan dari suaraorang-orang yang terlalu bahagia. 2.beri makansetiap malam. sedikit kenangan.sedikit musik. jangan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

by Ni Putu Puspa Trisnawati
September 5, 2026
0
Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

Mother's Bakery Hari-hari terasa menghisap paracetamolPahitnya mengendap hingga ke ujung hatiBumi menyediakan sirup, namun maple pun sulit menyatukan yang retakIbu...

Read moreDetails

Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

by Supali Kasim
August 30, 2026
0
Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

Air di Daun Talas seberapa waktu bertahanair di daun talas dapat menerimakenyataan demi kenyataan tarian anginlantai licin dan tetabuhan riuhtanpa...

Read moreDetails

Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

by Sholihul Mubarok
June 28, 2026
0
Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

MENJELMA KATA DI KURUSETRA BERANDA mata-mata telingasulih gaduh suaralahir ribuan kekata jemari adalah ujung belatirobek halus di layar tanduskebajikan serta...

Read moreDetails

Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

by Andi Wirambara
June 27, 2026
0
Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

KUCING aku seekor kucing yang memanjat jendelamukau penghuni yang selalu menutupnya,bersantai menenteng cangkir teh yang pekat. aku mengeong dan mengamuk,...

Read moreDetails

Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

by IBW Widiasa Keniten
June 26, 2026
0
Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

Tuhan Beri Aku Waktu Tuhan, di sisa napas ini beri aku mengadudalam gelombang hidup yang tak pernah pastiTuhan, beri aku...

Read moreDetails

Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

by Mahesa Putra
June 21, 2026
0
Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

Pelancong Gersang Aku berhenti memikirkanmu.Jam-jam yang meruntuhkan angka-angka;berlarian masuk rumah. Aku berhenti memikirkanmu.Sejak kamu menggulir layar begitu pagi,memanen percakapan tentang...

Read moreDetails
Next Post
Daging Sapi Pesanan Ibu  |  Cerpen Eyok El-Abrorii

Daging Sapi Pesanan Ibu | Cerpen Eyok El-Abrorii

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co