2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bayang Hitam Perempuan dan Botol Depresi | Dari Pentas Seni UAS Mahasiswa PSBKH STAHN Mpu Kuturan

Son Lomri by Son Lomri
December 22, 2024
in Ulas Pentas
Bayang Hitam Perempuan dan Botol Depresi | Dari Pentas Seni UAS Mahasiswa PSBKH STAHN Mpu Kuturan

Pentas Teater Batasan yang Tak Terlihat | Foto: tatkala.co/Son

DI tengah cahaya, perempuan itu duduk di atas kursi. Mukanya murung. Tapi kedua tangannya menari—indah meski tampak masih sedikit tawar. Sesosok hitam atau bayangan hitam (diperankan oleh perempuan juga), mengikuti gerak pikir perempuan pertama, hingga ke mana pun tangannya meliuk.

Panggung gelap terang. Sesosok hitam itu terus membututinya, mengganggu.

Pementasan teater itu berjudul “Batasan yang Tak Terlihat” karya Luh Budiasa, semester 5 Jurusan Pendidikan Seni dan Budaya Keagamaan Hindu (PSBKH), Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri (STAHN) Mpu Kuturan, Singaraja.

Teater tari itu memang salah satu pertunjukan dari sejumlah pertunjukan dalam rangka Ujian Akhir Semester (UAS) mahasiswa PSBKH STAHN Mpu Kuturan, Jumat, 20 Desember 2024, di Gedung Sasana Budaya Singaraja, Buleleng, Bali.

Ada sepuluh pertunjukan seni yang dipentaskan dalam rangkaian pergelaran itu. Ada tabuh, tari, teater, film dan seni pertunjukan lain. Ada Tabuh Kreasi Bengal, Tari Rejang Panutun, Tabuh Kreasi Malini Semara.

Kemudian ada juga Tari Durma Lawe, Tari Ksatria Sundari, Teater Terjebak di Dalam Layar, Teater Kapegatin Tresna, Teater Dunia di Balik Botol, Teater Cetik Croncong Polo dan Teater Batasan yang Tak Terlihat.

“Pementasan ini bertujuan untik memenuhi kebutuhan dunia kerja, salah satunya guru seni budaya. Yang dituntut tidak hanya cakap dalam pembelajaran teori tapi juga  melakukan penciptaaan karya seni dan prakarya,” jelas I Putu Ardiyasa, M.Sn., Kaprodi Pendidikan Seni dan Budaya Keagamaan Hindu.

Pentas Teater Batasan yang Tak Terlihat | Foto: tatkala.co/Son

Karya-karya itu digarap oleh mahasiswa secara langsung sebagai output belajar mereka beberapa bulan pada tahun ajaran tahun ini. Pada teater yang digarap oleh Luh Budiasa misalnya, ia mencoba menceritakan bagaimana kepelikan seorang perempuan dalam menatap—menghadapi hidup penuh konflik batin karena persoalan di luar dari dirinya.

Ada tiga pemain dalam pementasan teater itu, yakni Luh Budiasa sendiri—sebagai pemeran utamanya, Kadek Pipin Dwi Mentari sebagai pembaca naskah dan Komang Ayu Sri Wardani sebagai sesosok bayangan hitam.

“Batasan yang tak terlihat ini merupakan sebuah karya yang menggali pengalaman dan perjuangan seorang perempuan yang menghadapi berbagai keterbatasan dealam kehidupan,” kata Luh Budiasa.

Di atas panggung, Luh Budiasa menjadi sesosok—yangmenceritakan perjalanan batin seorang perempuan yang berusaha untuk melampaui segala bentuk batasan-batasan penghalang dalam hidup. Batasan dalam hal ini, tentu bukan saja menyoal fisik tubuh, tetapi bagaimana juga bersifat psikologis dan emosional. Batasan-batasn itu kemudian digambarkannya dengan sesosok hitam atau gelap.

