4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Deepfake Porno, Pemerkosaan Simbolik, dan Kejatuhan Etika Digital Kita

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
May 9, 2025
in Esai
Refleksi Semangat Juang Bung Tomo dan Kepemimpinan Masa Kini

Petrus Imam Prawoto Jati

BEBERAPA hari ini, jagat digital Indonesia kembali gaduh. Bukan karena debat capres, bukan pula karena teori bumi datar kambuhan. Tapi karena satu hal yang jauh lebih serius dan lebih genting, yaitu bahwa seorang mahasiswa dari kampus ternama di Bali, diduga membuat konten deepfake porno menggunakan wajah temannya sendiri. Bukan artis, bukan selebgram, tapi teman sendiri. Bahkan kabarnya, tanpa seizin si korban.

Dia membuat konten pornografi, yang tidak hanya mencoreng nama kampus, tapi juga membuka fakta pahit masyarakat digital kita. Deepfake, teknologi yang lahir dari pesatnya percepatan AI, kini bukan cuma dipakai untuk menciptakan ilusi wajah dia versi muda ala jutawan atau membuat Jokowi dan Prabowo saling endorse dalam video parodi. Tapi menjelma menjadi alat untuk memperkosa citra manusia, secara simbolik, secara brutal, dan secara digital.

Mari kita jangan segera menganggap ini sekadar kenakalan remaja. Kasus ini bukan sekadar iseng namun ini bentuk pemerkosaan. Bukan dengan alat kelamin, tapi dengan algoritma. Tidak menyentuh tubuh, tapi menghancurkan martabat.

Kita sedang menghadapi bentuk baru dari kekerasan seksual yang tak berlebam, tak berteriak, tapi membekas jauh lebih dalam. Dan sialnya, ini dilakukan oleh mereka yang katanya digadang sebagai “generasi emas Indonesia”, yaitu mereka yang tumbuh dengan YouTube, TikTok, dan template PowerPoint.

Teknologi sebagai Pisau Bermata Dua

Deepfake seharusnya jadi bukti betapa canggihnya otak manusia. Ia bisa dipakai untuk membuat video edukasi yang keren, membuat orang lumpuh mampu berbicara lagi lewat suara digitalnya, atau menciptakan seni sinematik baru. Tapi, sama seperti semua ciptaan manusia dari nuklir sampai pisau dapur, teknologi itu sifatnya netral. Barulah nilai moralitasnya terletak pada penggunanya.

Masalahnya, banyak dari kita ini terlalu sering terlena dengan kecanggihan, tapi malas menanamkan kebijaksanaan. Akibatnya, deepfake yang seharusnya bisa jadi alat edukatif malah jadi alat pemuas hasrat. Tubuh digital dijadikan objek visual untuk dikonsumsi, bukan lagi sebagai subjek bermartabat dan setara.

Memproduksi pornografi dengan wajah orang lain, lalu berlindung di balik dalih, “Ini buat konsumsi pribadi, kok.” Dalih yang sama brengseknya dengan orang yang bilang, “Saya cuma ngintip, nggak megang-megang kok.” Padahal, begitu file itu dibuat, maka ia sudah eksis, sudah hidup di semesta digital. Sangat bisa bocor dari cloud, dicuri dari drive, atau bahkan disebar karena iseng, marah, atau putus cinta. Jadi bukan cuma persoalan pribadi. Ini kejahatan, ini pemerkosaan simbolik, suatu bentuk baru dari kekerasan digital.

Kekerasan Simbolik di Era Digital

Pierre Bourdieu , seorang sosiolog Prancis, pernah bicara soal kekerasan simbolik, kekuasaan yang melukai tanpa melukai. Kekuasaan yang menyiksa tanpa menyentuh. Nah, deepfake porno adalah bentuk mutakhir dari kekerasan itu. Di sini, wajah perempuan direduksi jadi properti visual. Martabatnya dipaksa tunduk pada nafsu laki-laki digital yang merasa berhak atas wajah dan tubuh orang lain.

Seperti yang dinyatakan oleh seorang penulis dan aktivis feminis, Bailey Poland, kekerasan digital terhadap perempuan adalah bentuk kekerasan gender yang serius, bukan cuma iseng-iseng memainkan jari. Kita sedang hidup di era di mana wajah seseorang bisa diperkosa, lalu pelakunya bilang bahwa itu toh cuma editan.

Kita sedang hidup di zaman ketika klik di mouse bisa lebih berbahaya daripada todongan pisau. Tapi hukum kita masih belum tahu harus menyebutnya apa. Apakah ini pelecehan, penurunan martabat, pelanggaran ITE atau “hanya” pelanggaran privasi? Saat hukum masih gagap, kita sebagai masyarakat, mestinya tak boleh ikut gagap.

