13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ketut Asti | Cerpen Yuditeha

Yuditeha by Yuditeha
April 19, 2025
in Cerpen
Ketut Asti  |  Cerpen Yuditeha

Ilustrasi tatkala.co | Rusdy

SETELAH mandi dan ganti baju, aku duduk di teras, berhadapan-hadapan dengan Riz. Ia mulai mengajariku membaca puisi yang harus aku tampilkan di sesi break pelatihan Sastra Bali. Meski sudah berulang kali mencoba, tetap saja aku kesulitan membaca seperti yang Riz ajarkan. Kulihat Riz terlihat mulai kesal. “Kenapa sih nggak bisa-bisa?” gumamnya sambil memijat kening.

Aku meringis, mencoba mencairkan suasana dengan bercanda, tapi ia mendadak berdiri, masuk ke rumah. Tapi ketika kembali, Riz sudah kembali tenang. “Aku berangkat dulu!” katanya sembari berjalan menuju motornya tanpa menungguku.

Sambil tetap khusyuk dengan bait-bait puisi, gegas aku menyusulnya. Namun, saat aku sudah sampai di dekatnya, Riz berbalik dan menatapku. “Aku bisa kena masalah kalau kamu bonceng aku!” katanya sebelum melesat pergi meninggalkanku berdiri bagai patung.

Pikiranku masih terpaku pada perkataannya, kena masalah, masalah apa? Tapi aku malas memikirkan lebih lanjut. Tak punya pilihan, segera aku pesan ojek. Setelah dua puluh menit, akhirnya aku tiba di pondok joglo sederhana tempat pelatihan. Aku mendengar Riz sudah memberikan materi di dalam ruangan.

Tanpa banyak pikir, aku langsung masuk dapur, mengambil piring, nasi, dan beberapa sate untuk kumakan di teras. Peserta lain menatapku heran, tapi aku tidak peduli. Tak lama, seorang perempuan Bali menghampiriku. Ia memperkenalkan diri bernama Ketut Asti, orang yang bertanggung jawab terhadap tempat pelatihan. “Kita di sini dua malam. Kamu bisa tidur di pondok itu,” katanya sambil menunjuk bangunan kecil di belakang joglo.

Aku mengangguk, merasa lega. Sesaat kemudian ponselku berdering. Nama Riz muncul di layar. “Aku khawatir kamu nggak sampai dengan aman!” ucapnya dengan nada cemas. Aku tertawa kecil dan meminta maaf. Aku spontan melirik ke arah Ketut Asti yang duduk di sebelahku.

Riz lantas memberitahu waktunya aku tampil baca puisi, dan tak kusangka penampilanku berjalan tanpa cacat, bahkan Riz memujiku. Setelah itu aku kembali duduk di samping Ketut Asti. Belum lama aku meletakkan pantatku, Riz kembali menelepon. Dia mengatakan sesuatu yang aneh dengan nada bergetar. “Nanti malam aku ikut di kamarmu ya.”

Sepertinya Ketut Asti mendengar ucapan Riz, tapi kulihat ia hanya tersenyum samar dan mengangguk seolah mengerti. Aku mengakhiri telepon dengan perasaan campur aduk.

“Riz tampaknya peduli padamu.” Ketut Asti berkata pelan, sembari menyerahkan sebelah earphone padaku.

Aku terdiam, tak tahu harus menanggapi bagaimana. Namun saat musik Bali mengalun di telingaku, seperti ada rasa dingin yang tiba-tiba merayapi punggungku.

“Selain ngurusi tempat ini, aku ingin bertemu seseorang,” kata Ketut Asti tiba-tiba, pandangannya mengarah jauh ke depan. “Seseorang yang dulu sangat aku kasihi. Seseorang yang pergi dengan meninggalkan janji.”

“Apa dia ikut acara ini juga?” tanyaku.

Ketut Asti setengah mengangguk. “Kau tahu, terkadang, ketika seseorang meninggalkan kita tanpa janji yang ditepati, mereka tetap tinggal, mengikat kita.”

Aku merasakan sesuatu yang ganjil.

“Riz mengingatkanku pada seseorang,” kata Ketut Asti.

Perkataannya membuat bulu kudukku berdiri. Apakah mungkin Ketut Asti melihat sesuatu di balik sosok Riz? Aku tak ingin berpikir jauh, tapi aku melihat tatapannya yang dalam seperti menyimpan duka.

Malam itu, setelah acara selesai, aku menuju pondok kecil yang ditawarkan Ketut Asti. Tak lama, terdengar ketukan di pintu, dan aku menduga itu Riz. Benar. Dia masuk dengan raut wajah penuh kecemasan.

“Dengar, aku harus cerita sesuatu.” Suaranya terdengar putus asa.

“Apa ini soal Ketut Asti?” tanyaku, langsung menerka.

Ia mengangguk perlahan. “Dia bukan sembarang peserta, dia adalah bayangan dari masa lalu. Kehidupan yang pernah ia jalani jauh sebelum kita lahir.”

Aku terdiam, bingung dengan ucapannya. “Apa maksudmu?”

“Aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya, tapi katanya aku dan ia punya ikatan yang tak bisa kuabaikan. Katanya pula, kami pernah berada di masa lalu yang sama. Dan di masa itu aku meninggalkannya tanpa menepati janji.”

Aku menatapnya, bingung. “Jadi kamu pikir Ketut Asti adalah semacam arwah?”

Riz menunduk pelan, seperti tak berani menatapku. “Entahlah. Setiap kali aku dekat dengannya, aku merasa bayangan masa lalu menghantuiku. Mungkinkah aku adalah sarana dia untuk menuntut janji?”

“Tapi mengapa harus kamu?” tanyaku.

Kali ini Riz menggeleng. “Sialnya, mengapa aku seperti juga mengalaminya.”

Aku merasa tak nyaman. Kata-kata Riz terdengar mustahil, tapi ekspresinya begitu serius. Seakan ia berbicara dari dalam hatinya yang terdalam. Malam semakin larut, dan bayangan Ketut Asti tiba-tiba muncul di jendela, menatap ke arah kami. Senyumannya terlihat kosong, matanya menyiratkan rasa duka yang tak terungkap. Dia membuka pintu pondok, berdiri di ambang pintu dengan aroma dupa yang menyengat, membawa suasana mistis.

“Kamu tak perlu takut, aku hanya ingin menuntaskan janji,” katanya pelan, suaranya nyaris seperti bisikan angin.

Aku menoleh pada Riz, yang menunduk, tampak pasrah.

“Ketut Asti, siapa sebenarnya kamu?” tanyaku, mencoba memecahkan misteri itu.

Dia menatapku, lalu berbisik pelan. “Aku adalah bagian dari masa lalu yang ingin dia abaikan. Aku adalah seseorang yang pernah dia janjikan kebahagiaan, tapi dia tinggalkan begitu saja.”

Riz mulai gemetar. “Aku, aku tidak tahu bagaimana caranya memenuhi janji itu di kehidupanku ini.”

Ketut Asti tersenyum tipis. “Aku tak butuh janji di kehidupan ini.”

“Maksudmu?” sahutku.

“Cukup ingatannya, cukup pengakuannya, bahwa aku memang ada. Setelah itu, aku bisa pergi.”

Perlahan, Ketut Asti menjauh. Sosoknya lenyap dalam kegelapan, bersama aroma dupa yang makin menghilang. Aku melihat Riz menarik napas dalam, seakan beban besar telah lepas dari pundaknya.

Esok paginya, sebelum menginjak acara diskusi, aku melihat sebuah potret di dinding joglo, seorang perempuan berkebaya mirip Ketut Asti. Di bawahnya tertulis nama dan tahun yang mencengangkan: 1947.

Aku tersentak, akhirnya memahami semuanya. Sosok Ketut Asti memang bukan bagian dari dunia ini, tapi mungkin memang bagian dari kehidupan Riz yang lain, yang dulu ia tinggalkan dengan janji tak tertepati.

Malam kedua, Ketut Asti tak lagi muncul. Tak di jendela, Tak ada di antara peserta latihan. tak di antara aroma dupa, tak dalam mimpiku. Dan Riz, ia tampak lebih tenang. Seolah sesuatu telah selesai. Di sela jeda sebelum sesi tanya jawab, aku duduk di tangga joglo, menatap Riz yang sedang menyeruput kopi. “Riz,” panggilku.

Ia menoleh, mengangguk kecil.

“Apa yang kau lakukan, sampai dia tidak datang lagi?”

Riz menghela napas, wajahnya terlihat damai. “Aku menerimanya,” katanya lirih.

Aku menatapnya bingung. “Maksudmu?”

“Menerima kalau dia ada di dekatku,” katanya, “tanpa harus kupertanyakan, tanpa harus kutakuti, tanpa harus kuingkari. Kadang yang pergi hanya ingin dikenang, bukan diusir.” Setelah itu kami sama-sama diam dalam keheningan. [T]

Penulis: Yuditeha
Editor: Adnyana Ole

KLIK untuk BACA cerpen lain

Buket Mawar Merah |  Cerpen Yuditeha
Lelaki yang Menghilang di Tengah Laut | Cerpen Pry S.
Perbincangan Rindu | Cerpen Lanang Taji
Daging Sapi Pesanan Ibu | Cerpen Eyok El-Abrorii
Doa Kembang Turi |  Cerpen Heri Haliling
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Leya Kuan | Pernah Aku Menjadi Remaja

Next Post

Kontekstualisai Modul Ajar Kebencanaan dalam Pembelajaran

Yuditeha

Yuditeha

Penulis tinggal di Karanganyar. IG: @yuditeha2

Related Posts

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails
Next Post
Kontekstualisai Modul Ajar Kebencanaan dalam Pembelajaran

Kontekstualisai Modul Ajar Kebencanaan dalam Pembelajaran

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual
Pameran

Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual

PERUPA Bali Made Wiradana kembali menegaskan perjalanan artistiknya melalui pameran tunggal bertajuk Kacatri yang digelar di Santrian Art Gallery, Sanur....

by I Gede Made Surya Darma
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co