24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bayang Hitam Perempuan dan Botol Depresi | Dari Pentas Seni UAS Mahasiswa PSBKH STAHN Mpu Kuturan

Son Lomri by Son Lomri
December 22, 2024
in Ulas Pentas
Bayang Hitam Perempuan dan Botol Depresi | Dari Pentas Seni UAS Mahasiswa PSBKH STAHN Mpu Kuturan

Pentas Teater Batasan yang Tak Terlihat | Foto: tatkala.co/Son

DI tengah cahaya, perempuan itu duduk di atas kursi. Mukanya murung. Tapi kedua tangannya menari—indah meski tampak masih sedikit tawar. Sesosok hitam atau bayangan hitam (diperankan oleh perempuan juga), mengikuti gerak pikir perempuan pertama, hingga ke mana pun tangannya meliuk.

Panggung gelap terang. Sesosok hitam itu terus membututinya, mengganggu.

Pementasan teater itu berjudul “Batasan yang Tak Terlihat” karya Luh Budiasa, semester 5 Jurusan Pendidikan Seni dan Budaya Keagamaan Hindu (PSBKH), Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri (STAHN) Mpu Kuturan, Singaraja.

Teater tari itu memang salah satu pertunjukan dari sejumlah pertunjukan dalam rangka Ujian Akhir Semester (UAS) mahasiswa PSBKH STAHN Mpu Kuturan, Jumat, 20 Desember 2024, di Gedung Sasana Budaya Singaraja, Buleleng, Bali.

Ada sepuluh pertunjukan seni yang dipentaskan dalam rangkaian pergelaran itu. Ada tabuh, tari, teater, film dan seni pertunjukan lain. Ada Tabuh Kreasi Bengal, Tari Rejang Panutun, Tabuh Kreasi Malini Semara.

Kemudian ada juga Tari Durma Lawe, Tari Ksatria Sundari, Teater Terjebak di Dalam Layar, Teater Kapegatin Tresna, Teater Dunia di Balik Botol, Teater Cetik Croncong Polo dan Teater Batasan yang Tak Terlihat.

“Pementasan ini bertujuan untik memenuhi kebutuhan dunia kerja, salah satunya guru seni budaya. Yang dituntut tidak hanya cakap dalam pembelajaran teori tapi juga  melakukan penciptaaan karya seni dan prakarya,” jelas I Putu Ardiyasa, M.Sn., Kaprodi Pendidikan Seni dan Budaya Keagamaan Hindu.

Pentas Teater Batasan yang Tak Terlihat | Foto: tatkala.co/Son

Karya-karya itu digarap oleh mahasiswa secara langsung sebagai output belajar mereka beberapa bulan pada tahun ajaran tahun ini. Pada teater yang digarap oleh Luh Budiasa misalnya, ia mencoba menceritakan bagaimana kepelikan seorang perempuan dalam menatap—menghadapi hidup penuh konflik batin karena persoalan di luar dari dirinya.

Ada tiga pemain dalam pementasan teater itu, yakni Luh Budiasa sendiri—sebagai pemeran utamanya, Kadek Pipin Dwi Mentari sebagai pembaca naskah dan Komang Ayu Sri Wardani sebagai sesosok bayangan hitam.

“Batasan yang tak terlihat ini merupakan sebuah karya yang menggali pengalaman dan perjuangan seorang perempuan yang menghadapi berbagai keterbatasan dealam kehidupan,” kata Luh Budiasa.

Di atas panggung, Luh Budiasa menjadi sesosok—yangmenceritakan perjalanan batin seorang perempuan yang berusaha untuk melampaui segala bentuk batasan-batasan penghalang dalam hidup. Batasan dalam hal ini, tentu bukan saja menyoal fisik tubuh, tetapi bagaimana juga bersifat psikologis dan emosional. Batasan-batasn itu kemudian digambarkannya dengan sesosok hitam atau gelap.

