12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mitos Liar Baduy 40 “Suhunan”

Asep Kurnia by Asep Kurnia
March 27, 2025
in Esai
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

Asep Kurnia

SETIAP manusia, kelompok manusia bahkan suatu bangsa dan negara di mana pun di muka bumi ini sangat dipastikan memiliki kisah, cerita atau catatan-catatan tersendiri yang diabadikan dan disimpan secara rapi. Kelak di kemudian hari anak-cucu atau keturunan mereka bisa membaca, menggali, mengetahui, memahami, menyadari keberadaan dirinya serta kewajiban dirinya sebagai keturunan anak bangsa untuk melanjutkan keterlangsungan dari segala jerih payah kekaryaan yang telah dirintis leluhur mereka.

Dalam bahasa ilmu pengetahuan narasi atau frase di atas dikenal dengan istilah sejarah. Sejarah menurut penulis juga dapat diartikan sebagai suatu kumpulan fakta-fakta atau bukti-bukti tertulis maupun bukti berupa materi (kebendaan) yang dapat menunjukan keabsahan atau kesahihan suatu situasi, kondisi atau suatu komunitas tertentu. Adanya masa kekinian sesungguhnya karena adanya masa lalu.

Satu lagi opini liar yang tetap berkembang di masyarakat umum luar Baduy yang sulit terhapus yaitu pandangan atau pendapat dan pemahaman yang masih kental dan melekat terhadap kesukuan Baduy terutama di kota-kota besar adalah adanya anggapan atau lebih tepatnya ada pengistilahan “Baduy 40 Suhunan “atau “Baduy  40 Keluarga atau Jiwa “dan ‘Baduy Dalam 40 Rumah”.

Sampai saat ini jujur penulis belum membaca pendapat tersebut ada di buku mana, karangan siapa atau artikel mana.  Selama kurun waktu 30 tahun (1995- 2025) bergaul dengan masyarakat Baduy kesimpulan sementara dari orang-orang yang berkunjung ke Baduy tentang cerita Baduy 40 jiwa atau 40 rumah atau 40 keluarga penulis sering dengar, bahkan ditanya secara langsung saat memandu para pengunjung dan peneliti Baduy.

Penulis sering menjawab dan membuktikan bahwa anggapan tersebut adalah suatu anggapan yang keliru sangat salah dan sangat tidak bisa dipertanggunjawabakan kebenarannya. Kami membantah pendapat tersebut dengan cara langsung membawa mereka ke lokasi untuk membuktikan secara visual tentang ketidakbenaran anggapan tersebut.

Fakta membuktikan, bahwa di Baduy dalam Cibeo, Cikartawana dan Cikeusik jumlah penduduk, jumlah rumah dan jumlah keluarga sudah lebih dari 40, dari data penduduk tahun 2018 tercatat 539 jiwa, 163 KK, 96 rumah untuk kampung Cibeo, 141 jiwa 39 KK 41 rumah di Cikartawana dan 528 jiwa 156 KK 93 rumah di kampung Cikeusik. Lalu mengapa muncul mitos atau cerita tentang Baduy 40 Suhunan?

Bantahan dan Penjelasan Tokoh Adat

Menurut penjelasan Almarhum Jaro Dainah mantan Kepala Desa Kanekes, Ayah Mursid, dan juga pemuka adat lainnya, cerita tentang 40 suhunan tersebut dimungkinkan muncul atau dimunculkan oleh orang-orang Belanda yang menjajah kepulauan kita saat itu.

Konon ketika Belanda berkunjung ke Lebak Gedong (ibu kota Kabupaten Lebak masa lalu) pernah bertanya pada tokoh adat masyarakat Baduy yang menghadiri saat itu dengan pertanyaan di mana lokasi dan berapa jumlah warga Suku Baduy?

