2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Refleksi Spiritual Nyepi, Tumpek Wariga, dan Idulfitri dalam Pendidikan Pertanian

I Wayan Yudana by I Wayan Yudana
March 27, 2025
in Esai
Refleksi Spiritual Nyepi, Tumpek Wariga, dan Idulfitri dalam Pendidikan Pertanian

Foto ilustrasi tatkala.co

PADA bulan Maret 2025 ini, dua perayaan besar dari dua tradisi keagamaan yang berbeda hadir hampir bersamaan. Umat Islam merayakan IdulFitri 1446 Hijriah. IdulFitri sebagai momen kemenangan setelah menjalankan ibadah puasa selama sebulan penuh di bulan Ramadan. Sementara itu, umat Hindu menyambut Hari Raya Nyepi Tahun Saka 1947. Lebih Istimewa lagi, Hari Raya Nyepi pada tahun ini bertepatan dengan Hari Suci Tumpek Wariga. Tentu saja, perayaan ini memiliki esensi spiritual yang sangat dalam.

Melalui perayaan ini umat manusia diajak untuk kembali kepada kesucian hati. Umat manusia mesti mampu menata ulang kehidupan. Lebih dari itu, umat manusia dituntun untuk dapat merefleksikan hubungan manusia dengan alam. Dalam konteks pendidikan pertanian, refleksi ini menjadi sangat relevan untuk menumbuhkan kesadaran terhadap keberlanjutan dan pelestarian lingkungan.

Nyepi adalah momen hening untuk alam. Nyepi adalah hari perenungan yang menuntut umat Hindu untuk menghentikan seluruh aktivitas duniawi, menahan diri dari kesenangan, serta meresapi ketenangan dalam kesunyian. Selama 24 jam, tidak ada penerangan, tidak ada aktivitas fisik di luar rumah, dan bahkan lalu lintas udara di pulau Bali terhenti. Tradisi ini bukan hanya tentang spiritualitas pribadi. Akan tetapi, tradisi ini merupakan bentuk penghormatan kepada alam. Nyepi, yang menenangkan alam dari aktivitas manusia menjadi pengingat bahwa eksploitasi sumber daya alam yang berlebihan tanpa perhitungan dapat merusak keseimbangan ekosistem.

Pada saat yang sama, Tumpek Wariga adalah momen untuk memuliakan tumbuh-tumbuhan (sarwa tumuwuh). Tumpek Wariga merupakan hari suci yang mengajarkan kita bahwa manusia tidak bisa lepas dari alam. Seperti halnya manusia yang memerlukan makanan, pakaian, dan obat-obatan, tumbuh-tumbuhan pun memerlukan perawatan agar tetap lestari.

Dalam dunia pendidikan pertanian, ajaran Tumpek Wariga mengandung makna yang sangat dalam. Terkhusus bagi siswa di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) bidang agribisnis dan agriteknologi, dapat mengambil pelajaran penting dari filosofi Tumpek Wariga ini. Selain itu, sudah menjadi kewajiban pula bagi semua pelaku bidang pertanian agar lebih mampu menghargai proses bercocok tanam, memahami siklus kehidupan tanaman, serta mengembangkan metode pertanian yang ramah lingkungan.

Di sisi lain, Idulfitri adalah momen untuk kembali ke kesucian dan kesadaran kolektif. Idulfitri juga menjadi perayaan yang menandai akhir dari bulan Ramadan, bulan penuh latihan spiritual, kesabaran, dan pengendalian diri. Umat Islam merayakan Idulfitri dengan kembali kepada kesucian hati, mempererat silaturahmi, serta berbagi kebahagiaan dengan sesama. Konsep kebersamaan dalam Idulfitri dapat dihubungkan dengan bagaimana komunitas pertanian harus bekerja sama dalam membangun ekosistem yang berkelanjutan. Pertanian bukanlah pekerjaan yang dapat dilakukan sendirian. Akan tetapi, pertanian membutuhkan kerja kolektif dari berbagai pihak, mulai dari petani, peneliti, pemerintah, hingga generasi muda yang dididik di SMK pertanian.

Ketika Idulfitri mengajarkan nilai kepedulian terhadap sesama, dalam dunia pertanian, nilai ini dapat diterapkan dengan saling berbagi ilmu tentang metode pertanian yang lebih baik, membangun jaringan pasar yang adil, serta memastikan kesejahteraan petani sebagai ujung tombak ketahanan pangan. Walau faktanya selama ini –masih jauh panggang dari api—inilah saat tepat untuk berkontemplasi agar kita tidak terjebak oleh eksploitasi yang merugikan sumber kehidupan, yakni pertanian itu sendiri. Dengan semangat kebersamaan ini, para siswa SMK (insan pertanian) diharapkan dapat menjadi agen perubahan yang mampu memperbaiki sistem pertanian di Indonesia agar lebih maju dan berkelanjutan.

