4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Komunikasi Egaliter di Era Predator Citra

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
June 10, 2025
in Esai
Refleksi Semangat Juang Bung Tomo dan Kepemimpinan Masa Kini

Petrus Imam Prawoto Jati

SIDANG pembaca yang budiman, akhirnya kita mengalami hidup di zaman sekarang ini, zaman paling komunikatif dalam sejarah manusia. Tapi anehnya, saya rasa kita juga hidup di zaman paling sepi makna. Semua bisa bicara bebas, semua bisa posting, semua bisa jadi seleb. Kedengarannya sih memang kita semua jadi setara, dan jadi anggota masyarakat tanpa kesenjangan. Tapi apakah itu berarti, dengan model komunikasi semacam ini kita semua sudah setara?

Tanggal 10 Juni diperingati sebagai Hari Media Sosial Nasional, di hari-hari menjelang peringatan inilah saya curiga, memangnya benar media sosial bisa menciptakan masyarakat egaliter? Atau jangan-jangan, kita cuma sedang hidup dalam simulasi kesetaraan, di mana semua orang boleh tampil, asal tunduk pada algoritma dan estetika pencitraan.

Saya mengajak kita semua untuk membongkar ilusi ini pelan-pelan. Tapi tidak perlu cemas, karena di sini tidak akan membawa-bawa teori berat, macam ikut kuliah yang mana dosennya juga bikin ngantuk. Mungkin lebih cocok untuk tema nongkrong di warung kopi sambil sedikit  belajar nyinyir ala Foucault.

Egaliter, Dengan Syarat di Etalase yang Sama

Dulu, kita tahu bahwa komunikasi hanya milik yang punya kuasa. Tengok saja para raja, gereja, negara, media arus utama. Sekarang sudah berubah, semua bisa bersuara. Bahkan anak SMP pun bisa viral cuma karena main lato-lato sambil ceramah soal bagaimana jadi orang tua yang tidak nakal. Tapi sepertinya tidak semudah itu. Karena di era medsos ini, meski akses terbuka lebar-lebar untuk bicara bukan berarti punya kekuasaan untuk didengar.

Di media sosial, memang semua tampak setara. Kita semua punya akun. Kita semua bisa bikin konten. Capek bikin secara manual, ya pake Ai, yang konon sebulan bisa bikin konten ratusan. Ternak konten istilahnya. Tapi nyatanya tidak semua punya modal simbolik yang cukup buat didengar. Ada yang punya kamera mirrorless, lighting tiga titik, dan followers ribuan.

Di sisi lain, ada yang cuma punya suara serak dan HP jadul alias HP kentang. Jadi bisa kita pahami kalau ini bukan demokrasi digital. Medan medsos ini adalah pertarungan antarmerek dan citra diri. Setiap orang adalah brand, setiap postingan adalah iklan, dan setiap percakapan adalah strategi positioning. Jadi, kalau semua orang membangun citra, apakah itu disebut komunikasi yang setara? Atau kita hanya sama-sama predator dalam pasar yang isinya melulu jual beli atensi yang brutal?

Kesadaran Kritis vs  Kesadaran Klik

Jürgen Habermas pernah bermimpi,  seandainya manusia bisa berdialog secara rasional, terbuka, tanpa manipulasi, maka akan lahirlah suatu masyarakat komunikatif yang adil. Sayangnya, si Mark Zuckerberg sepertinya tidak baca Habermas. Jelas-jelas Ia lebih pilih “ngoding” fitur Reels, lantas belanja WA dan IG.

Medsos jadi mengingatkan kita akan Agora di Athena kuno. Agora, adalah pusat kehidupan publik di kota Athena kuno. Tempat ini berfungsi sebagai pasar, pusat kegiatan politik, sosial, dan keagamaan. Para filsuf juga banyak berkumpul di sini untuk diskusi dan didengar banyak orang. Nah, media sosial menciptakan ruang publik semu, mirip Agora di Athena kuno, tapi dikurasi oleh mesin yang hanya peduli satu hal, yaitu “klik”. Di Instagram, Anda lebih didengar kalau cantik.
Di Twitter, Anda lebih dianggap kalau sinis dan pinter. Sementara di TikTok, setahu saya kita bakal naik kalau joget-joget sambil kasih opini macam komentator politik. Ini bukan lelucon, ini fakta di suatu nun negara sana. Mengapa hal itu bisa terjadi, mungkin karena baik pembuat konten dan audiensnya sama-sama zero kesadaran kritis.

Jauh hari, Paulo Freire juga pernah bicara soal conscientização, kesadaran kritis. Dulu sekali. Tapi kalau dia hidup hari ini, dan bikin konten, dia mungkin akan di-mute karena dianggap kurang engaging. Kesadaran kritis jelas tidak menarik buat algoritma. Tapi drama percintaan anak Jaksel? Langsung FYP.

