24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

UKM Upakara di Institut Mpu Kuturan Singaraja, Praktik “Desa Adat” di Kampus Hindu

Komang Puja Savitri by Komang Puja Savitri
June 23, 2025
in Khas
UKM Upakara di Institut Mpu Kuturan Singaraja, Praktik “Desa Adat” di Kampus Hindu

Kegiatan majejahitan mahasiswa UKM Upakara di IMK Singaraja, Bali | Foto: Edhit

KETIKA mendengar kata desa adat, bayangan banyak orang melayang pada hamparan wilayah geografis dengan pura, balai banjar, dan tatanan masyarakatnya. Namun, di Institut Mpu Kuturan (IMK) Singaraja, Bali, sebuah “desa adat” hidup tanpa terikat batas tanah. Inilah Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Upakara, sebuah kelompok yang menjelma menjadi kehidupan tradisi, spiritualitas, dan gotong royong, layaknya desa adat sesungguhnya.

Mereka tidak memiliki wilayah teritorial, namun semangat kebersamaan dan tanggung jawab dalam menjalankan swadharma keagamaan begitu kental terasa. Kehidupan mereka tak jauh dari mejejaitan, aroma dupa, dan lantunan doa yang mengaliri kampus berlabel agama ini.

Semua bermula pada 22 Oktober 2022. Saat itu kampus akan melangsungkan upacara ngenteg linggih, upacara besar yang secara spiritual meneguhkan stana Pura Agung Mpu Kuturan di kampus IMK (dulu STAHN Mpu Kuturan). Prosesi upacara itu memakan waktu sekitar dari 3 bulan. Kampus sempat berencana membeli banten (sarana upacara) ke tukang banten di Kubutambahan dengan harga lebih dari Rp 100 juta. Namun, ketua UKM Upakara waktu itu, Kadek Renaldi Saputra, mengajukan tawaran sederhana namun bernas.

”Kenapa harus beli banten kalau kita punya UKM Upakara?”

Dari titik itu, mahasiswa-mahasiswa yang tergabung di UKM Upakara bahu-membahu membuat banten sendiri. Dengan dana sekitar 80 juta rupiah, mereka ngayah dari pagi hingga malam, jarang pulang ke rumah, kehujanan, kepanasan. “Semua siap ngayah,” kata Renaldi. Solidaritas mereka begitu kuat, bahkan untuk urusan perut, mereka patungan dari uang kas untuk memasak bersama sebelum konsumsi ditangani panitia dari pihak kampus.

Kegiatan UKM Upakara di kampus IMK Singaraja Bali | Foto: Edhit

Semangat itu terus diwariskan. Pada Karya Pemuput Bhakti Penerus Pura Agung Mpu Kuturan, 8 Februari 2025, di bawah kepemimpinan Putu Edhit Ekaasta, UKM Upakara kembali menjadi tulang punggung.

“Kita ngayah dimulai dari belanja ke pasar dulu, terus mejejaitan, setelah itu metanding, nyoroh (mengelompokkan banten), dan ngunggahang banten,” terang Edhit, memaparkan prosesi yang sudah menjadi napas mereka.

Dari Pasar Subuh hingga Mejauman ke Sulinggih

Layaknya sebuah desa adat yang mempersiapkan pujawali, kehidupan mereka berputar mengikuti siklus upacara. Bagus Putra Ariawan, Wakil Ketua UKM, berkisah bagaimana perburuan sarana upakara dimulai sejak dini hari.

“Sebelum ke pasar, biasanya kami berkumpul dulu di kampus. Jam 2 pagi kami berangkat ke Pasar Banyuasri dan Pasar Anyar,” ungkap Bagus.

Bukan tanpa alasan, berbelanja di pagi buta memastikan mereka mendapatkan bahan terbaik dengan harga lebih miring seperti seperti daksina, busung (janur), tamas, slepan (daun kelapa yang masih hijau), dan tumpeng.

