3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

UKM Upakara di Institut Mpu Kuturan Singaraja, Praktik “Desa Adat” di Kampus Hindu

Komang Puja Savitri by Komang Puja Savitri
June 23, 2025
in Khas
UKM Upakara di Institut Mpu Kuturan Singaraja, Praktik “Desa Adat” di Kampus Hindu

Kegiatan majejahitan mahasiswa UKM Upakara di IMK Singaraja, Bali | Foto: Edhit

KETIKA mendengar kata desa adat, bayangan banyak orang melayang pada hamparan wilayah geografis dengan pura, balai banjar, dan tatanan masyarakatnya. Namun, di Institut Mpu Kuturan (IMK) Singaraja, Bali, sebuah “desa adat” hidup tanpa terikat batas tanah. Inilah Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Upakara, sebuah kelompok yang menjelma menjadi kehidupan tradisi, spiritualitas, dan gotong royong, layaknya desa adat sesungguhnya.

Mereka tidak memiliki wilayah teritorial, namun semangat kebersamaan dan tanggung jawab dalam menjalankan swadharma keagamaan begitu kental terasa. Kehidupan mereka tak jauh dari mejejaitan, aroma dupa, dan lantunan doa yang mengaliri kampus berlabel agama ini.

Semua bermula pada 22 Oktober 2022. Saat itu kampus akan melangsungkan upacara ngenteg linggih, upacara besar yang secara spiritual meneguhkan stana Pura Agung Mpu Kuturan di kampus IMK (dulu STAHN Mpu Kuturan). Prosesi upacara itu memakan waktu sekitar dari 3 bulan. Kampus sempat berencana membeli banten (sarana upacara) ke tukang banten di Kubutambahan dengan harga lebih dari Rp 100 juta. Namun, ketua UKM Upakara waktu itu, Kadek Renaldi Saputra, mengajukan tawaran sederhana namun bernas.

”Kenapa harus beli banten kalau kita punya UKM Upakara?”

Dari titik itu, mahasiswa-mahasiswa yang tergabung di UKM Upakara bahu-membahu membuat banten sendiri. Dengan dana sekitar 80 juta rupiah, mereka ngayah dari pagi hingga malam, jarang pulang ke rumah, kehujanan, kepanasan. “Semua siap ngayah,” kata Renaldi. Solidaritas mereka begitu kuat, bahkan untuk urusan perut, mereka patungan dari uang kas untuk memasak bersama sebelum konsumsi ditangani panitia dari pihak kampus.

Kegiatan UKM Upakara di kampus IMK Singaraja Bali | Foto: Edhit

Semangat itu terus diwariskan. Pada Karya Pemuput Bhakti Penerus Pura Agung Mpu Kuturan, 8 Februari 2025, di bawah kepemimpinan Putu Edhit Ekaasta, UKM Upakara kembali menjadi tulang punggung.

“Kita ngayah dimulai dari belanja ke pasar dulu, terus mejejaitan, setelah itu metanding, nyoroh (mengelompokkan banten), dan ngunggahang banten,” terang Edhit, memaparkan prosesi yang sudah menjadi napas mereka.

Dari Pasar Subuh hingga Mejauman ke Sulinggih

Layaknya sebuah desa adat yang mempersiapkan pujawali, kehidupan mereka berputar mengikuti siklus upacara. Bagus Putra Ariawan, Wakil Ketua UKM, berkisah bagaimana perburuan sarana upakara dimulai sejak dini hari.

“Sebelum ke pasar, biasanya kami berkumpul dulu di kampus. Jam 2 pagi kami berangkat ke Pasar Banyuasri dan Pasar Anyar,” ungkap Bagus.

Bukan tanpa alasan, berbelanja di pagi buta memastikan mereka mendapatkan bahan terbaik dengan harga lebih miring seperti seperti daksina, busung (janur), tamas, slepan (daun kelapa yang masih hijau), dan tumpeng.

“Jam dua pagi itu pasar sudah ramai. Kita bisa beli kelapa daksina sekarung isi 100 biji seharga Rp 500 ribu, jauh lebih murah dari harga eceran,” kata Bagus.

