25 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Fireworks Wednesday”: Api Membakar Cadar Rumah Tangga

Kiki Sulistyo by Kiki Sulistyo
February 13, 2025
in Ulas Film
“Fireworks Wednesday”: Api Membakar Cadar Rumah Tangga

Fireworks Wednesday - Prime Video

MESKI sama-sama menggunakan peristiwa hijrah Nabi Muhammad dari Mekah ke Madinah sebagai tumpuan, penghitungan tahun hijriah versi Persia berbeda dari penghitungan tahun hijriah dalam versi Arab. Jika penghitungan versi Arab menggunakan penanggalan bulan, penghitungan versi Persia menggunakan penanggalan matahari. Tahun baru hijriah versi Persia (Nowruz) dimulai tepat pada ekuinoks musim semi, yakni titik lintasan matahari yang melintasi ekuator langit dan bergerak dari selatan ke utara.

Setiap menjelang tahun baru diadakan festival dan sebagai bagian dari festival tersebut ada satu tradisi dalam kebudayaan Persia yang disebut Chaharshanbeh Suri; suatu pesta (kembang) api untuk merayakan hari Rabu terakhir di tahun yang sedang berlangsung.

 Sebagaimana ekuinoks musim semi, hari Rabu juga merupakan titik tengah yang memisahkan jumlah tujuh hari dalam seminggu.

Titik tengah, di mana sesuatu yang baru dimulai tepat ketika sesuatu yang lama diakhiri, merupakan kunci dalam film Chaharshanbeh Suri (2006, Fireworks Wednesday) karya Asghar Farhadi. Perayaan Chaharshanbeh Suri ─tepatnya sehari sebelum hari Rabu terakhir tahun itu─ juga dipergunakan sebagai latar waktu di mana keseluruhan peristiwa berlangsung, dari pagi sampai malam.

Pusat cerita Firewoks Wednesday terletak pada krisis rumah tangga pasangan Mozhdeh Samiei (Hedieh Tehrani) dan Morteza Samiei (Hamid Farokhnezhad). Mozhdeh curiga suaminya berselingkuh dengan Simin (Pantea Bahram), seorang janda, tetangga apartemen mereka, yang membuka salon kecantikan di kamarnya.

Namun, kita tidak langsung dibawa ke pusat cerita. Kita akan diantar oleh Rouhi (Taraneh Alidoosti), seorang perempuan muda yang akan segera menikah. Rouhi yang tinggal jauh dari Tehran, mendapat panggilan dari agensi tenaga kerja untuk bekerja sebagai asisten rumah tangga selama sehari di Heravi Square, Tehran. Di kawasan itulah letak apartemen yang dihuni pasangan Samiei, dan di rumah tangga Samiei itu Rouhi akan bekerja.

Sampai di sini bisa dilihat jalinan makna antara latar waktu dan latar cerita. Keduanya sama-sama menghadirkan titik tengah sebagai kunci. Rumah tangga Samiei yang memperlihatkan tanda-tanda akan berakhir berhadap-hadapan dengan rumah tangga Rouhi yang baru menjelang. Upaya seorang istri membongkar perselingkuhan suaminya adalah pintu untuk tema yang lebih dalam, yakni perubahan cara pandang terhadap pernikahan dalam benak seorang perempuan muda yang akan segera menikah. Tema ini bisa berkembang lebih jauh oleh kemungkinan narasinya; bagaimana alam pikir konservatif memandang fakta modernitas dalam konteks pernikahan dan rumah tangga. Rouhi mewakili sosok konservatif yang tinggal jauh dari pusat kota Tehran. Sementara pasangan Samiei mewakili sosok modern dengan prinsip privasi dan kemandirian pribadinya.    

Asghar Farhadi (bersama Mani Haghighi) meletakkan Rouhi, yang tidak terlibat langsung dengan peristiwa yang menjadi topik cerita, sebagai tokoh utama. Mirip dengan posisi A’la dalam film Asghar sebelumnya, Beautiful City (2004). Rouhi cuma asisten sementara yang secara logis tak berkepentingan dengan urusan rumah tangga majikannya. Bahwa pada akhirnya ia dilibatkan, dan kemudian melibatkan diri, itu adalah konsekuensi dari kehadirannya sebagai persona.

