14 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Abstrak Ekspresionisme dan Psikologi Seni

Hartanto by Hartanto
May 25, 2025
in Ulas Rupa
Abstrak Ekspresionisme dan Psikologi Seni

Salvador Dali, "The Persistence of Memory", 1931

“Seniman adalah wadah untuk emosi yang datang dari seluruh tempat: dari langit, dari bumi, dari secarik kertas, dari bentuk yang lewat, dari jaring laba-laba”. — Pablo Picasso

KATA-KATA Picasso ini, menunjukkan bahwa Seni rupanya  (abstrak) memiliki kemampuan unik untuk membangkitkan emosi tanpa batas, melalui bahasa visual. Sebab, seniman mampu menjadi ‘wadah kreatifitas’ yang tanpa batas juga. Interaksi warna, garis, dan bentuk dalam komposisi abstrak dapat menimbulkan respons yang mendalam.

Sapuan kuas yang hidup dan energik dapat membangkitkan perasaan gembira atau duka, sementara susunan yang tenang dan harmonis dapat menimbulkan rasa tenang atau gundah. Seni abstrak mengajak penikmat untuk terhubung dengan emosi mereka sendiri, memproyeksikan pengalaman pribadi ke dalam karya seni. Jadi, ada kaitan antara karya seni dan  psikologi.

Ada sebuah artikel dari majalah lama tentang psikologi seni. Saya sangat tertarik. Oleh karenanya, saya mencoba untuk menelisik dari beberapa sumber tentang hal tersebut. Kebetulan yang saya temukan adalah tentang psikologi abstrak ekpresionisme, lewat buku “Art and Visual Perception : A Psychology of the Creative Eye” karya Rudolf Arnheim, terbitan University of California Press, 1974 .Dalam abstrak ekspresionisme, berkaitan erat dengan bagaimana seniman mengekspresikan emosi dan kondisi batin mereka melalui seni tanpa batasan bentuk atau representasi figuratif.

Meskipun buku ini membahas persepsi visual secara umum, namun karya Arnheim ini merupakan rujukan penting dalam memahami bagaimana psikologi mempengaruhi cara kita melihat dan merespons seni. Dengan dasar-dasar dari psikologi persepsi dan estetika, kamu dapat mengaplikasikan pendekatan tersebut untuk menginterpretasikan bagaimana seniman abstrak ekspresionis menggunakan warna, bentuk, dan tekstur untuk menyampaikan keadaan batin.

Ernst Ludwig Kirchner, “Street”, Berlin 1913, 91.1 x 120.6, Moma Collection

Dari beberapa sumber menyebutkan, psikologi seni adalah studi ilmiah tentang proses kognitif dan emosional yang dipicu oleh persepsi sensorik terhadap artefak estetika, seperti melihat lukisan atau meraba patung. Ini adalah bidang penyelidikan multidisiplin yang sedang berkembang, yang terkait erat dengan psikologi estetika, termasuk neuroestetika. Psikologi ini mencakup metode eksperimental untuk pemeriksaan kualitatif respons psikologis terhadap seni, serta studi empiris tentang korelasi neurobiologisnya melalui pencitraan saraf.

Dalam buku  : “Age of Insight: The Quest to Understand the Unconscious in Art, Mind, and Brain,” karya Eric R. Kandel ahli otak dan pemenang Nobel mengeksplorasi bagaimana karya seni – terutama seni modern dan abstrak – mengaktifkan berbagai proses kognitif dan emosional di otak. Dalam buku ini, ia menguraikan bagaimana respon estetika dan alam bawah sadar dapat membentuk persepsi kita terhadap seni, serta bagaimana pengalaman visual ini berdampak panjang pada struktur dan fungsi otak.


Buku ini juga menyajikan pendekatan neurosains yang mendalam terhadap pengalaman estetis. Kandel mengkaji bagaimana evolusi dan struktur otak kita mendasari rasa keindahan serta bagaimana seni – termasuk seni abstrak, dapat menstimulasi proses-proses sensorik dan afektif secara intens. Buku ini memberikan wawasan tentang bagaimana interaksi antara persepsi visual dan emosi membawa pada pengalaman estetis yang kuat.

