16 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Fireworks Wednesday”: Api Membakar Cadar Rumah Tangga

Kiki Sulistyo by Kiki Sulistyo
February 13, 2025
in Ulas Film
“Fireworks Wednesday”: Api Membakar Cadar Rumah Tangga

Fireworks Wednesday - Prime Video

MESKI sama-sama menggunakan peristiwa hijrah Nabi Muhammad dari Mekah ke Madinah sebagai tumpuan, penghitungan tahun hijriah versi Persia berbeda dari penghitungan tahun hijriah dalam versi Arab. Jika penghitungan versi Arab menggunakan penanggalan bulan, penghitungan versi Persia menggunakan penanggalan matahari. Tahun baru hijriah versi Persia (Nowruz) dimulai tepat pada ekuinoks musim semi, yakni titik lintasan matahari yang melintasi ekuator langit dan bergerak dari selatan ke utara.

Setiap menjelang tahun baru diadakan festival dan sebagai bagian dari festival tersebut ada satu tradisi dalam kebudayaan Persia yang disebut Chaharshanbeh Suri; suatu pesta (kembang) api untuk merayakan hari Rabu terakhir di tahun yang sedang berlangsung.

 Sebagaimana ekuinoks musim semi, hari Rabu juga merupakan titik tengah yang memisahkan jumlah tujuh hari dalam seminggu.

Titik tengah, di mana sesuatu yang baru dimulai tepat ketika sesuatu yang lama diakhiri, merupakan kunci dalam film Chaharshanbeh Suri (2006, Fireworks Wednesday) karya Asghar Farhadi. Perayaan Chaharshanbeh Suri ─tepatnya sehari sebelum hari Rabu terakhir tahun itu─ juga dipergunakan sebagai latar waktu di mana keseluruhan peristiwa berlangsung, dari pagi sampai malam.

Pusat cerita Firewoks Wednesday terletak pada krisis rumah tangga pasangan Mozhdeh Samiei (Hedieh Tehrani) dan Morteza Samiei (Hamid Farokhnezhad). Mozhdeh curiga suaminya berselingkuh dengan Simin (Pantea Bahram), seorang janda, tetangga apartemen mereka, yang membuka salon kecantikan di kamarnya.

Namun, kita tidak langsung dibawa ke pusat cerita. Kita akan diantar oleh Rouhi (Taraneh Alidoosti), seorang perempuan muda yang akan segera menikah. Rouhi yang tinggal jauh dari Tehran, mendapat panggilan dari agensi tenaga kerja untuk bekerja sebagai asisten rumah tangga selama sehari di Heravi Square, Tehran. Di kawasan itulah letak apartemen yang dihuni pasangan Samiei, dan di rumah tangga Samiei itu Rouhi akan bekerja.

Sampai di sini bisa dilihat jalinan makna antara latar waktu dan latar cerita. Keduanya sama-sama menghadirkan titik tengah sebagai kunci. Rumah tangga Samiei yang memperlihatkan tanda-tanda akan berakhir berhadap-hadapan dengan rumah tangga Rouhi yang baru menjelang. Upaya seorang istri membongkar perselingkuhan suaminya adalah pintu untuk tema yang lebih dalam, yakni perubahan cara pandang terhadap pernikahan dalam benak seorang perempuan muda yang akan segera menikah. Tema ini bisa berkembang lebih jauh oleh kemungkinan narasinya; bagaimana alam pikir konservatif memandang fakta modernitas dalam konteks pernikahan dan rumah tangga. Rouhi mewakili sosok konservatif yang tinggal jauh dari pusat kota Tehran. Sementara pasangan Samiei mewakili sosok modern dengan prinsip privasi dan kemandirian pribadinya.    

Asghar Farhadi (bersama Mani Haghighi) meletakkan Rouhi, yang tidak terlibat langsung dengan peristiwa yang menjadi topik cerita, sebagai tokoh utama. Mirip dengan posisi A’la dalam film Asghar sebelumnya, Beautiful City (2004). Rouhi cuma asisten sementara yang secara logis tak berkepentingan dengan urusan rumah tangga majikannya. Bahwa pada akhirnya ia dilibatkan, dan kemudian melibatkan diri, itu adalah konsekuensi dari kehadirannya sebagai persona.