Bagi kita, protagonis cerita adalah Rouhi, sebab melalui sosok inilah kita memasuki cerita. Namun, dalam konteks cerita, Mozhdeh adalah sang protagonis, sebab ia adalah sosok yang punya keinginan, dalam hal ini keinginan membuktikan dugaannya perihal perselingkuhan sang suami. Parasnya yang hampir selamanya tegang dan awas terhadap tiap tanda menajamkan sifat aristokrasi kelas atas yang menjadi pembawaannya, dan bagaimana sifat tersebut bertahan habis-habisan dari tekanan mental akibat obsesi pembuktian dan pertengkaran terus menerus menimbulkan pula kesan rapuh dan layu.

Penyejajaran dua perempuan, yang di satu titik bertemu dalam situasi kontras (Mozhdeh diambang perpisahan sementara Rouhi menjelang pernikahan) memberikan perspektif feminin bagi film ini.       

Dalam upaya membuktikan perselingkuhan suaminya Mozhdeh beberapa kali memanfaatkan Rouhi, hal yang sama dilakukan pula oleh Morteza. Rouhi seperti berfungsi sebagai proksi dalam seteru rumah tangga itu. Sementara kehadiran Simin, yang bagi Rouhi sangat baik hati, turut membuat Rouhi kian jauh terlibat, meski ia sebetulnya belum sungguh-sungguh tahu apa yang terjadi. Kepolosan dan sifat kekanak-kanakan pada diri Rouhi membuat ia beberapa kali berbohong. Namun, kebohongan itu bukan dimaksudkan sebagai persekongkolan, melainkan reaksi spontan dalam menghadapi situasi.      

Meski begitu, apakah Morteza benar-benar berselingkuh dengan Simin bukan rahasia yang dipedulikan oleh film ini. Kita sudah tahu faktanya sebelum mereka yang berkepentingan dalam cerita mengetahuinya.        

Lebih lanjut, jika titik tengah adalah kunci yang dibentuk dari hubungan makna antara latar waktu dan struktur cerita, api adalah kunci lainnya. Api merupakan simbol utama dalam perayaan Chaharshanbeh Suri. Api juga punya watak ganda; ia bisa menghancurkan tapi juga bisa membentuk. Kita bisa melihat semacam oksidasi yang ditimbulkan para tokoh, yang menyebabkan munculnya api, dan pada gilirannya membakar satu hal, sekaligus membentuk hal baru. Api juga muncul dalam bentuk verbal melalui korek api yang merupakan petunjuk penting dalam cerita, serta tentu saja kembang-kembang api yang tiada henti meletus di luar gedung apartemen.        

Secara indrawi film ini memang menampilkan kesan kacau yang seakan bersahut-sahutan. Selain bunyi kembang api yang tak henti-henti, serta simpang siur orang-orang yang bersiap merayakan tahun baru, situasi di dalam apartemen juga tak kurang berantakannya. Apa yang pertama-tama dilihat Rouhi, yang berarti juga apa-apa yang kita lihat, dalam apartemen keluarga Samiei adalah kaca jendela yang pecah; barang-barang berserakan yang belum ditata ulang setelah rencana mengecat ulang apartemen itu; serta Morteza yang tangannya diperban, dan sibuk menjawab telepon, sambil repot mencari korek api untuk membakar rokok.      

Pada banyak adegan ditampilkan pula situasi polilog dengan interupsi yang bisa muncul setiap saat di antara para karakter, bercampur suara tangis anak-anak. Semua itu memberi kesan seakan-akan ada “perang” sungguhan; kembang api dan orang-orang di luar apartemen serupa para pemberontak yang menguasai kota dan mengepung apartemen tempat penerapan kehidupan modern berlangsung ─sementara di dalam apartemen itu juga terjadi perang yang lain.

Di sela-sela keadaan konstan itu, sinematografi yang dikerjakan Hossein Jafarian merakit beberapa gambar yang memikat mata. Satu yang paling cemerlang adalah rangkaian adegan ketika Morteza melihat Mozhdeh, dari jendela lantai atas kantornya, sedang berjalan mengenakan chudor (cadar) milik Rouhi untuk mematai-matai suaminya. Morteza turun menggunakan lift, kamera turut berada di dalam lift. Namun, ketika Morteza keluar dari lift, berlari ke jalanan, dan memukuli istrinya, kamera tetap berada dalam lift sehingga adegan pemukulan itu hanya bisa kita lihat dari jauh, tentu saja tanpa suara. Kamera bahkan tetap berada dalam lift ketika lift kembali naik.      

