4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kritik Terhadap Materialisme Ilmiah yang Tersingkap dalam “The Most Beautiful Girl in the World “ (2025)

Heski Dewabrata by Heski Dewabrata
March 27, 2025
in Ulas Film
Kritik Terhadap Materialisme Ilmiah yang Tersingkap dalam “The Most Beautiful Girl in the World “ (2025)

Film “The Most Beautiful Girl in the World “ (2025) | Foto: tangkap layar youtube

TAK dapat dipungkiri bahwa film merupakan medium yang kuat untuk menyampaikan pesan dari pembuat kepada audience di era sekarang. Zaman telah berubah, dahulu karya sastra merupakan tulisan yang ditulis sebagai pesan bagi penulis kepada pembaca. Jika kita membicarakan interface, karya sastra yang kuat untuk mempengaruhi “pembaca” di era sekarang adalah film.

Beberapa waktu lalu, saya menonton film romance yang berjudul The Most Beautiful Girl in the World yang disutradarai oleh Robert Ronny melalui platform netflix. Tak terlintas di pikiran saya untuk menonton film romance Indonesia yang kebanyakan hanya mengandung unsur picisan belaka. Namun ketika menonton film ini saya tidak menyangka bahwa film ini secara tidak langsung menyingkap persoalan hiperrealitas yang terjadi di masyarakat, terlebih saya menemukan makna yang lebih mendalam di dalam film ini. Film ini menyingkap kritik terhadap materialisme ilmiah dan memberikan paradigma baru mengenai penilaian akan keindahan.

Hiperrealitas dan Materialisme Ilmiah dalam Masyarakat Digital

Dalam Postmodernisme: Sebuah Pemikiran Filsuf Abad 20, dituliskan bahwa perubahan merupakan proses terus menerus berjalam dalam kehidupan manusia. Paradigma perubahan bersumber pada ilmu pengetahuan sebagai ranah kognitif manusia. Paradigma yang berubah berjalan menuju ke tahap perubahan nilai (afeksi) yang kemudian pada titik tertentu membentuk skill (performance). Semuanya ini akan berakhir dan terwujud pada diri manusia dalam bentuk perilaku sikap sosial dalam kebudayaannya (Wijayati & R, 2019).

Hal ini nampak dalam perilaku sosial yang ada di era sekarang, yang lekat dengan digitalisasi. Masyarakat digital cenderung memiliki realitas yang kabur. Dapat dikatakan bahwa antara imajinasi dan realita hampir tidak memiliki perbedaan. Yang ditatap di layar bisa jadi realita, namun imajinasi, begitu pun sebaliknya. Mekanisme ini juga nampak dalam kehidupannya di masyarakat riil. Kehidupannya di masyarakat riil dapat dikatakan sebagai imajinasi ataupun realita.

Kehidupan seperti ini muncul karena paradigma yang dibentuk oleh ruang digital seperti televisi, media sosial, dan sejenisnya. Hal ini menyebabkan konstruksi pemkiran manusia dibentuk oleh ruang digital sehinnga mempengaruhi paradigmanya terhadap realita. Jika dihubung-hubungkan dengan pandangan Baudrillard mengenai hiperrealitas, dapat dikatakan bahwa apa yang dipandang di ruang digital menjadi pusat yang membentuk penilaian mengenai baik-buruk, benar-salah, maupun indah-jelek.

Hal ini nampak dalam film Garapan Robert Ronny tersebut yang terwujud dalam adanya acara “Wanita Tercantik di Dunia”. Acara yang menjadi sebagian besar dari alur di film ini secara tidak langsung menunjukkan bagaimana media menjadi pembentuk pola pikir masyarakat dalam memandang realitas. Masyarakat akan memiliki standar yang ditanam dalam otak mereka akan keindahan dan kecantikan. Masyarakat sendiri tidak akan mengetahui bahwa di balik acara ini segalanya hanyalah acara yang disetting oleh pemilik perusahaan saluran televisi demi mengejar rating belaka. Film ini, menurut penulis berhasil menunjukkan bagaimana media, seperti televisi, memiliki pengaruh yang kuat dalam mengatur pola pikir masyarakat. Dapat dikatakan bahwa televisi memiliki pengaruh yang kuat dalam propaganda.