Bagi kita, protagonis cerita adalah Rouhi, sebab melalui sosok inilah kita memasuki cerita. Namun, dalam konteks cerita, Mozhdeh adalah sang protagonis, sebab ia adalah sosok yang punya keinginan, dalam hal ini keinginan membuktikan dugaannya perihal perselingkuhan sang suami. Parasnya yang hampir selamanya tegang dan awas terhadap tiap tanda menajamkan sifat aristokrasi kelas atas yang menjadi pembawaannya, dan bagaimana sifat tersebut bertahan habis-habisan dari tekanan mental akibat obsesi pembuktian dan pertengkaran terus menerus menimbulkan pula kesan rapuh dan layu.

Penyejajaran dua perempuan, yang di satu titik bertemu dalam situasi kontras (Mozhdeh diambang perpisahan sementara Rouhi menjelang pernikahan) memberikan perspektif feminin bagi film ini.       

Dalam upaya membuktikan perselingkuhan suaminya Mozhdeh beberapa kali memanfaatkan Rouhi, hal yang sama dilakukan pula oleh Morteza. Rouhi seperti berfungsi sebagai proksi dalam seteru rumah tangga itu. Sementara kehadiran Simin, yang bagi Rouhi sangat baik hati, turut membuat Rouhi kian jauh terlibat, meski ia sebetulnya belum sungguh-sungguh tahu apa yang terjadi. Kepolosan dan sifat kekanak-kanakan pada diri Rouhi membuat ia beberapa kali berbohong. Namun, kebohongan itu bukan dimaksudkan sebagai persekongkolan, melainkan reaksi spontan dalam menghadapi situasi.      

Meski begitu, apakah Morteza benar-benar berselingkuh dengan Simin bukan rahasia yang dipedulikan oleh film ini. Kita sudah tahu faktanya sebelum mereka yang berkepentingan dalam cerita mengetahuinya.        

Lebih lanjut, jika titik tengah adalah kunci yang dibentuk dari hubungan makna antara latar waktu dan struktur cerita, api adalah kunci lainnya. Api merupakan simbol utama dalam perayaan Chaharshanbeh Suri. Api juga punya watak ganda; ia bisa menghancurkan tapi juga bisa membentuk. Kita bisa melihat semacam oksidasi yang ditimbulkan para tokoh, yang menyebabkan munculnya api, dan pada gilirannya membakar satu hal, sekaligus membentuk hal baru. Api juga muncul dalam bentuk verbal melalui korek api yang merupakan petunjuk penting dalam cerita, serta tentu saja kembang-kembang api yang tiada henti meletus di luar gedung apartemen.        

Secara indrawi film ini memang menampilkan kesan kacau yang seakan bersahut-sahutan. Selain bunyi kembang api yang tak henti-henti, serta simpang siur orang-orang yang bersiap merayakan tahun baru, situasi di dalam apartemen juga tak kurang berantakannya. Apa yang pertama-tama dilihat Rouhi, yang berarti juga apa-apa yang kita lihat, dalam apartemen keluarga Samiei adalah kaca jendela yang pecah; barang-barang berserakan yang belum ditata ulang setelah rencana mengecat ulang apartemen itu; serta Morteza yang tangannya diperban, dan sibuk menjawab telepon, sambil repot mencari korek api untuk membakar rokok.      

Pada banyak adegan ditampilkan pula situasi polilog dengan interupsi yang bisa muncul setiap saat di antara para karakter, bercampur suara tangis anak-anak. Semua itu memberi kesan seakan-akan ada “perang” sungguhan; kembang api dan orang-orang di luar apartemen serupa para pemberontak yang menguasai kota dan mengepung apartemen tempat penerapan kehidupan modern berlangsung ─sementara di dalam apartemen itu juga terjadi perang yang lain.

