23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Teriakan Pengarak Ogoh-Ogoh: Ekspresi Budaya atau Histeria?

Angga Wijaya by Angga Wijaya
March 12, 2024
in Esai
Teriakan Pengarak Ogoh-Ogoh: Ekspresi Budaya atau Histeria?

Ogoh-ogoh Pemuda Cipakan | Foto: Komang Sujana

DI Bali, saat Pangrupukan, sehari menjelang Nyepi—ketika sandyakala, peralihan siang menuju malam, orang Bali melaksanakan prosesi mabuu-buu; menyalakan api dari daun kelapa kering yang diikat menjadi satu, membunyikan kentongan lalu mengelilingi pekarangan rumah bersama semua anggota keluarga—mengusir roh-roh jahat dan energi negatif di rumah, bersama doa dan harapan akan kedamaian hati, kebahagiaan, dan kesejahteraan keluarga serta dunia secara keseluruhan. Doa-doa yang tidak egois dan tidak bersifat individualistis.

Setelah itu, warga berbondong-bondong menyaksikan ogoh-ogoh, simbol Bhuta Kala, diarak keliling desa. Jalanan ramai; kini tak hanya orang Bali yang menonton, melainkan juga warga perantau yang tinggal di Bali.

Ogoh-ogoh punya kesan tersendiri bagi mereka, terutama bagi anak-anak dan remaja. Orang dewasa dan tua dengan antusias mengantar anak dan cucu mereka menyaksikan ogoh-ogoh. Berfoto, mengambil video—sebagai bentuk apresiasi terhadap keunikan dan kekayaan budaya di Bali.

Sejarah Ogoh-Ogoh

Ogoh-ogoh, patung raksasa yang menyeramkan dengan berbagai bentuk dan warna, merupakan elemen ikonik dalam perayaan Hari Raya Nyepi di Bali. Di balik kemeriahan pawai ogoh-ogoh, terdapat sejarah panjang dan makna simbolis yang tertanam dalam budaya Hindu Bali.

Sejarah ogoh-ogoh tidak dapat dipisahkan dari ritual Nyepi yang bertujuan untuk memaknai keheningan dengan melaksanakan Catur Brata Penyepian, empat pantangan yang tak boleh dilanggar; tidak menyalakan api/lampu, tidak bekerja, tidak melakukan kesenangan, dan tidak keluar rumah selama Nyepi berlangsung.

Kata “ogoh-ogoh” berasal dari bahasa Bali “ogah-ogah”, yang berarti sesuatu yang digoyang-goyangkan. Awal mula ogoh-ogoh dapat ditelusuri kembali ke tradisi leluhur Bali yang membuat boneka jerami untuk menakut-nakuti hama di sawah. Seiring waktu, tradisi ini berkembang menjadi “onggokan” atau tumpukan jerami yang dibakar pada malam sebelum Nyepi.

Dilansir dari laman desasangeh.badungkab.go.id, ada beberapa pandangan mengenai sejarah ogoh-ogoh. Setidaknya ada tiga versi terkait sejarah ogoh-ogoh di Bali.

Pertama, versi yang menyebutkan bahwa ogoh-ogoh telah dimulai dari zaman Dalem Balingkang. Saat itu, ogoh-ogoh digunakan dalam upacara pitra yadnya. Kedua, ada juga pandangan yang menyatakan bahwa ogoh-ogoh berawal dari tradisi Ngusaba Ngong-Nging di desa Selat, Karangasem.

Ketiga, ada pula pendapat bahwa ogoh-ogoh muncul dari adanya barong landung yang merupakan wujud dari Raja Jaya Pangus dan Putri Kang Cing Wei. Tradisi berupa pengarakan dua buah ogoh-ogoh yang berwujud laki-laki dan perempuan sebagai visualisasi barong landung diyakini merupakan cikal bakal lahirnya ogoh-ogoh dalam ritual Nyepi.

Terlepas dari itu, ogoh-ogoh baru meluas sebagai rangkaian Nyepi di Bali sejak tahun 1980-an. Sejak itu, masyarakat di beberapa tempat di Denpasar mulai membuat perwujudan onggokan yang disebut ogoh-ogoh. Budaya baru ini juga semakin meluas saat ogoh-ogoh diikutkan dalam Pesta Kesenian Bali XII.

Makna Ogoh-Ogoh

Ogoh-ogoh melambangkan personifikasi Bhuta Kala, kekuatan negatif yang melambangkan hawa nafsu dan sifat-sifat jahat dalam diri manusia. Bentuknya yang menyeramkan dimaksudkan untuk menakut-nakuti dan mengusir kekuatan negatif tersebut. Pawai ogoh-ogoh pada malam Pengrupukan, sehari sebelum Nyepi, merupakan simbolisasi pertarungan antara kekuatan baik dan kekuatan jahat.

Diiringi dengan suara gamelan yang meriah, ogoh-ogoh diarak keliling desa untuk kemudian dibakar pada akhir pawai. Pembakaran ini melambangkan penyucian diri dari segala sifat negatif dan menyambut Tahun Baru Saka yang penuh harapan.

Meskipun tradisi ogoh-ogoh telah berkembang pesat dengan semakin kreatifnya bentuk dan desainnya, makna simbolisnya tetap relevan di zaman modern. Dalam dunia yang penuh dengan kompleksitas dan tantangan, ogoh-ogoh menjadi pengingat bagi manusia untuk selalu waspada terhadap hawa nafsu dan sifat-sifat jahat.

