2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ketut Asti | Cerpen Yuditeha

Yuditeha by Yuditeha
April 19, 2025
in Cerpen
Ketut Asti  |  Cerpen Yuditeha

Ilustrasi tatkala.co | Rusdy

SETELAH mandi dan ganti baju, aku duduk di teras, berhadapan-hadapan dengan Riz. Ia mulai mengajariku membaca puisi yang harus aku tampilkan di sesi break pelatihan Sastra Bali. Meski sudah berulang kali mencoba, tetap saja aku kesulitan membaca seperti yang Riz ajarkan. Kulihat Riz terlihat mulai kesal. “Kenapa sih nggak bisa-bisa?” gumamnya sambil memijat kening.

Aku meringis, mencoba mencairkan suasana dengan bercanda, tapi ia mendadak berdiri, masuk ke rumah. Tapi ketika kembali, Riz sudah kembali tenang. “Aku berangkat dulu!” katanya sembari berjalan menuju motornya tanpa menungguku.

Sambil tetap khusyuk dengan bait-bait puisi, gegas aku menyusulnya. Namun, saat aku sudah sampai di dekatnya, Riz berbalik dan menatapku. “Aku bisa kena masalah kalau kamu bonceng aku!” katanya sebelum melesat pergi meninggalkanku berdiri bagai patung.

Pikiranku masih terpaku pada perkataannya, kena masalah, masalah apa? Tapi aku malas memikirkan lebih lanjut. Tak punya pilihan, segera aku pesan ojek. Setelah dua puluh menit, akhirnya aku tiba di pondok joglo sederhana tempat pelatihan. Aku mendengar Riz sudah memberikan materi di dalam ruangan.

Tanpa banyak pikir, aku langsung masuk dapur, mengambil piring, nasi, dan beberapa sate untuk kumakan di teras. Peserta lain menatapku heran, tapi aku tidak peduli. Tak lama, seorang perempuan Bali menghampiriku. Ia memperkenalkan diri bernama Ketut Asti, orang yang bertanggung jawab terhadap tempat pelatihan. “Kita di sini dua malam. Kamu bisa tidur di pondok itu,” katanya sambil menunjuk bangunan kecil di belakang joglo.

Aku mengangguk, merasa lega. Sesaat kemudian ponselku berdering. Nama Riz muncul di layar. “Aku khawatir kamu nggak sampai dengan aman!” ucapnya dengan nada cemas. Aku tertawa kecil dan meminta maaf. Aku spontan melirik ke arah Ketut Asti yang duduk di sebelahku.

Riz lantas memberitahu waktunya aku tampil baca puisi, dan tak kusangka penampilanku berjalan tanpa cacat, bahkan Riz memujiku. Setelah itu aku kembali duduk di samping Ketut Asti. Belum lama aku meletakkan pantatku, Riz kembali menelepon. Dia mengatakan sesuatu yang aneh dengan nada bergetar. “Nanti malam aku ikut di kamarmu ya.”

Sepertinya Ketut Asti mendengar ucapan Riz, tapi kulihat ia hanya tersenyum samar dan mengangguk seolah mengerti. Aku mengakhiri telepon dengan perasaan campur aduk.

“Riz tampaknya peduli padamu.” Ketut Asti berkata pelan, sembari menyerahkan sebelah earphone padaku.

Aku terdiam, tak tahu harus menanggapi bagaimana. Namun saat musik Bali mengalun di telingaku, seperti ada rasa dingin yang tiba-tiba merayapi punggungku.

“Selain ngurusi tempat ini, aku ingin bertemu seseorang,” kata Ketut Asti tiba-tiba, pandangannya mengarah jauh ke depan. “Seseorang yang dulu sangat aku kasihi. Seseorang yang pergi dengan meninggalkan janji.”

“Apa dia ikut acara ini juga?” tanyaku.

Ketut Asti setengah mengangguk. “Kau tahu, terkadang, ketika seseorang meninggalkan kita tanpa janji yang ditepati, mereka tetap tinggal, mengikat kita.”

Aku merasakan sesuatu yang ganjil.

“Riz mengingatkanku pada seseorang,” kata Ketut Asti.

Perkataannya membuat bulu kudukku berdiri. Apakah mungkin Ketut Asti melihat sesuatu di balik sosok Riz? Aku tak ingin berpikir jauh, tapi aku melihat tatapannya yang dalam seperti menyimpan duka.

Malam itu, setelah acara selesai, aku menuju pondok kecil yang ditawarkan Ketut Asti. Tak lama, terdengar ketukan di pintu, dan aku menduga itu Riz. Benar. Dia masuk dengan raut wajah penuh kecemasan.

“Dengar, aku harus cerita sesuatu.” Suaranya terdengar putus asa.

“Apa ini soal Ketut Asti?” tanyaku, langsung menerka.

Ia mengangguk perlahan. “Dia bukan sembarang peserta, dia adalah bayangan dari masa lalu. Kehidupan yang pernah ia jalani jauh sebelum kita lahir.”