Budiasa menegaskan, perempuan sering kali harus menanggung ekspektasi yang tidak sesuai dengan keinginan pribadi mereka karena terhalang oleh sesuatu yang lebih katos atau keras, yaitu seabrek peraturan dan norma, bahkan kerja-kerja terkait adat pun demikian.

Membayangkannya, Budiasa seakan berekstaksi sehingga gerak tubuh dalam teaternya menjadi sangat liat dan geliat. Betapa lenturnya tubuh Budiasa, dan sesosok hitam itu semakin ganas. Bayangan hitam itu kemudian menjelma menjadi rasa takut yang mengikatnya di kursi duduk.

Pentas Teater Batasan yang Tak Terlihat | Foto: tatkala.co/Son

Sosok perempuan itu dihantam pisau. Darah merembas dari dadanya. Teater itu berakhir dengan perempuan itu mati di tangan ketakutannya sendiri setelah menghentikan gerak tubuhnya. Menghentikan mimpinya.

“Sesosok hitam itu, selain tentang norma atau lainnya. Tetapi juga tentang ketakutan perempuan itu sendiri!” tegas Luh Budiasa.

Depresi dan Pelariannya

Sementara pada pementasan lain, monolog berjudul “Dunia di Balik Botol” karya Gede Arya Suryantika menceritakan penyakit mental pada seorang lelaki penuh depresi sebab tuntutan dunia luar, dunia kerja, pergaulan, kuliah, keluarga dan banyak hal yang harus ditanggung oleh seorang lelaki agar perfeksionis.

Lelaki itu tak sanggup bersaing dan percaya diri akhirnya, lalu mencelupkan dirinya ke dalam botol minuman keras. Menjadi seorang alkoholik di kemudian hari yang panjang. Datar.

Panggung menjadi gelap juga areal tempat duduk para penonton. Lampu menyala kemudian menembak seorang lelaki putus asa itu di depan dua botol, di depan sebuah meja.

Monolog Dunia di Balik Botol | Foto: tatkala.co/Son

Beberapa kali ditengguknya minuman itu. Ia meracau tak henti mengeluaskan percakapan sendiri, percakapan tentang sakit dirinya, diri paling sakit.

“Dulu aku minum karena aku bahagia. Segelas untuk kegembiraan. Tapi sekarang? Aku minum karena aku takut. Takut pada apa yang ada di luar sana. Dunia itu keras, tahu? Orang-orang penuh tuntutan!” kata Arya saat monolog, nyambi menenteng botol minuman.

Arya kemudian berdiri dengan kepalanya terhuyung. Aduh, hyung. Dunia seakan mencekam di kepalanya begitu keras. Minuman dalam botol itu ditenggaknya tak henti. Cahaya panggung berkedip gelap terang.

Kata-kata keluar semakin dahsyat, laki-laki itu semakin depresi—seakan tak sanggup menghadapi kenyataan lebih pahit tanpa mabuk.

Monolog Dunia di Balik Botol | Foto: tatkala.co/Son

Satu botol habis diminum lalu dibuang dan nyaris pecah. Ketakutan semakin mencekam di urat nadinya. Lantas ia menjerit memegang kepalanya. Dunia seakan kacau di kepalanya. Menggedor pikirannya. Ia bersimpuh kemudian selayaknya hamba di hadapan botol yang masih tersisa di atas meja. Ditenggaknya lagi. Lalu meracau…

“Aku mau pulang. Aku mau pulang. Aku mau pulang…” kata lelaki itu sebelum tertawa.

Lampu perlahan meredup, senyap, gelap total. Tepuk tangan menimpuginya kemudian, dan lampu menjadi terang.

Di samping panggung—setelah pentas, ada yang bertanya penuh penasaran, “Apa yang ada di dalam botol tadi?”

