4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Generasi X: Kurator Nilai di Tengah Badai AI

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
June 23, 2025
in Esai
Refleksi Semangat Juang Bung Tomo dan Kepemimpinan Masa Kini

Petrus Imam Prawoto Jati

PEMBACA yang budiman, ada kabar baik. Atau kabar buruk, entahlah. Sekarang kita bisa membuat video yang sangat realistis hanya dengan mengetik prompt. Bisa juga bikin foto keluarga dengan upload foto anggota keluarga kita, tinggal mengetik prompt untuk background, lighting, suasana, kemudian di swap biar persis. Ga usah ke studio. Bahkan ada yang menjanjikan analisa pasar saham dengan tool AI, dan kita tinggal tiduran saja. Atau jika butuh teman, asisten rumah tangga, pelayan toko yang cantik,  maka tersedia Sophia, Geminoid HI-4, Erica yang sudah bisa menjanjikan itu.

Banyak sekali kemajuan yang kita alami, yang inilah atau yang itulah. Saya menyebutnya tetek bengek teknologi. Nah, di tengah gegap gempita revolusi kecerdasan buatan, kita sering terlalu sibuk menatap masa depan. Kita jadi lupa melihat siapa yang berdiri di tengah, generasi X. Generasi X adalah mereka yang lahir antara tahun 1965 hingga 1980,  berada di antara Baby Boomers dan Millennials.

Kali ini, saya kok ingin mengajak para pembaca yang budiman untuk menengok sejenak ke arah mereka. Mereka bukan digital native, tapi juga bukan imigran digital yang canggung. Mereka adalah jembatan yang hidup, antara dunia yang lambat dan dunia yang serba cepat, antara masa lalu yang penuh analog dan masa depan yang didesain algoritma. Dan hari ini, saat boneka android bisa berempati, dan AI mampu menulis puisi patah hati, generasi ini bukan hanya relevan. Mereka sangat dibutuhkan.

Mereka yang Pernah Hidup Tanpa Sinyal

Generasi X, tumbuh dalam dunia yang  penuh dengan perubahan. Mereka merasakan memutar kaset dengan bolpoin dan pensil, lalu digantikan CD, lalu MP3, lalu Spotify. Mereka pernah mengirim surat cinta dengan perangko, sebelum akhirnya menjadi pengguna awal email dan chatroom klasik macam mIRC, “asl pls”. Di antara pembaca yang budiman ada yang masih ingat, kan?  Mereka belajar mengetik di mesin tik, sebelum akhirnya mengedit dokumen di Google Docs.

Mereka tahu rasanya menunggu hasil cuci foto seminggu penuh dan kecewa karena sebagian terbakar, belajar dari buku dan ensiklopedia, bukan dari YouTube, menelepon pacar pakai telepon rumah sambil deg-degan saat ditanya orangtuanya. Mereka punya sesuatu yang generasi digital native tidak miliki, yaitu ingatan emosional tentang dunia sebelum internet.

Dan justru dari ingatan inilah mereka bisa mengenali apa yang hilang di tengah kemajuan. Keheningan, kesabaran, keterhubungan yang tulus. Ingatan itu bukan  sekadar nostalgia; ia adalah kompas moral yang bisa menuntun kita melewati dunia yang makin dingin dan tergesa-gesa. Di zaman ini, ketika semua hal bisa disimulasikan, mereka masih menyimpan rasa yang autentik. Dan itulah aset mereka.

Ketika Moralitas Tak Lagi Mengikuti Kecepatan Teknologi

Kita hidup di zaman ketika AI bisa meniru suara manusia, menulis naskah film, bahkan mengambil keputusan medis. Tapi satu hal yang tidak bisa diakselerasi secepat itu adalah moralitas. Nilai-nilai etika tidak bisa di-download atau di-update versi 2.0 begitu saja. Filsuf teknologi seperti Hans Jonas dalam The Imperative of Responsibility sudah mengingatkan sejak 1979, semakin besar kekuatan teknologi, semakin besar tanggung jawab etis yang menyertainya.

Masalahnya, dunia kita terlalu sibuk menciptakan teknologi, tapi lalai menciptakan kerangka moral untuk menampungnya. Padahal kita butuh etika baru yang mempertimbangkan dampak terhadap generasi mendatang dan keberlangsungan kehidupan. Di sinilah Generasi X tampil bukan sebagai pembuat kode, tapi sebagai penyaring atau filter nilai.

Kurator dan Editor Nilai

Apa yang membuat Generasi X istimewa dalam menghadapi era ini? Mereka adalah kurator nilai, bukan seperti penjaga museum yang kolot, tapi editor yang cermat memilih mana nilai yang bisa dibawa ke masa depan, dan mana yang harus ditinggalkan. Mereka bisa bilang, “Kita boleh hidup berdampingan dengan robot, tapi jangan sampai kita jadi seperti mereka.”

