2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kemeriahan Total Menyambut Sunyi pada “Pengerupukan Festival” di Singaraja

Son Lomri by Son Lomri
March 29, 2025
in Khas
Kemeriahan Total Menyambut Sunyi pada “Pengerupukan Festival” di Singaraja

Dua Penari dari Banjar Kaliuntu sedang melakukan pragmentari "Sangkala Tiga Sakti" | Foto Rusdy Ulu

BANJAR-banjar yang berada di Kota Singaraja, menampilkan ogoh-ogoh terbaiknya dalam menyambut Hari Raya Nyepi Tahun Saka 1947, pada malam pengerupukan, Jumat, 28 Maret 2025. Acara itu bertajuk “Pengerupukan Festival” yang digelar oleh Desa Adat Buleleng.

Acara itu sangat meriah, banyak orang tumpah di areal Tugu Singa di Jalan Ngurah Rai. Dengan kostum khas asal banjar mereka, ogoh-ogoh itu diarak menuju Jalan Veteran atau tepatnya di depan Gedung Sasana Budaya, dengan finish terakhir di Setra Buleleng di Jalan Gajah Mada.

Sebelum ke setra—akan dibakar, beberapa pertunjukan lebih dulu digelar di areal lampu lalu-lintas dekat patung kuda di Jalan Veteran, Singaraja. Ada sekitar 14 ogoh-ogoh dari 14 banjar yang melakukan pentas. Pragmentari dipertunjukan di sana berdasarkan cerita ogoh-ogoh yang dibawakan.

Di antara ogoh-ogoh berderet panjang di Jalan Ngurah Rai menuju Jalan Veteran, sebuah epitaf bertuliskan “Sang Kala Tiga Sakti” diangkat seorang perempuan. Ia dari Seka Teruna Satya Eka Dharma Banjar Adat Kaliuntu.

Diikuti oleh 13 perempuan pembawa obor, dan tiga puluh laki-laki memonggok ogoh-ogoh itu, suara tetabuhan baleganjur mengiringi mereka berjalan satu kelompok dari Jalan Ngurah Rai—Jalan Veteran.

Ogoh-ogoh “Sangkala Tiga Sakti” diponggok 30 orang bajang-bajang kuat | Foto Rusdy Ulu

“Sang Kala Tiga Sakti” bak monster besar dengan tampilan yang seram. Kepalanya tiga, dan—tiga-tiganya iblis. Bhuta Kala itu sedang berhadapan dengan orang suci seperti sedang adu sihir. Selain hanya diponggok dan digoyang-goyang, ogoh-ogoh ini akan dipentaskan melalui sebuah pragamentari.

Sesampainya “Sang Kala Tiga Sakti” di lokasi pementasan, seseorang menjerit di depan enam penari,

“Ketika ada yang jatuh seperti kancing atau apapun di kostum, abaikan. Tetap fokus senyum, fokus menari. Sekarang waktunya lomba. Habiskan semua tenaga!” kata perempuan itu ketika saya mencuri dengar. Ya, mereka akan tampil sebentar lagi.

Proses Mecaru dalam Pragmentari “Sangkala Tiga Sakti” | Foto Rusdy Ulu

Perempuan yang berteriak itu bernama Sri Mustya, seorang koreografer dari Seka Teruna Banjar Kaliuntu. Ada enam penari perempuan dan tujuh orang laki-laki yang akan membawakan cerita “Sangkala Tiga Sakti”.

“Tarian ini diangkat dari Bhuta Kala Sangakala Tiga Sakti. Menceritakan tentang rakyat yang buruk dan bhuta kala yang marah. Rakyat di sini digambarkan memiliki ciri khas buruk seperti senang foya-foya, suka mabuk-mabukan, suka berantakin sampah (buang sampah). Intinya buat onar di lingkungan hingga membuat bhuta kala itu marah besar,” kata Sri.

Kemudian ia juga menjelaskan, setelah menyaksikan rakyat teler—terlena pada apa yang buruk itu, di sanalah kemurkaan bhuta kala muncul—melalui penyakit gaib. Cetik atau santet, atau apa saja—juga entah itu virus. Dan untuk menghentikan kemurkaan bhuta kala semacam ini, rakyat mesti pergi ke Ida Pedangda (orang suci), atau melakukan upacara mecaru secara kolektif.

Setelah pengarahan dan persiapan semua selesai, pertunjukan pun dimulai.

Para pembawa obor “Sangkala Tiga Sakti” | Foto: Rusdy

Obor kemudian dinyalakan. Bhuta Kala bangkit dari tidurnya dibopong banyak orang—setelah rehat sejenak. Mereka segera bergegas ke tempat utama untuk tampil.

Sebuah penghalang berwarna putih dibuka, dan tiga perempuan masuk melakukan tarian dengan liukan tangan dan tubuh yang eksotis dan erotis. Mereka melakukan selebrasi modern—menggunakan kacamata dan selfi dengan ponsel.

Setelah itu beberapa laki-laki masuk dan menari, lalu melakukan obrolan sembari mabuk dan buang sampah. Tiga perempuan itu masih menari. Di susul beberapa perempuan membersamai tiga laki-laki sedang mabuk, juga sambil menari. Perempuan itu juga membuang sampah sembarang di pusaran mabuk.

