13 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

UKM Upakara di Institut Mpu Kuturan Singaraja, Praktik “Desa Adat” di Kampus Hindu

Komang Puja Savitri by Komang Puja Savitri
June 23, 2025
in Khas
UKM Upakara di Institut Mpu Kuturan Singaraja, Praktik “Desa Adat” di Kampus Hindu

Kegiatan majejahitan mahasiswa UKM Upakara di IMK Singaraja, Bali | Foto: Edhit

KETIKA mendengar kata desa adat, bayangan banyak orang melayang pada hamparan wilayah geografis dengan pura, balai banjar, dan tatanan masyarakatnya. Namun, di Institut Mpu Kuturan (IMK) Singaraja, Bali, sebuah “desa adat” hidup tanpa terikat batas tanah. Inilah Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Upakara, sebuah kelompok yang menjelma menjadi kehidupan tradisi, spiritualitas, dan gotong royong, layaknya desa adat sesungguhnya.

Mereka tidak memiliki wilayah teritorial, namun semangat kebersamaan dan tanggung jawab dalam menjalankan swadharma keagamaan begitu kental terasa. Kehidupan mereka tak jauh dari mejejaitan, aroma dupa, dan lantunan doa yang mengaliri kampus berlabel agama ini.

Semua bermula pada 22 Oktober 2022. Saat itu kampus akan melangsungkan upacara ngenteg linggih, upacara besar yang secara spiritual meneguhkan stana Pura Agung Mpu Kuturan di kampus IMK (dulu STAHN Mpu Kuturan). Prosesi upacara itu memakan waktu sekitar dari 3 bulan. Kampus sempat berencana membeli banten (sarana upacara) ke tukang banten di Kubutambahan dengan harga lebih dari Rp 100 juta. Namun, ketua UKM Upakara waktu itu, Kadek Renaldi Saputra, mengajukan tawaran sederhana namun bernas.

”Kenapa harus beli banten kalau kita punya UKM Upakara?”

Dari titik itu, mahasiswa-mahasiswa yang tergabung di UKM Upakara bahu-membahu membuat banten sendiri. Dengan dana sekitar 80 juta rupiah, mereka ngayah dari pagi hingga malam, jarang pulang ke rumah, kehujanan, kepanasan. “Semua siap ngayah,” kata Renaldi. Solidaritas mereka begitu kuat, bahkan untuk urusan perut, mereka patungan dari uang kas untuk memasak bersama sebelum konsumsi ditangani panitia dari pihak kampus.

Kegiatan UKM Upakara di kampus IMK Singaraja Bali | Foto: Edhit

Semangat itu terus diwariskan. Pada Karya Pemuput Bhakti Penerus Pura Agung Mpu Kuturan, 8 Februari 2025, di bawah kepemimpinan Putu Edhit Ekaasta, UKM Upakara kembali menjadi tulang punggung.

“Kita ngayah dimulai dari belanja ke pasar dulu, terus mejejaitan, setelah itu metanding, nyoroh (mengelompokkan banten), dan ngunggahang banten,” terang Edhit, memaparkan prosesi yang sudah menjadi napas mereka.

Dari Pasar Subuh hingga Mejauman ke Sulinggih

Layaknya sebuah desa adat yang mempersiapkan pujawali, kehidupan mereka berputar mengikuti siklus upacara. Bagus Putra Ariawan, Wakil Ketua UKM, berkisah bagaimana perburuan sarana upakara dimulai sejak dini hari.

“Sebelum ke pasar, biasanya kami berkumpul dulu di kampus. Jam 2 pagi kami berangkat ke Pasar Banyuasri dan Pasar Anyar,” ungkap Bagus.

Bukan tanpa alasan, berbelanja di pagi buta memastikan mereka mendapatkan bahan terbaik dengan harga lebih miring seperti seperti daksina, busung (janur), tamas, slepan (daun kelapa yang masih hijau), dan tumpeng.

“Jam dua pagi itu pasar sudah ramai. Kita bisa beli kelapa daksina sekarung isi 100 biji seharga Rp 500 ribu, jauh lebih murah dari harga eceran,” kata Bagus.

Segehan Ancangan untuk Tari Sakral Menjangan Salukat | Foto: Edhit

Ada tanggung jawab spiritual yang diemban. Gede Reza Saputra, salah satu anggota, mendapat tugas mendampingi pelatih mereka, Jro Anom, untuk mejauman (memohon muput) ke sulinggih sebelum 3 hari pujawali.

Ia harus menghadap Ida Ratu Peranda Nyoman Kemenuh dari Griya Taman Sari Kayuputih dan Ida Pandita Nabe Mpu Dhaksa Dwi Putra Brahmanda dari Griya Giri Asuhan Pelapuan. Meski grogi karena merasa kurang fasih berbahasa Bali alus, pengalaman itu membuka matanya.