Produk pemikiran ini, cocok bagi siapa saja yang ingin memahami hubungan kompleks antara seni abstrak dan dampaknya pada otak, sekaligus menggabungkan sudut pandang ilmiah dan filosofis untuk mengeksplorasi bagaimana seni mampu memengaruhi pikiran dan perasaan secara mendalam. Ini sangat menarik, bagaimana karya seni mengubah pola pikir atau memicu kreativitas secara neurologis. Selain itu, menurut buku ini, menunjukkan bahwa melihat seni abstrak dapat berdampak kuat pada otak. Saat menjumpai karya seni abstrak, otak terlibat dalam proses eksplorasi persepsi dan kognitif.

Dijelaskan juga pada buku itu, seni abstrak menstimulasi area yang terkait dengan persepsi visual, seperti lobus oksipital (Bagian otak besar ini berfungsi untuk mengenali objek lewat indra penglihatan dan memahami arti kata-kata tertulis). Sekaligus mengaktifkan area yang terkait dengan emosi dan pembuatan makna, seperti korteks prefrontal dan system limbic. Prefrontal korteks adalah suatu bagian otak yang spesial pada manusia, yang berfungsi untuk mengatur fungsi eksekutif, yaitu kemampuan merencanakan sesuatu, membuat keputusan, memecahkan masalah, mengontrol diri, mengingat instruksi, menimbang konsekuensi, dll. Sistem limbik adalah bagian otak yang bertanggung jawab atas pengaturan emosi, perilaku, dan ingatan. Sistem ini juga berperan dalam mengendalikan fungsi dasar tubuh yang berhubungan dengan kelangsungan hidup.

Vincent Van Gogh, “The Starry Night”, oil on canvas, 73.7 x 92.1

Keterlibatan multisensori ini meningkatkan koneksi saraf dan mendorong kreativitas, pemikiran kritis, dan pemrosesan emosional. Sifat seni abstrak yang terbuka mendorong otak untuk mengisi kekosongan dan memahami hal yang ambigu, menumbuhkan fleksibilitas kognitif dan pemikiran imajinatif. Seperti kita ketahui,seniman abstrak ekspresionisme seringkali menggunakan warna, tekstur, dan gerakan spontan untuk mencerminkan perasaan seperti kecemasan, kegembiraan, atau kesedihan. Berbeda dengan karya seni figuratif yang menggambarkan objek nyata – abstrak ekspresionisme lebih menekankan ekspresi subjektif dari pengalaman batin. Banyak seniman dalam aliran ini terinspirasi oleh teori psikologi dan filsafat eksistensialisme, yang menekankan kebebasan individu dalam mengekspresikan diri.

Menurut saya, warna-warna cerah dan kontras digunakan untuk menciptakan efek emosional yang kuat. Teknik seperti dripping (meneteskan cat) dan penggunaan kuas yang bebas (ini acap dipergunakan Jackson Pollock)  mencerminkan ekspresi tanpa batas. Tidak ada aturan baku dalam penyusunan elemen visual, sehingga setiap karya menjadi unik dan personal. Abstrak ekspresionisme bukan hanya tentang seni visual, tetapi juga tentang bagaimana manusia menyalurkan emosi dan pengalaman batin mereka ke dalam bentuk yang tidak terbatas oleh aturan. Tidak ‘terpenjara’ oleh ‘dinding beku’ kreatifitas.


Salvador Dali, “The Persistence of Memory”, 1931

Abstrak ekspresionisme, menurut beberapa sumber otentik,  muncul setelah masa Perang Dunia II di Amerika Serikat. Ini sebuah periode di mana masyarakat menghadapi trauma, ketidakpastian, dan kegelisahan eksistensial. Pengalaman perang dan kegoncangan sosial membuat banyak seniman merasa terputus dari realitas konvensional. Mereka ingin menggambarkan kondisi batin yang tidak bisa direpresentasikan dengan realisme tradisional, sehingga mereka beralih ke ekspresi spontan dan non-figuratif yang lebih mencerminkan kekacauan dan kedalaman perasaan manusia. Pencarian makna melalui ekspresi ini merupakan cerminan langsung dari tekanan psikologis masa itu .


