25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Generasi X: Kurator Nilai di Tengah Badai AI

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
June 23, 2025
in Esai
Refleksi Semangat Juang Bung Tomo dan Kepemimpinan Masa Kini

Petrus Imam Prawoto Jati

PEMBACA yang budiman, ada kabar baik. Atau kabar buruk, entahlah. Sekarang kita bisa membuat video yang sangat realistis hanya dengan mengetik prompt. Bisa juga bikin foto keluarga dengan upload foto anggota keluarga kita, tinggal mengetik prompt untuk background, lighting, suasana, kemudian di swap biar persis. Ga usah ke studio. Bahkan ada yang menjanjikan analisa pasar saham dengan tool AI, dan kita tinggal tiduran saja. Atau jika butuh teman, asisten rumah tangga, pelayan toko yang cantik,  maka tersedia Sophia, Geminoid HI-4, Erica yang sudah bisa menjanjikan itu.

Banyak sekali kemajuan yang kita alami, yang inilah atau yang itulah. Saya menyebutnya tetek bengek teknologi. Nah, di tengah gegap gempita revolusi kecerdasan buatan, kita sering terlalu sibuk menatap masa depan. Kita jadi lupa melihat siapa yang berdiri di tengah, generasi X. Generasi X adalah mereka yang lahir antara tahun 1965 hingga 1980,  berada di antara Baby Boomers dan Millennials.

Kali ini, saya kok ingin mengajak para pembaca yang budiman untuk menengok sejenak ke arah mereka. Mereka bukan digital native, tapi juga bukan imigran digital yang canggung. Mereka adalah jembatan yang hidup, antara dunia yang lambat dan dunia yang serba cepat, antara masa lalu yang penuh analog dan masa depan yang didesain algoritma. Dan hari ini, saat boneka android bisa berempati, dan AI mampu menulis puisi patah hati, generasi ini bukan hanya relevan. Mereka sangat dibutuhkan.

Mereka yang Pernah Hidup Tanpa Sinyal

Generasi X, tumbuh dalam dunia yang  penuh dengan perubahan. Mereka merasakan memutar kaset dengan bolpoin dan pensil, lalu digantikan CD, lalu MP3, lalu Spotify. Mereka pernah mengirim surat cinta dengan perangko, sebelum akhirnya menjadi pengguna awal email dan chatroom klasik macam mIRC, “asl pls”. Di antara pembaca yang budiman ada yang masih ingat, kan?  Mereka belajar mengetik di mesin tik, sebelum akhirnya mengedit dokumen di Google Docs.

Mereka tahu rasanya menunggu hasil cuci foto seminggu penuh dan kecewa karena sebagian terbakar, belajar dari buku dan ensiklopedia, bukan dari YouTube, menelepon pacar pakai telepon rumah sambil deg-degan saat ditanya orangtuanya. Mereka punya sesuatu yang generasi digital native tidak miliki, yaitu ingatan emosional tentang dunia sebelum internet.

Dan justru dari ingatan inilah mereka bisa mengenali apa yang hilang di tengah kemajuan. Keheningan, kesabaran, keterhubungan yang tulus. Ingatan itu bukan  sekadar nostalgia; ia adalah kompas moral yang bisa menuntun kita melewati dunia yang makin dingin dan tergesa-gesa. Di zaman ini, ketika semua hal bisa disimulasikan, mereka masih menyimpan rasa yang autentik. Dan itulah aset mereka.

Ketika Moralitas Tak Lagi Mengikuti Kecepatan Teknologi

Kita hidup di zaman ketika AI bisa meniru suara manusia, menulis naskah film, bahkan mengambil keputusan medis. Tapi satu hal yang tidak bisa diakselerasi secepat itu adalah moralitas. Nilai-nilai etika tidak bisa di-download atau di-update versi 2.0 begitu saja. Filsuf teknologi seperti Hans Jonas dalam The Imperative of Responsibility sudah mengingatkan sejak 1979, semakin besar kekuatan teknologi, semakin besar tanggung jawab etis yang menyertainya.

Masalahnya, dunia kita terlalu sibuk menciptakan teknologi, tapi lalai menciptakan kerangka moral untuk menampungnya. Padahal kita butuh etika baru yang mempertimbangkan dampak terhadap generasi mendatang dan keberlangsungan kehidupan. Di sinilah Generasi X tampil bukan sebagai pembuat kode, tapi sebagai penyaring atau filter nilai.

Kurator dan Editor Nilai

Apa yang membuat Generasi X istimewa dalam menghadapi era ini? Mereka adalah kurator nilai, bukan seperti penjaga museum yang kolot, tapi editor yang cermat memilih mana nilai yang bisa dibawa ke masa depan, dan mana yang harus ditinggalkan. Mereka bisa bilang, “Kita boleh hidup berdampingan dengan robot, tapi jangan sampai kita jadi seperti mereka.”

