15 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Komunikasi Egaliter di Era Predator Citra

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
June 10, 2025
in Esai
Refleksi Semangat Juang Bung Tomo dan Kepemimpinan Masa Kini

Petrus Imam Prawoto Jati

SIDANG pembaca yang budiman, akhirnya kita mengalami hidup di zaman sekarang ini, zaman paling komunikatif dalam sejarah manusia. Tapi anehnya, saya rasa kita juga hidup di zaman paling sepi makna. Semua bisa bicara bebas, semua bisa posting, semua bisa jadi seleb. Kedengarannya sih memang kita semua jadi setara, dan jadi anggota masyarakat tanpa kesenjangan. Tapi apakah itu berarti, dengan model komunikasi semacam ini kita semua sudah setara?

Tanggal 10 Juni diperingati sebagai Hari Media Sosial Nasional, di hari-hari menjelang peringatan inilah saya curiga, memangnya benar media sosial bisa menciptakan masyarakat egaliter? Atau jangan-jangan, kita cuma sedang hidup dalam simulasi kesetaraan, di mana semua orang boleh tampil, asal tunduk pada algoritma dan estetika pencitraan.

Saya mengajak kita semua untuk membongkar ilusi ini pelan-pelan. Tapi tidak perlu cemas, karena di sini tidak akan membawa-bawa teori berat, macam ikut kuliah yang mana dosennya juga bikin ngantuk. Mungkin lebih cocok untuk tema nongkrong di warung kopi sambil sedikit  belajar nyinyir ala Foucault.

Egaliter, Dengan Syarat di Etalase yang Sama

Dulu, kita tahu bahwa komunikasi hanya milik yang punya kuasa. Tengok saja para raja, gereja, negara, media arus utama. Sekarang sudah berubah, semua bisa bersuara. Bahkan anak SMP pun bisa viral cuma karena main lato-lato sambil ceramah soal bagaimana jadi orang tua yang tidak nakal. Tapi sepertinya tidak semudah itu. Karena di era medsos ini, meski akses terbuka lebar-lebar untuk bicara bukan berarti punya kekuasaan untuk didengar.

Di media sosial, memang semua tampak setara. Kita semua punya akun. Kita semua bisa bikin konten. Capek bikin secara manual, ya pake Ai, yang konon sebulan bisa bikin konten ratusan. Ternak konten istilahnya. Tapi nyatanya tidak semua punya modal simbolik yang cukup buat didengar. Ada yang punya kamera mirrorless, lighting tiga titik, dan followers ribuan.

Di sisi lain, ada yang cuma punya suara serak dan HP jadul alias HP kentang. Jadi bisa kita pahami kalau ini bukan demokrasi digital. Medan medsos ini adalah pertarungan antarmerek dan citra diri. Setiap orang adalah brand, setiap postingan adalah iklan, dan setiap percakapan adalah strategi positioning. Jadi, kalau semua orang membangun citra, apakah itu disebut komunikasi yang setara? Atau kita hanya sama-sama predator dalam pasar yang isinya melulu jual beli atensi yang brutal?

Kesadaran Kritis vs  Kesadaran Klik

Jürgen Habermas pernah bermimpi,  seandainya manusia bisa berdialog secara rasional, terbuka, tanpa manipulasi, maka akan lahirlah suatu masyarakat komunikatif yang adil. Sayangnya, si Mark Zuckerberg sepertinya tidak baca Habermas. Jelas-jelas Ia lebih pilih “ngoding” fitur Reels, lantas belanja WA dan IG.

Medsos jadi mengingatkan kita akan Agora di Athena kuno. Agora, adalah pusat kehidupan publik di kota Athena kuno. Tempat ini berfungsi sebagai pasar, pusat kegiatan politik, sosial, dan keagamaan. Para filsuf juga banyak berkumpul di sini untuk diskusi dan didengar banyak orang. Nah, media sosial menciptakan ruang publik semu, mirip Agora di Athena kuno, tapi dikurasi oleh mesin yang hanya peduli satu hal, yaitu “klik”. Di Instagram, Anda lebih didengar kalau cantik.
Di Twitter, Anda lebih dianggap kalau sinis dan pinter. Sementara di TikTok, setahu saya kita bakal naik kalau joget-joget sambil kasih opini macam komentator politik. Ini bukan lelucon, ini fakta di suatu nun negara sana. Mengapa hal itu bisa terjadi, mungkin karena baik pembuat konten dan audiensnya sama-sama zero kesadaran kritis.

Jauh hari, Paulo Freire juga pernah bicara soal conscientização, kesadaran kritis. Dulu sekali. Tapi kalau dia hidup hari ini, dan bikin konten, dia mungkin akan di-mute karena dianggap kurang engaging. Kesadaran kritis jelas tidak menarik buat algoritma. Tapi drama percintaan anak Jaksel? Langsung FYP.

Semua Bebas Jadi Gladiator Digital

Sepertinya era barbar mau tak mau kita alami juga. Media sosial di satu sisi,  bukan medan dialog. Medsos adalah arena , sirkus, Colosseum. Dan kita semua masuk ke sana bukan sebagai warga yang menonton, tapi sebagai gladiator digital. Kita saling pamer, saling branding, saling ngasih impresi terbaik.

Kita diajari  dan belajar sejak awal, tampil itu penting, karena kalau tidak tampil, kita tidak eksis. Dan kalau tidak eksis, ya jadinya tidak layak didengar. Sepertinya inilah titik paling ironi, bahwa kita tidak sedang bicara satu sama lain. Tidak dengan kawan, dengan saudara, atau masyarakat luas. Kita sedang bicara ke cermin, sambil berharap orang lain menyukai pantulan kita.

