24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Komunikasi Egaliter di Era Predator Citra

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
June 10, 2025
in Esai
Refleksi Semangat Juang Bung Tomo dan Kepemimpinan Masa Kini

Petrus Imam Prawoto Jati

SIDANG pembaca yang budiman, akhirnya kita mengalami hidup di zaman sekarang ini, zaman paling komunikatif dalam sejarah manusia. Tapi anehnya, saya rasa kita juga hidup di zaman paling sepi makna. Semua bisa bicara bebas, semua bisa posting, semua bisa jadi seleb. Kedengarannya sih memang kita semua jadi setara, dan jadi anggota masyarakat tanpa kesenjangan. Tapi apakah itu berarti, dengan model komunikasi semacam ini kita semua sudah setara?

Tanggal 10 Juni diperingati sebagai Hari Media Sosial Nasional, di hari-hari menjelang peringatan inilah saya curiga, memangnya benar media sosial bisa menciptakan masyarakat egaliter? Atau jangan-jangan, kita cuma sedang hidup dalam simulasi kesetaraan, di mana semua orang boleh tampil, asal tunduk pada algoritma dan estetika pencitraan.

Saya mengajak kita semua untuk membongkar ilusi ini pelan-pelan. Tapi tidak perlu cemas, karena di sini tidak akan membawa-bawa teori berat, macam ikut kuliah yang mana dosennya juga bikin ngantuk. Mungkin lebih cocok untuk tema nongkrong di warung kopi sambil sedikit  belajar nyinyir ala Foucault.

Egaliter, Dengan Syarat di Etalase yang Sama

Dulu, kita tahu bahwa komunikasi hanya milik yang punya kuasa. Tengok saja para raja, gereja, negara, media arus utama. Sekarang sudah berubah, semua bisa bersuara. Bahkan anak SMP pun bisa viral cuma karena main lato-lato sambil ceramah soal bagaimana jadi orang tua yang tidak nakal. Tapi sepertinya tidak semudah itu. Karena di era medsos ini, meski akses terbuka lebar-lebar untuk bicara bukan berarti punya kekuasaan untuk didengar.

Di media sosial, memang semua tampak setara. Kita semua punya akun. Kita semua bisa bikin konten. Capek bikin secara manual, ya pake Ai, yang konon sebulan bisa bikin konten ratusan. Ternak konten istilahnya. Tapi nyatanya tidak semua punya modal simbolik yang cukup buat didengar. Ada yang punya kamera mirrorless, lighting tiga titik, dan followers ribuan.

Di sisi lain, ada yang cuma punya suara serak dan HP jadul alias HP kentang. Jadi bisa kita pahami kalau ini bukan demokrasi digital. Medan medsos ini adalah pertarungan antarmerek dan citra diri. Setiap orang adalah brand, setiap postingan adalah iklan, dan setiap percakapan adalah strategi positioning. Jadi, kalau semua orang membangun citra, apakah itu disebut komunikasi yang setara? Atau kita hanya sama-sama predator dalam pasar yang isinya melulu jual beli atensi yang brutal?

Kesadaran Kritis vs  Kesadaran Klik

Jürgen Habermas pernah bermimpi,  seandainya manusia bisa berdialog secara rasional, terbuka, tanpa manipulasi, maka akan lahirlah suatu masyarakat komunikatif yang adil. Sayangnya, si Mark Zuckerberg sepertinya tidak baca Habermas. Jelas-jelas Ia lebih pilih “ngoding” fitur Reels, lantas belanja WA dan IG.

Medsos jadi mengingatkan kita akan Agora di Athena kuno. Agora, adalah pusat kehidupan publik di kota Athena kuno. Tempat ini berfungsi sebagai pasar, pusat kegiatan politik, sosial, dan keagamaan. Para filsuf juga banyak berkumpul di sini untuk diskusi dan didengar banyak orang. Nah, media sosial menciptakan ruang publik semu, mirip Agora di Athena kuno, tapi dikurasi oleh mesin yang hanya peduli satu hal, yaitu “klik”. Di Instagram, Anda lebih didengar kalau cantik.
Di Twitter, Anda lebih dianggap kalau sinis dan pinter. Sementara di TikTok, setahu saya kita bakal naik kalau joget-joget sambil kasih opini macam komentator politik. Ini bukan lelucon, ini fakta di suatu nun negara sana. Mengapa hal itu bisa terjadi, mungkin karena baik pembuat konten dan audiensnya sama-sama zero kesadaran kritis.

Jauh hari, Paulo Freire juga pernah bicara soal conscientização, kesadaran kritis. Dulu sekali. Tapi kalau dia hidup hari ini, dan bikin konten, dia mungkin akan di-mute karena dianggap kurang engaging. Kesadaran kritis jelas tidak menarik buat algoritma. Tapi drama percintaan anak Jaksel? Langsung FYP.

