25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Teater Ditikam, Akal Sehat yang Mati

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
March 27, 2025
in Esai
Teater Ditikam, Akal Sehat yang Mati

Pementasan Passompe’ dari Kala Teater | Foto: Dok. Kala Teater

SIDANG pembaca yang budiman, tanggal 27 Maret dirayakan sebagai Hari Teater Sedunia atau World Theatre Day. Ada semacam ironi dan tragedi di baliknya.  Ketika universitas-universitas besar di dunia menjadi pusat pemikiran kritis, inovasi, dan keberanian akademik dalam menantang ketidakadilan, kampus-kampus kita di Indonesia justru menghadapi dilema akut.

Mau memilih menjadi menjadi menara gading yang steril dari hiruk-pikuk sosial-politik, atau, tetap berdiri tegak sebagai garda intelektual rakyat. Kasus terbaru di sebuah universitas di Bandung,  pementasan teater yang bertajuk “Wawancara dengan Mulyono”, entah siapa juga Mulyono ini, diduga digagalkan oleh pihak kampus, menambah daftar panjang kampus-kampus yang dikabarkan lebih memilih aman daripada berpihak pada kebebasan berpikir kritis.

Fenomena ini memperlihatkan bagaimana institusi pendidikan yang seharusnya menjadi ruang intelektual justru semakin terkungkung oleh ketakutan akan adanya ekspresi yang lantang bersuara. Dalam konteks ini, teater di Indonesia sebagai medium seni sekaligus alat perjuangan, juga peran kampus sebagai kawah candradimuka akal sehat, kembali diuji perannya.

Bila menilik ke belakang, kepada sejarah, kelompok-kelompok teater seperti Teater Kecil yang digagas Arifin C. Noer, Teater Populer oleh Teguh Karya, dan Bengkel Teater WS Rendra, menjadi bagian abadi dari sejarah perjuangan Indonesia melalui panggung seni. Pada masa Orde Baru, ketika kebebasan berpendapat dibatasi, kelompok teater ini harus menggunakan simbolisme dan metafora untuk menghindari sensor, tetapi tetap mampu menyampaikan kritik sosial yang tajam. Pertunjukan seperti “Mastodon dan Burung Kondor” karya WS Rendra menggambarkan kondisi politik Indonesia secara tersirat, namun telak menyentuh kesadaran publik.

Keunikan teater sebagai alat perjuangan, terletak pada sifatnya yang langsung, kolektif, dan adaptif. Berbeda dengan film atau tulisan yang bersifat satu arah, macam tulisan yang anda baca ini, teater memungkinkan interaksi langsung antara aktor dan penontonnya, sehingga mampu menciptakan pengalaman yang lebih emosional dan mendalam.

Selain itu, teater adalah kerja kolektif yang melibatkan berbagai macam elemen masyarakat, seringkali juga dipentaskan di ruang publik, karakter ini yang menjadikan teater lebih mudah diakses oleh rakyat kecil secara luas. Nah, dalam situasi politik yang represif, teater kerap kali menggunakan alegori dan humor sebagai strategi jitu untuk menghindari penyensoran. Memang strategi ini terbukti efektif dalam menyampaikan kritik sosial tanpa harus vis a vis dengan kekuasaan.

Netralitas yang Hipokrit

Mari sejenak melirik kampus. Sidang pembaca yang budiman pasti paham bahwa perguruan tinggi seharusnya menjadi ruang yang mendukung kebebasan berekspresi dan pemikiran kritis. Sejarah mencatat bahwa kampus sering menjadi pusat gerakan sosial, seperti gerakan mahasiswa 1966 yang berperan dalam menumbangkan Orde Lama dan juga gerakan mahasiswa 1998 yang menjadi garda terdepan dalam menuntut reformasi.

Namun, kini tak nampak lagi ruh perjuangan semacam itu. Dan gejala kampus kita justru semakin berhati-hati dalam bersikap. Tekanan politik dan ekonomi sepertinya mampu membuat institusi pendidikan lebih memilih untuk tidak berkonfrontasi dengan kekuasaan. Ketergantungan pada dana pemerintah atau swasta juga mempengaruhi independensi akademik dan kebebasan berekspresi.

