2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Krisna Aji, Psikiater Langka yang Menulis dari Ruang Sunyi Jiwa

Angga Wijaya by Angga Wijaya
July 5, 2025
in Persona
Krisna Aji, Psikiater Langka yang Menulis dari Ruang Sunyi Jiwa

dr. Krisna Aji | Foto: Angga Wijaya

DI tengah riuh rendah dunia medis yang kerap identik dengan angka, diagnosa, dan prosedur yang kaku, nama dr. I Putu Dharma Krisna Aji, Sp.KJ mencuat sebagai sosok yang berbeda. Ia bukan hanya seorang psikiater, tetapi juga seorang pemikir, pembaca filsafat, dan penulis yang setia menyusun gagasan dari ruang-ruang sunyi manusia.

Percakapan kami pada Jumat, 4 Juli 2025, berlangsung santai namun penuh makna, di sebuah kedai kopi di bilangan Panjer, Denpasar Selatan.

Bersahaja dan tenang dalam bertutur, dr. Krisna bukan tipikal dokter yang bicara dari balik meja praktik semata. Ia lebih senang melihat manusia dari sisi yang lebih utuh—sebagai makhluk pencari makna, bukan sekadar penerima resep.

“Psikiatri itu setengahnya adalah filsafat,” ujarnya membuka obrolan. “Setengahnya lagi memang soal otak dan tubuh, tapi cara pandang terhadap manusia, terhadap realitas, itu penuh dengan filsafat,” imbuh lelaki yang lahir dan besar di Yogyakarta ini.

Kecintaannya pada pemikiran mendalam itu sudah tumbuh sejak masa kuliah. Lulus dari SMA Taruna Nusantara pada 2006,  ia melanjutkan pendidikan kedokteran hingga spesialis kejiwaan di Universitas Udayana. Namun di balik kesibukan sebagai dokter, ia mulai menyadari bahwa dirinya memiliki cara berpikir yang “menyimpang” dari arus utama. “Suka berpikir aneh,” katanya sambil tertawa kecil.

Kebiasaan menyelami pertanyaan-pertanyaan eksistensial itu lambat laun membawanya pada dunia filsafat dan menulis. “Aku awalnya bukan baca Sartre atau Heidegger, tapi lebih ke arah pertanyaan: apa sih sebenarnya yang membuat manusia tetap hidup ketika semuanya sudah ada?”

Pertanyaan demi pertanyaan itu kini telah mengkristal dalam empat buku yang ia tulis. Buku pertamanya, Mindfulness; Therapy untuk Terapis, lahir dari tesisnya dan ditujukan untuk para terapis agar bisa menyadari emosi mereka sendiri saat menghadapi pasien. Buku kedua membahas psikoterapi suportif dan dikemas dalam gaya populer agar mudah diakses masyarakat luas.

Buku ketiganya, Mencari Manusia dan Jiwa merupakan kumpulan tulisan dari media daring Gema Bali—berisi artikel yang menyinggung berbagai tema, mulai dari psikiatri, filsafat, hingga spiritualitas. Namun buku keempatlah yang kini paling menyita perhatian: Kapan Jiwa Ini Akan Sembuh?

Buku ini, kata dr. Krisna, mengajak pembaca menyelami lebih dalam pertanyaan tentang luka batin, trauma masa kecil, kecemasan, dan ketakutan akan kematian. “Saya tidak menawarkan jawaban pasti. Justru saya ingin mengajak pembaca untuk bertanya. Apakah kesembuhan itu benar-benar ada? Kalau hari ini saya lebih baik dari kemarin, bukankah kemarin saya sedang ‘sakit’? Kalau besok saya lebih baik dari hari ini, apakah saya hari ini belum sembuh?,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa buku tersebut tidak bicara tentang psikotik atau gangguan jiwa berat, tapi lebih ke persoalan-persoalan umum seperti kecemasan dan depresi yang kerap hadir dalam kehidupan sehari-hari.