Pawai ogoh-ogoh juga menjadi wadah bagi masyarakat untuk mengekspresikan kreativitas dan melestarikan budaya Bali. Tradisi ini mampu menyatukan masyarakat dan memperkuat rasa kebersamaan dalam menyambut Tahun Baru Saka Di era digital ini, ogoh-ogoh telah menjadi ikon budaya Bali yang mendunia. Kepopulerannya menarik perhatian wisatawan dan menjadi salah satu daya tarik utama pariwisata Bali.

Bahkan, di Kota Denpasar, pawai ogoh-ogoh berlangsung hingga lewat tengah malam dan memasuki dini hari. Di media sosial, dapat kita lihat dan tonton antusiasme warga menyambut gelaran budaya satu tahun sekali ini. Diiringi suara gamelan yang menggema, para pengarak ogoh-ogoh bergerak dengan penuh energi, tak jarang mengeluarkan teriakan dan seruan yang membahana.

Histeria(?)

Namun, di balik teriakan dan seruan tersebut, muncul pertanyaan: Apakah perilaku ini merupakan ekspresi budaya yang semata-mata, ataukah dapat dikategorikan sebagai histeria dalam kajian psikologi?

Histeria adalah sebuah gangguan mental yang ditandai dengan luapan emosi yang intens dan tidak terkendali, often accompanied by physical symptoms like seizures, fainting, or paralysis.

Menilai teriakan pengarak ogoh-ogoh sebagai histeria memerlukan analisis mendalam, mempertimbangkan beberapa faktor:, antara lain: 1) Konteks budaya: pawai ogoh-ogoh merupakan ritual simbolis dalam budaya Bali. Teriakan dan seruan mungkin menjadi bagian dari ekspresi budaya dan tradisi, bukan semata-mata luapan emosi yang tidak terkendali.

2) Tingkat intensitas dan kontrol: jika teriakan dan seruan disertai dengan perilaku tak terkendali seperti kejang, pingsan, atau agresivitas, kemungkinan histeria lebih tinggi.; 3) Motivasi dan tujuan: apakah teriakan dan seruan merupakan luapan emosi spontan, atau bagian dari ritual dan pertunjukan yang terencana; 4) Kondisi psikologis pengarak: riwayat trauma atau gangguan mental pada pengarak dapat meningkatkan kemungkinan histeria.

Teriakan dan seruan pengarak ogoh-ogoh tidak selalu dapat dikategorikan sebagai histeria. Perlu dikaji konteks budaya, intensitas dan kontrol, motivasi dan tujuan, serta kondisi psikologis pengarak untuk menentukan apakah perilaku tersebut tergolong histeria.

Terlepas dari kategorisasi histeria, teriakan dan seruan pengarak ogoh-ogoh dapat dilihat sebagai ekspresi katarsis, yakni pelepasan emosi dan energi yang terpendam, sebagai bagian dari ritual penyucian diri dan menyambut Tahun Baru Saka.

Juga, sebagai simbolisasi kekuatan; teriakan dan seruan melambangkan perlawanan terhadap kekuatan negatif yang diwakili oleh ogoh-ogoh. Selain itu, penyatuan komunitas; pawai ogoh-ogoh menjadi momen kebersamaan dan rasa persatuan dalam menyambut Tahun Baru Saka.

Diperlukan penelitian dan kajian lebih lanjut untuk memahami secara mendalam makna dan dampak teriakan dan seruan pengarak ogoh-ogoh. Kajian interdisipliner yang melibatkan psikologi, antropologi, dan budaya dapat memberikan pemahaman yang lebih komprehensif tentang fenomena ini.[T]

Referensi:

  1. “Ogoh-ogoh di Bali: Sejarah, Makna, dan Kaitannya dengan Hari Raya Nyepi”: https://www.detik.com/bali/budaya/d-6609031/ogoh-ogoh-di-bali-sejarah-makna-dan-kaitannya-dengan-hari-raya-nyepi
  2. Histeria: https://en.wikipedia.org/wiki/Histeria
  3. Gangguan Konversi: https://id.scribd.com/doc/308053876/Gangguan-konversi
  4. Histeria: Gejala, Penyebab, dan Pengobatan: https://jamanetwork.com/journals/jama/fullarticle/219872
Wajah Nyepi, Relasi Agama dan Budaya untuk Harmoni
Di Nusa Penida, Nyepi Tanpa Bantal Bleleng seperti Nggak Nyepi
Gempita Fragmen Tari Bawi Srenggi Dadia Pudeh, Begini Awal Mula Ogoh-Ogoh di Tajun
Yowana Desa Adat Padangtegal Gagas Pawai Ogoh-Ogoh dengan Tema “Bhuta Rupa”
Tags: Hari Raya NyepiNyepi 2024ogoh-ogoh
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Writing Academic Essay

Next Post

Ogoh-Ogoh, Arena Kreativitas Kolektif Anak Muda Bali : Inovasi dari Tahun ke Tahun

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Ogoh-Ogoh, Arena Kreativitas Kolektif Anak Muda Bali : Inovasi dari Tahun ke Tahun

Ogoh-Ogoh, Arena Kreativitas Kolektif Anak Muda Bali : Inovasi dari Tahun ke Tahun

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co