“Jam dua pagi itu pasar sudah ramai. Kita bisa beli kelapa daksina sekarung isi 100 biji seharga Rp 500 ribu, jauh lebih murah dari harga eceran,” kata Bagus.

Segehan Ancangan untuk Tari Sakral Menjangan Salukat | Foto: Edhit

Ada tanggung jawab spiritual yang diemban. Gede Reza Saputra, salah satu anggota, mendapat tugas mendampingi pelatih mereka, Jro Anom, untuk mejauman (memohon muput) ke sulinggih sebelum 3 hari pujawali.

Ia harus menghadap Ida Ratu Peranda Nyoman Kemenuh dari Griya Taman Sari Kayuputih dan Ida Pandita Nabe Mpu Dhaksa Dwi Putra Brahmanda dari Griya Giri Asuhan Pelapuan. Meski grogi karena merasa kurang fasih berbahasa Bali alus, pengalaman itu membuka matanya.

“Ternyata mejauman ke sulinggih tidak semenakutkan yang ada di pikiran saya. Malahan bisa berkomunikasi masalah banten dan menyampaikan dudonan upakara agar tidak miss komunikasi,” ucap Reza.

Ia bahkan dipercaya mengkoordinir banten segehan ancangan—sebuah hewan-hewan suci penjaga dari pura tersebut atau duwe Ida Bhatara yang berstana di Pura Agung Mpu Kuturan, persembahan khusus untuk Tari Sakral Menjangan Salukat dengan nasi yang diwarnai sesuai simbol menjangan, naga, macan, surya (matahari), candra (bulan), dan paksi (burung).

Regenerasi Pengetahuan dan Ujian Kemandirian

Di ‘desa adat mini’ ini, pengetahuan tidak datang begitu saja. Sebelum seorang anggota diizinkan membuat banten tingkatan utama apalagi ngayah saat Pujawali, mereka wajib mengikuti upacara Pawintenan Saraswati dalam proses Upacara Upanayana di kampus Institut Mpu Kuturan.

“Pawintenan Saraswati bertujuan memohon kepada Sang Hyang Aji Saraswati agar badan ini siap untuk menerima wahyu sruti, ilmu pengetahuan dari beliau,” jelas Edhit.

”Jika sudah mewinten bisa buat banten tingkatan utama seperti Banten sorohan bebangkit, sorohan pulogembal, dan sorohan catur. Kalau banten pejati, canang, segehan (banten yang kecil) bisa di buat oleh sesorang yang belum mewinten,” imbuhnya.

Mahasiswa UKM Upakara IMK Bali ngayah di luar kampus | Foto: Edhit

Usai mewinten biasanya di UKM Upakara mereka yang paham tentang banten akan mendapat sebutan ‘Jro Sarati’. Saat ini, sebutan itu disandang 3 mahasiswa, yakni Putu Edhit Saputra, Bagus Putra Ariawan, dan Gede Reza Saputra.

Namun, jalan mereka tak selalu mulus. Kegiatan besar tahunan berupa metatah massal gratis untuk masyarakat umum yang akan digelar Agustus 2025, mereka harus menghadapi kenyataan pahit. Efisiensi anggaran membuat dana DIPA (Daftar Isian Pelaksana Anggaran) sebesar Rp 5 juta yang biasa mereka terima, kini tiada.

”Kalau dulu dapat dana DIPA dari kampus, tapi tahun ini kami melakukan penggalian dana. Kami membuat proposal, mengajukan ke beberapa sponsor, dan menggunakan dana kas UKM,” kata Edhit.

Namun ujian ini dijawab dengan kreativitas, bagi Bagus, kegiatan UKM Upakara berjalan rutin. Mereka membuat sarana upacara untuk hari suci Purnama, Tilem, dan Siwaratri. Setiap bulan, mereka dipastikan ngayah dua kali saat Purnama dan Tilem di pura kampus.

