2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bayang Hitam Perempuan dan Botol Depresi | Dari Pentas Seni UAS Mahasiswa PSBKH STAHN Mpu Kuturan

Son Lomri by Son Lomri
December 22, 2024
in Ulas Pentas
Bayang Hitam Perempuan dan Botol Depresi | Dari Pentas Seni UAS Mahasiswa PSBKH STAHN Mpu Kuturan

Pentas Teater Batasan yang Tak Terlihat | Foto: tatkala.co/Son

DI tengah cahaya, perempuan itu duduk di atas kursi. Mukanya murung. Tapi kedua tangannya menari—indah meski tampak masih sedikit tawar. Sesosok hitam atau bayangan hitam (diperankan oleh perempuan juga), mengikuti gerak pikir perempuan pertama, hingga ke mana pun tangannya meliuk.

Panggung gelap terang. Sesosok hitam itu terus membututinya, mengganggu.

Pementasan teater itu berjudul “Batasan yang Tak Terlihat” karya Luh Budiasa, semester 5 Jurusan Pendidikan Seni dan Budaya Keagamaan Hindu (PSBKH), Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri (STAHN) Mpu Kuturan, Singaraja.

Teater tari itu memang salah satu pertunjukan dari sejumlah pertunjukan dalam rangka Ujian Akhir Semester (UAS) mahasiswa PSBKH STAHN Mpu Kuturan, Jumat, 20 Desember 2024, di Gedung Sasana Budaya Singaraja, Buleleng, Bali.

Ada sepuluh pertunjukan seni yang dipentaskan dalam rangkaian pergelaran itu. Ada tabuh, tari, teater, film dan seni pertunjukan lain. Ada Tabuh Kreasi Bengal, Tari Rejang Panutun, Tabuh Kreasi Malini Semara.

Kemudian ada juga Tari Durma Lawe, Tari Ksatria Sundari, Teater Terjebak di Dalam Layar, Teater Kapegatin Tresna, Teater Dunia di Balik Botol, Teater Cetik Croncong Polo dan Teater Batasan yang Tak Terlihat.

“Pementasan ini bertujuan untik memenuhi kebutuhan dunia kerja, salah satunya guru seni budaya. Yang dituntut tidak hanya cakap dalam pembelajaran teori tapi juga  melakukan penciptaaan karya seni dan prakarya,” jelas I Putu Ardiyasa, M.Sn., Kaprodi Pendidikan Seni dan Budaya Keagamaan Hindu.

Pentas Teater Batasan yang Tak Terlihat | Foto: tatkala.co/Son

Karya-karya itu digarap oleh mahasiswa secara langsung sebagai output belajar mereka beberapa bulan pada tahun ajaran tahun ini. Pada teater yang digarap oleh Luh Budiasa misalnya, ia mencoba menceritakan bagaimana kepelikan seorang perempuan dalam menatap—menghadapi hidup penuh konflik batin karena persoalan di luar dari dirinya.

Ada tiga pemain dalam pementasan teater itu, yakni Luh Budiasa sendiri—sebagai pemeran utamanya, Kadek Pipin Dwi Mentari sebagai pembaca naskah dan Komang Ayu Sri Wardani sebagai sesosok bayangan hitam.

“Batasan yang tak terlihat ini merupakan sebuah karya yang menggali pengalaman dan perjuangan seorang perempuan yang menghadapi berbagai keterbatasan dealam kehidupan,” kata Luh Budiasa.

Di atas panggung, Luh Budiasa menjadi sesosok—yangmenceritakan perjalanan batin seorang perempuan yang berusaha untuk melampaui segala bentuk batasan-batasan penghalang dalam hidup. Batasan dalam hal ini, tentu bukan saja menyoal fisik tubuh, tetapi bagaimana juga bersifat psikologis dan emosional. Batasan-batasn itu kemudian digambarkannya dengan sesosok hitam atau gelap.

