25 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Komunikasi Egaliter di Era Predator Citra

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
June 10, 2025
in Esai
Refleksi Semangat Juang Bung Tomo dan Kepemimpinan Masa Kini

Petrus Imam Prawoto Jati

SIDANG pembaca yang budiman, akhirnya kita mengalami hidup di zaman sekarang ini, zaman paling komunikatif dalam sejarah manusia. Tapi anehnya, saya rasa kita juga hidup di zaman paling sepi makna. Semua bisa bicara bebas, semua bisa posting, semua bisa jadi seleb. Kedengarannya sih memang kita semua jadi setara, dan jadi anggota masyarakat tanpa kesenjangan. Tapi apakah itu berarti, dengan model komunikasi semacam ini kita semua sudah setara?

Tanggal 10 Juni diperingati sebagai Hari Media Sosial Nasional, di hari-hari menjelang peringatan inilah saya curiga, memangnya benar media sosial bisa menciptakan masyarakat egaliter? Atau jangan-jangan, kita cuma sedang hidup dalam simulasi kesetaraan, di mana semua orang boleh tampil, asal tunduk pada algoritma dan estetika pencitraan.

Saya mengajak kita semua untuk membongkar ilusi ini pelan-pelan. Tapi tidak perlu cemas, karena di sini tidak akan membawa-bawa teori berat, macam ikut kuliah yang mana dosennya juga bikin ngantuk. Mungkin lebih cocok untuk tema nongkrong di warung kopi sambil sedikit  belajar nyinyir ala Foucault.

Egaliter, Dengan Syarat di Etalase yang Sama

Dulu, kita tahu bahwa komunikasi hanya milik yang punya kuasa. Tengok saja para raja, gereja, negara, media arus utama. Sekarang sudah berubah, semua bisa bersuara. Bahkan anak SMP pun bisa viral cuma karena main lato-lato sambil ceramah soal bagaimana jadi orang tua yang tidak nakal. Tapi sepertinya tidak semudah itu. Karena di era medsos ini, meski akses terbuka lebar-lebar untuk bicara bukan berarti punya kekuasaan untuk didengar.

Di media sosial, memang semua tampak setara. Kita semua punya akun. Kita semua bisa bikin konten. Capek bikin secara manual, ya pake Ai, yang konon sebulan bisa bikin konten ratusan. Ternak konten istilahnya. Tapi nyatanya tidak semua punya modal simbolik yang cukup buat didengar. Ada yang punya kamera mirrorless, lighting tiga titik, dan followers ribuan.

Di sisi lain, ada yang cuma punya suara serak dan HP jadul alias HP kentang. Jadi bisa kita pahami kalau ini bukan demokrasi digital. Medan medsos ini adalah pertarungan antarmerek dan citra diri. Setiap orang adalah brand, setiap postingan adalah iklan, dan setiap percakapan adalah strategi positioning. Jadi, kalau semua orang membangun citra, apakah itu disebut komunikasi yang setara? Atau kita hanya sama-sama predator dalam pasar yang isinya melulu jual beli atensi yang brutal?

Kesadaran Kritis vs  Kesadaran Klik

Jürgen Habermas pernah bermimpi,  seandainya manusia bisa berdialog secara rasional, terbuka, tanpa manipulasi, maka akan lahirlah suatu masyarakat komunikatif yang adil. Sayangnya, si Mark Zuckerberg sepertinya tidak baca Habermas. Jelas-jelas Ia lebih pilih “ngoding” fitur Reels, lantas belanja WA dan IG.

Medsos jadi mengingatkan kita akan Agora di Athena kuno. Agora, adalah pusat kehidupan publik di kota Athena kuno. Tempat ini berfungsi sebagai pasar, pusat kegiatan politik, sosial, dan keagamaan. Para filsuf juga banyak berkumpul di sini untuk diskusi dan didengar banyak orang. Nah, media sosial menciptakan ruang publik semu, mirip Agora di Athena kuno, tapi dikurasi oleh mesin yang hanya peduli satu hal, yaitu “klik”. Di Instagram, Anda lebih didengar kalau cantik.
Di Twitter, Anda lebih dianggap kalau sinis dan pinter. Sementara di TikTok, setahu saya kita bakal naik kalau joget-joget sambil kasih opini macam komentator politik. Ini bukan lelucon, ini fakta di suatu nun negara sana. Mengapa hal itu bisa terjadi, mungkin karena baik pembuat konten dan audiensnya sama-sama zero kesadaran kritis.