Sangat disayangkan , karena jika perguruan tinggi dapat kembali mengambil peran sebagai garda depan perjuangan rakyat, maka kolaborasi dengan teater bisa menjadi kombinasi yang sangat kuat. Kampus dapat menjadi tempat lahirnya teater-teater progresif yang membahas isu-isu sosial tanpa takut sensor.

Sejarah mencatat bahwa perguruan tinggi negeri tidak selalu menjadi tempat yang steril dari perlawanan. Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Indonesia (UI), Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Hasanuddin (Unhas), dan Universitas Padjadjaran (Unpad) adalah beberapa contoh institusi yang masih berani mengkritik kebijakan pemerintah.

Pada Pemilu 2024, mereka mengeluarkan pernyataan keras terhadap Presiden Jokowi yang dianggap mencederai demokrasi. Bahkan pada Februari 2025, mahasiswa dari berbagai kampus turun ke jalan dalam gerakan #IndonesiaGelap untuk memprotes kebijakan Presiden Prabowo yang memangkas anggaran pendidikan. Ini adalah bukti bahwa perlawanan masih hidup, meski semakin banyak saja kampus yang lebih memilih diam.

Teater bukan hanya alat ekspresi seni, tetapi juga alat perjuangan rakyat yang strategis. Dengan sifatnya yang interaktif, kolektif, dan simbolik, teater dapat menyampaikan kritik sosial secara efektif dan membangkitkan kesadaran masyarakat. Perguruan tinggi, dengan tradisi akademik dan sejarahnya sebagai pusat gerakan sosial, memiliki potensi besar untuk berkolaborasi dengan teater dalam menyuarakan kepentingan rakyat.

Namun, tantangan seperti sensor, birokrasi kampus, dan komersialisasi pendidikan perlu diatasi agar peran ini bisa kembali diperkuat. Jika kampus dan teater bersinergi dalam perjuangan sosial, maka keduanya dapat menjadi kekuatan besar dalam membangun kesadaran kolektif dan memperjuangkan keadilan. Soekarno, dalam Indonesia Menggugat, menulis, “Jikalau orang tiada berani lagi mengatakan yang benar, maka bukan orang merdeka lagi namanya.”

Netralitas yang membungkam kebenaran bukanlah sikap akademik, melainkan bentuk diam yang berkedok ketertiban. Yang terjadi di Bandung (penggagalan pentas teater) bisa jadi adalah gejala yang lebih besar yaitu bahwa kampus-kampus di Indonesia semakin tunduk pada kepentingan status quo. Mereka lantas berbicara tentang netralitas, tetapi dalam praktiknya justru memihak kekuasaan dengan membungkam ekspresi kritis. Wajar jika kemudian ada yang berpendapat jika netralitas semacam ini dianggap sebagai suatu bentuk hipokrisi.

Siapa yang Kecewa?

Setiap manusia Indonesia yang kritis tentu kecewa. Jika kita bisa kembali ke masa lalu, terbayang bagaimana reaksi para founding fahers yang pasti kecewa dengan kondisi ini. Soekarno, yang dalam banyak pidatonya menegaskan pentingnya revolusi pemikiran di kampus-kampus, jelas akan marah besar melihat universitas-universitas kini hanya menjadi pabrik ijazah. Tan Malaka, Sang Bapak Republik Indonesia, yang sepanjang hidupnya berjuang untuk pendidikan rakyat, pasti akan sinis menertawakan bagaimana kaum intelektual hari ini lebih sibuk menjaga “harmoni” ketimbang memperjuangkan kebenaran.

Lebih menyedihkan lagi, para mahasiswa kita yang seharusnya menjadi penggerak perubahan justru dicekoki narasi bahwa “kampus harus netral.” Jangan kita lalu tantrum saat menemukan para mahasiswa ini netral juga terhadap situasi sekitar, seperti netral terhadap ketidakadilan, ketimpangan sosial, penindasan, kebebasan berpendapat, dan sebaggainya. Jika universitas benar-benar netral, artinya mereka merasa sah saja untuk sama sekali tidak berpihak kepada rakyat, tetapi menutup mata kepada kekuasaan yang ingin menjaga stabilitas tanpa kritik. 