Aku terdiam, bingung dengan ucapannya. “Apa maksudmu?”

“Aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya, tapi katanya aku dan ia punya ikatan yang tak bisa kuabaikan. Katanya pula, kami pernah berada di masa lalu yang sama. Dan di masa itu aku meninggalkannya tanpa menepati janji.”

Aku menatapnya, bingung. “Jadi kamu pikir Ketut Asti adalah semacam arwah?”

Riz menunduk pelan, seperti tak berani menatapku. “Entahlah. Setiap kali aku dekat dengannya, aku merasa bayangan masa lalu menghantuiku. Mungkinkah aku adalah sarana dia untuk menuntut janji?”

“Tapi mengapa harus kamu?” tanyaku.

Kali ini Riz menggeleng. “Sialnya, mengapa aku seperti juga mengalaminya.”

Aku merasa tak nyaman. Kata-kata Riz terdengar mustahil, tapi ekspresinya begitu serius. Seakan ia berbicara dari dalam hatinya yang terdalam. Malam semakin larut, dan bayangan Ketut Asti tiba-tiba muncul di jendela, menatap ke arah kami. Senyumannya terlihat kosong, matanya menyiratkan rasa duka yang tak terungkap. Dia membuka pintu pondok, berdiri di ambang pintu dengan aroma dupa yang menyengat, membawa suasana mistis.

“Kamu tak perlu takut, aku hanya ingin menuntaskan janji,” katanya pelan, suaranya nyaris seperti bisikan angin.

Aku menoleh pada Riz, yang menunduk, tampak pasrah.

“Ketut Asti, siapa sebenarnya kamu?” tanyaku, mencoba memecahkan misteri itu.

Dia menatapku, lalu berbisik pelan. “Aku adalah bagian dari masa lalu yang ingin dia abaikan. Aku adalah seseorang yang pernah dia janjikan kebahagiaan, tapi dia tinggalkan begitu saja.”

Riz mulai gemetar. “Aku, aku tidak tahu bagaimana caranya memenuhi janji itu di kehidupanku ini.”

Ketut Asti tersenyum tipis. “Aku tak butuh janji di kehidupan ini.”

“Maksudmu?” sahutku.

“Cukup ingatannya, cukup pengakuannya, bahwa aku memang ada. Setelah itu, aku bisa pergi.”

Perlahan, Ketut Asti menjauh. Sosoknya lenyap dalam kegelapan, bersama aroma dupa yang makin menghilang. Aku melihat Riz menarik napas dalam, seakan beban besar telah lepas dari pundaknya.

Esok paginya, sebelum menginjak acara diskusi, aku melihat sebuah potret di dinding joglo, seorang perempuan berkebaya mirip Ketut Asti. Di bawahnya tertulis nama dan tahun yang mencengangkan: 1947.

Aku tersentak, akhirnya memahami semuanya. Sosok Ketut Asti memang bukan bagian dari dunia ini, tapi mungkin memang bagian dari kehidupan Riz yang lain, yang dulu ia tinggalkan dengan janji tak tertepati.

Malam kedua, Ketut Asti tak lagi muncul. Tak di jendela, Tak ada di antara peserta latihan. tak di antara aroma dupa, tak dalam mimpiku. Dan Riz, ia tampak lebih tenang. Seolah sesuatu telah selesai. Di sela jeda sebelum sesi tanya jawab, aku duduk di tangga joglo, menatap Riz yang sedang menyeruput kopi. “Riz,” panggilku.

Ia menoleh, mengangguk kecil.

“Apa yang kau lakukan, sampai dia tidak datang lagi?”

Riz menghela napas, wajahnya terlihat damai. “Aku menerimanya,” katanya lirih.

Aku menatapnya bingung. “Maksudmu?”

“Menerima kalau dia ada di dekatku,” katanya, “tanpa harus kupertanyakan, tanpa harus kutakuti, tanpa harus kuingkari. Kadang yang pergi hanya ingin dikenang, bukan diusir.” Setelah itu kami sama-sama diam dalam keheningan. [T]

Penulis: Yuditeha
Editor: Adnyana Ole

KLIK untuk BACA cerpen lain

Buket Mawar Merah |  Cerpen Yuditeha
Lelaki yang Menghilang di Tengah Laut | Cerpen Pry S.
Perbincangan Rindu | Cerpen Lanang Taji
Daging Sapi Pesanan Ibu | Cerpen Eyok El-Abrorii
Doa Kembang Turi |  Cerpen Heri Haliling
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Leya Kuan | Pernah Aku Menjadi Remaja

Next Post

Kontekstualisai Modul Ajar Kebencanaan dalam Pembelajaran

Yuditeha

Yuditeha

Penulis tinggal di Karanganyar. IG: @yuditeha2

Related Posts

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails
Next Post
Kontekstualisai Modul Ajar Kebencanaan dalam Pembelajaran

Kontekstualisai Modul Ajar Kebencanaan dalam Pembelajaran

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co