“Ternyata mejauman ke sulinggih tidak semenakutkan yang ada di pikiran saya. Malahan bisa berkomunikasi masalah banten dan menyampaikan dudonan upakara agar tidak miss komunikasi,” ucap Reza.

Ia bahkan dipercaya mengkoordinir banten segehan ancangan—sebuah hewan-hewan suci penjaga dari pura tersebut atau duwe Ida Bhatara yang berstana di Pura Agung Mpu Kuturan, persembahan khusus untuk Tari Sakral Menjangan Salukat dengan nasi yang diwarnai sesuai simbol menjangan, naga, macan, surya (matahari), candra (bulan), dan paksi (burung).

Regenerasi Pengetahuan dan Ujian Kemandirian

Di ‘desa adat mini’ ini, pengetahuan tidak datang begitu saja. Sebelum seorang anggota diizinkan membuat banten tingkatan utama apalagi ngayah saat Pujawali, mereka wajib mengikuti upacara Pawintenan Saraswati dalam proses Upacara Upanayana di kampus Institut Mpu Kuturan.

“Pawintenan Saraswati bertujuan memohon kepada Sang Hyang Aji Saraswati agar badan ini siap untuk menerima wahyu sruti, ilmu pengetahuan dari beliau,” jelas Edhit.

”Jika sudah mewinten bisa buat banten tingkatan utama seperti Banten sorohan bebangkit, sorohan pulogembal, dan sorohan catur. Kalau banten pejati, canang, segehan (banten yang kecil) bisa di buat oleh sesorang yang belum mewinten,” imbuhnya.

Mahasiswa UKM Upakara IMK Bali ngayah di luar kampus | Foto: Edhit

Usai mewinten biasanya di UKM Upakara mereka yang paham tentang banten akan mendapat sebutan ‘Jro Sarati’. Saat ini, sebutan itu disandang 3 mahasiswa, yakni Putu Edhit Saputra, Bagus Putra Ariawan, dan Gede Reza Saputra.

Namun, jalan mereka tak selalu mulus. Kegiatan besar tahunan berupa metatah massal gratis untuk masyarakat umum yang akan digelar Agustus 2025, mereka harus menghadapi kenyataan pahit. Efisiensi anggaran membuat dana DIPA (Daftar Isian Pelaksana Anggaran) sebesar Rp 5 juta yang biasa mereka terima, kini tiada.

”Kalau dulu dapat dana DIPA dari kampus, tapi tahun ini kami melakukan penggalian dana. Kami membuat proposal, mengajukan ke beberapa sponsor, dan menggunakan dana kas UKM,” kata Edhit.

Namun ujian ini dijawab dengan kreativitas, bagi Bagus, kegiatan UKM Upakara berjalan rutin. Mereka membuat sarana upacara untuk hari suci Purnama, Tilem, dan Siwaratri. Setiap bulan, mereka dipastikan ngayah dua kali saat Purnama dan Tilem di pura kampus.

Kekompakan di UKM Upakara terlihat jelas dalam keseharian mereka, di mana tidak ada pemisahan tugas yang kaku antara laki-laki dan perempuan. Sudah menjadi pemandangan umum melihat para anggota laki-laki ikut terlibat langsung dalam proses mejejahitan dan metanding.

Kendati fokus pada bagian-bagian dasar, peran mereka sangat penting untuk menyelesaikan pekerjaan bersama. ”Paling kami dari laki-laki itu buat banten yang dasar seperti pejati dan banten suci,” ujar Bagus. Keterlibatan ini menunjukkan bahwa dalam semangat ngayah, semua anggota memiliki peran yang sama pentingnya.

Selain itu, UKM Upakara juga menjual banten untuk hari raya besar, seperti caru eka sata untuk Nyepi dan sarana untuk Tumpek Landep. Promosinya menggunakan pamflet di media sosial, dengan pembeli dari kalangan dosen hingga masyarakat umum. Hasil penjualan ini kemudian digunakan untuk kas dan mendanai kegiatan UKM.

“Pokoknya hari raya besar tuh kita jualan banten untuk tabungan di uang kas UKM,” ungkapnya.

Jejak Pengabdian di Luar Kampus

Semangat ngayah anggota UKM Upakara tidak terbatas di lingkungan kampus saja. Dedikasi mereka membuat pengurus Pura Jagatnatha Singaraja mengundang mereka melalui surat pemberitahuan untuk ikut serta dalam berbagai kegiatan keagamaan di pura tersebut.

Tugas yang mereka emban beragam, mulai dari membantu pembuatan sarana upakara hingga terlibat langsung dalam prosesi besar. Saat upacara Melasti misalnya, pembagian peran mereka sangat teratur dan menjadi bagian penting dari barisan prosesi.

