3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Abstrak Ekspresionisme dan Psikologi Seni

Hartanto by Hartanto
May 25, 2025
in Ulas Rupa
Abstrak Ekspresionisme dan Psikologi Seni

Salvador Dali, "The Persistence of Memory", 1931

“Seniman adalah wadah untuk emosi yang datang dari seluruh tempat: dari langit, dari bumi, dari secarik kertas, dari bentuk yang lewat, dari jaring laba-laba”. — Pablo Picasso

KATA-KATA Picasso ini, menunjukkan bahwa Seni rupanya  (abstrak) memiliki kemampuan unik untuk membangkitkan emosi tanpa batas, melalui bahasa visual. Sebab, seniman mampu menjadi ‘wadah kreatifitas’ yang tanpa batas juga. Interaksi warna, garis, dan bentuk dalam komposisi abstrak dapat menimbulkan respons yang mendalam.

Sapuan kuas yang hidup dan energik dapat membangkitkan perasaan gembira atau duka, sementara susunan yang tenang dan harmonis dapat menimbulkan rasa tenang atau gundah. Seni abstrak mengajak penikmat untuk terhubung dengan emosi mereka sendiri, memproyeksikan pengalaman pribadi ke dalam karya seni. Jadi, ada kaitan antara karya seni dan  psikologi.

Ada sebuah artikel dari majalah lama tentang psikologi seni. Saya sangat tertarik. Oleh karenanya, saya mencoba untuk menelisik dari beberapa sumber tentang hal tersebut. Kebetulan yang saya temukan adalah tentang psikologi abstrak ekpresionisme, lewat buku “Art and Visual Perception : A Psychology of the Creative Eye” karya Rudolf Arnheim, terbitan University of California Press, 1974 .Dalam abstrak ekspresionisme, berkaitan erat dengan bagaimana seniman mengekspresikan emosi dan kondisi batin mereka melalui seni tanpa batasan bentuk atau representasi figuratif.

Meskipun buku ini membahas persepsi visual secara umum, namun karya Arnheim ini merupakan rujukan penting dalam memahami bagaimana psikologi mempengaruhi cara kita melihat dan merespons seni. Dengan dasar-dasar dari psikologi persepsi dan estetika, kamu dapat mengaplikasikan pendekatan tersebut untuk menginterpretasikan bagaimana seniman abstrak ekspresionis menggunakan warna, bentuk, dan tekstur untuk menyampaikan keadaan batin.

Ernst Ludwig Kirchner, “Street”, Berlin 1913, 91.1 x 120.6, Moma Collection

Dari beberapa sumber menyebutkan, psikologi seni adalah studi ilmiah tentang proses kognitif dan emosional yang dipicu oleh persepsi sensorik terhadap artefak estetika, seperti melihat lukisan atau meraba patung. Ini adalah bidang penyelidikan multidisiplin yang sedang berkembang, yang terkait erat dengan psikologi estetika, termasuk neuroestetika. Psikologi ini mencakup metode eksperimental untuk pemeriksaan kualitatif respons psikologis terhadap seni, serta studi empiris tentang korelasi neurobiologisnya melalui pencitraan saraf.

Dalam buku  : “Age of Insight: The Quest to Understand the Unconscious in Art, Mind, and Brain,” karya Eric R. Kandel ahli otak dan pemenang Nobel mengeksplorasi bagaimana karya seni – terutama seni modern dan abstrak – mengaktifkan berbagai proses kognitif dan emosional di otak. Dalam buku ini, ia menguraikan bagaimana respon estetika dan alam bawah sadar dapat membentuk persepsi kita terhadap seni, serta bagaimana pengalaman visual ini berdampak panjang pada struktur dan fungsi otak.


Buku ini juga menyajikan pendekatan neurosains yang mendalam terhadap pengalaman estetis. Kandel mengkaji bagaimana evolusi dan struktur otak kita mendasari rasa keindahan serta bagaimana seni – termasuk seni abstrak, dapat menstimulasi proses-proses sensorik dan afektif secara intens. Buku ini memberikan wawasan tentang bagaimana interaksi antara persepsi visual dan emosi membawa pada pengalaman estetis yang kuat.