Di sela-sela keadaan konstan itu, sinematografi yang dikerjakan Hossein Jafarian merakit beberapa gambar yang memikat mata. Satu yang paling cemerlang adalah rangkaian adegan ketika Morteza melihat Mozhdeh, dari jendela lantai atas kantornya, sedang berjalan mengenakan chudor (cadar) milik Rouhi untuk mematai-matai suaminya. Morteza turun menggunakan lift, kamera turut berada di dalam lift. Namun, ketika Morteza keluar dari lift, berlari ke jalanan, dan memukuli istrinya, kamera tetap berada dalam lift sehingga adegan pemukulan itu hanya bisa kita lihat dari jauh, tentu saja tanpa suara. Kamera bahkan tetap berada dalam lift ketika lift kembali naik.      

Siasat ini pertama-tama menghindarkan adegan pemukulan tersebut dari histeria. Kedua, siasat ini juga mencegah adegan menjadi anti-klimaks, sebab sebagai bagian dari rangkaian adegan, pemukulan di jalan itu cuma awal dari pertengkaran selanjutnya yang berlangsung di rumah. Adegan pertengkaran itu kemudian menjadi klimaks. Adegan yang sungguh-sungguh menyerap emosi, memancarkan cekaman, dan menciutkan keberadaan kita ke dalam semesta fiksional yang digarap sungguh-sungguh nyata.

 Topik rumah tangga dalam Fireworks Wednesday dari matra sosiologis dan antropologisnya mengantar kepada tema bagaimana dunia tradisional, atau konservatif, tidak terhindarkan bertransformasi menuju dunia modern, tapi secara halus juga menginterogasi dan menggugatnya.      

Tanda penting dibubuhkan pada objek chador (cadar) sebagai representasi dari dunia tradisional. Pada adegan awal ketika Rouhi diantar calon suaminya, Abdolreza (Houman Seyyedi), menuju kantor agensi, di tengah jalanan yang di sisi-sisinya tampak sisa-sisa salju, chador Rouhi jatuh, dan mereka harus berhenti sebentar untuk memungutnya. Peristiwa sepele yang tampak tak berarti apa-apa itu bisa dibaca sebagai tanda jatuhnya budaya tradisional dalam perjalanan menuju modernitas. Tafsir ini akan kelihatan memiliki pegangan oleh kenyataan yang muncul di akhir cerita, yakni tertinggalnya chador itu di apartemen keluarga Samiei, sementara Rouhi sendiri pulang sembari membawa tanda modernitas di alisnya, hasil permak salon kecantikan Simin.      

Abdolreza memuji Rouhi yang di matanya tampak lebih cantik dengan model alis baru, tapi ia jelas tidak tahu bahwa apa yang dilihat dan dialami Rouhi selama sehari di apartemen keluarga Samiei bagai kursus berumah tangga yang akan dibawanya sebagai pelajaran bagi dirinya, yang bisa jadi akan mengubah pandangannya tentang pernikahan. [T]

Penulis: Kiki Sulistyo
Editor: Adnyana Ole

“Forushande”: Bagaimana Orang Bisa Berubah Menjadi Sapi?
Elphaba-Glinda (Wicked 2024): Cermin Kontras Psikologi Identitas dalam Komunikasi Antarbudaya
Suitcase (2023) dan Suku Kurdi yang Masih Terdiskriminasi
Tags: filmresensi filmUlas Film
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kisah Pilu Sekaa Gong Wanita Baturiti-Kerambitan:  Jawara Tabanan Tapi Jatah PKB Digugurkan

Next Post

PARWATA BERPULANG — BALI KEHILANGAN TAKSU

Kiki Sulistyo

Kiki Sulistyo

Lahir di Kota Ampenan, Lombok. Buku puisi terbarunya berjudul Dinding Diwani (Diva Press, 2020). Ia mengelola Komunitas Akarpohon, Mataram, Nusa Tenggara Barat.

Related Posts

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
0
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

Read moreDetails

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026
0
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

Read moreDetails

Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

by Made Adnyana
May 6, 2026
0
Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

TIDAK banyak film biografi mampu merangkum kehidupan seorang musisi besar secara utuh. Ada yang memilih merayakan, ada pula yang mencoba...

Read moreDetails

Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

by Jaswanto
March 28, 2026
0
Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

SEJAK menonton video promosi singkatnya di media sosial, saya tahu bahwa Hoppers (2026) bukan sekadar film animasi yang diperuntukkan untuk...