”Para mahasiswi biasanya mendapat tugas terhormat untuk memundut atau nyuun (membawa sarana melasti di atas kepala). Sementara, para mahasiswa berjalan mengiringi barisan sembari membawa pajeng atau tedung,” tutur Edhit.

Kaderisasi dan Keterampilan Hidup

UKM Upakara beranggotakan 40 mahasiswa, mayoritas dari prodi seperti Teologi Hindu dan Pendidikan Agama Hindu. Mereka belajar membuat banten secara bertahap, mulai dari elemen dasar banten pejati, membuat daksina, peras, dan canang raka.

Mahasiswa UKM Upakara IMK Bali ngayah di luar kampus | Foto: Edhit

Setelah menguasai fondasi tersebut, mereka dipercaya untuk membuat banten yang lebih kompleks untuk berbagai upacara di lingkungan kampus. Contohnya adalah banten Mejaya-jaya untuk pelantikan ketua organisasi kemahasiswaan (Orkemas), hingga beragam banten pembersihan seperti prayascita, byakaon, dan durmanggala.

Bagi Bagus, ilmu yang didapat di UKM ini lebih dari sekadar kegiatan semasa kuliah. Ia melihatnya sebagai bekal berharga untuk kehidupan para anggota setelah lulus nanti.

”Nanti itu bisa dijadikan bekal untuk anggota UKM kalau dia sudah tamat. Seandainya ada kerja sampingan untuk jualan banten atau ngayah ring (di) desanya masing-masing,” tutupnya. [T]

Penulis: Komang Puja Savitri
Editor: Adnyana Ole

Penulis adalah mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi STAHN Mpu Kuturan Singaraja yang sedang menjalani Praktik Kerja Lapangan (PKL) di tatkala.co.

  • BACA JUGA:
3 Mahasiswa STAHN Mpu Kuturan: Kuliah, Bisnis Kopi “Mai Nongki”, dan Hadapi Tantangannya
Pentas Karya Mahasiswa PSBKH STAHN Mpu Kuturan: Mencipta untuk Menemukan Jati Diri dan Menjalin Jejaring Seni
Bayang Hitam Perempuan dan Botol Depresi | Dari Pentas Seni UAS Mahasiswa PSBKH STAHN Mpu Kuturan
Tags: desa adathinduIMK BaliSTAHN Mpu Kuturan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Generasi X: Kurator Nilai di Tengah Badai AI

Next Post

Agroinovasi, Cara Jitu Memajukan Pertanian

Komang Puja Savitri

Komang Puja Savitri

Mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi STAHN Mpu Kuturan Singaraja

Related Posts

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

by Emi Suy
September 10, 2026
0
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

Read moreDetails

Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

by Nyoman Budarsana
September 8, 2026
0
Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

PELAKSANAAN Utsawa Dharma Gita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 tinggal menghitung hari. Perlombaan tersebut bakal dimulai Jumat, 11 September...

Read moreDetails

Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

by tatkala
September 7, 2026
0
Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

RAK di sudut kamar dulu menjadi penanda seberapa serius seseorang mengikuti sebuah judul. Penanda itu perlahan berpindah ke daftar bacaan...

Read moreDetails

Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

by Nyoman Budarsana
September 6, 2026
0
Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

DIIRINGI gending gamelan yang dinamis, gerak, seledet, dan perpindahan posisi para penari mengalir membentuk jalinan yang hidup. Setiap gerakan seolah...

Read moreDetails

Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

by I Nyoman Tingkat
September 6, 2026
0
Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

"CERAKEN BALI: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul". Itulah tema HUT VII SMA Negeri 2 Kuta Selatan...

Read moreDetails

Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

by Dian Suryantini
September 1, 2026
0
Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

ADA sesuatu yang terasa ganjil ketika pertama kali melihatnya. Selonding, sebuah gamelan yang selama ini begitu dekat dengan kayu, tradisi,...

Read moreDetails

Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

by Ega Surya Mahendra
August 31, 2026
0
Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

MALAM, pukul 21.30, 10 Agustus 2026. Saya baru saja usai melewati jalan yang nestapa dari Tanjung Benua menuju kampung halaman...

Read moreDetails

Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

by Nyoman Budarsana
August 31, 2026
0
Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

ANGGIN itu sahabat para Rare Angon. Ketika embusannya mulai menguat di Pantai Mertasari, Sanur, kesibukan pun muncul di antara para...

Read moreDetails

Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

by Nyoman Budarsana
August 29, 2026
0
Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

“Dug dug, dag, dug dug.., dag dug dag…, jedug kapak, jedug kapak…!” SUARA kendang dan okokan menggema mengiringi pembukaan Tanah...

Read moreDetails

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026
0
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

Read moreDetails
Next Post
Agroinovasi, Cara Jitu Memajukan Pertanian

Agroinovasi, Cara Jitu Memajukan Pertanian

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co