12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Krisna Aji, Psikiater Langka yang Menulis dari Ruang Sunyi Jiwa

Angga Wijaya by Angga Wijaya
July 5, 2025
in Persona
Krisna Aji, Psikiater Langka yang Menulis dari Ruang Sunyi Jiwa

dr. Krisna Aji | Foto: Angga Wijaya

DI tengah riuh rendah dunia medis yang kerap identik dengan angka, diagnosa, dan prosedur yang kaku, nama dr. I Putu Dharma Krisna Aji, Sp.KJ mencuat sebagai sosok yang berbeda. Ia bukan hanya seorang psikiater, tetapi juga seorang pemikir, pembaca filsafat, dan penulis yang setia menyusun gagasan dari ruang-ruang sunyi manusia.

Percakapan kami pada Jumat, 4 Juli 2025, berlangsung santai namun penuh makna, di sebuah kedai kopi di bilangan Panjer, Denpasar Selatan.

Bersahaja dan tenang dalam bertutur, dr. Krisna bukan tipikal dokter yang bicara dari balik meja praktik semata. Ia lebih senang melihat manusia dari sisi yang lebih utuh—sebagai makhluk pencari makna, bukan sekadar penerima resep.

“Psikiatri itu setengahnya adalah filsafat,” ujarnya membuka obrolan. “Setengahnya lagi memang soal otak dan tubuh, tapi cara pandang terhadap manusia, terhadap realitas, itu penuh dengan filsafat,” imbuh lelaki yang lahir dan besar di Yogyakarta ini.

Kecintaannya pada pemikiran mendalam itu sudah tumbuh sejak masa kuliah. Lulus dari SMA Taruna Nusantara pada 2006,  ia melanjutkan pendidikan kedokteran hingga spesialis kejiwaan di Universitas Udayana. Namun di balik kesibukan sebagai dokter, ia mulai menyadari bahwa dirinya memiliki cara berpikir yang “menyimpang” dari arus utama. “Suka berpikir aneh,” katanya sambil tertawa kecil.

Kebiasaan menyelami pertanyaan-pertanyaan eksistensial itu lambat laun membawanya pada dunia filsafat dan menulis. “Aku awalnya bukan baca Sartre atau Heidegger, tapi lebih ke arah pertanyaan: apa sih sebenarnya yang membuat manusia tetap hidup ketika semuanya sudah ada?”

Pertanyaan demi pertanyaan itu kini telah mengkristal dalam empat buku yang ia tulis. Buku pertamanya, Mindfulness; Therapy untuk Terapis, lahir dari tesisnya dan ditujukan untuk para terapis agar bisa menyadari emosi mereka sendiri saat menghadapi pasien. Buku kedua membahas psikoterapi suportif dan dikemas dalam gaya populer agar mudah diakses masyarakat luas.

Buku ketiganya, Mencari Manusia dan Jiwa merupakan kumpulan tulisan dari media daring Gema Bali—berisi artikel yang menyinggung berbagai tema, mulai dari psikiatri, filsafat, hingga spiritualitas. Namun buku keempatlah yang kini paling menyita perhatian: Kapan Jiwa Ini Akan Sembuh?

Buku ini, kata dr. Krisna, mengajak pembaca menyelami lebih dalam pertanyaan tentang luka batin, trauma masa kecil, kecemasan, dan ketakutan akan kematian. “Saya tidak menawarkan jawaban pasti. Justru saya ingin mengajak pembaca untuk bertanya. Apakah kesembuhan itu benar-benar ada? Kalau hari ini saya lebih baik dari kemarin, bukankah kemarin saya sedang ‘sakit’? Kalau besok saya lebih baik dari hari ini, apakah saya hari ini belum sembuh?,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa buku tersebut tidak bicara tentang psikotik atau gangguan jiwa berat, tapi lebih ke persoalan-persoalan umum seperti kecemasan dan depresi yang kerap hadir dalam kehidupan sehari-hari.