Apakah Kita Gagal Mendidik Generasi Digital?

Di sinilah kegagalan literasi kita. Bukan model digital ala-ala yang diajarkan lewat poster Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) yang bilang “hati-hati klik tautan mencurigakan.” Tapi literasi etika, literasi moral, literasi menjadi manusia. Kita bisa saja sibuk mengajari anak coding, tapi terlewat lupa mengajari mereka empati. Rajin membuat workshop AI di kampus, tapi di dalamnya jarang sekali fokus membicarakan batas etis dan tanggung jawab moral dari penggunaan AI itu sendiri.

Sekolah dan kampus sepertinya harus segera siap membentuk warga digital yang bermartabat. Bisa mulai membuat  Standard Operating Procedure (SOP )yang jelas saat kekerasan digital terjadi. Segera dibentuk unit tanggap darurat untuk korban. Dan semua itu harus diawali dengan menganggap ini sebagai masalah serius. Sebab dalam kekerasan digital semacam ini korban bisa trauma, malu, bisa depresi, bisa bunuh diri. Kalau itu belum cukup untuk kita marah, berarti kita memang sudah rusak sebagai masyarakat Indonesia yang konon sarat dengan nilai-nilai luhur.

Kasus ini membuka mata kita bahwa sepertinya kita butuh hukum yang bisa mengejar kecepatan kejahatan digital, tapi tetap berprinsip bahwa hukum tak boleh lebih biadab dari pelaku. Tak perlu dibakar hidup-hidup si pelakunya atau dihajar sampai patah tulang. Tapi pelaku tetap harus dihukum secara tegas dan jelas dengan proses hukum yang adil.

Sanksi sosial juga penting, tapi sistem hukum dan sistem pendidikan memiliki posisi krusial dalam jangka panjang. Mestinya literasi digital etis harus jadi pelajaran wajib. Bukan sekadar tahu cara pakai Google Drive, tapi juga tahu bahwa tubuh digital punya hak yang sama dengan tubuh fisik. Setiap klik harus ditimbang dengan empati dan setiap unggahan harus disertai tanggung jawab.

Meski demikian, usaha-usaha diatas hanya akan menjadi bentuk usaha normatif dan bisa keteteran, jika pendidikan moral dan kesadaran etika berteknologi tidak ditanamkan pada masyarakat luas. Seperti dikatakan oleh Yuval Noah Harari dalam bukunya “Homo Deus” (2015), dia mengingatkan bahwa perkembangan teknologi yang sangat cepat memerlukan kesadaran etis untuk mencegah penyalahgunaan yang dapat merugikan kebebasan dan hak asasi manusia.

Rapuhnya Batasan Moral Dunia Digital

Deepfake tidak bisa semata-mata lalu kita tuduh sebagai alat perusak, justru manusia yang menyalahgunakannya yang harus diurus dengan benar. Kasus mahasiswa di atas, yang memanipulasi foto rekannya menjadi konten pornografi palsu adalah contoh nyata bagaimana teknologi bisa disalahgunakan.

Akibat yang ditimbulkannya telah merusak dan menghancurkan kehidupan orang lain. Tindakan seperti ini menunjukkan betapa rapuhnya batasan moral kita di dunia digital, di mana hanya dengan beberapa klik, seseorang bisa menghancurkan reputasi, karier, dan harga diri orang lain.

Perlu ada langkah-langkah mencegah teknologi digunakan untuk mengeksploitasi dan menyakiti orang lain, dan mulai membangun kesadaran bersama tentang pentingnya etika digital yang tangguh. Teknologi yang canggih mau tak mau menuntut masyarakat untuk tidak hanya cerdas secara digital, tapi juga dewasa secara moral. Cukup satu klik, satu proses kerja chip bisa menghancurkan semuanya. Ke depan, tentu perlu sekali usaha-usaha untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap bahaya kekerasan digital, dan pentingnya membangun etika teknologi sejak dini. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis PETRUS IMAM PRAWOTO JATI

Pendidikan Kita Sedang Tersesat?
Apakah Menulis Masih Relevan di Era Kecerdasan Buatan?
Ogah Baca, Nyalakan Bom Waktu
Misteri Layar Lebar: Mengapa Film Horor Merajai Bioskop Indonesia?
Pembatasan Media Sosial Kebijakan Tepat, tetapi Bukan Satu-Satunya Solusi
Tags: digitalmediamedia sosialPendidikan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Bali Stroke Care”: Golden Period, Membangun Sistem di Tengah Detik yang Maut

Next Post

Kreativitas dan Imajinasi: Dua Modal Utama Seorang Seniman

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails
Next Post
Kreativitas dan Imajinasi: Dua Modal Utama Seorang Seniman

Kreativitas dan Imajinasi: Dua Modal Utama Seorang Seniman

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Kuliner

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co