Jauh hari, Paulo Freire juga pernah bicara soal conscientização, kesadaran kritis. Dulu sekali. Tapi kalau dia hidup hari ini, dan bikin konten, dia mungkin akan di-mute karena dianggap kurang engaging. Kesadaran kritis jelas tidak menarik buat algoritma. Tapi drama percintaan anak Jaksel? Langsung FYP.

Semua Bebas Jadi Gladiator Digital

Sepertinya era barbar mau tak mau kita alami juga. Media sosial di satu sisi,  bukan medan dialog. Medsos adalah arena , sirkus, Colosseum. Dan kita semua masuk ke sana bukan sebagai warga yang menonton, tapi sebagai gladiator digital. Kita saling pamer, saling branding, saling ngasih impresi terbaik.

Kita diajari  dan belajar sejak awal, tampil itu penting, karena kalau tidak tampil, kita tidak eksis. Dan kalau tidak eksis, ya jadinya tidak layak didengar. Sepertinya inilah titik paling ironi, bahwa kita tidak sedang bicara satu sama lain. Tidak dengan kawan, dengan saudara, atau masyarakat luas. Kita sedang bicara ke cermin, sambil berharap orang lain menyukai pantulan kita.

Kalau pembaca yang budiman tidak percaya, penjelasannya begini.  Di medsos kita bisa lihat, bahkan penderitaan pun harus tampil cantik. Jeritan pun harus pakai filter. Kesakitan dikemas menjadi konten. Dan konten harus dikemas estetik, biar bisa diklik dan dikomen. Lalu mereka bilang, “ini adalah bentuk ekspresi.” Tapi mungkin sebenarnya ini bentuk lain dari penyesuaian paksa. Kita bicara bukan karena kita bebas, tapi karena kita sudah belajar dan tahu apa yang harus dikatakan, agar masuk ke selera mesin.

Adakah Komunikasi yang Masih Bisa Membebaskan?

Bisa jadi pertanyaan di atas membuat kita tertawa hambar, karena mungkin ini pertanyaan yang sudah basi. Tapi justru di situlah bahayanya,  kita mulai terbiasa hidup tanpa harapan akan komunikasi yang membebaskan. Kita anggap komunikasi ya seperti ini, penuh pamer, penuh strategi, dan penuh tekanan untuk tampil.

Tapi kok saya percaya, masih ada celah. Retakan sekecil apapun di tembok algoritmik, bisa kita dorong agar ada lubang untuk keluar. Jadi, komunikasi egaliter bukan soal semua orang bisa bicara. Tapi soal adanya ruang di mana suara bisa tumbuh tanpa harus bersaing. Di mana setiap kita bisa bicara tanpa dihukum karena tidak lucu, tidak cantik, atau tidak populer. Itulah komunikasi yang membebaskan. Dan dengan model algoritma sekarang, hal itu tidak akan datang dari TikTok atau X. Tapi tetap bisa lahir di ruang kecil sepertia komunitas, ruang diskusi, grup WA yang tidak toxic, podcast akar rumput, atau forum warga yang tidak dibiayai partai.

Dari Simulasi Menuju Subversi

Kalau semua orang jadi predator citra, maka bentuk pemberontakan paling radikal hari ini adalah tidak membangun citra sama sekali. Komunikasi yang membebaskan bukanlah soal siapa yang paling lantang. Tapi siapa yang paling jujur. Coba sekali-sekali kita posting foto buram. Tulis caption yang jujur. Ungkap ketidaktahuan dan kebodohan kita di sana. Bukan untuk mencari simpati, tapi sebagai pernyataan keras,  bahwa aku bukan merek, bukan brand, bahwa aku manusia. 