Menghubungkan kembali dengan esensi Nyepi, Tumpek Wariga, dan Idulfitri, dalam pendidikan pertanian membuka wawasan baru bagi generasi muda. Bahwa pertanian bukan sekadar soal membajak tanah dan menanam benih. Lebih dari itu, pertanian adalah cara manusia berinteraksi dengan alam, menjaga, dan mengembangkannya agar terus memberikan manfaat bagi kehidupan. Jika ajaran Nyepi mengingatkan kita untuk menjaga keseimbangan alam, dan Tumpek Wariga menuntun kita untuk menghormati tumbuh-tumbuhan maka semangat Idulfitri mendorong kita untuk bekerja sama dalam menjaga keberlanjutan pertanian. Semua itu mengajarkan umat manusia untuk menjalinkan diri secara harmonis dengan alam.

Di SMK dengan jurusan agribisnis dan agriteknologi, filosofi ini sesungguhnya telah diterapkan dalam berbagai praktik pembelajaran. Di antaranya, siswa diajarkan untuk mengembangkan pertanian organik yang tidak merusak ekosistem. Selain itu, diajarkan pula memahami pentingnya konservasi air dan tanah serta menerapkan inovasi teknologi dalam pertanian tanpa melupakan kearifan lokal. Dengan memahami nilai-nilai spiritual dari dua hari raya besar ini, siswa SMK tidak hanya dibekali keterampilan teknis dalam bertani tetapi juga memiliki kesadaran moral dan ekologis untuk menjaga keseimbangan alam.

Baik Nyepi, Tumpek Wariga, maupun Idulfitri mengajarkan kita bahwa kehidupan yang baik adalah kehidupan yang selaras dengan alam, sesama manusia dan Sang Pencipta (Tri Hita Karana). Pendidikan pertanian yang baik tidak hanya mencetak lulusan yang mahir dalam mengelola lahan pertanian semata. Pendidikan yang baik juga menghasilkan individu yang memiliki karakter dan kepedulian terhadap lingkungan serta mampu beradaptasi dengan tantangan zaman. Dengan menyerap nilai-nilai spiritual dari perayaan ini, semua pihak diharapkan mampu membawa perubahan positif dalam dunia pertanian dan menciptakan inovasi yang berkelanjutan. Selain itu bagaimana menjaga kesejahteraan petani sebagai penjaga ketahanan pangan bangsa.

Semua pihak tentu berharap bahwa momen perayaan ini tidak hanya menjadi ritual tahunan saja. Perayaan hari besar keagamaan ini juga menjadi pengingat akan pentingnya menjaga harmoni dalam kehidupan, baik dalam hubungan antar sesama manusia, dengan alam dan Sang Pencipta yang memberi kita kehidupan. Dengan semangat refleksi dari Nyepi dan kemenangan dari Idulfitri, komitmen akan terus berkembangnya pendidikan pertanian yang lebih baik demi masa depan yang berkelanjutan, semoga makin menggelora. [T]

Penulis: I Wayan Yudana
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis I WAYAN YUDANA

SMKN 1 Petang: Dari Lahan Sekolah, Mencetak Generasi Muda Cinta Pertanian
Padupadan Pariwisata dan Pertanian di SMKN 1 Petang: Membangun Masa Depan Berkelanjutan
Mengelola Pertanian di Sela Riuh Pariwisata — Catatan Perjuangan dari SMKN 1 Petang
Mengintegrasikan Pertanian dan Pariwisata, Kurikulum Agrowisata Berkelanjutan untuk Masa Depan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tidak ke Laut, Warga Adat Nagasepaha Melasti ke Batas Desa, di Mata Air Penyawangan Pura Segara

Next Post

Aksara di Bali Tak Akan Lekang oleh Zaman | Dari Seminar Internasional di STAHN Mpu Kuturan

I Wayan Yudana

I Wayan Yudana

Kepala SMKN 1 Petang, Badung, Bali

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
Aksara di Bali Tak Akan Lekang oleh Zaman | Dari Seminar Internasional di STAHN Mpu Kuturan

Aksara di Bali Tak Akan Lekang oleh Zaman | Dari Seminar Internasional di STAHN Mpu Kuturan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co