Budiasa menegaskan, perempuan sering kali harus menanggung ekspektasi yang tidak sesuai dengan keinginan pribadi mereka karena terhalang oleh sesuatu yang lebih katos atau keras, yaitu seabrek peraturan dan norma, bahkan kerja-kerja terkait adat pun demikian.

Membayangkannya, Budiasa seakan berekstaksi sehingga gerak tubuh dalam teaternya menjadi sangat liat dan geliat. Betapa lenturnya tubuh Budiasa, dan sesosok hitam itu semakin ganas. Bayangan hitam itu kemudian menjelma menjadi rasa takut yang mengikatnya di kursi duduk.

Pentas Teater Batasan yang Tak Terlihat | Foto: tatkala.co/Son

Sosok perempuan itu dihantam pisau. Darah merembas dari dadanya. Teater itu berakhir dengan perempuan itu mati di tangan ketakutannya sendiri setelah menghentikan gerak tubuhnya. Menghentikan mimpinya.

“Sesosok hitam itu, selain tentang norma atau lainnya. Tetapi juga tentang ketakutan perempuan itu sendiri!” tegas Luh Budiasa.

Depresi dan Pelariannya

Sementara pada pementasan lain, monolog berjudul “Dunia di Balik Botol” karya Gede Arya Suryantika menceritakan penyakit mental pada seorang lelaki penuh depresi sebab tuntutan dunia luar, dunia kerja, pergaulan, kuliah, keluarga dan banyak hal yang harus ditanggung oleh seorang lelaki agar perfeksionis.

Lelaki itu tak sanggup bersaing dan percaya diri akhirnya, lalu mencelupkan dirinya ke dalam botol minuman keras. Menjadi seorang alkoholik di kemudian hari yang panjang. Datar.

Panggung menjadi gelap juga areal tempat duduk para penonton. Lampu menyala kemudian menembak seorang lelaki putus asa itu di depan dua botol, di depan sebuah meja.

Monolog Dunia di Balik Botol | Foto: tatkala.co/Son

Beberapa kali ditengguknya minuman itu. Ia meracau tak henti mengeluaskan percakapan sendiri, percakapan tentang sakit dirinya, diri paling sakit.

“Dulu aku minum karena aku bahagia. Segelas untuk kegembiraan. Tapi sekarang? Aku minum karena aku takut. Takut pada apa yang ada di luar sana. Dunia itu keras, tahu? Orang-orang penuh tuntutan!” kata Arya saat monolog, nyambi menenteng botol minuman.

Arya kemudian berdiri dengan kepalanya terhuyung. Aduh, hyung. Dunia seakan mencekam di kepalanya begitu keras. Minuman dalam botol itu ditenggaknya tak henti. Cahaya panggung berkedip gelap terang.

Kata-kata keluar semakin dahsyat, laki-laki itu semakin depresi—seakan tak sanggup menghadapi kenyataan lebih pahit tanpa mabuk.

Monolog Dunia di Balik Botol | Foto: tatkala.co/Son

Satu botol habis diminum lalu dibuang dan nyaris pecah. Ketakutan semakin mencekam di urat nadinya. Lantas ia menjerit memegang kepalanya. Dunia seakan kacau di kepalanya. Menggedor pikirannya. Ia bersimpuh kemudian selayaknya hamba di hadapan botol yang masih tersisa di atas meja. Ditenggaknya lagi. Lalu meracau…

“Aku mau pulang. Aku mau pulang. Aku mau pulang…” kata lelaki itu sebelum tertawa.

Lampu perlahan meredup, senyap, gelap total. Tepuk tangan menimpuginya kemudian, dan lampu menjadi terang.

Di samping panggung—setelah pentas, ada yang bertanya penuh penasaran, “Apa yang ada di dalam botol tadi?”

