23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ogoh-Ogoh, Nyepi, dan Idulfitri 

I Nyoman Tingkat by I Nyoman Tingkat
March 23, 2025
in Esai
Ogoh-Ogoh, Nyepi, dan Idulfitri 

Ogoh-ogoh Sutasoma Katadah dari Sekaa Teruna Giri Mustika Werdhi Banjar Pantigiri Kutuh, Kuta Selatan (Foto : Surya)

DI Kabupaten BadungOgoh-ogoh serangkaian Pengerupukan Nyepi Tahun Baru Saka 1947 dilombakan di area Taman Budaya Gedung Giri Natha Mandala (15/3/2025) melalui penilaian secara berjenjang berdasarkan zona kecamatan dan dipercayakan kepada Sekaa Teruna masing-masing Banjar menggarapnya sesuai dengan ketentuan lomba.

Di Kecamatan Kuta Selatan misalnya, terdapat 3 juara yang mewakili zona  Ogoh-ogoh Sekaa Teruna Banjar Bualu, Ogoh-ogoh Sekaa Teruna Banjar Kelod Ungasan, dan Ogoh-ogoh Sekaa Teruna Banjar Kauh Pecatu. Pemenang di masing-masing zona kecamatan diadu kembali di tingkat kabupten untuk menentukan pemenang. 

Di balik lomba ogoh-ogoh itu, sesaat setelah pengumuman juara di tingkat Kabupaten Badung, ogoh-ogoh Tatwaning Kali Sengara Sekaa Teruna Banjar Bualu  yang dinobatkan sebagai juara II protes, gegara dikalahkan oleh Ogoh-ogoh Kungkang Siwa (Epik Katak Sakti) Banjar Umahanyar Penarungan Mengwi.

Terkait protes  itu, pihak Disbud Badung sudah mengklarifikasi melalui media sosial. Sebagai bentuk apresiasi, Ogoh-ogoh Tatwaning Kali Sengara selain mendapat Juara II juga dinobatkan sebagai juara pavorit sebagai bentuk apresiasi. Namun, gelombang kekecewaan juga belum dapat diredakan dan viral di media sosial.

Dalam konteks berbeda, protes ini mengingatkan saya pada kasus  juara 1 Lomba Gong Kebyar wanita Desa Baturiti, Kecamnatan Kerambitan, Tabanan, tetapi tidak diberikan karpet merah untuk melaju ke provinsi mewakili Kabupten Tabanan.

Memang resiko lomba ada kalah menang walaupun kriteria sudah ditetapkan, subjektivitas penilaian seni oleh juri tak terhindarkan. Oleh karena itu, seni seperti gong kebyar atau ogoh-ogoh sebaiknya tidak dilombakan, cukup diparadekan, sebagaimana dalam Parade Cak di Taman Budaya Denpasar pada tahun 2017, saat digelar Festival Bali Mandara Nawanatya pada era Gubernur Bali dijabat Made Mangku Pastika.

Saat itu, penampil cak dipentaskan secara mabarung dan Prof. Made Bandem memberikan apresiasi sekitar 5 menit mengomentari tampilan  Sekaa Cak SMA/SMK se-Bali. Pelaku seni nikmat, penonton terhibur dan tercerahkan. Mereka pulang sumringah. Semua sekaa mendapat piagam. Di perjalanan, mereka membandingkan kelebihan dan kekurangan masing-masing peserta. Mereka pun dapat menyimpulkan dari komentar Prof. Made Bandem, penampil terbaik malam itu.

Ketika Gubernur Bali dijabat Wayan Koster, Festival Bali Mandara Nawanatya berubah menjadi Festival Seni Bali Jani yang lebih mengedepankan seni modern (kontemporer) sebagai penyeimbang seni tradisional dalam ajang PKB yang tahun 2025 memasuki tahun ke-47. Itu menandakan pemimpin Bali memiliki keberpihakan pada seni dan budaya  secara berkelanjutan dan konsisten.