Demi untuk mempermudah dan mempersingkat, maka aparat desa saat itu menjawab jumlah mereka 40 suhunan dan berada di hutan belantara. Jawaban inilah yang kemudian hari diberitakan secara luas oleh penjajah sehingga menyebar dan akhirnya menimbulkan keragaman tentang adanya cerita atau mitos Baduy 40 Suhunan dengan variasi cerita yang berbeda-beda.

Komentar tegas dari Ayah Mursid tentang mitos tersebut adalah:

“Carita 40 suhunan eta carita atawa pendapat anu salah kacida gedena. Istilah opat puluh suhunan dikami euwueh carita jeung kanyataanana, batas jumlah opat puluh lain dibelotkeun kana batasan opat puluh jiwa, opat puluh kaluarga atau opat puluh suhunan. Nu jelas jeung nu tegas kudu ditetapkeun mah nyaeta Baduy dalam kudu tetep jumlahna tilu tangtu ulah dirobah atawa ditambah-tambah salain Tangtu Cibeo, Cikartawana oge Tangtu Cikeusik. Masalah jumlah suhunan, warga atawa jiwa jeung jumlah kaluarga euweuh hukumna kudu dibatesan. Nu jelas mah imah bisa nambah, jiwa bisa nambah keluarga oge bisa nambah“.

Artinya: Cerita 40 rumah itu adalah cerita atau pendapat yang salah besar sekali, istilah empat puluh rumah di Baduy tidak ada ceritanya bahkan kenyataan atau buktinya pun tidak ada, batasan empat puluh bukan dibelokan pada batasan empat puluh jiwa, empat puluh keluarga atau empat puluh rumah.

Yang jelas dan tegas yang harus ditetapkan adalah bahwa Baduy dalam harus tetap jumlahnya 3 Tangtu (Kampung), jangan diubah atau ditambah-tambah selain Tangtu Cibeo, Cikartawana dan Tangtu Cikeusik.   Masalah  jumlah rumah, warga atau jiwa, serta jumlah keluarga tidak ada hukumnya harus dibatasi. Yang jelas rumah bisa bertambah, jiwa atau warga bisa bertambah, keluarga juga bisa bertambah “.

Penjelasan yang senada juga diberikan oleh Almarhum Jaro Dainah pada saat Seba Leutik 2010 bahwa: “Istilah Baduy 40 jiwa atawa Baduy 40 kuren atawa kaluarga, Baduy 40 suhunan atawa imah asal muasalna tina kajadian jaman pamarentahan Belanda waktu nanyakeun sabaraha jumlahna masyarakat Baduy. Waktu harita dijawab masyarakat Baduy mah jumalahna loba nu dipimpin ku tokoh adat nu jumlahna kurang leuwih 40 urang. Tah kajadian eta nu ngajadikeun aya anggapan atawa pendapat diluar yen masyarakat Baduy dalam disebut Baduy 40 suhunan“.

Artinya: Istilah Baduy 40 jiwa atau Baduy 40 keluarga, Baduy 40 rumah berasal atau berawal dari kejadian jaman pemerintahan Belanda waktu menanyakan berapa jumlahnya masyarakat Baduy. Waktu itu dijawab masyarakat Baduy jumlahnya banyak yang dipimpin oleh tokoh adat yang jumlahnya kurang lebih 40 orang. Nah kejadian tersebut yang mengakibatkan adanya anggapan atau pendapat di luar bahwa masyarakat Baduy Dalam disebut Baduy 40 suhunan.

Ayah Mursid juga mempertegas bahwa dampak dari menyebarnya pendapat Baduy 40 suhunan menimbulkan praduga bahwa di Baduy Dalam adanya aturan pembatasan jumlah jiwa, rumah, keluarga yang mendiami kampung Baduy Dalam itu jumlahnya harus 40. Sehingga muncul pula anggapan bahwa kalau warga bertambah dan lebih dari 40 maka harus dikeluarkan dari perkampungan Baduy Dalam. Pendapat ini sangat bertentangan dengan hukum adat dan kenyataan yang ada.

