4 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Generasi X: Kurator Nilai di Tengah Badai AI

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
June 23, 2025
in Esai
Refleksi Semangat Juang Bung Tomo dan Kepemimpinan Masa Kini

Petrus Imam Prawoto Jati

PEMBACA yang budiman, ada kabar baik. Atau kabar buruk, entahlah. Sekarang kita bisa membuat video yang sangat realistis hanya dengan mengetik prompt. Bisa juga bikin foto keluarga dengan upload foto anggota keluarga kita, tinggal mengetik prompt untuk background, lighting, suasana, kemudian di swap biar persis. Ga usah ke studio. Bahkan ada yang menjanjikan analisa pasar saham dengan tool AI, dan kita tinggal tiduran saja. Atau jika butuh teman, asisten rumah tangga, pelayan toko yang cantik,  maka tersedia Sophia, Geminoid HI-4, Erica yang sudah bisa menjanjikan itu.

Banyak sekali kemajuan yang kita alami, yang inilah atau yang itulah. Saya menyebutnya tetek bengek teknologi. Nah, di tengah gegap gempita revolusi kecerdasan buatan, kita sering terlalu sibuk menatap masa depan. Kita jadi lupa melihat siapa yang berdiri di tengah, generasi X. Generasi X adalah mereka yang lahir antara tahun 1965 hingga 1980,  berada di antara Baby Boomers dan Millennials.

Kali ini, saya kok ingin mengajak para pembaca yang budiman untuk menengok sejenak ke arah mereka. Mereka bukan digital native, tapi juga bukan imigran digital yang canggung. Mereka adalah jembatan yang hidup, antara dunia yang lambat dan dunia yang serba cepat, antara masa lalu yang penuh analog dan masa depan yang didesain algoritma. Dan hari ini, saat boneka android bisa berempati, dan AI mampu menulis puisi patah hati, generasi ini bukan hanya relevan. Mereka sangat dibutuhkan.

Mereka yang Pernah Hidup Tanpa Sinyal

Generasi X, tumbuh dalam dunia yang  penuh dengan perubahan. Mereka merasakan memutar kaset dengan bolpoin dan pensil, lalu digantikan CD, lalu MP3, lalu Spotify. Mereka pernah mengirim surat cinta dengan perangko, sebelum akhirnya menjadi pengguna awal email dan chatroom klasik macam mIRC, “asl pls”. Di antara pembaca yang budiman ada yang masih ingat, kan?  Mereka belajar mengetik di mesin tik, sebelum akhirnya mengedit dokumen di Google Docs.

Mereka tahu rasanya menunggu hasil cuci foto seminggu penuh dan kecewa karena sebagian terbakar, belajar dari buku dan ensiklopedia, bukan dari YouTube, menelepon pacar pakai telepon rumah sambil deg-degan saat ditanya orangtuanya. Mereka punya sesuatu yang generasi digital native tidak miliki, yaitu ingatan emosional tentang dunia sebelum internet.

Dan justru dari ingatan inilah mereka bisa mengenali apa yang hilang di tengah kemajuan. Keheningan, kesabaran, keterhubungan yang tulus. Ingatan itu bukan  sekadar nostalgia; ia adalah kompas moral yang bisa menuntun kita melewati dunia yang makin dingin dan tergesa-gesa. Di zaman ini, ketika semua hal bisa disimulasikan, mereka masih menyimpan rasa yang autentik. Dan itulah aset mereka.

Ketika Moralitas Tak Lagi Mengikuti Kecepatan Teknologi

Kita hidup di zaman ketika AI bisa meniru suara manusia, menulis naskah film, bahkan mengambil keputusan medis. Tapi satu hal yang tidak bisa diakselerasi secepat itu adalah moralitas. Nilai-nilai etika tidak bisa di-download atau di-update versi 2.0 begitu saja. Filsuf teknologi seperti Hans Jonas dalam The Imperative of Responsibility sudah mengingatkan sejak 1979, semakin besar kekuatan teknologi, semakin besar tanggung jawab etis yang menyertainya.