Selain seniman surealisme, para seniman abstrak ekspresionisme juga banyak dipengaruhi oleh teori-teori psikoanalisis, terutama gagasan Sigmund Freud tentang alam bawah sadar dan mekanisme pertahanan psikologis. Melalui teknik otomatisme, di mana proses kreatif berlangsung secara spontan tanpa banyak intervensi rasional –  seniman berupaya membebaskan diri dari kontrol sadar dan mengungkap ‘bongkahan’ emosi yang terpendam. Ide-ide dari Carl Jung mengenai arketipe dan kolektif bawah sadar juga kadang muncul, di mana simbol-simbol abstrak dianggap mampu menyentuh lapisan jiwa yang universal .


Edvard Munch, The Scream 1893, opl on canvas, 91 x 73.5

Salah satu konsep penting dalam aliran ‘abstrak ekspresionisme’ ini adalah ‘action painting. Jackson Pollock, misalnya, menggunakan teknik drip (menetes atau menyiram cat) yang memungkinkan setiap goresan merupakan cerminan dari gerakan tubuh dan kondisinya saat menciptakan karya. Teknik ini tidak hanya menghasilkan karya visual yang unik, tetapi juga menjadi proses terapeutik bagi penciptanya – sebuah cara untuk menyalurkan energi emosional yang intens dan konflik batin secara langsung ke kanvas. Tiap tetes dan guratan menunjukkan pertempuran antara spontanitas dan kontrol, sekaligus menggambarkan dinamika antara chaos dan keteraturan di dalam pikiran manusia .

Salah satu kekuatan abstrak ekspresionisme terletak pada kemampuannya membuka ruang bagi interpretasi subjektif. Sebab, tanpa adanya representasi figuratif yang eksplisit, penikmat diberi kebebasan untuk memproyeksikan pengalaman dan emosi pribadinya ke dalam karya tersebut. Ini sejalan dengan konsep psikologis proyeksi. Maksudnya, di mana detail yang tampak abstrak pada kanvas dapat mengungkapkan resonansi emosional yang berbeda bagi setiap individu penikmat. Dengan demikian, melihat karya abstrak ekspresionis juga menjadi sebuah perjalanan introspektif yang mendalam, memicu dialog internal antara diri penikmat dan pesan-pesan batin yang ingin disampaikan oleh seniman.

Arshile Gorky, “Staten Island”, 1927

Selanjutnya, saya ingin mengulas ‘latar belakang’ psikologi beberapa seniman. Yang pertama adalah “Arshile Gorky: 1904 – 1948”. Lahir di Turki, Gorky hidup sebagai pengungsi anak-anak, dalam keadaan Genosida Armenia oleh Turki ottoman. Ia bersama saudara perempuan dan ibunya berusaha melarikan diri dari keadaan tersebut. Suatu peristiwa psikologis yang mungkin berakibat trauma baginya adalah manakala ibu Gorky meninggal dalam pelukannya karena kelaparan.  Gorky saat itu berusia 14 tahun.

Pada tahun 1919, ia dan saudara perempuannya berhasil melarikan diri ke AS dan bergabung dengan ayah mereka yang tinggal di Providence, Rhode Island, tempat ia berimigrasi bertahun-tahun sebelumnya. Di sanalah Gorky menerima pelatihan seni formal pertamanya. Ia menemukan karya Cézanne saat belajar di New School of Design di Boston. Pada tahun 1925, ia pindah ke Kota New York dan mengambil kelas di Grand Central School of Art dan National Academy of Design, di mana ia menemukan berbagai gaya Modernis seperti Ekspresionisme Jerman, Fauvisme, Kubisme, dan Surealisme.

Vassily Kandinsky, Compositioan VII, 1913, opl on canvas, 302.2 x 200.6

Selanjutnya, entah problem psikologi apa. ia mengubah namanya dari Vostanik Manoug Adoian menjadi Arshile Gorky dan secara bebas menambang berbagai gaya yang ia temui, seperti “Staten Island” (1927) mengisyaratkan Pasca-Impresionisme dan Fauvisme. “Still Life with Pitcher” (1928) mengisyaratkan Kubisme Sintetis. “Organization” (1933-36)” merujuk pada De Stijl (De Stijl adalah sebuah pemikiran akan kesederhanaan dan abstrak, yang berlaku di dunia arsitektur dan seni lukis, dengan hanya menggunakan unsur garis lurus horizontal dan vertikal, dan bentuk-betuk persegi atau persegi panjang).