Hiperrealitas yang membentuk pola pikir masyarakat inilah yang secara tidak langsung membentuk paham materialisme ilmiah pada masyarakat. Secara singkat, materilaisme ilmiah merupakan cara pandang yang memandang realitas melalui hal-hal empiris dan prinsip ilmiah belaka. Dapat dikatakan bahwa paham ini bersifat analitik-objektif yang hanya terpaku pada metode dan hasil yang riil. Paham materialisme ilmiah juga seringkali menyingkirkan subjektivitas dan aspek-aspek metafisik yang dianggap tidak rasional. Hal ini nampak melalui bagaimana “Wanita Tercantik di Dunia” disajikan dalam film ini. Acara realitas yang disajikan di film ini, secara tidak langsung, membentuk paradigma masyarakat mengenai seperti apa wanita cantik itu? Disajikan dengan wanita yang dipilih oleh “lajang bintang”, diskursus soal kecantikan ialah sejauh mana wanita itu terpilih menjadi cantik berdasarkan standar yang dibuat oleh acara realitas tersebut, dan masyarakat tidak mengetahui bahwa pemenang dan peserta acara adalah para wanita yang telah disetting oleh mereka yang berada dibalik layar, dan bukan murni peserta.

Seperti itulah bagaimana hiperealitas dalam ruang digital dan layar kaca mengkontruksikan cara berpikir materialisme ilmiah yang ada di dalam masyarakat. Hal ini mengingatkan saya terhadap paradigma dalam perkembangan sains yang disingkap oleh Thomas Kuhn. Paradigma, bagi Kuhn, merupakan pemahaman tertentu tentang kebenaran yang bukan kebenaran proposional sebagaimana diyakini dalam sains. Dapat dikatakan bahwa sesuatu diterima sebagai fakta atau kebenaran selalu dalam konteks paradigma tertentu dan tidak “telanjang”. Paradigma, dapat dikatakan, bersifat presuposisional (Hadirman, 2023). Kuhn berhasil menunjukkan bahwa dalam kebenaran yang, katanya, bersifat objektif seperti sains, pada kenyataannya, bersifat relatif karena dalam sains terdapat paradigma dari kelompok ilmuwan atau peneliti tertentu yang menuntun dalam proses pencarian kebenaran. Sama seperti perusahaan televisi, sains juga tidak dapat dilepaskan dari kepentingan kelompok tertentu.

Paradigma yang Melampaui Materialisme Ilmiah

Bentuk kritik terhadap materialisme ilmiah yang muncul dalam film ini penulis temukan melalui kehadiran karakter Reuben Wiraatmaja yang diperankan oleh Reza Rahadian. Karakter Reuben di dalam film ini ditunjukkan sebagai seorang yang idealis dan tidak mementingkan rating. Reuben bercita-cita untuk membuat acara televisi yang berkelas tanpa memandang rating acara sehingga ia sendiri muak dengan acara setting-an seperti acara “Wanita Tercantik di Dunia”. Kritik yang saya maksud ditunjukkan melalui dialog Reuben ketika mereview keberhasilan acara “Wanita Tercantik di Dunia” saat dirinya sendiri menjadi lajang bintang dalam acara tersebut.

Salah satu dialog yang saya anggap mengkritik materialisme ilmiah adalah ketika Reuben mengatakan “….sekarang itu kita hidup di era di mana segala sesuatu itu diukur dan dinilai melalui angka, dan ketika ada sesuatu yang tidak bisa diukur dengan angka, maka itu dianggap tidak valid…”. Hal ini disampaikan Reuben sesudah ia menjelaskan Helen Kusuma (Jihane Almira) sebagai pemenang “Wanita Tercantik di Dunia”. Ini menunjukkan bagaimana materialisme ilmiah menjadi cara pandang bagi masyarakat terhadap segala sesuatu, dan hal ini menyebabkan segala hal yang bersifat tidak “objektif” dianggap tidak valid.

Reuben sendiri hadir sebagai antitesis terhadap pandangan materialisme ilmiah yang hadir di film ini. Reuben dalam salah satu dialognya mengatakan “….sementara bagi saya, tidak semua hal itu diukur atau dinilai dengan angka….”. Reuben juga melanjutkan bagaimana definisi kecantikan baginya setelah ia menemukan arti dari “wanita tercantik di dunia” melalui rekaman klip ayahnya yang ia tonton melalui handycam miliknya. “……kecantikan itu tidak melulu tentang apa yang terlihat. Apalagi bisa diukur. Kecantikan itu tidak bisa diukur dengan angka atau grafik apa pun. Apalagi, ketika kita berbicara soal cinta. Jadi, kalau ada sesuatu yang masih bisa diukur, dinilai dengan angka, maka itu bukan cinta…”.