Masalahnya, dunia kita terlalu sibuk menciptakan teknologi, tapi lalai menciptakan kerangka moral untuk menampungnya. Padahal kita butuh etika baru yang mempertimbangkan dampak terhadap generasi mendatang dan keberlangsungan kehidupan. Di sinilah Generasi X tampil bukan sebagai pembuat kode, tapi sebagai penyaring atau filter nilai.

Kurator dan Editor Nilai

Apa yang membuat Generasi X istimewa dalam menghadapi era ini? Mereka adalah kurator nilai, bukan seperti penjaga museum yang kolot, tapi editor yang cermat memilih mana nilai yang bisa dibawa ke masa depan, dan mana yang harus ditinggalkan. Mereka bisa bilang, “Kita boleh hidup berdampingan dengan robot, tapi jangan sampai kita jadi seperti mereka.”

Generasi X punya keseimbangan antara nalar dan rasa. Mereka tidak menolak AI, tapi juga tidak menyerah total pada otomatisasi. Mereka bisa mengajukan pertanyaan-pertanyaan penting yang kadang luput di era serba praktis ini. Jika anak belajar dari ChatGPT, siapa yang mengajarinya empati? Jika robot perawat bisa tersenyum, apakah ia benar-benar peduli? Jika semua hal bisa diprediksi oleh algoritma, di mana tempatnya kehendak bebas manusia? Pertanyaan-pertanyaan seperti ini penting bukan untuk menghambat teknologi, tapi memblokir efek negatifnya, untuk menyelamatkan sisi manusia kita.

Banyak dari Generasi X kini memegang peran sebagai orang tua, guru, bahkan kakek-nenek. Mereka mengasuh generasi Z dan Alpha, anak-anak yang tidak pernah hidup tanpa layar, sinyal, dan sistem notifikasi. Mereka bisa menjadi narator moral bagi generasi muda. Bukan dengan ceramah panjang, tapi lewat keteladanan dan penghayatan yang mereka miliki.

Gen X mengajarkan pentingnya tatap muka, bukan dicukupkan oleh video call. Mengingatkan bahwa kesabaran tak bisa dilewatkan dengan fast forward, dan menunjukkan bahwa tidak semua masalah dalam hubungan bisa ditangani dengan tombol mute atau block. Dalam dunia yang makin mekanistik, kehadiran mereka menjadi jangkar eksistensial. Mengingatkan kita bahwa hidup bukan hanya tentang efisiensi, kuota, dan produktivitas, tapi juga pengalaman.

Generasi X, “Orang Tua” Peradaban Digital

Mari kita akui bahwa dunia memang sedang bergerak terlalu cepat. Sementara algoritma memprediksi segala hal dalam kehidupan manusia modern, generasi X tahu caranya hidup tanpa bisa memprediksi apa pun. Mereka belajar sabar, bukan karena aplikasi mindfulness dari Play Store atauApp Store, tapi karena mereka pernah hidup di jaman yang menuntut hal itu. Aplikasi yang sudah terinstal dalam jiwa mereka secara alami. Dan itulah mengapa mereka penting.

Mereka bukan sekadar saksi sejarah. Mereka adalah pelaku, penjaga, dan penerjemah nilai, dari dunia lama ke dunia baru. Mereka tahu bahwa moralitas tidak muncul dari barcode, melainkan dari pengalaman, empati, dan refleksi.

Dalam era pasca-manusia yang digelisahkan oleh para pemikir futuristik seperti Yuval Noah Harari, ketika manusia dan mesin mulai kabur batasnya, ketika AI bisa unggul dalam pengambilan keputusan tanpa merasa, ketika kesadaran mungkin akan dikalahkan oleh kecerdasan. Di sini generasi X berdiri sebagai orang tua, untuk senantiasa mengingatkan,  bahwa menjadi manusia bukan soal kemampuan berpikir, tapi kemampuan merasakan.