“Es teh!” kata Arya. [T]

Reporter/Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Adnyana Ole

Pentas Karya Mahasiswa PSBKH STAHN Mpu Kuturan: Mencipta untuk Menemukan Jati Diri dan Menjalin Jejaring Seni
Performance “Batu” : Ketika Perempuan Menatap Tubuhnya Sendiri
“Performing Spiral” dari Josh Marcy: Kesadaran Pada Laku Tubuh dan Ruang — Dari B-Part 2024
Memeluk Masa Lalu dengan Ingatan Yang Sadar: Catatan Festival Kala Monolog
Merayakan Perjalanan Setelah Menonton Pertunjukan Kelas Teater Shiro-San
Yang Terhubung: Ancaman dan Harapan | Catatan Pentas Kala Teater
Tags: kesenian baliMonologSTAHN Mpu KuturanTeater
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kembalinya Sistem Pemerintahan Adat Baduy

Next Post

Ibu, Komunikator Pertama dalam Kehidupan

Son Lomri

Son Lomri

Mahasiswa Undikhsa, tinggal di Singaraja

Related Posts

Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

by Dewa Purwita Sukahet
July 31, 2026
0
Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

MALAM itu, 20 Juli 2026, jam di ponsel menunjukan pukul 18:52 Wita, di depan gedung Ni Ketut Reneng, kampus Institut...

Read moreDetails

Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

by Anselmus Dore Woho Atasoge
July 31, 2026
0
Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

MALAM pembukaan Festival Bale Nagi 2026 di Taman Kota Felix Fernandez, Larantuka, Flores Timur, NTT, menyuguhkan sebuah pertunjukan yang memicu...

Read moreDetails

Fragmentari “Jro Luh” dan Sinkronisitas: Sebuah Pembacaan Estetika atas Pertemuan Dramaturgi dan Fenomena Alam

by I Gusti Made Darma Putra
July 28, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

PANGGUNG seni pertunjukan pada dasarnya merupakan ruang rekayasa artistik. Di dalamnya, setiap unsur dirancang dengan cermat, struktur dramatik disusun melalui...

Read moreDetails

Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

by I Wayan Sujana Suklu
July 25, 2026
0
Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

  Tubuh berjalan pelandi antara bukit, rumah, dan laut yang tidak selesai. Angin membawa nama-namayang pernah singgah di pelabuhan,lalu hilang...

Read moreDetails

Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

by Chandra Manikan
July 22, 2026
0
Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

Asap mengepul perlahan hingga menutupi sebagian panggung, sementara cahaya merah merambat dan menerangi Ocha Diartini yang saat itu berperan sebagai...

Read moreDetails

Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

by Satria Aditya
July 20, 2026
0
Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

PARADE Monolog dalam Festival Seni Bali Jani 2016 yang digelar pada 14 Juli  di Gedung Ksirarnawa, dibuka pukul 17.00 Wita,...

Read moreDetails

Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

by Putu Intan Juliantika
July 19, 2026
0
Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

 “Teng! Tong! Teng! Tong! Teng! Tung! Pagi tiba alarm berbunyi...” Itu adalah suara dering alarm saya pukul tiga pagi yang...

Read moreDetails

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
0
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

Read moreDetails

‘The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark’ di TMII —Cahaya Menghidupkan Hanoman Duta

by Azzahra Naya R
July 1, 2026
0
‘The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark’ di TMII —Cahaya Menghidupkan Hanoman Duta

SAAT menyaksikan The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark: Hanoman Duta, Amfiteater Panggung Budaya, Taman Mini Indonesia Indah (TMII),...

Read moreDetails

Kembalinya Roh Teo-Estetika —Menguatkan Kembali Konsolidasi Sosial Masyarakat Banjar Bukit Buwung Kesiman Melalui Kesenian Dramatari Arja

by IM Gede Nesa Saputra
June 30, 2026
0
Kembalinya Roh Teo-Estetika —Menguatkan Kembali Konsolidasi Sosial Masyarakat Banjar Bukit Buwung Kesiman Melalui Kesenian Dramatari Arja

KEMBALINYA seni Arja di Banjar Bukit Buwung, Kesiman, tidak dapat dipahami semata sebagai upaya revitalisasi kesenian tradisional, melainkan sebagai proses...

Read moreDetails
Next Post
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Ibu, Komunikator Pertama dalam Kehidupan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co