Namun, tidak satu pun dari lukisan-lukisan ini menunjukkan bahwa Gorky benar-benar menganut filosofi gaya-gaya itu. Ia hanya mengadopsi kecenderungan plastis mereka – segala sesuatu yang lain ia buat sendiri. Sama seperti ia membangun nama dan identitasnya sendiri dengan menggunakan potongan-potongan nama dan identitas orang lain, ia membangun gaya estetikanya sendiri dengan menggunakan potongan-potongan gaya masa lalu.


Pengalaman menyaksikan penderitaan, kehilangan keluarga, dan pengungsian – memicu perasaan duka mendalam dan konflik batin. Hal ini mengilhami Gorky untuk menggali alam bawah sadar melalui seni, menciptakan karya yang sarat dengan simbolisme personal dan konflik emosional. Ia menggabungkan kenangan pahit masa lalu dengan pencarian jati diri, sehingga lukisannya tidak hanya soal keindahan visual, tetapi juga wadah untuk terapi pribadi dan refleksi atas kondisi manusia.


Gorky sering dianggap sebagai jembatan antara Surrealisme dan Ekspresionisme Abstrak. Karyanya menunjukkan pengaruh teknik otomatis – di mana proses penciptaan dilakukan secara spontan sebagai manifestasi dari alam bawah sadar. Ini yang merupakan prinsip dasar dalam psikoanalisis. Hal ini juga yang memungkinkan dia untuk mengungkapkan emosi dan konflik batin tanpa terhalang oleh kebutuhan untuk merepresentasikan realitas secara literal.

Selain Gorky, seniman ekspresionis yang telah kita bahas – masih ada banyak seniman terkenal dari berbagai aliran seni yang terpengaruh oleh psikologi dalam karya mereka. Para seniman tersebut, diantaranya Francisco de Goya yang memiliki karya ikoniknya “Saturn Devouring His Son”. Goya mengalami gangguan kesehatan mental yang memengaruhi gaya seninya. Setelah mengalami penyakit serius yang menyebabkan tuli, ia mulai menciptakan karya yang lebih gelap dan penuh simbolisme psikologis. Ini, mengingatkan saya dengan pemusik Ludwig van Beethoven saat menderita tuli, ia mampu menulis lagu “Fur Elise” yang begitu indah.

Pablo Picasso, Guernica, 1937, 780×300

Kemudian ada Vincent Van Gogh yang berjuang dengan gangguan mental sepanjang hidupnya. Lukisannya mencerminkan kondisi emosionalnya, dengan sapuan kuas yang ekspresif dan warna-warna yang mencerminkan suasana hati. Meskipun lebih dikenal sebagai pelopor post-impresionisme, Van Gogh memiliki pengaruh besar terhadap ekspresionisme. Lukisannya Starry Night, menurut saya – selain mencerminkan kondisi mentalnya, termasuk juga perjuangannya dengan gangguan psikologis dan emosional. Selanjutnya ada Salvador Dalí yang sangat terinspirasi oleh teori psikoanalisis Sigmund Freud. Karyanya sering kali menggambarkan mimpi, alam bawah sadar, dan simbolisme yang mencerminkan konflik batin manusia.Karya IkoniknyaThe Persistence of Memory.

Yang tak kalah menariknya adalah perupa Picasso. Ia  menggunakan seni sebagai alat untuk mengekspresikan trauma dan ketidakadilan sosial. Guernica adalah contoh bagaimana seni dapat mencerminkan penderitaan psikologis akibat perang. Menurut saya, karya Edvard Munch cukup menarik juga. Ia sering menggambarkan kecemasan dan ketakutan dalam lukisannya. The Scream adalah contoh sempurna dari ekspresi psikologis Munch yang menggambarkan ketakutan eksistensial dan tekanan batin manusia.

Pengalaman psikologi dalam proses kreatif juga di alami Wassily Kandinsky. Kandinsky percaya bahwa warna dan bentuk memiliki efek psikologis yang mendalam pada penikmat. Ia mengembangkan teori bahwa seni abstrak dapat membangkitkan emosi dan pengalaman spiritual. Karyanya Composition VII membuktikan asumsinya tersebut. Selanjutnya ada  Ernst Ludwig Kirchner. Ia adalah bagian dari kelompok Die Brücke. Die Brucke adalah sebuah kelompok ekspresionis yang didirikan pada tahun 1905 di Dreseden. Kelompok ini didirikan oleh empat orang, yaitu Ernst Ludwig Kirchner, Erich Heckel, Karl Schmidt-Rottluff dan Max Pechstein. Dalam berkarya, Kirchner berusaha menangkap ketegangan psikologis dan alienasi dalam kehidupan modern. Karyanya sering kali mencerminkan kecemasan sosial dan tekanan mental. Contoh karyanya adalah Street, Berlin.