Produk pemikiran ini, cocok bagi siapa saja yang ingin memahami hubungan kompleks antara seni abstrak dan dampaknya pada otak, sekaligus menggabungkan sudut pandang ilmiah dan filosofis untuk mengeksplorasi bagaimana seni mampu memengaruhi pikiran dan perasaan secara mendalam. Ini sangat menarik, bagaimana karya seni mengubah pola pikir atau memicu kreativitas secara neurologis. Selain itu, menurut buku ini, menunjukkan bahwa melihat seni abstrak dapat berdampak kuat pada otak. Saat menjumpai karya seni abstrak, otak terlibat dalam proses eksplorasi persepsi dan kognitif.

Dijelaskan juga pada buku itu, seni abstrak menstimulasi area yang terkait dengan persepsi visual, seperti lobus oksipital (Bagian otak besar ini berfungsi untuk mengenali objek lewat indra penglihatan dan memahami arti kata-kata tertulis). Sekaligus mengaktifkan area yang terkait dengan emosi dan pembuatan makna, seperti korteks prefrontal dan system limbic. Prefrontal korteks adalah suatu bagian otak yang spesial pada manusia, yang berfungsi untuk mengatur fungsi eksekutif, yaitu kemampuan merencanakan sesuatu, membuat keputusan, memecahkan masalah, mengontrol diri, mengingat instruksi, menimbang konsekuensi, dll. Sistem limbik adalah bagian otak yang bertanggung jawab atas pengaturan emosi, perilaku, dan ingatan. Sistem ini juga berperan dalam mengendalikan fungsi dasar tubuh yang berhubungan dengan kelangsungan hidup.

Vincent Van Gogh, “The Starry Night”, oil on canvas, 73.7 x 92.1

Keterlibatan multisensori ini meningkatkan koneksi saraf dan mendorong kreativitas, pemikiran kritis, dan pemrosesan emosional. Sifat seni abstrak yang terbuka mendorong otak untuk mengisi kekosongan dan memahami hal yang ambigu, menumbuhkan fleksibilitas kognitif dan pemikiran imajinatif. Seperti kita ketahui,seniman abstrak ekspresionisme seringkali menggunakan warna, tekstur, dan gerakan spontan untuk mencerminkan perasaan seperti kecemasan, kegembiraan, atau kesedihan. Berbeda dengan karya seni figuratif yang menggambarkan objek nyata – abstrak ekspresionisme lebih menekankan ekspresi subjektif dari pengalaman batin. Banyak seniman dalam aliran ini terinspirasi oleh teori psikologi dan filsafat eksistensialisme, yang menekankan kebebasan individu dalam mengekspresikan diri.

Menurut saya, warna-warna cerah dan kontras digunakan untuk menciptakan efek emosional yang kuat. Teknik seperti dripping (meneteskan cat) dan penggunaan kuas yang bebas (ini acap dipergunakan Jackson Pollock)  mencerminkan ekspresi tanpa batas. Tidak ada aturan baku dalam penyusunan elemen visual, sehingga setiap karya menjadi unik dan personal. Abstrak ekspresionisme bukan hanya tentang seni visual, tetapi juga tentang bagaimana manusia menyalurkan emosi dan pengalaman batin mereka ke dalam bentuk yang tidak terbatas oleh aturan. Tidak ‘terpenjara’ oleh ‘dinding beku’ kreatifitas.


Salvador Dali, “The Persistence of Memory”, 1931

Abstrak ekspresionisme, menurut beberapa sumber otentik,  muncul setelah masa Perang Dunia II di Amerika Serikat. Ini sebuah periode di mana masyarakat menghadapi trauma, ketidakpastian, dan kegelisahan eksistensial. Pengalaman perang dan kegoncangan sosial membuat banyak seniman merasa terputus dari realitas konvensional. Mereka ingin menggambarkan kondisi batin yang tidak bisa direpresentasikan dengan realisme tradisional, sehingga mereka beralih ke ekspresi spontan dan non-figuratif yang lebih mencerminkan kekacauan dan kedalaman perasaan manusia. Pencarian makna melalui ekspresi ini merupakan cerminan langsung dari tekanan psikologis masa itu .