“Es teh!” kata Arya. [T]

Reporter/Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Adnyana Ole

Pentas Karya Mahasiswa PSBKH STAHN Mpu Kuturan: Mencipta untuk Menemukan Jati Diri dan Menjalin Jejaring Seni
Performance “Batu” : Ketika Perempuan Menatap Tubuhnya Sendiri
“Performing Spiral” dari Josh Marcy: Kesadaran Pada Laku Tubuh dan Ruang — Dari B-Part 2024
Memeluk Masa Lalu dengan Ingatan Yang Sadar: Catatan Festival Kala Monolog
Merayakan Perjalanan Setelah Menonton Pertunjukan Kelas Teater Shiro-San
Yang Terhubung: Ancaman dan Harapan | Catatan Pentas Kala Teater
Tags: kesenian baliMonologSTAHN Mpu KuturanTeater
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kembalinya Sistem Pemerintahan Adat Baduy

Next Post

Ibu, Komunikator Pertama dalam Kehidupan

Son Lomri

Son Lomri

Mahasiswa Undikhsa, tinggal di Singaraja

Related Posts

Sinaps Ingatan dari Pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot

by Asmaran Dani
September 4, 2026
0
Sinaps Ingatan dari Pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot

Catatan pendek, sebagai pengantar diskusi menonton ulang dokumentasi pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot melalui Youtube, Sabtu 05 Septemper 2026 di...

Read moreDetails

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

by Yanik Parta
August 24, 2026
0
Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

SEBAGAI penari, aku bergerak dari kode satu ke kode gerak lainnya, sementara ayahku yang merupakan seorang pematung, bergerak dalam duduknya....

Read moreDetails

Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

by Dewa Made Ari Kurniawan
August 4, 2026
0
Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

Di Ambang Dualitas Eksistensial Dalam ruang pertunjukan yang temaram, pendar cahaya proyektor perlahan menghidupkan bidang panggung. Karya pertunjukan bertajuk DWI...

Read moreDetails

Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

by Dewa Purwita Sukahet
July 31, 2026
0
Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

MALAM itu, 20 Juli 2026, jam di ponsel menunjukan pukul 18:52 Wita, di depan gedung Ni Ketut Reneng, kampus Institut...

Read moreDetails

Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

by Anselmus Dore Woho Atasoge
July 31, 2026
0
Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

MALAM pembukaan Festival Bale Nagi 2026 di Taman Kota Felix Fernandez, Larantuka, Flores Timur, NTT, menyuguhkan sebuah pertunjukan yang memicu...

Read moreDetails

Fragmentari “Jro Luh” dan Sinkronisitas: Sebuah Pembacaan Estetika atas Pertemuan Dramaturgi dan Fenomena Alam

by I Gusti Made Darma Putra
July 28, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

PANGGUNG seni pertunjukan pada dasarnya merupakan ruang rekayasa artistik. Di dalamnya, setiap unsur dirancang dengan cermat, struktur dramatik disusun melalui...

Read moreDetails

Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

by I Wayan Sujana Suklu
July 25, 2026
0
Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

  Tubuh berjalan pelandi antara bukit, rumah, dan laut yang tidak selesai. Angin membawa nama-namayang pernah singgah di pelabuhan,lalu hilang...

Read moreDetails

Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

by Chandra Manikan
July 22, 2026
0
Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

Asap mengepul perlahan hingga menutupi sebagian panggung, sementara cahaya merah merambat dan menerangi Ocha Diartini yang saat itu berperan sebagai...

Read moreDetails

Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

by Satria Aditya
July 20, 2026
0
Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

PARADE Monolog dalam Festival Seni Bali Jani 2016 yang digelar pada 14 Juli  di Gedung Ksirarnawa, dibuka pukul 17.00 Wita,...

Read moreDetails

Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

by Putu Intan Juliantika
July 19, 2026
0
Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

 “Teng! Tong! Teng! Tong! Teng! Tung! Pagi tiba alarm berbunyi...” Itu adalah suara dering alarm saya pukul tiga pagi yang...

Read moreDetails
Next Post
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Ibu, Komunikator Pertama dalam Kehidupan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co