Kekompakan di UKM Upakara terlihat jelas dalam keseharian mereka, di mana tidak ada pemisahan tugas yang kaku antara laki-laki dan perempuan. Sudah menjadi pemandangan umum melihat para anggota laki-laki ikut terlibat langsung dalam proses mejejahitan dan metanding.

Kendati fokus pada bagian-bagian dasar, peran mereka sangat penting untuk menyelesaikan pekerjaan bersama. ”Paling kami dari laki-laki itu buat banten yang dasar seperti pejati dan banten suci,” ujar Bagus. Keterlibatan ini menunjukkan bahwa dalam semangat ngayah, semua anggota memiliki peran yang sama pentingnya.

Selain itu, UKM Upakara juga menjual banten untuk hari raya besar, seperti caru eka sata untuk Nyepi dan sarana untuk Tumpek Landep. Promosinya menggunakan pamflet di media sosial, dengan pembeli dari kalangan dosen hingga masyarakat umum. Hasil penjualan ini kemudian digunakan untuk kas dan mendanai kegiatan UKM.

“Pokoknya hari raya besar tuh kita jualan banten untuk tabungan di uang kas UKM,” ungkapnya.

Jejak Pengabdian di Luar Kampus

Semangat ngayah anggota UKM Upakara tidak terbatas di lingkungan kampus saja. Dedikasi mereka membuat pengurus Pura Jagatnatha Singaraja mengundang mereka melalui surat pemberitahuan untuk ikut serta dalam berbagai kegiatan keagamaan di pura tersebut.

Tugas yang mereka emban beragam, mulai dari membantu pembuatan sarana upakara hingga terlibat langsung dalam prosesi besar. Saat upacara Melasti misalnya, pembagian peran mereka sangat teratur dan menjadi bagian penting dari barisan prosesi.

”Para mahasiswi biasanya mendapat tugas terhormat untuk memundut atau nyuun (membawa sarana melasti di atas kepala). Sementara, para mahasiswa berjalan mengiringi barisan sembari membawa pajeng atau tedung,” tutur Edhit.

Kaderisasi dan Keterampilan Hidup

UKM Upakara beranggotakan 40 mahasiswa, mayoritas dari prodi seperti Teologi Hindu dan Pendidikan Agama Hindu. Mereka belajar membuat banten secara bertahap, mulai dari elemen dasar banten pejati, membuat daksina, peras, dan canang raka.

Mahasiswa UKM Upakara IMK Bali ngayah di luar kampus | Foto: Edhit

Setelah menguasai fondasi tersebut, mereka dipercaya untuk membuat banten yang lebih kompleks untuk berbagai upacara di lingkungan kampus. Contohnya adalah banten Mejaya-jaya untuk pelantikan ketua organisasi kemahasiswaan (Orkemas), hingga beragam banten pembersihan seperti prayascita, byakaon, dan durmanggala.

Bagi Bagus, ilmu yang didapat di UKM ini lebih dari sekadar kegiatan semasa kuliah. Ia melihatnya sebagai bekal berharga untuk kehidupan para anggota setelah lulus nanti.

”Nanti itu bisa dijadikan bekal untuk anggota UKM kalau dia sudah tamat. Seandainya ada kerja sampingan untuk jualan banten atau ngayah ring (di) desanya masing-masing,” tutupnya. [T]

Penulis: Komang Puja Savitri
Editor: Adnyana Ole

Penulis adalah mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi STAHN Mpu Kuturan Singaraja yang sedang menjalani Praktik Kerja Lapangan (PKL) di tatkala.co.