Buku ini juga menggugat persepsi umum bahwa seseorang dianggap “sembuh” hanya ketika ia berhenti minum obat. “Saya lebih melihatnya sebagai proses. Seperti kita makan tiap hari, minum obat bisa jadi bagian dari hidup, bukan semata indikator sembuh atau sakit,” ungkapnya.

Menulis, baginya, juga adalah proses katarsis. Setiap hari menyerap keluhan, trauma, dan luka jiwa pasien, membuat ia merasa perlu menyalurkan kembali energi itu. “Sampah-sampah batin itu harus didaur ulang. Kalau tidak, ya bisa menumpuk di diri sendiri,” tuturnya. Tapi, ia menegaskan, tulisan-tulisannya tidak pernah menyalin kisah pasien secara mentah. Semua sudah melalui proses adaptasi dan sublimasi ide.

Dalam karyanya, dr. Krisna menggabungkan pendekatan medis, psikologis, dan pemikiran filosofis. Ia tidak hanya menulis sebagai bentuk ekspresi, tetapi juga sebagai sarana edukasi dan penyadaran. “Kadang aku heran, kok masih sedikit ya psikiater yang menulis buku? Padahal banyak hal dari praktik klinis yang bisa dibagikan ke masyarakat dalam bentuk narasi populer,” katanya.

Baginya, tulisan bukan hanya media komunikasi, tetapi bentuk keberpihakan kepada jiwa-jiwa yang terluka—baik yang ia temui di ruang praktik maupun dalam dirinya sendiri. Ia percaya, setiap orang punya “sampah batin” yang harus didaur ulang agar tidak menjadi limbah yang merusak.

dr. Krisna Aji | Foto: Angga Wijaya

Tulisan-tulisannya tidak frontal menyalahkan siapa pun. Ia lebih memilih pendekatan reflektif dan mengajak pembaca bertanya. Dalam bukunya Kapan Jiwa Ini Akan Sembuh?, ia menyodorkan banyak pertanyaan yang menggugah, seperti: “Apakah trauma orang tua bisa diwariskan?”, “Apakah kesembuhan itu bisa hadir jika manusia terus bertumbuh?”, atau “Apakah benar, orang tua selalu tahu yang terbaik untuk anak?”

Pertanyaan-pertanyaan ini menurutnya lebih penting daripada jawaban. “Kalau kamu terus tumbuh, berarti kamu terus berubah. Kalau kamu berubah, berarti kamu belum selesai. Kalau belum selesai, mungkin kamu belum sembuh. Tapi bisa juga, justru itulah proses kesembuhan itu sendiri,” katanya perlahan.

Sebagai psikiater, ia sadar betul bahwa stigma masih menjadi tantangan terbesar di Indonesia. Bahkan, ia pernah menyaksikan langsung sesama dokter yang meremehkan pasien dengan gangguan jiwa. “Stigma itu tidak hanya datang dari masyarakat, tapi juga dari orang-orang berpendidikan yang seharusnya tahu lebih baik,” ujarnya prihatin.

Karena itu, ia menaruh harapan besar pada generasi muda, terutama Gen-Z yang menurutnya lebih terbuka membicarakan isu kesehatan mental. Namun sayangnya, masih banyak dari mereka yang harus berjuang sendirian, karena orang tua mereka menolak untuk menyadari bahwa trauma bisa diwariskan. “Banyak anak datang ke saya, terapi sendiri, tanpa sepengetahuan orang tua. Lalu ketika saya minta orang tuanya ikut, mereka menolak. Padahal akarnya justru di sana,” katanya.

Tak hanya menjadi psikiater dan penulis, dr. Krisna juga menjadi semacam pengamat jiwa kolektif. Ia tidak menulis dari ruang steril rumah sakit, melainkan dari kedalaman pengalaman sehari-hari sebagai manusia. Ia menyerap cerita pasien seperti membaca novel misteri yang tak berkesudahan, dan menyusun ulang fragmen-fragmen luka itu menjadi tulisan.