Untuk memberikan penguatan apresiasi, alangkah baiknya tim kurator dan panitia memperluas jangkauan apresiasi dengan memberikan penghargaan kepada para jurnalis/penulis yang mengabarkan baik dalam bentuk berita, kritik, atau esai dengan masa penilaian tertentu. Penilaian secara alami tanpa terkesan lomba. Hal demikian pernah dilakukan Kemendikbud dalam rangkan memperingati Hari Pendidikan Nasional pada era Presiden SBY dengan menilai tulisan yang pernah dimuat koran dalam rentang waktu tertentu bertema pendidikan.

Ogoh-ogoh Sutasoma Katadah dari Sekaa Teruna Giri Mustika Werdhi Banjar Pantigiri Kutuh, Kuta Selatan | Foto : Surya

Kembali ke ogoh-ogoh yang dilombakan, terlepas dari adanya protes, ada segi positif yang dapat dipetik.

Pertama, memberikan kepercayaan kepada Sekaa Teruna untuk mengembangkan inovasi dan kreativitas berkesenian, khususnya terkait dengan menggali kearifan Filosofi Hindu yang diterjemahkan ke dalam karya seni ogoh-ogoh.

Kedua, mendorong kolaborasi sesama  anggota Sekaa Teruna untuk belajar dalam tim sebagai bagian dari keterampilan abad ke-21. Sukses hari ini dan ke depan adalah Kerjasama tim. Melalui lomba ogoh-ogoh ini, kerjasama tim diperkuat termasuk meningkatkan skill individu.

Ketiga, melalui lomba ogoh-ogoh, roda ekonomi digerakkan di tengah badai cuaca ekonomi yang tidak menentu. Lebih-lebih, menjelang Nyepi, ada rangkaian ritual Melasti yang memerlukan biaya. Anggota Sekaa Teruna yang visioner dapat berjualan di banjarnya masing-masing sebagai penyedia konsumsi dan kostum misalnya. Tentu masih banyak sisi positipnya, selain juga ada negatifnya,

Terlepas dari plus minusnya, Ogoh-ogoh telah menjadi trend mengiringi upacara pengerupukan sehari menjelang Nyepi pada awal 1980-an di Kota Denpasar, nyaris berbarengan dengan gelaran Pesta Kesenian Bali (PKB) pertama (1979) gagasan Gubernur Bali, Prof. Dr. Ida Bagus Mantra. Sebelum dekade 1980-an, prosesi ngerupuk di Denpasar dan di desa-desa di Bali pada umumnya hanya menggunakan obor berkeliling desa melibatkan sekaa teruna dan anak-anak sekolah.

Saya masih ingat ketika ngerupuk 1970-an, guru menyuruh kami siswa SD Kelas IV-VI membawa obor (dibuat sendiri, dari mencari bambu, sabut kelapa, hingga minyak tanah) demi obor menyala. Belakangan ketika saya ikut Pramuka, obor juga dinyalakan mengawali api unggun dengan lagu “Api Kita Telah Menyala” mengitari kayu bakar yang sudah disiapkan sebelumnya. Dengan Pramuka kami merasa gagah dengan jilatan api di obor berkeliling tiga kali sebelum api pertama diacungkan ke kayu bakar yang dijadikan pusat api unggun.

Kini menjelang 50 tahun sejak awal ogoh-ogoh dirangkai ngerupuk setelah tawur kesanga di perempatan Desa Adat seluruh Bali, nyaris tiada ngerupuk tanpa ogoh-ogoh. Bahkan ngerupuk identik dengan ogoh-ogoh sebagaimana ngaben dengan wadah bade  penuh pesona. Padahal, penggunaan wadah bade bersifat alternatif, tidak wajib. Menggotong mayat ke kuburan serangkaian ngaben adalah hal biasa. “Hemat cermat dan bersahaja”, seperti salah satu bunyi Dasa Dharma Pramuka. Demikian pula halnya, ngerupuk tidak wajib dengan ogoh-ogoh.

 Kini, atraksi ogoh-ogoh di lapangan desa ditunggu-tunggu warga bahkan desa-desa wisata menjualnya dengan paket ngerupuk, Nyepi, dan Dresta Lango setelah Nyepi. Paket wisata ini bagi bule di Bali adalah hal yang istimewa.

