15 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kritik Terhadap Materialisme Ilmiah yang Tersingkap dalam “The Most Beautiful Girl in the World “ (2025)

Heski Dewabrata by Heski Dewabrata
March 27, 2025
in Ulas Film
Kritik Terhadap Materialisme Ilmiah yang Tersingkap dalam “The Most Beautiful Girl in the World “ (2025)

Film “The Most Beautiful Girl in the World “ (2025) | Foto: tangkap layar youtube

TAK dapat dipungkiri bahwa film merupakan medium yang kuat untuk menyampaikan pesan dari pembuat kepada audience di era sekarang. Zaman telah berubah, dahulu karya sastra merupakan tulisan yang ditulis sebagai pesan bagi penulis kepada pembaca. Jika kita membicarakan interface, karya sastra yang kuat untuk mempengaruhi “pembaca” di era sekarang adalah film.

Beberapa waktu lalu, saya menonton film romance yang berjudul The Most Beautiful Girl in the World yang disutradarai oleh Robert Ronny melalui platform netflix. Tak terlintas di pikiran saya untuk menonton film romance Indonesia yang kebanyakan hanya mengandung unsur picisan belaka. Namun ketika menonton film ini saya tidak menyangka bahwa film ini secara tidak langsung menyingkap persoalan hiperrealitas yang terjadi di masyarakat, terlebih saya menemukan makna yang lebih mendalam di dalam film ini. Film ini menyingkap kritik terhadap materialisme ilmiah dan memberikan paradigma baru mengenai penilaian akan keindahan.

Hiperrealitas dan Materialisme Ilmiah dalam Masyarakat Digital

Dalam Postmodernisme: Sebuah Pemikiran Filsuf Abad 20, dituliskan bahwa perubahan merupakan proses terus menerus berjalam dalam kehidupan manusia. Paradigma perubahan bersumber pada ilmu pengetahuan sebagai ranah kognitif manusia. Paradigma yang berubah berjalan menuju ke tahap perubahan nilai (afeksi) yang kemudian pada titik tertentu membentuk skill (performance). Semuanya ini akan berakhir dan terwujud pada diri manusia dalam bentuk perilaku sikap sosial dalam kebudayaannya (Wijayati & R, 2019).

Hal ini nampak dalam perilaku sosial yang ada di era sekarang, yang lekat dengan digitalisasi. Masyarakat digital cenderung memiliki realitas yang kabur. Dapat dikatakan bahwa antara imajinasi dan realita hampir tidak memiliki perbedaan. Yang ditatap di layar bisa jadi realita, namun imajinasi, begitu pun sebaliknya. Mekanisme ini juga nampak dalam kehidupannya di masyarakat riil. Kehidupannya di masyarakat riil dapat dikatakan sebagai imajinasi ataupun realita.

Kehidupan seperti ini muncul karena paradigma yang dibentuk oleh ruang digital seperti televisi, media sosial, dan sejenisnya. Hal ini menyebabkan konstruksi pemkiran manusia dibentuk oleh ruang digital sehinnga mempengaruhi paradigmanya terhadap realita. Jika dihubung-hubungkan dengan pandangan Baudrillard mengenai hiperrealitas, dapat dikatakan bahwa apa yang dipandang di ruang digital menjadi pusat yang membentuk penilaian mengenai baik-buruk, benar-salah, maupun indah-jelek.

Hal ini nampak dalam film Garapan Robert Ronny tersebut yang terwujud dalam adanya acara “Wanita Tercantik di Dunia”. Acara yang menjadi sebagian besar dari alur di film ini secara tidak langsung menunjukkan bagaimana media menjadi pembentuk pola pikir masyarakat dalam memandang realitas. Masyarakat akan memiliki standar yang ditanam dalam otak mereka akan keindahan dan kecantikan. Masyarakat sendiri tidak akan mengetahui bahwa di balik acara ini segalanya hanyalah acara yang disetting oleh pemilik perusahaan saluran televisi demi mengejar rating belaka. Film ini, menurut penulis berhasil menunjukkan bagaimana media, seperti televisi, memiliki pengaruh yang kuat dalam mengatur pola pikir masyarakat. Dapat dikatakan bahwa televisi memiliki pengaruh yang kuat dalam propaganda.