Buku ini juga menggugat persepsi umum bahwa seseorang dianggap “sembuh” hanya ketika ia berhenti minum obat. “Saya lebih melihatnya sebagai proses. Seperti kita makan tiap hari, minum obat bisa jadi bagian dari hidup, bukan semata indikator sembuh atau sakit,” ungkapnya.

Menulis, baginya, juga adalah proses katarsis. Setiap hari menyerap keluhan, trauma, dan luka jiwa pasien, membuat ia merasa perlu menyalurkan kembali energi itu. “Sampah-sampah batin itu harus didaur ulang. Kalau tidak, ya bisa menumpuk di diri sendiri,” tuturnya. Tapi, ia menegaskan, tulisan-tulisannya tidak pernah menyalin kisah pasien secara mentah. Semua sudah melalui proses adaptasi dan sublimasi ide.

Dalam karyanya, dr. Krisna menggabungkan pendekatan medis, psikologis, dan pemikiran filosofis. Ia tidak hanya menulis sebagai bentuk ekspresi, tetapi juga sebagai sarana edukasi dan penyadaran. “Kadang aku heran, kok masih sedikit ya psikiater yang menulis buku? Padahal banyak hal dari praktik klinis yang bisa dibagikan ke masyarakat dalam bentuk narasi populer,” katanya.

Baginya, tulisan bukan hanya media komunikasi, tetapi bentuk keberpihakan kepada jiwa-jiwa yang terluka—baik yang ia temui di ruang praktik maupun dalam dirinya sendiri. Ia percaya, setiap orang punya “sampah batin” yang harus didaur ulang agar tidak menjadi limbah yang merusak.

dr. Krisna Aji | Foto: Angga Wijaya

Tulisan-tulisannya tidak frontal menyalahkan siapa pun. Ia lebih memilih pendekatan reflektif dan mengajak pembaca bertanya. Dalam bukunya Kapan Jiwa Ini Akan Sembuh?, ia menyodorkan banyak pertanyaan yang menggugah, seperti: “Apakah trauma orang tua bisa diwariskan?”, “Apakah kesembuhan itu bisa hadir jika manusia terus bertumbuh?”, atau “Apakah benar, orang tua selalu tahu yang terbaik untuk anak?”

Pertanyaan-pertanyaan ini menurutnya lebih penting daripada jawaban. “Kalau kamu terus tumbuh, berarti kamu terus berubah. Kalau kamu berubah, berarti kamu belum selesai. Kalau belum selesai, mungkin kamu belum sembuh. Tapi bisa juga, justru itulah proses kesembuhan itu sendiri,” katanya perlahan.

Sebagai psikiater, ia sadar betul bahwa stigma masih menjadi tantangan terbesar di Indonesia. Bahkan, ia pernah menyaksikan langsung sesama dokter yang meremehkan pasien dengan gangguan jiwa. “Stigma itu tidak hanya datang dari masyarakat, tapi juga dari orang-orang berpendidikan yang seharusnya tahu lebih baik,” ujarnya prihatin.

Karena itu, ia menaruh harapan besar pada generasi muda, terutama Gen-Z yang menurutnya lebih terbuka membicarakan isu kesehatan mental. Namun sayangnya, masih banyak dari mereka yang harus berjuang sendirian, karena orang tua mereka menolak untuk menyadari bahwa trauma bisa diwariskan. “Banyak anak datang ke saya, terapi sendiri, tanpa sepengetahuan orang tua. Lalu ketika saya minta orang tuanya ikut, mereka menolak. Padahal akarnya justru di sana,” katanya.

Tak hanya menjadi psikiater dan penulis, dr. Krisna juga menjadi semacam pengamat jiwa kolektif. Ia tidak menulis dari ruang steril rumah sakit, melainkan dari kedalaman pengalaman sehari-hari sebagai manusia. Ia menyerap cerita pasien seperti membaca novel misteri yang tak berkesudahan, dan menyusun ulang fragmen-fragmen luka itu menjadi tulisan.