Ki Hajar Dewantara pernah berkata, “Maksud pengajaran dan pendidikan yang berguna untuk perikehidupan bersama adalah memerdekakan manusia sebagai anggauta persatuan (rakyat).” Kampus yang memilih diam justru mengkhianati semangat pendidikan itu sendiri. Bagaimana mahasiswa dapat menjadi manusia yang utuh dan kritis jika kampusnya sendiri tidak elegan menghadapi wacana yang berbeda?

Hari ini, akhirnya kita bisa melihat dua tipe universitas di Indonesia: mereka yang tunduk dan mereka yang berani. Kampus yang tunduk akan mencari berbagai pembenaran untuk tidak bersuara, entah itu dikarenakan oleh adanya tekanan politik, ketakutan akan pendanaan, atau sekadar ambisi pejabat kampus yang ingin tetap berada dalam zona nyaman. Sementara itu, kampus yang berani adalah mereka yang memahami bahwa peran akademisi bukan hanya menghafal teori di ruang kelas belaka, tetapi juga terjun langsung dalam persoalan masyarakat.

Jika sebuah universitas membungkam seniman, aktivis, dan pemikir kritis, maka mereka bukan lagi institusi pendidikan, melainkan birokrasi kosong yang hanya mencetak lulusan tanpa visi moral dan keberanian. Mereka kehilangan esensinya sebagai “lawan penguasa yang lalim”, peran yang seharusnya dijunjung tinggi oleh setiap akademisi yang masih memiliki akal sehat.

Kolaborasi Teater dan Perguruan Tinggi: Sebuah Potensi Besar

Teater seharusnya menjadi sekutu strategis bagi kampus dalam merawat daya kritis mahasiswa. Ia bukan sekadar hiburan, melainkan ruang dialektika, tempat realitas sosial dipertanyakan dan kekuasaan diuji.  Perguruan tinggi, dengan tradisi akademik dan sejarahnya sebagai pusat gerakan sosial, memiliki potensi besar untuk berkolaborasi dengan teater dalam menyuarakan kepentingan rakyat. Kampus seharusnya menjadi inkubator bagi pemikiran dan teater-teater progresif yang berani menyingkap tabir ketidakadilan.

Akademisi dan mahasiswa memiliki keistimewaan dalam mengakses riset sosial dan historis. Seharusnya, ini menjadi modal untuk menciptakan naskah yang tidak hanya artistik tetapi juga tajam, berbasis fakta, dan menggugah kesadaran publik. Sayangnya, yang sering terjadi adalah sebaliknya: makin banyak kampus lebih sibuk mengurus administrasi daripada memastikan ruang intelektual tetap hidup.

Lebih jauh lagi, kampus memiliki jaringan luas dengan LSM dan gerakan sosial. Ini adalah peluang emas bagi teater untuk menjadi jembatan komunikasi antara akademisi dan masyarakat. Tapi apakah kampus mau memasuki peran ini, atau malah demam karena bayang-bayang “radikalisme” yang pernah didefinisikan sesuka hati oleh penguasa?

Pada akhirnya, teater adalah bagian dari kebebasan berekspresi, sesuatu yang seharusnya diperjuangkan oleh setiap kita anak bangsa termasuk perguruan tinggi, bukan dikekang. Jika kampus dan teater bisa bersinergi, mereka dapat menjadi kekuatan dahsyat dalam membangun kesadaran kolektif dan memperjuangkan keadilan bagi bangsa. Selamat Hari Teater Sedunia. Merdekaa..! [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis PETRUS IMAM PRAWOTO JATI

Ini Refleksi, Bukan Ramalan : Catatan Pentas Komunitas Aghumi di “Bali Berkisah 2025”
Passompe’ dari Kala Teater: Sebuah Jejak Perjuangan Tanpa Akhir – Tanpa Kalah
Memeluk Masa Lalu dengan Ingatan Yang Sadar: Catatan Festival Kala Monolog
Tabuhan 4/4 Luh: Narasi Perlawanan dari Dua Naskah tentang Perempuan
Di Sanur, Dua Hari Menghidupkan Nilai-nilai yang Diwariskan Ni Pollok dan Le Mayeur
Tags: kampusPendidikanTeaterteater kampus
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kritik Terhadap Materialisme Ilmiah yang Tersingkap dalam “The Most Beautiful Girl in the World “ (2025)

Next Post

Mitos Liar Baduy 40 “Suhunan”

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

Mitos Liar Baduy 40 “Suhunan”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co