Selain seniman surealisme, para seniman abstrak ekspresionisme juga banyak dipengaruhi oleh teori-teori psikoanalisis, terutama gagasan Sigmund Freud tentang alam bawah sadar dan mekanisme pertahanan psikologis. Melalui teknik otomatisme, di mana proses kreatif berlangsung secara spontan tanpa banyak intervensi rasional –  seniman berupaya membebaskan diri dari kontrol sadar dan mengungkap ‘bongkahan’ emosi yang terpendam. Ide-ide dari Carl Jung mengenai arketipe dan kolektif bawah sadar juga kadang muncul, di mana simbol-simbol abstrak dianggap mampu menyentuh lapisan jiwa yang universal .


Edvard Munch, The Scream 1893, opl on canvas, 91 x 73.5

Salah satu konsep penting dalam aliran ‘abstrak ekspresionisme’ ini adalah ‘action painting. Jackson Pollock, misalnya, menggunakan teknik drip (menetes atau menyiram cat) yang memungkinkan setiap goresan merupakan cerminan dari gerakan tubuh dan kondisinya saat menciptakan karya. Teknik ini tidak hanya menghasilkan karya visual yang unik, tetapi juga menjadi proses terapeutik bagi penciptanya – sebuah cara untuk menyalurkan energi emosional yang intens dan konflik batin secara langsung ke kanvas. Tiap tetes dan guratan menunjukkan pertempuran antara spontanitas dan kontrol, sekaligus menggambarkan dinamika antara chaos dan keteraturan di dalam pikiran manusia .

Salah satu kekuatan abstrak ekspresionisme terletak pada kemampuannya membuka ruang bagi interpretasi subjektif. Sebab, tanpa adanya representasi figuratif yang eksplisit, penikmat diberi kebebasan untuk memproyeksikan pengalaman dan emosi pribadinya ke dalam karya tersebut. Ini sejalan dengan konsep psikologis proyeksi. Maksudnya, di mana detail yang tampak abstrak pada kanvas dapat mengungkapkan resonansi emosional yang berbeda bagi setiap individu penikmat. Dengan demikian, melihat karya abstrak ekspresionis juga menjadi sebuah perjalanan introspektif yang mendalam, memicu dialog internal antara diri penikmat dan pesan-pesan batin yang ingin disampaikan oleh seniman.

Arshile Gorky, “Staten Island”, 1927

Selanjutnya, saya ingin mengulas ‘latar belakang’ psikologi beberapa seniman. Yang pertama adalah “Arshile Gorky: 1904 – 1948”. Lahir di Turki, Gorky hidup sebagai pengungsi anak-anak, dalam keadaan Genosida Armenia oleh Turki ottoman. Ia bersama saudara perempuan dan ibunya berusaha melarikan diri dari keadaan tersebut. Suatu peristiwa psikologis yang mungkin berakibat trauma baginya adalah manakala ibu Gorky meninggal dalam pelukannya karena kelaparan.  Gorky saat itu berusia 14 tahun.

Pada tahun 1919, ia dan saudara perempuannya berhasil melarikan diri ke AS dan bergabung dengan ayah mereka yang tinggal di Providence, Rhode Island, tempat ia berimigrasi bertahun-tahun sebelumnya. Di sanalah Gorky menerima pelatihan seni formal pertamanya. Ia menemukan karya Cézanne saat belajar di New School of Design di Boston. Pada tahun 1925, ia pindah ke Kota New York dan mengambil kelas di Grand Central School of Art dan National Academy of Design, di mana ia menemukan berbagai gaya Modernis seperti Ekspresionisme Jerman, Fauvisme, Kubisme, dan Surealisme.

Vassily Kandinsky, Compositioan VII, 1913, opl on canvas, 302.2 x 200.6

Selanjutnya, entah problem psikologi apa. ia mengubah namanya dari Vostanik Manoug Adoian menjadi Arshile Gorky dan secara bebas menambang berbagai gaya yang ia temui, seperti “Staten Island” (1927) mengisyaratkan Pasca-Impresionisme dan Fauvisme. “Still Life with Pitcher” (1928) mengisyaratkan Kubisme Sintetis. “Organization” (1933-36)” merujuk pada De Stijl (De Stijl adalah sebuah pemikiran akan kesederhanaan dan abstrak, yang berlaku di dunia arsitektur dan seni lukis, dengan hanya menggunakan unsur garis lurus horizontal dan vertikal, dan bentuk-betuk persegi atau persegi panjang).