Hiperrealitas yang membentuk pola pikir masyarakat inilah yang secara tidak langsung membentuk paham materialisme ilmiah pada masyarakat. Secara singkat, materilaisme ilmiah merupakan cara pandang yang memandang realitas melalui hal-hal empiris dan prinsip ilmiah belaka. Dapat dikatakan bahwa paham ini bersifat analitik-objektif yang hanya terpaku pada metode dan hasil yang riil. Paham materialisme ilmiah juga seringkali menyingkirkan subjektivitas dan aspek-aspek metafisik yang dianggap tidak rasional. Hal ini nampak melalui bagaimana “Wanita Tercantik di Dunia” disajikan dalam film ini. Acara realitas yang disajikan di film ini, secara tidak langsung, membentuk paradigma masyarakat mengenai seperti apa wanita cantik itu? Disajikan dengan wanita yang dipilih oleh “lajang bintang”, diskursus soal kecantikan ialah sejauh mana wanita itu terpilih menjadi cantik berdasarkan standar yang dibuat oleh acara realitas tersebut, dan masyarakat tidak mengetahui bahwa pemenang dan peserta acara adalah para wanita yang telah disetting oleh mereka yang berada dibalik layar, dan bukan murni peserta.

Seperti itulah bagaimana hiperealitas dalam ruang digital dan layar kaca mengkontruksikan cara berpikir materialisme ilmiah yang ada di dalam masyarakat. Hal ini mengingatkan saya terhadap paradigma dalam perkembangan sains yang disingkap oleh Thomas Kuhn. Paradigma, bagi Kuhn, merupakan pemahaman tertentu tentang kebenaran yang bukan kebenaran proposional sebagaimana diyakini dalam sains. Dapat dikatakan bahwa sesuatu diterima sebagai fakta atau kebenaran selalu dalam konteks paradigma tertentu dan tidak “telanjang”. Paradigma, dapat dikatakan, bersifat presuposisional (Hadirman, 2023). Kuhn berhasil menunjukkan bahwa dalam kebenaran yang, katanya, bersifat objektif seperti sains, pada kenyataannya, bersifat relatif karena dalam sains terdapat paradigma dari kelompok ilmuwan atau peneliti tertentu yang menuntun dalam proses pencarian kebenaran. Sama seperti perusahaan televisi, sains juga tidak dapat dilepaskan dari kepentingan kelompok tertentu.

Paradigma yang Melampaui Materialisme Ilmiah

Bentuk kritik terhadap materialisme ilmiah yang muncul dalam film ini penulis temukan melalui kehadiran karakter Reuben Wiraatmaja yang diperankan oleh Reza Rahadian. Karakter Reuben di dalam film ini ditunjukkan sebagai seorang yang idealis dan tidak mementingkan rating. Reuben bercita-cita untuk membuat acara televisi yang berkelas tanpa memandang rating acara sehingga ia sendiri muak dengan acara setting-an seperti acara “Wanita Tercantik di Dunia”. Kritik yang saya maksud ditunjukkan melalui dialog Reuben ketika mereview keberhasilan acara “Wanita Tercantik di Dunia” saat dirinya sendiri menjadi lajang bintang dalam acara tersebut.

Salah satu dialog yang saya anggap mengkritik materialisme ilmiah adalah ketika Reuben mengatakan “….sekarang itu kita hidup di era di mana segala sesuatu itu diukur dan dinilai melalui angka, dan ketika ada sesuatu yang tidak bisa diukur dengan angka, maka itu dianggap tidak valid…”. Hal ini disampaikan Reuben sesudah ia menjelaskan Helen Kusuma (Jihane Almira) sebagai pemenang “Wanita Tercantik di Dunia”. Ini menunjukkan bagaimana materialisme ilmiah menjadi cara pandang bagi masyarakat terhadap segala sesuatu, dan hal ini menyebabkan segala hal yang bersifat tidak “objektif” dianggap tidak valid.

