2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ogoh-Ogoh, Arena Kreativitas Kolektif Anak Muda Bali : Inovasi dari Tahun ke Tahun

Seriyoga Parta by Seriyoga Parta
March 12, 2024
in Ulas Rupa
Ogoh-Ogoh, Arena Kreativitas Kolektif Anak Muda Bali : Inovasi dari Tahun ke Tahun

Ogoh-ogoh dari Desa Bengkala, Kubutambahan, Buleleng, Bali | Foto diambil dari akun facebook Juni Farinson

OGOH-OGOH merupakan kreativitas kolektif anak muda Bali dalam membuat karya seni tiga dimensi, entah bagaimana mereka menyerap pembelajaran bentuk menghasilkan patung-patung berongga dari anyaman bambu dengan rangka besi dan dilapisi kertas koran, atau media lainnya.

Kini dari segi bentuk, ogoh-ogoh telah menunjukkan anatomi yang semakin sempurna, serta karakter bentuk-bentuk yang begitu kuat dalam menginterpretasikan bhuta kala (bhuta: ruang dan kala : waktu). Energi alam yang bersifat negatif dan positif dalam momen upacara tawur kesanga disomnya atau diseimbangkan.

Upacara tahunan ini menjadi  unik, karena diiringi dengan momentum kehadiran ogoh-ogoh yang diarak keliling desa dengan sukacita pada suasana pengerupukan.

Sumber foto: Instagram

Ogoh-ogoh dalam kaitannya sebagai bagian dari tradisi upacara Nyepi khususnya acara pengerupukan sebetulnya bukanlah tradisi yang sangat tua, kemungkinan baru mulai marak pada era 1980-an di daerah Denpasar.

Tradisi ini menjadi menarik bukan hanya karena terkait dengan Nyepi, tetapi telah menjadi sebuah ritus kolektif untuk menghadirkan interpretasi masyarakat dalam memaknai bhuta kala. Tahun ke tahun berbagai bentuk ogoh-ogoh hadir secara dinamis, bahkan kerap kali menghadirkan bentuk-bentuk yang terkait dengan kritik sosial dan juga terkait dengan suasana politik.

Sisi menarik lainnya berada pada kreasi bentuk, dari waktu ke waktu terus terjadi inovasi dalam bentuk-bentuk ogoh-ogoh dari yang berdiri dengan satu kaki, atau mengkomposisikan serangkaian figur yang saling terkait dan bernarasi. Telah terjadi terobosan dalam konstruksi rangka, awalnya memakai rangkaian struktur kayu tapi kini persoalan rangka menjadi lebih mudah karena hampir semua ogoh-ogoh telah memakai rangka besi yang dilas permanen.

Sumber foto: Instagram

Berikutnya terjadi inovasi bentuk, terutama pada kemampuan dalam membuat berbagai karakter bentuk anatomi dan karakter mimik muka dan ekspresi dengan berbagai karakter. Karakter bentuk ogoh-ogoh bahkan menyerupai karakter efek visual seperti dilakukan kreator film sekelas Hollywood.

Bahkan belakangan marak pemakaian motor penggerak untuk menjadikan  ogoh-ogoh dapat bergerak sebagaimana robot. Ogoh-ogoh kinetik begitu marak berlakangan ini, menjadikan masyarakat semakin antusias dengan terbosan yang dilakukan setiap tahun.

Serangkaian inovasi yang terjadi dalam dunia perogoh-ogohan di Bali ini digerakkan oleh generasi muda yang super kreatif. Bahkan tidak semua generasi muda ini mengenyam pendidikan seni rupa baik tingkat SMK ataupun Perguruan Tinggi.

Memang beberapa pelaku kreator ogoh-ogoh yang cukup berpengaruh seperti Keduk dan Marmar dari Denpasar, Gusman dari Tampaksiring, mengenyam pendidikan formal seni rupa. Namun serta merta dapat dilihat pendidikan formal tersebut menjadi faktor utama dalam menjadi penyebab kreativitas anak muda dalam mencipta karakter ogoh-ogoh. 