Semua Bebas Jadi Gladiator Digital

Sepertinya era barbar mau tak mau kita alami juga. Media sosial di satu sisi,  bukan medan dialog. Medsos adalah arena , sirkus, Colosseum. Dan kita semua masuk ke sana bukan sebagai warga yang menonton, tapi sebagai gladiator digital. Kita saling pamer, saling branding, saling ngasih impresi terbaik.

Kita diajari  dan belajar sejak awal, tampil itu penting, karena kalau tidak tampil, kita tidak eksis. Dan kalau tidak eksis, ya jadinya tidak layak didengar. Sepertinya inilah titik paling ironi, bahwa kita tidak sedang bicara satu sama lain. Tidak dengan kawan, dengan saudara, atau masyarakat luas. Kita sedang bicara ke cermin, sambil berharap orang lain menyukai pantulan kita.

Kalau pembaca yang budiman tidak percaya, penjelasannya begini.  Di medsos kita bisa lihat, bahkan penderitaan pun harus tampil cantik. Jeritan pun harus pakai filter. Kesakitan dikemas menjadi konten. Dan konten harus dikemas estetik, biar bisa diklik dan dikomen. Lalu mereka bilang, “ini adalah bentuk ekspresi.” Tapi mungkin sebenarnya ini bentuk lain dari penyesuaian paksa. Kita bicara bukan karena kita bebas, tapi karena kita sudah belajar dan tahu apa yang harus dikatakan, agar masuk ke selera mesin.

Adakah Komunikasi yang Masih Bisa Membebaskan?

Bisa jadi pertanyaan di atas membuat kita tertawa hambar, karena mungkin ini pertanyaan yang sudah basi. Tapi justru di situlah bahayanya,  kita mulai terbiasa hidup tanpa harapan akan komunikasi yang membebaskan. Kita anggap komunikasi ya seperti ini, penuh pamer, penuh strategi, dan penuh tekanan untuk tampil.

Tapi kok saya percaya, masih ada celah. Retakan sekecil apapun di tembok algoritmik, bisa kita dorong agar ada lubang untuk keluar. Jadi, komunikasi egaliter bukan soal semua orang bisa bicara. Tapi soal adanya ruang di mana suara bisa tumbuh tanpa harus bersaing. Di mana setiap kita bisa bicara tanpa dihukum karena tidak lucu, tidak cantik, atau tidak populer. Itulah komunikasi yang membebaskan. Dan dengan model algoritma sekarang, hal itu tidak akan datang dari TikTok atau X. Tapi tetap bisa lahir di ruang kecil sepertia komunitas, ruang diskusi, grup WA yang tidak toxic, podcast akar rumput, atau forum warga yang tidak dibiayai partai.

Dari Simulasi Menuju Subversi

Kalau semua orang jadi predator citra, maka bentuk pemberontakan paling radikal hari ini adalah tidak membangun citra sama sekali. Komunikasi yang membebaskan bukanlah soal siapa yang paling lantang. Tapi siapa yang paling jujur. Coba sekali-sekali kita posting foto buram. Tulis caption yang jujur. Ungkap ketidaktahuan dan kebodohan kita di sana. Bukan untuk mencari simpati, tapi sebagai pernyataan keras,  bahwa aku bukan merek, bukan brand, bahwa aku manusia. 

Mungkin bisa kita lawan ilusi kesetaraan ini dengan ketidaksempurnaan yang disengaja. Kita buat orang lain berhenti scroll, bukan karena kita menarik, tapi karena kita jujur dan otentik. Di tengah dunia di mana semua orang sibuk terlihat pintar, kejujuran adalah bentuk komunikasi paling revolusioner. Dan jujur itu, saudara-saudara, memang sering kali tidak viral. Tapi justru karena itulah ia layak diperjuangkan. Utopiakah? Sambil menunggu jawaban yang masih loading, selamat Hari Media Sosial. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis PETRUS IMAM PRAWOTO JATI

Deepfake Porno, Pemerkosaan Simbolik, dan Kejatuhan Etika Digital Kita
AI dan Seni, Karya Dialogis yang Sarat Ancaman?
Apakah Menulis Masih Relevan di Era Kecerdasan Buatan?
Ogah Baca, Nyalakan Bom Waktu
Teater Ditikam, Akal Sehat yang Mati
Tags: Hari Media Sosial Nasionalmedia sosial
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

New Balance Sneakers Store di Indonesia Terpercaya

Next Post

Rizki Pratama dan “Perubahan Diri”  pada Acara “Suar Suara: Road Tour AKALPATI” di Singaraja

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Rizki Pratama dan “Perubahan Diri”  pada Acara “Suar Suara: Road Tour AKALPATI” di Singaraja

Rizki Pratama dan “Perubahan Diri”  pada Acara “Suar Suara: Road Tour AKALPATI" di Singaraja

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co