Reuben sendiri hadir sebagai antitesis terhadap pandangan materialisme ilmiah yang hadir di film ini. Reuben dalam salah satu dialognya mengatakan “….sementara bagi saya, tidak semua hal itu diukur atau dinilai dengan angka….”. Reuben juga melanjutkan bagaimana definisi kecantikan baginya setelah ia menemukan arti dari “wanita tercantik di dunia” melalui rekaman klip ayahnya yang ia tonton melalui handycam miliknya. “……kecantikan itu tidak melulu tentang apa yang terlihat. Apalagi bisa diukur. Kecantikan itu tidak bisa diukur dengan angka atau grafik apa pun. Apalagi, ketika kita berbicara soal cinta. Jadi, kalau ada sesuatu yang masih bisa diukur, dinilai dengan angka, maka itu bukan cinta…”.

Karakter Reuben dalam film ini hadir untuk mendekonstruksi pemahaman mengenai kecantikan dan keindahan, terlebih lagi, Reuben merupakan karakter yang hadir menyingkap pandangan materialisme ilimiah dan bersikap antitesis terhadap pandangan tersebut. Kehadiran Reuben membuat kembalinya aspek-aspek yang dilupakan dalam menilai sesuatu seperti emosi, perasaan, dan aspek-aspek metafisik lainnya. Dapat dikatakan bahwa Reuben merupakan representasi paradigma yang melampaui paradigma materialisme ilmiah, yang hanya memusatkan diri pada kenyataan material sebagai kebenaran. Kehadiran Reuben menekankan kembali kehadiran aspek metafisik yang tidak kalah penting dalam sebuah penilaian. Saya dapat menemukan bahwa film romansa garapan Robert Ronny, secara implisit, memiliki diskursus yang menarik mengenai kritik terhadap materialisme ilmiah yang banyak ditemukan di kalangan scientism. Entah apakah ini hanyalah spekulasi ataupun anabel (analisa gembel) belaka, diskursus ini tetaplah menarik untuk dibahas.[T]

Referensi

Hadirman, F. B. (2023). Kebenaran dan Para Kritikusnya: Mengulik Idea Besar yang Memandu Zaman Kita. Yogyakarta: Kanisius.

Wijayati, H., & R, I. (2019). Postmodernisme: Sebuah Pemikiran Filsuf Abad 20. Yogyakarta: SOCIALITY.

Penulis: Heski Dewabrata
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
“Fireworks Wednesday”: Api Membakar Cadar Rumah Tangga
“Forushande”: Bagaimana Orang Bisa Berubah Menjadi Sapi?
Elphaba-Glinda (Wicked 2024): Cermin Kontras Psikologi Identitas dalam Komunikasi Antarbudaya
Suitcase (2023) dan Suku Kurdi yang Masih Terdiskriminasi
Tags: filmresensi film
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sutjidra-Supriatna Prioritaskan Pembangunan di Lima Bidang di Buleleng, Bidang Nyata dan Realistis

Next Post

Teater Ditikam, Akal Sehat yang Mati

Heski Dewabrata

Heski Dewabrata

a sometimes writer

Related Posts

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

by Satria Aditya
June 1, 2026
0
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

Read moreDetails

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
0
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

Read moreDetails

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026
0
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

Read moreDetails

Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

by Made Adnyana
May 6, 2026
0
Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

TIDAK banyak film biografi mampu merangkum kehidupan seorang musisi besar secara utuh. Ada yang memilih merayakan, ada pula yang mencoba...

Read moreDetails

Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

by Jaswanto
March 28, 2026
0
Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

SEJAK menonton video promosi singkatnya di media sosial, saya tahu bahwa Hoppers (2026) bukan sekadar film animasi yang diperuntukkan untuk...