Karakter Reuben dalam film ini hadir untuk mendekonstruksi pemahaman mengenai kecantikan dan keindahan, terlebih lagi, Reuben merupakan karakter yang hadir menyingkap pandangan materialisme ilimiah dan bersikap antitesis terhadap pandangan tersebut. Kehadiran Reuben membuat kembalinya aspek-aspek yang dilupakan dalam menilai sesuatu seperti emosi, perasaan, dan aspek-aspek metafisik lainnya. Dapat dikatakan bahwa Reuben merupakan representasi paradigma yang melampaui paradigma materialisme ilmiah, yang hanya memusatkan diri pada kenyataan material sebagai kebenaran. Kehadiran Reuben menekankan kembali kehadiran aspek metafisik yang tidak kalah penting dalam sebuah penilaian. Saya dapat menemukan bahwa film romansa garapan Robert Ronny, secara implisit, memiliki diskursus yang menarik mengenai kritik terhadap materialisme ilmiah yang banyak ditemukan di kalangan scientism. Entah apakah ini hanyalah spekulasi ataupun anabel (analisa gembel) belaka, diskursus ini tetaplah menarik untuk dibahas.[T]

Referensi

Hadirman, F. B. (2023). Kebenaran dan Para Kritikusnya: Mengulik Idea Besar yang Memandu Zaman Kita. Yogyakarta: Kanisius.

Wijayati, H., & R, I. (2019). Postmodernisme: Sebuah Pemikiran Filsuf Abad 20. Yogyakarta: SOCIALITY.

Penulis: Heski Dewabrata
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
“Fireworks Wednesday”: Api Membakar Cadar Rumah Tangga
“Forushande”: Bagaimana Orang Bisa Berubah Menjadi Sapi?
Elphaba-Glinda (Wicked 2024): Cermin Kontras Psikologi Identitas dalam Komunikasi Antarbudaya
Suitcase (2023) dan Suku Kurdi yang Masih Terdiskriminasi
Tags: filmresensi film
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sutjidra-Supriatna Prioritaskan Pembangunan di Lima Bidang di Buleleng, Bidang Nyata dan Realistis

Next Post

Teater Ditikam, Akal Sehat yang Mati

Heski Dewabrata

Heski Dewabrata

a sometimes writer

Related Posts

Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12

by Yoga Wismantara
September 24, 2026
0
Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12

SAYA saya masih duduk di bangku SMP, saya pernah bertanya pada diri sendiri, “Apa yang akan terjadi jika saya bisa...

Read moreDetails

Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998

by Arya Dhamma Nanda
September 24, 2026
0
Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998

PERKEMBANGAN ekonomi dalam masyarakat biasanya memicu berbagai perubahan pada pasar yang kemudian berdampak pada kehidupan masyarakat dan lingkungan di sekitarnya....

Read moreDetails

Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi

by Arya Dhamma Nanda
September 21, 2026
0
Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi

ENIGMA adalah program kompilasi film pendek dalam ajang Minikino Film Week 12 (MFW12) yang mengusung subjudul What Goes Around Comes...

Read moreDetails

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
0
SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

Read moreDetails

“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

by Satria Aditya
August 7, 2026
0
“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

ADA satu hal yang langsung terasa begitu duduk menonton Tung Tung Uma, bagaimana Amrita Dharma memetakan setiap adegannya dengan begitu...

Read moreDetails

“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

by Angga Wijaya
July 31, 2026
0
“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

MALAM itu, gelap menggantung di langit Pantai Melasti, Ungasan, Badung, Bali. Debur ombak bersahutan dengan suara "cak... cak... cak..." yang...

Read moreDetails

The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

by Bayu Wira Handyan
July 19, 2026
0
The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

SUDAH tentu, Christopher Nolan bukan sutradara pertama yang mengadaptasi epos Odyssey milik Homer. Kisah itu sudah ada sekitar 2.800 tahun...

Read moreDetails

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

by Satria Aditya
June 1, 2026
0
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

Read moreDetails

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
0
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

Read moreDetails

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026
0
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

Read moreDetails
Next Post
Teater Ditikam, Akal Sehat yang Mati

Teater Ditikam, Akal Sehat yang Mati

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Kuliner

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co