Francisco de Goya, Saturn Devouring His Son, mix media on canvas

Demikianlah ‘pembacaan’ saya tentang abstrak ekspresionisme dan psikologi seni. Menurut kesimpulan saya, Abstrak ekspresionisme adalah perwujudan dari upaya manusia untuk merepresentasikan kekacauan internal dan ketidakpastian eksistensial melalui seni. Proses kreatifnya yang spontan, teknik yang bergerak tanpa batas, dan penggunaan elemen visual yang menggugah emosi adalah cara para seniman untuk mengakses dan mengekspresikan alam bawah sadar mereka. Hasilnya, karya-karya tersebut tidak hanya menyajikan keindahan estetik, tetapi juga menyimpan lapisan psikologis yang mendalam—sebuah dialog antara emosi, pengalaman pribadi, dan tantangan spiritual yang melekat pada kondisi manusia.

Dengan pendekatan ini, seni tak lagi sekadar representasi dunia luar, melainkan juga cermin yang memperlihatkan dinamika batin yang kompleks. Hal ini menjadikan abstrak ekspresionisme sebagai aliran yang tak lekang oleh waktu, terus menginspirasi penikmat untuk tidak hanya melihat, tetapi juga merasakan dan memahami kedalaman psikologis yang terkandung di dalamnya.

Tentu saja, saya juga mengadopsi pemikiran Gestalt Rudolf Arnheim, tentang pengalaman estetika seni yang menekankan hubungan antara keseluruhan objek dan bagian-bagiannya. Karya seni, menurutnya  mencerminkan “pengalaman hidup” seseorang dalam hidupnya. Arnheim percaya bahwa semua proses psikologis dalam kesenian – memiliki kualitas kognitif, emosional, dan motivasi, yang tercermin dalam komposisi setiap seniman.

Dan saya menutupnya dengan quote Pablo Picasso juga :  “Beberapa pelukis mengubah matahari menjadi bintik kuning, yang lain mengubah bintik kuning menjadi matahari” [T]

  • Sejumlah referensi diambil dari sejumlah sumber

Penulis: Hartanto
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA
Mengkaji Puisi Picasso : Tekstualisasi Karya Rupa Pablo Picasso
‘Prosa Liris Visual’ Made Gunawan
‘Puisi Visual’ I Nyoman Diwarupa
Satire Visual Wayan Setem
‘Semiotika Senirupa’ Ardika
Tags: PsikologiSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

AI dan Seni, Karya Dialogis yang Sarat Ancaman?

Next Post

Eternals, “Aum” yang Menghenyakkan Jiwa pada Acara “ASMARALOKA”—Album Launch Showcase dari Arkana

Hartanto

Hartanto

Pengamat seni, tinggal di mana-mana

Related Posts

Suardina dan Bahasa Tanah yang Tak Pernah Habis

by Angga Wijaya
July 8, 2026
0
Suardina dan Bahasa Tanah yang Tak Pernah Habis

DI Bale Daja Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud, aroma tanah bakar seperti masih tertinggal di antara puluhan karya...

Read moreDetails

BARIK: Catatan Mengunjungi Pameran Sparsa Rupa

by Dewa Purwita Sukahet
July 7, 2026
0
BARIK: Catatan Mengunjungi Pameran Sparsa Rupa

“Ring wwang haywa nirāśrayeka gawayen tekeng mahānaśraya” – Niti Sastra SENI rupa kontemporer tidak lagi menekankan pada aspek pemaknaan sebuah...

Read moreDetails

Membongkar Praktik Artistik Pada Puisi Sebatang Kara: Dalam Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”

by Mahesa Putra
July 6, 2026
0
Membongkar Praktik Artistik Pada Puisi Sebatang Kara: Dalam Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”

SEPERTI sajian pada menu makan bergizi, yang ditimbang, ditakar, hingga diukur kepada siapa porsi makan ini layak dihidangkan. Kepada tubuh...