Kalau pembaca yang budiman tidak percaya, penjelasannya begini.  Di medsos kita bisa lihat, bahkan penderitaan pun harus tampil cantik. Jeritan pun harus pakai filter. Kesakitan dikemas menjadi konten. Dan konten harus dikemas estetik, biar bisa diklik dan dikomen. Lalu mereka bilang, “ini adalah bentuk ekspresi.” Tapi mungkin sebenarnya ini bentuk lain dari penyesuaian paksa. Kita bicara bukan karena kita bebas, tapi karena kita sudah belajar dan tahu apa yang harus dikatakan, agar masuk ke selera mesin.

Adakah Komunikasi yang Masih Bisa Membebaskan?

Bisa jadi pertanyaan di atas membuat kita tertawa hambar, karena mungkin ini pertanyaan yang sudah basi. Tapi justru di situlah bahayanya,  kita mulai terbiasa hidup tanpa harapan akan komunikasi yang membebaskan. Kita anggap komunikasi ya seperti ini, penuh pamer, penuh strategi, dan penuh tekanan untuk tampil.

Tapi kok saya percaya, masih ada celah. Retakan sekecil apapun di tembok algoritmik, bisa kita dorong agar ada lubang untuk keluar. Jadi, komunikasi egaliter bukan soal semua orang bisa bicara. Tapi soal adanya ruang di mana suara bisa tumbuh tanpa harus bersaing. Di mana setiap kita bisa bicara tanpa dihukum karena tidak lucu, tidak cantik, atau tidak populer. Itulah komunikasi yang membebaskan. Dan dengan model algoritma sekarang, hal itu tidak akan datang dari TikTok atau X. Tapi tetap bisa lahir di ruang kecil sepertia komunitas, ruang diskusi, grup WA yang tidak toxic, podcast akar rumput, atau forum warga yang tidak dibiayai partai.

Dari Simulasi Menuju Subversi

Kalau semua orang jadi predator citra, maka bentuk pemberontakan paling radikal hari ini adalah tidak membangun citra sama sekali. Komunikasi yang membebaskan bukanlah soal siapa yang paling lantang. Tapi siapa yang paling jujur. Coba sekali-sekali kita posting foto buram. Tulis caption yang jujur. Ungkap ketidaktahuan dan kebodohan kita di sana. Bukan untuk mencari simpati, tapi sebagai pernyataan keras,  bahwa aku bukan merek, bukan brand, bahwa aku manusia. 

Mungkin bisa kita lawan ilusi kesetaraan ini dengan ketidaksempurnaan yang disengaja. Kita buat orang lain berhenti scroll, bukan karena kita menarik, tapi karena kita jujur dan otentik. Di tengah dunia di mana semua orang sibuk terlihat pintar, kejujuran adalah bentuk komunikasi paling revolusioner. Dan jujur itu, saudara-saudara, memang sering kali tidak viral. Tapi justru karena itulah ia layak diperjuangkan. Utopiakah? Sambil menunggu jawaban yang masih loading, selamat Hari Media Sosial. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis PETRUS IMAM PRAWOTO JATI

Deepfake Porno, Pemerkosaan Simbolik, dan Kejatuhan Etika Digital Kita
AI dan Seni, Karya Dialogis yang Sarat Ancaman?
Apakah Menulis Masih Relevan di Era Kecerdasan Buatan?
Ogah Baca, Nyalakan Bom Waktu
Teater Ditikam, Akal Sehat yang Mati
Tags: Hari Media Sosial Nasionalmedia sosial
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

New Balance Sneakers Store di Indonesia Terpercaya

Next Post

Rizki Pratama dan “Perubahan Diri”  pada Acara “Suar Suara: Road Tour AKALPATI” di Singaraja

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
0
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

Read moreDetails

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails
Next Post
Rizki Pratama dan “Perubahan Diri”  pada Acara “Suar Suara: Road Tour AKALPATI” di Singaraja

Rizki Pratama dan “Perubahan Diri”  pada Acara “Suar Suara: Road Tour AKALPATI" di Singaraja

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang
Pameran

Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang

MEMASUKI Gedung Kriya, Taman Budaya Provinsi Bali, pengunjung seolah diajak melintasi beragam dunia. Di satu sudut, akar kayu menjelma simbol...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Kreativitas Tanpa Batas Warnai Lomba Tari Modern Festival Seni Bali Jani 2026
Khas

Kreativitas Tanpa Batas Warnai Lomba Tari Modern Festival Seni Bali Jani 2026

LOMBA Tari Modern dalam rangka Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 menghadirkan beragam karya yang mencerminkan perkembangan seni...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Menjelajah Kosmologi Kreativitas Ketut Suwidiarta di Five Roastery & Art Café
Budaya

Menjelajah Kosmologi Kreativitas Ketut Suwidiarta di Five Roastery & Art Café

Di tengah riuh kafe yang biasanya dipenuhi aroma kopi dan percakapan santai, sebuah ruang diskusi tentang seni akan dibuka di...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif
Khas

Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif

DI tengah semarak pertunjukan seni yang mewarnai Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII, hadir sebuah ruang yang menawarkan pengalaman berbeda....

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”
Panggung

Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”

BAYANGAN adalah jiwa dari wayang kulit. Di tangan seorang dalang, lembar-lembar kulit hidup melalui permainan cahaya. Namun, Wayang Ental memilih...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Ketika Waktu Berpindah Tangan
Ulas Musik

Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka
Tualang

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

by Chusmeru
July 13, 2026
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co