  • BACA JUGA:
3 Mahasiswa STAHN Mpu Kuturan: Kuliah, Bisnis Kopi “Mai Nongki”, dan Hadapi Tantangannya
Pentas Karya Mahasiswa PSBKH STAHN Mpu Kuturan: Mencipta untuk Menemukan Jati Diri dan Menjalin Jejaring Seni
Bayang Hitam Perempuan dan Botol Depresi | Dari Pentas Seni UAS Mahasiswa PSBKH STAHN Mpu Kuturan
Tags: desa adathinduIMK BaliSTAHN Mpu Kuturan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Generasi X: Kurator Nilai di Tengah Badai AI

Next Post

Agroinovasi, Cara Jitu Memajukan Pertanian

Komang Puja Savitri

Komang Puja Savitri

Mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi STAHN Mpu Kuturan Singaraja

Related Posts

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
0
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

Read moreDetails

Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

by Angga Wijaya
April 17, 2026
0
Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

DI sebuah sudut Denpasar yang tak terlalu riuh oleh hiruk- pikuk pariwisata, suara biola pelan-pelan menemukan nadanya sendiri. Bukan dari...

Read moreDetails

Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

by Radha Dwi Pradnyani
April 13, 2026
0
Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

RIUH suara para pelajar SMP memenuhi ruangan Museum Soenda Ketjil di kawasan Pelabuhan Tua Buleleng pada Kamis siang, 9 April...

Read moreDetails

Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

by Dian Suryantini
April 9, 2026
0
Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

SORE itu, suasana Pasar Intaran terasa sedikit berbeda dari biasanya. Angin pantai yang biasanya berembus pelan, saat itu sedikit mengamuk....

Read moreDetails

Merawat Tradisi dari Ruang Kelas: Semarak Lomba Ngelawar dan Membuat Gebogan di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
April 8, 2026
0
Merawat Tradisi dari Ruang Kelas: Semarak Lomba Ngelawar dan Membuat Gebogan di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

HARI itu, Jumat, 3 April 2026, menjadi hari yang tak biasa bagi siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam). Sehari...

Read moreDetails

Membasuh Jiwa di Segara —Catatan dari Iring-iringan Melasti Desa Adat Buleleng

by Putu Gangga Pradipta
April 5, 2026
0
Membasuh Jiwa di Segara —Catatan dari Iring-iringan Melasti Desa Adat Buleleng

MATAHARI baru saja beranjak dari peraduannya pada Kamis (2/4/2026), namun aspal di sepanjang jalan menuju Pura Segara, Buleleng, sudah mulai...

Read moreDetails

Malam Rasa Kafka di Pasar Suci

by Helmi Y Haska
March 31, 2026
0
Malam Rasa Kafka di Pasar Suci

TIGA buku terbaru menjadi pokok soal diskusi malam itu diselenggarakan Toko Buku Partikular di Pasar Suci, Denpasar, Sabtu, 28 Maret...

Read moreDetails

Serunya Belajar Ngulet Daluman di Pasar Intaran

by Dian Suryantini
March 24, 2026
0
Serunya Belajar Ngulet Daluman di Pasar Intaran

Minggu pagi, 8 Maret 2026, Pasar Intaran terasa agak beda. Biasanya, pasar ini nongkrong manis di pinggir pantai, tepat di...

Read moreDetails

Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

by Gading Ganesha
March 24, 2026
0
Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

Sabtu 21 Maret. Tepat pukul lima sore, saya tiba di SMA Negeri 1 Singaraja—dua belas jam sebelum Alumni Smansa Charity...

Read moreDetails

Kisah Perjalanan Mendebarkan Menjemput Kekasih dari Sukawati ke Kota Gianyar untuk Menonton Ogoh-ogoh pada Malam Pengrupukan di Taman Kota Gianyar

by Agus Suardiana Putra
March 20, 2026
0
Kisah Perjalanan Mendebarkan Menjemput Kekasih dari Sukawati ke Kota Gianyar untuk Menonton Ogoh-ogoh pada Malam Pengrupukan di Taman Kota Gianyar

SANG surya mulai turun mengistirahatkan diri setelah seharian bersinar, dan kegelapan perlahan menyelimuti bumi. Tibalah kita pada sandikala, waktu yang...

Read moreDetails
Next Post
Agroinovasi, Cara Jitu Memajukan Pertanian

Agroinovasi, Cara Jitu Memajukan Pertanian

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co