Mungkin bisa kita lawan ilusi kesetaraan ini dengan ketidaksempurnaan yang disengaja. Kita buat orang lain berhenti scroll, bukan karena kita menarik, tapi karena kita jujur dan otentik. Di tengah dunia di mana semua orang sibuk terlihat pintar, kejujuran adalah bentuk komunikasi paling revolusioner. Dan jujur itu, saudara-saudara, memang sering kali tidak viral. Tapi justru karena itulah ia layak diperjuangkan. Utopiakah? Sambil menunggu jawaban yang masih loading, selamat Hari Media Sosial. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis PETRUS IMAM PRAWOTO JATI

Deepfake Porno, Pemerkosaan Simbolik, dan Kejatuhan Etika Digital Kita
AI dan Seni, Karya Dialogis yang Sarat Ancaman?
Apakah Menulis Masih Relevan di Era Kecerdasan Buatan?
Ogah Baca, Nyalakan Bom Waktu
Teater Ditikam, Akal Sehat yang Mati
Tags: Hari Media Sosial Nasionalmedia sosial
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

New Balance Sneakers Store di Indonesia Terpercaya

Next Post

Rizki Pratama dan “Perubahan Diri”  pada Acara “Suar Suara: Road Tour AKALPATI” di Singaraja

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

by Agung Sudarsa
April 24, 2026
0
Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

Ingatan yang Menjadi Wacana Batin Gagasan tentang Krishna dan Siddharta yang muncul dari ingatan terhadap wacana maupun tulisan Guruji Anand...

Read moreDetails

‘Janji-janji Jepang’

by Angga Wijaya
April 23, 2026
0
‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

Read moreDetails

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

by Chusmeru
April 23, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

Read moreDetails

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
0
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

Read moreDetails

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
0
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

Read moreDetails

Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

by Petrus Imam Prawoto Jati
April 21, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang...

Read moreDetails

NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

by Dede Putra Wiguna
April 20, 2026
0
NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

PERNAHKAH Anda menjumpai situasi di mana sebuah persoalan dibicarakan berulang-ulang, diperdebatkan panjang lebar, bahkan diposting di berbagai platform, namun tidak...

Read moreDetails

Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

by Agung Sudarsa
April 20, 2026
0
Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

SETIAP peringatan Raden Ajeng Kartini sering kali berhenti pada simbol: kebaya, kutipan surat, dan narasi emansipasi yang diulang. Namun jika...

Read moreDetails

Mungkinkah Budaya Adiluhung Baduy Rusak karena Pengaruh Digitalisasi dan Destinasi Wisata?

by Asep Kurnia
April 20, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

KITA dan siapa pun, akan begitu tercengang dengan berbagai perubahan fisik (lingkungan geografis) yang begitu cepat serta sporadis termasuk perubahan...

Read moreDetails

Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

by Jro Gde Sudibya
April 20, 2026
0
Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

Paradigma Baru Industri Pariwisata Pasca Pandemi Covid-19 yang meluluhlantakkan perekonomian Bali, Industri Pariwisata Bali "mati suri", tumbuh negatif 9,3 persen...

Read moreDetails
Next Post
Rizki Pratama dan “Perubahan Diri”  pada Acara “Suar Suara: Road Tour AKALPATI” di Singaraja

Rizki Pratama dan “Perubahan Diri”  pada Acara “Suar Suara: Road Tour AKALPATI" di Singaraja

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins
Esai

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

Ingatan yang Menjadi Wacana Batin Gagasan tentang Krishna dan Siddharta yang muncul dari ingatan terhadap wacana maupun tulisan Guruji Anand...

by Agung Sudarsa
April 24, 2026
Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”
Pop

Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

“Untuk saat ini, single-single saja dulu, sama seperti status saya,” ujar Tika Pagraky sambil tertawa, memecah suasana sore itu. Kalimat...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah
Khas

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co