Segehan Ancangan untuk Tari Sakral Menjangan Salukat | Foto: Edhit

Ada tanggung jawab spiritual yang diemban. Gede Reza Saputra, salah satu anggota, mendapat tugas mendampingi pelatih mereka, Jro Anom, untuk mejauman (memohon muput) ke sulinggih sebelum 3 hari pujawali.

Ia harus menghadap Ida Ratu Peranda Nyoman Kemenuh dari Griya Taman Sari Kayuputih dan Ida Pandita Nabe Mpu Dhaksa Dwi Putra Brahmanda dari Griya Giri Asuhan Pelapuan. Meski grogi karena merasa kurang fasih berbahasa Bali alus, pengalaman itu membuka matanya.

“Ternyata mejauman ke sulinggih tidak semenakutkan yang ada di pikiran saya. Malahan bisa berkomunikasi masalah banten dan menyampaikan dudonan upakara agar tidak miss komunikasi,” ucap Reza.

Ia bahkan dipercaya mengkoordinir banten segehan ancangan—sebuah hewan-hewan suci penjaga dari pura tersebut atau duwe Ida Bhatara yang berstana di Pura Agung Mpu Kuturan, persembahan khusus untuk Tari Sakral Menjangan Salukat dengan nasi yang diwarnai sesuai simbol menjangan, naga, macan, surya (matahari), candra (bulan), dan paksi (burung).

Regenerasi Pengetahuan dan Ujian Kemandirian

Di ‘desa adat mini’ ini, pengetahuan tidak datang begitu saja. Sebelum seorang anggota diizinkan membuat banten tingkatan utama apalagi ngayah saat Pujawali, mereka wajib mengikuti upacara Pawintenan Saraswati dalam proses Upacara Upanayana di kampus Institut Mpu Kuturan.

“Pawintenan Saraswati bertujuan memohon kepada Sang Hyang Aji Saraswati agar badan ini siap untuk menerima wahyu sruti, ilmu pengetahuan dari beliau,” jelas Edhit.

”Jika sudah mewinten bisa buat banten tingkatan utama seperti Banten sorohan bebangkit, sorohan pulogembal, dan sorohan catur. Kalau banten pejati, canang, segehan (banten yang kecil) bisa di buat oleh sesorang yang belum mewinten,” imbuhnya.

Mahasiswa UKM Upakara IMK Bali ngayah di luar kampus | Foto: Edhit

Usai mewinten biasanya di UKM Upakara mereka yang paham tentang banten akan mendapat sebutan ‘Jro Sarati’. Saat ini, sebutan itu disandang 3 mahasiswa, yakni Putu Edhit Saputra, Bagus Putra Ariawan, dan Gede Reza Saputra.

Namun, jalan mereka tak selalu mulus. Kegiatan besar tahunan berupa metatah massal gratis untuk masyarakat umum yang akan digelar Agustus 2025, mereka harus menghadapi kenyataan pahit. Efisiensi anggaran membuat dana DIPA (Daftar Isian Pelaksana Anggaran) sebesar Rp 5 juta yang biasa mereka terima, kini tiada.

”Kalau dulu dapat dana DIPA dari kampus, tapi tahun ini kami melakukan penggalian dana. Kami membuat proposal, mengajukan ke beberapa sponsor, dan menggunakan dana kas UKM,” kata Edhit.

Namun ujian ini dijawab dengan kreativitas, bagi Bagus, kegiatan UKM Upakara berjalan rutin. Mereka membuat sarana upacara untuk hari suci Purnama, Tilem, dan Siwaratri. Setiap bulan, mereka dipastikan ngayah dua kali saat Purnama dan Tilem di pura kampus.

Kekompakan di UKM Upakara terlihat jelas dalam keseharian mereka, di mana tidak ada pemisahan tugas yang kaku antara laki-laki dan perempuan. Sudah menjadi pemandangan umum melihat para anggota laki-laki ikut terlibat langsung dalam proses mejejahitan dan metanding.