Komentar lanjutan Ayah Mursid:

“Di Baduy Dalam teu dikenal hukum adat pembatasan jumlah jiwa atau jumlah imah, komo deui kudu ngaluarkeun warga nu geus aya. Eta sarua bae jeung ngusir jelema tanpa dosa. Di Baduy mah justru ngamumule hak jeung pilihan masing-masing. Malah lamun aya nu ngalanggar kana hukum adat oge teu sagawayah dihukum atawa dikalurkeun kudu diproses secara musyawarah heula. Sakali deui eta anggapan Baduy 40 suhunan kudu geura diluruskeun sabab bisa terus-terusan nimbulkan fitnah atawa carita nu teu bener, nu akhirna nimbulkeun carita goreng keur suku Baduy”

Artinya: “Di Baduy Dalam tidak dikenal hukum adat pembatasan jumlah jiwa atau jumlah rumah, apalagi harus mengeluarkan warga yang sudah ada. Itu sama saja dengan mengusir manusia tanpa dosa. Di Baduy justru sangat menjunjung tinggi hak dan pilihan masing- masing. Jikalau ada warga yang melanggar pun tidak seenaknya dihukum atau dikeluarkan harus melalui proses musyawarah terlebih dahulu. Sekali lagi anggapan Baduy 40 suhunan harus segera diluruskan sebab secara terus-menerus dapat menimbulkan fitnah atau cerita yang tidak benar dan itu akan berdampak negatif pada kesukuan Baduy.”

Secara khusus penulis kembali mempertanyakan tentang kebenaran mengapa muncul angka 40 suhunan atau jiwa yang masih tetap melegenda di masyarakat luar Baduy pada Jaro Saija sebagai kepala Desa Kanekes baru (Jaro Pamarentah). Alhasil beliau mengomentarinya seperti ini: “ Di Baduy euweuh jeung teu nyimpen carita atawa dongeng 40 suhunan atau 40 jiwa. Nu aya hukuman adat 40 poe keur warga Baduy Dalam anu ngalanggar adat anu beurat. Jigana baheula aya jelema anu nanyakeun atawa naliti tapi salah ngadenge akhirna jadi salah nyaritakeun“.

Artinya: “Di Baduy tidak ada dan tidak menyimpan ceritera atau kisah 40 suhunan atau 40 jiwa. Yang ada adalah hukuman adat 40 hari bagi warga Baduy Dalam yang melanggar adat secara berat. Sepertinya dahulu ada manusia yang bertanya atau meneliti tetapi salah mendengar.. akhirnya jadi salah menceriterakan…”. (Kunjungan Mahasiswa AKBID Mitra Ria Husada, 2018).

Kerugian dari  Mitos Liar Baduy 40 Suhunan

“Kebohongan yang diulang-ulang bisa menjadi kebenaran dan pembernaran yang terus menerus dilakukan pada hal yang tidak benar akan menjerumuskan pengetahuan dan bias keilmuan.” (Asep Kurnia, Februari 2025 ).

Mitos liar di atas sangat dipercaya ratusan tahun oleh publik karena tidak ada yang berani meluruskan cerita yang sebenarnya berupa tulisan resmi, sehingga terus menerus mengakibatkan pembohongan publik. Sampai para akademisi pun ikutan terbawa arus atau terperosok oleh informasi yang tidak berdasar itu.

Artinya kesahihan informasi terus terpolusi, dan ilmu pengetahuan terutama kesejarahan menjadi bias dan atau membelok atau menyimpang dari fakta yang sebenarnya. Itu kerugian pertama yang penulis istilahkan atau sebut adanya “Kekacauan dan Kesesatan Pengetahuan.”