Pertama, rangkaian ramai-sepi-ramai dengan ogoh-ogoh ngerupuk lalu hening-sepi-gelap Nyepi dan ramai dresta lango di beberapa desa adat seperti Mabuug-buugan di Desa Adat Kedonganan Kuta, Pasar Majelangu dengan final Jegeg Bungan desa di Desa Adat Kuta  atau Omed-omedan di Desa Adat Sesetan Denpasar Selatan akan memberikan pengalaman yang terunik sedunia. Bule akan  mendapat terapi alami ala Bali yang menyehatkan  secara lahir batin, sekala-niskala.

Kedua, selain memberikan tontonan bagi wisatawan sekaligus tuntunan bagi warga Hindu bahwa ogoh-ogoh dengan wajah seram bin garang adalah perlambang kejahatan. Maka saat tawur digelar, tugas umat adalah nyomia buta kala sehingga sifat-sifat keraksasaan dapat dikendalikan dengan sifat-sifat kedewataan mengedepankan  keutamaan budi dan etika berupacara. 

Dengan demikian, rangkaian Melasti, Ngerupuk, Nyepi, dan Ngembak Geni dengan Dresta Lango masing-masing menjadi ajang silaturahmi dengan sesama untuk saling memaafkan. Bersamaan dengan itu kualitas keimanan kepada Hyang Maha Embang ditingkatkan sembari menjaga alam beserta isinya senantiasa dalam keharmonisan secara konsisten dan berkelanjutan.

Mengimani rangkaian Melasti, Ngerupuk, Nyepi, dan Dresta Lango bagi manusia Bali seharusnya menjadi ruang meditasi dengan menyadari jeda di antara nafas. Nyepi lebih-lebih bagi manusia di Gumi Delod Ceking dengan Goa Peteng-nya adalah ajang refleksi membaca diri ke dalam goa gue selaras dengan goa duwe ciptaan Hyang Maha Galang dengan tradisi aksara bermakna.

Dengan bacaan itu, rangkaian Nyepi dengan semangat ritual bermuara pada peningkatan spiritual. Indikator keberhasilannya adalah saling asah, asih, asuh. Pakedek-pakenyung, manyama braya, semesta merestui. Ikatan kohesi dan koherensi menjadi paragraf  kehidupan yang menyatukan segala perbedaan.

Paragraf kehidupan akan menjadi rumpang manakala kemeriahan ritual berhenti di permukaan sebagai pesurfing yang bermain di atas indahnya ombak tanpa menyelam mengangkat mutiara di kedalaman Samudra yang menjanjikan klangon.

Lebih-lebih, saat Nyembak Geni (30 Maret 2025)  adalah malam takbiran bagi umat Islam menyambut Idul Fitri (31/3/2025). Kun Widodo sopir go car asal Surabaya yang saya tumpangi dari sekolah ke rumah mengatakan Idul Fitri itu ibarat Hari Raya Galungan bagi umat Hindu. Jika Galungan dimaknai sebagai hari kemenangan Dharma melawan Adharma, maka Idul Firti adalah kemenangan melawan nafsu (musuh dalam  diri) selama sebulan.

Puasa sebulan adalah ruang renungan reflektif – kontemplatif – meditatif untuk lahir kembali secara spiritual. Kembali ke fitri, Kembali ke fitrah sebagaimana Jhon Locke mengibaratkan kelahiran sebagai layaknya kertas putih, tanpa noda.

Selamat Hari Suci Nyepi Tahun Baru Saka 1947. Selamat Idul Fitri 1446 H. Salam Toleransi. [T]

Penulis: I Nyoman Tingkat
Editor: Adnyana Ole

SOMYA DAN ŚŪNYA: Yang Terlupakan dari Gemuruh Euforia Ogoh-Ogoh
Ogoh-Ogoh, Arena Kreativitas Kolektif Anak Muda Bali : Inovasi dari Tahun ke Tahun
Yowana Desa Adat Padangtegal Gagas Pawai Ogoh-Ogoh dengan Tema “Bhuta Rupa”
Tags: Hari Raya NyepiIdul FitriIdulfitriogoh-ogoh
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Doa Kembang Turi |  Cerpen Heri Haliling

Next Post

DI BALIK TOPENG DALEM SIDDHAKARYA

I Nyoman Tingkat

I Nyoman Tingkat

Kepala SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Bali

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
DI BALIK TOPENG DALEM SIDDHAKARYA

DI BALIK TOPENG DALEM SIDDHAKARYA

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co