Read moreDetails

Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

by Agung Kesawa Kevalam
February 12, 2026
0
Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

ADA jenis cinta yang datang untuk menemani, dan banyak juga yang datang untuk mengingatkan. Itulah kesan yang saya dapatkan ketika...

Read moreDetails

Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

by Rana Nasyitha
January 24, 2026
0
Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

WAKTU itu saya melihat judul film ini di sebuah aplikasi/platform streaming lokal. Di antara kumpulan film indonesia lainnya, Surat Dari...

Read moreDetails

Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

by Ahmad Sihabudin
January 23, 2026
0
Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

BAGI generasi yang tumbuh sebelum jalan tol Trans Jawa rampung, nama Alas Roban bukan sekadar penanda geografis. Ia adalah kata...

Read moreDetails

Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup? — Tanggapan untuk Jaswanto

by Angga Wijaya
January 21, 2026
0
Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup?  — Tanggapan untuk Jaswanto

PADA esai Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial (Tatkala.co, 16 Januari 2026), saya sepakat dengan Jaswanto, sang penulis, dalam...

Read moreDetails

Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

by Jaswanto
January 16, 2026
0
Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

SEORANG pria muda jomlo dan kurang mampu dari zaman modern entah bagaimana ceritanya bisa melintasi waktu dan masuk ke tubuh...

Read moreDetails

Film Pendek ‘Anuja’: Ketika Mimpi Sekolah Harus Berhadapan dengan Realitas Pekerja Anak

by Dian Suryantini
January 13, 2026
0
Film Pendek ‘Anuja’: Ketika Mimpi Sekolah Harus Berhadapan dengan Realitas Pekerja Anak

FILM pendek Anuja terasa seperti tamparan pelan tapi tepat sasaran. Film ini tidak berisik. Tapi berhasil membuat penontonnya terngiang. Saya...

Read moreDetails
Next Post
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

PARWATA BERPULANG — BALI KEHILANGAN TAKSU

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Perkuat Toleransi dan Semangat Persatuan’ —Begitu Kata Ketua MPR Ahmad Muzani saat Beri Kuliah Umum Kebangsaan di Institut Mpu Kuturan
Pendidikan

‘Perkuat Toleransi dan Semangat Persatuan’ —Begitu Kata Ketua MPR Ahmad Muzani saat Beri Kuliah Umum Kebangsaan di Institut Mpu Kuturan

KETUA MPR RI, Ahmad Muzani memberikan Kuliah Umum Kebangsaan kepada sivitas akademika Institut Mpu Kuturan (IMK) pada Jumat (15/5) sore....

by Son Lomri
May 15, 2026
Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo
Esai

Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo

“The man who wears the shoe knows best that it pinches and where it pinches, even if the expert shoemaker...

by Faris Widiyatmoko
May 15, 2026
Hikayat Rempah dalam Prasasti dan Lontar Bali
Liputan Khusus

Hikayat Rempah dalam Prasasti dan Lontar Bali

LIMA tahun lalu, kawan saya, Dian Suryantini—jurnalis sekaligus akademisi yang tinggal di Singaraja, Bali—bercerita tentang neneknya, Nyoman Landri, warga Banjar...

by Jaswanto
May 15, 2026
Leak Tanah Bali: Kiprah Teranyar Amplitherapy Nan Garang & Swakendali
Hiburan

Leak Tanah Bali: Kiprah Teranyar Amplitherapy Nan Garang & Swakendali

ALBUM penuh terbaru Amplitherapy bertajuk Leak Tanah Bali yang dijadwalkan terbit pada 16 Mei 2026 menandai babak baru perjalanan musikal...

by Nyoman Budarsana
May 15, 2026
Pesona Tulisan Tanpa Saltik di Tengah Budaya Instan
Bahasa

Pesona Tulisan Tanpa Saltik di Tengah Budaya Instan

PERNAHKAH Anda memperhatikan penulisan atau ejaan konten seseorang saat sedang berselancar di media sosial? Kesalahan tik atau saltik yang populer...

by I Made Sudiana
May 15, 2026
Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital
Ulas Musik

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

DALAM lanskap rock progresif 1970-an, “Castle Walls” tampil sebagai balada megah yang sarat ketegangan emosional. Ditulis dan dinyanyikan oleh vokalis...

by Ahmad Sihabudin
May 14, 2026
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co