Read moreDetails

Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

by Agung Kesawa Kevalam
February 12, 2026
0
Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

ADA jenis cinta yang datang untuk menemani, dan banyak juga yang datang untuk mengingatkan. Itulah kesan yang saya dapatkan ketika...

Read moreDetails

Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

by Rana Nasyitha
January 24, 2026
0
Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

WAKTU itu saya melihat judul film ini di sebuah aplikasi/platform streaming lokal. Di antara kumpulan film indonesia lainnya, Surat Dari...

Read moreDetails

Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

by Ahmad Sihabudin
January 23, 2026
0
Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

BAGI generasi yang tumbuh sebelum jalan tol Trans Jawa rampung, nama Alas Roban bukan sekadar penanda geografis. Ia adalah kata...

Read moreDetails

Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup? — Tanggapan untuk Jaswanto

by Angga Wijaya
January 21, 2026
0
Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup?  — Tanggapan untuk Jaswanto

PADA esai Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial (Tatkala.co, 16 Januari 2026), saya sepakat dengan Jaswanto, sang penulis, dalam...

Read moreDetails

Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

by Jaswanto
January 16, 2026
0
Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

SEORANG pria muda jomlo dan kurang mampu dari zaman modern entah bagaimana ceritanya bisa melintasi waktu dan masuk ke tubuh...

Read moreDetails
Next Post
Teater Ditikam, Akal Sehat yang Mati

Teater Ditikam, Akal Sehat yang Mati

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Kisah CEO Menyamar ala Drama Korea Hadir dalam Lawak Bali
Panggung

Ketika Kisah CEO Menyamar ala Drama Korea Hadir dalam Lawak Bali

KISAH CEO yang menyamar lazimnya identik dengan drama Korea yang dipenuhi ketegangan, romansa, dan konflik keluarga. Namun, cerita yang akrab...

by Nyoman Budarsana
July 15, 2026
“Unity in Harmony”Orkestra Brass Band ISI Bali dan Crescendo, Energi Baru di Festival Seni Bali Jani 2026
Panggung

“Unity in Harmony”Orkestra Brass Band ISI Bali dan Crescendo, Energi Baru di Festival Seni Bali Jani 2026

Gemuruh tiupan saksofon, dentuman drum, dan lengking gitar listrik memenuhi Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Senin (13/7/2026) malam. Melalui pertunjukan...

by Nyoman Budarsana
July 15, 2026
Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang
Pameran

Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang

MEMASUKI Gedung Kriya, Taman Budaya Provinsi Bali, pengunjung seolah diajak melintasi beragam dunia. Di satu sudut, akar kayu menjelma simbol...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Kreativitas Tanpa Batas Warnai Lomba Tari Modern Festival Seni Bali Jani 2026
Khas

Kreativitas Tanpa Batas Warnai Lomba Tari Modern Festival Seni Bali Jani 2026

LOMBA Tari Modern dalam rangka Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 menghadirkan beragam karya yang mencerminkan perkembangan seni...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Menjelajah Kosmologi Kreativitas Ketut Suwidiarta di Five Roastery & Art Café
Budaya

Menjelajah Kosmologi Kreativitas Ketut Suwidiarta di Five Roastery & Art Café

Di tengah riuh kafe yang biasanya dipenuhi aroma kopi dan percakapan santai, sebuah ruang diskusi tentang seni akan dibuka di...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif
Khas

Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif

DI tengah semarak pertunjukan seni yang mewarnai Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII, hadir sebuah ruang yang menawarkan pengalaman berbeda....

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”
Panggung

Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”

BAYANGAN adalah jiwa dari wayang kulit. Di tangan seorang dalang, lembar-lembar kulit hidup melalui permainan cahaya. Namun, Wayang Ental memilih...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Ketika Waktu Berpindah Tangan
Ulas Musik

Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka
Tualang

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

by Chusmeru
July 13, 2026
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co