Sumber foto: Instagram

Gelombang kreativitas ini bak air bah yang tak terbentung, bagaimana tidak, dalam setiap banjar minimal ada satu ogoh-ogoh dan biasanya akan ada tiga bahkan lebih. Dalam satu desa adat bisa terdiri dari lima atau belasan banjar, tak pelak setiap desa adat akan dimeriahkan dengan puluhan ogoh-ogoh setiap tahun.

Fenomena lain di daerah urban, bisa jadi setiap gang utama akan membuat ogoh-ogoh dari anak muda, hingga anak-anak kecil membuat puluhan ogoh-ogoh.

Momentum Nyepi telah menjadi festival tahunan yang selalu disambut dengan antusias oleh semua masyarakat, terutama generasi muda yang setiap tahun menyiapkan kreasi-kreasi bentuk-bentuk baru yang berbeda, yang unik dan inovatif.

Entah bagaimana mereka menyerap pembelajaran tentang kreasi bentuk tersebut, pokoknya tiba saat momen beberapa bulan sebelumnya mereka akan mulai menyiapkan diri untuk membuat ogoh-ogoh baru. Karena tiap selesai acara ogoh-ogoh akan dihancurkan dengan dibakar atau belakangan hanya dibongkar untuk dipakai kembali, dan sebelumnya diiringi prosesi upacara penghancurannya.

Walaupun rangka besi masih ada, tentu mereka tidak akan puas membuat gerakan yang sama, rangka besi akan kembali dibongkar dan dikomposisi ulang untuk membuat gerakan yang baru dan bentuk serta karakter baru pula.

Bagi anak muda Bali, momentum Nyepi merupakan arena  ajang untuk menumpahkan energi kreativitas berkreasi melalui media ogoh-ogoh, mereka mempunyai cara tersendiri dalam menyerap berbagai pengetahuan rupa.

Berbagai bentuk ogoh-ogoh yang diarak pada Hari Pengerupakan Nyepi, Minggu 10 Maret 2024 | Foto diambil dari facebook

Berbagai bentuk ogoh-ogoh yang diarak pada Hari Pengerupakan Nyepi, Minggu 10 Maret 2024 | Foto: Yoga

Dalam dunia serba digital kini semakin mudah mengakses berbagai referensi audio visual melalui gawai dengan akses internet yang menyediakan big data. Mulai ada konten-konten di youtube dan IG anak muda membuat pembahasan referensi rupa ogoh-ogoh, misalnya dengan menyandingkan tradisi Giant Puppet di Eropa yang gigantik dan dapat bergerak bahkan mengeluarkan api atau asap.

Semua hal itu dapat menjadi inspirasi bagi anak-anak muda Bali dalam mengembangkan kreasi ogoh-ogohnya. Mereka menjalankan mekanisme penyerapan pengetahuan taksit melalui praktek langsung, dengan serangkaian percobaan dan penyempurnaan terus setiap tahun. Ritus tradisi ogoh-ogoh Nyepi menjadi ruang transformasi pengetahuan langsung dan sekaligus regenerasi terjadi di dalamnya.

Berbagai bentuk ogoh-ogoh yang diarak pada Hari Pengerupakan Nyepi, Minggu 10 Maret 2024 | Foto: Yoga

Sebagai arena perayaan ogoh-ogoh Nyepi menjadi momentum untuk setiap  kelompok atau banjar bersaing menghadirkan bentuk-bentuk dan karakter yang berbeda-beda. Sebagaimana fenomena banjar Tainsiat Denpasar misalnya dengan sengaja menyelesaikan ogoh-ogohnya dalam waktu yang sangat mepet dan pemasangan bagian kepala yang memakai rangka robotik, dipasang pada saat hari pengerupukan sebelum diarak.

Fenomena ini menunjukkan begitu ketatnya persaingan antar banjar atau kelompok untuk menghadirkan kejutan-kejutan baru yang nantinya tidak disangka oleh kelompok lainnya.