Semua Bebas Jadi Gladiator Digital

Sepertinya era barbar mau tak mau kita alami juga. Media sosial di satu sisi,  bukan medan dialog. Medsos adalah arena , sirkus, Colosseum. Dan kita semua masuk ke sana bukan sebagai warga yang menonton, tapi sebagai gladiator digital. Kita saling pamer, saling branding, saling ngasih impresi terbaik.

Kita diajari  dan belajar sejak awal, tampil itu penting, karena kalau tidak tampil, kita tidak eksis. Dan kalau tidak eksis, ya jadinya tidak layak didengar. Sepertinya inilah titik paling ironi, bahwa kita tidak sedang bicara satu sama lain. Tidak dengan kawan, dengan saudara, atau masyarakat luas. Kita sedang bicara ke cermin, sambil berharap orang lain menyukai pantulan kita.

Kalau pembaca yang budiman tidak percaya, penjelasannya begini.  Di medsos kita bisa lihat, bahkan penderitaan pun harus tampil cantik. Jeritan pun harus pakai filter. Kesakitan dikemas menjadi konten. Dan konten harus dikemas estetik, biar bisa diklik dan dikomen. Lalu mereka bilang, “ini adalah bentuk ekspresi.” Tapi mungkin sebenarnya ini bentuk lain dari penyesuaian paksa. Kita bicara bukan karena kita bebas, tapi karena kita sudah belajar dan tahu apa yang harus dikatakan, agar masuk ke selera mesin.

Adakah Komunikasi yang Masih Bisa Membebaskan?

Bisa jadi pertanyaan di atas membuat kita tertawa hambar, karena mungkin ini pertanyaan yang sudah basi. Tapi justru di situlah bahayanya,  kita mulai terbiasa hidup tanpa harapan akan komunikasi yang membebaskan. Kita anggap komunikasi ya seperti ini, penuh pamer, penuh strategi, dan penuh tekanan untuk tampil.

Tapi kok saya percaya, masih ada celah. Retakan sekecil apapun di tembok algoritmik, bisa kita dorong agar ada lubang untuk keluar. Jadi, komunikasi egaliter bukan soal semua orang bisa bicara. Tapi soal adanya ruang di mana suara bisa tumbuh tanpa harus bersaing. Di mana setiap kita bisa bicara tanpa dihukum karena tidak lucu, tidak cantik, atau tidak populer. Itulah komunikasi yang membebaskan. Dan dengan model algoritma sekarang, hal itu tidak akan datang dari TikTok atau X. Tapi tetap bisa lahir di ruang kecil sepertia komunitas, ruang diskusi, grup WA yang tidak toxic, podcast akar rumput, atau forum warga yang tidak dibiayai partai.

Dari Simulasi Menuju Subversi

Kalau semua orang jadi predator citra, maka bentuk pemberontakan paling radikal hari ini adalah tidak membangun citra sama sekali. Komunikasi yang membebaskan bukanlah soal siapa yang paling lantang. Tapi siapa yang paling jujur. Coba sekali-sekali kita posting foto buram. Tulis caption yang jujur. Ungkap ketidaktahuan dan kebodohan kita di sana. Bukan untuk mencari simpati, tapi sebagai pernyataan keras,  bahwa aku bukan merek, bukan brand, bahwa aku manusia. 

Mungkin bisa kita lawan ilusi kesetaraan ini dengan ketidaksempurnaan yang disengaja. Kita buat orang lain berhenti scroll, bukan karena kita menarik, tapi karena kita jujur dan otentik. Di tengah dunia di mana semua orang sibuk terlihat pintar, kejujuran adalah bentuk komunikasi paling revolusioner. Dan jujur itu, saudara-saudara, memang sering kali tidak viral. Tapi justru karena itulah ia layak diperjuangkan. Utopiakah? Sambil menunggu jawaban yang masih loading, selamat Hari Media Sosial. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis PETRUS IMAM PRAWOTO JATI

Deepfake Porno, Pemerkosaan Simbolik, dan Kejatuhan Etika Digital Kita
AI dan Seni, Karya Dialogis yang Sarat Ancaman?
Apakah Menulis Masih Relevan di Era Kecerdasan Buatan?
Ogah Baca, Nyalakan Bom Waktu
Teater Ditikam, Akal Sehat yang Mati
Tags: Hari Media Sosial Nasionalmedia sosial
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

New Balance Sneakers Store di Indonesia Terpercaya

Next Post

Rizki Pratama dan “Perubahan Diri”  pada Acara “Suar Suara: Road Tour AKALPATI” di Singaraja

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails
Next Post
Rizki Pratama dan “Perubahan Diri”  pada Acara “Suar Suara: Road Tour AKALPATI” di Singaraja

Rizki Pratama dan “Perubahan Diri”  pada Acara “Suar Suara: Road Tour AKALPATI" di Singaraja

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Kuliner

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co