Di ujung perbincangan, dr. Krisna kembali menegaskan bahwa menjadi manusia adalah proses yang kompleks dan terus bergerak. “Kita bukan robot yang bisa dikategorikan ‘sakit’ atau ‘sembuh’. Jiwa manusia itu dinamis, dan justru di situlah keindahannya,” ucapnya serius.

Mungkin karena itu pula, Kapan Jiwa Ini Akan Sembuh? bukanlah buku yang menawarkan resep. Ia adalah cermin, tempat pembaca bisa bercakap dengan dirinya sendiri, pelan-pelan, dengan jujur.

Dan di kedai kopi kecil di Panjer sore itu, dr. Krisna Aji—seorang psikiater yang membaca filsafat dan menulis dari ruang sunyi jiwa—mengingatkan kita, bahwa kesehatan mental bukanlah soal pulih atau tidak. Tapi soal berani melihat diri apa adanya, dan tumbuh dari sana. *

Tulisan-tulisan dr. Krisna Aji, Sp.KJ di Tatkala.co dapat dibaca pada tautan berikut: https://tatkala.co/author/krisna-aji/

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis ANGGA WIJAYA

  • BACA JUGA:
“Countertransference” dan Kelemahan Dokter dalam Komunikasi Profesional
Windari dan Sepuluh Cerpen untuk Satu Gelar
Dari Nasi Bungkus ke Buku Sastra, Kisah Jalanan I Wayan Suardika
Tags: dokterdr. Krisna Ajikesehatankesehatan jiwa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Komunikasi Politik Karut-Marut dan Korupsi Akut

Next Post

Puisi-puisi Yuditeha | Lelaki di Gunung Batur

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang

by Yohana Purnama Fajar
September 2, 2026
0
Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang

“Saya adalah seorang anak yang tumbuh tanpa kasih sayang seorang ayah,” kata Maria Margarheta Indrawati dengan wajah sendu ketika mengenang...

Read moreDetails

Rumah Kata di Jalan Nangka

by Angga Wijaya
July 9, 2026
0
Rumah Kata di Jalan Nangka

SIANG itu, rolling door Pustaka Bali Seni di Jalan Nangka No. 103,  Denpasar, Bali, terbuka lebar. Dari luar, tempat itu...

Read moreDetails

Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

by Jaswanto
June 24, 2026
0
Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi...

Read moreDetails

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
0
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

Read moreDetails

Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

by Dede Putra Wiguna
May 30, 2026
0
Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

TANGIS itu pecah di tengah tepuk tangan panjang audiens Ubud Food Festival 2026. Di perhelatan yang selama ini menjadi ruang...

Read moreDetails

Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

by I Gede Made Surya Darma
May 22, 2026
0
Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

Nama I Made Kaek bukanlah sosok asing dalam perkembangan seni rupa kontemporer Bali dan Indonesia. Perjalanannya sebagai seniman tumbuh dari...

Read moreDetails

Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

by Nyoman Budarsana
May 20, 2026
0
Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

CITRA  Sasmita, seniman perempuan asal Bali menjadi seniman Indonesia pertama yang  meraih penghargaan utama, Grand Prize Winner, pada ajang seni...

Read moreDetails

Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

by Dede Putra Wiguna
May 4, 2026
0
Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

DI antara deretan tapel ogoh-ogoh yang dipajang rapi di ruang lomba UPMI Bali, sosok Bagus Dedy Permata Putra (13) tampak...

Read moreDetails

Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

by Dede Putra Wiguna
April 27, 2026
0
Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

DI sela waktu istirahat Lomba Tari Bali di UPMI Bali, Sabtu (25/4), sosok Putu Dian Tristiana Dewi berdiri mendampingi anak...

Read moreDetails

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026
0
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Yuditeha | Lelaki di Gunung Batur

Puisi-puisi Yuditeha | Lelaki di Gunung Batur

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co