Siasat ini pertama-tama menghindarkan adegan pemukulan tersebut dari histeria. Kedua, siasat ini juga mencegah adegan menjadi anti-klimaks, sebab sebagai bagian dari rangkaian adegan, pemukulan di jalan itu cuma awal dari pertengkaran selanjutnya yang berlangsung di rumah. Adegan pertengkaran itu kemudian menjadi klimaks. Adegan yang sungguh-sungguh menyerap emosi, memancarkan cekaman, dan menciutkan keberadaan kita ke dalam semesta fiksional yang digarap sungguh-sungguh nyata.

 Topik rumah tangga dalam Fireworks Wednesday dari matra sosiologis dan antropologisnya mengantar kepada tema bagaimana dunia tradisional, atau konservatif, tidak terhindarkan bertransformasi menuju dunia modern, tapi secara halus juga menginterogasi dan menggugatnya.      

Tanda penting dibubuhkan pada objek chador (cadar) sebagai representasi dari dunia tradisional. Pada adegan awal ketika Rouhi diantar calon suaminya, Abdolreza (Houman Seyyedi), menuju kantor agensi, di tengah jalanan yang di sisi-sisinya tampak sisa-sisa salju, chador Rouhi jatuh, dan mereka harus berhenti sebentar untuk memungutnya. Peristiwa sepele yang tampak tak berarti apa-apa itu bisa dibaca sebagai tanda jatuhnya budaya tradisional dalam perjalanan menuju modernitas. Tafsir ini akan kelihatan memiliki pegangan oleh kenyataan yang muncul di akhir cerita, yakni tertinggalnya chador itu di apartemen keluarga Samiei, sementara Rouhi sendiri pulang sembari membawa tanda modernitas di alisnya, hasil permak salon kecantikan Simin.      

Abdolreza memuji Rouhi yang di matanya tampak lebih cantik dengan model alis baru, tapi ia jelas tidak tahu bahwa apa yang dilihat dan dialami Rouhi selama sehari di apartemen keluarga Samiei bagai kursus berumah tangga yang akan dibawanya sebagai pelajaran bagi dirinya, yang bisa jadi akan mengubah pandangannya tentang pernikahan. [T]

Penulis: Kiki Sulistyo
Editor: Adnyana Ole

“Forushande”: Bagaimana Orang Bisa Berubah Menjadi Sapi?
Elphaba-Glinda (Wicked 2024): Cermin Kontras Psikologi Identitas dalam Komunikasi Antarbudaya
Suitcase (2023) dan Suku Kurdi yang Masih Terdiskriminasi
Tags: filmresensi filmUlas Film
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kisah Pilu Sekaa Gong Wanita Baturiti-Kerambitan:  Jawara Tabanan Tapi Jatah PKB Digugurkan

Next Post

PARWATA BERPULANG — BALI KEHILANGAN TAKSU

Kiki Sulistyo

Kiki Sulistyo

Lahir di Kota Ampenan, Lombok. Buku puisi terbarunya berjudul Dinding Diwani (Diva Press, 2020). Ia mengelola Komunitas Akarpohon, Mataram, Nusa Tenggara Barat.

Related Posts

Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

by Jaswanto
March 28, 2026
0
Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

SEJAK menonton video promosi singkatnya di media sosial, saya tahu bahwa Hoppers (2026) bukan sekadar film animasi yang diperuntukkan untuk...

Read moreDetails

Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

by Agung Kesawa Kevalam
February 12, 2026
0
Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

ADA jenis cinta yang datang untuk menemani, dan banyak juga yang datang untuk mengingatkan. Itulah kesan yang saya dapatkan ketika...

Read moreDetails

Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

by Rana Nasyitha
January 24, 2026
0
Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

WAKTU itu saya melihat judul film ini di sebuah aplikasi/platform streaming lokal. Di antara kumpulan film indonesia lainnya, Surat Dari...

Read moreDetails

Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

by Ahmad Sihabudin
January 23, 2026
0
Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

BAGI generasi yang tumbuh sebelum jalan tol Trans Jawa rampung, nama Alas Roban bukan sekadar penanda geografis. Ia adalah kata...

Read moreDetails

Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup? — Tanggapan untuk Jaswanto

by Angga Wijaya
January 21, 2026
0
Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup?  — Tanggapan untuk Jaswanto

PADA esai Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial (Tatkala.co, 16 Januari 2026), saya sepakat dengan Jaswanto, sang penulis, dalam...

Read moreDetails

Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

by Jaswanto
January 16, 2026
0
Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

SEORANG pria muda jomlo dan kurang mampu dari zaman modern entah bagaimana ceritanya bisa melintasi waktu dan masuk ke tubuh...

