4 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Generasi X: Kurator Nilai di Tengah Badai AI

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
June 23, 2025
in Esai
Refleksi Semangat Juang Bung Tomo dan Kepemimpinan Masa Kini

Petrus Imam Prawoto Jati

PEMBACA yang budiman, ada kabar baik. Atau kabar buruk, entahlah. Sekarang kita bisa membuat video yang sangat realistis hanya dengan mengetik prompt. Bisa juga bikin foto keluarga dengan upload foto anggota keluarga kita, tinggal mengetik prompt untuk background, lighting, suasana, kemudian di swap biar persis. Ga usah ke studio. Bahkan ada yang menjanjikan analisa pasar saham dengan tool AI, dan kita tinggal tiduran saja. Atau jika butuh teman, asisten rumah tangga, pelayan toko yang cantik,  maka tersedia Sophia, Geminoid HI-4, Erica yang sudah bisa menjanjikan itu.

Banyak sekali kemajuan yang kita alami, yang inilah atau yang itulah. Saya menyebutnya tetek bengek teknologi. Nah, di tengah gegap gempita revolusi kecerdasan buatan, kita sering terlalu sibuk menatap masa depan. Kita jadi lupa melihat siapa yang berdiri di tengah, generasi X. Generasi X adalah mereka yang lahir antara tahun 1965 hingga 1980,  berada di antara Baby Boomers dan Millennials.

Kali ini, saya kok ingin mengajak para pembaca yang budiman untuk menengok sejenak ke arah mereka. Mereka bukan digital native, tapi juga bukan imigran digital yang canggung. Mereka adalah jembatan yang hidup, antara dunia yang lambat dan dunia yang serba cepat, antara masa lalu yang penuh analog dan masa depan yang didesain algoritma. Dan hari ini, saat boneka android bisa berempati, dan AI mampu menulis puisi patah hati, generasi ini bukan hanya relevan. Mereka sangat dibutuhkan.

Mereka yang Pernah Hidup Tanpa Sinyal

Generasi X, tumbuh dalam dunia yang  penuh dengan perubahan. Mereka merasakan memutar kaset dengan bolpoin dan pensil, lalu digantikan CD, lalu MP3, lalu Spotify. Mereka pernah mengirim surat cinta dengan perangko, sebelum akhirnya menjadi pengguna awal email dan chatroom klasik macam mIRC, “asl pls”. Di antara pembaca yang budiman ada yang masih ingat, kan?  Mereka belajar mengetik di mesin tik, sebelum akhirnya mengedit dokumen di Google Docs.

Mereka tahu rasanya menunggu hasil cuci foto seminggu penuh dan kecewa karena sebagian terbakar, belajar dari buku dan ensiklopedia, bukan dari YouTube, menelepon pacar pakai telepon rumah sambil deg-degan saat ditanya orangtuanya. Mereka punya sesuatu yang generasi digital native tidak miliki, yaitu ingatan emosional tentang dunia sebelum internet.

Dan justru dari ingatan inilah mereka bisa mengenali apa yang hilang di tengah kemajuan. Keheningan, kesabaran, keterhubungan yang tulus. Ingatan itu bukan  sekadar nostalgia; ia adalah kompas moral yang bisa menuntun kita melewati dunia yang makin dingin dan tergesa-gesa. Di zaman ini, ketika semua hal bisa disimulasikan, mereka masih menyimpan rasa yang autentik. Dan itulah aset mereka.

Ketika Moralitas Tak Lagi Mengikuti Kecepatan Teknologi

Kita hidup di zaman ketika AI bisa meniru suara manusia, menulis naskah film, bahkan mengambil keputusan medis. Tapi satu hal yang tidak bisa diakselerasi secepat itu adalah moralitas. Nilai-nilai etika tidak bisa di-download atau di-update versi 2.0 begitu saja. Filsuf teknologi seperti Hans Jonas dalam The Imperative of Responsibility sudah mengingatkan sejak 1979, semakin besar kekuatan teknologi, semakin besar tanggung jawab etis yang menyertainya.

Masalahnya, dunia kita terlalu sibuk menciptakan teknologi, tapi lalai menciptakan kerangka moral untuk menampungnya. Padahal kita butuh etika baru yang mempertimbangkan dampak terhadap generasi mendatang dan keberlangsungan kehidupan. Di sinilah Generasi X tampil bukan sebagai pembuat kode, tapi sebagai penyaring atau filter nilai.

Kurator dan Editor Nilai

Apa yang membuat Generasi X istimewa dalam menghadapi era ini? Mereka adalah kurator nilai, bukan seperti penjaga museum yang kolot, tapi editor yang cermat memilih mana nilai yang bisa dibawa ke masa depan, dan mana yang harus ditinggalkan. Mereka bisa bilang, “Kita boleh hidup berdampingan dengan robot, tapi jangan sampai kita jadi seperti mereka.”