Budiasa menegaskan, perempuan sering kali harus menanggung ekspektasi yang tidak sesuai dengan keinginan pribadi mereka karena terhalang oleh sesuatu yang lebih katos atau keras, yaitu seabrek peraturan dan norma, bahkan kerja-kerja terkait adat pun demikian.

Membayangkannya, Budiasa seakan berekstaksi sehingga gerak tubuh dalam teaternya menjadi sangat liat dan geliat. Betapa lenturnya tubuh Budiasa, dan sesosok hitam itu semakin ganas. Bayangan hitam itu kemudian menjelma menjadi rasa takut yang mengikatnya di kursi duduk.

Pentas Teater Batasan yang Tak Terlihat | Foto: tatkala.co/Son

Sosok perempuan itu dihantam pisau. Darah merembas dari dadanya. Teater itu berakhir dengan perempuan itu mati di tangan ketakutannya sendiri setelah menghentikan gerak tubuhnya. Menghentikan mimpinya.

“Sesosok hitam itu, selain tentang norma atau lainnya. Tetapi juga tentang ketakutan perempuan itu sendiri!” tegas Luh Budiasa.

Depresi dan Pelariannya

Sementara pada pementasan lain, monolog berjudul “Dunia di Balik Botol” karya Gede Arya Suryantika menceritakan penyakit mental pada seorang lelaki penuh depresi sebab tuntutan dunia luar, dunia kerja, pergaulan, kuliah, keluarga dan banyak hal yang harus ditanggung oleh seorang lelaki agar perfeksionis.

Lelaki itu tak sanggup bersaing dan percaya diri akhirnya, lalu mencelupkan dirinya ke dalam botol minuman keras. Menjadi seorang alkoholik di kemudian hari yang panjang. Datar.

Panggung menjadi gelap juga areal tempat duduk para penonton. Lampu menyala kemudian menembak seorang lelaki putus asa itu di depan dua botol, di depan sebuah meja.

Monolog Dunia di Balik Botol | Foto: tatkala.co/Son

Beberapa kali ditengguknya minuman itu. Ia meracau tak henti mengeluaskan percakapan sendiri, percakapan tentang sakit dirinya, diri paling sakit.

“Dulu aku minum karena aku bahagia. Segelas untuk kegembiraan. Tapi sekarang? Aku minum karena aku takut. Takut pada apa yang ada di luar sana. Dunia itu keras, tahu? Orang-orang penuh tuntutan!” kata Arya saat monolog, nyambi menenteng botol minuman.

Arya kemudian berdiri dengan kepalanya terhuyung. Aduh, hyung. Dunia seakan mencekam di kepalanya begitu keras. Minuman dalam botol itu ditenggaknya tak henti. Cahaya panggung berkedip gelap terang.

Kata-kata keluar semakin dahsyat, laki-laki itu semakin depresi—seakan tak sanggup menghadapi kenyataan lebih pahit tanpa mabuk.

Monolog Dunia di Balik Botol | Foto: tatkala.co/Son

Satu botol habis diminum lalu dibuang dan nyaris pecah. Ketakutan semakin mencekam di urat nadinya. Lantas ia menjerit memegang kepalanya. Dunia seakan kacau di kepalanya. Menggedor pikirannya. Ia bersimpuh kemudian selayaknya hamba di hadapan botol yang masih tersisa di atas meja. Ditenggaknya lagi. Lalu meracau…

“Aku mau pulang. Aku mau pulang. Aku mau pulang…” kata lelaki itu sebelum tertawa.

Lampu perlahan meredup, senyap, gelap total. Tepuk tangan menimpuginya kemudian, dan lampu menjadi terang.

Di samping panggung—setelah pentas, ada yang bertanya penuh penasaran, “Apa yang ada di dalam botol tadi?”