Namun, tidak satu pun dari lukisan-lukisan ini menunjukkan bahwa Gorky benar-benar menganut filosofi gaya-gaya itu. Ia hanya mengadopsi kecenderungan plastis mereka – segala sesuatu yang lain ia buat sendiri. Sama seperti ia membangun nama dan identitasnya sendiri dengan menggunakan potongan-potongan nama dan identitas orang lain, ia membangun gaya estetikanya sendiri dengan menggunakan potongan-potongan gaya masa lalu.


Pengalaman menyaksikan penderitaan, kehilangan keluarga, dan pengungsian – memicu perasaan duka mendalam dan konflik batin. Hal ini mengilhami Gorky untuk menggali alam bawah sadar melalui seni, menciptakan karya yang sarat dengan simbolisme personal dan konflik emosional. Ia menggabungkan kenangan pahit masa lalu dengan pencarian jati diri, sehingga lukisannya tidak hanya soal keindahan visual, tetapi juga wadah untuk terapi pribadi dan refleksi atas kondisi manusia.


Gorky sering dianggap sebagai jembatan antara Surrealisme dan Ekspresionisme Abstrak. Karyanya menunjukkan pengaruh teknik otomatis – di mana proses penciptaan dilakukan secara spontan sebagai manifestasi dari alam bawah sadar. Ini yang merupakan prinsip dasar dalam psikoanalisis. Hal ini juga yang memungkinkan dia untuk mengungkapkan emosi dan konflik batin tanpa terhalang oleh kebutuhan untuk merepresentasikan realitas secara literal.

Selain Gorky, seniman ekspresionis yang telah kita bahas – masih ada banyak seniman terkenal dari berbagai aliran seni yang terpengaruh oleh psikologi dalam karya mereka. Para seniman tersebut, diantaranya Francisco de Goya yang memiliki karya ikoniknya “Saturn Devouring His Son”. Goya mengalami gangguan kesehatan mental yang memengaruhi gaya seninya. Setelah mengalami penyakit serius yang menyebabkan tuli, ia mulai menciptakan karya yang lebih gelap dan penuh simbolisme psikologis. Ini, mengingatkan saya dengan pemusik Ludwig van Beethoven saat menderita tuli, ia mampu menulis lagu “Fur Elise” yang begitu indah.

Pablo Picasso, Guernica, 1937, 780×300

Kemudian ada Vincent Van Gogh yang berjuang dengan gangguan mental sepanjang hidupnya. Lukisannya mencerminkan kondisi emosionalnya, dengan sapuan kuas yang ekspresif dan warna-warna yang mencerminkan suasana hati. Meskipun lebih dikenal sebagai pelopor post-impresionisme, Van Gogh memiliki pengaruh besar terhadap ekspresionisme. Lukisannya Starry Night, menurut saya – selain mencerminkan kondisi mentalnya, termasuk juga perjuangannya dengan gangguan psikologis dan emosional. Selanjutnya ada Salvador Dalí yang sangat terinspirasi oleh teori psikoanalisis Sigmund Freud. Karyanya sering kali menggambarkan mimpi, alam bawah sadar, dan simbolisme yang mencerminkan konflik batin manusia.Karya IkoniknyaThe Persistence of Memory.

Yang tak kalah menariknya adalah perupa Picasso. Ia  menggunakan seni sebagai alat untuk mengekspresikan trauma dan ketidakadilan sosial. Guernica adalah contoh bagaimana seni dapat mencerminkan penderitaan psikologis akibat perang. Menurut saya, karya Edvard Munch cukup menarik juga. Ia sering menggambarkan kecemasan dan ketakutan dalam lukisannya. The Scream adalah contoh sempurna dari ekspresi psikologis Munch yang menggambarkan ketakutan eksistensial dan tekanan batin manusia.