Di ujung perbincangan, dr. Krisna kembali menegaskan bahwa menjadi manusia adalah proses yang kompleks dan terus bergerak. “Kita bukan robot yang bisa dikategorikan ‘sakit’ atau ‘sembuh’. Jiwa manusia itu dinamis, dan justru di situlah keindahannya,” ucapnya serius.

Mungkin karena itu pula, Kapan Jiwa Ini Akan Sembuh? bukanlah buku yang menawarkan resep. Ia adalah cermin, tempat pembaca bisa bercakap dengan dirinya sendiri, pelan-pelan, dengan jujur.

Dan di kedai kopi kecil di Panjer sore itu, dr. Krisna Aji—seorang psikiater yang membaca filsafat dan menulis dari ruang sunyi jiwa—mengingatkan kita, bahwa kesehatan mental bukanlah soal pulih atau tidak. Tapi soal berani melihat diri apa adanya, dan tumbuh dari sana. *

Tulisan-tulisan dr. Krisna Aji, Sp.KJ di Tatkala.co dapat dibaca pada tautan berikut: https://tatkala.co/author/krisna-aji/

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis ANGGA WIJAYA

  • BACA JUGA:
“Countertransference” dan Kelemahan Dokter dalam Komunikasi Profesional
Windari dan Sepuluh Cerpen untuk Satu Gelar
Dari Nasi Bungkus ke Buku Sastra, Kisah Jalanan I Wayan Suardika
Tags: dokterdr. Krisna Ajikesehatankesehatan jiwa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Komunikasi Politik Karut-Marut dan Korupsi Akut

Next Post

Puisi-puisi Yuditeha | Lelaki di Gunung Batur

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang

by Yohana Purnama Fajar
September 2, 2026
0
Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang

“Saya adalah seorang anak yang tumbuh tanpa kasih sayang seorang ayah,” kata Maria Margarheta Indrawati dengan wajah sendu ketika mengenang...

Read moreDetails

Rumah Kata di Jalan Nangka

by Angga Wijaya
July 9, 2026
0
Rumah Kata di Jalan Nangka

SIANG itu, rolling door Pustaka Bali Seni di Jalan Nangka No. 103,  Denpasar, Bali, terbuka lebar. Dari luar, tempat itu...

Read moreDetails

Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

by Jaswanto
June 24, 2026
0
Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi...

Read moreDetails

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
0
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

Read moreDetails

Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

by Dede Putra Wiguna
May 30, 2026
0
Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

TANGIS itu pecah di tengah tepuk tangan panjang audiens Ubud Food Festival 2026. Di perhelatan yang selama ini menjadi ruang...

Read moreDetails

Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

by I Gede Made Surya Darma
May 22, 2026
0
Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

Nama I Made Kaek bukanlah sosok asing dalam perkembangan seni rupa kontemporer Bali dan Indonesia. Perjalanannya sebagai seniman tumbuh dari...

Read moreDetails

Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

by Nyoman Budarsana
May 20, 2026
0
Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

CITRA  Sasmita, seniman perempuan asal Bali menjadi seniman Indonesia pertama yang  meraih penghargaan utama, Grand Prize Winner, pada ajang seni...

Read moreDetails

Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

by Dede Putra Wiguna
May 4, 2026
0
Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

DI antara deretan tapel ogoh-ogoh yang dipajang rapi di ruang lomba UPMI Bali, sosok Bagus Dedy Permata Putra (13) tampak...

Read moreDetails

Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

by Dede Putra Wiguna
April 27, 2026
0
Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

DI sela waktu istirahat Lomba Tari Bali di UPMI Bali, Sabtu (25/4), sosok Putu Dian Tristiana Dewi berdiri mendampingi anak...

Read moreDetails

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026
0
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Yuditeha | Lelaki di Gunung Batur

Puisi-puisi Yuditeha | Lelaki di Gunung Batur

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co