Kendati fokus pada bagian-bagian dasar, peran mereka sangat penting untuk menyelesaikan pekerjaan bersama. ”Paling kami dari laki-laki itu buat banten yang dasar seperti pejati dan banten suci,” ujar Bagus. Keterlibatan ini menunjukkan bahwa dalam semangat ngayah, semua anggota memiliki peran yang sama pentingnya.

Selain itu, UKM Upakara juga menjual banten untuk hari raya besar, seperti caru eka sata untuk Nyepi dan sarana untuk Tumpek Landep. Promosinya menggunakan pamflet di media sosial, dengan pembeli dari kalangan dosen hingga masyarakat umum. Hasil penjualan ini kemudian digunakan untuk kas dan mendanai kegiatan UKM.

“Pokoknya hari raya besar tuh kita jualan banten untuk tabungan di uang kas UKM,” ungkapnya.

Jejak Pengabdian di Luar Kampus

Semangat ngayah anggota UKM Upakara tidak terbatas di lingkungan kampus saja. Dedikasi mereka membuat pengurus Pura Jagatnatha Singaraja mengundang mereka melalui surat pemberitahuan untuk ikut serta dalam berbagai kegiatan keagamaan di pura tersebut.

Tugas yang mereka emban beragam, mulai dari membantu pembuatan sarana upakara hingga terlibat langsung dalam prosesi besar. Saat upacara Melasti misalnya, pembagian peran mereka sangat teratur dan menjadi bagian penting dari barisan prosesi.

”Para mahasiswi biasanya mendapat tugas terhormat untuk memundut atau nyuun (membawa sarana melasti di atas kepala). Sementara, para mahasiswa berjalan mengiringi barisan sembari membawa pajeng atau tedung,” tutur Edhit.

Kaderisasi dan Keterampilan Hidup

UKM Upakara beranggotakan 40 mahasiswa, mayoritas dari prodi seperti Teologi Hindu dan Pendidikan Agama Hindu. Mereka belajar membuat banten secara bertahap, mulai dari elemen dasar banten pejati, membuat daksina, peras, dan canang raka.

Mahasiswa UKM Upakara IMK Bali ngayah di luar kampus | Foto: Edhit

Setelah menguasai fondasi tersebut, mereka dipercaya untuk membuat banten yang lebih kompleks untuk berbagai upacara di lingkungan kampus. Contohnya adalah banten Mejaya-jaya untuk pelantikan ketua organisasi kemahasiswaan (Orkemas), hingga beragam banten pembersihan seperti prayascita, byakaon, dan durmanggala.

Bagi Bagus, ilmu yang didapat di UKM ini lebih dari sekadar kegiatan semasa kuliah. Ia melihatnya sebagai bekal berharga untuk kehidupan para anggota setelah lulus nanti.

”Nanti itu bisa dijadikan bekal untuk anggota UKM kalau dia sudah tamat. Seandainya ada kerja sampingan untuk jualan banten atau ngayah ring (di) desanya masing-masing,” tutupnya. [T]

Penulis: Komang Puja Savitri
Editor: Adnyana Ole

Penulis adalah mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi STAHN Mpu Kuturan Singaraja yang sedang menjalani Praktik Kerja Lapangan (PKL) di tatkala.co.

  • BACA JUGA:
3 Mahasiswa STAHN Mpu Kuturan: Kuliah, Bisnis Kopi “Mai Nongki”, dan Hadapi Tantangannya
Pentas Karya Mahasiswa PSBKH STAHN Mpu Kuturan: Mencipta untuk Menemukan Jati Diri dan Menjalin Jejaring Seni
Bayang Hitam Perempuan dan Botol Depresi | Dari Pentas Seni UAS Mahasiswa PSBKH STAHN Mpu Kuturan
Tags: desa adathinduIMK BaliSTAHN Mpu Kuturan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Generasi X: Kurator Nilai di Tengah Badai AI

Next Post

Agroinovasi, Cara Jitu Memajukan Pertanian

Komang Puja Savitri

Komang Puja Savitri

Mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi STAHN Mpu Kuturan Singaraja

Related Posts

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
0
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails
Next Post
Agroinovasi, Cara Jitu Memajukan Pertanian

Agroinovasi, Cara Jitu Memajukan Pertanian

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co