Read moreDetails

Film Pendek ‘Anuja’: Ketika Mimpi Sekolah Harus Berhadapan dengan Realitas Pekerja Anak

by Dian Suryantini
January 13, 2026
0
Film Pendek ‘Anuja’: Ketika Mimpi Sekolah Harus Berhadapan dengan Realitas Pekerja Anak

FILM pendek Anuja terasa seperti tamparan pelan tapi tepat sasaran. Film ini tidak berisik. Tapi berhasil membuat penontonnya terngiang. Saya...

Read moreDetails

Drama “Taxi Driver” dan Fantasi Keadilan Netizen Indonesia

by Jaswanto
December 18, 2025
0
Drama “Taxi Driver” dan Fantasi Keadilan Netizen Indonesia

ADA sebuah komentar dari netizen―yang saya lupa entah di mana―tentang drama Korea (drakor) berjudul “Taxi Driver”. Komentar itu begini, “Seandainya...

Read moreDetails

Dari Rumah Hantu ke Panti Jompo: Langkah Baru Film ‘Agak Laen’ yang Menggaet Jutaan Pasang Mata

by Vivit Arista Dewi
December 2, 2025
0
Dari Rumah Hantu ke Panti Jompo: Langkah Baru Film ‘Agak Laen’ yang Menggaet Jutaan Pasang Mata

Film Agak Laen kembali hadir dengan langkah yang jauh lebih berani dari sebelumnya. Setelah sukses mengacak-acak rumah hantu, kini mereka...

Read moreDetails

Pangku (2025): Safari Kemiskinan di Pantai Utara Jawa

by Bayu Wira Handyan
November 13, 2025
0
Pangku (2025): Safari Kemiskinan di Pantai Utara Jawa

SEDIKIT film di Indonesia yang berani menampilkan kemiskinan sebagaimana adanya—banal, kasar, tanpa romantisasi. Sebagian besar memilih jalan aman, menjadikan kemiskinan...

Read moreDetails
Next Post
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

PARWATA BERPULANG — BALI KEHILANGAN TAKSU

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Aksi Kemanusiaan pada HUT ke-9 AMSI Bali
Berita

Aksi Kemanusiaan pada HUT ke-9 AMSI Bali

Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Bali merayakan hari ulang tahun (HUT) ke-9 dengan menggelar serangkaian kegiatan sosial yang menyentuh langsung...

by tatkala
April 25, 2026
Serangga dalam Piring Makan Kita
Kuliner

Serangga dalam Piring Makan Kita

JIKA di Gunung Kidul orang-orang desa terbiasa menggoreng belalang, atau masyarakat Jawa Timur—khususnya di kawasan hutan jati—gemar menyantap kepompong ulat...

by Jaswanto
April 25, 2026
Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan
Cerpen

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

CAKEH yang baru dilarikan ke rumah Pak Ik merintih kesakitan. Anak perempuan berumur 14 tahun itu baru digigit ular kobra...

by Depri Ajopan
April 25, 2026
Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Tak Perlu Menunggu Aku di Gatsemani
Puisi

Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Tak Perlu Menunggu Aku di Gatsemani

TAK PERLU MENUNGGU AKU DI GATSEMANI Aku datang dari Galilea dengan bau seluk Tasik Tiberias yang melekat di jubahkuDemi janji-janji...

by Silvia Maharani Ikhsan
April 25, 2026
Mencegah Kekerasan Seksual di Indonesia dengan Perspektif Feminis Hindu
Esai

Mencegah Kekerasan Seksual di Indonesia dengan Perspektif Feminis Hindu

KEKERASAN seksual di Indonesia telah menjadi luka yang tak kunjung usai, bahkan kini merebak di kampus - kampus ternama selain...

by Putu Ayu Sunia Dewi
April 25, 2026
Ketika Lirik Menjadi Cermin: Tafsir Hermeneutika Lagu ‘Erika’
Ulas Musik

Ketika Lirik Menjadi Cermin: Tafsir Hermeneutika Lagu ‘Erika’

DALAM tradisi hermeneutika, teks tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu lahir dari horison sejarah, budaya, dan kesadaran penuturnya. Apa yang...

by Ahmad Sihabudin
April 25, 2026
Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins
Esai

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

Ingatan yang Menjadi Wacana Batin Gagasan tentang Krishna dan Siddharta yang muncul dari ingatan terhadap wacana maupun tulisan Guruji Anand...

by Agung Sudarsa
April 24, 2026
Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”
Pop

Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

“Untuk saat ini, single-single saja dulu, sama seperti status saya,” ujar Tika Pagraky sambil tertawa, memecah suasana sore itu. Kalimat...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah
Khas

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co