Read moreDetails

Unconditional Love: Cinta Tanpa Syarat

by Hartanto
July 4, 2026
0
Unconditional Love: Cinta Tanpa Syarat

PADA 3 Juli 2026 digelar pameran senirupa yang cukup menarik, pameran senirupa ini, menurut saya, lahir dari keyakinan bahwa seni...

Read moreDetails

Dari Plaju ke Hawkins: Membaca Puisi Dahlia Rasyad Melalui Pendekatan Serial Televisi “Stranger Things” pada Pameran Ferdi

by Mahesa Putra
June 30, 2026
0
Dari Plaju ke Hawkins: Membaca Puisi Dahlia Rasyad Melalui Pendekatan Serial Televisi “Stranger Things” pada Pameran Ferdi

PEMBACA tak perlu mengukur jarak antara Plaju dan Hawkins, apalagi harus repot-repot mencari tahu apa yang hendak dihidangkan di sana,...

Read moreDetails

‘Intermedialitas Dialektis’ —Karya Rupa Putu Fajar Arcana & Cerpen Cindy Wijaya

by Hartanto
June 29, 2026
0
‘Intermedialitas Dialektis’ —Karya Rupa Putu Fajar Arcana & Cerpen Cindy Wijaya

PADA tahun 1999 sampai 2005 saya sempat membantu Bre Redana, mengkurasi karya-karya seni rupa yang berdialog dengan cerpen. Waktu itu,...

Read moreDetails

Fragmen Peristiwa pada Pameran ‘Dialog Ferdi dan Opus Sastra’ Minggu Pertama di Palembang

by Mahesa Putra
June 18, 2026
0
Fragmen Peristiwa pada Pameran ‘Dialog Ferdi dan Opus Sastra’ Minggu Pertama di Palembang

SEJAK pagi langit mendung, angin membuat barisan pohon kelapa di halaman Roemah Tumbuh Kembang menari. Padahal sudah satu minggu ini...

Read moreDetails

Menakar Isi Piring, Meruntuhkan Dinding Sakral  —Narasi Domestik Sebagai Episentrum Perlawanan Politis Perupa Perempuan Bali

by Oka Rusmini
June 15, 2026
0
Menakar Isi Piring, Meruntuhkan Dinding Sakral  —Narasi Domestik Sebagai Episentrum Perlawanan Politis Perupa Perempuan Bali

SEBUAH pertanyaan tidak pernah lahir dari ruang hampa. Di balik kalimat pendek, “What’s for Dinner?” atau “Mau makan malam apa?”,...

Read moreDetails

Karya Rupa Saka Rosanta, Dari Reinkarnasi, Pohon Kasih sampai Avatar Word

by Mas Ruscitadewi
June 13, 2026
0
Karya Rupa Saka Rosanta, Dari Reinkarnasi, Pohon Kasih sampai Avatar Word

Ida Kade Saka Rosanta, yang kerap dipanggil Gus Moyo memamerkan karya rupanya di Rumah Berdaya, jalan Raya Sesetan 280 Denpasar....

Read moreDetails

Stasiun Buraq : Arsitektur Mimpi Seorang Ilham Gusti Syahadat

by Made Chandra
June 8, 2026
0
Stasiun Buraq : Arsitektur Mimpi Seorang Ilham Gusti Syahadat

DERAP langkah beranjak naik, kain tirai perlahan mulai disingkapkan, lalu dengan segera bunyi-bunyian kendang, tembang dan segala perangkat kesenian jaranan,...

Read moreDetails
Next Post
Eternals, “Aum” yang Menghenyakkan Jiwa pada Acara “ASMARALOKA”—Album Launch Showcase dari Arkana

Eternals, “Aum” yang Menghenyakkan Jiwa pada Acara “ASMARALOKA”—Album Launch Showcase dari Arkana

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif
Khas

Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif

DI tengah semarak pertunjukan seni yang mewarnai Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII, hadir sebuah ruang yang menawarkan pengalaman berbeda....

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”
Panggung

Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”

BAYANGAN adalah jiwa dari wayang kulit. Di tangan seorang dalang, lembar-lembar kulit hidup melalui permainan cahaya. Namun, Wayang Ental memilih...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Ketika Waktu Berpindah Tangan
Ulas Musik

Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka
Tualang

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

by Chusmeru
July 13, 2026
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co