Pengalaman psikologi dalam proses kreatif juga di alami Wassily Kandinsky. Kandinsky percaya bahwa warna dan bentuk memiliki efek psikologis yang mendalam pada penikmat. Ia mengembangkan teori bahwa seni abstrak dapat membangkitkan emosi dan pengalaman spiritual. Karyanya Composition VII membuktikan asumsinya tersebut. Selanjutnya ada  Ernst Ludwig Kirchner. Ia adalah bagian dari kelompok Die Brücke. Die Brucke adalah sebuah kelompok ekspresionis yang didirikan pada tahun 1905 di Dreseden. Kelompok ini didirikan oleh empat orang, yaitu Ernst Ludwig Kirchner, Erich Heckel, Karl Schmidt-Rottluff dan Max Pechstein. Dalam berkarya, Kirchner berusaha menangkap ketegangan psikologis dan alienasi dalam kehidupan modern. Karyanya sering kali mencerminkan kecemasan sosial dan tekanan mental. Contoh karyanya adalah Street, Berlin.

Francisco de Goya, Saturn Devouring His Son, mix media on canvas

Demikianlah ‘pembacaan’ saya tentang abstrak ekspresionisme dan psikologi seni. Menurut kesimpulan saya, Abstrak ekspresionisme adalah perwujudan dari upaya manusia untuk merepresentasikan kekacauan internal dan ketidakpastian eksistensial melalui seni. Proses kreatifnya yang spontan, teknik yang bergerak tanpa batas, dan penggunaan elemen visual yang menggugah emosi adalah cara para seniman untuk mengakses dan mengekspresikan alam bawah sadar mereka. Hasilnya, karya-karya tersebut tidak hanya menyajikan keindahan estetik, tetapi juga menyimpan lapisan psikologis yang mendalam—sebuah dialog antara emosi, pengalaman pribadi, dan tantangan spiritual yang melekat pada kondisi manusia.

Dengan pendekatan ini, seni tak lagi sekadar representasi dunia luar, melainkan juga cermin yang memperlihatkan dinamika batin yang kompleks. Hal ini menjadikan abstrak ekspresionisme sebagai aliran yang tak lekang oleh waktu, terus menginspirasi penikmat untuk tidak hanya melihat, tetapi juga merasakan dan memahami kedalaman psikologis yang terkandung di dalamnya.

Tentu saja, saya juga mengadopsi pemikiran Gestalt Rudolf Arnheim, tentang pengalaman estetika seni yang menekankan hubungan antara keseluruhan objek dan bagian-bagiannya. Karya seni, menurutnya  mencerminkan “pengalaman hidup” seseorang dalam hidupnya. Arnheim percaya bahwa semua proses psikologis dalam kesenian – memiliki kualitas kognitif, emosional, dan motivasi, yang tercermin dalam komposisi setiap seniman.

Dan saya menutupnya dengan quote Pablo Picasso juga :  “Beberapa pelukis mengubah matahari menjadi bintik kuning, yang lain mengubah bintik kuning menjadi matahari” [T]

  • Sejumlah referensi diambil dari sejumlah sumber

Penulis: Hartanto
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA
Mengkaji Puisi Picasso : Tekstualisasi Karya Rupa Pablo Picasso
‘Prosa Liris Visual’ Made Gunawan
‘Puisi Visual’ I Nyoman Diwarupa
Satire Visual Wayan Setem
‘Semiotika Senirupa’ Ardika
Tags: PsikologiSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

AI dan Seni, Karya Dialogis yang Sarat Ancaman?

Next Post

Eternals, “Aum” yang Menghenyakkan Jiwa pada Acara “ASMARALOKA”—Album Launch Showcase dari Arkana

Hartanto

Hartanto

Pengamat seni, tinggal di mana-mana

Related Posts

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

by Made Chandra
June 2, 2026
0
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

Read moreDetails

Pameran ‘Roots & Routes’: Refleksi Tentang Identitas, Ingatan dan Perjalanan Hidup

by I Gede Made Surya Darma
May 7, 2026
0
Pameran ‘Roots & Routes’: Refleksi Tentang Identitas, Ingatan dan Perjalanan Hidup

DI tengah geliat seni rupa kontemporer yang semakin cair dan lintas disiplin, pameran “Roots & Routes” yang berlangsung di Biji...