Generasi X punya keseimbangan antara nalar dan rasa. Mereka tidak menolak AI, tapi juga tidak menyerah total pada otomatisasi. Mereka bisa mengajukan pertanyaan-pertanyaan penting yang kadang luput di era serba praktis ini. Jika anak belajar dari ChatGPT, siapa yang mengajarinya empati? Jika robot perawat bisa tersenyum, apakah ia benar-benar peduli? Jika semua hal bisa diprediksi oleh algoritma, di mana tempatnya kehendak bebas manusia? Pertanyaan-pertanyaan seperti ini penting bukan untuk menghambat teknologi, tapi memblokir efek negatifnya, untuk menyelamatkan sisi manusia kita.

Banyak dari Generasi X kini memegang peran sebagai orang tua, guru, bahkan kakek-nenek. Mereka mengasuh generasi Z dan Alpha, anak-anak yang tidak pernah hidup tanpa layar, sinyal, dan sistem notifikasi. Mereka bisa menjadi narator moral bagi generasi muda. Bukan dengan ceramah panjang, tapi lewat keteladanan dan penghayatan yang mereka miliki.

Gen X mengajarkan pentingnya tatap muka, bukan dicukupkan oleh video call. Mengingatkan bahwa kesabaran tak bisa dilewatkan dengan fast forward, dan menunjukkan bahwa tidak semua masalah dalam hubungan bisa ditangani dengan tombol mute atau block. Dalam dunia yang makin mekanistik, kehadiran mereka menjadi jangkar eksistensial. Mengingatkan kita bahwa hidup bukan hanya tentang efisiensi, kuota, dan produktivitas, tapi juga pengalaman.

Generasi X, “Orang Tua” Peradaban Digital

Mari kita akui bahwa dunia memang sedang bergerak terlalu cepat. Sementara algoritma memprediksi segala hal dalam kehidupan manusia modern, generasi X tahu caranya hidup tanpa bisa memprediksi apa pun. Mereka belajar sabar, bukan karena aplikasi mindfulness dari Play Store atauApp Store, tapi karena mereka pernah hidup di jaman yang menuntut hal itu. Aplikasi yang sudah terinstal dalam jiwa mereka secara alami. Dan itulah mengapa mereka penting.

Mereka bukan sekadar saksi sejarah. Mereka adalah pelaku, penjaga, dan penerjemah nilai, dari dunia lama ke dunia baru. Mereka tahu bahwa moralitas tidak muncul dari barcode, melainkan dari pengalaman, empati, dan refleksi.

Dalam era pasca-manusia yang digelisahkan oleh para pemikir futuristik seperti Yuval Noah Harari, ketika manusia dan mesin mulai kabur batasnya, ketika AI bisa unggul dalam pengambilan keputusan tanpa merasa, ketika kesadaran mungkin akan dikalahkan oleh kecerdasan. Di sini generasi X berdiri sebagai orang tua, untuk senantiasa mengingatkan,  bahwa menjadi manusia bukan soal kemampuan berpikir, tapi kemampuan merasakan.

Maka, Jangan Abaikan Generasi X

Di tengah euforia digitalisasi total, kita tidak bisa meninggalkan mereka. Justru, keterlibatan mereka sangat penting. Mereka punya kapasitas sebagai mentor etika digital, sehingga pas rasanya jika mengundang mereka ke forum-forum kebijakan AI.  Beri ruang bagi mereka menjadi pendidik dan penulis masa depan. Karena tanpa generasi X ini, kita mungkin akan menciptakan masa depan yang canggih, tapi dingin. Tanpa rasa. Tanpa jiwa.

Dan manusia tanpa jiwa dan rasa, hanyalah makhluk hidup yang hilir mudik dengan kulit daging, beban peradaban baru yang pantas disingkirkan karena kalah efisien dengan robot AI. Akhir kata, generasi X bukan generasi transisi. Mereka adalah generasi transformasi. Dan di tengah zaman ketika semua hal bisa dipalsukan dengan ketikan prompt yang tepat, mereka mungkin adalah hal paling autentik yang tersisa. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis PETRUS IMAM PRAWOTO JATI

“Manusia Tikus”, Gen Z yang Terjebak di Kolong Kasur
Komunikasi Egaliter di Era Predator Citra
Deepfake Porno, Pemerkosaan Simbolik, dan Kejatuhan Etika Digital Kita
AI dan Seni, Karya Dialogis yang Sarat Ancaman?
Tags: AIArtificial Intelligencegenerasi X
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kesenian sebagai Proses Reintegrasi Para Warga Lapas Singaraja di Panggung RTH Taman Bung Karno

Next Post

UKM Upakara di Institut Mpu Kuturan Singaraja, Praktik “Desa Adat” di Kampus Hindu

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Presiden di Dalam Kepala Saya

by Angga Wijaya
August 3, 2026
0
Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

Read moreDetails

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

by Chusmeru
August 3, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

Read moreDetails

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails
Next Post
UKM Upakara di Institut Mpu Kuturan Singaraja, Praktik “Desa Adat” di Kampus Hindu

UKM Upakara di Institut Mpu Kuturan Singaraja, Praktik "Desa Adat" di Kampus Hindu

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd
Ulas Buku

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

by IRZI
August 3, 2026
Presiden di Dalam Kepala Saya
Esai

Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

by Angga Wijaya
August 3, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

by Chusmeru
August 3, 2026
Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co