Generasi X punya keseimbangan antara nalar dan rasa. Mereka tidak menolak AI, tapi juga tidak menyerah total pada otomatisasi. Mereka bisa mengajukan pertanyaan-pertanyaan penting yang kadang luput di era serba praktis ini. Jika anak belajar dari ChatGPT, siapa yang mengajarinya empati? Jika robot perawat bisa tersenyum, apakah ia benar-benar peduli? Jika semua hal bisa diprediksi oleh algoritma, di mana tempatnya kehendak bebas manusia? Pertanyaan-pertanyaan seperti ini penting bukan untuk menghambat teknologi, tapi memblokir efek negatifnya, untuk menyelamatkan sisi manusia kita.

Banyak dari Generasi X kini memegang peran sebagai orang tua, guru, bahkan kakek-nenek. Mereka mengasuh generasi Z dan Alpha, anak-anak yang tidak pernah hidup tanpa layar, sinyal, dan sistem notifikasi. Mereka bisa menjadi narator moral bagi generasi muda. Bukan dengan ceramah panjang, tapi lewat keteladanan dan penghayatan yang mereka miliki.

Gen X mengajarkan pentingnya tatap muka, bukan dicukupkan oleh video call. Mengingatkan bahwa kesabaran tak bisa dilewatkan dengan fast forward, dan menunjukkan bahwa tidak semua masalah dalam hubungan bisa ditangani dengan tombol mute atau block. Dalam dunia yang makin mekanistik, kehadiran mereka menjadi jangkar eksistensial. Mengingatkan kita bahwa hidup bukan hanya tentang efisiensi, kuota, dan produktivitas, tapi juga pengalaman.

Generasi X, “Orang Tua” Peradaban Digital

Mari kita akui bahwa dunia memang sedang bergerak terlalu cepat. Sementara algoritma memprediksi segala hal dalam kehidupan manusia modern, generasi X tahu caranya hidup tanpa bisa memprediksi apa pun. Mereka belajar sabar, bukan karena aplikasi mindfulness dari Play Store atauApp Store, tapi karena mereka pernah hidup di jaman yang menuntut hal itu. Aplikasi yang sudah terinstal dalam jiwa mereka secara alami. Dan itulah mengapa mereka penting.

Mereka bukan sekadar saksi sejarah. Mereka adalah pelaku, penjaga, dan penerjemah nilai, dari dunia lama ke dunia baru. Mereka tahu bahwa moralitas tidak muncul dari barcode, melainkan dari pengalaman, empati, dan refleksi.

Dalam era pasca-manusia yang digelisahkan oleh para pemikir futuristik seperti Yuval Noah Harari, ketika manusia dan mesin mulai kabur batasnya, ketika AI bisa unggul dalam pengambilan keputusan tanpa merasa, ketika kesadaran mungkin akan dikalahkan oleh kecerdasan. Di sini generasi X berdiri sebagai orang tua, untuk senantiasa mengingatkan,  bahwa menjadi manusia bukan soal kemampuan berpikir, tapi kemampuan merasakan.

Maka, Jangan Abaikan Generasi X

Di tengah euforia digitalisasi total, kita tidak bisa meninggalkan mereka. Justru, keterlibatan mereka sangat penting. Mereka punya kapasitas sebagai mentor etika digital, sehingga pas rasanya jika mengundang mereka ke forum-forum kebijakan AI.  Beri ruang bagi mereka menjadi pendidik dan penulis masa depan. Karena tanpa generasi X ini, kita mungkin akan menciptakan masa depan yang canggih, tapi dingin. Tanpa rasa. Tanpa jiwa.

Dan manusia tanpa jiwa dan rasa, hanyalah makhluk hidup yang hilir mudik dengan kulit daging, beban peradaban baru yang pantas disingkirkan karena kalah efisien dengan robot AI. Akhir kata, generasi X bukan generasi transisi. Mereka adalah generasi transformasi. Dan di tengah zaman ketika semua hal bisa dipalsukan dengan ketikan prompt yang tepat, mereka mungkin adalah hal paling autentik yang tersisa. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis PETRUS IMAM PRAWOTO JATI

“Manusia Tikus”, Gen Z yang Terjebak di Kolong Kasur
Komunikasi Egaliter di Era Predator Citra
Deepfake Porno, Pemerkosaan Simbolik, dan Kejatuhan Etika Digital Kita
AI dan Seni, Karya Dialogis yang Sarat Ancaman?
Tags: AIArtificial Intelligencegenerasi X
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kesenian sebagai Proses Reintegrasi Para Warga Lapas Singaraja di Panggung RTH Taman Bung Karno

Next Post

UKM Upakara di Institut Mpu Kuturan Singaraja, Praktik “Desa Adat” di Kampus Hindu

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails
Next Post
UKM Upakara di Institut Mpu Kuturan Singaraja, Praktik “Desa Adat” di Kampus Hindu

UKM Upakara di Institut Mpu Kuturan Singaraja, Praktik "Desa Adat" di Kampus Hindu

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Kuliner

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co