Read moreDetails

Refracted — Perspektif yang Menolak Keutuhan

by Made Chandra
May 4, 2026
0
Refracted — Perspektif yang Menolak Keutuhan

Artikel ini adalah catatan kuratorial pameran seni rupa “Refracted” pada 2 Mei 2026 di Ruang Arta Derau, Tegallalang. Tak pernah...

Read moreDetails

Kenapa sih Harus Solo Exhibition?

by Made Chandra
April 14, 2026
0
Kenapa sih Harus Solo Exhibition?

HARI itu rasanya begitu spesial, hari dimana buku-buku tersusun bertumpuk untuk dirayakan kehadirannya. Semerebak wangi dupa menyeruak sampai menyentil dalam-dalam...

Read moreDetails

Apa yang ‘Ada’ dalam Sebuah Lukisan? —Membaca ‘Aurora Blue’ dan ‘Red Blossom’ Karya Wayan Kun Adnyana

by I Wayan Sujana Suklu
March 27, 2026
0
Apa yang ‘Ada’ dalam Sebuah Lukisan?  —Membaca ‘Aurora Blue’ dan ‘Red Blossom’ Karya Wayan Kun Adnyana

Membaca Aurora Blue dan Red Blossom karya Wayan Kun Adnyana, pameran Parama Paraga Retrospective of Biographical Metaphoric Figure to New...

Read moreDetails

SAPA WARANG: Tubuh yang Terbakar di Batas Liminal

by I Wayan Sujana Suklu
March 24, 2026
0
SAPA WARANG: Tubuh yang Terbakar di Batas Liminal

Liminalitas sebagai Ambang Kosmologis LIMINALITAS, dalam pengertian paling mendasar, bukan sekadar fase peralihan, melainkan kondisi ontologis di mana batas-batas eksistensi...

Read moreDetails

Retakan, Api, dan Cara Melihat Diri Sendiri — Membaca Ogoh-ogoh ‘Sapa Warang’ Karya Marmar Herayukti

by Agung Bawantara
March 23, 2026
0
Retakan, Api, dan Cara Melihat Diri Sendiri — Membaca Ogoh-ogoh ‘Sapa Warang’ Karya Marmar Herayukti

Di tengah hiruk-pikuk malam pengerupukan, sehari menjelang Hari Raya Nyepi Tahun Baru Çaka 1948, ketika ogoh-ogoh diarak dalam gegap gempita, sosok...

Read moreDetails

Maestro Tjokot, Gus Tilem, dan Gus Nyana Pulang ke Tugu Mayang Ubud

by Agung Bawantara
March 17, 2026
0
Maestro Tjokot, Gus Tilem, dan Gus Nyana Pulang ke Tugu Mayang Ubud

Karya ogoh-ogoh berjudul “Tugu Mayang” dari ST. Pandawa Banjar Tarukan, Desa Adat Mas, Ubud, Gianyar, menguatkan sebuah kecenderungan estetika yang...

Read moreDetails

Gerabah dan Manusia yang Berubah

by Mas Ruscitadewi
March 7, 2026
0
Gerabah dan Manusia yang Berubah

Dalam pameran Bali Bhuwana Rupa oleh ISI Denpasar di ARMA Museum Ubud, yang bertajuk ' Adhi Jnana Astam (Mastery-Mind-Marvel), banyak...

Read moreDetails

SENI EKOLOGIS —Dari Orasi Ilmiah I Wayan Setem

by Hartanto
February 24, 2026
0
SENI EKOLOGIS —Dari Orasi Ilmiah I Wayan Setem

BENCANA banjir bandang di Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat dan beberapa daerah di Indonesia – menurut saya, bukanlah sekedar bencana...

Read moreDetails
Next Post
Eternals, “Aum” yang Menghenyakkan Jiwa pada Acara “ASMARALOKA”—Album Launch Showcase dari Arkana

Eternals, “Aum” yang Menghenyakkan Jiwa pada Acara “ASMARALOKA”—Album Launch Showcase dari Arkana

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral
Panggung

Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral

SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng....

by Komang Sujana
June 3, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan
Panggung

‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif
Panggung

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Pertemuan William James dan Vivekananda
Esai

Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar
Khas

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co