Setelah semua tenggelam pada apa yang buruk—bernama mabuk dan buang sampah sembarang, tiga laki-laki digambarkan sebagai iblis—Sang Bhuta Kala Sakti itu, masuk melalui tirai penghalang yang dibuka orang-orang dibalik layar.

Tiga iblis itu melakukan keonaran dengan sangat marah. Marah-marah. Beberapa penari pria dan perempuan yang berperan sebagai rakyat itu panik dan kacau sekali. Suasana menjadi chaos dan tetabuhan semakin kencang ritmenya. Suasana mencekam…

Tiga penari dalam peran utama “Sangkala Tiga Sakti” dalam pragmentari | Foto Rusdy Ulu

Pada akhirnya mereka melakukan mecaru dengan mendatangi orang suci. Tarian itu ditutup ketika Ida Pedanda masuk dan begulat dengan bhuta kala itu dengan mantra dan air suci, ya, dupa masih menyala. Iblis-iblis itu lenyap kemudian setelah semua obor dinyalakan dan bunyi-bunyi dikeraskan, juga doa dirapal keras-keras.

Penampilan itu berakhir dengan suara gemuruh penonton melalui tepuk tangan yang kencang…

Memang, semua penampilan yang digelar malam itu menjadi daya tarik tersendiri. Bahkan, para penonton rela berjubel. Ada yang duduk di pagar, berdiri di bawah patung, di trotoar di mana-mana mencari celah.

Sehingga festival semacam ini seakan merupa ritual yang heboh. Karena semua orang membawa spirit keakraban dan keharmonisan di tengah desak-desakan badan, tentu, sebelum akhirnya akan benar-benar mensunyikan diri masing-masing.

Seperti pada Widya Astiti, ia mengangkat ponselnya tinggi-tinggi demi mengambil momen video dan foto ketika ogoh-ogoh yang ia tonton, dihadang punggung penonton lain. Tangannya tetap kokoh menjulang ke atas, matanya meliuk—melihat celah lubang seakan mengintip.

“Keren, Kak. Apalagi yang gotong ogoh-ogohnya ganteng-ganteng, hehe,”  kata Astiti di sela menonton pragmentari tadi. “Saya dari Kampung Baru, saya mau nonton ogoh-ogoh dari banjar saya,” lanjut Astiti hendak menonton lagi.

Seorang koreografer pragmentari, Sri Mustya, sedang memperbaiki topeng pemain | Foto: Rusdy Ulu

Semua yang hadir, nyaris—semua memiliki jagoannya masing-masing. Ada empat belas peserta dari berbagai macam banjar dengan hasil kreativitasnya yang unik, dan memiliki pesan terbaik tentang moral tentu saja.

Seperti tadi dari Banjar Kaliuntu yang membawa ogoh-ogoh bertajuk “Sangkala Tiga Sakti”—mengingatkan kita semua sebagai masyarakat jangan mabok aja, juga jangan buang sampah sembarang aja; di kali atau di laut, atau di lingkungan sekitar. Nanti ada yang marah, Bhuta Kala.

Selain dari Banjar Kaliuntu, ada juga dari Banjar Peguyangan membawa ogoh-ogoh “Kala Raksa” yang melakukan pragmentari. Terus ada juga pragmentari “Bhuta Kala Jenggitan” dari Banjar Adat Penataran, Bhuta Dasa Angkara dari Banjar Liligundi.

Kemudian “Kharisma Kroda Geni Rupa” dari Banjar Adat Delodpeken, “Bhuta Wilis” dari Banjar Adat Bali, “Sang Kala Samar” dari Banjar Adat Paketan, “Buta Bun Pamastu” dari Banjar Adat Tengah,  “Buta Cuil” dari Banjar Adat Petak,

“Sang Kala Catur Buta” dari Banjar Adat Kampung Anyar, “Bhuta Kala Dangen” dari Banjar Adat Tegal, dan “Nyi Rimbit” dari Banjar Adat Bale Agung. [T]

Repoter/Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Nyepi, Lailatul Qadar, Idulfitri, Meleburlebarkan Fitrah Umat Manusia.
Refleksi Spiritual Nyepi, Tumpek Wariga, dan Idulfitri dalam Pendidikan Pertanian
Ogoh-Ogoh, Nyepi, dan Idulfitri 
Tags: Hari Raya Nyepiogoh-ogohSingaraja
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Daging Sapi Pesanan Ibu | Cerpen Eyok El-Abrorii

Next Post

Setelah Nyepi, Warga Desa Banjar Ramai-ramai “Nyakan Diwang” atawa Memasak di Luar Rumah

Son Lomri

Son Lomri

Mahasiswa Undikhsa, tinggal di Singaraja

Related Posts

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
0
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails
Next Post
Setelah Nyepi, Warga Desa Banjar Ramai-ramai “Nyakan Diwang” atawa Memasak di Luar Rumah

Setelah Nyepi, Warga Desa Banjar Ramai-ramai “Nyakan Diwang” atawa Memasak di Luar Rumah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co