Begitu kuat keinginan mereka untuk menghadirkan sesuatu yang unik dan inovatif setiap tahun dalam momentum hari Nyepi. Persaingan dalam budaya kolektif menjadi spirit untuk mengedepankan kreasi unik dan inovatif, ruang religi dan budaya telah menjadi menjadi arena pertarungan kompetitif. [T]

BACA artikel tentang seni rupa lain dari penulis SERIYOGA PARTA

Teriakan Pengarak Ogoh-Ogoh: Ekspresi Budaya atau Histeria?
Wajah Nyepi, Relasi Agama dan Budaya untuk Harmoni
Di Nusa Penida, Nyepi Tanpa Bantal Bleleng seperti Nggak Nyepi
Wajah Nyepi, Relasi Agama dan Budaya untuk Harmoni
Tags: baliHari Raya Nyepiogoh-ogohSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Teriakan Pengarak Ogoh-Ogoh: Ekspresi Budaya atau Histeria?

Next Post

Semua Telah Dimulai, UKM Teater Kampus Seribu Jendela Bangkitkan Seni Teater di Bali Utara

Seriyoga Parta

Seriyoga Parta

Wayan Seriyoga Parta, M.Sn, lahir di Tabanan 1980, pengelola program Komunitas Klinik Seni Taxu, redaksi Buletin Komunitas Seni Rupa Kitsch (2004-2005), staf pengajar seni rupa di Universitas Negeri Gorontalo, Founder Gurat Institute. Founder & Kurator Arc of Bali Art Award,

Related Posts

Mengurai Gnosis Perupa Payangan

by I Wayan Westa
September 27, 2026
0
Mengurai Gnosis Perupa Payangan

Dr. Jean Couteau, budayawan asal Prancis pernah berseloroh soal kondisi terkini psiko-budaya generasi Bali. Dalam sejumlah pernyataan lisan maupun tertulis,...

Read moreDetails

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

by Jaswanto
September 26, 2026
0
Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

PADA siang yang membakar, saya berebut jalanan Surabaya menuju Voza Tower di Jalan Mayjen HR. Muhammad, Putat Gede, Sukomanunggal. Di...

Read moreDetails

Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

by Emi Suy
September 23, 2026
0
Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

Datang Setelah Riuh Saya datang ketika riuh telah selesai. Pameran telah usai dibuka, sebagian pengunjung mulai beranjak, percakapan telah menemukan...

Read moreDetails

Guci Nasib di Titik Nol Kota

by I Wayan Westa
September 22, 2026
0
Guci Nasib di Titik Nol Kota

”….dalam labirin, aku mencari guci nasibku, yang tersimpan dalam kabut kebuntuan, membentur dalam setiap sudut dinding, tak tahu jalan pulang,...

Read moreDetails

Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

Menelisik foto karya yang tampak pada pameran, bidang kanvas dipenuhi figur-figur wayang, makhluk mitologis, ornamen, tetumbuhan, dan jaringan garis yang...

Read moreDetails

Membaca Naga Agus Kama Loedin

by I Wayan Westa
September 16, 2026
0
Membaca Naga Agus Kama Loedin

---Venue Art, Batu & Studio, Batubulan, Gianyar, Bali | 12 September 2026 * Pameran "Jaga Raga Bara Jiwa" dibuka  Rektor...

Read moreDetails

Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

by Angga Wijaya
September 16, 2026
0
Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

Di Agung Rai Museum of Art atau ARMA, Ubud, Bali, pada Juli 2026, sebuah pohon penuh kuda hadir di antara...

Read moreDetails

Wajah I Made Galung Wiratmaja

by Hartanto
September 10, 2026
0
Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

Read moreDetails

“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

by Hartanto
September 3, 2026
0
“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

PADA tanggal 29 Agustus hingga 29 September 2026 nanti, digelar pameran lukisan karya I Ketut Suasana ‘Kabul’. Pameran bertajuk  Nectar...

Read moreDetails

Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

by I Wayan Westa
September 3, 2026
0
Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

DI tengah lingkungan yang rusak, belantara  Kalimantan terbakar, ribuan hektar tanah Subak di Bali   menyusut.  Sebab, dari 80.000 hektar di...

Read moreDetails
Next Post
Semua Telah Dimulai, UKM Teater Kampus Seribu Jendela Bangkitkan Seni Teater di Bali Utara

Semua Telah Dimulai, UKM Teater Kampus Seribu Jendela Bangkitkan Seni Teater di Bali Utara

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co