Generasi X punya keseimbangan antara nalar dan rasa. Mereka tidak menolak AI, tapi juga tidak menyerah total pada otomatisasi. Mereka bisa mengajukan pertanyaan-pertanyaan penting yang kadang luput di era serba praktis ini. Jika anak belajar dari ChatGPT, siapa yang mengajarinya empati? Jika robot perawat bisa tersenyum, apakah ia benar-benar peduli? Jika semua hal bisa diprediksi oleh algoritma, di mana tempatnya kehendak bebas manusia? Pertanyaan-pertanyaan seperti ini penting bukan untuk menghambat teknologi, tapi memblokir efek negatifnya, untuk menyelamatkan sisi manusia kita.

Banyak dari Generasi X kini memegang peran sebagai orang tua, guru, bahkan kakek-nenek. Mereka mengasuh generasi Z dan Alpha, anak-anak yang tidak pernah hidup tanpa layar, sinyal, dan sistem notifikasi. Mereka bisa menjadi narator moral bagi generasi muda. Bukan dengan ceramah panjang, tapi lewat keteladanan dan penghayatan yang mereka miliki.

Gen X mengajarkan pentingnya tatap muka, bukan dicukupkan oleh video call. Mengingatkan bahwa kesabaran tak bisa dilewatkan dengan fast forward, dan menunjukkan bahwa tidak semua masalah dalam hubungan bisa ditangani dengan tombol mute atau block. Dalam dunia yang makin mekanistik, kehadiran mereka menjadi jangkar eksistensial. Mengingatkan kita bahwa hidup bukan hanya tentang efisiensi, kuota, dan produktivitas, tapi juga pengalaman.

Generasi X, “Orang Tua” Peradaban Digital

Mari kita akui bahwa dunia memang sedang bergerak terlalu cepat. Sementara algoritma memprediksi segala hal dalam kehidupan manusia modern, generasi X tahu caranya hidup tanpa bisa memprediksi apa pun. Mereka belajar sabar, bukan karena aplikasi mindfulness dari Play Store atauApp Store, tapi karena mereka pernah hidup di jaman yang menuntut hal itu. Aplikasi yang sudah terinstal dalam jiwa mereka secara alami. Dan itulah mengapa mereka penting.

Mereka bukan sekadar saksi sejarah. Mereka adalah pelaku, penjaga, dan penerjemah nilai, dari dunia lama ke dunia baru. Mereka tahu bahwa moralitas tidak muncul dari barcode, melainkan dari pengalaman, empati, dan refleksi.

Dalam era pasca-manusia yang digelisahkan oleh para pemikir futuristik seperti Yuval Noah Harari, ketika manusia dan mesin mulai kabur batasnya, ketika AI bisa unggul dalam pengambilan keputusan tanpa merasa, ketika kesadaran mungkin akan dikalahkan oleh kecerdasan. Di sini generasi X berdiri sebagai orang tua, untuk senantiasa mengingatkan,  bahwa menjadi manusia bukan soal kemampuan berpikir, tapi kemampuan merasakan.

Maka, Jangan Abaikan Generasi X

Di tengah euforia digitalisasi total, kita tidak bisa meninggalkan mereka. Justru, keterlibatan mereka sangat penting. Mereka punya kapasitas sebagai mentor etika digital, sehingga pas rasanya jika mengundang mereka ke forum-forum kebijakan AI.  Beri ruang bagi mereka menjadi pendidik dan penulis masa depan. Karena tanpa generasi X ini, kita mungkin akan menciptakan masa depan yang canggih, tapi dingin. Tanpa rasa. Tanpa jiwa.

Dan manusia tanpa jiwa dan rasa, hanyalah makhluk hidup yang hilir mudik dengan kulit daging, beban peradaban baru yang pantas disingkirkan karena kalah efisien dengan robot AI. Akhir kata, generasi X bukan generasi transisi. Mereka adalah generasi transformasi. Dan di tengah zaman ketika semua hal bisa dipalsukan dengan ketikan prompt yang tepat, mereka mungkin adalah hal paling autentik yang tersisa. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis PETRUS IMAM PRAWOTO JATI

“Manusia Tikus”, Gen Z yang Terjebak di Kolong Kasur
Komunikasi Egaliter di Era Predator Citra
Deepfake Porno, Pemerkosaan Simbolik, dan Kejatuhan Etika Digital Kita
AI dan Seni, Karya Dialogis yang Sarat Ancaman?
Tags: AIArtificial Intelligencegenerasi X
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kesenian sebagai Proses Reintegrasi Para Warga Lapas Singaraja di Panggung RTH Taman Bung Karno

Next Post

UKM Upakara di Institut Mpu Kuturan Singaraja, Praktik “Desa Adat” di Kampus Hindu

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
UKM Upakara di Institut Mpu Kuturan Singaraja, Praktik “Desa Adat” di Kampus Hindu

UKM Upakara di Institut Mpu Kuturan Singaraja, Praktik "Desa Adat" di Kampus Hindu

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co