Maka, Jangan Abaikan Generasi X

Di tengah euforia digitalisasi total, kita tidak bisa meninggalkan mereka. Justru, keterlibatan mereka sangat penting. Mereka punya kapasitas sebagai mentor etika digital, sehingga pas rasanya jika mengundang mereka ke forum-forum kebijakan AI.  Beri ruang bagi mereka menjadi pendidik dan penulis masa depan. Karena tanpa generasi X ini, kita mungkin akan menciptakan masa depan yang canggih, tapi dingin. Tanpa rasa. Tanpa jiwa.

Dan manusia tanpa jiwa dan rasa, hanyalah makhluk hidup yang hilir mudik dengan kulit daging, beban peradaban baru yang pantas disingkirkan karena kalah efisien dengan robot AI. Akhir kata, generasi X bukan generasi transisi. Mereka adalah generasi transformasi. Dan di tengah zaman ketika semua hal bisa dipalsukan dengan ketikan prompt yang tepat, mereka mungkin adalah hal paling autentik yang tersisa. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis PETRUS IMAM PRAWOTO JATI

“Manusia Tikus”, Gen Z yang Terjebak di Kolong Kasur
Komunikasi Egaliter di Era Predator Citra
Deepfake Porno, Pemerkosaan Simbolik, dan Kejatuhan Etika Digital Kita
AI dan Seni, Karya Dialogis yang Sarat Ancaman?
Tags: AIArtificial Intelligencegenerasi X
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kesenian sebagai Proses Reintegrasi Para Warga Lapas Singaraja di Panggung RTH Taman Bung Karno

Next Post

UKM Upakara di Institut Mpu Kuturan Singaraja, Praktik “Desa Adat” di Kampus Hindu

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
June 4, 2026
0
Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

DI tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang berlangsung begitu cepat, generasi muda Bali menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Mereka...

Read moreDetails

Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

by Angga Wijaya
June 4, 2026
0
Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

SIANG hari beberapa waktu lalu saat pulang kampung, saya membuka sebuah kotak lama berisi tumpukan surat. Kertas-kertas itu mulai menguning....

Read moreDetails

Pertemuan William James dan Vivekananda

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
0
Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

Read moreDetails

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

by Eril Paizi
June 2, 2026
0
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

Read moreDetails

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

by Early NHS
June 2, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

Read moreDetails

(Tidak Ada) Literasi Digital

by I Wayan Artika
June 2, 2026
0
(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

Read moreDetails

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
0
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

Read moreDetails

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails
Next Post
UKM Upakara di Institut Mpu Kuturan Singaraja, Praktik “Desa Adat” di Kampus Hindu

UKM Upakara di Institut Mpu Kuturan Singaraja, Praktik "Desa Adat" di Kampus Hindu

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat
Panggung

‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat

SOROT lampu panggung perlahan menghangatkan Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, Sabtu malam, 30 Mei 2026. Setelah denting gamelan...

by Dede Putra Wiguna
June 4, 2026
Cukup Telulas?
Bahasa

Cukup Telulas?

BISA jadi telanjur terbentuk stigma tiga belas identik dengan celaka, sial, dan segala bentuk ketidakberuntungan maka sangat penting diupayakan menghindari...

by Komang Berata
June 4, 2026
Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin
Esai

Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

DI tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang berlangsung begitu cepat, generasi muda Bali menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Mereka...

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
June 4, 2026
Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?
Esai

Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

SIANG hari beberapa waktu lalu saat pulang kampung, saya membuka sebuah kotak lama berisi tumpukan surat. Kertas-kertas itu mulai menguning....

by Angga Wijaya
June 4, 2026
Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten
Tualang

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa
Bahasa

Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa

DOKTER Gia Pratama (dr. Gia) —seorang dokter dan penulis yang aktif di media sosial untuk mengedukasi masyarakat dalam dunia kesehatan—pernah...

by I Made Sudiana
June 3, 2026
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah
Khas

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral
Panggung

Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral

SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng....

by Komang Sujana
June 3, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan
Panggung

‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif
Panggung

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Pertemuan William James dan Vivekananda
Esai

Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

by Agung Sudarsa
June 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co