“Es teh!” kata Arya. [T]

Reporter/Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Adnyana Ole

Pentas Karya Mahasiswa PSBKH STAHN Mpu Kuturan: Mencipta untuk Menemukan Jati Diri dan Menjalin Jejaring Seni
Performance “Batu” : Ketika Perempuan Menatap Tubuhnya Sendiri
“Performing Spiral” dari Josh Marcy: Kesadaran Pada Laku Tubuh dan Ruang — Dari B-Part 2024
Memeluk Masa Lalu dengan Ingatan Yang Sadar: Catatan Festival Kala Monolog
Merayakan Perjalanan Setelah Menonton Pertunjukan Kelas Teater Shiro-San
Yang Terhubung: Ancaman dan Harapan | Catatan Pentas Kala Teater
Tags: kesenian baliMonologSTAHN Mpu KuturanTeater
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kembalinya Sistem Pemerintahan Adat Baduy

Next Post

Ibu, Komunikator Pertama dalam Kehidupan

Son Lomri

Son Lomri

Mahasiswa Undikhsa, tinggal di Singaraja

Related Posts

Sinaps Ingatan dari Pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot

by Asmaran Dani
September 4, 2026
0
Sinaps Ingatan dari Pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot

Catatan pendek, sebagai pengantar diskusi menonton ulang dokumentasi pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot melalui Youtube, Sabtu 05 Septemper 2026 di...

Read moreDetails

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

by Yanik Parta
August 24, 2026
0
Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

SEBAGAI penari, aku bergerak dari kode satu ke kode gerak lainnya, sementara ayahku yang merupakan seorang pematung, bergerak dalam duduknya....

Read moreDetails

Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

by Dewa Made Ari Kurniawan
August 4, 2026
0
Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

Di Ambang Dualitas Eksistensial Dalam ruang pertunjukan yang temaram, pendar cahaya proyektor perlahan menghidupkan bidang panggung. Karya pertunjukan bertajuk DWI...

Read moreDetails

Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

by Dewa Purwita Sukahet
July 31, 2026
0
Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

MALAM itu, 20 Juli 2026, jam di ponsel menunjukan pukul 18:52 Wita, di depan gedung Ni Ketut Reneng, kampus Institut...

Read moreDetails

Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

by Anselmus Dore Woho Atasoge
July 31, 2026
0
Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

MALAM pembukaan Festival Bale Nagi 2026 di Taman Kota Felix Fernandez, Larantuka, Flores Timur, NTT, menyuguhkan sebuah pertunjukan yang memicu...

Read moreDetails

Fragmentari “Jro Luh” dan Sinkronisitas: Sebuah Pembacaan Estetika atas Pertemuan Dramaturgi dan Fenomena Alam

by I Gusti Made Darma Putra
July 28, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

PANGGUNG seni pertunjukan pada dasarnya merupakan ruang rekayasa artistik. Di dalamnya, setiap unsur dirancang dengan cermat, struktur dramatik disusun melalui...

Read moreDetails

Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

by I Wayan Sujana Suklu
July 25, 2026
0
Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

  Tubuh berjalan pelandi antara bukit, rumah, dan laut yang tidak selesai. Angin membawa nama-namayang pernah singgah di pelabuhan,lalu hilang...

Read moreDetails

Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

by Chandra Manikan
July 22, 2026
0
Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

Asap mengepul perlahan hingga menutupi sebagian panggung, sementara cahaya merah merambat dan menerangi Ocha Diartini yang saat itu berperan sebagai...

Read moreDetails

Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

by Satria Aditya
July 20, 2026
0
Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

PARADE Monolog dalam Festival Seni Bali Jani 2016 yang digelar pada 14 Juli  di Gedung Ksirarnawa, dibuka pukul 17.00 Wita,...

Read moreDetails

Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

by Putu Intan Juliantika
July 19, 2026
0
Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

 “Teng! Tong! Teng! Tong! Teng! Tung! Pagi tiba alarm berbunyi...” Itu adalah suara dering alarm saya pukul tiga pagi yang...

Read moreDetails
Next Post
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Ibu, Komunikator Pertama dalam Kehidupan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co