Kerugian kedua, dari kerugian adanya kesesatan pengetahuan maka berlanjut pada kesesatan keyakinan yang melekat pada publik yang berdampak pada makin bertambahnya korban pembohongan pengetahuan di masyarakat. Tentunya situasi tersebut menjadi situasi dan kondisi yang rumit dan amat negatif, karena mengarahkan dan menterlanjutkan sikap berdosa masyarakat luar Baduy yang terus memandang bahwa warga Baduy Dalam itu dibatasi hanya 40 rumah, padahal berita itu terus diselimuti oleh kebohongan.

Kerugian ketiga, adalah adanya efek psikologis pada masyarakat Baduy karena harus menanggung beban atas kebohongan cerita tersebut yang nyata-nyata bertentangan dengan fakta yang ada. Di dunia luar, Baduy Dalam masih selalu dinyatakan aman, nyaman dan sejahtera karena mampu swasembada pangan, padahal kenyataan yang nyata adalah sedang terjadi krisis pangan karena tanah garapan untuk  “Ngahuma” ( berladang ) makin menyempit dan tidak lagi subur. Kalau 40 suhunan menjadi alasan bahwa Baduy Dalam aman, nyaman sejahtera penulis bisa terima, tapi sekarang jumlah penduduk dan KK di Baduy Dalam itu bukan 40 tapi sudah diangka 1400 jiwa lebih dan hampir 400 KK lebih dengan luas tanah garapan berladang luasnya tidak bertambah.  

Ilustrasinya : “ Dulu satu hektare digarap hanya oleh satu keluarga dengan masa bera (istirahat) 7 tahun ke atas. Sekarang satu hektare digarap oleh 5-8 KK dengan masa bera cuma 2 tahun. Sekarang bagaimana hasil padinya? Banyak gagal panen dan paceklik. Stiuasi dan kondisi sering gagal panen susah cari bibit padi untuk ngahuma di tahun berikutnya ini sudah terjadi dari sekitar 15 tahun lalu. Pemerhati dan pemerintah ikut terbohongi oleh “mitos liar” tersebut, sehingga kebijakan pada kesukuan mereka belum clear dan clean sebagaimana mestinya karena terhalang dan tersandung oleh kesalahan data dan kesalahan informasi.

Tentunya masih banyak kerugian-kerugian yang sama fatalnya akibat cerita liar yang tak berdasar di atas. Silahkan pembaca kaji dan analisis sendiri secara teliti dan sahih. Semoga tulisan  ini lebih memberi manfaat pada semua pihak, untuk bisa hijrah pengetahuan tentang kekinian seputar dan sekitar suku Baduy. Bisa mengubah persepsi dan pandangan semua pihak, sehingga bisa menterjemahkan bentuk bantuan dan kebijakan apa yang pantas, layak dan tepat diberikan pada mereka. Kalua bukan sama kita-kita, lalu sama siapa lagi mereka diperhatikan? [T]

Penulis: Asep Kurnia
Editor: Adnyana Ole

  • BACA esai-esai tentang BADUY
  • BACA esai-esai lain dari penulis ASEP KURNIA
Narman, Sang “Entrepreneur” Etnis Baduy
Para Pejuang dan Pengabdi Suku Baduy
Sekilas Informasi Wisata  Saba Budaya  Baduy
Pengabdi Suku Baduy: Dua Tahun Ditolak, Kini Disayangi
Tags: masyarakat adatProvinsi BantenSuku Baduy
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Teater Ditikam, Akal Sehat yang Mati

Next Post

Tidak ke Laut, Warga Adat Nagasepaha Melasti ke Batas Desa, di Mata Air Penyawangan Pura Segara

Asep Kurnia

Asep Kurnia

Pemerhati Baduy, tinggal di tapal batas Baduy

Related Posts

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails
Next Post
Tidak ke Laut, Warga Adat Nagasepaha Melasti ke Batas Desa, di Mata Air Penyawangan Pura Segara

Tidak ke Laut, Warga Adat Nagasepaha Melasti ke Batas Desa, di Mata Air Penyawangan Pura Segara

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co